What is the meaning of “Power of Return (?)” Apakah return yang dimaksud adalah ‘return-nya’ proses re-inkarnasi (?) Atau ‘return’ dari tajuk sebuah film mandarin The Return of Condor Heroes (kembalinya pendekar rajawali). Tentunya bukan, karena dua ‘return’ itu tidak bisa mengalahkan kekuatan ‘return’ yang akan diuraikan singkat dalam artikel ini. Sebuah ‘return’ yang akan menghasilkan perjalanan abadi, suatu proses pengingat manusia yang akan ‘return’ selamanya, yah kekuatan pikir dalam merespon masa ‘return’ nya manusia menjadi sesuatu yang urgent dijadikan landasan pacu kehidupan seseorang. Ketika ‘return’ atau kembali paska kematian itu memiliki ruang untuk diingat dan dipikirkan sebelum tibanya maut, maka Rasulullah SAW menjamin bahwa orang tersebut adalah sosok yang sangat cerdas dalam menghadapi kehidupan. Rasul Bersabda “Orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian” (HR. Tirmidzi). Dengan prinsip ini, maka sadar akan waktu terakhir hidup dan kembali pada kehidupan selanjutnya menjadi bagian dari kecerdasan yang esensial dalam kehidupan. Sejarah Fir’aun, kaum Luth dan lain sebagainya, telah banyak mengajarkan kita tentang arti pentingnya sebuah proses –thinking– untuk ‘return‘ kelak.

Membahas tentang hidup setelah mati (mungkin) bagi sebagian orang memilih untuk bersikap apriori. Atau karena keseringan, mereka akan me‘reject’ secara halus, mereka tahu dan yakin akan masa ‘return’ itu, namun perlahan akan menguap dalam rutinitas kesehariannya. Padahal proses melihat, mengingat dan berpikir tentang kematian itu justru kekuatan dibalik tindakan kita dalam keseharian. Karena ‘return’ adalah keniscayaan. Seperti salah satu Firman Allah yang membahas masalah ini “Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan kepadamu apa yang telah kamu lakukan” (QS. Al-Jumuah :8 )

Kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Tapi merupakan awal dari sebuah babak kehidupan baru, kematian ibarat stasiun atau terminal, tempat manusia berhenti sejenak untuk selanjutnya ‘return’ pada fase keabadian. Mayoritas kita (rasanya) sudah sangat tahu dan hapal tentang peristiwa ini. Namun, terkadang ada sikap ‘pen-cuek-an’ dalam mengingatnya. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk selalu mengingat kematian sama halnya dengan ingat dan memperjuangkan kehidupan.

Semua makhluk sadar, bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti, sesuatu yang tidak dapat di tawar. Namun tidak semua menyadari dan meyakini bahwa ia kan ‘kembali’ setelahnya. Karenanya, terdapat perbedaan yang mendasar antara orang yang mempersiapkan diri untuk masa ‘return’ kelak dengan orang yang sama-sekali -apatis- terhadap masa itu. Kekuatan ‘return’ terdapat pada sikap manusia yang menjadikan kehidupan dunia sebagai ladang dan tempat menabung. Karena di masa ‘return’ itulah kita akan memetik dan menuai. Ahh, saya rasa semua orang sudah tahu, namun semua orang pun membutuhkan reminder untuk menyegarkan ingatannya.

Baitul Maqdis

Baitul Maqdis merupakan kebanggaan dan kota suci umat Islam. Allah SWT Memberkahi tempat ini dan lingkungan sekelilingnya untuk seluruh alam sebagai negeri para Nabi sekaligus tempat turunnya malaikat suci. Keberadaan Baitul Maqdis senantiasa menyatu dengan sejarah dunia Islam. Di tempat inilah berdiri Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat muslim dan masjid kedua yang didirikan di bumi setelah Masjidil Haram. Peristiwa Mi’raj Rasulullah SAW dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha hingga ke langit ke tujuh sekaligus menjadi bukti kesempurnaan Kuasa dan Kesucian-Nya. Dahulu orang mengenal kota ini dengan nama Al-Quds, namun sejak pertama kali Islam berkuasa dinamakan Baitul Maqdis. Kota ini terletak di Palestina, dan negeri-negeri di sekitarnya adalah negeri Syam, yakni Suriah, Yordania, Lebanon termasuk Palestina. Di negeri yang aman dan mulia ini, Allah SWT mengutus begitu banyak nabi dan rasul. Ke negeri ini pula Allah SWT menyelamatkan banyak nabi dan rasul dari azab pedih yang ditimpakan kepada kaumnya, termasuk kaum Nabi Luth As.

Beberapa bangunan dan benda bersejarah yang terdapat di dalamnya menjadikan tempat ini diakui umat lain. Sebut saja Al-Shakhra, batu tambatan Buraq dan tempat berpijaknya Rasulullah SAW ketika akan naik ke langit (Sidratul Muntaha), Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock), masjid kuning yang dibangun oleh Khalifah Umar bin Khattab, serta peninggalan bangunan istana Nabi Sulaiman As. Ayat Al-Qur’an tentang Baitul Maqdis dan keberkahan negeri-negeri sekelilingnya terdapat pada Surat Al-Isra. “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. 17 ayat 1).

Ashabul Kahfi

Gua Ashabul Kahfi

Ashabul Kahfi adalah kisah sejumlah pemuda yang beriman kepada Allah SWT. Bersama mereka, ikut pula seekor anjing. Tertidur dalam gua selama ratusan tahun, para pemuda Ashabul Kahfi pun selamat dari kekejaman Diqyanus, Raja Romawi pemuja berhala. Demi menyelamatkan akidahnya, para pemuda Kahfi meninggalkan negerinya. Dengan rahmat dan perlindungan Allah SWT mereka tertidur selama 309 tahun dalam gua. Tanpa mereka sadari, badan mereka dibolak-balikkan ke kanan dan ke kiri, serta telinga ditutup sampai tidak terbangun oleh suara apapun, sedangkan anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Ketika terbangun, wajah kota telah berubah dan uang perak mereka sudah tidak berlaku. Sehingga membuat mereka sadar bahwa mereka tertidur bukan sehari atau setengah hari, melainkan ratusan tahun.

Hingga kini jumlah mereka masih menjadi perdebatan. Ada yang mengatakan tiga orang dan yang ke-empatnya adalah anjingnya, ada juga yang mengatakan tujuh orang, dan yang ke-delapan adalah anjingnya. Sesungguhnya hanya Allah SWT yang mengetahui jumlah mereka secara pasti.

Kisah Ashabul Kahfi memberikan inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam teori hibernasi, yaitu kondisi ketidakaktifan dan penurunan metabolisme pada tubuh, serupa dengan kondisi tidur. Para pemuda Kahfi yang tertidur selama ratusan tahun tetap bertahan hidup tanpa makan dan minum serta tidak mengalami kerusakan pada tulang dan otot. Padahal kerusakan dan hancurnya otot tidak terhindarkan pada orang-orang yang kelaparan sehingga dapat menyebabkan kematian. Kini teori hibernasi lebih dikembangkan bagi para astronot dan para penderita kerusakan sel tulang.

Rasanya pepatah bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian masih relevan untuk dijadikan pedoman hidup. Meski –tentunya- perlu penjabaran yang lebih luas dari sekedar “Bersakit-sakit dahulu”, its mean; Bekerja keras, total dan fokus. Saya masih ingat pada saat masih kecil, seringkali orangtua memberikan nasihat bahwa nanti setelah besar jangan malas dan bekerjalah dengan baik. Jika ingin memiliki kehidupan yang layak, bekerja keraslah bahkan sekeras yang kita bisa lakukan. Semua orang tentunya sepakat dengan nasihat bijak itu, namun –sejatinya- tidak cukup menelan mentah-mentah apa yang dikatakan dengan “Bekerja Keras”, sebab –yang saya tahu- saat ini, bekerja keras bukanlah menjadi sesuatu yang istimewa. Selain setiap orang dapat melakukannya, tolak ukur-nya pun masih bias. Ternyata sekuat apapun fisik kita untuk bekerja keras yang hanya bermodalkan otot, hasilnya jauh berbeda dengan sesorang bekerja menggunakan otak, lebih efisien. Yah, saat ini yang lebih diutamakan adalah bekerja pintar dan kreatif, hal ini disebabkan karena persaingan yang semakin ketat baik di dunia kerja maupun usaha dan bisnis.

Betul bahwa bersakit-sakit dahulu untuk jangka waktu singkat sering menjadi satu-satunya jalan supaya dapat bersenang-senang untuk jangka waktu yang panjang. Motto “Sakitnya disiplin atau pedihnya penyesalan” adalah suatu motivasi menghadapi tantangan hidup. Dalam suatu pertempuran sengit, rasanya terlambat jika kita masih bersiap-siap. Pilihannya: Kita selalu siap menghadapi segala tantangan, atau kita akan terus dibayangi pemikiran ‘Bagaimana jika’, ‘seandainya saja’ dan ‘Seharusnya aku’ yang selalu muncul ketika kita gagal mempersiapkan diri. Sebuah tulisan mendefinisikan “Penyesalan” sebagai ketidaksukaan emosional dan intelektual terhadap tindakan dan prilaku diri yang terjadi di masa lalu.

Namun –tentunya- semua itu masih harus berada dalam koridor ‘smart work’, sehingga definisi bersakit-sakit dahulu (baik secara fisik ataupun psikis) dapat ditekan dengan sangat signifikan. Setidaknya menghindari kerja keras yang tidak efisien dan efektif, kerja keras yang tanpa perencanaan, strategi dan hanya mengandalkan tenaga dan otot. Ada kisah yang menarik dan sesuai dengan untaian diatas, tentang cara seorang guru kungfu menguji kedua muridnya.

Pada suatu malam, “Si Fu” tua memanggil kedua muridnya untuk memberikan mereka tugas, “Besok pagi kalian ke hutan membawa ranting pohon. Siapa yang pulang dengan hasil yang terbanyak, dialah yang keluar sebagai pemenang.” Setelah memerhatikan kedua muridnya yang mendengar dengan serius, guru tersebut melanjutkan,”Waktu yang saya sediakan kepada kalian mulai jam 5 pagi sampai jam 5 sore.”

Kemudian ia mengambil sesuatu dari bawah meja dan berkata,” Ini adalah dua bilah parang yang dapat kalian gunakan. Ada pertanyaan?” Karena merasa tugas yang diembankannya mudah, kedua murid pun serempak menjawab, “Tidak! “Baiklah kalau begitu, kalian cepat pergi istirahat dan besok bangun lebih pagi”, kata guru tersebut memberi nasihat.

Mendapat tugas baru, di kepala murid yang pertama langsung terbayang besok harus bekerja lebih keras tanpa melakukan persiapan yang diperlukan. Sedangkan murid kedua langsung memeriksa parang yang disediakan oleh gurunya. Ternyata parang tersebut adalah parang tua yang kurang tajam. Maka ia pun memutuskan, besok sebelum berangkat harus mencari batu asah untuk mengasah parang terlebih dahulu. “Dengan parang yang lebih tajam hasil yang sama dapat diperoleh dengan upaya yang lebih sedikit” ia berpikir.

Tantangan kedua yang terbayang di kepalanya adalah bagaimana cara membawa ranting pohon dalam jumlah yang lebih banyak secara efisien dan efektif (?) Pada saat yang sama, murid yang pertama sudah tidur lelap. Sedangkan ia masih mondar-mandir di depan kamarnya memikirkan cara yang terbaik untuk membawa ranting dalam jumlah yang lebih banyak. Setelah berpikir dan mengasah otaknya, akhirnya ia menyadari bahwa ia harus juga mempersiapkan tali pengikat dan tongkat pikulan. Dengan cara memikul menggunaka tongkat pikulan, paling tidak bisa membawa dua ikatan ranting -satu di depan dan satu lagi di belakang- dibandingkan dengan memikulnya di belakang pundak. Setelah itu ia pun pergi tidur.

Keesokannya, murid pertama karena tidak ada persiapan, termasuk mengasah parangnya, ia harus bekerja keras (yang sia-sia), karena mengunakan waktu, energi yang lebih besar untuk memotong ranting pohon. Dengan demikian dia juga harus menggunakan waktu yang lebih banyak untuk istirahat karena kecapaian. Belum lagi waktu yang harus digunakan untuk mencari tali pengikat. Selain itu dengan cara membawa ranting kayu yang diikat di belakang pundak, tentunya jumlah yang bisa dibawa terbatas. Ternyata murid kedua membawa hasil yang lebih banyak dengan upaya yang lebih efisien.

So, intinya melakukan sesuatu yang tidak banyak dilakukan orang lain, adalah jalan menuju keuntungan yang lebih efisien dibandingkan orang lain, -tentunya- karena kita berbeda.

Dunia Islam

LOS ANGELES – Jangan bayangkan dia mengenakan gamis, memelihara cambang panjang, dan berkopiah. Alih-alih berpidato dengan suara lantang mengkritik mereka yang tak berperilaku Islami, imam tinggi berambut pirang ini memulai khotbahnya dengan menceritakan kemenangan klub basket Los Angeles Lakers malam sebelumnya, disambung keterlibatan gengnya saat remaja, sebuah opera sabun TV, baru diakhiri dengan cerita tentang Hari Kiamat. Suhaib Webb, nama imam itu, juga tak canggung menggunakan bahasa gaul anak muda Amerika. Saat ia memergoki seorang jamaahnya mengantuk di belakang, secara berkelakar dia berbisik di mikrofon, “Tenang…tidak ada lembur malam ini, Bro.” Beginilah khotbah khas gaya Webb, ulama muda karismatik kelahiran Oklahoma yang masuk Islam beberapa tahun lalu. Jamaahnya berkembang di kalangan Muslim Amerika, terutama kaum muda. Ceramahnya bertabur referensi budaya pop, sebanyak dia menyitir ayat Alquran atau Hadis. Untuk gayanya ini, ia punya alasan. “Jamaah saya umumnya adalah mualaf atau generasi muda yang lahir dan besar di AS. Apakah kita akan mencapai mereka dengan pesan Arab atau dengan pesan Pakistan (?) Bukankah akan lebih mudah menjangkau mereka dengan pesan gaya Amerika bukan (?)” katanya balik bertanya.

Webb, 38 tahun, berasal dari Santa Clara, California. Dia adalah seorang sarjana dan pendidik. Aktif di LSM nirlaba American Muslim Society, ia kini juga menjangkau jamaah yang lebih luas melalui dakwah online di situs pribadinya, Masjid Virtual. Webb disebut Los Angeles Times sebagai salah satu tokoh muda yang berada di garis depan gerakan untuk menciptakan ‘Islam gaya Amerika’; sejalan dengan Alquran dan sunah tapi juga mencerminkan adat dan budaya Amerika. Dikenal dengan gaya santai, ia telah membantu mempromosikan ide bahwa Islam terbuka untuk sebuah interpretasi Amerika modern. Kadang-kadang, pendekatannya dianggap kalangan garis keras sebagai ‘tampaknya hampir asusila’.

Dalam konferensi Muslim di Long Beach, California, tahun lalu, ia menyarankan bahwa masjid juga merangkul kalangan gay. Setelah itu, ia didatangi oleh seorang imam lokal yang menuduh dia “racun”. “Saya katakan kepadanya, ‘Terus terang, Anda akan menjadi tidak relevan dalam 10 tahun,'” kata Webb. Dia fasih dalam bahasa Arab, Quran, dan belajar selama enam tahun di salah satu lembaga terkemuka di dunia Islam, Al-Azhar University di Mesir. Di sanalah ia menyadari, tak semua gaya pendekatan ala Timur Tengah cocok diterapkan di masyarakatnya. “Contohnya saja, berkhotbah dengan lebih banyak menggunakan bahasa Arab, tidak mampu berkomunikasi dengan jemaat non-Arab, dan tidak terhubung dengan mudah dengan anak muda,” katanya.

Muslim AS, katanya, berharap para pemimpin agama mereka memainkan peran yang lebih luas, lebih pastoral, kata Hossam Aljabri, direktur eksekutif Masyarakat Muslim Amerika, sebuah kelompok keagamaan dan pendidikan nasional. “Masyarakat menginginkan imam yang bisa datang dan pergi di luar memimpin doa dan membaca Quran. Mereka ingin para imam mengisi peranan sosial konseling dan berurusan dengan tetangga.” Webb mengamini. Prinsip dasar iman tidak akan berubah, katanya, tapi banyak hukum yang dapat ditafsirkan secara berbeda dalam berbagai komunitas. Tidak seperti beberapa imam, ia tidak keberatan dengan musik dan berkeyakinan Muslim juga boleh merayakan hari libur nasional seperti Hari Ibu dan Thanksgiving.

Namun, mengingat keragaman etnis Muslim AS, menemukan sebuah konsensus untuk Islam Amerika tunggal sangat sulit. Beberapa mendukung reformasi, lainnya menentang perubahan. Lepas dari itu semua, Webb diterima banyak kalangan, baik dalam Islam maupun di luar Islam. “Dia imam yang paling gampang didekati di AS,” kata Nour Mattar, pendiri stasiun radio Muslim pertama di AS. “Dan dia tidak membosankan untuk didengarkan ceramahnya.”

(Sumber: republika.co.id)

Setiap melihat, mendengar dan membaca tentang kematian, rasanya saya dan mungkin kebanyakan orang, malas untuk mendalaminya secara detail. Lebih baik merencanakan sesuatu yang indah selagi ruh masih menemani raga. Selagi kesempatan masih terasa untuk dinikmati. Padahal mengingat proses kematian itu sendiri adalah perintah dari Allah dan Rasul-Nya, selain untuk men-drive langkah kaki, juga sebagai planning for the next journey yang tiada akhir, alias never ending. Mengingat panggilan ketiga untuk kematian yang kedua itu, rasanya ada sesuatu yang sulit dibayangkan. Bagaimana tidak, ketika rasa bersatu dalam jiwa, semua keindahan dunia menjadi kekuatan besar untuk membuang ingatan tentang sebuah kematian. Banyak hal-hal yang menyebabkan lidah menjadi kelu, bagaimana harus meninggalkan anak istri, makhluk dunia yang paling di cinta, persiapan spritual yang –siapa pun- baik orang saleh ataupun orang salah merasa belum cukup untuk menanggung semua yang akan dihadapinya setelah mati. Dan 1001 kenikmatan dunia lainnya yang akan dicabut dan dikembalikan kepada-Nya.

Jika ada sebuah metode pintas untuk menghadapi kematian, rasanya akan banyak kelas yang tertarik mengikutinya. Pelajaran bagaimana ketika ruh meregang dan terhempas dari jiwa, juga teori dan praktik mengenai apa yang terjadi di alam kubur sebelum dibangkitkan terakhir dan berkumpul di alam masyhar. Bahkan mengenai seperti apa perencanaan kita saat akan mati dan dimana tempatnya, menjadi mata kuliah yang sangat spesial untuk dipelajari. Namun sesungguhnya, ternyata metode itu memang ada dan telah lama diajarkan oleh Rasulullah SAW. Hanya waktu saja yang semua makhluk tidak akan pernah tahu kapan waktunya akan tiba.

Mari sama-sama kita sibak bagaimana manusia yang masih hidup di dunia masuk pada etape ‘ghaib’ tentang sebuah kematian. Meski bukan ruh dan jasadnya yang mengarungi, tetapi value perjalanan itu yang digambarkan sebagai perjalanan menuju sebuah kematian. Bagi Anda yang sering mendengar uraian ini, kita sama-sama jadikan kembali sebagai pengingat dan charge untuk terus berbenah diri, karena tidak ada seorang manusia pun di muka bumi yang terlepas dari lupa dan dosa.

Banyak orang yang mengira bahwa panggilan Allah yang ke-2 (umrah maupun haji) itu hanya sebatas bagi yang mampu. Bagi yang kurang mampu tidak ada kewajiban melaksanakannya, selesai. Padahal banyak kasus dan fakta orang yang tidak memiliki harta untuk berangkat haji maupun umrah, ternyata bisa juga melaksanakannya. Jika kita bedah “Panggilan” itu secara bahasa, maka sangat jelas bahwa Rasulullah diperintahkan untuk memanggil seluruh manusia (baik yang mampu atau tidak) agar melaksanakan haji. Tentu panggilan itu harus dipandang secara kontekstual, agar tidak ada alasan bagi orang yang kekurangan harta (tidak mampu), terlepas dari niatan hatinya untuk beribadah ke Tanah Suci. Ketika niatan itu ada, meski sampai akhir hidupnya ia tidak pernah menuju Baitullah, maka secara ‘ruhiyyah’ ia telah menuju pada Panggilan-Nya.

Selain itu, Islam dengan tegas ingin memperlihatkan bahwa perjalanan haji itu memiliki aspek pembelajaran dalam menghadapi panggilan ke-3 yaitu kematian. So’ before the last call, Allah dengan Kasih Sayang-Nya membuat ‘Skenario’ haji sebagai miniatur proses kematian. Sekali lagi, pandangan kematian ini harus kita pahami value-nya. Sehingga pelajaran-pelajaran dari ibadah ini menjadi jawaban dari metode dan teori tentang kematian di atas.

Dari rangkaian singkat di atas, semua kita semakin yakin bahwa panggilan haji ini sesuatu yang serius dan harus mendapat perhatian besar. Tanpa keinginan kuat dan usaha yang keras, pergi haji hanya menjadi angan-angan belaka. Logikanya, jika orang yang kurang mampu secara materi saja sepatutnya memiliki niatan luhur menjadi Tamu-Nya, bagaimana dengan orang secara finansial mampu, namun tak kunjung memenuhi panggilan-Nya (?)

Seri Nubuwah: 05

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.” Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan salah seorang sahabat dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, -jika bisa- seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”
“aku tidak tahu ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya, ” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. “Ketahuilah, dialah Yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” Kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. ” Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum”, (Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu). Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii” – “Umatku, umatku, umatku” Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.
Allahumma Sholli ‘ala Muhammad wa Baarik wa Salim ‘Alaihi

Jika jiwa ini besar, maka raga tak kan pernah lelah mengikuti kehendaknya. Namun jika jiwa ini kerdil, maka tak ada raga yang mampu melewati batas-batas dirinya.

Masih terekam dalam benak saya, ketika awal saya berada di sebuah komunitas yang penuh harap. Di tempat kerja sekaligus “Lab Intelektual” yang penuh dengan mimpi. Berjuta rasa terbang menyelinap pada sel-sel darah yang menghembus pada sebuah harap dan mimpi besar. Menerjang meleburkan pikiran yang kaku, menggebrak tindakan yang layu, dan mengepung jiwa tuk berpikir besar dengan tindakan yang detail. Salah satu yang terus terngiang dalam langkah ini, adalah ‘desakan’ untuk terus memiliki sebuah HARAP dan MIMPI. Yah, tentunya semua harap itu harus terbungkus oleh suatu tindakan riil yang menghasilkan karya, karena kerja tanpa karya sulit tuk menembus suatu harap dan mimpi besar. Yang perlu saya tegaskan lagi, adalah ketika jiwa tak memiliki harap, atau sebuah mimpi yang besar, maka perjalanan ini akan penuh dengan rasa lelah, bosan dan berakhir putus akan asa. Yah, point itulah yang kerap menggerakkan ritme langkah ini. Ketika saya dan keluarga memiliki sebuah keinginan atau mimpi memiliki sebuah rumah asri, yang terdapat paviliun segar, dan halaman teduh dibelakangnya, tempat bermain serta berkumpul keluarga. Tempat merangkai cita dan bersenda gurau sembari menikmati teh hangat di pagi hari, di garasi depan sudah terparkir kendaraan yang siap menghantar anak dan istri berlibur, dan semua keindahan yang terlukis dalam cita dan mimpi. Namun, tentunya saya harus mengubur jauh-jauh mimpi itu, ketika daya pikir dan kerja saya masih terus seperti biasa tanpa daya jangkau yang lebih ‘meledak’. Masih terus merangkak dan berjalan apa adanya tanpa sebuah Harap.

Rasanya setiap kita pernah melihat bagaimana angin tornado bergerak menghempaskan segala yang ada disekitarnya. Tanpa arah jelas, angin besar yang menggumpal mirip corong itu merangsek kemana saja angin mengarahkannya, tak ada tujuan akhir hendak kemana angin besar itu kan beranjak. Sehingga kita bisa mengatakan bahwa tornado, puting beliung atau apapun jenis angin itu, selalu bergerak tanpa visi yang jelas, menghantam sekenanya, mengguras seadanya. Demikian gambaran kecil ketika suatu aksi tanpa visi, namun –tentunya- analogi ini tidak akan pernah bisa sama dengan pergerakan manusia yang memiliki kekuatan nalar yang jelas. Lebih sederhananya, saya mencoba menguraikan dengan cerita tiga orang tukang batu yang sedang menyusun batu bata. Tukang batu pertama, ketika ditanya, kamu sedang apa (?) Dia menjawab, saya sedang menyusun batu dan merekatnya dengan semen. Tukang batu kedua ketika ditanya, ia menjawab sedang membangun dan mendirikan tembok. Adapun tukang batu ketiga, ia menjawab sedang membangun sebuah rumah dengan tiga kamar tidur, 1 dapur, 1 ruang tamu, dan akan bercat warna putih. Seperti itulah benak setiap orang menjelaskan apa yang sedang dikerjakannya.

Seri Nubuwah: 04

Khadijah pergi menjumpai saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal. Waraqah adalah seorang penganut agama Nasrani yang sudah mengenal Injil dan sudah pula menerjemahkannya sebagian ke dalam bahasa Arab. Khadijah menuturkan apa yang dilihat dan didengar Muhammad. Waraqah menekur sebentar, kemudian berkata, “Maha Kudus Ia, Maha Kudus. Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Khadijah, percayalah! Dia telah menerima Namus Besar seperti yang pernah diterima Musa. Dan sungguh dia adalah Nabi umat ini. Katakan kepadanya supaya tetap tabah!” Khadijah pulang. Dilihatnya Muhammad masih tidur. Dalam tidur yang demikian itu, tiba-tiba ia menggigil, napasnya terlihat sesak dengan keringat yang sudah membasahi wajahnya. Ia terbangun, manakala didengarnya malaikat datang membawakan wahyu kepadanya: “Hai orang yang berselimut! Bangunlah dan sampaikan peringatan. Dan agungkan Tuhanmu. Pakaianmu pun bersihkan. Dan hindarkan perbuatan dosa. Jangan kau memberi, karena ingin menerima lebih banyak. Dan demi Tuhanmu, tabahkan hatimu.” (QS Al-Muddatstsir: 17).

Seri Nubuwah: 03

Dari pernikahannya dengan Khadijah, ia memperoleh beberapa orang anak, laki-laki dan perempuan. Kematian kedua anaknya, Al-Qasim dan Abdullah menimbulkan kedukaan yang begitu dalam. Anak-anaknya yang masih hidup semua perempuan. Muhammad yang telah mendapat karunia Allah SWT dalam perkawinannya dengan Khadijah, berada dalam kedudukan tinggi dan harta yang cukup. Seluruh penduduk Makkah memandangnya dengan rasa kagum dan hormat. Bicaranya sedikit, ia lebih banyak mendengarkan. Bila bicara selalu bersungguh-sungguh, tapi sungguh pun demikian, ia tidak melupakan ikut membuat humor dan bersenda-gurau. Tapi yang dikatakannya itu selalu yang sebenarnya. Kadang ia tertawa sampai terlihat gerahamnya. Bila ia marah tidak pernah sampai tampak kemarahannya, hanya antara kedua keningnya tampak sedikit berkeringat. Ia bijaksana, murah hati dan mudah bergaul. Tapi ia juga berkemauan keras, tegas dan tak pernah ragu-ragu dalam mencapai tujuannya.