Seorang Dokter Bedah Berasal dari Prancis menyatakan dirinya masuk Islam, disebabkan oleh Mumi Fir’aun. Professor Maurice Bucaille adalah seorang dokter ahli bedah terkemuka di dunia yang berasal dari Prancis. Ia mempunyai cerita yang sangat menakjubkan. Ia menjelaskan sebab musabab dirinya meninggalkan agama Katolik yang telah di anutnya bertahun-tahun, kemudian menyatakan dirinya memeluk agama Islam.

Setelah menyelesaikan study setingkat SMA-nya, ia menetepkan untuk mengambil jurusan kedokteran pada sebuah universitas di Prancis. Ia termasuk salah satu dari mahasiswa yang berprestasi hingga akhir tahun, karena kecerdasan dan keahlian yang dimilikinya, dia kemudian menjadi seorang dokter terkemuka di Prancis. Prancis adalah negara yang terkenal sangat menjaga dan mementingkan barang-barang peninggalan kuno dibandingkan dengan negara yang lainnya, terutama pada masa kepemimpinan Fransu Metron tahun 1981. Pada tahun itu, Prancis meminta ijin kepada Mesir agar mereka diberikan kesempatan untuk memeriksa dan meneliti mumi Fir’aun-nya yang terkenal. Sebuah mumi yang tak asing dikalangan orang-orang Islam. Fir’aun ini adalah orang yang ditenggelamkan ALLAH dilaut merah, tatkala melakukan pengejaran terhadap nabi Musa AS.

Permintaan Prancis ditanggapi oleh Mesir dengan mengizinkan Prancis untuk mengadakan penelitian. Mumi Fir’aun dipindahkan dengan menggunakan pesawat terbang. Setibanya di Prancis, kedatangan mumi tersebut disambut oleh Persiden Franso Metron beserta para menterinya seolah-olah dia masih hidup. Mumi tersebut kemudian dipindahkan ke pusat barang-barang kuno milik Prancis untuk diserahkan kepada para ilmuwan dan dokter bedah, supaya mereka dapat mempelajari rahasia yang terkandung dari mumi tersebut, dan Profesor Maurice Bucaille bertindak sebagai ketua tim penelitian.

Semua tim peneliti bertugas untuk meneliti, memperbaiki tulang-tulang yang sudah rusak dan anggota tubuh yang lainnya. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Professor Maurice Bucaille, ia justru menyelidiki tentang rahasia kematian Fir’aun. Pada suatu malam, ia memperoleh hasil penelitiannya; bahwa terdapat bekas garam yang menempel pada mayat mumi, sehingga dapat ia jadikan sebuah bukti yang nyata bahwa Fir’aun mati karena tenggelam dan mayatnya dapat di selamatkan, kemudian diawetkan pada saat kejadian. Dari hasil penelitiannya, timbul beberapa pertanyaan yang susah untuk ia dapatkan jawabannya yaitu bagaimana mayat Fir’aun dapat diselamatkan, dan anggota tubuhnya masih tetap utuh, sedangkan kondisi mayat-mayat yang lainnya setelah diawetkan tidak seperti dirinya (?)

Namun sebelum ia selesai membuat kesimpulan, salah seorang temannya berbisik kepadanya dengan berkata: “Jangan terburu-buru seperti itu, karena orang-orang Islam telah mengetahui tentang hal ini.” Mendengar pernyataan dari temannya itu, ia menolak keras atas pernyataan tersebut. Ia berkata: “Penemuan seperti ini tidak mungkin dilakukan kecuali ada dukungan sains dan teknologi canggih”. Salah seorang temannya yang lain menanggapinya seraya berkata: “Al-Quran merekalah yang telah menceritakan kematiannya dan bagaimana jasadnya di selamatkan dari tenggelam.” Mendengar penjelasan temannya itu, Bakay kebingungan dan bertanya-tanya bagaimana hal ini bisa terjadi (?) Sedangkan mumi ini sendiri baru ditemukan pada tahun 1898 atau kurang lebih baru dua ratus tahun yang lalu, sedangkan Al-Quran mereka sudah ada semenjak lebih dari seribu empat ratus tahun….!!!

Bagaimana akal manusia dapat mengetahuinya, padahal semua manusia -bukan hannya orang-orang Arab- belum ada yang mampu mengetahui bagaimana peradaban orang-orang Mesir di masa lampau dan bagaimana caranya mereka mengawetkan mayat, kecuali pada masa sepuluh tahun yang lalu (?). Maurice duduk termenung di dekat mumi Fir’aun tersebut sambil memikirkan tentang bisikan yang telah ia dengar dari temannya; bahwasanya Al-Quran telah menceritakan kejadian itu, padahal kitab sucinya hanya menceritakan tentang tenggelamnya Fir’aun akan tetapi di dalamnya tidak di jelaskan tentang keadaannya sesudah tenggelam. Ia pun bergumam dalam kesendiriannya: “Masuk akalkah bahwa jasad yang ada di depanku ini adalah Fir’aun Mesir yang telah mengusir Nabi Musa (?) Benarkah kalau Nabinya orang muslim yang bernama Muhammad itu sudah mengetahui tentang hal ini sejak 1400 tahun yang silam (?)

Berbagai pertanyaan yang belum sempat terjawab, membuat Professor Maurice tidak dapat tidur disetiap malam. Ia kemudian mengambil Kitab Taurat dan membacanya, sampai pada sebuah kalimat yang mengatakan: “Kemudian air itupun kembali pada keadaan sedia kala, kemudian air laut itupun menenggelamkan perahu-perahu beserta Fir’aun dan bala tentaranya, hingga tidak tersisa satupun diantara mereka.”

Setelah menyelesaikan penelitian dan perbaikan, maka mumi tersebut kemudian di kembalikan ke Mesir dengan menggunakan peti yang terbuat dari kaca nan elok, karena menurutnya itu lebih pantas untuk orang yang berkedudukan seperti Fir’aun. Akan tetapi Bakay masih dalam kondisi belum puas dengan berita yang di dengarnya, bahwa orang-orang Islam telah mengetahui keselamatan mumi ini. Ia pun lalu berkemas untuk berkunjung ke Saudi Arabia guna menghadiri seminar kedokteran yang akan dihadiri para pakar bedah muslim.

Dalam pidatonya, Professor Maurice memulai pembicaraan tentang hasil penyelidikannya bahwa jasad Fir’aun dapat diselamatkan setelah tenggelam, kemudian salah seorang diantara pakar muslim berdiri dan membuka serta membacakan Al-Qur’an pada Surat Yunus Ayat 92 yang artinya: “Pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat dijadikan pelajaran bagi orang-orang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.”

Professor Maurice Bucaille terheran-heran dengan penjelasan yang baru saja ia dengar, ia lalu beranjak dari tempat duduknya dan dengan suara lantang ia berkata: “Pada hari ini; aku menyatakan diri untuk memeluk agama Islam dan aku mengimani Al-Quran ini”.

Setelah selesai seminar Professor Maurice Bucaille lalu kembali ke Prancis dengan wajah yang berbeda dari wajah sebelum ia datang menghadiri seminar. Selama sepuluh tahun ia tidak mempunyai pekerjaan yang lain, selaian mempelajari tentang sejauh mana keserasian dan kesinambungan Al-Quran dengan sains, serta perbedaan yang bertolak belakang dengannya. Namun apa yang ia dapati selalu berakhir sebagaimana Firman Allah SWT: ”Yang tidak datang kepada Al-Quran kebatilan baik dari belakang maupun dari depannya, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi terpuji” (Q.S: Fush Shilat-43).

Dari hasil penyelidikan yang bertahun-tahun, ia kemudian menulis sebuah buku tentang kesinambungan Al-Quran dengan sains yang mampu mengguncangkan Eropa. Sehingga ketika para pakar-pakar dan para ilmuwan barat berusaha untuk mendebatnya, mereka tidak kuasa.

Bucaille dalam bukunya menulis bahwa dalam Al Qur’an terdapat banyak kecocokan dengan fakta sains. Di antara tulisannya ialah: “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” (QS 27:88)

Bucaille menjelaskan bahwa ternyata gunung-gunung bersama dengan lempeng bumi bergerak. Jadi ayat Al Qur’an di atas sesuai dengan ilmu pengetahuan. Bucaille juga menjelaskan bahwa ayat Al Qur’an di bawah yang menyatakan bahwa Allah menyelamatkan badan Fir’an hingga bisa dilihat manusia saat ini sesuai dengan kenyataan:
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu” (QS 10:92)

Ternyata para ahli menemukan garam di dalam badan Fir’aun yang menunjukkan bahwa Fir’aun memang pernah tenggelam. Jenazah Fir’aun/Mumi bisa dilihat manusia hingga saat ini di Bumi Seribu Menara, Mesir.

Sumber: ivandrio.wordpress.com

Rasanya sudah sangat lama kami ‘meninggalkan’ pelajaran yang bapak dan guru kami berikan dalam pelajaran hidup. Meski hidup di dunia kerja, namun norma-norma, adab dan masih banyak lagi pelajaran hidup yang justru diberikan kesempatan untuk melakukannya. Yah, mungkin suatu ironi bagi perusahaan profesional lainnya, jika hal-hal semacam itu –pembelajaran hidup- masih diberikan justru ditengah persaingan kerja semakin ketat. Lazimnya sebuah perusahaan, tentu akan melihat bagaimana kinerja staf-nya dalam melakukan tugas. Tidak ada lagi didikan atau pelajaran yang di dapat, kalau pun ada jika melakukan kesalahan yang membuat rugi perusahaan akan diikuti dengan fired atau di non-aktifkan. Karena dunia kerja bukan masanya KBM (kegiatan belajar mengajar), dunia kerja adalah dunia eksekusi dari apa yang diraih dari bangku pendidikan. Namun berbeda dengan kami, kesempatan belajar itu masih sangat terbuka lebar, meski sudah berada di bangku kerja yang notabene mendapat pemasukan atau salary secara tetap.

Dari serakan ilmu yang diajarkan bapak sekaligus guru kami di Cordova itu adalah bagaimana mendengar dengan hati. Hmm… nampaknya simple, namun ketika di bedah, kalimat itu mengandung sejuta makna dengan pengaruh yang luar biasa. Tidak seperti para motivator-motivator hebat dengan –hanya- kepandaian memainkan kata, justru guru kami itu mengajarkan hal-hal simple namun berjuta makna. Yah, salahsatu dari serakan ilmunya, antara lain pelajaran tentang bagaimana caranya mendengar dengan hati.

Menurutnya, mendengarkan merupakan bagian esensi yang menentukan komunikasi efektif. Tanpa kemampuan mendengar yang bagus, biasanya akan muncul banyak masalah. Mendengar tidak selalu dengan tutup mulut, tapi juga melibatkan partisipasi aktif kita. Mendengar yang baik bukan berharap datangnya giliran berbicara. Memahami pembicaraan dan perasaan lawan bicara kita, ini juga sebagai bentuk penghargaan bahwa apa yang orang lain bicarakan adalah bermanfaat untuk kita. Seni mendengar dapat membangun sebuah relationship yang luarbiasa jika kita melakukannya dengan baik. Yah, tentunya mendengar dengan hati. Ia akan tembus menelusuri sel-sel darah kepada siapapun orang yang kita dengar pembicaraannya. Dari hati kena hati, itulah yang dimaksud dengan suatu ketulusan menjadi pendengar sejati.

Guru kami kerap mengajarkan untuk selalu memelihara kontak mata dengan baik. Ini menunjukkan kepada lawan bicara tentang keterbukaan dan kesungguhan kita dalam mendengarnya. Selain itu, mencondongkan tubuh ke depan, atau yang kerap kami dengar ‘Lempar –maaf- bokong kebelakang kursi’ saat kita duduk mendengarkan seseorang berbicara. Ini menunjukkan ketertarikan kita pada topik pembicaraan. Cara ini juga ternyata akan mengingatkan kita untuk memiliki sudut pandang yang lain, yaitu tidak hanya fokus pada diri kita sendiri, tetapi memahami orang yang kita dengarkan pembicaraannya.

Seorang pendengar yang baik sebenarnya hampir sama menariknya dengan pembicara yang baik. Jika kita selalu pada pola yang benar untuk jangka waktu tertentu, maka suatu saat kita akan merasakan. Untuk dapat mendengarkan dengan efektif sangat membutuhkan konsentrasi, pengalaman, pengetahuan dan keterampilan. Dari apa yang kami simpulkan dari didikan beliau adalah prinsip-prinsip untuk mendengar dengan hati, diantaranya; Tidak melakukan aktivitas mendengarkan dan berbicara pada saat yang bersamaan, mencoba memahami pokok pikiran atau ide utama pembicara, hindari gangguan dari lingkungan sekitar, mencoba mengendalikan emosi, dan ketulusan mendengar dari hati.

Jika sudah mengupas pembelajaran darinya, sungguh nikmat mana lagi yang harus kita dustakan untuk selalu bersama dan memiliki sosok sepertinya. Jangankan meninggalkan, ditinggalkan beberapa saat saja akan menjadi suatu yang sangat menyedihkan.

Di sebuah tempat nan jauh dari kota, di Jawa Barat, tampak seorang pemuda bergegas menuju surau kecil. Wajahnya menampakkan kegelisahan dan kegamangan. Ia seperti mencari sesuatu di surau itu. “Assalamu’alaikum, ustadz ” ucapnya ke sosok ustadz yang selama ini menjadi guru spritual di kampung itu. Spontan, ustadz yang rendah hati itu menghentikan kesibukannya. Ia menoleh ke si pemuda dan senyumnya pun mengembang. “Wa’alaikumussalam. Mangga. Mari masuk!” ucapnya sambil membukakan gerbang kayu surau yang sudah teramat tua. Setelah itu, ia dan sang tamu pun duduk bersila. “Ada apa, Kang (?)” ucapnya dengan senyum yang tak juga menguncup. “Ustadz, saya diterima kerja di kota!” ungkap sang pemuda kemudian. “Alhamdulillah, Syukurlah,” timpal Ustadz muda itu dengan penuh bahagia. “Ustadz, jika tidak keberatan, berikan saya petuah agar bisa berhasil!” ucap sang pemuda sambil menunduk.

Ia pun menanti ucapan sang ustadz di hadapannya yang sudah ia anggap seperti saudara kandungnya. “Kang, Jadilah seperti air. Dan jangan ikuti jejak awan,” untaian kalimat singkat meluncur tenang dari mulut sang Ustadz. Pemuda itu masih belum bereaksi. Ia seperti berpikir keras memaknai kata-kata sang ustadz. Tapi, tak berhasil. “Maksud, Ustadz (?)” ucapnya kemudian. “Kang, Air mengajarkan kita untuk senantiasa merendah. Walau berasal dari tempat yang tinggi, ia selalu ingin ke bawah. Semakin besar, semakin banyak jumlahnya, air kian bersemangat untuk bergerak kebawah. Ia selalu mencari celah untuk bisa mengaliri dunia dibawahnya,” jelas sang Ustadz dengan tenang.

“Lalu dengan awan, Ustadz (?)” tanya si pemuda penasaran. “Jangan sekali-kali seperti awan, Kang. Perhatikanlah! Awan berasal dari tempat yang rendah, tapi ingin cepat berada di tempat tinggi. Semakin ringan, semakin ia tidak berbobot; awan semakin ingin cepat meninggi,” terang sang Ustadz dengan penuh bijak. “Tapi Kang,” tambahnya kemudian. “Ketinggian awan cuma jadi bahan permainan angin.”

Dan si pemuda pun tampak mengangguk pelan.

Dalam Genggaman

Epilog dari kisah “Trilogi” ini akan sedikit membuka siapa dan bagaimana sepak terjang sosok yang menjadi tokoh antagonis dalam cerita ini. Meski –tentunya- Anda akan masih penasaran siapa yang dimaksud, benarkah atau hanya sebatas fiktif belaka. Kenapa bisa seperti itu, kok bisa, Masya Allah gak nyangka, bejad ya!. Dan ekspresi serta pertanyaan-pertanyaan lainnya akan muncul dalam benak kita. Bahkan –tidak mustahil- pertanyaan, koq artikel semacam ini ada di website ini’ akan juga terlontar di sudut pikir Anda. Namun percayalah kompleksitas kehidupan akan tertampung oleh sebuah jalur yang kan terlangkah. Bak Al-Qur’an suci yang terdapat beragam kisah dan cerita di dalamnya, bukan hanya sebagai pedoman, tetapi juga sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berfikir. Pun demikian dengan beragam artikel yang terdapat dalam website ini, warnanya akan dinamis jika artikel didalamnya memuat beragam kisah yang berwarna. Trilogi ini adalah persembahan cinta agar kita tidak terjerumus oleh rayu busuk fitnah seorang yang terbungkus kain kehormatan, namun justru menghancurkan image Islam tuk menjungjung tinggi martabat seorang wanita. Merokok, menghasud, memfitnah, merekayasa, menghancurkan, mengadu-domba, merusak, dan mencinta –merebut- yang jelas-jelas mustahil teraih.

Bak tulisan dan gambar dari papyrus yang terlihat sangat elok dan memiliki nilai jual tinggi, ia pawai dan pialang dalam menghembuskan ucapan sesatnya, tapi tahukah Anda Papyrus adalah jenis tanaman air yang sangat mudah ditemukan di pinggiran sungai Nil, Mesir. Jika tidak dijadikan sebagai alat seni untuk menulis atau melukis gambar-gambar sejarah Mesir kuno atau –bahkan- kaligrafi, maka tumbuhan itu sama saja dengan tumbuhan air lainnya. Tidak ada spesial dari sosok wanita ini, ia hanya pandai meliuk dalam kata tuk pengaruhi banyak orang agar ambisinya tergapai. Terutama dalam melontar fitnah atau pesan-pesan sms kepada setiap orang yang ia nilai bisa menghancurkan hamba yang di fitnahnya.

Setelah sekian lama gagal menghancurkan reputasi seorang yang sangat ia cintainya, maka perlawanan selanjutnya adalah bergabung dengan orang yang memiliki watak dan visi yang sama. Bersatu menyusun strategi tuk melampiaskan hasrat busuknya. Mengadu domba dan mengipas-ngipas orang agar melangkah bersama merobohkan kekuatan hak. Tak peduli dengan busana yang ia pakai, berjubah panjang dan berpenampilan iba (berharap orang mengasihinya) berani berteriak-teriak di keheningan malam dengan meronta-ronta. Sungguh tak peduli apa penilaian orang terhadap kemulian sosok wanita dalam Islam. Bahkan ia akan sangat marah ketika di tegur merokok –karena memang memakai jubah muslimah- yang menghancurkan image jutaan muslimah di muka Bumi, dengan asap mengepul di mulut ‘ular’-nya.

“Terdzolimi” itulah penggalan kalimat yang selalu menjadi andalannya sebagai alasan sikap bar-barnya. Seolah tidak tahu siapa yang mendzolimi dan siapa yang terdzolimi. Ibarat kata maling teriak maling. Hingga mulut berbusa pun orang hanya akan mencibir apa yang ia katakan, terkecuali bagi mereka yang memiliki watak seperti dia. Siapakah gerangan wanita antagonis dalam serial ini (?) Yang jelas –sesuai- bacaan sholat dalam tasyahud akhir, kita harus senantiasa berlindung kepada Allah SWT agar terhindar dari fitnah Dajjal.

Jika serangan dan fitnah itu usai. Maka sebagai muslim kita pun wajib menghentikan kebencian itu, meski jiwa teramat sakit oleh bisa-nya. pertempuran hanya diletuskan dalam arena laga. Jika usai maka usai sudah permasalahan itu, dan tiada kata yang teramat dahsyat selain i’m sorry goodbye.

Could be continue or not!

Meneropong, Merapat dan Menggasak

“Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, (QS. Al-Qolam: 10-11)

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah : 193)

Dalam sejarah Islam, betapa fitnah akan membawa bencana dan malapetaka di kehidupan masyarakat. Fitnah itulah yang membawa bencana terbunuhnya Sayyidina Usman Ra. Yang dituduh menjalankan nepotisme dalam kebijakannya. Fitnah itu juga yang menyebabkan nestapa sepanjang masa, pertempuran dan perselisihan diantara sahabat besar seperti Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Fitnah jugalah yang pernah membuat Rasulullah marah dan membiarkan (tidak menyapa) istrinya Aisyah sekian lama, karena tertinggal dari rombongan. Masih banyak lagi kisah dan cerita tentang bahaya laten fitnah.

Artikel ini adalah trilogi tentang kisah manusia yang haus akan sebuah eksistensi cinta, namun sebelum melangkah untuk melanjutkan artikel ini, sebaiknya Anda membaca juga artikel bagian pertamanya, sehingga pemahaman dalam tema diatas akan lebih mudah tercerna. Baiklah sebelumnya, mari kita simak apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib, bahwa kejahatan yang terorganisir akan mudah mengalahkan kebenaran yang tercerai berai. Dalam konteks apapun suatu pergerakan baik positif maupun negatif jika dilakukan secara sistematis dan kontinyuitas maka hasilnya akan sesuai dengan apa yang diharap. Pun demikian dengan kejahatan, perancangan iblis akan menusuk pada rongga-rongga sistem yang tercerai berai. Serangan fitnah (yang nota bene jelas-jelas hal negatif) akan mudah berhasil dan mendapatkan kemenangan secara massif jika tidak ditanggulangi dengan sebuah perlawanan yang berarti. Lihat saja bagaimana Yahudi dengan gerakan Israel Raya-nya, mereka yang mendzolimi, namun mereka juga lah yang berteriak-teriak mengumbar fitnah, bahwa Hammas lah yang melakukan kekerasan dengan terorisnya. Wal hasil mereka sukses, yah sukses untuk meyakinkan bahwa muslim Palestina berhak untuk dibinasakan, di isolasi dan dimusnahkan di tanah jajahannya sendiri. Bukankah itu buah dari keganasan fitnah (?) Bukankah itu kejahatan yang terorganisir (?)

Kita lupakan sejenak Israel, kembali pada konteks trilogi yang kini menjadi bahasan kita. Jika fitnah itu sangat mudah menyelinap pada pola pikir kita, maka bagaimana jadinya jika si pelaku fitnah itu adalah sosok seorang wanita (?) Bahkan mungkin kini menjadi ‘segerombolan’ wanita-wanita yang haus akan cinta. Dahaga akan kasih sayang orang yang dicinta, dan lapar akan kehangatan cinta. Mereka hanya merasakan sentuhan mentari disebagian tubuhnya, sebagian lagi mereka harus rela pontang-panting mengejar dan mendekapnya.

Kita semua tahu, bahwa kelembutan wanita kadang mudah memperdaya manusia, bahkan bualan pun menjadi sangat nyata. Wanita adalah makhluk yang teramat indah, maka waspadalah jika keindahannya itu dipergunakan hal-hal jahat semacam fitnah, hasud dan dengki. Kemuliaan yang menjadi kudrat wanita di muka Bumi, akan mudah hanyut jika mereka ‘bersengkokol’ membangun bangunan dengki. Ber-strategi menggalang kekuatan dan menyerang setiap individu yang mereka nilai mudah terprovokasi. Bak pergerakan zionis, mereka yang membuat perkara, mereka yang berteriak terdzolimi.

Fitnah adalah muara dari kejahatan laten, bukan hanya lebih jahat dari pembunuhan namun juga lebih dahsyat dari musuh yang nyata-nyata memerangi kita. Tak ayal, Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan kita di setiap akhir dari sholat lima waktu, agar kita berlindung dari godaan fitnah-nya Dajjal. Karena dengan fitnah, manusia sulit membuka tabir antara yang benar dan salah. Ini menunjukkan bahwa fenomena fitnah Dajjal memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Mereka meneropong, menelaah, merapatkan dan lalu menggasak.

Melawan semua itu hanya dengan merapatkan barisan dan menyatukan hati. Mengunci mulut untuk tidak terlena melakukan ghibah. Jika kejahatan mereka organisir dengan solid, maka kita sudah bergerak untuk membungkam itu, tentunya dengan strategi yang smart.

Dalam dunia bisnis, atau pada ruang kehidupan lain, banyak ungkapan yang menyebutkan bahwa ketika pohon berkembang dan menjulang tinggi, maka angin pun akan semakin kencang berhembus. Ujian, cobaan akan silih berganti menerpanya, selain menguji kekuatan batang, angin pun mencoba mengangkat akar-akar kuat yang mencengkram bumi. Tidak salah banyak penerimaan secara pasti, ketika sebuah perusahaan diguncang beragam badai, maka kalimat pasrah yang mengkiaskan suatu alamiyah jika perusahaan semakin besar maka wajarlah jika banyak yang ingin mengguncangnya. Sehingga, apatis dan pasrah kerap terlontar dari kondisi yang ada. Atau istilah lain yang sering kita dengar, di pukul wajah sebelah kiri, kita kasih wajah sebelah kanan. Tidak ada sama sekali perlawanan untuk menghentikan badai tersebut, karena tokh itu suatu alamiyah yang biasa terjadi pada suatu perusahaan yang sedang melesat. Atau karena saking lembutnya hati, sehingga enggan tuk melakukan perlawanan atau bahkan pertahanan. Padahal Islam tidak mengajarkan seperti itu, bukankah membela dan melawan kenistataan demi mempertahankan harga diri, harta dan jiwa adalah sebuah kewajiban yang harus ditegakkan (?) Bukankah melawan sebuah serangan merupakan hal yang dicontohkan oleh para tentara Allah (?)

Yah, seperti itulah kondisi real perjuangan dalam dunia kerja. Bukan hanya persaingan, penghancuran dan penjegalan, bahkan pembunuhan karakter terhadap masing-masing individu pun kerap dilakukan guna memuluskan ambisinya. Terlebih jika dilakukan karena dendam kesumat terhadap seseorang yang ia benci karena cinta mati. Ia akan habis-habisan menyerangnya, dari celah dan lubang semut sekalipun. Setahun, dua tahun bahkan sampai 3 tahun ia simpan dendam itu guna membuat strategi penghancuran. Menyerang melalui fitnah-fitnah murah, sms-sms gelap agar mendapat simpati dan dukungan manusia lain tuk mencabik-cabik bangunan itu. Mengaku terdzolimi, namun dendam kuasai hati. mengaku terdzolimi, namun jiwa tak berasa. Itulah korban cinta, fakta pun diputar balik. Setelah cinta tak teraih, nestapa pun yang beralih. Duhai merananya, hidup disibukkan oleh strategi dendam yang kesumat. Tercampak dari keluarga, tertendang dari rekan, dan kini bergabung tuk membalas dendam dari kasus yang dipendam.

Jika saja ‘kartu truf’ itu terbuka, maka akan lebih sakit penderitaan yang ia rasa. Tapi biarlah kartu itu terbuka mengikuti apa yang akan mereka rancang. Terlebih semua orang tahu bagaimana thabiat dan watak sosok wanita ‘terhormat’ itu sebelum ditendang di sebuah komunitas negeri.

Serangan bertubi-tubi ia lesakkan guna menghancurkan stabilitas kami, memecah-belah dan menyerang individu lemah diantara kami. Namun tetap benteng kokoh itu tak kan pernah runtuh hanya oleh dendam kesumat yang membabi buta. Hanya karena cinta yang tak berbuah, ia rela menghinakan dirinya sendiri, menghancurkan keluarga dan makhluk lainnya.

Bagi jiwa yang lemah, maka tipudaya-nya kan mudah memalingkan rasa. Karenanya hanya kebersamaan dan kesolidan team yang bisa menahan gejolak badai yang mereka hembuskan. Biarlah ia menjadi wanita yang hanya mengendap dendam karena cintanya. Benci karena teramat merindukan rasa yang tergadai.

Liku perjalanan setiap manusia memiliki goresan yang terkadang sulit terhapuskan. Ibarat melukis diatas batu, ia akan tetap ada melawan waktu, meski dipenghujungnya hanya menjadi prasasti. Dikenang, dilihat dan akhirnya dilupakan. Namun diantara sekian juta kisah, terdapat jua rentetan cerita hidup yang tak kan pernah usang ditelan zaman, ia meninggalkan sejuta rasa bagi yang ditinggalkannya. Namanya berhembus disetiap detak nafas manusia-manusia yang mencintainya. Kemuliannya terlukis dalam setiap benak makhluk yang dikasihinya. Ketiadaannya menjadi samudra airmata, dan kepergiannya diiringi isakan yang tiada henti. Manusia seperti itulah yang sulit dilupakan oleh segenap makhluk disekelilingnya. Manusia seperti itu juga lah yang membuat lisan orang terbungkam enggan tuk sekedar mengucap ‘Good bye’. Berbeda dengan sosok awal, yang diibaratkan lakon dan kepergiannya sangat mudah terhapus, perpisahannya hanya menghasilkan ungkapan “I’m Sorry good bye” that’s it. Tiada kalimat penyambung, atau rasa yang tersambung. Seolah pertemuan, perjumpaan dan jalinan rasa luntur oleh tindak lakunya sendiri.

Masih sulit memahami kemana arah artikel ini (?) Mari sedikit menyimak sebuah analogi –yang juga- pernah dilontarkan oleh salah seorang guru kami di Cordova. Dalam sebuah keluarga, kasih sayang dan cinta menjadi pilar penegak rasa. Orangtua menjadi sumber cinta bagi para anak yang dikasihinya. Di dunia ini, bagi makhluk yang memiliki nurani, tiada satupun orangtua yang tidak sayang dan cinta kepada buah hatinya. Tiada kemunafikan rasa dalam mengasihinya. Semua limpahkan kasih sayang untuk anak-anak tercintanya, sekalipun ia harus berenang dalam genangan darah dan airmata, meski ia harus mengorbankan rasa malu, kesal, marah, benci dan rasa-rasa yang berkecamuk dalam jiwanya. Ia tidak akan pernah mencampurkan air susu-nya dengan kotoran yang beracun, ia hanya ingin menyaksikan anak-anak kebanggannya hidup berkembang dengan rasa tulus yang tiada balas.

Setelah masa anak itu berkembang, tiba-tiba ada sosok asing yang entah asal-usulnya muncul darimana, memberikan sepotong kue dengan sedikit bualan manis, secara spontan si anak itu berpikir bahwa pemberiannya sangat luar biasa. Pujian mengalir deras, ia senang bahwa si orang asing ini teramat sayang kepadanya. Saking termakan oleh bualan manisnya, si anak termabuk oleh pemberian secuil kue itu hingga rela melupakan kasih serta sayang orangtuanya yang telah lama menyayanginya. Dengan pemberian itu’ ia merasa lebih disayang dan diperhatikan daripada orangtua yang telah lama melahirkan rasa.

Analogi ini mencerminkan bahwa siapapun kita, memiliki pilihan hidup masing-masing. Tiada yang menjamin bahwa kesetiaan, keloyalan dan kekeluargaan bisa tumbuh abadi, bersemi dalam kerangka cinta yang telah terbangun kokoh. Bak kisah Nabiyullah Adam As. yang tergelincir oleh hasut dan buaian iblis, meski telah berada dalam kehangatan cinta dan sayang-Nya ALLAH di surga-Nya.

Tiada kata ‘mantan’ dalam keluarga, tiada pula bahasa ‘pecat’ dalam keluarga ini. kalaupun ada hanyalah ungkapan “I’m Sorry Good Bye”, berjalanlah… tatap dan berkembanglah kau disana. Raih impian dan harapanmu!

Terkadang, kita sering confused bagaimana menjelaskan kepada anak kita yang kritis menanyakan tentang hewan qurban yang disembelih secara massal saat hari raya Iedul Adha. Mungkin ada juga yang hampir menyamakan qurban itu mirip ritual sesajen, sebagai pemberian ‘upeti’ kepada Dzat Penguasa Alam. Untuk menjawab pertanyaan itu, setidaknya, kita harus melaraskan apa yang dimaksud qurban dengan bahasa yang sangat sederhana, bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka. Namun sebelumnya, -tentu- kita harus lebih tahu dan memahami definisi serta filosofi qurban seutuhnya. Qurban sesungguhnya salahsatu jenis ibadah paling tua di dunia. Perintah penyembelihan Nabiyullah Ismail, putra Khalilullah Ibrahim adalah kepatuhan seorang hamba kepada RABB-nya. Harta paling berharga Ibrahim AS adalah anaknya. Padahal ia mendapatkan Ismail -buah hatinya-, setelah penantian yang begitu panjang. Sisi lainnya, qurban adalah pendekatan diri secara sempurna kepada ALLAH SWT. Qurban akar kata dari qaraba – yaqrabu – qurbaanan. Biasanya dalam bahasa Arab, kalau satu kata diakhiri dengan alif dan nun, mengandung arti ‘yang sempurna’. Seperti qara-a, yaqra-u, qiraatan, qur’anan, dengan arti “Bacaan yang sempurna”. Begitupun pengertian dari Qurbaanan berarti “Pendekatan yang sempurna”.

Oleh karenanya, untuk menggambarkan kesempurnaan itu terlihat pertama kali pada binatang yang disembelih, tidak boleh ada yang cacat. Artinya, hewan yang disembelih harus sebaik-baiknya. Dari segi subtansinya, seorang yang berkorban jangan setengah-setengah, harus sempurna. Jika kita perhatikan ada dua nilai dari peristiwa qurban ini, pertama, jangan pernah menganggap sesuatu itu mahal ketika tujuannya mempertahankan nilai-nilai Ilahiyah. Value kedua, disisi lain jangan sekali-kali kita melecehkan manusia, jangan sekali-kali mengambil hak-hak manusia, karena manusia itu makhluk agung yang sangat dikasihi ALLAH. Karena kasihnya ALLAH kepada manusia, maka digantilah Ismail dengan seekor binatang.

Qurban adalah puncak pengorbanan dari totalitas kita selaku makhluk. Karena didalamnya mengandung dua dimensi ibadah yang bersifat vertikal dan horizontal. Secara vertikal, kejadian simbolik itu merupakan upaya pendekatan diri (qurban) dalam menangkap nilai dan sifat-sifat Ilahiyah. Secara horizontal, hal demikian melambangkan keharusan manusia untuk membumikan nilai-nilai itu dalam kehidupan nyata.

Saya utarakan diatas, bahwa qurban hanyalah simbol ketaatan belaka. Karena –meski- jenis pengorbanan itu adalah hewan, namun sesungguhnya esensi itu terdapat dibalik ritual penyembelihannya, yakni ketaatan dan totalitas. Karena daging dan darah yang diqurbankan tidak akan pernah sampai kepada ALLAH, hanya ketakwaannya itulah yang menjadi nilai di sisi-Nya. Selanjutnya, barulah daging dan sejenisnya menjadi kebaikan sebagai ibadah horizontal.

So, pengertian tentang pembantaian hewan dalam mendekatkan diri kepada ALLAH setiap hari raya Iedul Adha adalah salah. Karena –memang- tujuannya bukan menjadikan bulan ini sebagai bulan ‘berdarah-darah’ tetapi bulan ketaatan yang total. Puncak dari segala ritual pengabdian. Sehingga hanya ALLAH dan qurbannya lah yang tahu, hewan mana yang akan menjadi saksi di surga kelak.

Kembali kepada pertanyaan polos anak kita, bagaimana perasaan hewan qurban ketika menanti waktu disembelih, setelah mendengar dan melihat ‘kerabatnya’ dijagal. Maka cukup kita katakan, bahwa hewan qurban itu paling senang jika mati untuk di qurbankan di hari raya.

Dalam hitungan hari, smartHAJJ Cordova akan segera melangkahkan tapak menuju Baitullah. Berjumpa dengan jutaan manusia, dengan kesamaan rasa dan airmata. Meninggalkan sementara buah hati dan keluarga tercinta, menunda kehangatan raga dalam pelukan kasih sang mahligai cinta. Dalam hal ini tentunya adalah anak-anak sumber inspirasi nan sempurna. Menggadaikan rasa demi menggapai cinta yang hakiki, hingga harus mengendapkan lara tatkala hati kian terikat oleh buaian cinta sang anak. Tidak mudah meninggalkan buah hati tercinta, jika batin bisa mengucap, ia akan berteriak menggetarkan raga karena sulit tuk membendung linangan airmata sosok yang ditinggal. Buah cinta yang selalu ditimang, didekap, dicium dan disayangi melebihi harta apapun yang dimiliki. Ada dua rasa yang menyelinap dalam jiwa ketika pijakan suci telah tertumpu, rasa rindu pada Sang PEMILIK, dan anugerah cinta yang terpendam. Manusiawi, karena –memang- dua rasa itulah yang akan menghantarkan para ‘manusia suci’ pada kesempurnaan cinta yang didamba.

Bukan tanpa beban –tentunya- ketika Nabiyullah Ibrahim AS. meninggalkan Siti Hajar beserta anak semata wayangnya Ismail AS. ditengah gurun tanpa meninggalkan sedikit pun makanan. Pertempuran batin manusia itu luluh oleh ketulusan cinta pada Sang KHOLIK. Ia hanya yakin bahwa PEMILIK anak dan istrinya tidak akan pernah membiarkan mereka dalam kesengsaraan, terlebih mendzoliminya.Tapak-tapak suci Ibrahim AS beserta keluarganya itulah yang menjadikan sejarah mengabdikan pada etape perjalanan haji hingga akhir zaman.

Pun demikian dengan jutaan calon haji di muka bumi, pertempuran rasa akan selalu mereka hadapi selaku manusia yang memiliki rasa. Namun pada akhirnya perasaan itu akan luluh oleh magnet cinta yang menyerap rasa dengan volume yang teramat dahsyat. Pantas saja jika Rasulullah SAW mengajarkan salah satu doa perjalanan dengan “Allahumma Anta Shohibul fii Safarii Wal Kholifatu Fil Ahly” “Yaa ALLAH Engkaulah yang akan menemani perjalananku, dan menjadi penjaga bagi keluargaku (yang ditinggal)”.

Perjalanan menuju Tanah Suci, sangat berbeda dengan perjalanan kita ke berbagai destinasi di belahan bumi. Jutaan harap menggelayut dalam setiap langkah yang terpijak. Sehingga nuansa ‘melankolis’ yang melibatkan rasa akan sangat terasa baik yang meninggalkan maupun yang ditinggal.

Sebelum pelukan terakhir pada buah hati tercinta, marilah kita tatap dalam-dalam, cium dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Mengajak mereka berdiskusi bahwa perjalanan suci ini adalah jalan menuju kesempurnaan cinta kita kepada mereka. Karena pada hari Arafah nanti, nama mereka akan menggema di atas langit, bersama manusia-manusia yang senantiasa hadir dalam kasih dan cinta kita.

Siapa pun kita, apapun latar belakang kita, setiap menghadapi suatu perjalanan, maka yang terlintas dalam benak adalah melakukan sebuah persiapan. Yah, karena faktor yang paling penting dari kesuksesan sebuah perjalanan adalah persiapan. Terutama riset yang komprehensif tentang perjalanan itu sendiri. Bagaimana lokasi dan akses menuju destinasi yang kita inginkan. Akankah mudah dilalui, atau banyak rintangan yang harus dihadapi. Bagaimana pula menghadapi kondisi tempat –yang belum pernah dirasakan-, terlebih jika perjalanan itu akan dilakoni seorang diri. Demikianlah semestinya kita menghadapi sebuah perjalanan, laiknya kita menghadapi sebuah perjalanan akhir dari episode hidup yang kita lakoni. Sebelum langkah menjadi perjalanan akhir kita, sejatinya persiapan menghadapi langkah yang kan tertapaki menjadi prioritas ‘riset’ tentang tempat yang menjadi pilihan kita. Karena the last journey manusia hanya ada dua macam, yakni husnul khatimah (akhir yang baik) atau su’ul khatimah (akhir yang buruk). Terserah kita akan memilih yang mana. Dua-duanya memiliki konsekwensi yang harus dilalui. Jika memilih yang pertama, maka persiapan menghadapi journey itu yang harus benar-benar ketat. Namun jika memilih yang kedua, tak perlu repot mempersiapkan perjalanan itu, karena konsekwensinya akan menimpa setelah journey itu berakhir.

Yang menjadi masalah adalah, kita semua tidak tahu kapan dan bagaimana ‘the last journey’ itu menghampiri kita. Bisa saja ia menghampiri disaat persiapan itu longgar dari pengamatan. Terlepas dari ikatan yang telah kita rancang sebelumnya, mungkin disaat kita khilaf justru akhir dari segalanya tiba. Ia tak pernah sedikit pun memberikan aba-aba ketika akan menghampiri, kalaupun ada bentuknya hanya ‘signal’ yang sulit diterka oleh manusia pada umumnya. Hanya ‘persiapan’ menghadapi the last journey itulah yang menjadi ‘key’ penenang jiwa.

Karenanya, bagi mereka yang sedang ‘bersiap’ menghadapi semua itu dijamin perjalanan akhirnya sesuai dengan ia niatkan. Seperti halnya, ketika seseorang melangkahkan kaki menuju surau untuk beribadah, lalu ‘the last journey’ menghadapnya sebelum tapak menginjak surau, maka betapa bahagianya perjalanan akhir yang ia lakoni.

Pun demikian bagi mereka yang menanti suatu perjalanan spritual menuju Arafah-Nya, segala yang ia hadapi menjadi jaminan suatu kesholehan hingga berada di tanah suci-Nya. Terlebih jika niatan itu tertanam untuk selalu menghindari dari segala nista yang menggoda gairah langkahnya. Berlabuh diatas lautan rasa menanti cinta Sang Maha Pencipta.

Before the last journey, kematian adalah hal yang pasti menghampiri. Siapapun dan apapun dia, tidak akan pernah bisa menghindarinya. Selain perbedaan cara berjumpa Izrail, maka perbedaan orang menghadapi akhir perjalanannya itu adalah cara pandang dalam mempersiapkan diri menghadapinya. Ada yang melihat akhir perjalanan itu sebagai gerbang menuju keabadian sehingga persiapannya begitu detail, ada juga yang menganggap akhir perjalanan itu sebagai peristiwa alam biasa. Wallahu ‘alam