Ramadhan; Manasik Jiwa

Sudah sepekan Ramadhan berlaju tanpa rehat, tiada henti keagungannya bersinar pada jiwa setiap hamba. Cahayanya tak pernah padam walau banyak manusia yang menyiakan-nya. Ia kan terus berpacu dengan keberkahan yang menyelimuti seantero bumi. Bulan yang sesungguhnya memberikan multi education pada setiap muslim yang menghirupnya. Kedamaian, kehangatan dan ragam kemulian lainnya, hanya akan diraih pada bulan ini. “Cuci gudang dosa” tahunan ini, sejatinya memberikan spirit tuk membenahi segala tindak yang terpatri. Melakukan ekplorasi kebaikan tuk merayakan selebrasi fitri dikemudian hari. Terkhusus bagi calon tamu ALLAH yang berapa saat lagi akan menunaikan ibadah haji, Ramadhan menjadi satu-satunya kesempatan yang layak tuk dikemas menuju jalan kemabruran. Tentunya bukan ‘kebetulan’ atau tak sengaja ALLAH menciptakan Ramadhan berada dalam urutan waktu sebelum musim haji. Bisa jadi, ALLAH memberikan Ramadhan sebagai space prepare menjelang peribadatan paripurna 9 Dzulhijjah kelak. Sebab, semua dimensi ketaatan manusia pada Sang Khalik berada pada bulan suci ini.

Kesinambungan waktu itulah yang menjadi modal bagi calon tamu ALLAH SWT, tuk dijadikan preparing menghadapi penutup segala rukun yang membalut identitas seorang muslim. Haji adalah klimaks dari segala ketaatan seorang muslim, hingga wajar –bahkan- sepatutnya, jika bulan yang kental dengan nuansa pembenahan jiwa ini, dijadikan sebagai tolak ukur untuk menyusun agenda kemabruran kita. Rasa kepedulian, sabar, ikhlas, jujur, disiplin, dan semua karakter dalam perjuangan haji terdapat pada bulan ini. Maka, manasik jiwa menghadapi haji sesungguhnya telah berada dihadapan kita.

Melaksanakan tahapan ibadah haji sebenarnya sangat mudah dipelajari, manasik teori maupun praktik bukan hal yang teramat sulit tuk dihapal, tetapi yang terlampau sulit adalah bagaimana kita mengendalikan jiwa saat berada di medan haji nanti. Watak dan karakter manusia yang tidak kebal dosa, akan menjadi bumerang saat detik-detik haji kan terpijak. Oleh karenanya, proses pembentukan haji mabrur menjadi sangat dominan di bulan suci ini. Sebab jalan menuju mabrur tidak mudah tercipta oleh waktu yang instan.

So, segala aspek pendidikan Ramadhan menjadi teramat penting tuk menggaet predikat tertinggi haji ‘Mabrur’. Selain kembali fitri selepas perjuangan 30 hari puasa, para tamu Agung kan kembali berkesempatan meraih tiket Mabrur. Yaa Rabb! So, mari kita jadikan Ramadhan sebagai ‘Manasik Jiwa’.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *