Malaikat Penolong

“Allahu Akbar! Tolong ya Allah, ya Rabb” Teriakku berusaha berdiri dari lautan manusia berihram putih yang berada di sekeliling. Sudah lebih dari lima menit aku terdorong dan jatuh. Tanganku berusaha menggapai seseorang agar aku bisa berdiri dari himpitan manusia namun selalu gagal. Nafasku tercekat, keringatku mengucur deras dan sedari tadi aku merasakan sakit di sekujur tubuh karena badanku terinjak-injak.

Kamu Tak Akan Pernah Bisa Umrah dan Haji

“Datang ya, Fik! Aku minta doanya.” Ucap Arief sembari menyerahkan selembar kertas kepadaku. Kubuka kertas yang diberikan olehnya dan mulai membacanya. Masya Allah ternyata Arief memberikan undangan tasyakuran keberangkatan Haji atas diri dan ibunya. Aku benar-benar takjub dengan rekan kerjaku ini. Di usianya yang masih muda dia sudah punya tujuan ibadah yang begitu mulia. Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam diri karena tiba-tiba saja dia memberikan undangan ini.

Gelar yang Disandingkan

“Ini di depannya kamu kasih gelar Haji, ya. Bapak nggak mau kejadian waktu nikahin adikmu terulang. Ngasih undangan ke teman-teman Bapak yang udah berHaji, tapi gelar Hajinya nggak kamu sandingkan. Bapak kan jadi nggak enak.” Ujar Bapak sembari menyerahkan selembar kertas yang  berisi deretan nama orang. Sesaat aku terdiam sambil menatap layar komputer jinjing kemudian melirik lembar kertas yang diberikan Bapak.

Kapan Aku Bisa Umrah?

Muslim mana sih yang tak ingin pergi mengunjugi Baitullah? Kiblat -yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Ismail- yang biasa dilihat melalui sajadah saat sholat. Muslim mana pula yang tak ingin melihat kota kelahiran Rasulullah ﷺ Makkah? Serta Madinah sebagai tempat beliau membangun Islam dengan jayanya? Bagi setiap muslim, keinginan dan tujuan untuk menjejakkan kaki di Makkah al Mukarramah (kota yang dimuliakan) dan Madinah al Munawwarah (kota yang disinari dan menyinari) seharusnya bukan sekadar keinginan yang terucap lalu menguap begitu saja.

Kapan Pergi Haji? Kapan-kapan?

Sebuah pertanyaan menggelitik bagi kita yang sudah memiliki kesanggupan namun belum merasa siap untuk berangkat haji. Tatkala kebutuhan-kebutuhan pokok telah terpenuhi. Ada rumah untuk berteduh, ada kendaraan, ada cukup dana untuk kebutuhan keluarga, apalagi yang mengganjal kita untuk pergi haji?

Setiap kali menunda, biasanya akan muncul terus godaan yang makin sulit untuk ditolak, peluang investasi menarik yang belum tentu datang tiap saat, cita-cita menyekolahkan anak di tempat bergengsi, renovasi rumah yang tak kunjung kelar, ataupun masalah klasik, seperti pernah bikin “dosa” di masa lalu yang bikin takut dibalas saat nanti haji. Realita dan mitos yang menghantui kita ini kian meredupkan niat kita.

Ada pula yang hati-hati memilih travel. Saking berhati-hatinya, hingga tak kunjung daftar. Masih pilih-pilih, mana yang fasilitasnya mantap, harga terjangkau, siapa ustadznya, berapa lama, dan seabrek pertanyaan yang membuat bingung diri sendiri.

Mari sudahi saja. Bila kita ada kelapangan rezeki segeralah berangkat haji. Jangan ditunda-tunda. Karena umur siapa sangka, sedangkan haji hukumnya wajib bagi yang mampu. Maka yang sudah mampu jangan dibuat-buat menjadi tidak mampu. Bila belum ada kelapangan rezeki, mulailah menabung. Bila ajal menjemput namun haji belum terlaksana, semoga tabungan itu walaupun baru hanya 100 ribu rupiah, menjadi bukti niat serius kita di hadapan Allah yang maha kuasa. Let’s go hajj !

PIT STOP RAMADHAN

PIT STOP RAMADHAN

Dalam ‘sirkuit kehidupan’, laju kencang kendaraan F1 kita telah sejenak singgah di ‘Pit Stop’.

Bahan bakar telah di refill, panel-panel listrik telah di checked & recharged. Ban diganti, dan kaki-kaki telah diperiksa hingga kondisinya oke. Kembali siap melaju.

Demikianlah kondisi kita sekarang. Sebulan penuh kita menempa diri dalam kesabaran berpuasa, mendirikan sholat wajib maupun sunnah, bangun tengah malam qiyamul lail dan sahur, bersedekah berbagi berderma, telah mewarnai hari-hari kita. Recharge kondisi badan dan juga iman.

Maka kitapun kini telah siap, ngebut dan berlomba, kembali mengarungi perjalanan kehidupan selama sebelas bulan kedepan.

Semoga Allah SWT meridhoi dan menerima segala amal ibadah kita di Ramadhan ini, dan masih beri kesempatan berjumpa kembali Ramadhan tahun depan.

Taqobbalallahu minna waminkum, taqobbal yaa kariim. Barokallahu fiikum.

>>Cordova Travel Blog<<

Jiwa Perkasa, Raga Berjaya

Jiwa adalah penggerak raga. Tanpanya, hanyalah jasad yang terkujur. Jiwa adalah jantungnya raga. Tanpanya, tiada detak dalam gerak. Semua yang tampak adalah berawal dari jiwa. Jiwa busuk, raga pun kusut. Jiwa adalah cermin dari segala tingkah kita di dunia nyata, semuanya tersumber dari aktivitas jiwa yang bergejolak. Bukan hanya raga yang harus dijaga dan diperhatikan kebugarannya, namun jiwa lebih penting untuk dijaga kebugarannya.

Rasulullah ﷺ dan Musuh Besarnya

Abdullah bin Ubay bin Salul

Satu waktu ketika Islam semakin kuat di Madinah, kaum Yahudi sudah diusir karena perbuatannya yang melampaui batas dalam menghancurkan ketentraman dan kedamaian masyarakat Madinah. Akan tetapi, keadaan Madinah belum sepenuhnya aman akibat ulah Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin orang-orang munafik yang senantiasa menggunting dalam lipatan. Beberapa saat kemudian dikabarkan bahwa Abdullah bin Ubay sakit keras.

Qailulah, Power Nap Diajarkan Sejak 14 Abad Lalu

Ngantuk, suntuk dan hilang fokus adalah masalah yang biasa orang-orang kantoran alami menjelang waktu Dhuhur hingga setelah makan siang di jam istirahat. Padahal bisa dibilang jam-jam tersebut adalah waktu-waktu yang krusial di jam kerja. Bagaimana kita mengatasinya? Kebanyakan dari kita mempercayakannya pada kopi untuk mengatasi masalah ini. Menyeduh kopi, lalu menyeruputnya panas-panas menjadi solusi sesaat dalam mengurangi rasa kantuk dan membangkitkan mood di jam-jam krusial tadi.

Anakku, Dengan Siapa Engkau Bergaul?

Rasulullah ﷺ bersabda, “Seseorang bergantung pada agama temannya. Maka hendaknya ia melihat dengan siapa dia berteman.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Hakim)

Parenting
Kekuatan lingkungan dalam mempengaruhi perilaku seseorang sangat dominan. Sampai-sampai ada idiom ‘Al Insan ibnul bi’ah’, manusia itu anaknya lingkungan.