Awal hingga pertengahan Ramadhan tahun ini, kembali –kita- masih sulit percaya dengan fakta yang terjadi, terbayang ketika pijar api itu menggulung rumah yang bertahun-tahun mereka pertahankan. Dengan keringat, bangunan batu-bata itu tersusun, kini tinggalah ponggahan dan puing yang mengenaskan. Mereka memasang sebuah rumah dalam lekuk aliran darah di mana kepergian adalah juga kepulangan. Di sana, berlapis-lapis musim senantiasa menemuinya dalam hujan.

Adzan di Masjid Agung Skotlandia

Masjid Agung Skotlandia mendapatkan lampu hijau dari Dewan Kota Glasgow untuk menyiarkan dua menit panggilan azan setiap hari selama umat Muslim menjalankan ibadah puasa dibulan Ramadhan. Masjid di Gorbals, wilayah dengan populasi Muslim yang signifikan di Skotlandia menyambut gembira hal ini mengingat pada puasa tahun ini juga diadakan Pesta Olahraga Persemakmuran (Commonwealth Games) yang merupakan ajang olahraga multinasional di Skotlandia.

If Wishes Come True

Berbicara halal dan haram, biasanya selalu mengarah dan identik pada pembahasan masalah pangan, meskipun dewasa ini, konsep halal-haram, tidak hanya berkutat pada masalah makanan, ada juga yang bisa melabelkan halal atau haram pada dunia fashion, musik dan lain-lain.




Awalnya, sulit memulai untuk menuliskan bagaimana peristiwa berdarah rakyat Mesir saat ini. Akan berawal darimana penggalan kisah terpijak, semuanya seolah nightmare yang tiba-tiba muncul ditengah kehangatan masyarakatnya. Kemurahan dan toleransinya menjelma menjadi amarah yang memuncak. Darah menjadi kolam yang mengental, nyawa pun tiada lagi harganya. Semua orang terkejut dengan peristiwa berdarah itu. Peristiwa yang terkejam selama negara Mesir berdiri. Peristiwa yang benar-benar tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Doa Tak Bermakna

Pada suatu malam yang sangat dingin, seorang pemuda duduk di dekat perapian dirumahnya untuk menghangatkan badan. Saat pandangannya menatap jendela rumahnya, dilihatlah seorang kakek sedang berjalan ditengah salju yang putih. Sang Pemuda kemudian berpikir, “Malangnya kakek itu, dia harus berjalan ditengah badai salju seperti ini. Baiklah aku akan mendoakan dia saja agar dapat tempat berteduh.” Pemuda itu lalu berdoa kepada Tuhan : “Tuhan bantulah agar orang tua di depan rumahku ini mendapatkan tempat untuk berteduh. Kasihan Tuhan dia kedinginan.”

Ketika si pemuda mengakhiri doanya dilihatnya sang kakek berjalan mendekati rumahnya, dan diapun sempat mendengar suara rintihan sang kakek yang kedinginan ketika sang kakek bersandar di dekat jendela rumahnya. Mendengar itu sang pemuda berdoa lagi kepada Tuhan. “Tuhan lihatlah sang kakek di luar rumah itu. Kasihan sekali dia Tuhan, biarlah engkau membantunya agar dia tidak kedinginan lagi. Bantulah agar dia mendapatkan tempat berteduh yang hangat.” Setelah itu si pemuda pun tidur lelap.

Keesokan harinya si pemuda terbangun karena suara gaduh masyarakat sekitarnya. Dia keluar rumah dan menemukan sang kakek telah meninggal bersandar di dekat jendela rumahnya.

Si pemuda kemudian berdoa lagi kepada Tuhan. “Tuhan mengapa engkau membiarkan kakek itu meninggal kedinginan padahal aku sudah mendoakannya agar dia selamat.” Tuhan pun menjawab si pemuda itu. “Aku mendengar doamu hai pemuda. Aku sudah membimbing kakek itu agar mendekati rumahmu. Akan tetapi engkau tak menghiraukannya bahkan ketika kakek itu merintih di depan jendela rumahmu.”.

(Sumber: Kisah inspiratif)

Artikel ini –tentunya- bukan untuk memperingati hari buruh 1 Mei. Selain sudah terlewat sebulan yang lalu, tidak ada relevansi juga mengangkatnya pada tulisan ini. Namun tema diatas lebih sebagai ungkapan darurat seperti halnya seorang pilot pesawat tempur yang ditembak jatuh lawannya “Mayday… mayday… I am going down” kata si pilot. Lalu apa hubungannya ‘kedaruratan’ dengan Monday (?) Bukankah Monday adalah hari pertama dalam Weekday Masehi (?) Tempat berkumpulnya lingkaran energi dan semangat bagi setiap orang ‘ngantor’. Sejatinya seh memang begitu, namun jika masyarakat Jakarta saja –misalnya- di berikan polling tentang lebih semangat mana kerja hari Senin atau hari Jum’at, rasa-rasanya mayoritas memilih hari Jum’at. Kenapa (?) simple jawabannya, karena dia bekerja di akhir minggu alias weekend. Atau simple pula menilainya, bahwa mental untuk ‘berjuang’-nya masih dibawah rata-rata.

Awal hari dari setiap pekannya menurut Masehi adalah hari Senin, oleh karenanya semua aktivitas selalu berawal dari hari ini. Monday Mayday bukan sebuah peringatan tentang danger-nya hari Senin, tetapi bagaimana menghadapi hari Senin dengan segala hal yang membuat mental kerja malah mengalami penurunan paska hari libur. Bisa karena lelah berlibur, bisa juga karena –memang- spirit yang ternoda hanya karena mental diri yang begitu rusak. Namun tahukah kita, bahwa Rasulullah SAW pertama kali menerima wahyu dari ALLAH adalah hari Senin, hari yang akan mengawali dakwah-dakwahnya yang penuh dengan rintangan.

Rasulullah ditanya tentang hari Senin. Beliau menjawab: “Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku di utus menjadi Rasul, atau diturunkan kepadaku wahyu” (HR. Muslim).

Logikanya, ketika wahyu diturunkan, maka Beliau memulai mengemban tugas yang sangat Berat dimulai hari Senin, hari yang menjadikan setiap langkahnya merupakan dakwah. Namun karena kita sudah terbiasa dengan mindset bahwa hari Senin menjadi sebuah hari yang ‘malas’, hari yang masih lama dengan masa-masa libur, dan hari yang penuh dengan kemacetan lalu lintas untuk pergi bekerja, sehingga, belum juga dimulai ‘pertempuran’ jiwa kita sudah me-‘reject’-nya. Atau mendapat sejuta alasan untuk masuk kantor siang hari, karena berbagai hal, termasuk didalamnya alasan macet, dan lain sebagainya.

Monday mayday juga sangat menarik dijadikan penyemangat, menjadi sigap karena kondisi sedang darurat. Yah, rasanya ‘mental’ kita masih harus “berdekatan” terlebih dulu dengan status darurat, sehingga selanjutnya bisa menjadi sigap baik dalam keadaan darurat ataupun lengang.

Atau jika memungkin, setting pola pikir kita agar mengubah mindset ‘Feel Monday like Friday’, itu juga rasanya bisa membantu siapa saja yang akan menghadapi hari Senin.