STOP Child Abuse!

Child Abuse tiba-tiba saja menjadi isu santer seantero Indonesia. Sebuah kejahatan “biasa” – karena saking sering nya terjadi. Sering kali pula ditanggapi biasa-biasa saja oleh masyarakat kita. Tidak lebih penting dari berita politik. Padahal dampaknya demikian besar bagi anak. Sebagian kasus bahkan bersifat permanen terhadap mental anak hingga ia dewasa. Sistem pendidikan Barat dengan segala kelebihannya dalam melindungi anak dari kekerasan, ternyata masih juga kecolongan. Bahkan di sekolah dengan sistem keamanan yang super ketat. Mengambil aksi jauh lebih bermanfaat dibanding sekadar mengumpat dan diskusi. Mulailah mengenali dan melindungi keluarga kita dan lingkungan dari kekerasan terhadap anak. Jangan-jangan tanpa kita sadari, kitapun pelakunya.

Bagaimana mendefinisikan kekerasan terhadap anak. Kita dapat mengambilnya dari kisah Ummu Al Fadhl. “Suatu ketika aku menimang seorang bayi. Kemudian Rasulullah mengambil bayi itu dan menggendongnya. Tiba-tiba bayi tersebut pipis dan membasahi pakaian Rasul. Segera saja kurenggut secara kasar bayi itu dari gendongan Rasul. Rasulpun menegurku ‘Pakaian yang basah ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan dalam jiwa bayi itu akibat renggutanmu yang kasar? ” Jika merenggut bayi dengan kasar saja sudah berdampak terhadap kejiwaan bayi, bagaimana dengan tingkah laku kita yang memaki bahkan memukul anak. Islam pun sampai mengatur bagaimana melaksanakan shalat sambil menggendong anak agar ia tak tertelantarkan.

Kekerasan terhadap anak di masyarakat kita sampai pada kekerasan seksual, adalah tindakan yang sudah kelewat batas. Bagaimana ini bisa terjadi pada umat yang Junjungannya, Rasulullah SAW memanjangkan sujud hanya karena sang cucu sedang naik dipunggung beliau.  Sebuah kasus yang menimpa sekolah internasional menyita perhatian pemerintah dan masyarakat, bagaimana dengan anak yang sehari-harinya di jalanan, mengamen, mengemis, hingga bayi yang dijadikan “alat bantu” orang dewasa untuk mengemis. Menunggu, menunggu, dan menunggu orang lain merubah keadaan umat juga bagian dari sikap acuh yang keterlaluan. Bantu mereka dengan segala daya yang kita bisa. Agar kelak kita dapat berdiri tegak kala ALLAH SWT menuntut pertanggungjawaban kita di akhirat kelak.

Related Post

Malaikat Penolong

Malaikat Penolong

“Allahu Akbar! Tolong ya Allah, ya Rabb” Teriakku berusaha berdiri dari lautan manusia berihram putih…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *