Estafeta perjuangan dalam menaburi kemabruran haji sedang dilakoni serius oleh team Cordova. Bahu-membahu antara trisula pucuk pimpinan bersama staff dan hajjguard Cordova dalam memberikan pelayanan yang tidak setengah-setengah bagi para jemaahnya. Jemaah yang sudah dirindukan oleh ka’bah dan makhluk suci lainnya itu, menjadi motivasi yang sangat ampuh tuk melakukan segala explorasi guna meraih impian terbesarnya sebagai haji yang mabrur. Untuk itu, segala perangkat menuju common holy purpose adalah suatu bentuk ikhtiar dalam mewujudkan pelayanan suci. Grand Manasik yang diselenggarakan di sebuah manasik park, Sabtu dan Ahad kemarin menyisakkan kerinduan yang sangat pada Baitullah. smartHAJJ Cordova melakoni setiap etape dengan penuh antusias, mereka melakukan dengan penuh khusyuk laiknya sedang melakukan ibadah haji dengan beragam kondisi seperti di tanah suci. Bagaimana setiap bangunan suci terpampang di setiap sudut arena manasik. Begitu juga figuran-figuran askar (polisi) di tanah Suci, orang-orang Arab, infrastruktur, berikut perlengkapan dan peralatan yang nyaris sama dengan kondisi riil disana.

Tema ‘Best for Last’ dari Grand Manasik ini juga membawa relung jiwa setiap orang yang berada di arena itu, terbawa dengan goal setting yang terbangun. Melakukan ibadah sebaik mungkin, sebelum kematian tiba menghadang. Atau kita jadikan peribadahan haji ini dengan sangat baik, seolah inilah persembahan terakhir kita dalam mengarungi samudra hidup. Terlebih kehadiran Pepeng, Ferrasta Soebardi bersama keluarga. Menceritakan bagaimana penderitaannya selama mengalami sakit Multiple Sclerosis (MS), salah satu penyakit langka di dunia yang menyerang sistem daya tahan tubuh Pepeng. Penyakit ini dapat menimbulkan kelumpuhan di beberapa bagian tubuh penderita. Pepeng sendiri pertama kali mengetahui ia menderita penyakit MS pada tahun 2005, ketika terjatuh dan tidak bisa bangun dari jatuhnya.

Ia menceritakan semua peristiwa yang menimpa dirinya dan keluarga, namun dengan keyakinan yang kuat dan khusnudzon akan karunia ALLAH SWT, maka ia bersama, istri dan keluarganya tegar menjalani semua yang terjadi. Menjadikan segalanya menjadi ladang amal yang harus dikerjakan sebaik mungkin, melakukan yang terbaik sebelum ajal tiba.

The Grand Manasik kemarin, bukan hanya sebagai pengetahuan yang wajib di ketahui jemaah haji, manasik itu juga sebagai momentum ‘pendeklarasian’ ratusan hati yang terikat dalam satu rasa. Yah, satu rasa tuk perjalanan cinta.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Cordova selalu menjadikan manasik sebagai gambaran riil dalam menyesuaikan semua aspek yang terjadi di tanah suci. Meski –tentunya- tidak akan sama persis, namun pendekatan dalam beragam sektor menjadi gambaran smartHAJJ dengan sangat detail. Sebagaimana gaya Cordova, penyampaian materi pun bukan hanya melalui metode tradisional yang acap menegangkan otot, dan mengkatupkan mata, kondisi menyenangkan dalam manasik itu menjadi bekal dalam perjalanan riil-nya nanti.

Selangkah lagi jemaah haji akan menginjakkan kakinya ke Tanah suci. Islam kan kembali melihatkan keindahannya. Bersatu dalam satu ritme di lembah suci. Tiada rafast, fusuk terlebih jidal, bersatu dalam kebersamaan rasa, tunduk pada titah Maha Kuasa. Melangkah bersama menggapai surga, mencipta kemabruran jiwa. Semua manusia muslim –tentunya- mendamba perjalanan itu, karena haji adalah muara peribadatan manusia di muka bumi.

Namun apa daya jika perjalanan haji itu, kini menjadi sangat rumit, kompleks, dan serba tidak pasti untuk berangkat atau tidak, bahkan bagi mereka yang termasuk golongan masyarakat ‘super mampu’ pun harus sama mengantre di nomor waitinglist hingga beberapa tahun kebelakang. Mungkin, hanya sebagian kecil penguasa atau yang ‘dekat’ dengan penguasa, atau yang memiliki akses ke penguasa lah yang mudah untuk merealisasikan niatannya menjadi kenyataan. Malam ini merilis nama Jemaah haji, besoknya sudah mendapat kuota haji tahun ini juga. Ajaib, demikianlah yang terjadi, haji sudah menjadi industri yang sangat menggiurkan, bahkan bisa menjadi alat kepentingan segelintir orang dalam mengokohkan legitimasi sebagai orang ‘penting’ di republik ini.

Dalam industri haji, kawan bisa menjadi lawan. Kamuflase menjadi identitas keseharian yang sulit terprediksi, sekalipun oleh psikolog ternama. Yang ada adalah kepentingan dan kenyamanan parsial, semuanya telah menjadi air yang mengalir, demikianlah permainan ini, “biasalah seperti bukan pemain lama saja kau”, demikian ucap sahabat dengan logat khas daerahnya yang menyinggung tentang ‘kuota jatah’ bagi segelintir orang.

Terlepas dari semua itu, yang jelas kondisi ketidakpastian -jika tidak dikatakan kesemrawutan- bisnis plan haji tahun-tahun selanjutnya akan terus menggurita dan mengguliti industri travel haji. Semuanya akan serba tidak pasti. Karena –memang- ini terjadi bukan hanya di negeri kita. Di semua Negara, kuota dan kepastian berangkat haji menjadi serba tak terprediksi. Terlebih dengan adanya perluasan Masjidil haram yang konon ‘memangkas’ lebih dari 1000 hotel di sekitar area haram menjadi alasan lain tentang keterbatasan akomodasi.

Kreativitas dan inovasi dalam menjaring konsumen haji lah yang –sejatinya- akan membantu mengisi seat program haji setiap tahunnya, karena –memang- sudah dapat terpetakan dari sekarang.

Jika pesan Rasul untuk tidak rafast, fusuq dan Jidal saat berhaji, -tentunya- tidak melegitimasi untuk bisa berbuat semua larangan haji itu saat mengelola calon Jemaah haji. Semua pihak menjadi perekat untuk bersama meraih cita-cita tertinggi dalam pelaksanaan haji. Bukan hanya menciptakan kemabruran pribadi seorang Jemaah, namun lebih luas berharap kemakmuran negeri tercinta dari sekian banyak para hujaj Indonesia.

So’ let’s get Mabrur for Indonesia Makmur!

Cordova Travel Haji Jakarta

Berbuat baik sebelum segalanya berakhir, adalah pertanda manusia visioner yang selalu mengedepankan aksi sebelum sesuatunya hancur tak bermakna. Salah satu hikmah kenapa kematian dirahasiakan adalah memberikan pilihan manusia agar selalu melakukan yang terbaik setiap hal yang dikerjakannya. Karena ia tidak tahu kapan kematian itu menyapa langkahnya. Kapan, dimana dan sedang apa ia menghembuskan nafasnya. Kematian itu adalah gerbang pertama manusia menghadapi masa depan abadinya. Sebab melakukan yang terbaik sebelum ajal tiba adalah satu pilihan tuk men-genggam kunci kenikmatan abadi di kampung akhirat.

Dikisahkan seorang lelaki kaya ingin bunuh diri karena kehidupan dan hartanya gagal membuat ia bahagia. Semua yang ia hasilkan dari jerih-payahnya seolah memusuhi dan menjadi faktor utama dalam merusak segala kebahagian hidup. Hidupnya terasa sesak dengan segala problematika yang ia ciptakan sendiri. Istrinya terasa semakin jauh dan melelahkan berhadapan dengannya, masalah kecil selalu menjadi ‘perang besar’ dengan bumbu teramat pedas tuk diucapkan.

Gagal dalam mendidik buah hati, anak-anaknya semakin terasa durhaka dan tiada hormat kepadanya. Setiap saat selalu muncul masalah dikarenakan ulah sang anak. Perkelahian, tawuran, hingga terjerat kasus narkoba. Semuanya menjadi sangat menyakitkan, terlebih mereka –sesungguhnya- adalah asset yang paling indah dalam kehidupannya. Di lingkungan kantor, ia tidak lagi dihormati, karena –memang- ia jarang pula menghormati atasan maupun bawahannya. Tertekan dengan suasana yang menghimpit dada, ia tak kuasa tuk menjalani kehidupannya lagi. Ia lebih memilih untuk segera mengakhiri hidupnya, namun sebelum waktu eksekusi itu dilaksanakan, ia ingin yang terakhir kalinya mengadu ke salahsatu ustadz terpandang di desanya.

Dengan sedikit tergesa, ia menceritakan keinginan untuk membunuh dirinya kepada sang ustadz. Dengan sangat detail ia juga menceritakan semua alasan untuk sebuah niatan besar dalam hidupnya itu, mengakhiri dirinya. “Bagaimana Ustadz, saya sudah letih, tidak tahan dengan semua kehimpitan ini, bisakah ustadz memberikan cara mengakhiri hidup namun tetap dalam koridor khusnul khotimah” (happy ending).

Dengan bijak sang Ustadz memahami kondisi dia, dan mengganggukan keinginnannya. Setelah itu ia mohon izin ke belakang untuk membawakan obat atau racun untuk diminum oleh si lelaki yang sudah ngebet mengakhiri hidupnya dengan paksa. “Ini saya bawakan racun ter-keras di kota ini, minumlah”, seru Sang Ustadz dengan membawa botol kecil berwarna putih dengan penutupnya. Tanpa menunggu lama-lama, si lelaki langsung menegaknya sampai habis.

“Karena unik dan kerasnya racun ini, maka efeknya akan timbul setelah 24 jam dari sekarang. Maka, jika kau ingin khusnul khotimah, mati dalam keadaan baik, selamat atau happy ending, maka lakukanlah kebaikan sekecil apapun dengan sempurna, lakukan yang terbaik, karena kematian mu akan tiba esok hari tepat jam 8 pagi ini”, seru sang ustadz dengan serius ke lelaki yang akan menghadapi kematian ini. “Baiklah ‘Stadz, terimakasih, saya mohon izin pulang”. Jawabnya dengan sedikit lemas.

Selama diperjalanan menuju rumah, semua yang ada dalam pikirnya menerawang dan mengingat apa yang terjadi sejak ia kecil. Memorinya terus merayap kepada sosok-sosok yang telah mengisi kehidupannya selama ini. Ia menjadi ingat pada kakek-neneknya yang sudah belasan tahun meninggal. Ia juga mendadak ingat ketika kakeknya marah dan memukul kakinya dengan sejadah karena susah dibangunkan untuk sholat subuh. Hingga terus menerawang ingatannya menuju kenyataan yang ia hadapi saat ini.

Setiba di rumah, ia langsung menemui istrinya dan memeluknya erat. Seraya kaget, sang istri terperanjat “Ada apa seh!” Tanya istrinya dengan ketus. Karena memang sudah lama mereka tak pernah bersua dengan mesra. “Mah, maafkan papah. Selama ini papah tak pernah merhatikan mamah, papah gak peduli dengan perasaan yang mamah rasakan. Papah minta maaf sayang, mungkin hari ini adalah hari terakhir papah memeluk dan melihat mamah, maafkan papah sayang”.

Kontan saja dengan ketulusan itu, sang istri yang awalnya merasa heran, kini malah lebih meledak akan tangisannya yang masih dalam pelukan suaminya. “Maafin mamah juga Pah, mamah yang gak bisa buat papah bahagia di rumah, mamah banyak nuntut ke papah, banyak maunya, maafin mamah yang belum bisa jadi istri sholehah pah, maafin mamah”, tangisnya meledak dalam hangatnya cinta suci.

Setelah saling memaafkan, lelaki yang nyawanya kian habis termakan detik waktu itu, segera menghampiri anak-anaknya. Memeluknya dengan sangat erat, airmatanya mengalir dengan deras, seolah enggan tuk melepas dari sentuhan kulit orang yang ia sayangi. Bertubi-tubi ia menciumi kening, wajah dan kepalanya. Semakin erat cengkraman tangannya memeluk, jangankan ditinggalkan, meninggalkannya pun tak kuasa ia hadapi. Sayangnya teramat besar, terlebih ia telah lama menyia-kan anak-anaknya tanpa pendidikan baik dalam rumahtangga. Kesedihan yang mendalam teramat ia rasakan, saat maut kan segera menjemput dengan meninggalkan mereka seperti kondisi sekarang.

Lama ia mendekap anak-anaknya seraya enggan melepaskannya. Persis yang dilakukan ibunya. Si anak, yang awalnya kaget kini tenggelam dengan tangisan airmata, bersatu dengan hangatnya cinta ayah dan anak.

Dalam sisa waktunya ini, ia enggan tuk melepas sesuatu dari mulutnya terkecuali dzikir dan perkataan baik kepada setiap orang yang akan ditemuinya. Meski enggan tuk melangkah dan berangkat kantor yang terakhir kalinya dalam hidup, karena masih kurang cukup waktu perjumpaan terakhirnya dengan keluarga tercinta.

Ia berjalan dengan segala kerendahan, menyapa setiap orang yang dilaluinya, dan memperbanyak sedekah. Semuanya ia kerahkan demi Best for Last yang sudah di depan mati. Melakukan –sekuat tenaga- apa yang terbaik pada detik-detik kehidupannya. Setelah melakukan kebaikan dengan totalitas yang terbangun dari hati, dengan cepatnya ia mendapatkan keindahan hidup yang sesungguhnya. Keluarganya kembali dalam dekapan romantisme hidup, lingkungan kerjanya menjadi orang-orang yang sebaliknya memberikan kebahagiaan kepadanya, tetangganya dan semua orang menjadi sangat bersahabat dengannya.

Hingga tibalah satu jam waktu yang ditentukan, waktu obat itu akan segera bereaksi dan mematikan rasa. Ia terlanjur bergairah dengan kehidupan barunya, ia kembali bergegas menuju rumah ustadz untuk meminta penawar obat yang telah ia tegak kemarin. Ia masih ingin berbuat baik sebelum segalanya berakhir.

Best for Last, demikianlah kisah seorang yang secara yakin hari kematiannya akan segera tiba. Kebaikan demi kebaikanlah yang akan ia perbuat. Meski ia tak sadar bahwa yang ia minum itu –sebenarnya- adalah air putih biasa. Namun ketika hati dan pikirnya telah terbentuk pada suatu keyakinan bahwa kematiannya akan segera tiba, maka semua prilaku dengan sangat cepat merubah apa yang biasanya ia kerjakan.

Best for Last menjadi sebuah keniscayaan akan sebuah pilihan hidup. Now or never, kerjakan kebaikan sebaik mungkin, sekarang atau tidak selamanya.

So’ menghadapi Grand Manasik kali ini, Cordova menyongsong tema “Best For Last” dengan sebuah tujuan bahwa kita jadikan pengabdian dan peribadahan haji ini, seolah yang terakhir dari kehidupan kita.

“Jika pikir bekerja, pasti ada lelahnya. Namun jika Qolbu yang bekerja, tak pernah cukup tinta menggurat lembar karya yang tercipta” –Cordova Founding Father-

Setiap kita –tentunya- pernah merasakan bagaimana langkah hidup tersendat hanya karena tiada ‘move’ dalam dirinya. Tak ada rasa tuk melanjutkan hamparan medan yang menghadang. Seperti filosopi sepeda yang kan terjatuh kala berhenti dalam putaran jeruji rodanya. Seperti bumi yang kan hancur ketika porosnya tak berfungsi untuk diputar dan memutarinya. Semisal ka’bah yang tak kan pernah berhenti dari putaran thawaf sebelum segalanya musnah. Begitulah ternyata langkah manusia. Fitrahnya terus bergerak dan bergerak, melangkah dan meloncat, menari dan ber-ritme. Terkecuali saat jasad terkujur kakulah ia kan berhenti dari segala pergerakan raga.

Hidup untuk bekerja dan berkarya, melangkah dan bergerak adalah bukti dari kerja dan proses berkarya. Namun terkadang semua itu menemui titik dimana segala komponen berhenti dari jalur alami manusia, sedang ia masih kokoh berdiri hidup dengan kenyataannya.

Suatu saat, saya bercerita pada sosok yang menjadi guru sekaligus orangtua kami di Cordova. “Saya benar-benar stuck dalam berkarya, tidak produktif dalam bekerja”, layaknya gerobak sayur yang mogok ditengah jalan, padahal banyak manusia di Pasar yang sudah menunggu kedatangannya. Atau ibarat pisau yang tumpul, tidak bisa digunakan untuk kepentingan apapun. Saya benar-benar menjadi ‘thing’ yang mudah dan kapan saja di ‘campakkan’ ke sebuah tempat yang teramat rendah.

Merosotnya gairah dan spirit saya menjadi penghambat aliran ‘rizki’ yang kan mengalir pada mulut-mulut mungil penerus estafeta hidup. Bahkan bukan hanya mereka yang berada di rumah, imbasnya –bisa jadi- mengganggu derasnya ‘aliran’ ke puluhan bahkan ratusan jiwa yang menanti hasil proses karya kami. Karena –memang- kami adalah satu yang bersinergi. Satu terhambat, semuanya kan merasakan dampak hambatan tersebut. Itulah sebuah team yang kami pelajari di Cordova.

Mati sebelum ajal. Berhenti ditengah jalan, dan lembut sebelum menjadi bubur. Saat itulah adigium diatas terasa menjadi semacam pelita ditengah gelapnya malam. “Jika pikir bekerja, pasti ada lelahnya. Namun jika Qolbu yang bekerja, tak pernah cukup tinta menggurat lembar karya yang tercipta”. Kalimat itulah yang –sejatinya- menjadi pengobar jiwa tuk kembali menyuntikan rasa menghadapi kenyataan yang ada.

kita bisa sedikit membedakan apa yang dikatakan dengan bekerja keras, bekerja cerdas, dan bekerja ikhlas. Yah’ bekerja keras selalu berorientasi dengan kerjaan fisik yang mudah melelahkan, begitupun dengan bekerja cerdas, meski positif dan menghasilkan lebih dari apa yang mereka kerjakan total dengan fisik. Namun terkadang akan selalu menghadapi titik lelah dalam berfikir. Tetapi dengan kerja ikhlas yang terlahir dari hati, ia akan selalu menempatkan kerja dan karyanya sebagai bagian dari kewajiban ibadah kepada Rabb-nya. Sehingga menjalaninya dengan penuh tanggungjawab, penuh konsentrasi, dan penuh dengan pengabdian.

Jika dirumuskan, mungkin bisa seperti ini; Bekerja keras itu menghasilkan, bekerja cerdas itu melipatgandakan, dan bekerja ikhlas itu menentramkan.

Karena segala sesuatunya bermula dari hati yang menjadi komandan setiap aksi gerak manusia.

“Jika banyak sasaran besar yang tak tercapai, itu karena kita menghabiskan waktu untuk mengerjakan hal yang kurang penting dulu”
–Cordova Founding Father-

Road to Grand Manasik

Pernahkah Anda merasa stuck (?), daya pikir seolah membeku dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, luput dari schedule pekerjaan, lebih parah terjadi semacam disorientasi akan realita dihadapan kita. Diri merasa hina, rendah dan tak berguna untuk berjuang menebang semua rasa itu. Seolah terdekap oleh balutan kuat yang membungkus jiwa tuk berkreasi, pikir tumpul menembus benteng kokoh kepenatan. Tak mampu berbuat baik dengan karya sekecil apapun, tidak berkontribusi pada sel tubuh team yang saling merangkai. Bak luka yang memutus jaring salahsatu kekuatan team. Roboh tak berdaya. Mati kelaparan ditengah lumbung padi. Tenggelam di kolam kering, dan terluka ditengah pesta. Saat seperti itulah sesungguhnya kita benar-benar membutuhkan semacam miracle, yah keajaiban yang –sejatinya- muncul dan –memang- terdapat pula dalam diri kita. Mengenang, melihat dan nostalgia akan apa yang dulu sempat terjadi. Juga membangun kembali kerangka fikir akan sebuah karya hidup.

Setiap hari hidup, mulai dari membuka mata, bekerja, bercengkrama hingga kembali istirahat, tentu akan mengalami berbagai peristiwa. Namun, dari setiap peristiwa itu, selalu ada ungkapan simple nan jujur yang ‘mengganggu’, “Sudah kita isi dengan apa hari ini (?) Satu hal yang konon katanya, membuat kita hidup bahagia adalah mengisi hari dengan berbuat baik. Sesederhana apapun itu, sekecil apa pun, ketika dilakukan dengan tulus dan ikhlas, maka perbuatan baik itu akan menumbuhkan kebaikan demi kebaikan. Begitu pesan bapak, sekaligus guru kami di Cordova. Mengangkat batu yang menghalang jalan, menghibur orang yang sedih, bahkan sekedar memberi makan burung liar disekitar tempat tinggal kita sekalipun, ketika dilakukan dengan penuh keikhlasan maka hal itu akan terus memberikan kebahagiaan hidup, termasuk menjadi salahsatu solusi kepenatan ‘berkarya’.

Hal demikian juga menjadi pintu masuk untuk mengatasi sebagian masalah yang menggelayut dalam ‘eksistensi’ karya kita. Karena awal kesuksesan selalu akan menjadi bekal untuk mencapai kesuksesan-kesuksesan berikutnya. Orang kaya menjadi lebih kaya bukan karena harta yang dimilikinya, namun karena arah yang benar dalam usaha dan kehidupannya, yakni tindakan yang on the track dalam langkahnya, sehingga kesuksesan itu akan muncul berulang-ulang.

Pun demikian jika kita menilik dan memperhatikan disekitar kita, bahkan –mungkin- kita sering mendengar kalimat, “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” think, act, change –sejatinya- bisa merubah paradigma yang tertuang dari istilah diatas, jika kita melihat diri sendiri, apakah kita semakin kaya atau semakin miskin (terlepas apakah kaya atau miskin harta maupun kaya dan miskin jiwa). Jika ternyata kita semakin miskin, maka tiada lain kita bersegera berbalik arah, karena pastinya kita melakukan kesalahan baik disadari ataupun kebodohan yang sebenarnya dirasakan. Atau karena salah menyusun konsep, terperosok akan peta kerja yang tak terkonsep.

Orang kaya yang semakin kaya, ternyata bukan karena dia memiliki harta lebih banyak, namun karena dia sudah berada pada langkah dan arah yang benar. Kesuksesan yang dia capai telah membuat efek domino untuk kesuksesan berikutnya.

Jika kita melakukan kebaikan, minimal satu kali setiap hari. Jika setiap kita terbiasa melakukan, bagaimana kita membayangkan terjadinya sebuah keindahan yang bisa terjadi dari jutaan kebaikan yang rutin dikerjakan. Sebuah harmoni yang pasti akan membawa keberkahan dan keberlimpahan pada setiap makhluk.

Do the best, Bismillah

Road to Manasik

Nampaknya pembahasan mudik pra dan paska lebaran selalu menjadi menu utama untuk diperbincangkan, diberitakan dan dikisahkan setiap media di Indonesia. Karena bukan hanya aktivitas massif yang melibatkan jutaan manusia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, pada rentang waktu yang hampir bersamaan, tetapi juga pergerakan arus ekonomi yang melaju rata ke setiap pelosok desa. Sebagaimana filosopi ‘Mudik’ yang juga berarti hulu sungai, dimana semua aliran air (sumber kehidupan) berawal. Jadi –memang- adakalanya seseorang harus kembali ke daerah asal, sebagai tanda penghargaan dan rasa syukur atas tanah lahirnya. Mudik juga bisa dibilang merupakan sebuah gerakan nasional (kendati tidak secara resmi dinamakan gerakan nasional), semua orang urban untuk kembali ke kampung halamannya. Tradisi ini, bak warisan yang telah turun temurun dari generasi ke generasi. Mereka rela berdesak-desakan, berdiri selama perjalanan di kereta bahkan ada juga yang menempati WC kereta untuk duduk dan istirahat. Semua itu adalah hal yang secara nalar –mungkin- tidak pernah dilakukan selama hari-hari biasa (non mudik).

Kisah dan cerita pemudik memang kerap mengundang media untuk dijadikan ‘rasa’ mudik setiap tahunnya berbeda. Memiliki rasa yang nikmat untuk disuguhkan kepada jutaan pemirsa di Tanah Air. Namun kali ini, mari kita sedikit fokus pada hakikat mudik sesungguhnya, bukan hanya mudik biologis yang sudah pasti membuat raga letih, namun juga kita mengambil posisi mudik dari kacamata lain. Kacamata spiritual yang menegaskan makna mudik sesungguhnya.

Siklus mudik menggambarkan tentang kerinduan manusia akan keberadaan asal muasal penciptaan. Manusia menyadari bahwa dirinya memang berasal dari zat yang kekal (Rabbul Izzati), yang pastinya manusia juga akan kembali kepada-Nya. Mudik merupakan gambaran manusia yang merindukan spiritual di sela-sela kehidupan yang cenderung dibuai rayuan modernitas.

Mudik tak ubahnya laku ziarah atas ruang dan waktu, kembali pada roh masa lalu demi menemukan kesadaran tentang kesejatian diri manusia yang hakikatnya terbebas dari segala ‘kejahatan’ dan ‘kotoran’. Spritualitas mudik mengingatkan kita, bahwa keluhuran manusia dapat tergapai dengan mewujudkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Mudik ke kampung rohani merupakan perjalanan spiritual agar pemudik kembali menimba semangat religiusitasnya di arena social kultural, seperti kampung halaman kita.

Sejatinya yang harus mudik bukan semata bersifat jasad-biologis, tetapi juga memudikkan ruhani ke asal sifatnya yang segar, jernih dan manusiawi. Sebelum mudik yang sebenarnya tiba menyapa manusia, menuju panggilan-Nya melalui Malakul Maut. Kembali kepada dimana kita mengawali kehidupan.

So, let’s do the best for last!

Dalam tataran teori, makna ikhlas sangat mudah untuk dipresentasikan, terlebih dijadikan semacam buah bibir. Lalu apa dalam konteks praktis, rasa ikhlas mudah pula diaplikasikan (?) Hanya kita tentunya yang mampu menjawab semua itu. karena ikhlas adalah sesuatu yang hanya bisa dikerjakan oleh kekuatan hati. Sehebat apapun nilai postif dari pekerjaan, jika pesona ikhlas tak bersemi dalam jiwa, maka yakinlah segala sesuatunya akan terasa berat. Jangankan untuk melakukan hal-hal besar, untuk tersenyum saja, jika keikhlasan tak pernah ada, maka mulut ini akan sulit digerakkan. Padahal tersenyum adalah hal yang paling ringan dalam beribadah.

Terlebih jika konsep ikhlas ini kita tarik ke ruang lingkup pelaksanaan haji yang benar-benar membutuhkan keikhlasan super hebat. Bayangkan saja, mulai dari niatan haji, pengeluaran biaya yang tak sedikit, menghadapi prihal crowded di tanah suci, meninggalkan keluarga, dan 1001 masalah teknis maupun non-teknis lainnya. Ikhlas adalah satu-satunya kunci yang akan menjadikan setiap perjalanan haji menjadi lebih mudah dan bermakna. Sahabat dekat ikhlas adalah sabar, berbeda dengan sabar, terkadang tidak selamanya orang sabar akan mengikhlaskan segala sesuatu, namun dengan keikhlasan, ia akan meliputi rasa sabar yang tak terhingga.

Ikhlas adalah sesuatu yang sangat berharga menjadi bekal perjalanan haji. Tanpa jiwa ikhlas, semuanya benar-benar akan menjadi ancaman pelebur pahala mabrur. Setiap orang meyakini bahwa pelaksanaan haji selalu saja memberikan cerita yang tidak selamanya indah tuk dirasa. Seorang teman yang juga pakar bahasa Arab, memberikan plesetan mengenai kata ikhlas. Ikhlas hampir sama dengan makna kholas, yakni “sudahlah”. Menyudahi segala perkara yang terjadi dengan perasaan ikhlas terhadap segala sesuatu yang telah terjadi. Selain itu penyerahan diri yang total menjadikan jiwa semakin mantap adalah bagian makna ikhlas.

Menjelang bulan-bulan haji, rasa ikhlas harus benar-benar diolah kembali. Menjadi sesuatu yang berharga laiknya sebuah senjata kala maju ke medan perang. Tanpa senjata di laga pertempuran, kita akan sulit menembus panji kemenangan, tidak mustahil tanpa senjata kita juga akan mati konyol di medan laga. Ikhlas adalah senjata dan bekal perang di medan haji yang sangat “buas”. Ia akan meng-cover segala kemungkinan serangan hati saat berada di tanah suci. Karena dari sanalah, segala point haji kita ditentukan. Ikhlas memang segalanya.

Ikhlas tak perlu belajar namun perlu dibiasakan. Ikhlas adalah komandan hati dalam merangkai ibadah lainnya. Dengan ikhlas pula manusia akan mudah mendapatkan apa yang diinginkan. Karena klunya satu, Allah SWT hanya menerima peribadatan hamba-Nya atas dasar keikhlasan jiwa.

Sebuah kontemplasi

Menjelang senja di hari libur, biasanya kami menghabiskan waktu di depan rumah yang ditumbuhi beragam tanaman di teras yang tak terlalu luas. Terlebih saat ramadhan, ritual ini menjadi semacam ngabuburit menunggu adzan maghrib. Selepas mencuci sepeda motor, selang air yang saya pegang, diminta anak sulung saya untuk menyiram beberapa tanaman yang sudah tumbuh beberapa bunganya. –Memang- anak kecil paling senang jika harus bermain air, apalagi jika mendapatkan ‘restu’ dari ibunya, sungguh akan semakin menjadi ia bermain dengan air. Sewaktu menyiram tanaman sansevieria, atau nama terkenalnya “Lidah mertua” setinggi kurang lebih setengah meter, dikiranya akan kuat, ternyata begitu di semprot 3-4 kali, tanaman ini tumbang. Padahal beberapa kawan-nya masih tampak kokoh, ternyata bukan hanya “Lidah mertua” yang melilit disamping pagar tadi saja yang tumbang, kembang Telang, tanaman yang secara khusus dirawat istri saya pun sangat mudah tumbang, bahkan hanya dengan satu kali semprot. Anak saya begitu bangga, karena seolah telah mudah menumbangkan tanaman-tanaman mungil orangtuanya. Namun –justru- ibunya heran kenapa tanaman-tanaman itu begitu mudah jatuh hanya karena semprotan air selang. Ternyata ohh ternyata masalahnya terletak pada akar, kenapa akar (?)

Baik, kita lupakan cerita senja diatas. Kini kita masuk pada inti permasalahan besar di setiap kita, di setiap rumah yang kita hidupi, di setiap tempat mencari nafkah kita. Sesungguhnya peristiwa kecil diatas bisa menjadi besar ketika hal itu terwujud dalam kehidupan kita yang lebih besar, terlebih ketika cita dan impian-impian kita mudah sekali tumbang, jatuh dan mati justru ketika bangunan cita dan impian itu tampak kokoh.

Awalnya, ketika kita sering melihat peristiwa pohon besar rubuh dan menghantam kendaraan bahkan banyak pula yang menjadi korban jiwa, kita tidak menyangka pohon sebesar itu bisa tumbang, padahal tampak sebelum diterpa angin, pohon itu sangat kokoh. Penyebabnya ada beberapa kemungkinan, bisa saja karena anginnya memang besar, atau karena akar dari pohon itu sudah tidak bisa menyambat dan mencengkram bumi dengan kuat lagi. Seperti layaknya pohon, ketika sebatang pohon sebelum tumbuh dan menjadi tunas, maka pohon itu akan menancapkan akarnya sedalam-dalamnya di bawah tanah. Akar itu tiada lain adalah untuk mencari dan mendapatkan air, vitamin, mineral dan zat-zat lain yang digunakan untuk mewujudkan sebatang pohon yang akan menghasilkan dahan dan daun, pun demikian, dahan yang dihasilkan batang itu akan menghasilkan bunga atau buah yang dapat dinikmati.

Begitupun dengan manusia, -dan- atau bangunan masadepan yang tercipta dari kebersamaan mimpi mewujudkannya. Masadepan bersama berupa tempat mencari nafkah pun bisa diibaratkan sebagai batang yang kokoh. –Meski- kesuksesan batang itu bisa tampak gemerlap dari luar dan dari kejauhan sudah tampak menjulangnya, namun jika kekokohan pohon itu tidak dikuatkan pula oleh akarnya, maka tidak mustahil kemewahan pohon itu tidak menunggu lama untuk jatuh, tumbang, dan mati. Padahal orang tak menyangka, pohon kuat itu bisa tumbang dan luput dari tanda-tanda ketumbangannya. Hanya cerita saja yang akan menjadi sejarah, bahwa pohon istimewa itu tumbang tiba-tiba, semuanya kaget tidak mengira, yang tahu hanyalah jalaran akar yang saling mengikat bumi itu.

Kitalah akar yang menguatkan bangunan kokoh itu, kitalah yang akan mengairi air, vitamin dan mineral terhadap pertumbuhan dan keberlangsungan pohon tersebut. Semakin kita lebih dalam menggali bumi, semakin menjalar dan semakin kuat menancap pada bumi dengan cengkraman-cengkraman baru, maka semakin istimewa pohon masadepan kita.

So, mari bersama mengokohkan cengkraman akar kita, demi masadepan yang lebih bermakna.

Sambel dadakan seh enak, kalo ustadz dadakan (?)

Rasanya tema diatas akan sedikit mengundang kontroversi bahkan polemik, jika saja pemahaman tentang makna ‘ustadz’ itu sendiri tidak kita kupas secara detail, ditambah jika kita saksikan bagaimana gamblangnya peran ustadz ini di ‘panggung’ dakwah, maka kita akan semakin yakin bahwa ustadz dadakan yang kini berjamur di negeri kita, bisa masuk dalam ‘Penghancur agama’ atau jika tidak ingin kita sebut sebagai ulama su’u (ulama jahat). Seperti atsar ulama yang menyebutkan “Tidak ada yang merusak agama ini, kecuali raja, dan para ulama su’u serta para rahibnya”. Oleh karenanya, mari kita perjelas apa sebenarnya makna ‘ustadz’ itu sesungguhnya, sehingga tidak terjadi penggelinciran makna sesungguhnya. Tetapi jika awalnya kita sudah apriori, karena mengganggap bahwa panggilan ustadz itu sudah menjadi kebiasaan dan budaya Indonesia, maka yakinlah akan banyak bermunculan ustadz-ustadz ‘dadakan’, yang –ekstrimnya- hanya menggunakan kopiah saja, sudah bisa menjadi sosok seorang ustadz. Lincah dan lihai dalam panggung dakwah yang tentunya bertarif mahal jika ingin mengundangnya. “biaya sebesar itu bukan untuk saya, itu untuk yayasan sosial dan orang-orang yang mencari nafkah didalamnya,” alasannya terkesan logis.

Asal kata dari ustadz adalah ustad (tanpa huruf “Z” atau tanpa huruf “Dzal”). Dalam kamus Arab, Al-Mu’jamul Wasith, kata ustadz memiliki beberapa makna sebagai berikut: Pengajar, Orang yang ahli dalam suatu bidang industry dan mengajarkan pada yang lain, serta julukan akademis level tinggi di universitas. Kata jamaknya adalah Asatiidz dan Asatidzah. Demikian menurut pengertian bahasa. Sedangkan pengertian pokok ustadz adalah “seorang pakar spesialis tingkat tinggi”, atau orang yang sangat ahli dalam suatu bidang. Menurut pengertian ini, maka seseorang tidak pantas disebut ustadz kecuali, jika ia memiliki keahlian dari 18 atau 12 ilmu (bidang studi) dalam sastra Arab, seperti ilmu nahwu, Shorof, bayan, badi’ ma’ani, adab, mantiq, kalam, perilaku, ushul fikih, tafsir, hadist.

Sedang di Indonesia, (entah sejak kapan, dan siapa yang memulai) seolah pemanggilan atau penamaan ustadz begitu lumrah dan mudah, seakan tiada beban, yang penting orang tersebut memiliki kemampuan agama (meski hanya sekadar bisa baca Al-qur’an) dan bersikap serta berpakaian layaknya orang alim, maka dengan mudah ia sudah ‘lulus’ mendapat julukan Ustadz. Walaupun kemampuan riil yang dimilikinya sangat minim dan jauh dari definisi Ustadz sesungguhnya. Sehingga dengan demikian (mudahnya mendapat gelar ustadz), ia memiliki potensi besar dalam menguasai ‘panggung’ dakwah yang sarat dengan kenyamanan duniawi (materialistik).

Wajar jika output yang instant dalam penggodokan ustadz itu menghasilkan sosok-sosok ustadz yang lebih ‘nyaman’ bersenda gurau di depan layar kaca, terlebih jika masuk infotainment, merasa figur ustadz seperti predikat yang dikenakan dalam berdakwah. Ada juga yang mengatasnamakan metode dakwah, atau apalah sebutannya, memproklamirkan ceramah di bulan ramadhan di sebuah Resto Wine, yang jelas-jelas (setelah usai ceramah) Restoran itu tidak akan berubah menjadi Resto Zam-zam misalnya. Apalagi hal demikian itu, jika tidak disebut dengan penghinaan metode dakwah. Dimana kehormatan dan harga diri seorang ustadz yang ‘manut’ saja dipanggil hanya karena bayarannya kencang (?)

Dimanakah sosok ulama yang benar-benar menjadi Pewaris para nabi itu (?)

Rasanya hanya dibulan Ramadhan saja, waktu menjelang Subuh jalanan masih ramai, denyut aktivitas masih hidup dan menghidupi banyak manusia. Kemungkinan juga, bulan Ramadhan saja yang bisa menciptakan kekuatan besar pemicu pergerakan ekonomi yang pesat. Karena pada ramadhan semua manusia muslim meyakini bahwa turunnya keberkahan dimulai dari spirit berbagi pada bulan ini. Sesungguhnya terdapat potensi besar dibalik konsumtifisme yang terjadi saat ramadhan. Ketika permintaan meningkat pesat, demikian pula dengan penawaran yang tak kalah tingginya. Maka saat itu terjadilah situasi dimana pada tingkat harga yang terbentuk, konsumen dapat membeli semua produk yang diinginkannya, dan menurut Vincent Gasperz, Ekonomi Manajerial, produsen pun dapat menjual semua produk yang diinginkannya. Istilah simple-nya, semua berputar merata dengan simpul-simpul penggerak ekonominya di masing-masing daerah.

Di bulan ini, ada semacam spirit berwirausaha yang menjamur. Masyarakat yang sehari-harinya bukan pedagang pun, saat ramadhan, tiba-tiba menjadi pedagang ‘dadakan’. Hingga muncul pasar-pasar rakyat atau bazar saat sore hari, mereka berlomba menjual aneka menu berbuka. Dan harus diakui ini menjadi pertanda bahwa ramadhan turut andil dalam kebangkitan ekonomi umat (atas keberkahannya), karena tanpa disadari, mereka telah menjadi pelaku langsung dalam berwirausaha, meskipun setelah ramadhan semuanya akan kembali seperti semula.

Di sisi lain, percaya atau tidak, setiap datang ramadhan uang belanja harian, atau bulanan akan mengalami lonjakan yang signifikan. Bahkan bisa jadi pendapatan bulanan bisa langsung ‘amblas’ dalam dua-tiga hari. Namun percayakah Anda, meski banyak pengeluaran yang tak terduga, namun rezeki pun selalu muncul tanpa duga dengan kenikmatan yang luar biasa. Mari kita perhatikan sedikit contoh bagaimana tidak melonjaknya pengeluaran saat berbuka saja; ada kolak, es buah, cendol ‘Elizabeth’, goreng-gorengan, kue basah dan beragam minuman lainnya. Ini hanya dessert lho’ belum makan beratnya sehabis sholat Maghrib. Biasanya selalu ingin makanan yang berbeda saat berbuka puasa, dilanjutkan setelah sholat tarawih, bisa berupa bakso, mie kocok, atau pun siomay dan batagor.

Tidak masalah sebenarnya, jika semua makanan itu bisa habis termakan dan sesuai dengan ruang kapasitas perut kita, karena tokh bulan ini, kita belajar untuk share kepada mereka yang sibuk berjualan mencari nafkah. Dimakan atau tidak oleh kita, pada saat itu, kita telah menjadi bagian perekat dalam pembangunan ekonomi umat, meski dalam skala kecil dan luput dirasakan.

So’ Ramadhan adalah waktu yang sangat baik untuk sharing –dan- akan lebih bermakna lagi jika terus berlanjut ‘sharing’ ini ke bulan-bulan selanjutnya. Karenanya, bahagia berbagi dalam ramadhan ini menjadi salahsatu fenomena sosial yang marak terjadi dikalangan masyarakat muslim kita.