Siapa pun kita, apapun latar belakang kita, setiap menghadapi suatu perjalanan, maka yang terlintas dalam benak adalah melakukan sebuah persiapan. Yah, karena faktor yang paling penting dari kesuksesan sebuah perjalanan adalah persiapan. Terutama riset yang komprehensif tentang perjalanan itu sendiri. Bagaimana lokasi dan akses menuju destinasi yang kita inginkan. Akankah mudah dilalui, atau banyak rintangan yang harus dihadapi. Bagaimana pula menghadapi kondisi tempat –yang belum pernah dirasakan-, terlebih jika perjalanan itu akan dilakoni seorang diri. Demikianlah semestinya kita menghadapi sebuah perjalanan, laiknya kita menghadapi sebuah perjalanan akhir dari episode hidup yang kita lakoni. Sebelum langkah menjadi perjalanan akhir kita, sejatinya persiapan menghadapi langkah yang kan tertapaki menjadi prioritas ‘riset’ tentang tempat yang menjadi pilihan kita. Karena the last journey manusia hanya ada dua macam, yakni husnul khatimah (akhir yang baik) atau su’ul khatimah (akhir yang buruk). Terserah kita akan memilih yang mana. Dua-duanya memiliki konsekwensi yang harus dilalui. Jika memilih yang pertama, maka persiapan menghadapi journey itu yang harus benar-benar ketat. Namun jika memilih yang kedua, tak perlu repot mempersiapkan perjalanan itu, karena konsekwensinya akan menimpa setelah journey itu berakhir.

Yang menjadi masalah adalah, kita semua tidak tahu kapan dan bagaimana ‘the last journey’ itu menghampiri kita. Bisa saja ia menghampiri disaat persiapan itu longgar dari pengamatan. Terlepas dari ikatan yang telah kita rancang sebelumnya, mungkin disaat kita khilaf justru akhir dari segalanya tiba. Ia tak pernah sedikit pun memberikan aba-aba ketika akan menghampiri, kalaupun ada bentuknya hanya ‘signal’ yang sulit diterka oleh manusia pada umumnya. Hanya ‘persiapan’ menghadapi the last journey itulah yang menjadi ‘key’ penenang jiwa.

Karenanya, bagi mereka yang sedang ‘bersiap’ menghadapi semua itu dijamin perjalanan akhirnya sesuai dengan ia niatkan. Seperti halnya, ketika seseorang melangkahkan kaki menuju surau untuk beribadah, lalu ‘the last journey’ menghadapnya sebelum tapak menginjak surau, maka betapa bahagianya perjalanan akhir yang ia lakoni.

Pun demikian bagi mereka yang menanti suatu perjalanan spritual menuju Arafah-Nya, segala yang ia hadapi menjadi jaminan suatu kesholehan hingga berada di tanah suci-Nya. Terlebih jika niatan itu tertanam untuk selalu menghindari dari segala nista yang menggoda gairah langkahnya. Berlabuh diatas lautan rasa menanti cinta Sang Maha Pencipta.

Before the last journey, kematian adalah hal yang pasti menghampiri. Siapapun dan apapun dia, tidak akan pernah bisa menghindarinya. Selain perbedaan cara berjumpa Izrail, maka perbedaan orang menghadapi akhir perjalanannya itu adalah cara pandang dalam mempersiapkan diri menghadapinya. Ada yang melihat akhir perjalanan itu sebagai gerbang menuju keabadian sehingga persiapannya begitu detail, ada juga yang menganggap akhir perjalanan itu sebagai peristiwa alam biasa. Wallahu ‘alam

Jika ingin mabrur, jangan takabur, perbanyaklah syukur. Ungkapan itu sangat relevan bagi setiap muslim, terlebih untuk calon jemaah haji yang akan segera menuju Tanah Suci. Karena mabrur merupakan puncak kebaikan yang meliputi seluruh amal sholeh, termasuk syukur. Mungkin kita sering mendengar bahwa manusia harus bisa bersyukur dalam hidup ini. Namun, bersyukur tidak hanya sesuatu yang wajib dilakukan oleh mereka yang memiliki iman, tetapi juga syukur sebagai alat pembuka rezeki dan nikmat yang berlimpah. Seperti yang dijanjikan Allah dalam firman-Nya “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berjanji kepadamu; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, PASTI kami akan menambah ni’mat-Ku kepadamu” (QS. Ibrahim:7). Bersyukur bukan sekedar kata-kata, syukur adalah sebuah rasa terimakasih dan penghargaan yang mendalam atas sebuah pemberian dari Dzat Maha Kuasa. Karena bersyukur itu bukan sebuah konsep anyar, maka artikel ini hanya akan sedikit menggambarkan betapa syukur memiliki nilai yang sangat penting dalam setiap etape perjalanan hidup. Selain itu, artikel ini juga akan sekilas menuangkan tentang persepsi ‘syukur’ yang sederhana. Syukur yang akan membuka pintu rezeki dan anugerah yang lebih besar lagi. Syukur yang tiada henti, akan menciptkan suatu sistem ‘panen rezki’ yang sulit diperkirakan darimana munculnya.

Tentang syukur, banyak dikalangan kita yang memahami perasaan syukur dengan terbalik. Jika kita bersyukur karena telah mendapatkan atau mengalami sesuatu yang menyenangkan, itu sangat wajar, sebab semua orang mampu melakukan hal itu. Syukur yang dijanjikan Allah akan mendapat balasan rezeki yang berlimpah adalah rasa syukur akan apapun yang diberikan-Nya dalam semua situasi dan kondisi. Tidak peduli apakah hujan, angin, badai, guntur, banjir, kemarau. Sehat, sakit, sedih, senang. Segala suasana, setiap situasi, apapun yang terjadi. Bila kita merasa bersyukur saat itu, maka hal demikian adalah pertanda Allah menerima kesuksesan kita sembari menanti rezeki yang lebih besar.

Kegiatan syukur tak akan pernah surut hingga ruh meregang atas raga. Aktivitas itu hanya akan berhenti disaat semua yang dirasa telah hilang. Eleman yang menghidupkan manusia dalam segala hal adalah sesuatu yang selalu luput dari rasa syukur. Bisa jadi ia enggan mengucapkan syukur hanya lantaran merasa hidupnya sulit, tiada harta, makan pun sedapatnya. Tetapi ia lupa, bahwa udara yang ia hirup masih masuk dalam rongga nafasnya. Ia lupa bahwa beratus bahkan beribu kali ia harus mengedipkan mata dalam sehari. Ia pun khilaf, bahwa kakinya masih bisa menegakkan tubuh untuk berjalan kemana ia mau. Rezeki yang melekat dalam diri kita lah yang selalu luput dari perhitungan kita. Sehingga mata selalu mengawas pada rezeki yang didapatkan dari ‘luar’.

Sebelum segalanya berakhir, tiada yang pantas bagi setiap hamba selain ungkapan syukur atas segala nikmat yang didapat. Firman Allah; “Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan bisa menghitung-nya” (QS. Ibrahim: 34). So’ before the last Syukur, kita hiasai bersama desah nafas ini dengan rasa syukur yang tiada henti kepada-Nya.

Jika dicermati dengan jujur, maka kebanyakan orang dewasa ini selalu menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang bertolak belakang dengan urusan kematian. Lebih asyik berpikir tentang dimana anak kita akan sekolah, di perusahaan mana kita akan bekerja, makan malam dimana nanti malam, baju apa yang akan kita gunakan besok hari dll. Hal-hal diatas yang selalu menjadi sangat penting untuk dipikirkan. Seolah-olah kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Bahkan, pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Hampir setiap hari kita menyaksikan kematian orang, baik di media maupun secara langsung, namun kita -termasuk saya-, tidak banyak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian kita. Kita sama-sekali tidak mengira, bahwa kematian itu sedang menanti setiap desah nafas terakhir kita. Menanti sejati diantara langkah kaki. Setiap kita tidak bisa meyakinkan pada semua orang tercinta, bahwa perpisahan itu akan selalu diawali dengan salam dan lambaian tangan. Kematian bisa datang secara tiba-tiba, bisa saja tatapan harap anak tercinta untuk kita kembali kerumah menghangatkan mereka, tidak akan pernah terulang. Kematian akan menuntaskan sementara segala rasa. Transisi ‘rasa’ dari dunia menuju alam selanjutnya.

Manusia senantiasa takut mati. Karena selama hidup –tanpa disadari- kita lebih gemar mempelajari tentang apa dan bagaimana neraka. Gambaran tentang neraka hanya diperoleh untuk menakuti atau peringatan. Adapun tentang surga, gambaran tentangnya hanya memiliki porsi yang sangat kecil untuk dipelajari. Andai saja, selama hidup kita lebih memilih mencari tahu apakah itu surga, bagaimana cara menggapainya, apa saja amalan yang bisa menghantarkan kedalamnya, dst. Jika seperti itu, maka kita semua akan sangat merindukan kematian, bukan sebaliknya.

Kenapa ‘cerita’ tentang surga harus menjadi dominasi dalam pembelajaran manusia (?) Karena ternyata mental manusia saat ini, cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas ketika membicarakan tentang kematian. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan contoh orang lain, dan tidak akan menimpa dirinya. Semua orang berpikiran, belum saatnya mati, mereka selalu berpikir, selalu masih ada hari esok untuk menikmati hidup.

Bahkan –mungkin saja- orang yang meninggal dalam perjalanan ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan, bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi Anda membuka smartBLOG dan membaca artikel ini, Anda berharap untuk tidak meninggal setelah menyelesaikan membacanya, mungkin Anda merasa bahwa pada saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian, dan usaha-usaha seperti ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindari proses kematian.
Sebelum segalanya terjadi, sebelum sujud sholat terakhir, sebelum akhir nafas berhenti, rasanya tidak salah jika kita bersama-sama menemukan cerita dan berita tentang surga.

Kehidupan adalah sejarah keberadaan manusia di muka bumi yang selalu berulang dari masa ke masa. Berbagai kaum datang silih berganti. Setiap generasi lahir dengan berbagai karakter dan warnanya yang menghiasi semesta. Beragam ulah perilaku telah mereka lakukan di muka bumi. Ragam peradaban dan budaya telah mereka tinggalkan menjadi warisan anak cucu keturunan mereka. Namun proses pergantian suatu kehidupan, seringkali luput dari perhatian kita. Umur manusia selalu berbeda antara suatu kaum dengan kaum yang datang kemudian. Namun menurut beberapa penlitian sejarah, bahwa semakin ke belakang, usia manusia semakin surut alias pendek. Seperti halnya usia kaum Nuh As, umur mereka sekitar 9500 tahunan. Usia kaum nabi Musa As sekitar 1500-an tahun. Kaum nabi Isa 600 tahunan. Adapun kita, kaum nabi Muhammad SAW. sebagai penghuni terakhir Bumi, hanya memiliki jatah hidup di dunia sekitar 60-100 tahunan. Meski ada juga orang yang umurnya kurang atau lebih dari itu. Setelah itu, perjalanan akan berakhir pada dua stasiun, surga atau neraka. Kesedihan sepanjang masa atau kesenangan yang tiada jeda. Semua berada pada genggaman kita saat ini, memasuki dua stasiun itu adalah sebuah pilihan, pilihan yang sudah jelas rambu dan jalurnya.

Seorang guru memberikan suatu inspirasi tentang suatu tangisan yang perlu dan tidak. Sesungguhnya kita tidak perlu menangis jika kelak kita melihat diri kita akan memasuki neraka, karena, selain tangisan sudah tiada arti, juga sebagai manusia –yang selalu melakukan khilaf dan nista- hanya mampu berada di sana. Namun sebaliknya, kita harus menangis jika kelak kita melihat diri ini memasuki surga, karena hanya atas belas-kasih dan Karunia Allah kita dapat memasuki surga yang tiada akhir atas segala keindahan. Dengan usia yang ‘minim’, kebaikan-kebaikan yang dikerjakan selama di dunia tak akan mampu membeli sejengkal tanah sekali pun di Taman Surga-Nya Allah SWT. Sebab dengan kenikmatan yang diberikan sejak di dunia saja, manusia tidak akan mampu membalasnya meski beribadah setiap saat sepanjang hayatnya.

Sejalan dengan itu, doa tentang ketidakpatutan-nya manusia berada di Surga, kerap berkumandang di setiap pengajian, bahkan terdengar di media-media usai kumandang Adzan. “Ya Allah Tuhanku, sesungguhnya hamba tidak pantas untuk masuk ke dalam Surga-Mu (Firdaus), Namun hamba tidak akan kuat menahan panasnya api neraka…” Petikan doa yang realistis itu, memberikan pemahaman yang jelas, bahwa manusia masuk kedalam surga hanya karena Karunia dan Kasih-Sayang-Nya.

Sebelum segalanya tiada arti, sebelum sesuatu kebaikan menjadi mimpi, sebelum nafas terhenyak mengakhiri hidup, sebelum tangisan terakhir meledak, sejatinya tangisan menjadi ‘sesuatu’ yang tidak akan pernah ditinggalkan hanya karena merasa risih jika diri menangisi nistanya diri. Malu atau gengsi jika dikatakan sebagai makhluk ‘melow’ hanya karena menangis atas segala puing dosanya. Namun lebih mulia menangis saat ini, daripada menanti tangisan terakhir melanda diri.

Biasanya setelah libur lebaran, hari pertama kerja menjadi sedikit lebih longgar, entahlah apa karena merasa baru saja bermaaf-maafan, hingga berpikir tidak mungkin diberi punishment jika mangkir pada awal-awal hari kerja pasca lebaran. Atau bisa saja, itu adalah kemurahan para pimpinan perusahaan yang memberikan ruang fresh bagi karyawannya untuk berbenah menghadapi kerja yang normal. Namun yang perlu diwaspadai, jika kondisi seperti itu terlahir dari mentalitas kita dalam mengenyam amanah suatu kewajiban usai mendapat hak maksimal dari perusahaan. Whatever, lebaran telah lewat, liburan telah usai. Kita kembali pada aktivitas sehari-hari. Demikian pula dengan tim Cordova, kembali mengepak ‘sayap’ bersiap melayani para smartHAJJ yang tidak lebih dari dua bulan akan berjuang di Tanah Suci. Sadar bahwa jalannya waktu tak terasa, maka tiada pilihan dalam setiap dentingan jarum jam menjadi sesuatu yang bernilai untuk merangkai impian semua smartHAJJ, yakni haji mabrur. Kembali pada realitas, -bukan berarti selama libur bersama keluarga kita berada di luar kehidupan riil-, tetapi menghadapi kenyataan bahwa didepan kita terdapat medan juang untuk segera menyingsingkan lengan baju agar sigap melayani para tamu-Nya.

Khusus dalam pelayanan smartHAJJ, Cordova memiliki ciri khas dengan HajjGuard-nya (HG). Sebagian team yang menjadi HG menjadi pelayan tamunya salama 24 jam, baik selama persiapan di Tanah Air, maupun ketika perjuangan sedang berlangsung (di tanah suci). HG ini lah yang senantiasa mendampingi para Hujaj Cordova (smartHAJJ) dalam melakukan persiapan meraih predikat haji mabrur. Segala persiapan baik mental, wawasan dan hal lainnya menjadi fokus para HG. Jika diistilahkan HG inilah yang akan memonitoring ‘hidup matinya’ tujuan utama berhaji. Laiknya para guard dalam menjaga sosok very very important person (VVIP), ia akan menjadi tonggak utama dalam merealisasikan tujuan mulia para tamu Allah.

Pun demikian dengan sejarah penamaan smartHAJJ bagi setiap jemaah haji Cordova, tiada lain sebagai goresan sejarah dalam perjalanan haji Indonesia, yakni memberikan pencerdasan jemaah haji dalam berhaji. Mereka tidak hanya dilayani oleh para HG, tetapi jua melayani jemaah haji lainnya di Tanah Suci. Logikanya, ketika para haji telah mampu melayani jemaah lainnya, automatically mereka telah benar-benar paham bagaimana berhaji yang smart untuk dirinya sendiri. Subhanallah…selain sebagai tamu-Nya mereka juga memposisikan sebagai ‘khodim’ atau pelayan para tamu-Nya di Tanah Suci. Dengan demikian, satu-satunya jalan menuju cita mulia itu adalah menciptakan keseriusan yang saling bahu membahu antara HG dan smartHAJJ.

Agenda yang paling terdekat adalah Manasik Integral, Manasik ini akan berlangsung selama dua hari, dan menetap di tenda akan menjadi bagian dari ikhtiar kita tuk menggapai kemabruran haji. Selain dinilai sangat penting, manasik nanti akan menjadi pembuktian bahwa para calon tamu Allah mengikuti sunah tuk belajar dan menggapai manasik yang sesungguhnya. Bukan hanya teori yang kita dapatkan, insya Allah semua gambaran sedetail mungkin mengenai perjalanan haji akan kita dapatkan pada manasik nanti.

Melalui doa-doa dari calon “makhluk suci” (Para tamu Allah), atas izin Allah, Cordova senantiasa menjaga pelayanan yang bonafit, berusaha tuk terus memberikan pelayanan yang smart, guna membantu kesyahduan dan kekhusyuan ibadah. Yaa Rabb…

Saat lebaran kemarin, -tentunya- banyak cerita dari setiap kita. Kisah yang menggambarkan bagaimana ritual kemenangan itu berlaku pada setiap orang yang merayakannya. Bahkan dikampung saya, non-muslim pun ikut merayakan dengan mengunjungi setiap rumah untuk sekedar ‘salaman’ dan membagi-bagi parcel. Pada hari itu, semua saudara dan kerabat saling berbagi rasa, saling membawa makanan, tidak jarang juga diantara kita saling membagi amplop untuk anak-anak kecil yang ceria menanti pembagian ‘ampau’ atau sering diistilahkan dengan uang ‘THR’. Berapa lembaran uang baru kerap diburu mereka, dikumpulkan dan dijajakan untuk membeli mainan ala lebaran. Tidak jarang juga yang di-stor-kan pada orang tuanya, sehingga setiap ada yang membagi, si anak langsung memberikan uang itu pada ibunya. Kontan dengan perasaan sedikit malu, si ibu ‘menampung’ uang ‘THR’ anak. Semakin banyak anak, semakin banyak ‘ampau’ gurau ku melihat sekelumit fenomena lebaran setiap tahunnya. Dunia anak memang tidak bisa disamakan dengan kita, terlebih dipaksakan untuk memahami makna Iedul Fitri, sebagai momentum pensucian diri, yang mereka tahu, setiap lebaran banyak makanan, banyak saudara, dan juga banyak uang. Pengertian mereka terhadap lebaran iedul fitri, lambat laun akan berubah setelah mereka beranjak dewasa.

Melihat ‘ritual’ pembagian uang lembaran baru di setiap hari raya, membuat saya ingin mencoba melakukan simulasi ringan mengenai pengenalan diri tepat pada momentum hari suci. Sengaja saya mendatangi anak-anak yang sedang berkumpul usai pembagian ‘amplop’ dari saudara-saudaranya. “Siapa diantara kalian yang mau uang Rp. 100.000!” ujarku sedikit berteriak, kontan semua anak berhenti dari aktifitasnya, yang mayoritasnya sedang menghitung uang pecahan mulai dari Rp. 1000, Rp. 5000, Rp. 10.000 dan Rp. 20.000. dan memasukkannya ke dompet mungil yang sengaja dibelikan ibunya menjelang hari raya. Mendengar tawaran saya, serempak mereka mengacungkan tangan sambil bergaya manis penuh senyum dan harap. Sebelum saya kasihkan uang itu kepada yang beruntung diantara mereka, uang seratus ribu berwarna merah dengan masih baru dan rapi itu saya remas-remas hingga lusuh, sekian detik saya meremasnya hingga benar-benar tak tampak uang baru dari Bank. Kemudian saya kembali bertanya, siapa yang masih mau dengan uang lusuh ini (?) Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan.

Setelah itu, saya tidak langsung memberikan uang itu. Saya kembali menawarkan siapa yang mau uang ‘merah’ lusuh itu setelah saya injak dan masukkan kedalam tanah yang berlumpur hingga kotor. Namun tetap saja, anak-anak itu mengacungkan jari mereka. Seakan tidak perduli dengan uang yang sudah kotor, berlumpur dan ‘berubah’ warna. Berebut ingin mendapatkan uang yang sudah kotor itu.

Rasanya, dari simulasi ringan itu, kita memiliki pelajaran berharga tentang bagaimana kita mengenal diri kita. Bagaimana sesuatu yang bernilai itu tidak bisa mudah terkurangi hanya karena bentuk fisiknya yang lusuh dan kotor. Uang merah yang kotor itu tetap berharga Rp. 100.000. pun demikian dalam aktivitas hidup kita sehari-hari, sering kita merasa lusuh, kotor, tertekan, terinjak, tidak berarti dan merasa rapuh ketika dihadapi masalah. Kita seringkali merasa tak berguna, tak berharga di mata orang lain, diacuhkan dan kadang tak dipedulikan. Namun sesungguhnya yang terjadi adalah bahwa kita tak akan pernah kehilangan nilai di mata Allah SWT. Bagi-Nya, lusuh, kotor, tertekan, ternoda, selalu ada saat untuk ampunan dan maaf. Kita tetap tak ternilai di mata Allah SWT.

Nilai dari diri kita, tidak timbul dari apa yang kita sandang, atau dari apa yang kita dapat. Semuanya berada dalam jiwa, jika nilai jiwa kita sangat berharga, meski raga dalam kondisi lusuh dan kotor, kita tetap sebagai manusia yang tak bernilai, yang diperebutkan oleh manusia lainnya.

Laiknya stasiun suci, Allah SWT memberikan ruang waktu agar hamba-Nya senantiasa menjaga keteguhan jiwa dalam merangkai nurani yang suci. Tetap dalam dekapan ilahi, dan selalu terjangkau oleh sentuhan ukhrawi. Setelah melewati sebuah kemenangan hakiki yang terlahir kembali dengan kemulian hari Idul Fitri, kita melaju pada gerbang yang juga menghadapi ‘stasiun suci’ selanjutnya. Anugrah yang Allah berikan berupa ‘spase’ waktu untuk ‘bersuci’ antara Ramadhan dengan hari Arafah adalah ketetapan yang teramat indah sebagai umat Khatamul Anbiya Muhammad SAW. Keep The Faith, menjaga iman kita agar senantiasa bersemi hingga ‘panggilan’ terakhir (kematian) adalah goal setting Islam dalam mengatur kehidupan manusia muslim. Terlebih bagi semua calon tamu Allah, memasuki bulan Syawal, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah adalah gerbang menuju pelataran suci yang akan meraih kemabruran hakiki. Seperti yang sering tertuang dalam artikel-artikel islami, bahwa untuk mendapatkan haji yang mabrur dibutuhkan proses ‘pensucian’ diri semenjak dini, tidak instan dan mudah diraih hanya membaca buku dan keterangan tentang pelaksanaan manasik haji. Momentum ‘Kemenangan’ Iedul Fitri lah yang rasanya sangat dominan dalam menjaga keimanan agar terus bersemi.

Bagi muslim yang belum berkesempatan menuju Baitullah, maka Islam memberikan juga kesempatan yang teramat indah untuk mendapatkan kemulian di Sisi-Nya, yakni berupa shaum Arafah disaat jemaah haji berada di Arafah untuk wukuf (9 Dzulhijjah). Di bulan haji terdapat amalan, doa dan munajat yang bila diamalkan akan memperoleh keutamaan yang sangat agung. Amalan-amalan tersebut tidak hanya dikhususkan bagi mereka yang sedang melakukan haji di tanah suci. Tetapi juga bagi kita yang tidak sedang melakukan haji.

Jika kita belum melaksanakan ibadah haji, maka mendawamkan dalam setiap doa untuk selalu berharap bisa melakukan haji. Karena dengannya, harapan kita kepada Allah agar diberi kesempatan, keluasan rizki dan kemudahan untuk melaksanakan haji semakin terlatih dalam setiap pengharapan.

Kembali pada tema diatas, benar bahwa menjaga lebih sulit dari memulai. Pun demikian dengan menjaga sebuah ‘Faith’, rintangan dan halangannya kerap membatasi setiap langkah kita. Bagaimana mengendalikan nafsu, menjadi kepiawaian yang sulit saat sendi dan rongga darah kita selalu dimasuki setan sang penjegal keimanan. Bagaimana menjaga konsistensi iman yang terus berkobar adalah perjuangan niat yang harus konsisten dalam setiap langkah. Namun, atas Kerahiman-Nya, Allah SWT memberikan peluang waktu sebagai ‘stasiun suci’ untuk melakukan pembenahan diri, stasiun suci itu terletak pada dua hari raya umat Islam selain hari Jum’at.

Tujuan akhir kita adalah panggilan terakhir. Karena panggilan terakhir itu tidak bisa di prediksi waktunya, maka hanya dengan ‘Keep the Faith’ lah kebahagian abadi kan diraih. Sejatinya, hari kemenangan Iedul Fitri dan menjelang yaumul Arafah menjadi momentum yang sangat berharga untuk ‘mengkampanyekan’ Keep The Faith dalam perjalanan hidup kita.

Pada suatu kesempatan seorang teman pernah bercerita, bahwa dalam segala hal dirinya tidak bisa menjadi orang nomor dua di komunitasnya. Maksudnya, ia selalu harus menjadi pemenang dalam setiap bidang. Baik dalam kejuaraan olahraga, struktur organisasi, terlebih dalam peringkat akademis di kelasnya. Bertarung mendapatkan kursi teratas adalah sebuah kelaziman yang harus ia peroleh dimana dan kapan pun. Dalam kehidupannya, ia sangat memerlukan rasa ‘menaklukkan’, suatu rasa superior dan rasa menang terus berputar dalam langkah hidupnya. Ia merasa bahwa suatu ‘kemenangan’ selalu dimulai dari bagaimana ia menghargai pencapaiannya setiap hari. Ia merasa, tanpa rasa menang, sepertinya ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Karena itu, konsekwensi dari pencapaiannya itu harus ia lakukan dengan gigih dan penuh juang. Sekilas, kita memandang karakter seperti itu mencerminkan sosok ambisius yang tak ingin kalah. Negatif dan sulit diterima di masyarakat majemuk. Tetapi, jika kita telaah secara objektif, ternyata sifat dan kegigihan dalam meraih citanya untuk selalu menjadi ‘juara’ adalah hal yang sangat positif dan sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Sang Maha Kuasa. Kenapa demikian (?) Cobalah tengok bagaimana ia harus menjadi ‘Sang’ champion setelah melalui proses yang tidak mudah. Pantang menyerah, gigih dengan ledakan semangat yang jauh dari mental kerupuk yang mudah hancur hanya dengan remasan tangan.

Kemenangan adalah hasil akhir dari apa yang diinginkan Allah SWT pada setiap hamba-Nya. Menjadi juara dari setiap etape kewajiban yang telah dilaluinya. Untuk meraih hasil akhir yang positif, tentunya setiap hamba harus melakukan pencapaian yang maksimal. Gigih, tiada keluh maupun kesah, totalitas, serta siap menerima segala apa yang terjadi dari proses pencapaiannya itu. Setelah melalui proses demikian, maka di mata Allah ia telah menjadi sosok juara yang memenangi etape kewajibannya. Logika sederhananya, bagaimana seseorang menjadi peringkat pertama di kelasnya, jika tidak melalui proses belajar yang maksimal. Atau bagaimana ia menjadi seorang yang memiliki kekayaan berlimpah secara alami, tanpa bekerja keras yang smart. Begitu seterusnya. Karena sesuatu kemenangan tidak bisa diraih secara instan dan kebetulan.

Pun demikian, dalam kehidupan fana ini, Allah SWT selalu menginginkan kita menjadi juara disetiap momentum. Bagaimana Allah akan membuka keberkahan rizkinya, tanpa melalui proses kita mendistribusikan kembali rizki yang kita miliki. Dan bagaimana mendapatkan rizki yang kita peroleh tanpa bekerja dan berkarya dengan maksimal. Bagaimana pula Allah menjadikan ‘pemenang’ setiap muslim pada hari raya, tanpa melalui proses ‘kesholehan’ di bulan suci ramadhan.

Pada kenyataannya, kehidupan ini setiap hari memberikan kesempatan untuk menaklukan dan memenangi setiap proses perjuangan. Tetapi penghargaan dan perayaan kemenangan itu harus dimulai oleh diri sendiri. Kongkritnya, setiap kita bisa mencapai target pada hari tersebut, itu adalah sebuah kemenangan.

Rasanya, pada momentum ramadhan ini, kita harus belajar bersama untuk menjalani setiap detik kehidupan sebagai seorang pemenang. Karena itu adalah jati diri kita sesungguhnya. Karena sudah jelas, Allah Azza wa Jalla pun menginginkan kita menjadi sang juara yang memenangi setiap perjuangan hidup.

Setiap orang memiliki potensi berbuat dosa, namun juga memiliki jalan keluar dari belenggu dosa tersebut. Tiada manusia yang suci dari dosa. Semuanya pernah melakukannya, tetapi sebaik-baiknya pendosa adalah yang bertobat. Terlebih pada kondisi saat ini, ketika hitam dan putih sudah sulit lagi untuk dibedakan, warnanya menjadi bias, sulit kembali memberi warna yang jelas. Seringkali kebenaran harus dipecundangi oleh setumpuk materi, sehingga sulit atau bahkan tidak mungkin kita menemukan orang yang tidak pernah sedikitpun melakukan dosa walau hanya satu hari, bahkan ketika kita merasa tidak pernah berbuat dosa seharian pun, justru itulah dosa kita. Merasa suci dari sebutir dosa. Jika kelak manusia berlabuh di Surga-Nya Allah, bukan semata-mata karena nilai pahala-nya lebih besar dari tumpukan dosa, tetapi sungguh itu adalah Karunia Terbesar-Nya. Sebab jika saja diperhitungkan antara kenikmatan yang diraih dengan kebaikan yang kita kerjakan, rasanya tidak akan pernah bisa menyamai keduanya. Tetap, manusialah industri dosa terbesar setelah iblis. Ibarat gelas berisi air bening, sedikit demi sedikit dosa akan memberikan noktah hitam dalam gelas itu. Maka jiwa manusia pun akan terus berada dalam kekeruhan. Seperti sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan perbuatan dosa, maka dalam hatinya akan ada noda hitam, apabila ia berhenti dari dosa itu lalu beristigfar dan bertobat, maka hatinya akan bersih kembali.” (HR. Tirmidzi).

Sebelum kita bicara mengenai escape dari dosa, rasanya kita harus tahu bibit dosa yang membuat gumpalan yang menjaring dosa-dosa selanjutnya. Karenanya jika kita telusuri sejarah Islam dan keterangan lainnya, ternyata ada tiga metafor dari bibit-bibit dosa. Karena dari hal itu, ia akan berubah menjadi penghancur manusia secara massal, dunia dan akhirat. Dosa pertama yang akan menjadi metafor, atau cikal bakal berkembangnya dosa adalah rasialisme atau sombong. Yakni, ketika iblis membangkang dan tidak mau menjalankan perintah Allah untuk mengakui ‘Superioritas’ Nabi Adam dengan cara simbolik, bersujud kepadanya. Alasannya, iblis merasa lebih tinggi karena diciptakan dari api, enggan bersujud kepada Adam yang hanya diciptakan dari tanah. Itulah yang merupakan dosa pertama makhluk. Kesombongan karena rasialis adalah perasaan secara apriori lebih tinggi dari orang lain hanya karena asal-usul.

Kedua, dosa yang dicerminkan dalam pelanggaran nabi Adam terhadap larangan Allah untuk mendekati sebuah pohon dan memakan buahnya. Hal itulah yang membuat Nabi Adam dan Siti Hawa terusir dari surga. Yah, itulah dosa ketamakan. dosa keinginan memiliki sesuatu yang bukan menjadi haknya. Dosa yang akan menjadi bibit penumbuh dosa lainnya. Sebuah aktivitas yang juga sering terjadi dalam sebuah perebutan kepentingan. Jika bukan karena perut dan nafsu yang tamak, maka tidak akan terjadi lingkaran dosa yang terus bertambah. Namun –sejatinya- bukan berarti kita menyalahkan Adam As. kita berada di muka Bumi, tetapi karena Adam manusia lah yang menjadikan menandakan bukan makhluk kebal dosa. Juga –boleh jadi- mulainya ‘skenario’ Allah SWT dalam memberikan peranan setiap makhluk untuk melakoni perjalanan hidup.

Ketiga adalah dosa hasad atau dengki. Yakni dosa yang pertama dilakukan oleh anak Adam As (Kabil terhadap Habil). Betapa besarnya peranan dengki dalam perkembangan dosa, maka Allah SWT memberikan porsi pokok dalam pembahasan masalah dengki ini dalam dua ayat terakhir pada surat Al-Falaq. Di dalamnya ada permohonan berlindung dari kepada Allah dari kejahatan orang yang iri dan dengki. Berbahayanya kejahatan dengki karena dengki adalah kejahatan sepihak, yang sulit terdeteksi siapa yang melakukannya. Kedengkian adalah kejahatan yang luar biasa, sehingga Rasulullah SAW bersabda, “Kamu harus hindari dengki, sebab dengki itu memakan seluruh kebaikan kita sebagaimana api memakan kayu bakar yang kering.

Setelah kita tahu 3 bibit dosa yang akan melebar menjadi ‘pemusnah’ massal, maka “Escape” dari lingkaran dosa itu adalah mengaku akan dosa dan mengecilkan jiwa serta meng-Agungkan Allah SWT (Taubatan Nashuha), seperti yang dilakukan Nabiyullah Adam As bersama istrinya, Siti Hawa. Inti dari escape-nya adalah mengakui dan meninggalkan kesalahan yang dilakukan.

Yaa Allah Sungguh kami telah mendzolimi diri kami sendiri, Jika Engkau tidak mengampuni kami, Sungguh pastilah kami termasuk golongan orang yang merugi”.

Tahukah Anda, hari ini 24 Agustus, tepat 50 tahun yang silam adalah momen diawalinya pendirian Masjid Istiqlal yang kini menjadi kebanggan Jakarta dan Indonesia. Ide awal pendirian Masjid Istiqlal bermula pada tahun 1953 dari beberapa tokoh antara lain KH. Wahid Hasyim (Menag RI pertama), H. Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto dan Ir. Sofwan serta beberapa ulama lainnya yang ingin mendirikan sebuah masjid megah yang akan menjadi kebanggan warga Jakarta khususnya sebagai Ibukota dan juga rakyat Indonesia secara keseluruhan. Maka kemudian dibentuklah Yayasan Masjid Istiqlal pada 7 Desember 1954. Nama Istiqlal sendiri diambil dari bahasa Arab yang artinya Merdeka, dipilih sebagai simbol dari rasa syukur bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SWT. Presiden Soekarno menyambut baik ide tersebut dan mendukung berdirinya Yayasan Masjid Istiqlal dan selanjutnya membentuk Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal.

Saat penentuan lokasi masjid, sempat timbul perdebatan antara Bung Karno dan Bung Hatta. Bung Karno mengusulkan lokasi di atas bekas benteng Belanda Frederick Hendrik dengan Taman Wilhelmina yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Van Den Bosch pada tahun 1834 yang terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral dan Jalan Veteran. Sementara Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid terletak di tengah-tengah umatnya yaitu di Jalan Thamrin yang pada saat itu disekitarnya banyak dikelilingi kampung, selain itu ia juga menganggap pembongkaran benteng Belanda tersebut akan memakan dana yang tidak sedikit. Namun akhirnya Bung Karno memutuskan untuk membangun masjid di lahan bekas benteng Belanda, karena di seberangnya telah berdiri gereja Kathedral dengan tujuan untuk memperlihatkan kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia.

Kemudian pada tahun 1955 Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal mengadakan sayembara rancangan gambar arsitektur masjid Istiqlal. Dewan Juri diketuai oleh Presiden Soekarno. Bagi pemenang disediakan hadiah berupa uang sebesar Rp. 75.000; serta emas murni seberat 75 gram. Sebanyak 27 peserta mengikuti sayembara mengirimkan rancangannya, namun akhirnya dipilih 5 peserta yang memenuhi syarat : 1. F. Silaban dengan rancangannya “Ketuhanan”, 2. R. Oetoyo dengan rancangannya “Istighfar”, 3. Hans Groenewegen dengan rancangannya “Salam”, 4. Mahasiswa ITB (5 orang) rancangannya “Ilham 5”, 5. Mahasiswa ITB (3 orang) rancangannya “Chatulistiwa”.

Setelah proses penjurian yang panjang dengan mempelajari rancangan arsitektur beserta makna yang terkandung didalamnya berdasarkan gagasan para peserta maka pada 5 Juli 1955, Dewan Juri memutuskan desain rancangan dengan judul “Ketuhanan” karya Frederich Silaban dipilih sebagai pemenang model dari Masjid Istiqlal. Frederich Silaban adalah seorang arsitek beragama Kristen kelahiran Bonandolok Sumatera, 16 Desember 1912, anak dari pasangan suami istri Jonas Silaban Nariaboru. Ia adalah salah satu lulusan terbaik dari Academie van Bouwkunst Amsterdam tahun 1950. Selain membuat desain masjid Istiqlal ia juga merancang kompleks Gelanggang Olahraga Senayan. Untuk menyempurnakan rancangan Masjid Istiqlal, F. Silaban mempelajari tata cara dan aturan kaum muslim melaksanakan shalat dan berdoa selama kurang lebih 3 bulan. Selain itu ia juga mempelajari banyak pustaka mengenai masjid-masjid di dunia.

Taman Wilhelmina di depan Lapangan Banteng saat itu dikenal sepi, gelap, kotor dan tak terurus. Tembok-tembok bekas bangunan benteng Frederik Hendrik dipenuhi lumut dan rumput ilalang dimana-mana. Pada tahun 1960, dikerahkanlah ribuan orang yang berasal dari berbagai kalangan masyarakat, pegawai negeri, swasta, alim ulama dan ABRI bekerja bakti membersihkan taman tak terurus di bekas benteng itu.

Dan tepat dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, pada 24 Agustus 1961 dan masih dalam suasana perayaan kemerdekaan RI, dilaksanakanlah pemancangan tiang pertama Masjid Istiqlal oleh Presiden Soekarno.

Proses Panjang Pembangunan Masjid Istiqlal

Seiring dengan iklim politik dalam negeri yang cukup memanas pada waktu itu, proyek ambisius ini tersendat-sendat pembangunannya, karena berbarengan dengan pembangunan monumen lain seperti Gelora Senayan, Monumen Nasional, dan berbagai proyek mercusuar lainnya. Hingga pertengahan tahun ’60-an proyek Masjid Istiqlal terganggu penyelesaiannya. Puncaknya ketika meletus peristiwa G 30 S/PKI tahun ’65-’66, pembangunan Masjid Istiqlal bahkan terhenti sama sekali.

Barulah ketika Himpunan Seniman Budayawan Islam memperingati miladnya yang ke-20, sejumlah tokoh, ulama dan pejabat negara tergugah untuk melanjutkan pembangunan Masjid Istiqlal. Dipelopori oleh Menteri Agama KH. M. Dahlan upaya penggalangan dana mewujudkan fisik masjid digencarkan kembali. Semula pembangunan masjid direncanakan memakan waktu selama 45 tahun namun dalam pelaksanaannya ternyata jauh lebih cepat. Bangunan utama dapat selesai dalam waktu 6 tahun tepatnya pada tanggal 31 Agustus 1967 sudah dapat digunakan yang ditandai dengan berkumandangnya adzan Maghrib yang pertama.

Secara keseluruhan pembangunan masjid Istiqlal diselesaikan dalam kurun waktu 17 tahun. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari 1978. Kurun waktu pembangunannya telah melewati dua periode masa kepemimpinan yaitu Orde Lama dan Orde Baru

Semoga Masjid Istiqlal terus menjadi kebanggaan umat, seiring dengan semakin semaraknya kegiatan ke-Islam-an di dalamya. Amiin.

(Dari Berbagai Sumber)