Sapu Jagad

Hari tasyrik (11,12,13 Dzulhijjah) adalah hari yang memiliki kemuliaan. Rasulullah shalllahu alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺃَﻋْﻈَﻢَ ﺍﻷَﻳَّﺎﻡِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟﻨَّﺤْﺮِ ﺛُﻢَّ ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟْﻘَﺮِّ

“Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qarr (hari tasyriq)” (HR. Abu Daud no. 1765, dishahihkan oleh Al-Albani).

Selain itu hari tasyrik juga hari menyantap makanan dan minuman serta hari di mana kita dianjurkan banya berdzikir mengingat Allah, sebagaimana firman Allah,

ﻭَﺍﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓِﻲ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﻣَﻌْﺪُﻭﺩَﺍﺕٍ

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang (hari tasyrik)” (QS. Al Baqarah: 203).

Dan Sabda Rasulullah shallahu alaihi wa sallam,

‎ﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﺃﻳﺎﻡ ﺃﻛﻞ ﻭﺷﺮﺏ ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ

“Hari Taysrik adalah hari makan, minum dan meningat Allah” (HR. Muslim)

Ada doa yang yang dianjurkan untuk banyak di baca pada hari tasyrik ini yaitu doa yang kita kenal oleh orang Indonesia dengan doa “sapu jagat”. Ini berdasarkan firman Allah,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Rabbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban naar”. [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka]” (QS. Al Baqarah: 200-201).

Ikrimah berkata,

ﻛﺎﻥ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳُﺪﻋﻰ ﻓﻲ ﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﺘﺸﺮﻳﻖ : رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Disunnahkan membaca doa pada hari tasyrik: “Rabbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka]”.

Secara umum doa “sapu jagat” ini adalah doa yang memiliki banyak keutamaan dan merupakan doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meminta kebaikan dunia dan akhirat. Anas bin Malik mengatakan,

ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﺩُﻋَﺎﺀِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺁﺗِﻨَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ، ﻭَﻓِﻰ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ، ﻭَﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

“Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allahumma Rabbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban naar” (Ya Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka)” (HR. Bukhari no. 2389 dan Muslim no. 2690).

Syariat Khitan

DEFINISI KHITAN

Al khitan diambil dari bahasa Arab kha-ta-na, yaitu memotong. Sebagian ahli bahasa mengkhususkan lafadz khitan untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan disebut dengan khifadh.  Adapun dalam istilah syariat, dimaksudkan dengan memotong kulit yang menutupi kepala zakar bagi laki-laki, atau memotong daging yang menonjol di atas vagina, disebut juga dengan klitoris bagi wanita.

SEJARAH KHITAN 

Dalam sejarah dicatatkan bahwa sejatinya Khitan merupakan satu diantara sekian kebudayaan yang sifatnya kuno, ditradisikan bukan hanya umat muslim saja,bahkan bangsa Samit Purba serta berbagai bangsa Amerika dan Afrika, Polinesia,Australia dan Indonesia bahkan ada  sejumlah riwayat dan literatur yang menerangkan bahwa khitan ini telah ada sejak zaman Nabi Adam AS. Bahkan, bangsa-bangsa terdahulu juga melakukan hal yang sama.

Pada masa Babilonia dan Sumeria Kuno, yakni sekitar tahun 3500 Sebelum Masehi (SM), mereka juga sudah melakukan praktik berkhitan ini. 

Begitu juga pada masa bangsa Mesir Kuno sekitar tahun 2200 SM. Prasasti yang tertulis pada makam Raja Mesir yang bernama Tutankhamun, tertulis praktik berkhitan di kalangan raja-raja Firaun.

Tak hanya Babilonia, Sumeria, dan Mesir Kuno, orang-orang Yahudi juga mengenal tradisi berkhitan. Mereka menaruh perhatian besar terhadap praktik berkhitan ini. Dalam kitab Talmud–tafsir atas Zabur, yakni kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud AS–disebutkan, orang yang tidak berkhitan termasuk dalam golongan orang musyrik yang jahat. Bahkan, banyak teks injil yang menyatakan bahwa berkhitan merupakan suatu hal yang sangat baik. 

Bangsa Arab jahiliyah, yakni sebelum datangnya agama Islam, juga sudah terbiasa melakukan khitan. Hal ini dilakukan untuk mengikuti tradisi leluhur mereka, yaitu ajaran Ibrahim AS.

KHITAN, SYARIAT NABI IBRAHIM ALAIHISSALAM

Khitan merupakan salah satu ajaran yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Ibrahim Alaihissallam untuk dilaksanakan, disebut sebagai “kalimat” (perintah dan larangan). Beliau Alaihissallam telah menjalankan perintah tersebut secara sempurna, sehingga beliau dijadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai panutan dan imam seluruh alam. Dalam surat al Baqarah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ “

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. 

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “JanjiKu (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim”. [al Baqarah : 124]. 

Khitan termasuk fitrah yang disebutkan dalam hadits shahih. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

 الفِطْرَةُ خَمْسُ : الخِتَانُ وَالاسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَتَقْلِيْمُ الأَظْفَارِ وَقَصُّ الشَّارِبِ “

Lima dari fitrah yaitu khitan, istihdad (mencukur bulu kemaluan), mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan mencukur kumis”.

HIKMAH DAN FAEDAH KHITAN 

  1. Khitan merupakan kemulian syariat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala peruntukkan untuk hambaNya.
  2. Sebagai tanda ‘ubudiah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,
  3. Khitan merupakan kesucian, kebersihan dan hiasan bagi hambaNya yang hanif
  4. Dengan berkhitan -terutama seorang wanita- dapat menetralkan nafsu syahwat
  5. Bagi wanita yang berkhitan dapat mencerahkan wajah dan memuaskan pasangan.
  6. عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ اْلَأنْصَارِيَة أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تًخْتِنُ بِالْمَدِيْنَةَ فَقَالَ لَهَا النَّبِي صلى الله عليه وسلم : لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى اْلبَعْلِ “

Dalam hadits Ummu `Athiah, bahwa seorang wanita di Madinah berprofesi sebagai pengkhitan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Janganlah dihabiskan. Sesungguhnya, itu akan menguntungkan wanita dan lebih dicintai suami

  1. Setan berdiam pada tempat-tempat yang kotor, termasuk pada kulit yang tidak berkhitan

HUKUM KHITAN 

Para ulama berselisih dalam permasalahan ini, terbagi kepada tiga pendapat. 

Pendapat Pertama : Khitan itu wajib bagi laki-laki dan perempuan. Pendapat ini merupakan mazhab Syafi`iyah , Hanabilah dan sebagian Malikiyah rahimahullah, dan dari ulama terkemuka dewasa ini, seperti pendapat Syaikh al Albani.

Pendapat Kedua : Khitan itu sunnah (mustahab). Pendapat ini merupakan mazhab Hanafiyah], pendapat Imam Malik dan Ahmad. 

Pendapat Ketiga : Khitan wajib bagi laki-laki dan keutamaan bagi wanita. Pendapat ini merupakan satu riwayat dari Imam Ahmad, sebagian Malikiyah dan Zhahiriyah rahimahullah. 

Terbukanya Langit Arafah

Ba’da tahmid wa sholawat, 

Bapak dan Ibu calon penghuni surga. In syaa Allah dalam lindungan Allah Ta’ala.

Penundaan ibadah haji tahun ini membuahkan hikmah bagi semua muslim dunia.

Sedangkan keutamaan Hari Arafah tidak Allah tunda. Allah tetap membuka 7 petala langit bagi hamba-hambanya yang bermunajat.

“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?”

(HR. Muslim)

Untuk itu kami mengundang Bapak dan Ibu untuk ikut dalam do’a bersama dalam Program Terbukanya Langit Arafah

Yang dilaksanakan pada:

Hari       : Kamis, 30 Juli 2020 / 9 Dzulhijjah 1441 H

Waktu    : 17.00 – 18.00 WIB 

Cordova Video 

https://www.youtube.com/user/cordova1426video

Sebaik baik doa adalah Arafah, dimanapun kita berada

Besar harapan kami doa yang dipanjatkan bersamaan sesaat sebelum berbuka puasa akan sampai ke Arsy NYA menjadi wasilah Allah mudahkan Ibadah Haji kita sekeluarga ditahun mendatang.

Sampai nanti! 

Barokallohu fiikum

Dakwah Babylonia

Dalam legenda Bangsa Yahudi, ada wanita tua yang meminta tolong kepada Nabi Ibrahim, bahwa berhala (patung) milik wanita tua tersebut di curi oleh orang lain. Nabi Ibrahim kemudian menyatakan bahwa patung sesembahan tersebut bukanlah tuhan karena dia bisa dicuri seperti itu. Wanita tua itupun tersadar dan kemudian ikut membantu dakwah Nabi Ibrahim. Raja Namrud mendengar berita ini dan memanggil wanita tua tersebut kemudian dibunuh.

Nabi Ibrahim menghancurkan semua berhala – berhala yang ada di kuil dengan kapak kecuali berhala yang terbesar. Nabi Ibrahim kemudian meletakkan kapaknya di tangan berhala terbesar yang masih utuh tersebut untuk memberi kesan bahwa berhala induk tersebut cemburu dengan berhala-berhala kecil yang dianggap tidak pantas disembah bersamanya.

Saat penduduk kembali, mereka terkejut ketika melihat keadaan berhala-berhala tersebut dan bertanya-tanya mengenai jati diri pelakunya. Sebagian penduduk kemudian mengatakan bahwa Nabi Ibrahim dikenal suka mencela sesembahan mereka. Nabi Ibrahim kemudian ditanya, “Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, Ibrahim?” Nabi Ibrahim kemudian membalas, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya. Maka tanyakanlah kepada berhala itu jika dia dapat berbicara.” Setelahnya, mereka membalas, “Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.”

Mendengar jawaban kaumnya, Nabi Ibrahim segera membalikkan keadaan,

“Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak mendatangkan mudarat kepada kamu? Celakalah kamu dan yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?” QS Al-Anbiya’ (21): 66-67

Kelembutan Nabi Ibrahim alaihis salaam  berdakwah kepada ayahnya, tidaklah mengundang Hidayah. Ibrahim muda kemudian menjauhkan diri dari ayahnya sembari memintakan ampunan untuk ayahnya kepada Allah. Namun setelah jelas bahwa ayahnya adalah musuh Allah, Ibrahim alaihis salaam berlepas diri darinya.

Dakwah pada kaumnya, sebagaimana seruan para rasul yang lain, Ibrahim alaihis salaam menyeru kaumnya untuk bertakwa kepada Allah, mengESAkan-Nya, dan meninggalkan sesembahan lain. Ibrahim juga menegaskan bahwa berhala mereka tidak mampu memberi rezeki pada penyembahnya. 

Kaumnya menyatakan bahwa mereka melakukan penyembahan ini lantaran telah menjadi tradisi sejak leluhur mereka. Ibrahim alaihis salam kemudian bertekad untuk melakukan tipu daya pada berhala-berhala sembahan kaumnya saat mereka pergi.

Kaumnya marah setelah mendengar bantahan Ibrahim. Para penduduk tidak bisa menang debat dengan Ibrahim, sehingga mereka mengalihkan permasalahan dan menggunakan kekuatan untuk membungkam Ibrahim dengan cara berusaha dilemparkan ke dalam api. Dalam Legenda Bangsa Yahudi disebutkan bahwa sebelum dilemparkan ke api, Ibrahim dipenjara selama setahun tanpa makan dan minum. 

Pada masa itu, Allah kemudian mengutus malaikat untuk memberi Ibrahim makan dan minum sehingga dia tetap hidup. Kemudian diusulkan kepada Namrudz bahwa Ibrahim harus dibakar hidup-hidup di hadapan khalayak agar para penduduk dapat terus mempercayai Namrudz Perapian. Setelah diputuskan bahwa Ibrahim akan dihukum bakar, para penduduk segera mengumpulkan kayu bakar dari segala penjuru selama berhari-hari, sampai seorang wanita yang sedang sakit juga bernazar akan ikut mengumpulkan kayu bakar jika sudah sembuh. Kemudian mereka menggali lubang yang sangat besar tempat kayu-kayu tersebut dinyalakan.

Api menyala sangat besar sehingga tidak ada yang bisa mendekat, sehingga Ibrahim diikat dan dibelenggu, kemudian dilemparkan ke tengah api menggunakan manjanik. Saat dilempar, Ibrahim mengucapkan “Cukuplah Allah sebagai pelindung kami.”Allah kemudian memerintahkan, “Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim!” Kobaran api tersebut hanya membakar ikatan Ibrahim, tapi tidak tubuh maupun pakaiannya.

Ada yang mengatakan bahwa Ibrahim berada dalam kobaran api selama empat puluh sampai lima puluh hari. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa ayah Ibrahim kemudian berkata, “Sebaik-baik Tuhan adalah Tuhanmu, Ibrahim.”

Ka’bah dan Haji

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa bersama Ismail, Ibrahim meninggikan pondasi Ka’bah.As-Suddiy menyatakan bahwa tatkala diperintahkan Allah untuk membangun Ka’bah, Ibrahim dan Ismail tidak mengetahui tempat yang cocok untuk tempat pembangunan tersebut, Allah mengutus angin yang menyapu segala hal yang ada di sekitar tempat yang akan dibangun Ka’bah. Saat Ka’bah sudah mulai tinggi, Ibrahim menggunakan batu pijakan agar dapat menggapai bagian atas Ka’bah. Batu pijakan tersebut kemudian disebut “Maqam Ibrahim” dan di sana terdapat bekas pijakan kaki Ibrahim. Pada masa ‘Umar bin Khaththab, maqam Ibrahim yang awalnya menempel ke dinding Ka’bah kemudian digeser menjauh dari dinding agar tidak menghalangi orang yang sedang thawaf. Tatkala pondasinya telah sempurna, Ibrahim memerintahkan Ismail untuk mencari batu untuk diletakkan di sudut Ka’bah. Namun sebelum Ismail tiba, Malaikat Jibril membawakan batu tersebut. Batu tersebut adalah “hajar aswad.”

Setelah usai, Ibrahim kemudian diperintahkan menyeru manusia untuk melaksanakan ibadah haji[81] dan mengajarkan tata caranya. Haji tetap terus dijalankan setelah Ibrahim dan Ismail wafat. Menurut sejarawan Marshall Hodgson (1922–1968), umat Kristen Arab juga melaksanakan haji pada masa pra-Islam.

Saat bangsa Arab perlahan mulai jatuh dalam kemusyrikan, ibadah haji masih bertahan, tetapi tercampuri ritual pengagungan pada berhala-berhala dan di sekitar Ka’bah didirikan banyak berhala. Pada masa Nabi Muhammad, ibadah haji kemudian dikembalikan untuk pengagungan Allah semata sebagaimana pada masa Ibrahim dan berhala-berhala di sekitar Ka’bah dihancurkan

Aqidah Rububiyah

Aqidah rububiyah yaitu mentauhidkan / meng-Esakan Allah ﷻ dengan kebesaran, kekuasaan dan segala apapun yang telah diatur oleh Allah ﷻ di alam semesta ini. Maka konsekuensinya ialah ketika seseorang telah meyakini bahwa selain Allah ﷻ, ada yang memiliki kemampuan sama seperti diatas, berarti orang tersebut mendzalimi dan menyekutukan Allah ﷻ dengan selain Dia.

Sesuai dengan kisah Ibunda Hajar, Imam al-Tsa’labi (ahli tafsir, 350-430 H) meriwayatkan, datanglah perintah Allah ﷻ kepada Nabi Ibrahim alaihisalam agar membawa istri keduanya ibunda Hajar dan bayi yang baru lahir jauh dari ibunda Sarah. Maka ibunda Hajar mengunakan ikat pinggang yang panjang atau semacam itu untuk menghapus jejak bagi ibunda Sarah (HR Bukhari)

Nabi Ibrahim alaihisalam dan ibunda Hajar menyusuri gurun pasir sambil menggendong bayinya bergantian. Tibalah mereka dikota Makkah yang pada waktu itu sangat tandus, tidak ada pepohonan, air dan sepi dari manusia. Mereka melihat ada bukit berwarna merah, diatasnya terdapat rumah tua dari dahan-dahan kayu yang sudah mengering. Disitulah Nabi Ibrahim alaihisallam menempatkan Ibunda Hajar dan Ismail dengan sebuah ransel berisi kurma dan geriba air (HR. Bukhari)

Setelah itu Nabi Ibrahim alaihisalam pergi meninggalkan istri dan anaknya. Melihatnya pergi, ibunda Hajar mengikuti dan berkata, “Hai Ibrahim ! hendak kemana kau pergi ?”

Nabi Ibrahim alaihisalam pun hanya bisa terdiam seribu bahasa.

Ibunda Hajar pun memanggil sampai beberapa kali dan berkata “Apakah kau tega meninggalkan aku dan anakmu yang masih bayi dilembah yang tidak ada kehidupan ini ?”

Tetap saja Nabi Ibrahim alaihisalam terdiam tidak merespon.

Akhirnya Ibunda hajar bertanya lagi, “Allah-kah yang menyuruhmu melakukan ini? “

“ iya “ tanpa ragu Nabi Ibrahim menjawab dengan tegas.

“kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami” sambung Ibunda Hajar dengan tegar. Dan Ibunda Hajarpun membiarkan Nabi Ibrahim alaihisalam pergi.

Nabi Ibrahim alaihisalam pun lanjut pergi, sampai akhirnya tiba di bukit Tsaniyah. Lalu ia mengangkat kedua tangan dan berdoa, “Yaa Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman didekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Yaa Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim : 37)

Inilah kisah tauladan dari Ibunda Hajar akan aqidah rububiyah, yang meyakini bahwa Allah ﷻ lah yang maha mengatur segala urusan, maka tidak akan disia-siakan hamba yang bersama-Nya.

The Beauty Of Sarah

Siapa yang tidak mengenal istri Nabiyullah Ibrahim alaihis salam, Sarah. Seorang wanita mulia yang sangat mempesona dengan kecantikan parasnya sekaligus wanita yang sangat mulia dengan kepribadian budinya. Karena dakwah Ibrahim alaihis salam tak diterima di negeri Babilonia, ia bersama istrinya Sarah, pindah menuju Syam. Namun, kemudian Syam dilanda paceklik. Keduanya pun pindah menuju Mesir. Di sanalah ujian Sarah dimulai. 

 

Hari itu, seorang kerabat istana melihat kedatangan Ibrahim alaihis salam dan Sarah. Pejabat itu mengagumi paras cantik Sarah. Ia pun segera menuju istana dan mengabarkannya kepada Firaun Pertama.

“Telah datang di negeri Baginda ini seorang pria asing. Ia datang bersama dengan wanita yang sangat menawan. Kecantikannya tiada tanding, Wanita mempesona seperti itu layak menjadi pendamping anda, Baginda,” katanya.

 

Maka, sang raja Mesir ini pun segera memanggil Ibrahim alaihis salam untuk datang ke istana. Raja yang berkuasa saat itu adalah Firaun I yang terkenal sangat zalim. Sang raja sangat menginginkan Sarah. Andai ia tahu Sarah telah bersuami, suaminya pasti akan dibunuh agar sang raja mendapatkan wanita cantik itu. Maka, ketika sang raja bertanya kepada Ibrahim alaihis salaam, “Siapa wanita itu?” Nabi Ibrahim alaihis salam menjawab, “Dia adalah saudariku.” Maka, Nabi Ibrahim alaihis salam pun dilepaskan sang raja dan meminta Sarah agar tinggal di istana.

 

Sepulang dari istana, dia berkata kepada istrinya, “Wahai Sarah, tak ada yang beriman di muka bumi ini, kecuali aku dan kamu. Raja itu bertanya tentangmu dan aku mengatakan bahwa kau adalah saudariku. Kalau dia tahu kau adalah istriku maka dia akan mengalahkanku untuk mendapatkanmu.

Dan, memang kau adalah saudara perempuanku dalam Islam,” ujar Ibrahim alaihis salam.

 

Sarah pun segera dibawa ke istana. Hati Sarah berkecamuk. Pakaiannya sangat indah dengan pelayan yang menyediakan kebutuhannya. Namun perasaan Sarah sedih bukan kepalang. Dia enggan berpisah dengan suaminya, dan takut tersentuh Firaun yang jahat. Maka, Allahlah satu-satunya tempat mengadu dan meminta pertolongan. Sarah beribadah, sujud, dan mengadukan kesedihannya. Dia memohon kepada Allah agar melindunginya. “Ya Allah, jikalah Engkau mengetahui bahwa aku beriman kepada-Mu dan Rasul-Mu, mengetahui bahwa aku menjaga kehormatanku untuk suamiku, maka janganlah kau jadikan raja

kafir itu berkuasa atasku,” pinta Sarah tersedu.

 

Allah Al Mujiib mendengar doa Sarah dan mengabulkannya. Tiap kali sang raja ingin menyentuh Sarah, tangannya segera lumpuh. Firaun tak mampu bergerak. Maka, dia pun berkata kepada Sarah, “Aku berjanji tak akan mengganggumu maka mintalah kepada Tuhanmu agar melepaskan penyakit ini,” ujarnya. Lalu, Sarah pun kembali berdoa dan sang raja segera sembuh. Namun, dia mengingkari janjinya. Dia kembali mendekati Sarah setelah tangannya dapat kembali bergerak. 

 

Tetapi, saat hendak memegang Sarah, Fir’aun kembali lumpuh. Dia pun kembali berjanji, “Aku berjanji tak akan mengganggumu maka mintalah kepada Tuhanmu agar melepaskan penyakit ini,” ujar sang raja. Namun, saat sembuh, dia kembali mendekati Sarah. Terus demikian peristiwa itu terjadi hingga sang raja pun menyerah. Firaun justru akhirnya ketakutan dengan kemampuan benteng diri Sarah. Dia pun menudingnya sebagai makhluk halus yang mampu melakukan tipu daya. Kelumpuhannya dimaknai Firaun sebagai perbuatan setan.

 

Firaun segera memanggil pengawalnya dan berkata, “Kau tidaklah membawa seorang wanita, melainkan membawa setan,” serunya. Maka, si pengawal pun diperintahkan untuk membawa kembali Sarah ke rumahnya. Sebelum pulang, raja memberikan seorang budak kepada Sarah sebagai hadiah. Budak itu ialah seorang wanita yang cantik bernama Hajar. Dialah yang kelak menjadi istri Ibrahim alaihis salam sekaligus ibunda Nabi Ismail alaihis salam. 

 

Adapun Sarah merupakan ibunda Nabi Ishaq. Saat tiba di rumah, Ibrahim alaihis salam pun bertanya kepada Sarah, “Apa yang terjadi?” Lalu, Sarah menjawab, “Allah telah menolak tipu daya raja kafir itu dan dia memberiku seorang pelayan wanita.” Sepulangnya dari tempat raja Firaun ia kembali hidup bahagia bersama Nabi Ibrahim alaihis salam dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun. Namun ada satu hal yang membuatnya begitu sedih, dalam pernikahannya yang telah berjalan sangat lama, ia dan suami belum juga dikaruniai seorang anak. 

 

Meski begitu, baik ia maupun Nabi Ibrahim alaihis salam tetap sabar dan terus berdoa juga berusaha melakukan yang terbaik agar segera dikaruniai anak. Sarah adalah wanita yang sangat cantik di zamannya. Nabi Ibrahim alaihis salam bahkan tak henti-hentinya berdoa agar ia dikaruniai seorang anak yang shaleh. Haru mendengar doa suaminya, Sarah pun menawarkan Hajar seorang budak yang diberikan Fir’aun untuknya agar dijadikan istri. 

 

Kepada Nabi Ibrahim alaihis salam Sarah mengatakan, Hai kekasih Allah, sesungguhnya Allah tidak memperkenankan aku melahirkan anak, karenanya menikahlah dengan budakku ini, mudah-mudahan Allah mengkaruniakan anak kepadamu melalui dirinya. Inilah Hajar, aku berikan kepadamu, mudah-mudahan Allah memberi kita anak keturunan darinya.”

 

Sarah dan Rasa Cemburunya

Nabi Ibrahim alaihis salam kemudian menikahi Hajar. Dan benar, Tuhan mendengarkan doanya, dari Hajar ia dikaruniai seorang anak bernama Ismail. Nabi Ibrahim alaihis salam tentu sangat bahagia dengan kehadiran seorang anak di keluarganya. Namun, rupanya Sarah dilanda api cemburu. Wanita ini meminta suaminya agar menghindari Hajar atau pun anak mereka. 

 

Rasa cemburu Sarah bahkan menjadi-jadi kepada Hajar seiring dengan berjalannya waktu. Melihat kecemburuan istri yang begitu dicintainya, Nabi Ibrahim alaihis salam pun membawa Hajar dan Ismail pergi dari rumahnya sesuai wahyu yang diterimanya dari Tuhan. Nabi Ibrahim alaihis salam membawa Hajar dan anak tercinta ke suatu lembah dekat Baitullah yang kering dan tidak ada tanaman. “Ya, Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai taman-taman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung. kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”(QS. Ibrahim: 37).

 

Sarah dilanda rasa cemburu kepada Hajar dan anaknya Ismail atas doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim alaihis salam, lembah tempat tinggal Hajar dan Ismail mulai berubah. Lewat Ismail, muncullah air Zam-Zam yang suci dan bermanfaat hingga kini.

 

Ibrahim alaihis salam Kembali ke Sarah di Palestina, keduanya Kemudian Dikaruniai Seorang Anak. Setelah meninggalkan Hajar dan Ismail, Nabi Ibrahim alaihis salam pun kembali pulang. Ia lalu menjalani hari-harinya seperti biasa dengan bahagia bersama Sarah. Dan pada suatu hari ketika usia keduanya sudah sangat tua, malaikat datang ke rumahnya dan memberi kabar gembira.

 

Maka kami Sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya`qub. (Q.S Huud, 71). Mendengar kabar ini, Sarah begitu terkejut. Mana mungkin ia yang sudah berusia di atas 90 tahun masih bisa mengandung dan melahirkan. Bukankah ia seorang wanita yang tidak bisa memiliki anak? “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh. (Q.S Huud, 71).

 

Tuhan memang Maha Besar, Sarah benar-benar mengandung. Melalui ketetapanNya, di usia yang sudah tidak muda lagi yakni 99 tahun, istri Nabi Ibrahim alaihis salam itu dikaruniai seorang anak yang kemudian diberi nama Ishaq. Nabi Ishaq sendiri adalah ayah dari Nabi Ya’Qub. Dan Ya’qub kelak kemudian adalah ayah dari Nabi paling tampan sepanjang masa yakni Nabi Yusuf alaihis salaam.

Tanah Hijaz

Sarah tetaplah seorang perempuan, yang memiliki rasa cemburu. Dan, ketika Siti Hajar melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail, yang kala itu Sarah belum dikaruniai seorang anak. Ia pun cemburu  dan tidak akan mau tinggal dengan Hajar dan anaknya dalam satu atap.

Imam al Tsa’labi (ahli tafsir, 350-430 H) meriwayatkan, pada waktu itu datanglah perintah dari Allah SWT kepada Nabi Ibrahim agar membawa istri keduanya, Siti Hajar, dan bayinya, Ismail, ke tanah Makkah.

Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk hijrah membawa Siti Hajar dan Nabi Ismail. Ketika perjalanan sampai di Tanah Hijaz (yang saat ini dikenal dengan Kota Makkah, Madinah dan Thaif) beliau berhenti atas izin Allah. 

Hijaz kala itu padang pasir tandus dan sangat gersang tidak ada tumbuh-tumbuhan, hewan dan bahkan manusia yang tinggal. Tidak ada satu pun yang ingin tinggal disana karena tidak ada air sebagai syarat kehidupan.

Tapi Nabi Ibrahim menempatkan Siti Hajar dan Nabi Ismil di temapat tersebut. Dengan meletakkan sebuah geriba berisi kurma, dan wadah berisi air. Lalu Nabi Ibrahim membalikkan punggungnya untuk meninggalkan tempat tersebut. Hajar mengikuti Nabi Ibrahim dan berkata, “Wahai Ibrahim, kemanakah engkau hendak pergi dan meninggalkan kami di lembah ini, (lembah) yang seorang pun tidak ada dan tidak ada sesuatu?”. Hal ini diucapkan beberapa kali sedangkan Ibrahim tidak menoleh sama sekali. Akhirnya Hajar berkata:

“Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?”. Ibrahim pun hanya menjawab: “Iya”. Ibu Ismail berkata: “Kalau begitu, kita tidak akan disia-siakan!”. 

Dan setelah itupun Hajar kembali.

Nabi Ibrahim Alaihissalam lalu pergi, hingga tidak terlihat lagi oleh Hajar dan putranya, Nabi Ibrahim menghadapkan wajahnya ke (tempat yang nanti akan didirikan) Baitullah, beliau memanjatkan doa dengan mengangkat kedua tangannya: 

Ya Rabb kami sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, wahai Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. [Ibrâhîm: 37]

Ketika air dalam wadah yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim itu sudah habis, maka ia dan puteranya kehausan. Hajar menatap putranya yang meronta-ronta. Karena tak sanggup melihat keadaan putrany. Maka ia mulai pergi dan tidak tega melihat keadaan puteranya. Maka ia mendapatkan Shafa, bukit yang paling dekat dengannya. Lalu ia berdiri diatas bukit itu dan menghadap lembah sembari melihat-lihat adakah orang disana, tetapi ia tidak mendapatkan seorang pun disana.

Setelah itu ia turun kembali dari Shafa, hingga ketika sampai di tengah-tengah lembah, Hajar mengangkat bagian bawah bajunya dan kemudian berusaha keras sehingga ia berhasil melewati lembah. Lalu ia mendatangi Marwah dan berdiri disana seraya melihat-lihat adakah orang disana.

Tatkala Hajar berada di atas Marwah, ia mendengar suara. Ia berkata kepada dirinya, “Diam!”, yang dimaksudkan kepadanya. Lalu ia mencari suara itu, hingga akhirnya ia mendengar juga. Maka ia pun berkata : “Aku telah mendengarmu, apakah engkau dapat memberikan bantuan?”. Ternyata ia berada bersama malaikat di tempat dimana terdapat air Zam Zam. Lalu malaikat itu mengais-ngais tanah hingga akhirnya muncul air. Selanjutnya ia pun menuruni air tersebut dan kemudian mengisi bejananya dengan air dan kemudian meminum airnya dan memberikan kepada anaknya.

Doa Tak Bermakna

Pada suatu malam yang sangat dingin, seorang pemuda duduk di dekat perapian dirumahnya untuk menghangatkan badan. Saat pandangannya menatap jendela rumahnya, dilihatlah seorang kakek sedang berjalan ditengah salju yang putih. Sang Pemuda kemudian berpikir, “Malangnya kakek itu, dia harus berjalan ditengah badai salju seperti ini. Baiklah aku akan mendoakan dia saja agar dapat tempat berteduh.” Pemuda itu lalu berdoa kepada Tuhan : “Tuhan bantulah agar orang tua di depan rumahku ini mendapatkan tempat untuk berteduh. Kasihan Tuhan dia kedinginan.”

Ketika si pemuda mengakhiri doanya dilihatnya sang kakek berjalan mendekati rumahnya, dan diapun sempat mendengar suara rintihan sang kakek yang kedinginan ketika sang kakek bersandar di dekat jendela rumahnya. Mendengar itu sang pemuda berdoa lagi kepada Tuhan. “Tuhan lihatlah sang kakek di luar rumah itu. Kasihan sekali dia Tuhan, biarlah engkau membantunya agar dia tidak kedinginan lagi. Bantulah agar dia mendapatkan tempat berteduh yang hangat.” Setelah itu si pemuda pun tidur lelap.

Keesokan harinya si pemuda terbangun karena suara gaduh masyarakat sekitarnya. Dia keluar rumah dan menemukan sang kakek telah meninggal bersandar di dekat jendela rumahnya.

Si pemuda kemudian berdoa lagi kepada Tuhan. “Tuhan mengapa engkau membiarkan kakek itu meninggal kedinginan padahal aku sudah mendoakannya agar dia selamat.” Tuhan pun menjawab si pemuda itu. “Aku mendengar doamu hai pemuda. Aku sudah membimbing kakek itu agar mendekati rumahmu. Akan tetapi engkau tak menghiraukannya bahkan ketika kakek itu merintih di depan jendela rumahmu.”.

(Sumber: Kisah inspiratif)

Artikel ini –tentunya- bukan untuk memperingati hari buruh 1 Mei. Selain sudah terlewat sebulan yang lalu, tidak ada relevansi juga mengangkatnya pada tulisan ini. Namun tema diatas lebih sebagai ungkapan darurat seperti halnya seorang pilot pesawat tempur yang ditembak jatuh lawannya “Mayday… mayday… I am going down” kata si pilot. Lalu apa hubungannya ‘kedaruratan’ dengan Monday (?) Bukankah Monday adalah hari pertama dalam Weekday Masehi (?) Tempat berkumpulnya lingkaran energi dan semangat bagi setiap orang ‘ngantor’. Sejatinya seh memang begitu, namun jika masyarakat Jakarta saja –misalnya- di berikan polling tentang lebih semangat mana kerja hari Senin atau hari Jum’at, rasa-rasanya mayoritas memilih hari Jum’at. Kenapa (?) simple jawabannya, karena dia bekerja di akhir minggu alias weekend. Atau simple pula menilainya, bahwa mental untuk ‘berjuang’-nya masih dibawah rata-rata.

Awal hari dari setiap pekannya menurut Masehi adalah hari Senin, oleh karenanya semua aktivitas selalu berawal dari hari ini. Monday Mayday bukan sebuah peringatan tentang danger-nya hari Senin, tetapi bagaimana menghadapi hari Senin dengan segala hal yang membuat mental kerja malah mengalami penurunan paska hari libur. Bisa karena lelah berlibur, bisa juga karena –memang- spirit yang ternoda hanya karena mental diri yang begitu rusak. Namun tahukah kita, bahwa Rasulullah SAW pertama kali menerima wahyu dari ALLAH adalah hari Senin, hari yang akan mengawali dakwah-dakwahnya yang penuh dengan rintangan.

Rasulullah ditanya tentang hari Senin. Beliau menjawab: “Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku di utus menjadi Rasul, atau diturunkan kepadaku wahyu” (HR. Muslim).

Logikanya, ketika wahyu diturunkan, maka Beliau memulai mengemban tugas yang sangat Berat dimulai hari Senin, hari yang menjadikan setiap langkahnya merupakan dakwah. Namun karena kita sudah terbiasa dengan mindset bahwa hari Senin menjadi sebuah hari yang ‘malas’, hari yang masih lama dengan masa-masa libur, dan hari yang penuh dengan kemacetan lalu lintas untuk pergi bekerja, sehingga, belum juga dimulai ‘pertempuran’ jiwa kita sudah me-‘reject’-nya. Atau mendapat sejuta alasan untuk masuk kantor siang hari, karena berbagai hal, termasuk didalamnya alasan macet, dan lain sebagainya.

Monday mayday juga sangat menarik dijadikan penyemangat, menjadi sigap karena kondisi sedang darurat. Yah, rasanya ‘mental’ kita masih harus “berdekatan” terlebih dulu dengan status darurat, sehingga selanjutnya bisa menjadi sigap baik dalam keadaan darurat ataupun lengang.

Atau jika memungkin, setting pola pikir kita agar mengubah mindset ‘Feel Monday like Friday’, itu juga rasanya bisa membantu siapa saja yang akan menghadapi hari Senin.