Rasanya jika kita tanya ke separuh muslim Indonesia secara random tentang nama-nama bulan hijriyyah, atau menanyakan tanggal berapa hari ini dalam kalender Hijriyyah, pastinya masih banyak yang kurang paham. Kalau pun tahu, -mungkin- akan berpikir sejenak sebelum menjawabnya. Mengapa demikian (?) karena memang kalender Hijriyyah masih terasa asing dalam penentuan tanggal di negeri ini. Selain itu, gebyar dari peralihan tahun Masehi begitu membahana di langit bumi. Kemeriahannya menyulut semua generasi dari generasi mengenang setiap peralihan tahun Masehi. Sebelum mengupas tentang dominasi Masehi atas Hijriyyah, baiknya kita bahas dulu tentang tahun Hijriyyah dan Masehi. Penanggalan Bulan Hijriyyah adalah mengikuti perputaran bulan, bukannya matahari seperti penanggalan Masehi. Oleh karena itu, jumlah harinya pun berbeda. Hijriyyah memiliki 11 hari lebih pendek dari Masehi, karena dalam perhitungan matahari dalam satu tahun terdapat 365 hari, sedangkan pergerakkan bulan hanya terdapat 354 hari.

Ada dua sisi jika kita perhatikan mengenai dua tahun ini, pertama ditelaah secara history, kedua dengan pendekatan adat dan tradisi. Baiklah pertama kita kupas sedikit tentang Masehi. Tahun baru Masehi pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (Sebelum Masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai Kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari, dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Adapun Bulan Hijriyyah, seperti namanya, ia ditetapkan setelah Rasulullah SAW Hijrah dari Makkah ke Madinah. Hijrah ini bukan sekedar secara fisik tapi juga hijrah secara drastis dari sisi mental. Seperti yang diungkapkan oleh sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab tentang hijrahnya Nabi Muhammad Saw, bahwa “Hijrah itu membedakan antara yang hak dan bathil”.

Secara tradisi, peringatan Tahun Baru Masehi merupakan budaya asli Eropa yang di impor ke Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Sebelum masa penjajahan Belanda, rakyat Indonesia mengenal kalender Hijriyyah dan kalender Saka. Budaya peringatan Tahun Baru Masehi tak lepas dari peringatan kelahiran Isa Al Masih as. dalam kepercayaan orang Kristen. Nama Masehi diambil dari kata Al Masih -gelar untuk Nabi Isa AS-. yang dianggap Tuhan oleh Umat Kristen. Secara bahasa, kata Masehi juga sering digunakan untuk menyebut nama lain dari agama Kristen. Tahun Masehi dalam bahasa Latin disebut Anno Domini (Tahun Tuhan), disingkat AD.

Kendati demikian, apapun alasan yang terlontar dengan pendekatan histori atau pun tradisi, kita masih harus mengakui, bahwa tahun Masehi masih sangat melekat dikalangan masyarakat kita. Entahlah, apakah itu konspirasi Yahudi agar umat Islam terhindar dari pengetahuan tentang penanggalan Islam, yang nota bene sebagai acuan dari penjadwalan ibadah, atau memang karena kitanya sendiri (muslim) yang tidak ingin di ribet kan dengan dua penanggalan Hijriyyah maupun Masehi. Syiar tentang pentingnya penanggalan Hijriyyah, masih kalah dengan geliat mereka yang ‘memiliki’ tahun Masehi. So, kita masih sadar, bahwa Masehi (masih) Juara.

Nama aslinya Didi Darmadi, namun terkenal dengan sebutan Jantux. Wajahnya sedikit sangar, rambut panjang bergelombang, serta perawakannya subur namun berotot. Yah, Didi adalah sosok yang kerap kami jumpai di kawasan Cordova office. Meski terlihat ‘sangar’, namun –sesungguhnya- Didi memiliki hati yang mulia. Selain bekerja sebagai ‘tukang parkir’ di sebuah mini market, ia juga merangkap sebagai tukang ojek. Pelanggan ojeknya bukan hanya kalangan WNI, bahkan ia mengaku banyak juga orang ‘bule’ yang menjadi pelanggan setianya. “Setiap pagi saya mengantar ‘bule’ asal Inggris ke kantornya di daerah Sudirman, setelah itu kembali giliran sama teman-teman jaga parkir”, gumam Didi yang hobi menggunakan kacamata hitam kemana pun itu.

Sepintas, orang yang baru pertama melihat penampilannya, akan mengira bahwa Didi adalah seorang Preman. Yah, preman ‘kampung’ yang konon sering mengganggu kepentingan umum. Namun jika mengenal lebih dekat dengan Didi dan teman-teman ‘seperjuangannya’, maka penilaian itu salah. Didi bersama temannya itu, hanyalah sekelompok orang yang mencari nafkah dengan apa yang bisa mereka kerjakan. Bagi mereka, pekerjaan sebagai tukang parkir dan tukang ojek bukanlah suatu pekerjaan yang hina. Bahkan mereka menikmati pekerjaannya, bersemangat mendulang rezeki, -meski- harus berjuang lebih keras untuk survive di tengah geliat kehidupan masyarakat Kemang.

Jika ditelusuri lebih lanjut, tentunya kita akan salut dengan Didi ‘n’ the gank. Bagaimana tidak, dengan penghasilan seadanya, ternyata Didi bisa menyekolahkan adik-adiknya. Ia rela putus sekolah dan bekerja ‘serabutan’ hanya karena lebih memilih agar adik-adiknya lah yang melanjutkan sekolah. Pun demikian dengan M. Tisna, yang terkenal dengan sebutan Dede, atau juga Opick yang akrab di panggil Jawa. Nasibnya hampir sama dengan Didi, bedanya mereka sudah berkeluarga dan memiliki buah hati. Penghasilan mereka pun terfokus untuk mengepulkan dapur serta biaya pendidikan anak-anaknya.

Meski hidup dalam kesederhanaan, jika kita singgah ke tempat ‘nongkrong’-nya, maka akan tampak sebuah kencleng kuning, dibalik kaki besi antena Parabola milik mini market tempat mereka ‘bekerja’. Saat ditanya, ternyata kencleng itu adalah uang rembukan sisa dari uang parkir. Setiap harinya mereka menyisihkan sepuluh persen dari pendapat uang parkir. Lalu setelah terkumpul banyak, mereka serahkan uang itu kepada anak-anak yatim yang berada disekitarnya. Penanggungjawabnya adalah Opick, atau ‘Jawa’. Sosok yang pertama kami kenal di daerah itu, bahkan nyaris menganggap sebagai Preman Kemang Timur saat itu.

Ternyata setelah dekat dan mengenal mereka, banyak sisi positif yang kami dapatkan dari mereka yang nampak ‘terpinggirkan’ oleh kehidupan ibukota. Jiwa yang senantiasa bersyukur, tidak mengeluh, solidaritas, serta apa-adanya. Terkadang kami harus banyak belajar kepada mereka tentang arti kehidupan. Tentang sebuah mental manusia ‘pekerja’, manusia yang penuh rasa, manusia yang terlepas dari zona nyaman.

Kami hanya bisa menatap tawa lepas mereka di balik jendela ber-krey kayu.

Pahlawan adalah manusia misterius. Karya tanpa nama, keberadaanya tiada namun berasa. Terpuruk, terluka, demi bangsa dan agama –Cordova Founding Father-

Pagi itu, gerbang menuju pemakaman tua baru saja terbuka. Ratusan langkah mulai menapaki anak tangga di sebelah utara tempatku menginap. Ratusan bahkan ribuan pusara dan batu nisan berjejer rapi. Tidak ada yang unik, semuanya hampir sama bentuk dan panjang-nya makam-makam itu. Jarak antara satu makam ke makam lain hanya berapa kasta saja, antara blok satu dengan blok lain di batasi jalan untuk mereka yang berziarah. Meski tanpa pohon kemboja yang selalu menghiasi makam di Tanah Air, ratusan nisan itu tetap terlihat bersih dan terawat. Tidak pula berlapis semen, atau keramik mewah. apalagi berlapis emas atau replika helm diatas pusaranya. Nisan yang dijadikan sebagai petunjuk itupun hanya seponggah batu biasa. Hanya sebagai tanda, bahwa area itu adalah makam seseorang. Makam manusia mulia yang merupakan pahlawan sebenarnya.

Yah, di dalam sana jasad manusia-manusia mulia terkujur. Tanpa terukir sedikit pun nama dan jasa mereka. Tanpa hiruk pikuk pro dan kontra, layak atau tidak bergelar pahlawan. Kontribusinya sangat jelas dan terasa oleh jutaan manusia hingga kini. Saya tidak begitu paham tentang letak sahabat Rasul yang satu dengan yang lain, karena memang bentuknya sama rata. Tidak ada perbedaan antara raja dan budak, kaya dan miskin, semuanya sama bernisan batu. Hanya beberapa sahabat dekat Rasul saja yang –mungkin- di yakini letaknya dimana, itu pun kerap diakhiri oleh empu (penjaga) Makam Baqi itu dengan ungkapan Wallahu ‘alam.

Saya tidak akan memperpanjang tentang dimana letak makam sahabat Rasulullah SAW itu berada, saya hanya ingin mengkorelasikan makna pahlawan hakiki dengan pemahaman pahlawan yang banyak diperdebatkan di negara kita. Tentang bagaimana para pahlawan diberlakukan oleh kita sebagai penerima tongkat estafeta kehidupan beragama dan berbangsa. Siapa –sebenarnya- yang layak menerima gelar pahlawan (?)

Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan-nya. Tetapi apa cukup mereka hanya menjadi sebuah simbol yang akan ramai dikunjungi saat ritual penghormatan setiap 10 November (esok hari) di atas batu nisan (?) Hemat saya –justru- Bangsa ini akan besar ketika attitude dan action para pahlawan dapat menyemangati segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak lantas dengan segala ‘kepentingan’ berebut tuk mendapatkan empati sebagai pengusung ‘Sang Pahlawan’, tetapi sikap dan jasa sosok yang di usung melebur usai upacara ‘Penghormatan’ itu.

Menurut pandangan saya, siapapun memiliki kans sebagai Pahlawan, tidak terkecuali mereka yang melakukan perjalanan haji menuju Baitullah. Selain menyempurnakan bangunan keislamannya, rangkaian doa mustajabnya kerap memberikan sentuhan Ilahiyyah guna kemakmuran bangsa. Karena tanpa elemen itu, Indonesia tak kan pernah mampu bertahan menuju suatu kenikmatan berbangsa dan bernegara. Terlebih bagi mereka yang gugur dalam kesucian di tanah-Nya. Mereka bukan hanya sebagai haji yang mabrur, tetapi pahlawan dan duta Bangsa yang mengharumkan Bangsa di atas nisan yang penuh dengan keberkahan.

Saya kembali pada gambaran dihadapan saya pada makam Baqi, dihadapan nisan yang tak bertuan, makam yang penuh berkah, makam pahlawan sesungguhnya, pahlawan yang tak ingin namanya terukir diatas ukiran apapun, pahlawan sejati yang membela kebenaran seutuhnya. Mereka terpuruk, terluka dan terkoyak hanya demi kemuliaan anak-cucu dan bangsanya. Pun demikian, semoga para Pahlawan bangsa ini selalu diberikan tempat yang terindah di sisi-NYA. Juga memberikan semangat kepahlawanan bagi kita semua, seperti kata Cordova Founding Father di atas; Mereka adalah manusia misterius, berkarya tanpa nama.

Denyut aktivitas sudah sangat terasa mengarah pada sebuah agenda besar, agenda yang tak pernah berujung hingga kehidupan berakhir, gejolak rasa telah berhembus pada jiwa setiap calon tetamu suci-Nya. Hanya 14 hari lagi mereka kan bercengkrama di pusat bumi yang teramat suci. Semua persiapan telah terancang tuk menopang tegaknya kalimat mabrur, bersatu dalam kelembutan jiwa, meraih semua asa yang tercita. Melangkah pada tahapan selanjutnya, Cordova tengah mengutus dutanya tuk mengurus barcode haji (nomor identitas Cordova saat haji) di Tanah Suci. Dari masalah akomodasi, transportasi dan hal lain yang bersangkutan menjadi program kerja sang duta di Tanah Haram. Tentunya banyak fenomena yang terjadi saat proses barcode, karena itu hanya bergantung kepada Allah dan ikhtiar yang maksimal semua harapan kita kan terkabul. Lebih khusus nakhoda Cordova berpesan pada sang duta, tuk selalu memiliki jati diri yang tak pernah angkuh, berlari terantuk-antuk, menangis namun tetap berlari dengan senyum dan penuh keikhlasan. Doa menjadi pengawal niat, Bismillah menjadi panglima kata saat melangkah.

Sejuta doa mengawal langkah sang duta, semoga dalam proses barcode, kemudahan menyelimuti perjalanannya. Setiap individu menjadi bagian tim yang tak terpisahkan, tim Jakarta mempersiapkan perlengkapan ‘juang’ para hujaaj, tim KSA membantu duta dalam meyiapkan segala sesuatunya di Tanah Suci. Mengikat jemari tuk bersama mengawal niatan suci adalah salahsatu bentuk ikhtiar tuk meraih kemuliaan.

Waktu terus bergulir, ia tak pernah menyempatkan tuk kembali melihat dan berhenti menanti sebuah peristiwa. Siap atau tidak, waktu akan melanggeng menapaki trayek yang tak pernah berubah. Semuanya akan ‘pasrah’ mengikuti porosnya. Sebuah peristiwa yang akan terjadi di kemudian hari, lambat laun akan dihampiri jua oleh sang waktu. Pun demikian masa penantian haji, ia kan menjadi sebuah penantian yang berarti, segala bentuk persiapan baik materi maupun mental menjadi sebuah bekal yang tak terhingga di Tanah suci nanti.

Mengiringi langkah sang duta, biarkan bismillah menjadi panglima kata, tuk meraih segala cita. Bismillahi, Allahumma yassir wala tu’asshir!

Petang itu, hujan lebat baru saja reda. Jalanan ibukota mulai penuh dengan genangan air, kontan saja waktu sibuk-sibuknya orang pulang kantor itu membuat jalanan semakin macet. Mengantri, menghindari lubang dan genangan air. Terlebih waktu itu adalah hari Jum’at, malam weekend. Meski tidak turun hujan, biasanya macetnya selalu panjang. Dengan sedikit cemas, saya meminta kepada supir taksi untuk mencari jalan alternatif menuju Tebet. Saat itu, saya mendadak harus segera ke Bandung, setelah mendapat kabar bahwa orangtua saya sakit keras. Karena satu-satunya transportasi yang available saat itu adalah travel yang lokasinya di daerah Tebet, Jakarta Selatan, itupun tersisa hanya satu seat lagi. Maka tanpa berpikir panjang saya segera melaju kesana menggunakan taksi dari Depok. Jam keberangkatan travel itu pukul 19.30, sedangkan jam 19.00-nya, posisi saya masih di daerah Pasar Minggu, karenanya saya sedikit kurang nyaman duduk dengan selalu melihat jam tangan. “Biasanya kalau arah menuju Pancoran jam segini gak terlalu macet Bang”, gumam sang supir, seolah telah paham keresahan saya takut terlambat mobil travel.

Wal hasil, sesampai di lokasi, saya memang terlambat, dan tertinggal travel yang sudah jalan sejak 10 menit yang lalu. Sedangkan schedule keberangkatan lainnya hanya ada pukul 23.00 malam, itupun seat-nya sudah full. Diantara rasa kecewa, saya teringat dengan transportasi Kereta Api, yang jadwal keberangkatan terakhir menuju Bandung adalah pukul 20.35. Pikir saya masih tersisa sekitar 45 menit, karena hujan telah reda, saya segera meluncur menuju stasiun Jatinegara menggunakan ojek. Syukurlah, tiba di stasiun Jatinegara saya masih berkesempatan mendapatkan tiket dan berangkat tepat pukul 20.35.

Setelah lebih dari sepertiga perjalanan, suasana gerbong yang sejak awal terasa hening dan ‘nikmat’ untuk beristirahat, tiba-tiba terganggu oleh dua anak kecil berumur 4 dan 6 tahun yang berlarian di dalam gerbong. Sesekali pramugari KA menegur ramah untuk tidak berlari-lari di dalam kereta. Sedangkan seorang ibu bercadar yang diduga orangtuanya, hanya diam memandang ke arah jendela KA. Seolah tak peduli anak-nya mengganggu penumpang kereta lainnya. Setelah pramugari meninggalkan gerbong, anak-anak itu kembali berlari-lari, dan kini saling berebutan mainan. Kesana-kemari sambil berteriak, dan “Prang” anak yang berusia 4 tahun menyenggol seorang Bapak yang sedang menyantap mie kuah, hingga tumpah mengenai pakainnya.

Bukannya kaget dan meminta maaf, si ibu yang bercadar itu hanya melirik sekali ke arah suara mangkuk itu jatuh, lalu kembali terdiam. Dan anak-anak itu masih berlari ke arah belakang dengan teriakan yang semakin mengganggu penumpang se isi gerbong. Kontan saja, bapak berusia sekitar 50 tahun, yang tertumpahi itu merasa kesal, dan mendatangi si perempuan bercadar itu, “Bu, tolong anaknya di jaga dong”, ujar si Bapak sembari melihatkan pakaiannya yang terkena air mie, kesal. beberapa penumpang yang bersebelahan dengan saya pun menggerutu atas aksi cuek-nya si ibu bercadar. Si ibu memanggil anak-anaknya dan menyuruhnya duduk, namun tidak lama kemudian si anak kembali keluar dari tempat duduknya dan kembali berlari-lari. Bahkan kini mereka memainkan tombol pintu otomatis, tempat keluar-masuk yang juga bersebelahan dengan toilet gerbong.

Karena begitu kesalnya, banyak dari penumpang yang awalnya merasa khawatir jika si anak terjatuh, atau kenapa-kenapa saat kereta sedang jalan, kini seolah geram kepada si ibu, karena merasa membiarkan anak-anaknya berlarian mengganggu penumpang lainnya. Hampir semua penumpang di gerbong itu merasa kesal.

Setelah berapa lama memainkan tombol otomatis pintu itu, seorang ibu separuh baya baru saja keluar dari toilet, ketika masuk ke gerbong, kakinya sedikit terjepit oleh pintu otomatis, dan hampir terjatuh. Ternyata tombol otomatis itu di pijit oleh anak yang berusia 7 tahun. Si ibu semakin geram, namun ia sadar yang dihadapinya adalah anak-anak, maka ia menghampiri wanita bercadar yang duduknya tepat dua baris di depan saya. “Bu bisa ngurus anak gak sih!” bentaknya keras. “Dari tadi anaknya mengganggu semua penumpang, tapi ibu koq diam saja”. Katanya dengan nada tinggi. Si ibu bangkit dan menghampiri kedua anaknya, menenangkannya dan membawa kembali ke tempat duduk mereka.

Dengan sangat sopan dan hati-hati ia berujar ke para penumpang bahwa ia bukan ibunya, “bapak, ibu semua, saya mohon maaf atas kelakuan anak-anak ini, mereka adalah keponakan saya, saya masih shock dan benar-benar bingung bagaimana menceritakannya kepada mereka, bahwa ayah dan ibu-nya baru saja meninggal dalam kecelakaan lalu-lintas sore tadi, saya masih belum tega menceritakannya kepada mereka, saya masih menahan untuk bercerita, bahwa kita ke Bandung akan melihat jasad orang-orang yang sangat dicintainya”, sambil tak kuasa dari hentakan suaranya, terdengar si ibu bercadar itu menangis tak kuasa hingga memeluk kedua keponakannya yang ternyata baru tahu bahwa orangtuanya telah tiada.

Hampir seluruh penumpang se gerbong itu terdiam, sikap mereka berubah total, dari memandang kesal karena kenakalannya berubah menjadi iba dan kasihan.

Ending peristiwa ini mengajarkan saya, betapa dengan sebuah informasi yang jelas, maka keadaan akan berubah 180 derajat. Karena dengan informasi, maka segala sesuatunya akan berjalan mulus. Betapa banyak kehancuran di sebuah project, karena lemahnya faktor informasi yang dikomunikasikan dengan sangat jelas.

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula. Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku. Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu. Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku. Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur. Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku. Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi ? Ketika aku tak paham sedikitpun tentang teknologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku. Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu. Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku. Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat. Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas. Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka. Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan. Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku. Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur. Dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.

Ketika aku sudah sulit memandangmu, terkadang –juga- lupa siapa kamu, bukan karena aku tak mencintai dan menyayangimu. Justru kecintaan yang tulus itu telah menutupi rasa dalam penglihatan ini. Maafkan aku, bila tiba-tiba aku menangis dan hati ini hancur, meski menurutmu, kamu tak berkata keras, tapi bagiku teramat keras. Mungkin karena kau lupa, bahwa aku sangat tidak senang jika ada orang yang berkata keras atau kasar kepadamu sewaktu kecil. Jangan heran jika aku nanti memiliki banyak permintaan, janganlah semua kau turuti permintaanku, karena –memang- aku hanya ingin diperhatikan.

Ketika nanti aku telah menguban dan menjadi pikun, jika tidak keberatan, janganlah kau pisahkan jasad ini dengan darah yang mengalir pada dirimu. Jangan pula kau jarakkan aku dengan anak-anakmu, karena mereka lah yang membuatku mampu bertahan sampai sekarang. Kalau boleh aku meminta, jangan pula kau berikan padaku sebuah tempat mewah dengan fasilitas wah di rumah jompo, karena aku ingin disaat terakhir hayatku, mata ini dapat terlebih dulu melihatmu bersama anak-anak tercinta.

Ketika aku tua, maukah kau memanjakan ku (?)

Sambel dadakan seh enak, kalo ustadz dadakan (?)

Rasanya tema diatas akan sedikit mengundang kontroversi bahkan polemik, jika saja pemahaman tentang makna ‘ustadz’ itu sendiri tidak kita kupas secara detail, ditambah jika kita saksikan bagaimana gamblangnya peran ustadz ini di ‘panggung’ dakwah, maka kita akan semakin yakin bahwa ustadz dadakan yang kini berjamur di negeri kita, bisa masuk dalam ‘Penghancur agama’ atau jika tidak ingin kita sebut sebagai ulama su’u (ulama jahat). Seperti atsar ulama yang menyebutkan “Tidak ada yang merusak agama ini, kecuali raja, dan para ulama su’u serta para rahibnya”. Oleh karenanya, mari kita perjelas apa sebenarnya makna ‘ustadz’ itu sesungguhnya, sehingga tidak terjadi penggelinciran makna sesungguhnya. Tetapi jika awalnya kita sudah apriori, karena mengganggap bahwa panggilan ustadz itu sudah menjadi kebiasaan dan budaya Indonesia, maka yakinlah akan banyak bermunculan ustadz-ustadz ‘dadakan’, yang –ekstrimnya- hanya menggunakan kopiah saja, sudah bisa menjadi sosok seorang ustadz. Lincah dan lihai dalam panggung dakwah yang tentunya bertarif mahal jika ingin mengundangnya. “biaya sebesar itu bukan untuk saya, itu untuk yayasan sosial dan orang-orang yang mencari nafkah didalamnya,” alasannya terkesan logis.

Asal kata dari ustadz adalah ustad (tanpa huruf “Z” atau tanpa huruf “Dzal”). Dalam kamus Arab, Al-Mu’jamul Wasith, kata ustadz memiliki beberapa makna sebagai berikut: Pengajar, Orang yang ahli dalam suatu bidang industry dan mengajarkan pada yang lain, serta julukan akademis level tinggi di universitas. Kata jamaknya adalah Asatiidz dan Asatidzah. Demikian menurut pengertian bahasa. Sedangkan pengertian pokok ustadz adalah “seorang pakar spesialis tingkat tinggi”, atau orang yang sangat ahli dalam suatu bidang. Menurut pengertian ini, maka seseorang tidak pantas disebut ustadz kecuali, jika ia memiliki keahlian dari 18 atau 12 ilmu (bidang studi) dalam sastra Arab, seperti ilmu nahwu, Shorof, bayan, badi’ ma’ani, adab, mantiq, kalam, perilaku, ushul fikih, tafsir, hadist.

Sedang di Indonesia, (entah sejak kapan, dan siapa yang memulai) seolah pemanggilan atau penamaan ustadz begitu lumrah dan mudah, seakan tiada beban, yang penting orang tersebut memiliki kemampuan agama (meski hanya sekadar bisa baca Al-qur’an) dan bersikap serta berpakaian layaknya orang alim, maka dengan mudah ia sudah ‘lulus’ mendapat julukan Ustadz. Walaupun kemampuan riil yang dimilikinya sangat minim dan jauh dari definisi Ustadz sesungguhnya. Sehingga dengan demikian (mudahnya mendapat gelar ustadz), ia memiliki potensi besar dalam menguasai ‘panggung’ dakwah yang sarat dengan kenyamanan duniawi (materialistik).

Wajar jika output yang instant dalam penggodokan ustadz itu menghasilkan sosok-sosok ustadz yang lebih ‘nyaman’ bersenda gurau di depan layar kaca, terlebih jika masuk infotainment, merasa figur ustadz seperti predikat yang dikenakan dalam berdakwah. Ada juga yang mengatasnamakan metode dakwah, atau apalah sebutannya, memproklamirkan ceramah di bulan ramadhan di sebuah Resto Wine, yang jelas-jelas (setelah usai ceramah) Restoran itu tidak akan berubah menjadi Resto Zam-zam misalnya. Apalagi hal demikian itu, jika tidak disebut dengan penghinaan metode dakwah. Dimana kehormatan dan harga diri seorang ustadz yang ‘manut’ saja dipanggil hanya karena bayarannya kencang (?)

Dimanakah sosok ulama yang benar-benar menjadi Pewaris para nabi itu (?)

Sebuah Otokritik – ‘Ibda Binafsika’

Hampir di setiap tahun, di penghujung Ramadhan, airmata tumpah dalam penyesalan yang mendalam. Bukan karena Ramadhan kan segera sirna laiknya para ulama yang larut dalam kesedihan, karena mendamba Ramadhan tiba setiap saat. Atau karena tangisan anak yang merengek ingin dibelikan baju lebaran seperti yang dipakai teman-temannya, atau karena tidak punya dana untuk mudik. Namun airmata yang biasa tercurah saat itu adalah rasa sesal karena menyiakan tamu yang entah akan kembali jiwa ini menyapanya, atau tidak. Tamu yang telah lama dinanti, namun sering lupa akan keagungannya. Tamu yang memberikan kesempatan peleburan genangan nista dan dosa. Menghancurkan segala kotor yang kita luluri sekujur diri di bulan-bulan lainnya. Perencanaan shaum tanpa dusta, shaum tanpa paksa, dan shaum tanpa dosa, sulit direalisasikan dalam praktiknya. Bukan menyanggah sabda Rasul yang menyebutkan Ramadhan ini pintu surga di buka lebar-lebar, pintu neraka di kunci dan syetan-syetan di ikat kencang. Benar bahwa syetan dalam bentuk jin itu di ikat pengaruhnya agar tidak mendominasi keburukan di muka Bumi, namun bagaimana dengan syetan yang berjenis manusia, atau yang memiliki watak itu, bisa saja menjadi ‘influence’ virus keburukan. Sehingga ‘mengkambing-hitamkan’ ramadhan dengan dalil itu, padahal dirinya adalah perwujudan tabiat syetan yang sulit di ikat oleh aturan Ramadhan. Begitulah sisi gelap manusia yang kadang perencanaan amal baik-nya kerap tersita dan cenderung amblas, hingga tak terasa Ramadhan berakhir.

Katanya Ramadhan bulan Qur’an, tapi tak sebaris pun mushaf terbaca. Konon Ramadhan bulan berkah, namun rezeki cepat hilang, dan terus merasa kurang. Sejatinya Ramadhan adalah bulannya silaturahmi terjaga, tetapi justru keadaan sosial dan keluarga bak neraka. Direncana sunat terawih tak terlewat, eksekusinya bolong setengah bulan. Direncana khatam Qur’an dalam Ramadan, act-nya kosong, bahkan satu Juz pun butuh sebulan membacanya. Direncana setiap Ramadhan tiba, ingin menjadi orang yang gemar shodaqah, buktinya jangankan infak shodaqah, zakat fitrah pun harus berapa kali diingatkan.

Seringkali di Ramadhan manusia menjadi lihai dalam perencanaan, -meski- sebenarnya di bulan lainnya pun demikian (pawai dalam perencanaan saja). Yah mungkin airmata yang mengalir deras di setiap penghujung Ramadhan itu, diakibatkan oleh banyaknya perencanaan yang aksinya tak sebanding dengan prosentasi gairahnya. Kalaupun tidak ‘tekor’ minimal merugi dalam menuai berkah di Ramadhan. Sehingga wajar jika Rasul bersabda “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak terasa Ramadhan tiba. Rasanya Ramadhan tahun lalu baru saja berlalu. Masih segar ingatan kala berbuka puasa bersama anak dan istri, menggendong si kecil yang tertidur saat tarawih, atau hiruk pikuk mudik di penghujung Ramadhan.

Mari sejenak palingkan ingatan ke masa kecil. Saat adzan Maghrib bersahutan menandai akhir dari puasa selama Ramadhan, sejenak jalan-jalan sunyi senyap. Orang-orang menyantap hidangan berbuka sekedarnya, kemudian pergi ke surau untuk shalat berjamaah.

Dahulu belumlah banyak masjid. Tempat shalat berjamaah terdekat hanyalah sebuah surau tua. Kala ramadhan tiba, ramai orang kampung berduyun-duyun ke surau. Jamaah Shalat tarawih meluber hinge ke halamannya. Surau penuh sesak dengan laki-laki berbaju koko dan sarung. Sekejap udara terasa harum semerbak dengan ragam minyak wangi. Cahaya temaram dari lampu minyak menambah suasana khusuknya shalat.

Tahun berganti. Banyak hal berubah sejalan dengan usia kita yang semakin dekat dengan kesudahannya. Ramadhan tiba kembali. Menyapa insan metropolitan yang super sibuk. Saat menjelang adzan Maghrib, jalan-jalan di ibukota macet luar biasa. Banyak orang sudah membayangkan keluarga yang sudah menunggunya di rumah. Tidak sedikit yang tak kuasa terlalaikan shalat berjemaah di masjid saat maghrib, isya hingga tarawih tiba.

Ramadhan momen tepat untuk mempererat silaturahmi. Undangan demi undangan datang untuk berbuka puasa bersama, Kadang tak disadari hidangan berbuka yang berlimpah, menggiurkan kita untuk mencicipi semua yang semula hanya ingin melepas lapar dan dahaga secukupnya. Berawal dari rasa “gak enak” bila menghidangkan makanan tanpa kolak dan es buah kemudian terus di tambah hingga berlimpahlah makanan di meja saji. Sehingga bagi sebagian kita, turun berat badan di bulan suci adalah perkara yang sulit. Demikian juga menghindari kemubadziran dari banyaknya makanan sisa yang terbuang, lagi-lagi menjadi perkara sulit.

Ramadhan diwarnai juga dengan tayangan bertemakan religi di seluruh stasiun TV. Gegap gempita kegembiraan menyambut Ramadhan sudah tampak bahkan jauh sebelum bulan suci ini tiba. Sinetron Ramadhan sudah tayang beberapa minggu sebelumnya. Meski sebagian tayangan berhasil mengemas dakwah Islam dalam format yang digemari masyarakat, sebagian lainnya masih mengusung adegan klasik miskin hikmah terlebih akhlak mulia. Entah sampai kapan masyarakat masih nyaman dibuai acara-acara TV yang melalaikan dan senda gurau belaka. Heran. Mengapa banyak stasiun TV begitu kompak menayangkan komedi di saat yang bersamaan. Dibandingkan dengan kajian islam sarat hikmah, tentulah jauh lebih banyak sinetron dan komedi.

Di setiap penghujung Ramadhan , masih segar ingatan betapa sulitnya untuk konsentrasi ibadah. Bagaimana mengkhatamkan tilawah apalagi menyempurnakan qiyamul lail dan itikaf, bila terus dihujani beragam godaan belanja yang menggiurkan. Berbekal uang dan ragam alasan, orang berdesakan di pasar dan mall. Imbasnya, shaf-shaf di masjid semakin maju ke depan.

Namun, di penghujung Ramadhan pula kita menyaksikan dahsyatnya tali silaturahmi masyarakat muslim Indonesia. Mereka rela menghabiskan tabungan mereka setahun untuk sekadar mengunjungi orang tua dan sanak family di berbagai pelosok negeri ini.

Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunannya kepada kita dan menjadikan Ramadhan kali ini yang terbaik yang pernah kita lalui.

-The True Story-

BISMILLAHIRRAHMANIRROHIIM

Hanya dengan seijin ALLAH, maka cerita ini mampu saya sampaikan dengan segala kekurangan saya sebagai manusia, dengan segala kerendahan hati, saya mohon maaf apabila cerita ini tidak berkenan bagi siapapun yang membacanya. Tidak ada keinginan apapun dalam menuliskan cerita ini kecuali mengharapkan kedekatan lahir dan batin kepada SANG MAHA PEMBERI KEHIDUPAN, ALLAH SWT, TUHAN UMAT MANUSIA.

Saya bukanlah siapa siapa, saya hanya seorang mualaf yang di perkenankan oleh ALLAH untuk mengunjungi rumah -Nya yang begitu indah, dan travel ***** sebagai perantara ALLAH untuk saya bisa melakukan perjalanan sampai ke Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.

Dari sejak saya berniat untuk menjalankan ibadah umrah tahun 2012 ini, tiada henti ALLAH perlihatkan kekuasaan dan mukzizat NYA kepada hambanya yang penuh dosa ini, hamba yang penuh dengan kekurangan dan kesalahan kesalahan selama hidupnya. Saya malu pada ALLAH, seperti rasa malu saya bila keburukan saya diketahui oleh tetangga bahkan lebih, …lebih jauh daripada itu. Saya merasa tidak pantas menerimanya, saya merasa sangat kecil lebih kecil dari setitik debu, merasa sangat kotor.

Hampir setiap saya ingat ALLAH saya menitikkan air mata, ada rasa malu, ada rasa rindu ingin bertemu. Dari semua rasa yang saya rasakan yang terucap sejak saya menjadi mualaf hingga sekarang adalah saya ingin ALLAH bangga pada saya , saya ingin membahagiakan ALLAH seperti ALLAH membahagiakan saya sekuat semampu saya setulus hati dimana saja kapan saja. ALLAH Maha mengetahui segala isi hati dan saya yakin ALLAH lebih dekat dari segala isi hati. Salah satu mukzizat ALLAH adalah saya tiba-tiba jatuh sakit 2 hari sebelum keberangkatan.

Rasa sakit yang luar biasa yang belum pernah saya rasakan. Secara fisik saya sampai berguling guling di lantai dan menggigil menahan sakit. Obat penghilang rasa sakit tidak ada satupun yang bekerja. Saya memeriksakan diri ke RS, hingga dilakukan pemeriksaan darah dan urine lengkap. Tapi semua tes tersebut memberikan hasil negatif.

Sehari sebelum keberangkatan kondisi saya memburuk, saya hanya bisa memohon kepada Allah dan bergumam dalam hati, semoga saja saudari tercintaku (salah seorang sahabat keluarga kami) masih punya air zam zam. MAHA SUCI ALLAH, MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG LAGI MAHA MENDENGARKAN, beberapa jam kemudian sahabat baik keluarga kami dan suaminya itu, datang menjenguk membawakan air Zam Zam.

Pecah tangis saya begitu melihat apa yang dibawa oleh sahabat kami. YA ALLAH ALHAMDULILLAH, SESUNGGUHNYA ALLAH SELALU MENGAWASI HAMBA HAMBANYA DAN TIDAK ADA SATU HAL TERKECILPUN YANG TERLEWATKAN DALAM PENGAWASANNYA DAN SUDAH MENJADI KETETAPANNYA.

Kondisi saya berangsur membaik dalam hitungan jam, saya pergunakan waktu yang tersisa sebelum keberangkatan umrah untuk menyelesaikan tugas saya sebagai istri, sebagai hamba ALLAH. Saya mencoba dalam keseharian saya menganggap hari ini adalah hari terakhir saya di dunia, maka saya terpacu untuk berusaha melakukan segala sesuatu setulus hati, sekuat semampu saya, sebaik baiknya hanya untuk ALLAH semata.

Saya bersihkan seluruh rumah, tidak saya tinggalkan cucian kotor, saya sirami semua tanaman, saya titipkan pesan kepada orang-orang terdekat, karena saya tidak ingin menyusahkan orang orang terdekat dengan segala sesuatu yang seharusnya saya bisa lakukan dan selesaikan sendiri.

Niatan umrah saya adalah sebenar benarnya bersih secara lahiriah dan batiniah yang saya usahakan dengan ketulusan hati bersama ALLAH. Saya siapkan pakaian umrah untuk saya dan suami yang paling indah dan bersih. Saya ingin berkunjung ke rumah ALLAH sebagai hamba yang tahu menempatkan dirinya, mempunyai adab yang baik dan benar, dan keinginan untuk membawakan dan memberikan ALLAH rasa syukur dan terima kasih saya yang tidak terucapkan, kerinduan saya kepada ALLAH, dan segala pujian yang mampu saya sampaikan.

Ternyata ujian belumlah usai. Sakit saya kambuh di pesawat dalam perjalanan menuju Jeddah, saya menangis menahan sakit, saya berdoa dalam sakit saya; “Ya ALLAH Ampunilah hamba, perkenankanlah hamba menjalankan ibadah umrah ini, bilamana sudah sampai waktu hamba untuk kembali keluarkan lah hamba dengan cara yang baik” Ya ALLAH saya sungguh tidak ingin merepotkan orang orang di sekitar saya karena sakit ini, hamba mohon bantulah hamba menguatkan diri hamba ini” Sungguh ALLAH MAHA PELIMPAH KASIH YANG MAHA MEMILIKI KELUHURAN DAN KEMURAHAN

Obat berupa suntikan yang di berikan dokter di Jeddah tidak mempan sama sekali. Meskipun demikian, saya katakan pada dokter dan suami saya saat itu bahwa saya sudah tidak apa apa.Dalam pikiran saya, saya harus berangkat ke Madinah. Tidak ada sesuatupun dapat menghalangi hambaNYA untuk bertemu dengan Tuhannya kecuali ALLAH itu sendiri.

Saya mencoba tersenyum dan menjawab kepada setiap orang yang bertanya apakah keadaan saya sudah membaik, saya selalu mengatakan Alhamdulillah sudah membaik. Padahal sesungguhnya saya merasakan rasa nyeri yang amat sangat. Ketika sudah duduk di kursi paling belakang bersama suami dan adik-adik, saya tidak tahan untuk tidak memegang bagian badan yang sakit, air mata mengalir, keringat bercucuran tubuh saya gemetaran.. yang terucap hanyalah “La Hawla Wala Quwwata Illa Billah”

Sampai suatu waktu saya mendengarkan suara yang terhujam dalam hati, “Bersabarlah, bahwa sesungguhnya kesabaran dan keimananmu sedang diuji, dan tidaklah Allah menguji hambaNYA melebihi kesanggupannya, bersabarlah bahwa sesungguhnya segala sakit yang kamu rasakan akan hilang setelah memasuki tanah haram”

TERIMA KASIH YA ALLAH YANG MAHA MEMPERKENANKAN, YANG MAHA MENYAKSIKAN
SEGALA PUJI HANYA UNTUK ALLAH DAN TIADA KATA YANG MAMPU HAMBA RANGKAIKAN UNTUK MENGUNGKAPKAN SEGALA RASA DIHATI

Benarlah apa yang telah saya dengar, hilang semua rasa sakit begitu bis yang kami tumpangi memasuki tanah haram. Saya berusaha menahan tangis tidak ingin jemaah yang lain mengetahuinya. Rasanya tubuh saya ringan sekali tapi hati saya berat penuh rasa rindu, hingga sesak dada ini menahan tangis. Subhanallah, Alhamdulillah… terus menerus terucap dalam hati hingga tidak terasa kami sudah sampai di hotel.

Sebelum menuju masjid saya mandi dan mengganti pakaian saya dengan yang baru. Saya melangkahkan kaki menuju gerbang masjid Nabawi dengan penuh rasa riang di hati. Namun apa yang saya temui ketika berada di pintu masjid adalah orang-orang berebutan masuk saling dorong tidak ada yang mengantri. Saya terdiam menunggu giliran untuk masuk dan diperiksa oleh para askar. Salah satu dari askar itu melihat kearah saya , memanggil saya dan membiarkan saya masuk tanpa disentuhnya.

Pada saat saya memasuki mesjid terucap doa dalam hati, ”Ya ALLAH jangan biarkan hamba memasuki rumahMU dalam keadaan kotor, dan tidak punya sopan santun dan hamba mohon tempatkan lah hamba didalam mesjid ini dimana Engkau berkenan menempatkan hamba, dan jadikanlah hamba dapat mengambil pelajaran dari apa yang ada di hadapan hamba”

Saya sungguh bersedih hati melihat bagaimana sikap orang orang saat memasuki masjid Nabawi, banyak di antara mereka adalah bangsa Indonesia. Sebagai mualaf, saya sungguh bingung melihat adab mereka. Menurut saya, saat bertamu ke rumah ALLAH seharusnya kita jauh lebih sopan dan lebih santun, dibandingkan bilamana kita hendak bertamu ke rumah manusia. Bila benar kita pengikut Baginda Rasulullah SAW, kita tidak akan melakukan hal di atas, ini menunjukkan kita sungguh tidak menjaga nama baik Rasulullah, tidak juga menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah yang telah bersusah payah mengorbankan semuanya untuk kebaikan kita. Seorang yang mengaku sebagai hamba Allah, pengikut Rasullulah , mengaku sebagai seorang muslim, akan terlihat dari bagaimana hamba itu menjaga dan merawat kebersihan tubuhnya, mengucapkan kata kata yang baik, berpikir yang baik dan seharusnya memperlihatkan adab yang baik. Begitu banyak kejadian selama saya di dalam masjid yang membuat saya menangis sedih, merasa tidak mampu melakukan apapun untuk merubahnya. Begitu mudahnya tanpa rasa bersalah, seseorang melewati dan melangkahi orang lain yang tengah bersujud.

Mereka memaksa saya untuk melangkahkan kaki melewati orang yang tengah bersujud tapi saya tidak bergeming. Saya biarkan orang itumengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Sampai akhirnya ada yang melihat tingkah laku saya dan mempersilakan saya lewat di sebelahnya tanpa harus melangkahi orang yang tengah bersujud tadi.

SUNGGUH ALLAH MAHA KUASA ATAS HAMBA HAMBANYA

Dengan mudah ALLAH membulak-balikkan hati manusia, sungguh mengerikan bilamana ALLAH berkehendak mengungkapkan keburukan seseorang di hadapan orang lain sementara dia merasa mendapatkan petunjuk, melakukan kerusakan di muka bumi tapi merasa mengadakan perbaikan dan bersikap sombong terhadap makhluk ALLAH.

Beberapa peristiwa lain terjadi ketika saya berada di Mekkah. Saya merasa takut hal itu terjadi pada saya. Ketika sedang menjalankan shalat zuhur saya merasakan takut yang luar biasa, rasanya seperti seluruh isi langit dan bumi runtuh menimpa saya. Saya merasakan kemurkaan yang tidak berujung, ketakutan yang tidak mampu saya ungkapkan melalui kata-kata, kemudian ketakutan itu berubah menjadi ketakutan kehilangan ALLAH, lalu saya sesegukan menangis dan berdoa:

“ YA ALLAH YA RABB, HAMBA MOHON AMPUNANMU MOHON BELAS KASIHAN MU KEPADA HAMBA YANG TIDAK PUNYA DAYA UPAYA KECUALI DARIMU YA RABB, JANGAN SIKSA HAMBA DENGAN MURKAMU KARENA HAMBA TIDAK AKAN MAMPU MENANGGUNGNYA, HAMBA AKAN MUSNAH YA RABB”

“ YA ALLAH YA RABB, HAMBA MOHON JANGAN PERNAH TINGGALKAN HAMBA WALAU SEKEJAP SAJA KARENA HAMBA AKAN TERSESAT, HAMBA AKAN LALAI, HAMBA AKAN MELAKUKAN KESALAHAN YANG MENJAUHKAN HAMBA DARI MU YA RABB’

“YA ALLAH YA RABB BANTULAH HAMBA UNTUK BISA LEBIH BERSABAR DAN JADIKANLAH KESABARAN HAMBA SELUAS LANGIT DAN BUMI

“YA ALLAH YA RABB AJARKANLAH HAMBA UNTUK BANYAK BERSYUKUR LAGI PANDAI BERSYUKUR DAN JADIKANLAH RASA SYUKUR HAMBA SELUAS LANGIT DAN BUMI

“YA ALLAH YA RABB PERKENANKANLAH HAMBA MENCINTAIMU SEPERTI ENGKAU MENCINTAI HAMBA, DAN HAMBA MOHON JADIKANLAH KECINTAAN HAMBA KEPADAMU ABADI”

“YA ALLAH CUKUPLAH ENGKAU UNTUKKU”

“DAN TIADALAH TUHAN SELAIN ALLAH YANG AKAN HAMBA SEMBAH”
AMIN YA RABBAL ALAMIN

Tiada nikmat yang lebih indah tiada karunia yang lebih besar daripada menginginkan hanya kedekatan dan keridhaan Allah semata

Tiadalah saya mampu menuliskan kata demi kata tanpa Allah berkenan didalamnya
Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Terima kasih ***** yang telah menjaga dan membantu perjalanan kami, hanya doa setulus hati yang bisa kami mohonkan kepada ALLAH, cukuplah hanya ALLAH yang mengetahui dan cukuplah ALLAH sebagai saksi.

Wassalamu’alaikum
L.I.A
(Alumni Holiday Journey Edition – Juni, 2012)