Perjalanan ke Tanah Suci jejaknya telah termaktub sejak zaman azali. Setiap manusia pasti kembali, menuju satu titik yang sangat pasti. Gerakannya selalu penuh arti. Damainya dekapan cinta Ilahi di Tanah Suci, semakin menyadarkan kita bahwa manusia lah yang seharusnya membuat symphony hidup menjadi seimbang. Lembar tangga nada kehidupan sudah ALLAH tetapkan, jika boleh berkata, janganlah biarkan keindahan rasa terhempas mahligai dunia yang menggila, menunggu raga tak lagi bernyawa, tuk dapatkan dimana ALLAH berada. Bersama menjungjung petuah sang Nabi, karena semua itu adalah ‘Akhir Bukti Janji’.






Sejarah tak pernah terbantah, bahwa Indonesia tanpa pahlawan, laksana langit tak berawan. Atau mobil tak ber-mesin. Ia akan hanya menjadi ‘rongsokan’ tua tak berguna. Tumpukan besi karat yang hanya membisu, diam tak berjalan. Lokomotif perjuangan adalah pahlawan, tanpanya, negara ini hanyalah sebuah hamparan yang terdiri dari ribuan pulau. Tak menyambung dari Sabang sampai Merauke, atau tak berbudi pekerti yang sama, berbahasa sama serta tak berbangsa satu. Pahlawan adalah mesin perjuangan, landasan kemerdekaan.




Dari segi usia, Bunda lah yang lebih sepuh diantara ‘the dream team Cordova’. Baik yang ada di Jakarta maupun Saudi Arabia. Dari segi pengalaman, Bunda jua lah yang lebih banyak merasakan asam garam dunia travelling. Pun dari segi mental, Bunda juga yang –rasanya- lebih matang dalam menghadapi segala apa yang terjadi. Ya, salah satu team yang akan kita kupas kali ini adalah Bunda Nany Ramelan, atau orang lebih mengenalnya dengan sebutan Bunda Nany. Beliau adalah sosok yang penuh dengan kehangatan.

Cinta ‘Berkarat’ Antara Egypt & Indonesia

Awalnya, sangat berat menanggapi airmata yang tercurah di ‘Negeri Seribu Menara’ ini melalui tulisan. Karena memang sulit untuk dibayangkan dalam satu paragraf halaman sekalipun, bagaimana keindahan, ke ramah-tamahan, toleransi, kehangatan dan keharmonisan masyarakatnya, kini menjadi airmata dan darah yang hampir terpercik di seantero negeri. Kairo, Alexandria, Zaqozik, Mansourah, Matruh, Fayoum dan kota-kota lainnya menjadi sangat mencekam. Juga, akhir-akhir ini sudah banyak pembahasan di jagad maya tentang kondisi yang terjadi di Egypt. Pendzoliman Junta Militer terhadap Presiden Mursi, telah sangat jelas menggambarkan arogansi militer yang inkonstitusional. Kita hanya ingin memberikan stimulus pada Bangsa Indonesia, terutama Presiden SBY untuk melihat sejarah berdirinya negeri ini, melihat dan membaca dengan hati. Sehingga, ia mampu tuk memberikan pernyataan resmi tentang peristiwa yang terjadi di Mesir dengan penuh simpati. Bukan malah hanya berkomentar di Twitter.

Akar sejarah Indonesia dengan Mesir sangat kuat. Pengakuan Dunia Internasional terhadap merdekanya negeri ini, diawali oleh Mesir. Sehingga diikuti oleh bangsa lainnya untuk melegitimasi Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Teringat sebuah kisah utusan dari Indonesia (sebuah tempat yang pada saat itu, belum dikenal dan belum diakui internasional). Utusan yang baru tiba di Mesir pada tahun 1947, hanya ditanya “Are You Moslem?”. Dengan serempak mereka menjawab “Yes”.

Lalu petugas imigrasi bandara itu, hanya bilang “Well, then Ahlan wa Sahlan, Welcome!”. Dan H. Agus Salim, AR Baswedan, Mr. Nazir & Prof Rasjidi hanya lewat begitu saja tanpa diperiksa petugas. Setelah itu, mereka bersiap menghadap Perdana Mentri Mesir dan Raja Farouq dengan pakaian sederhana. Setelah 3 bulan lamanya mereka bernegosiasi, menjelaskan tentang Indonesia ke wartawan-wartawan, mencari dukungan dll, namun baru kali ini, mereka di terima langsung oleh Perdana Menteri Mesir.

Nama Indonesia sayup-sayup muncul menghiasi media di Mesir. Hingga pada suatu malam mereka bertemu Raja Farouq dan raja berkata “Karena persaudaraan Islam lah, terutama, kami membantu dan mendorong Liga Arab untuk mengakui kedaulatan Bangsa Indonesia.”

Di lain hari, pada tanggal 10 Juni 1947, pada pukul 9 pagi para delegasi RI tiba di ruang Kemenlu Mesir, sekaligus PM Mesir Nokrashi Pasha. Namun mereka menunggu sekitar setengah jam, dan tiba – tiba keluar seorang -duta Besar Belanda- dari ruang PM Mesir. Belanda memprotes Mesir karena akan mendukung Indonesia.

Dengan tegas, PM Mesir bilang “Menyesal sekali kami menolak Tuan, sebab Mesir selaku negara berdaulat, dan sebagai negara yang berdasarkan Islam, mendukung perjuangan rakyat Indonesia untuk berdaulat, terlebih mereka rakyat Indonesia beragama Islam.”

Detik-detik itu digambarkan oleh AR Baswedan sangat mengharukan, detik yang teramat haru bagi pejuang Indonesia. Mengharap pengakuan kedaulatan dari negara-negara, tentunya bukan pekerjaan yang sangat mudah. Namun “Lega dan syukur kepada Allah, karena Republik Indonesia pada akhirnya mendapat pengakuan De Jure dalam dunia Internasional, Mesir yang pertama mengakui kita,” kata AR. Baswedan.

Bulir- bulir bening membasahi pipi para delegasi. Bergetar tangan H.Agus Salim menandatangani perjanjian persahabatan antara RI dan Mesir 10 Juni itu. Kairo menjadi saksi, bahwa disanalah, tonggak RI dikenal, bahkan suaranya mulai didengar. Pada 29 Juni Libanon mulai mengakui kedaulatan RI, satu per satu pengakuan berdatangan. Pupus harapan Belanda yang menandatangani perjanjian Linggarjati maret 47, bahwa nanti akan membentuk Indonesia Serikat, akan dikuasai Belanda. Pengakuan Mesir telah menghancurkan harapan tersebut. Tak lama, Juli 47 Belanda melancarkan Agresi pertama. Dengan dukungan Internasional, RI saat itu bisa bersuara di PBB, hingga di inisiasi perundingan Renvile – oleh PBB- yang akhirnya dilanggar Belanda sendiri pada Agresi Militer Belanda II.

Kini, Mesir kembali bergejolak. Ikatan batin itu mungkin terasa samar-samar. Pengakuan dari setiap negara yang mendukungnya sangat dinanti. Minimal menyuarakan bahwa perlakuan kudeta militer terhadap Presiden terpilih itu adalah sebuah pelanggaran yang jahat. Kini, mampukah Presiden RI, yang dulu pernah memohon-mohon diakui legitimasinya sebagai negara berdaulat, dan dengan sangat berpengaruh Mesir memberikan legitimasi itu dengan sangat mudah. Sekaligus sikap pimpinan Bangsa RI ini akan mencerminkan karakter bangsa, apakah bangsa yang santun, atau bangsa yang tidak tahu berterima kasih.

Adakala seorang muslim memandang biasa pada sebuah moment luarbiasa. Apatis, melongo, biasa saja, terlebih respect atau antusias dalam menyambutnya. Ramadhan tak ubah nya sebelas bulan lain, tiada perbedaan yang signifikan. ‘yah mungkin bedanya bagi muslim diharuskan berpuasa, itu saja. Yang lainnya sama, ‘yang kerja ya kerja, nyari duit. Yang ibadah ya khusyuk di masjid. Begitulah –mungkin- sebagian kecil memandang Ramadhan yang tiada istimewanya. Padahal sesungguhnya ia (Ramadhan) adalah satu bulan yang mampu menyelamatkan keabadian dalam panasnya neraka, ia juga bisa menjadi syafaat (pertolongan) di kala kemalangan terjadi di akhirat. Ramadhan pula memiliki gerbang khusus masuk surga, melalui shaumnya. Ramadhan bak ‘amnesti’ bagi mereka yang terancam hukum pancung, atau ampunan bagi mereka yang melakukan dosa dan nista. Karenanya betapa ‘percuma’-nya diri ketika Ramadhan datang, sedang diri tak bersiap. Jiwa tak ber-suka.

Hampir di setiap tahun di pertengahan Ramadhan, sebelum airmata tumpah dalam penyesalan yang mendalam. Bukan karena Ramadhan kan segera sirna laiknya para ulama yang larut dalam kesedihan, karena mendamba Ramadhan tiba setiap saat. Atau karena tangisan anak yang merengek ingin dibelikan baju lebaran seperti yang dipakai teman-temannya, atau karena tidak punya dana untuk mudik. Namun airmata yang biasa tercurah saat itu adalah rasa sesal karena menyiakan tamu yang entahlah usia ini akan kembali menyapanya atau tidak.

Tamu yang telah lama dinanti, namun sering lupa akan keagungannya. Tamu yang memberikan kesempatan peleburan genangan nista dan dosa. Menghancurkan segala kotor yang kita luluri sekujur diri di bulan-bulan lainnya. Perencanaan shaum tanpa dusta, shaum tanpa paksa, dan shaum tanpa dosa, sulit direalisasikan dalam praktiknya. Bukan menyanggah sabda Rasul yang menyebutkan Ramadhan ini pintu surga di buka lebar-lebar, pintu neraka di kunci dan syetan-syetan di ikat kencang. Benar bahwa syetan dalam bentuk jin itu di ikat pengaruhnya agar tidak mendominasi keburukan di muka Bumi, namun bagaimana dengan syetan yang berjenis manusia, atau yang memiliki watak itu, bisa saja menjadi ‘influence’ virus keburukan. Sehingga ‘mengkambing-hitamkan’ ramadhan dengan dalil itu, padahal dirinya adalah perwujudan tabiat syetan yang sulit di ikat oleh aturan Ramadhan. Begitulah sisi gelap manusia yang kadang perencanaan amal baik-nya kerap tersita dan cenderung amblas, hingga tak terasa Ramadhan berakhir.

Katanya Ramadhan bulan Qur’an, tapi tak sebaris pun mushaf terbaca. Konon Ramadhan bulan berkah, namun rezeki cepat hilang, dan terus merasa kurang. Sejatinya Ramadhan adalah bulannya silaturahmi terjaga, tetapi justru keadaan sosial dan keluarga bak neraka. Direncana sunat terawih tak terlewat, eksekusinya bolong setengah bulan. Direncana khatam Qur’an dalam Ramadan, act-nya kosong, bahkan satu Juz pun butuh sebulan membacanya. Direncana setiap Ramadhan tiba, ingin menjadi orang yang gemar shodaqah, buktinya jangankan infak shodaqah, zakat fitrah pun harus berapa kali diingatkan.

Seringkali di Ramadhan manusia menjadi lihai dalam perencanaan, -meski- sebenarnya di bulan lainnya pun demikian (pawai dalam perencanaan saja). Perencanaan yang aksinya tak sebanding dengan prosentasi gairahnya. Kalaupun tidak ‘tekor’ minimal merugi dalam menuai berkah di Ramadhan. Sehingga wajar jika Rasul bersabda “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yah mungkin sebelum airmata mengalir deras di setiap penghujung Ramadhan nanti, sebelum habis Ramadhan nanti, mari bersama mengikatkan kembali ikrar kita dalam jiwa untuk bisa lebih memberikan manfaat pada bulan yang penuh dengan keagungan ini.

Beberapa hari lalu, diawal bulan puasa, berbagai media menayangkan sebuah program menarik: bagaimana pemain muslim perlahan ikut mengubah wajah Liga Primer Inggris. Data resmi meyebutkan setidaknya 40 pemain di Liga Primer menyebut dan ‘memproklamirkan’ diri sebagai seorang muslim. Masih belum luar biasa dari segi jumlah -sebenarnya- masih kurang 10 persen dari keseluruhan 540 pemain dari 20 klub yang terdaftar di Liga Primer. Meski sedikit dari segi jumlah, namun dampaknya tak bisa diabaikan. Demikian pesan yang nyaring dari media tersebut. Contoh pengaruh itu bertebaran. Misalnya, Liverpool hanya menyediakan ayam halal untuk dikonsumsi para pemain di musim latihan, karena baik yang muslim maupun bukan, sama-sama bisa mengonsumsinya. Newcastle menyediakan mushola di St James Park. Arsenal memberi waktu luang bagi pemain yang ingin menjalankan sholat.

Tidak terbatas pada tiga klub itu saja tentunya, hampir semua klub yang memiliki pemain muslim memberikan konsesinya masing-masing agar mereka bisa semaksimal mungkin menjalankan kewajiban. Toh prinsipnya bagi klub-klub ini, kalau pemain senang, maka kerja mereka akan maksimal, dan klub juga yang akan meraih keuntungan.

Walau sifatnya masih semi resmi, bahkan ada kursus bagi para calon pelatih untuk memahami ritual seperti puasa dan sholat yang harus dijalani pemain muslim. Tujuannya sederhana, agar potensi konflik bisa dikurangi dan keseimbangan yang mutualistis bisa dicapai.

Bank Barclays sebagai sponsor Liga Primer bahkan tidak lagi memberi sampanye bagi mereka yang dipilih menjadi man of the match. Tidak untuk pemain muslim maupun non-muslim. Awal sebabnya sederhana. Yaya Toure pernah dengan sopan menolak pemberian sampanye itu dengan mengatakan dirinya muslim dan tidak minum alkohol. kerennya, pemain sekaliber Yaya seringkali menjadi man of the match. Begitupun dengan beberapa pemain muslim lain. Karenanya diputuskan, untuk tidak mempermalukan kedua belah pihak lebih baik sampanye diganti semacam trofi, karena ternyata pemain non-muslim juga tak keberatan sama sekali dengan pergantian itu.

Bahkan konon perayaan kemenangan di ruang ganti pemain, lengkap dengan semburan sampanye, dilakukan setelah pakaian para pemain muslim disingkirkan terlebih dahulu supaya tidak terkena percikan minuman beralkohol itu.

Dengan banyaknya pesepakbola muslim, para pemain yang dikenal atau dianggap insular — tak peduli dengan kehidupan lain di luar sepakbola –, menjadi sedikit banyak mengerti apa itu Islam dan hal-hal yang terkait dengan ajaran itu.

Pengaruhnya tidak sebatas di kalangan administrator klub dan liga saja, tetapi juga di kalangan penonton dan suporter. Misalnya pendukung Newcastle punya lagu pujaan khas untuk Demba Ba, sewaktu ia masih bermain di sana, yang mengaitkan kemampuannya mencetak gol dengan bulan Ramadan. Ba dikenal sebagai salah satu pemain yang selalu berpuasa, tak peduli apakah itu hari latihan dan pertandingan. Kalau sebelumnya penggemar Newcastle tidak tahu sama sekali apa itu Islam dan apa yang terjadi selama Ramadan,

Anak-anak pendukung Newcastle, serta siapapun yang suka dengan Ba dan Papis Cisse — yang juga seorang muslim yang taat, banyak meniru perayaan gol mereka dengan bersujud syukur (di atas lapangan). Tentu anak-anak itu tidak paham sama sekali mengapa Ba dan Cisse melakukannya. Tetapi sekali lagi, ada dimensi kehidupan lain yang mulai menyusup tanpa disadari bahkan sejak kanak-kanak.

Inilah kekuatan Islam dalam memberikan influence tanpa menimbulkan konflik, ia menghembus dengan sangat smooth dan polite. Bahkan -bisa jadi- pengaruhnya bisa jauh melebihi ‘juru dakwah’ yang gemar berlucu di televisi sepanjang waktu sahur.

(Dari berbagai sumber)

Sudah sepekan Ramadhan berlaju tanpa rehat, tiada henti keagungannya bersinar pada jiwa setiap hamba. Cahayanya tak pernah padam walau banyak manusia yang menyiakan-nya. Ia kan terus berpacu dengan keberkahan yang menyelimuti seantero bumi. Bulan yang sesungguhnya memberikan multi education pada setiap muslim yang menghirupnya. Kedamaian, kehangatan dan ragam kemulian lainnya, hanya akan diraih pada bulan ini. “Cuci gudang dosa” tahunan ini, sejatinya memberikan spirit tuk membenahi segala tindak yang terpatri. Melakukan ekplorasi kebaikan tuk merayakan selebrasi fitri dikemudian hari. Terkhusus bagi calon tamu ALLAH yang berapa saat lagi akan menunaikan ibadah haji, Ramadhan menjadi satu-satunya kesempatan yang layak tuk dikemas menuju jalan kemabruran. Tentunya bukan ‘kebetulan’ atau tak sengaja ALLAH menciptakan Ramadhan berada dalam urutan waktu sebelum musim haji. Bisa jadi, ALLAH memberikan Ramadhan sebagai space prepare menjelang peribadatan paripurna 9 Dzulhijjah kelak. Sebab, semua dimensi ketaatan manusia pada Sang Khalik berada pada bulan suci ini.

Kesinambungan waktu itulah yang menjadi modal bagi calon tamu ALLAH SWT, tuk dijadikan preparing menghadapi penutup segala rukun yang membalut identitas seorang muslim. Haji adalah klimaks dari segala ketaatan seorang muslim, hingga wajar –bahkan- sepatutnya, jika bulan yang kental dengan nuansa pembenahan jiwa ini, dijadikan sebagai tolak ukur untuk menyusun agenda kemabruran kita. Rasa kepedulian, sabar, ikhlas, jujur, disiplin, dan semua karakter dalam perjuangan haji terdapat pada bulan ini. Maka, manasik jiwa menghadapi haji sesungguhnya telah berada dihadapan kita.

Melaksanakan tahapan ibadah haji sebenarnya sangat mudah dipelajari, manasik teori maupun praktik bukan hal yang teramat sulit tuk dihapal, tetapi yang terlampau sulit adalah bagaimana kita mengendalikan jiwa saat berada di medan haji nanti. Watak dan karakter manusia yang tidak kebal dosa, akan menjadi bumerang saat detik-detik haji kan terpijak. Oleh karenanya, proses pembentukan haji mabrur menjadi sangat dominan di bulan suci ini. Sebab jalan menuju mabrur tidak mudah tercipta oleh waktu yang instan.

So, segala aspek pendidikan Ramadhan menjadi teramat penting tuk menggaet predikat tertinggi haji ‘Mabrur’. Selain kembali fitri selepas perjuangan 30 hari puasa, para tamu Agung kan kembali berkesempatan meraih tiket Mabrur. Yaa Rabb! So, mari kita jadikan Ramadhan sebagai ‘Manasik Jiwa’.

Pada suatu kesempatan seorang teman pernah bercerita, bahwa dalam segala hal dirinya tidak bisa menjadi orang nomor dua di komunitasnya. Maksudnya, ia selalu harus menjadi pemenang dalam setiap bidang. Baik dalam kejuaraan olahraga, struktur organisasi, terlebih dalam peringkat akademis di kelasnya. Bertarung mendapatkan kursi teratas adalah sebuah kelaziman yang harus ia peroleh dimana dan kapan pun. Dalam kehidupannya, ia sangat memerlukan rasa ‘menaklukkan’, suatu rasa superior dan rasa menang terus berputar dalam langkah hidupnya. Ia merasa bahwa suatu ‘kemenangan’ selalu dimulai dari bagaimana ia menghargai pencapaiannya setiap hari. Ia merasa, tanpa rasa menang, sepertinya ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.

Teruntuk Soulmate Tercinta

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu terlelap tidur, Aku akan menyelimutimu dengan lebih rapat dan berdoa kepada ALLAH agar menjaga jiwamu.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu.

Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya, Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa.

Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda. Dan hari ini mungkin kesempatan terakhir kita untuk memeluk erat orang tersayang.
Jadi, bila kita sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang (?)

Karena bila esok tak pernah datang, kita –mungkin- akan sangat menyesali hari ini.
Saat kita tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman. Dan saat kita terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka.

Jadi, dekap erat orang-orang tersayang hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kita sangat mencintai mereka dan akan selalu menyayangi mereka.
Luangkan waktu untuk mengatakan “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “I love u”

Dan bila esok tak pernah datang, kau takkan menyesali hari ini.

(Norma Cornett Marek)

Perencanaan adalah awalan yang menentukan. Perencanaan juga bisa mengindikasikan langkah yang diayunkan terkonsep dengan baik. Rencana adalah ‘makhluk’ yang masih berada dalam dunia khayal, bayangan yang terkontrol oleh alam pikir. Ia masih hal ghaib yang sulit terdeteksi oleh dunia riil, masih terkesan liar dan meletup-letup. Sebagian keberadaannya masih berada di luar kawasan otak. Perencanaan akan semakin fokus menjadi ‘makhluk utuh’ ketika tergiring pada sebuah ketetapan hati, yakni; niat. Dengan diikat oleh hati, maka keliaran-nya menjadi lunak dan cenderung taat. Hati menjadi komandan ‘makhluk’ yang bernama rencana. Sehingga memiliki spirit tuk segera bermetamorfosa menjadi nyata. Semua karya manusia awalnya dari sebuah perencanaan yang liar, sampai terikat oleh kekuatan niat tuk merubahnya. Sehingga dalam Islam, ALLAH menilai dan memberikan apresiasi (pahala) ketika sebuah kebaikan masih berada dalam dunia khayal (perencanaan). Jika rencana kebaikan –meski- tanpa aksi saja ALLAH memberikan apresiasi, lalu bagaimana jika semua itu berwujud menjadi aksi (?)

Bila setiap helaan nafas nyaris kosong oleh satu rencana pun, maka dapat dipastikan kita berada dalam langkah kerugian yang nyata. Karenanya, tidak salah jika hati ini di sesakkan oleh rencana kebaikan itu, siapa tahu jika telah penuh akan meluber menjadi aksi. Kekuatan Islam dalam melaksanakan hidup terdapat pada niat, dan niat –seperti telah dijelaskan di atas- adalah corong yang mengingat semua rencana yang ada. Aksi tergantung oleh niat, begitu sabda Rasul dalam menyoal amalan (aksi) dalam setiap langkah.

Rencana yang baik memang harus jelas, matang, mantap, tertata, dan terperinci setiap langkahnya, sehingga memudahkan untuk proses selanjutnya. Namun jika hidup hanya penuh rencana dan rencana terus menerus hingga meluber sekalipun tanpa aksi, tindakan dan gerak nyata, maka rencana itu hanya akan berakhir di tempat sampah, terbuang percuma.

Pada umumnya, gagasan dan pikiran-pikiran yang mendukung ke arah tujuan kita, berdampingan dengan tantangan dan masalah yang pasti muncul di lapangan, namun berbarengan dengan itu pula segala jalan keluar akan menghampiri dengan bergerak secara ajaib.

Setiap mengawali perencanaan-perencanaan –tentunya- selalu berhadapan dengan kondisi yang sesuai dengan keinginan kita atau tidak sama sekali. Perubahan alamiah yang terjadi dari fase ‘liar’ menuju sebuah konsep, dilanjutkan aksi maka akan ada semacam ‘transisi’ dari sikap yang berubah. Seperti halnya, tidak ada di dunia ini yang menginginkan perubahan tanpa melalui turbulensi (perguncangan) yang terjadi. Baik dirasakan dalam jiwa ataupun tapak yang melangkah. Permasalahan lama tidaknya, besar kecilnya ‘guncangan’ itu selalu ada dalam pola pikir kita sendiri.