Heroes Legacy

Tugu Pahlawan merupakan monumen yang menjadi landmark Kota Surabaya. Tinggi monumen ini adalah 41,15 meter dan berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. Suatu tanggal bersejarah, bukan hanya bagi penduduk Kota Surabaya, tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia.

Halmahera, I’m Coming!

Meskipun belum puas “bermesraan” dengan bumi Papua, sudah saatnya kita berpaling ke lain hati. Karena destinasi menawan di Indonesia bukan cuma Papua. Ya, kita akan menyeberang ke Halmahera. Keindahan pantai dan bawah laut, budaya yang khas, dan kuliner yang begitu menggoda, membuat wisatawan rela merogoh kocek lebih dalam untuk yang satu ini.

Bercanda Dengan Ikan Terbesar di Muka Bumi

Ini mungkin akan menjadi pengalaman paling mengesankan sepanjang hidup Anda. Bayangkan, menyelam, menjelajahi keindahan bawah laut, dan berenang beriringan dengan ikan Paus. Sampai kini belum ada makhluk laut lain yang menandingi ukuran tubuhnya. Di kesehariannya, hewan dengan panjang 14 meter ini hanya memakan ikan kecil dan plankton.

Wajah Eksotis Papua

Berpaling dari keindahan Bawah Laut Raja Ampat, kita masih berat meninggalkan bumi Papua sebelum menyambangi Danau Sentani nan elok. Danau Sentani ini sangat dekat dari Ibukota Jayapura, persisnya hanya berjarak 50 km. Danau ini sangat asri dan sejuk, karena dikelilingi pegunungan yang hijau.

25 % Discount For smartUMRAH

Alhamdulillah Pemilu Lagi

Adalah ungkapan rasa syukur atas datangnya kembali agenda Pemilu yang hanya terjadi 5 tahun sekali. Sebuah moment di mana kita secara langsung bertindak untuk negara tercinta. Turut andil dalam upaya menentukan masa depan bangsa Indonesia.

Mengapa Pemilu patut disyukuri?

Masalah kewanitaan dalam Islam menjadi tema yang tak habis-habisnya disoroti oleh aktivis perempuan dan kalangan feminis. Dari soal kepemimpinan, “diskriminasi” peran, partisipasi yang “rendah”, hingga poligami. Semuanya bermuara pada sebuah gugatan bahwa wanita harus mempunyai hak yang sama alias sejajar dengan pria.

Child Abuse tiba-tiba saja menjadi isu santer seantero Indonesia. Sebuah kejahatan “biasa” – karena saking sering nya terjadi. Sering kali pula ditanggapi biasa-biasa saja oleh masyarakat kita. Tidak lebih penting dari berita politik. Padahal dampaknya demikian besar bagi anak. Sebagian kasus bahkan bersifat permanen terhadap mental anak hingga ia dewasa. Sistem pendidikan Barat dengan segala kelebihannya dalam melindungi anak dari kekerasan, ternyata masih juga kecolongan.

Essai ‘Demokrasi’

Banyak cerita seru tentang pesta rakyat yang serempak dilakukan kemarin (9/4) di Tanah Air. ‘Pesta’ yang menghadirkan beragam ‘dagelan’ itu –katanya- akan mempengaruhi nasib 200 juta lebih rakyat Indonesia selama lima tahun kedepan.

Dalam banyak kasus, manusia terkadang kerap memperlihatkan kegelisahannya ketika mengalami musibah. Tidak hanya itu, kadang juga menggerutu, menyesali, menyalahkan orang, alam, bahkan Tuhan. Banyak juga –yang karena- tidak mampu menahan tekanan hidup,

Sebelum menafsirkan macam-macam tentang apa yang dimaksud tema diatas, ada baiknya kita bertahan membaca artikel ini. Karena bisa saja, ada sebagian kecil orang yang baru melihat ‘sepenggal’ tema saja, akan langsung ‘menghakimi’ terlebih dulu, tanpa menghabiskan bacaannya hingga usai. ‘You Need Me’ seolah ungkapan ‘kesombongan’, ‘kedigdayaan’, dan ‘kediktatoran’. Tapi bisa saja sebaliknya, jika kita melihatnya dari angle yang berbeda, semacam bisikan dalam hati untuk membuktikan bahwa kita bisa membantu dia. Bahwa pertolongan kecil kita, sangat membantu dia yang –kita- tahu dia sulit untuk melakukan hal tersebut. Sekali lagi, jika ungkapan ‘You Need Me’ hanya keluar dalam hati, maka angle nya tidak menjadi ungkapan antagonis. Tetapi jika keluar dari mulut kita, maka akan sangat menjadi multi interpretasi.

Tetapi yang dimaksud ‘You Need Me!’ disini adalah uraian dari apa yang saat ini terjadi di negeri kita tentang ‘politisasi’ anak yatim. Wah masa seh anak yatim di politisasi (?) Apa ungkapannya tidak terlalu kasar dan keras (?) Rasanya ungkapan itu teramat lembut dibanding meng-exploitasi anak-anak yatim, yang Rasulullah SAW –saja- memberikan garansi surga bagi mereka yang memelihara anak yatim dengan penuh kasih. Entah apa karena banyak yang beranggapan bahwa tanggal 10 Muharam besok adalah Lebaran anak yatim, sehingga banyak kita temukan spanduk-spanduk, baliho dan aneka publikasi lainnya berlomba untuk mensejahterakan para ‘Aytam’ (anak-anak yatim), menuliskan besar-besar no rekening dengan brand ‘Anak Yatim’. Bersaing mengumpulkan dana, untuk kemudian –konon- akan diberikan santunan itu pada anak-anak yatim.

Seolah anak-anak yatim itu membutuhkan kita, padahal sesungguhnya kitalah yang membutuhkan mereka. Kitalah yang –sejatinya- menjemput bola untuk tidak membiarkan ‘brand’ anak yatim mulia ini seolah derajatnya lebih rendah. Wajah-wajah terpampang di spanduk besar, dengan mimik yang membuat orang tersentuh, patut dikasihani, bukankah hal demikian adalah politisasi penghinaan terhadap anak-anak mulia tersebut (?) Dengan alasan apapun, Al-Quran yang jauh lebih mulia dari gambar-gambar besar disepanjang jalan itu telah dahulu mempublikasikan tentang bagaimana mulianya anak-anak yatim itu, dengan ulasan dan sastra tinggi, Al-Quran tidak malah merendahkan derajat para Aytam. Justru Al-Quran dengan lantang bahwa pendusta agama adalah orang yang tidak ‘mengasihi’ anak-anak yatim. Dengan bahasa yang indah tanpa menghinakan derajatnya sebagai Yatim.

Jika artikel ini bisa menjadi kepanjangan lidah para ‘Aytam’, maka dengan jujur, -mungkin- sebenarnya kita lah yang sangat-sangat membutuhkan mereka. Membutuhkan doa dan kemuliaannya. Lebih baik malah kita menempatkan mereka pada sosok yang lebih elegan, menjadikannya sebagai bapak asuh yang berada dan bersama pada aktivitas kehidupan kita. Mengasihaninya seperti mengasihani anak kandung sendiri.

Mereka bukanlah anak-anak lemah, anak-anak yang minta dikasihani karena nasibnya, anak-anak yang mudah kita jadikan apa saja, dan mereka bukan pula anak-anak yang selalu berharap materi dengan wajah ingin dikasihani. Justru merekalah anak-anak yang kuat, anak-anak yang survive tanpa belaian seorang Bapak, anak-anak mulia yang bisa meninggikan derajat kita.

So, pada akhirnya kita benar-benar membutuhkan mereka, we need u! Membutuhkan doa-doa ‘sakti’ mereka.