Ketika Haji Masih Jadi Mimpi

 Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak.

Sayup-sayup suara orang bertalbiyah terdengar jelas di telingaku. Kuperhatikan sekeliling mencari sumber suara itu. Netraku nanar melihat lautan manusia berbondong-bondong mengenakan ihram putih berjalan melewati dan menerobosku. Teriakan dan dorongan mereka membuatku terpental hingga, brug. Aku terjatuh.

Keutamaan Ibadah Umrah

Umrah Itu Mulia

Meskipun kewajiban setiap muslim adalah berHaji jika mampu. Namun, pelaksanaannya bukanlah perkara mudah. Selain batasan waktunya yakni hanya boleh dilakukan dari tanggal 8 – 13 bulan Dzulhijjah, juga terbatasnya kuota yang diberikan pemerintah Arab Saudi terkait dengan pelaksanaan ibadah Haji ini. Sedangkan Umrah merupakan pilihan tepat bagi umat muslim yang ingin menumpahkan rindu untuk bersimpuh dan bersujud di Tanah Haram.

Haji Atau Umrah Dulu?

Pertanyaan seperti ini sering kali terlontar dari masyarakat muslim Indonesia yang ingin melaksanakan ibadah baik Haji ataupun Umrah. Apa pasal? Banyak hal yang membuat masayarakat kita bertanya mana ibadah yang seharusnya didahulukan antara Haji atau Umrah. Jika dilihat, ibadah Haji merupakan salah satu rukun yang harus dikerjakan oleh umat Islam yang telah mampu. Sehingga, berHaji mendapat prioritas utama dibanding Umrah.

Kapan Pergi Haji? Kapan-kapan?

Sebuah pertanyaan menggelitik bagi kita yang sudah memiliki kesanggupan namun belum merasa siap untuk berangkat haji. Tatkala kebutuhan-kebutuhan pokok telah terpenuhi. Ada rumah untuk berteduh, ada kendaraan, ada cukup dana untuk kebutuhan keluarga, apalagi yang mengganjal kita untuk pergi haji?

Setiap kali menunda, biasanya akan muncul terus godaan yang makin sulit untuk ditolak, peluang investasi menarik yang belum tentu datang tiap saat, cita-cita menyekolahkan anak di tempat bergengsi, renovasi rumah yang tak kunjung kelar, ataupun masalah klasik, seperti pernah bikin “dosa” di masa lalu yang bikin takut dibalas saat nanti haji. Realita dan mitos yang menghantui kita ini kian meredupkan niat kita.

Ada pula yang hati-hati memilih travel. Saking berhati-hatinya, hingga tak kunjung daftar. Masih pilih-pilih, mana yang fasilitasnya mantap, harga terjangkau, siapa ustadznya, berapa lama, dan seabrek pertanyaan yang membuat bingung diri sendiri.

Mari sudahi saja. Bila kita ada kelapangan rezeki segeralah berangkat haji. Jangan ditunda-tunda. Karena umur siapa sangka, sedangkan haji hukumnya wajib bagi yang mampu. Maka yang sudah mampu jangan dibuat-buat menjadi tidak mampu. Bila belum ada kelapangan rezeki, mulailah menabung. Bila ajal menjemput namun haji belum terlaksana, semoga tabungan itu walaupun baru hanya 100 ribu rupiah, menjadi bukti niat serius kita di hadapan Allah yang maha kuasa. Let’s go hajj !

Keep Our Mabrur

Secara teori mendapatkan ‘predikat’ mabrur terlihat begitu simple dan mudah. Bukan hanya karena kita melaksanakan haji seikhlas-ikhlasnya dan sekhusyuk-khusyuk-nya. Tetapi lebih utamanya adalah karena Al-Khalik, Robbul Izzati Maha Pengampun dan Penyanyang memberikan karunia dan ampunan-Nya bagi mereka yang berwukuf di Padang Arafah. Bahkan jika ada hamba yang merasa ragu, bahwa dosanya diampuni atau tidak, hal demikian termasuk dosa besar di samping ALLAH SWT.

SIGN

Tanda, kita kenali karena kebiasaan yang muncul setelahnya.
Mendung, tanda akan hujan, tapi kadang hanya mendung yg tiba-tiba terang.
Kulit keriput, rambut memutih, fisik melemah adalah menua.
Air mata bisa berbeda saat ada bendera kuning dengan janur kuning, tanda antara duka dan sukacita.

Kapan Pergi Haji?

Kapan ya? Setiap hari kian bertambah panjang antriannya. Jumlah calon jamaah haji khusus kini sudah mencapai 90.000-an. Mereka yang baru mendaftar sekarang diperkirakan baru akan berangkat 8 tahun kemudian. Apalagi antrian haji reguler. Jamaah haji reguler perlu bersabar menunggu antara 9 sampai 42 tahun.