Eksekusi Tanpa Visi

Rasanya setiap kita pernah melihat bagaimana angin tornado bergerak menghempaskan segala yang ada disekitarnya. Tanpa arah jelas, angin besar yang menggumpal mirip corong itu merangsek kemana saja angin mengarahkannya, tak ada tujuan akhir hendak kemana angin besar itu kan beranjak. Sehingga kita bisa mengatakan bahwa tornado, puting beliung atau apapun jenis angin itu, selalu bergerak tanpa visi yang jelas, menghantam sekenanya, mengguras seadanya. Demikian gambaran kecil ketika suatu aksi tanpa visi, namun –tentunya- analogi ini tidak akan pernah bisa sama dengan pergerakan manusia yang memiliki kekuatan nalar yang jelas. Lebih sederhananya, saya mencoba menguraikan dengan cerita tiga orang tukang batu yang sedang menyusun batu bata. Tukang batu pertama, ketika ditanya, kamu sedang apa (?) Dia menjawab, saya sedang menyusun batu dan merekatnya dengan semen. Tukang batu kedua ketika ditanya, ia menjawab sedang membangun dan mendirikan tembok. Adapun tukang batu ketiga, ia menjawab sedang membangun sebuah rumah dengan tiga kamar tidur, 1 dapur, 1 ruang tamu, dan akan bercat warna putih. Seperti itulah benak setiap orang menjelaskan apa yang sedang dikerjakannya.

Visi adalah tujuan akhir dari sebuah perjuangan, tujuan akhir bukan berarti pekerjaan terakhir, tapi sebuah ‘kerja’ yang tak boleh terhenti, suatu karya tanpa akhir, sebuah mimpi tak berujung. Pada konteks apapun, visi adalah kompas yang akan mengidentifikasi perjalanan kita sesuai atau tidak dengan mimpi besar pada ‘destinasi’ yang dituju. Sebab, tanpa visi tidak akan ada suatu karya besar dalam setiap langkah kita, bahkan yang ada hanyalah sekumpulan orang dengan ambisi besar tanpa arah, bergerak sekenanya, seadanya, dan juga semaunya.

Tidak berlebihan, pertama kali saya melihat ungkapan “Eksekusi tanpa Visi” di suatu kesempatan, rasanya otak saya matang dalam ‘sangkarnya’. Bergejolak mengingkari setiap langkah yang telah beranjak. Yah, benar. Saya harus kembali pada pemahaman bahwa visi itu adalah tujuan, visi itu adalah target, visi itu adalah tindakan, visi itu adalah gairah besar untuk meraih gambaran masa depan yang diinginkan dalam hidup. Konsekwensinya, sebuah visi yang sudah jelas dan sederhana harus disertai fokus pada sebuah gambaran tentang masa depan yang diimpikan, tentunya dengan dukungan segenap potensi diri dan potensi sumber daya yang ada.

Tanpa visi yang jelas, saya hanya berlari dan berputar dalam sebuah lingkaran yang tidak jelas. Saya hanya bekerja berlandaskan rutinitas tanpa tujuan yang terfokus, saya hanya akan berteriak sambil menyalahkan orang lain. Sebab, jiwa ini tidak terpanggil untuk melakukan sesuatu ke arah yang jelas. Semua ide saya hanya baik untuk menyikapi rutinitas pekerjaan saya. Gejolak emosi pun kerap dalam ketidakpastian. Seperti kata orang, visi tanpa kerja adalah mimpi di siang bolong. Dan kerja tanpa visi adalah mimpi buruk, suatu hal yang lebih menyeramkan.

Terakhir, mungkin saya menyimpulkan bahwa visi itu adalah jawaban dari pertanyaan sederhana “Dari mana, mau ke mana, dan bagaimana ke sana nya (?)”.

Related Post

Cinta Sederhana

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *