Syukur Tiada Akhir

Kali keempat perjalanan suci ini kan bergerak. Menuju kesamaan cita, dan mendulang kebersihan jiwa. Meraih sebuah perjalanan berkualitas untuk tetap survive dalam merangkai tapak surga menuju Baitullah. Keberkahan yang terus hinggap pada perusahaan K-Link, tidak hanya terlihat dari megahnya gedung K-Link Tower yang menjulang tinggi di pusat kota, juga tidak hanya terlihat dari ratusan product kesehatan yang tersebar di seantero negeri, namun juga tampak pada ratusan karyawannya yang konsisten dalam mengimbangi bisnis dunia dan akhirat. Yakni meluasnya keberkahan dengan perjalan mereka ke tanah suci. Ratusan langkah manusia suci pilihan Robbi itu, secara tidak langsung adalah perekat perkembangan K-Link yang teramat dahsyat. Perjalanan yang tiada akhir (menuju kesucian Tanah haram) adalah konsekwensi syukur tiada akhir yang mereka tanamkan dalam setiap raihan point untuk meniatkan diri menuju Tanah Suci.

Ini adalah tahun keempat Cordova bersama K-Link merangkai ‘Perjalanan tiada akhir’, waktu yang cukup untuk saling mengenal apa dan bagaimana perjalanan ini terkonsep. Menyusun dan merangkai jalan yang telah terlalui tentunya lebih terasa nikmat dari saat pertama jumpa. Berbeda jika memiliki seorang kekasih baru, maka untuk mengenalnya harus lebih dalam memahami jiwanya, beradaptasi kembali, dan membutuhkan waktu untuk mengikat sebuah tali duriat (hubungan batin). Namun Alhamdulillah, Cordova dengan K-Link sudah seperti kekasih lama yang saling memahami dan menghargai ikatan rasa. Simbiosis mutualisme lebih terasa dengan melangkah dan berjalan bersama, baik dalam ikatan bisnis maupun rasa hangat kekeluargaan. Tidak mudah –memang- untuk bertemu seorang kawan perjalanan yang paham betul dengan sifat dan watak. Perjalanan edisi ke-4 inilah sebagai momentum raihan perjalanan yang lebih berkualitas. Merekat dengan langkah kebersamaan.

Terimakasih telah kembali memilih Cordova sebagai pelayan tamu-tamu pilihan ALLAH SWT. Semoga kami bisa menjawab amanah ini dengan penuh rasa, penuh tanggungjawab dan penuh dengan rasa cinta. Karena tiada yang paling indah dalam sebuah perjalanan selain merangkai tangan dengan penuh kebersamaan.

Kebersamaan bukan kata tapi jiwa, terasa dalam dada seindah purnama.
Kebersamaan bukan curahan tapi jawaban, syarat makna akan keajaiban dan kekuatan.
Kebersamaan bukan sandaran tapi asupan, memberi semangat tanpa batasan.
Kebersamaan bukan mata tapi telinga, siap mendengar kadang tak seksama
Kebersamaan bukan kaki tapi tangan, selalu merangkul dalam kehangatan.
Kebersamaan bukan langit tapi bumi, menjadi pijakan dalam kehidupan.
Kebersamaan bukan hujan tapi pelangi, mengindahkan pribadi ketika turunnya air mata.
Semoga kebersamaan ini tiada akhir seperti perjalanan yang tiada akhir…

Pernahkah Anda berhenti sejenak dari suatu perjalanan (?) Atau menoreh sesaat kebelakang untuk melihat sejauh mana perjalanan yang telah tertapak (?) Simple, kecil dan hal yang teramat mudah tentunya untuk kita lakukan, namun terkadang hal sederhana itu urung kita lakukan hanya karena enggan tergerus oleh kehidupan yang terus berlaju. Padahal sejatinya, berhenti sejenak itu adalah sebuah Sunatullah, sebuah keniscayaan yang tiada mungkin luput dari gerak nafas manusia dalam menapaki perjalanannya. Semua yang ada di Bumi ini memiliki kapasitas maksimal, dan agar mampu melakukan perjalanan nan panjang, ia harus selalu dipulihkan setelah mencapai kapasitas tertentu. Demikian dengan kondisi jiwa manusia, setelah mencapai perjalanan tertentu, ia perlu berhenti sejenak untuk muhasabah, menghitung dan menganalisis kualitas dirinya dalam mengemban hidup sejauh ini. berhenti sejenak sangat diperlukan dalam hidup, bukan untuk selamanya, tetapi hanya untuk melihat kebelakang tentang sejarah apa yang telah kita torehkan dalam skenario hidup, menapaki jejak langkah yang telah kita buat, mengatur langkah yang terseok, mengatur nafas yang tersenggal, untuk kemudian kembali berlari, lebih cepat, lebih terarah dan lebih mampu memikul beban.

Puncak berhenti yang terorganisir dengan teramat cantik di muka Bumi ini, hadir dalam prosesi Wukuf, yah berhenti sejenak untuk mengenali diri, instropeksi, dan mengatur bagaimana alur kehidupan yang telah dilaluinya selama ini. Hingga akhirnya efek dari pemberhentian itu menjadikan jiwa mengenali raga, jiwa memahami rasa, dan berujung kepada siapa Penggenggam raga serta siapa Pembulak-balik rasa.

Betapa mujarab-nya stopping effect, sehingga sahabat Rasulullah SAW, Muadz bin Jabal RA berkata kepada sahabatnya dengan ungkapan yang menyejukkan hati “Mari duduk sesaat untuk beriman”. Berhenti sejenak untuk menengok kondisi keyakinan kita terhadap apa yang kita lakukan ini agar tetap terjaga. Dengan berhenti sejenak yang berkualitas, akan serta merta mendorong kekuatan yang berlipat untuk melakukan perjalanan panjang.

Guna menghindari keragu-raguan dan mengokohkan semangat perjalanan, berhenti sejenak di tempat yang semestinya adalah langkah positif dan bermanfaat, seolah tampak merupakan langkah mundur, namun ketahuilah dengan selangkah ‘mundur’ itu, bisa dihasilkan seratus hingga seribu kali lipat langkah. Terkecuali bagi mereka yang memang lebih nikmat untuk berhenti selamanya.

Pun demikian dengan apa yang kerap Anda temukan dalam artikel di Website ini, ada jeda kosong dalam beberapa saat, namun kami tetap disini, berpijak di Bumi ini untuk kembali mensyiarkan apa yang semestinya disyiarkan. Semoga pemberhentian sejenak ini, bisa lebih memberikan suguhan baca yang berkualitas bagi pikir dan iman kita semua.

Salahsatu landasan ‘dresscode’ umrah dan haji menggunakan kain ihrom adalah pertanda kesatuan hakiki yang tiada beda antara manusia saat berhadap dengan-Nya. Kala berlindung di Haram-Nya kesucian tanah, kala rasa tiada arti tuk malu berbalut dua helai kain saja. Semuanya berada pada zona kesucian yang mengharamkan perbedaan status. Semua tamu-Nya sama, tamunya Dzat Maha suci. Tidak lantas karena sosok yang memiliki ‘pengaruh’ di sebuah negeri, menjadi sangat dominan dan diberlakukan berbeda dengan kelompok yang bersama menuju Tanah Haram. Bukan tidak diberlakukan spesial, karena –memang- mereka (Para tamu Allah) adalah sosok-sosok spesial yang musti dilayani dengan sangat perfect. Masalahnya hanya ada pada perbedaan lebih ‘rengkuh’ di antara tamu-tamu yang berada disekitarnya. Mereka menjadi lebih ‘terhormat’ dibanding dengan rekan sesama hajinya. Entah siapa lah dia yang jelas semua jiwa, semua manusia, dan semua hujaaj adalah sama di hadapan-Nya.

Karenanya, Cordova mencoba untuk selalu berada pada jalur yang melandasi hakikat kebersamaan para jamaahnya. Tidak ada figuritas jamaah yang lebih menonjol atau spesial untuk dilayani secara berlebih di antara jamaah lainnya. Baik itu tokoh masyarakat, tokoh nasional, politikus, artis bahkan seorang pejabat negara sekali pun. Semua mendapatkan porsi sama dengan pelayanan, karena –sekali lagi- mereka sama dihadapan Rabbul Izzati.

Terkadang kita menyaksikan bahwa ada sesuatu yang –rasanya- harus dibenahi dalam pelayanan para tamu Allah. Bukan kurang atau tidak maksimal dalam melayani, namun ada porsi-porsi yang dipandang sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai universal Haji. Masih adanya pengkategorian jamaah ‘borju’, berduit atau berkelas lebih mendapatkan pelayanan yang maksimal dibanding jamaah lainnya, maka tentu pelayanan itu sudah menyalahi nilai luhur ibadah haji. Bukankah Allah Sebagai ‘Tuan Rumah’ para Tamu-Nya saja memberikan karunia dan anugerah pada semua tamu-Nya tanpa pandang bulu, lalu mengapa kita musti sibuk untuk ‘mencari muka’ di hadapan ‘segelintir’ makhluknya.

Disinilah kami banyak belajar tentang bagaimana menjadi salahsatu ‘paku’ pelekat atas nama Cordova dalam melayani tamu-tamu suci dengan penuh rasa tulus. Tidak ada kategori jamaah yang harus menjadi idola hanya karena statusnya. Semuanya sama menjadi tujuan pelayanan yang maksimal. Karena nilai kebersamaan yang dibangun itulah setiap hajj guard Cordova terdidik untuk tidak menjadi pelayan yang silau akan status segelintir orang. Terlebih bangga hanya karena bisa berpose dengan tokoh idola. Atau mempromosikan bahwa si A, tokoh anu haji dan umrah bersama kita.

Untuk menjadi ‘sesuatu’, harus ada yang memberikan contoh secara langsung. Tentunya contoh harus datang dari yang mempunyai kedudukan lebih baik. Memperlakukan sama tanpa harus kehilangan nilai penghormatan. Figur yang menjadi contoh dalam melakukan apapun, sangatlah berperan dalam sebuah kehidupan. Seandainya saja setiap kita sangat mencintai Rasulullah SAW, tentunya kita tidak akan sulit mendapatkan figur untuk di contoh. Tidak melulu mengangkat orang untuk narsis bergaya di depan kamera, kemudian dijadikan contoh dengan berlebihan.

Bismillah, semua rasa terbangun atas dasar kecintaan yang berlapis tulus. Tiada cita yang terluhur kecuali melayani tamu suci-Nya dengan hati. Karena hatilah yang memiliki rasa. Rasa kebersamaan itulah yang menjadi tujuan awal dalam membangun komunitas Mabrur. Tidak malah ‘Lebih’ mengayomi satu dua orang saja, melainkan semua tetamu suci-Nya.

Bilangan tahun telah berubah, bagaimana seharusnya kita memaknainya (?) Apakah memang ada hal baru setiap masuk pada bilangan tahun yang baru (?) Rasa-rasanya, debar-debar dan gegap-gempita itu hanya dirasakan saat menjelang malam awal tahun kemarin. Langit di sekeliling kita tiba-tiba seperti memekik karena begitu banyak yang meniupkan terompet. Dan kembang api terus berdenyar menerangi angkasa, seolah tak pernah putus hingga ujung malam. Jalanan dibanjiri kendaraan, seakan malam itu semua orang mesti turun ke jalan agar tidak kehilangan momentum awal tahun. Macet lagi, sudah pasti. Klakson pun mulai dipencet, mendengking saling bersahutan. Lalu semuanya riuh dalam tawa kegembiraan, meski juga tak tahu apa maknanya. Barangkali karena telah berhasil melewati tahun, dalam artian tidak tamat riwayatnya alias wafat, dan akan bertemu tahun bilangan baru. Atau, itu hanyalah bentuk kompensasi dari kebingungan manusia memaknai awal tahun, selain hanya bisa hura-hura dengan meniupkan terompet, menerangi langit dengan kembang api, dan mejeng-mejeng di pinggir jalan hingga menjelang subuh.

Sementara, di ruang-ruang hiburan saling berlomba menampilkan “sang penghibur” –dan bisa dipastikan menampilkan biduan atau dancer yang secara visual tampak sensual-. Agar terkesan meriah, dibikinlah countdown raksasa yang menampilkan hitungan mundur sebelum suara menggelegar di seantero jagad. Hiburan pun terkadang berlangsung sampai pagi, sebab besok hari di awal tahun, biasanya pekerjaan diliburkan atau mungkin meliburkan diri. Namun karena kebetulan, hitungan awal tahun kali ini, tepat dengan hari minggu, malam pun tentunya semakin meriah.

Namun ada juga yang memaknai awal tahun dengan perenungan. Biar terkesan gebyar, maka perenungan ini pun dibuat secara massal yang dikemas dalam Tabligh Akbar. –padahal menurut saya- Apa mungkin kita bisa merenung di tengah orang banyak (?) Namun nyatanya, kita masih sering menemukan orang menangis meraung-raung di tengah lautan massa. Dan –tentu saya yakin- bukan tangis yang dibikin-bikin, terlebih ketika disebutkan dosa-dosanya, surga dan neraka, dan juga segala hal tentang kedurhakaan kepada orangtua. Mungkin, sekali lagi saya tekankan, mungkin, karena berada di tengah atmosfir ribuan manusia yang menangis, ia akan turut dalam larutan airmata, dan menyatakan akan tobat setobat-tobatnya. Meski kita semua tidak tahu bagaimana setelah keluar dari barisan jamaah. Sebab begitulah iman manusia, ibarat gelombang, kadang surut kadang juga pasang.

Setelah pesta dan perenungan akhir tahun itu selesai, semuanya akan senyap. Hingga subuh pun tiba. Dan pagi hari di awal tahun itu, nyatanya sama saja dengan pagi hari sebelumnya. Matahari yang menyembul adalah matahari yang itu-itu juga. Barangkali jadwal bangun pagi saja yang –mungkin- berubah kesiangan. Namun saya percaya, pedagang di pasar akan tetap tidak berubah, subuh-subuh telah menerjang gelap dan dingin. Pedagang bubur, ketupat sayur dan lain-lain masih terus berjuang hidup, sebab kehidupan harus tetap dijalani.

Lalu, sepanjang hari awal tahun itu pun kita habiskan dengan tetap agak malas, dan pastinya juga telah lupa buat apa meniup terompet hingga mulut terasa bengkak dan menghabiskan lusinan kembang api yang cahayanya semu di malam tadi. Memang, tahun baru tanpa terompet sepertinya tak lengkap. Laiknya Israfil tak lengkap melenyapkan bumi tanpa tiupan terompet sangkakala.

Al-Azhar BSD Bimbing Manasik Golden Age

Serpong-Banten
Ada yang berbeda pada sabtu (17/12) kemarin di Sekolah Al-Azhar BSD, kawasan kota mandiri (samping taman kota) itu seolah bergema dengan beberapa kegiatan di pagi hari. Tepatnya dari halaman, aula masjid hingga lapangan sekolahnya disesaki ratusan pengunjung. Dari mulai acara Fun Bike meramaikan gema Muharram, resepsi pernikahan di Aula masjid, hingga acara manasik haji ratusan anak TK Al-Azhar BSD. “Luar biasa…manasik haji anak-anak TK kali ini”, gumam seorang satpam yang setia melayani keluar dan masuk kendaraan di area parkir. Betapa tidak, tenda-tenda moncong putih laiknya di Mina sudah bertengger dengan pernik dan khas tanah suci. Kerjasama antara Cordova dengan TK Al-Azhar BSD pun semakin erat ketika peserta didik dibimbing bersama oleh muthawif dan guru-guru TK. Semua etape laiknya seorang haji dan hajjah, mereka (anak-anak TK) perlihatkan dengan mimik yang teramat lucu. Bermain sambil berkenalan dengan rukun Islam ke-5 itu, berjalan dengan riang gembira. Tentunya property yang disiapkan pun sesuai dengan dunia mereka. Di samping tenda Mina, tersedia photo booth yang menggambarkan tanah Arab dengan beberapa boneka unta besar yang bisa ditumpangi. Mereka bersama orangtuanya terlihat asyik dan menikmati suasana arab dadakan di sekolahnya.

Malaikat-malaikat kecil itu memulai manasik menggunakan kain ihram yang dikenakkan langsung sejak dari rumahnya masing-masing. Melangkah bertalbiyyah ditemani ayah maupun bunda. Semuanya sama, putih dan bersih. Mendayuh gelora rasa setiap orang yang menyaksikannya. Berbalut ihram dan pakain putih bagi anak perempuan, membuat hati terharu bercampur bangga. Meski –sesungguhnya- konten dan filosopi mengenai haji sulit dipahami anak usia dini, namun pengenalan tempat-tempat suci, dan kaidah simple mengenai rukunnya umat Islam, akan selalu diingat dan terngiang dalam cakrawala pikirnya yang polos. Mereka diarahkan bak gelombang air yang disalurkan ke tempat-tempat mengalir, akan menuju kemana air itu, tergantung bagaimana masa golden age itu diarahkan.

TK Al-Azhar memiliki peran yang teramat mulia, mereka (para guru dan perangkat sekolah lainnya) menjadi pemegang kunci masa depan makhluk-makhluk suci. Partner yang juga paling dominan dalam membentuk dan membimbing mereka –tentunya- adalah orangtua dan wali murid yang dengan sadar bahwa masa-masa seperti saat itulah yang sedikit banyak akan mempengaruhi langkah hidup mereka kelak.

Seperti yang banyak kita ketahui, pada usia 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi. Itulah masa-masa dimana perkembangan fisik, mental maupun spritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak orang yang menyebutkan masa tersebut sebagai masa-masa emas seorang anak (golden age).

Dengan demikian, manasik ini menjadi suatu yang sangat berarti dan akan teringat dalam memorinya. Mereka akan ingat bagaimana seorang yang berhaji harus menggunakan kain ihram bagi laki-laki, wanita menggunakan baju putih bersih, meski belum saatnya mengetahui apa filosopi dibalik itu. Mereka juga akan sangat teringat bagaimana cara thawaf di Baitullah, dan sya’i di bukit Shofa dan Marwa, meski baru hanya sekedar simulasi atau permainan yang menyenangkan berputar-putar.

Subhanallah… bagi kita yang memiliki anak usia golden age seperti anak didik di Al-Azhar, lalu menyaksikan langsung bagaimana riang mereka melakukan ritual manasik haji dengan semangat talbiyyah yang merona dalam setiap ucap bibirnya, melangkah dengan gontai khas anak, tertawa, tersenyum, menatap dan melambaikan tangan kepada kita. Spontan, meski mata tak berlinang air, hati dan jiwa yang kan bergetar bangga dan haru. Makhluk sekecil itu sudah sangat merindukan Baitullah…

Bukan sekedar sensasi sebenarnya –ketika- kita melakukan perjalanan keliling dunia, travelling menuju destinasi-destinasi impian itu memiliki ragam manfaat yang dapat menyeimbangkan manusia dalam dua dimensi. Tentunya sebagai manusia, kita memiliki kecenderungan untuk menikmati tempat-tempat unik yang menyenangkan dalam hidup kita. Selain itu, kita memiliki kesempatan untuk menikmati keindahan suatu tempat agar selalu bersyukur merasakan setiap pojokan bumi yang sangat luas. Membuka mindset dalam menjelajah belahan bumi yang terpijak adalah buah manusia yang melakukan perjalanan menuju tempat-tempat yang ada dalam impiannya. Seperti halnya Rasulullah ketika melakukan perjalanan jauh ke negeri Syam, banyak hal yang ditemukan untuk dijadikan pelajaran dalam dakwahnya. Pun demikian dengan para sahabat yang ‘berkelana’ ke negeri jauh, mengenal dan menyebarkan misi Rahmatan Lil’Alaminnya. Perjalanan kemana pun destinasinya, ketika menghadirkan soul, maka ia akan menjadi sebuah cerminan tentang apa dan siapa dirinya. Menyadari betapa luas dan beragamnya kehidupan di muka Bumi. Tetapi dalam meraih perjalanan indah itu ada dua selling point yang sulit dirasakan, yakni konsisten terhadap jatidiri seorang muslim, dan kenyamananberjalan ditemani orang yang memiliki kesamaan bahasa dan budaya.

Mengakhiri tahun ini, Cordova kembali memberangkatkan jemaahnya ke empat negara di benua Eropa. Bak film bertajuk “Euro Trip” yang keliling dan berkelana mencari cinta, bedanya tentu nuansa yang terlibat dalam perjalanan Cordova ini adalah spirit Muslim Journey, yang memperhatikan segala kehalalan baik makan, minum ataupun budaya yang jauh berbeda. Berawal dari kota Roma, mereka menginjakkan kaki tuk memulai perjalanan yang penuh arti. Kemolekan kota Roma yang menginspirasi film fenomenal Da Vinci Code dari sebuah novel yang juga fenomenal.

Di Roma, kita bisa melihat dan memastikan apa yang dijanjikan Rasulullah SAW tentang keruntuhan kota ini, dan jatuh pada kekuatan Islam. Meski sampai detik ini Roma masih belum berhasil ditaklukkan Islam, lambat laun berdasarkan perkiraan Dr. Yusuf Al-Qardawi dari penjelasan hadits Rasul tentang jatuhnya Roma ke tangan Islam, akan terjadi pada abad ini. Namun bukan melalui perang fisik seperti yang terjadi di masa lalu, namun menggunakan pena, buku dan internet.

Dari Roma melanjutkan menuju kota Pisa, tempat berdirinya menara miring setinggi 60 meter, dan biasa disebut menara Pisa. Banyak hal yang bisa kita temukan di kota ini, yah Pisa ternyata memiliki sejarah yang bersentuhan dengan muslim. Kota Pisa sempat dikuasai kaum muslim pada tahun 1004-1015. Demikian juga dengan katedral Pisa yang pada puncak kubahnya tertulis inskripsi berbahasa Arab yang artinya: Al-Fath (kemenangan).

Dari keindahan seni, kita meneruskan perjalanan ke kota yang tak kalah indah dengan arsitektur bangunan yang mengagumkan. Tataletaknya memanjakan mata untuk tetap memandang dengan sejuta rasa. Modena dan Milan menjadi kota yang teramat sayang tuk dilepaskan dari destinasi. Yah, Modena dijuluki sebagai kota mesin sejak berdirinya pabrik-pabrik mobil terkenal Itali. Mulai dari Ferrari, De Tomaso, Lamborghini, Pagani dan Maserati. Umumnya mereka juga berkantor pusat di Modena. Anda mungkin ingat mobil Ferrari yang dinamai 360 Modena. Demikian juga dengan salahsatu warna Ferrari yaitu Modena Yellow.

Jika di Milan, kata “Belanja”…”Belanja” dan “Belanja” adalah ritual yang menjadi agenda utama wisatawan. Kota ‘aduhai’ ini menjajakan ragam toko dan pusan perbelanjaan yang terkenal semacam: Gucci, Versace, Fratelli, Rossetti, Prada, Cartier dan masih banyak lagi.

Dari Milan, kita beranjak ke Switzerland. Negeri ini berjuluk Trully Switzerland, keindahan kotanya mampu menyihir setiap orang yang menginjakkan kakinya. Kota dan rumah-rumah minimalis yang dikelilingi hamparan pohon cemara, jembatan kayu kuno, bangunan tua, serta puluhan museumnya. Tidak terlupakan juga pemandangan eksotis danau lucernedengan gunung Rigi dan Pilatus. Belum lagi latar belakang salju abadi yang ada sepanjang tahun menghiasi puncak pegunungan Alps.

Belum lagi Perancis dan Inggris yang menjadi destinasi selanjutnya, menjadikan akhir dan awal tahun menjadi sangat bermakna. Tentunya masih dalam dekapan kenyamanan Cordova dalam mengawal perjalanan muslim ke berbagai destinasi di muka bumi.

Silakan unduh detail agenda perjalanannya di sini.

Selamat kepada para pemenang Kuis #CordovaHJE: Cordova Berbagi Gadget. Berikut ini nama-nama pemenang hasil undian hadiah yang dilangsungkan pada hari Ahad, 11 Desember 2011 jam 17.00 di Panggung Utama BNI Syariah Travel Fair, Atrium Lower Ground Gandaria City Jakarta Selatan:

  1. Rizka Wulandari (@RizWulandari) mendapatkan 1 buah iPad 2 Wi-Fi 16 GB
  2. Puspita Wardani (@ananditiara) & Richana Irawati (@RJchana) masing-masing mendapatkan 1 buah Blackberry Curve 9300
  3. Cantika Kenanga (@ckdoubleyou) & Silvia Faradila (@ipimaripi) masing-masing mendapatkan 1 buah iPod Touch 8 GB

Kepada yang belum beruntung jangan berkecil hati insyaAllah akan ada kesempatan selanjutnya. Seluruh Cordova Crew yang terlibat mengucapkan terima kasih atas waktu dan partisipasinya. Mohon maaf lahir dan batin apabila ada kekurangan. Sampai jumpa pada kegiatan-kegiatan Cordova selanjutnya.

++++++ + ++ +++ ++++++++ + + + ++

Pada BNI Syariah Travel Fair, Gandaria City – Jakarta Selatan, Tanggal 6 – 11 Desember 2011 Cordova meluncurkan program smartUMRAH Holiday Journey Edition (HJE): Umrah + Dubai & Abu Dhabi. Paket liburan berupa perjalan umrah yang khusus dipersembahkan untuk mengisi liburan sekolah pada tanggal 27 Juni – 7 Juli 2011. Sebuah alternatif liburan yang penuh nuansa petualangan berbalut nuansa rohani yang akan meninggalkan jejak pengalaman berbeda pada putra-putri Anda. Juga dapatkan penawaran khusus yang hanya kami berikan bagi Anda yang datang pada BNI Syariah Tarvel Fair, Gandaria City 6 – 11 Desember 2011.

Melengkapi semangat kami dalam meluncurkan paket unggulan ini, Cordova mengadakan kuis dengan hadiah utama berupa Apple iPad 2. Kuis ini hanya bisa diikuti oleh Anda yang tinggal di seputaran Jabodetabek atau mungkin Anda yang sedang berada di dekat Gandaria City pada tanggal 6 – 11 Desember 2011. Karena hadiah harus bisa diambil langsung di BNI Syariah Travel Fair, Gandaria City – Jakarta Selatan pada tanggal 11 Desember 2011.

Tata cara kuis Cordova HJE:

  1. Like Cordova Facebook Fanpage >> www.facebook.com/cordovatravel
  2. Follow Cordova di Twitter >> @cordovatravel
  3. Tweet tulisan ini: Menangkan iPad 2 dari @cordovatravel Holiday Journey Edition di BNI Syariah Travel Fair, Gandaria City > bit.ly/hjekuis  (atau klik di sini)
  4. Tulis komentar di bagian bawah artikel ini. Tuliskan bahwa Anda telah melalui tahapan-tahapan dalam kuis ini. Dengan berkomentar maka Anda telah resmi mengikuti kuis ini.

Kuis ini berlangsung mulai tanggal 6 Desember 2011 dan akan ditutup pada hari Sabtu, 10 Desember 2011 pukul 24.00 WIB. Cordova akan memilih secara acak 5 orang pemenang yang akan mendapatkan hadiah:

  • 1 buah iPad 2 Wi-Fi 16 GB,
  • 2 buah Blackberry,
  • 2 iPod Touch 8 GB

Pemenang kuis akan kami umumkan pada hari Minggu 11 Desember pukul 08.00 WIB melalui cordova-travel.com dan akan kami kontak memalui email.

Hadiah tidak dapat diuangkan maupun ditukar. Pemenang wajib hadir pada penyerahan hadiah yang akan dilaksanakan pada hari Minggu 11 Desember pukul 16.30 di Booth Cordova, BNI Syariah Travel Fair, Gandaria City – Jakarta Selatan. OK! Selamat mengikuti kuis ini!

Dan bagi Anda yang juga ingin mendapatkan hadiah langsung berbagai macam merchandise menarik daari Cordova, silakan ikuti permainan-permainan yang kami selenggarakan di BNI Syariah Travel Fair Gandaria City – Jakarta Selatan ini.

Melengkapi kebahagiaan atas suksesnya putra-putri menempuh UAS/ UAN di sekolahnya, Cordova menawarkan paket liburan Umrah plus Dubai dan Abu Dhabi. Paket perjalanan 10 hari, menikmati kedalaman rasa saat Umrah dan berziarah ke Rasulullah akan dilengkapi kesenangan menikmati keindahan kota Dubai dari lantai 124 pencakar langit Burj Khalifa serta sensasi teknologi mutakhir otomotif di Ferrari World, Abu Dhabi.

Berangkat pada 27 Juni 2012 dengan kemewahan pesawat Emirates. Menginap 2 malam di hotel Al Harityah Madinah, 3 malam di hotel terdekat Masjidil Haram Al Safwah Makkah dan 3 malam di hotel mewah Pullman di tengah Mall terbesar di Dubai.

Selain program khusus bagi putra-putri yang bernuansa religius di Makkah-Madinah, juga akan dimanjakan dengan Desert Safari, Camel Ride, Hena Painting, Arabic Costume for photography dan sensasi-sensasi lainnya.

Agenda Perjalanan

  • Madinah: Ziarah Rasul, Raudhah, Makam Baqi, Jabal Uhud, Masjid Quba, Masjid Kiblatain, Mantiqa Baidla, Kebun & Pasar Kurma,
  • Makkah: Umrah, Arafah, Muzdalifah, Mina, Jabal Tsur, Jabal Nur, Hudaibiyah, Museum Dua Tanah Haram, Peternakan Unta,
  • Dubai: Desert Safari, Camel Ride, Hena Painting, Arabic Costume For Photography, Burj Khalifa, Burj Al-Arab, Mall Of Emirates, Palm Jumeirah
  • Abu Dhabi: Ferrari World, Al-Husen Palace, Sheikh Zayed Mosque

Ferrari World

Akomodasi

  • Al Harityah, Madinah
  • Al Safwah, Makkah
  • Pullman, Dubai

Transportasi

  • Emirates (Eco. class), JKT-DUB-MAD-JED-DUB-JKT
  • Bus (Eksekutif), MAD-MAK-JED

Fasilitas

  • 1:20 guide/ jamaah
  • Muthowifah di Madinah
  • Air Zamzam 5 lt.
  • Perlengkapan eksklusif
  • Bagasi 20 kg

Kunjungi booth Cordova Holiday Journey Edition di BNI Syariah Travel Fair Gandaria City, 6 – 11 Desember 2011. Dapatkan penawaran khusus potongan harga hingga US$ 1.204 untuk pembelian di event ini.

Unduh brosur smartUMRAH Holiday Journey Edition: Umrah + Dubai & Abu Dhabi di sini.

Seperti biasanya, untuk mengawali langkah baru di awal tahun baru Islam bukanlah hal yang terlalu menarik untuk didiskusikan. Mengapa (?) Karena hampir disetiap peralihan tahun baru, baik Masehi maupun Hijriyah, setiap kita selalu memiliki harapan lebih baik dalam melangkah. Beralih dari hal tidak baik menuju yang lebih baik, dari kondisi menjenuhkan pada situasi yang penuh dengan inspiratif. Dan dari hal-hal yang berbau usang menuju kondisi serba anyar pula. Pola kerja, sistem kerja, dan hal-hal “kata kerja” inilah yang terlampau usang untuk dibicarakan. Tetapi yang patut dijadikan inspirasi dalam mengawali tahun baru justru berada pada kata sifat “Semangat.” Yah, bagaimana konteks semangat itu dapat menguasai setiap jejak yang akan terpijaki. Bukan hanya diawal tahun baru tentunya semangat itu harus tetap terjaga. Tetapi menjadikan tahun baru sebagai momentum Re-Charge Semangat Baru adalah sesuatu yang sejatinya berkobar di setiap mengawali tahun baru. Jika semangat telah terpatri, maka apapun yang dikerjakan akan sangat mudah dan penuh dedikasi. Itulah kenapa Umar bin Khattab mencetuskan ide pembuatan kalender Hijriyah, sepenuhnya karena dilandasi semangat keislaman yang sangat kuat.

Begitu pula dengan Sultan Shalahudin Al-Ayubi, ketika menjadi Panglima perang Islam saat menghadapi kaum salibis, ia membakar semangat umat Islam yang pada saat itu terkesan berada pada titik stagnan. Sultan Shalahudin menabuh perang dengan mencetuskan sebuah perayaan ‘Maulid Nabi’ yang tak pernah ada sebelumnya. Dengan perayaan itu, Sang Sultan berharap semangat Umat Islam kembali naik dengan mengenang sekaligus merefleksi bagaimana perjuangan Rasulullah dalam menegakkan agama Islam. Begitu juga dengan Panglima Thariq bin Ziyad yang mampu menguasai Spanyol dengan membakar satu-satunya kapal laut milik umat Islam setelah di kepung oleh tentara Nasrani di pesisir pantai. Ide pembakaran itu tiada lain mengobarkan semangat juang tentara Islam untuk menghadapi musuh yang sudah di depan mata. Walhasil Islam berhasil masuk dan menguasai Andalusia.

Sejarah dan pembelajaran di atas, tentunya mengandung hikmah yang sangat dalam di mata umat Islam. Betapa pentingnya mencipta dan memelihara semangat, karena tanpa semangat, mustahil Islam akan berada di belahan bumi yang secara letak geografis sangat sulit tuk disinggahi.

Jika kita kaitkan makna hijrah dengan konteks kekinian khususnya Indonesia, apa yang dilakukan Rasul ‘yakni hijrah dari Mekkah ke Madinah’ mungkin tidak perlu kita lakukan, tetapi jelas hijrah mengandung hikmah yang luar biasa. Beberapa ulama menjelaskan bahwa makna hijrah adalah; meninggalkan negeri/daerah (syirik) menuju negeri tauhid, meninggalkan kondisi bid’ah menuju kondisi sunnah, serta hijrah (meninggalkan) kondisi yang tidak baik menuju kondisi yang relatif baik atau terwujudnya amalan yang baik sama sekali.

Setidaknya hijrah yang dilakukan berkaitan dengan hijrah nafsiyah (individu) dengan berusaha menjauhkan diri dari melakukan perbuatan yang menyimpang dan berusaha memperbaiki diri untuk bersih dari segala perbuatan kotor, sehingga hati, jiwa dan raga serta segala perbuatan menjadi suci. Setelah itu mulailah dengan berusaha menghijrahkan keluarga, kerabat, tetangga, lingkungan dan masyarakat sekitar, hingga pada akhirnya membentuk komunitas yang siap melakukan hijrah secara utuh dan keseluruhan.

Sehingga, benarlah pendapat yang mengatakan bahwa hijrah adalah momentum perjalanan menuju tegaknya nilai-nilai Islam yang membentuk tatanan masyarakat yang baru, yakni masyarakat Islam.