What is the meaning of “Power of Return (?)” Apakah return yang dimaksud adalah ‘return-nya’ proses re-inkarnasi (?) Atau ‘return’ dari tajuk sebuah film mandarin The Return of Condor Heroes (kembalinya pendekar rajawali). Tentunya bukan, karena dua ‘return’ itu tidak bisa mengalahkan kekuatan ‘return’ yang akan diuraikan singkat dalam artikel ini. Sebuah ‘return’ yang akan menghasilkan perjalanan abadi, suatu proses pengingat manusia yang akan ‘return’ selamanya, yah kekuatan pikir dalam merespon masa ‘return’ nya manusia menjadi sesuatu yang urgent dijadikan landasan pacu kehidupan seseorang. Ketika ‘return’ atau kembali paska kematian itu memiliki ruang untuk diingat dan dipikirkan sebelum tibanya maut, maka Rasulullah SAW menjamin bahwa orang tersebut adalah sosok yang sangat cerdas dalam menghadapi kehidupan. Rasul Bersabda “Orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian” (HR. Tirmidzi). Dengan prinsip ini, maka sadar akan waktu terakhir hidup dan kembali pada kehidupan selanjutnya menjadi bagian dari kecerdasan yang esensial dalam kehidupan. Sejarah Fir’aun, kaum Luth dan lain sebagainya, telah banyak mengajarkan kita tentang arti pentingnya sebuah proses –thinking– untuk ‘return‘ kelak.

Membahas tentang hidup setelah mati (mungkin) bagi sebagian orang memilih untuk bersikap apriori. Atau karena keseringan, mereka akan me‘reject’ secara halus, mereka tahu dan yakin akan masa ‘return’ itu, namun perlahan akan menguap dalam rutinitas kesehariannya. Padahal proses melihat, mengingat dan berpikir tentang kematian itu justru kekuatan dibalik tindakan kita dalam keseharian. Karena ‘return’ adalah keniscayaan. Seperti salah satu Firman Allah yang membahas masalah ini “Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan kepadamu apa yang telah kamu lakukan” (QS. Al-Jumuah :8 )

Kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Tapi merupakan awal dari sebuah babak kehidupan baru, kematian ibarat stasiun atau terminal, tempat manusia berhenti sejenak untuk selanjutnya ‘return’ pada fase keabadian. Mayoritas kita (rasanya) sudah sangat tahu dan hapal tentang peristiwa ini. Namun, terkadang ada sikap ‘pen-cuek-an’ dalam mengingatnya. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk selalu mengingat kematian sama halnya dengan ingat dan memperjuangkan kehidupan.

Semua makhluk sadar, bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti, sesuatu yang tidak dapat di tawar. Namun tidak semua menyadari dan meyakini bahwa ia kan ‘kembali’ setelahnya. Karenanya, terdapat perbedaan yang mendasar antara orang yang mempersiapkan diri untuk masa ‘return’ kelak dengan orang yang sama-sekali -apatis- terhadap masa itu. Kekuatan ‘return’ terdapat pada sikap manusia yang menjadikan kehidupan dunia sebagai ladang dan tempat menabung. Karena di masa ‘return’ itulah kita akan memetik dan menuai. Ahh, saya rasa semua orang sudah tahu, namun semua orang pun membutuhkan reminder untuk menyegarkan ingatannya.

Baitul Maqdis

Baitul Maqdis merupakan kebanggaan dan kota suci umat Islam. Allah SWT Memberkahi tempat ini dan lingkungan sekelilingnya untuk seluruh alam sebagai negeri para Nabi sekaligus tempat turunnya malaikat suci. Keberadaan Baitul Maqdis senantiasa menyatu dengan sejarah dunia Islam. Di tempat inilah berdiri Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat muslim dan masjid kedua yang didirikan di bumi setelah Masjidil Haram. Peristiwa Mi’raj Rasulullah SAW dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha hingga ke langit ke tujuh sekaligus menjadi bukti kesempurnaan Kuasa dan Kesucian-Nya. Dahulu orang mengenal kota ini dengan nama Al-Quds, namun sejak pertama kali Islam berkuasa dinamakan Baitul Maqdis. Kota ini terletak di Palestina, dan negeri-negeri di sekitarnya adalah negeri Syam, yakni Suriah, Yordania, Lebanon termasuk Palestina. Di negeri yang aman dan mulia ini, Allah SWT mengutus begitu banyak nabi dan rasul. Ke negeri ini pula Allah SWT menyelamatkan banyak nabi dan rasul dari azab pedih yang ditimpakan kepada kaumnya, termasuk kaum Nabi Luth As.

Beberapa bangunan dan benda bersejarah yang terdapat di dalamnya menjadikan tempat ini diakui umat lain. Sebut saja Al-Shakhra, batu tambatan Buraq dan tempat berpijaknya Rasulullah SAW ketika akan naik ke langit (Sidratul Muntaha), Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock), masjid kuning yang dibangun oleh Khalifah Umar bin Khattab, serta peninggalan bangunan istana Nabi Sulaiman As. Ayat Al-Qur’an tentang Baitul Maqdis dan keberkahan negeri-negeri sekelilingnya terdapat pada Surat Al-Isra. “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. 17 ayat 1).

Ashabul Kahfi

Gua Ashabul Kahfi

Ashabul Kahfi adalah kisah sejumlah pemuda yang beriman kepada Allah SWT. Bersama mereka, ikut pula seekor anjing. Tertidur dalam gua selama ratusan tahun, para pemuda Ashabul Kahfi pun selamat dari kekejaman Diqyanus, Raja Romawi pemuja berhala. Demi menyelamatkan akidahnya, para pemuda Kahfi meninggalkan negerinya. Dengan rahmat dan perlindungan Allah SWT mereka tertidur selama 309 tahun dalam gua. Tanpa mereka sadari, badan mereka dibolak-balikkan ke kanan dan ke kiri, serta telinga ditutup sampai tidak terbangun oleh suara apapun, sedangkan anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Ketika terbangun, wajah kota telah berubah dan uang perak mereka sudah tidak berlaku. Sehingga membuat mereka sadar bahwa mereka tertidur bukan sehari atau setengah hari, melainkan ratusan tahun.

Hingga kini jumlah mereka masih menjadi perdebatan. Ada yang mengatakan tiga orang dan yang ke-empatnya adalah anjingnya, ada juga yang mengatakan tujuh orang, dan yang ke-delapan adalah anjingnya. Sesungguhnya hanya Allah SWT yang mengetahui jumlah mereka secara pasti.

Kisah Ashabul Kahfi memberikan inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam teori hibernasi, yaitu kondisi ketidakaktifan dan penurunan metabolisme pada tubuh, serupa dengan kondisi tidur. Para pemuda Kahfi yang tertidur selama ratusan tahun tetap bertahan hidup tanpa makan dan minum serta tidak mengalami kerusakan pada tulang dan otot. Padahal kerusakan dan hancurnya otot tidak terhindarkan pada orang-orang yang kelaparan sehingga dapat menyebabkan kematian. Kini teori hibernasi lebih dikembangkan bagi para astronot dan para penderita kerusakan sel tulang.

Rasanya pepatah bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian masih relevan untuk dijadikan pedoman hidup. Meski –tentunya- perlu penjabaran yang lebih luas dari sekedar “Bersakit-sakit dahulu”, its mean; Bekerja keras, total dan fokus. Saya masih ingat pada saat masih kecil, seringkali orangtua memberikan nasihat bahwa nanti setelah besar jangan malas dan bekerjalah dengan baik. Jika ingin memiliki kehidupan yang layak, bekerja keraslah bahkan sekeras yang kita bisa lakukan. Semua orang tentunya sepakat dengan nasihat bijak itu, namun –sejatinya- tidak cukup menelan mentah-mentah apa yang dikatakan dengan “Bekerja Keras”, sebab –yang saya tahu- saat ini, bekerja keras bukanlah menjadi sesuatu yang istimewa. Selain setiap orang dapat melakukannya, tolak ukur-nya pun masih bias. Ternyata sekuat apapun fisik kita untuk bekerja keras yang hanya bermodalkan otot, hasilnya jauh berbeda dengan sesorang bekerja menggunakan otak, lebih efisien. Yah, saat ini yang lebih diutamakan adalah bekerja pintar dan kreatif, hal ini disebabkan karena persaingan yang semakin ketat baik di dunia kerja maupun usaha dan bisnis.

Betul bahwa bersakit-sakit dahulu untuk jangka waktu singkat sering menjadi satu-satunya jalan supaya dapat bersenang-senang untuk jangka waktu yang panjang. Motto “Sakitnya disiplin atau pedihnya penyesalan” adalah suatu motivasi menghadapi tantangan hidup. Dalam suatu pertempuran sengit, rasanya terlambat jika kita masih bersiap-siap. Pilihannya: Kita selalu siap menghadapi segala tantangan, atau kita akan terus dibayangi pemikiran ‘Bagaimana jika’, ‘seandainya saja’ dan ‘Seharusnya aku’ yang selalu muncul ketika kita gagal mempersiapkan diri. Sebuah tulisan mendefinisikan “Penyesalan” sebagai ketidaksukaan emosional dan intelektual terhadap tindakan dan prilaku diri yang terjadi di masa lalu.

Namun –tentunya- semua itu masih harus berada dalam koridor ‘smart work’, sehingga definisi bersakit-sakit dahulu (baik secara fisik ataupun psikis) dapat ditekan dengan sangat signifikan. Setidaknya menghindari kerja keras yang tidak efisien dan efektif, kerja keras yang tanpa perencanaan, strategi dan hanya mengandalkan tenaga dan otot. Ada kisah yang menarik dan sesuai dengan untaian diatas, tentang cara seorang guru kungfu menguji kedua muridnya.

Pada suatu malam, “Si Fu” tua memanggil kedua muridnya untuk memberikan mereka tugas, “Besok pagi kalian ke hutan membawa ranting pohon. Siapa yang pulang dengan hasil yang terbanyak, dialah yang keluar sebagai pemenang.” Setelah memerhatikan kedua muridnya yang mendengar dengan serius, guru tersebut melanjutkan,”Waktu yang saya sediakan kepada kalian mulai jam 5 pagi sampai jam 5 sore.”

Kemudian ia mengambil sesuatu dari bawah meja dan berkata,” Ini adalah dua bilah parang yang dapat kalian gunakan. Ada pertanyaan?” Karena merasa tugas yang diembankannya mudah, kedua murid pun serempak menjawab, “Tidak! “Baiklah kalau begitu, kalian cepat pergi istirahat dan besok bangun lebih pagi”, kata guru tersebut memberi nasihat.

Mendapat tugas baru, di kepala murid yang pertama langsung terbayang besok harus bekerja lebih keras tanpa melakukan persiapan yang diperlukan. Sedangkan murid kedua langsung memeriksa parang yang disediakan oleh gurunya. Ternyata parang tersebut adalah parang tua yang kurang tajam. Maka ia pun memutuskan, besok sebelum berangkat harus mencari batu asah untuk mengasah parang terlebih dahulu. “Dengan parang yang lebih tajam hasil yang sama dapat diperoleh dengan upaya yang lebih sedikit” ia berpikir.

Tantangan kedua yang terbayang di kepalanya adalah bagaimana cara membawa ranting pohon dalam jumlah yang lebih banyak secara efisien dan efektif (?) Pada saat yang sama, murid yang pertama sudah tidur lelap. Sedangkan ia masih mondar-mandir di depan kamarnya memikirkan cara yang terbaik untuk membawa ranting dalam jumlah yang lebih banyak. Setelah berpikir dan mengasah otaknya, akhirnya ia menyadari bahwa ia harus juga mempersiapkan tali pengikat dan tongkat pikulan. Dengan cara memikul menggunaka tongkat pikulan, paling tidak bisa membawa dua ikatan ranting -satu di depan dan satu lagi di belakang- dibandingkan dengan memikulnya di belakang pundak. Setelah itu ia pun pergi tidur.

Keesokannya, murid pertama karena tidak ada persiapan, termasuk mengasah parangnya, ia harus bekerja keras (yang sia-sia), karena mengunakan waktu, energi yang lebih besar untuk memotong ranting pohon. Dengan demikian dia juga harus menggunakan waktu yang lebih banyak untuk istirahat karena kecapaian. Belum lagi waktu yang harus digunakan untuk mencari tali pengikat. Selain itu dengan cara membawa ranting kayu yang diikat di belakang pundak, tentunya jumlah yang bisa dibawa terbatas. Ternyata murid kedua membawa hasil yang lebih banyak dengan upaya yang lebih efisien.

So, intinya melakukan sesuatu yang tidak banyak dilakukan orang lain, adalah jalan menuju keuntungan yang lebih efisien dibandingkan orang lain, -tentunya- karena kita berbeda.

Seri Nubuwah: 05

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.” Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan salah seorang sahabat dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, -jika bisa- seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”
“aku tidak tahu ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya, ” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. “Ketahuilah, dialah Yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” Kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. ” Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum”, (Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu). Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii” – “Umatku, umatku, umatku” Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.
Allahumma Sholli ‘ala Muhammad wa Baarik wa Salim ‘Alaihi

Jika jiwa ini besar, maka raga tak kan pernah lelah mengikuti kehendaknya. Namun jika jiwa ini kerdil, maka tak ada raga yang mampu melewati batas-batas dirinya.

Masih terekam dalam benak saya, ketika awal saya berada di sebuah komunitas yang penuh harap. Di tempat kerja sekaligus “Lab Intelektual” yang penuh dengan mimpi. Berjuta rasa terbang menyelinap pada sel-sel darah yang menghembus pada sebuah harap dan mimpi besar. Menerjang meleburkan pikiran yang kaku, menggebrak tindakan yang layu, dan mengepung jiwa tuk berpikir besar dengan tindakan yang detail. Salah satu yang terus terngiang dalam langkah ini, adalah ‘desakan’ untuk terus memiliki sebuah HARAP dan MIMPI. Yah, tentunya semua harap itu harus terbungkus oleh suatu tindakan riil yang menghasilkan karya, karena kerja tanpa karya sulit tuk menembus suatu harap dan mimpi besar. Yang perlu saya tegaskan lagi, adalah ketika jiwa tak memiliki harap, atau sebuah mimpi yang besar, maka perjalanan ini akan penuh dengan rasa lelah, bosan dan berakhir putus akan asa. Yah, point itulah yang kerap menggerakkan ritme langkah ini. Ketika saya dan keluarga memiliki sebuah keinginan atau mimpi memiliki sebuah rumah asri, yang terdapat paviliun segar, dan halaman teduh dibelakangnya, tempat bermain serta berkumpul keluarga. Tempat merangkai cita dan bersenda gurau sembari menikmati teh hangat di pagi hari, di garasi depan sudah terparkir kendaraan yang siap menghantar anak dan istri berlibur, dan semua keindahan yang terlukis dalam cita dan mimpi. Namun, tentunya saya harus mengubur jauh-jauh mimpi itu, ketika daya pikir dan kerja saya masih terus seperti biasa tanpa daya jangkau yang lebih ‘meledak’. Masih terus merangkak dan berjalan apa adanya tanpa sebuah Harap.

Seri Nubuwah: 04

Khadijah pergi menjumpai saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal. Waraqah adalah seorang penganut agama Nasrani yang sudah mengenal Injil dan sudah pula menerjemahkannya sebagian ke dalam bahasa Arab. Khadijah menuturkan apa yang dilihat dan didengar Muhammad. Waraqah menekur sebentar, kemudian berkata, “Maha Kudus Ia, Maha Kudus. Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Khadijah, percayalah! Dia telah menerima Namus Besar seperti yang pernah diterima Musa. Dan sungguh dia adalah Nabi umat ini. Katakan kepadanya supaya tetap tabah!” Khadijah pulang. Dilihatnya Muhammad masih tidur. Dalam tidur yang demikian itu, tiba-tiba ia menggigil, napasnya terlihat sesak dengan keringat yang sudah membasahi wajahnya. Ia terbangun, manakala didengarnya malaikat datang membawakan wahyu kepadanya: “Hai orang yang berselimut! Bangunlah dan sampaikan peringatan. Dan agungkan Tuhanmu. Pakaianmu pun bersihkan. Dan hindarkan perbuatan dosa. Jangan kau memberi, karena ingin menerima lebih banyak. Dan demi Tuhanmu, tabahkan hatimu.” (QS Al-Muddatstsir: 17).

Seri Nubuwah: 03

Dari pernikahannya dengan Khadijah, ia memperoleh beberapa orang anak, laki-laki dan perempuan. Kematian kedua anaknya, Al-Qasim dan Abdullah menimbulkan kedukaan yang begitu dalam. Anak-anaknya yang masih hidup semua perempuan. Muhammad yang telah mendapat karunia Allah SWT dalam perkawinannya dengan Khadijah, berada dalam kedudukan tinggi dan harta yang cukup. Seluruh penduduk Makkah memandangnya dengan rasa kagum dan hormat. Bicaranya sedikit, ia lebih banyak mendengarkan. Bila bicara selalu bersungguh-sungguh, tapi sungguh pun demikian, ia tidak melupakan ikut membuat humor dan bersenda-gurau. Tapi yang dikatakannya itu selalu yang sebenarnya. Kadang ia tertawa sampai terlihat gerahamnya. Bila ia marah tidak pernah sampai tampak kemarahannya, hanya antara kedua keningnya tampak sedikit berkeringat. Ia bijaksana, murah hati dan mudah bergaul. Tapi ia juga berkemauan keras, tegas dan tak pernah ragu-ragu dalam mencapai tujuannya.

Sejak kapan Israel Merdeka (?) Kapan ia terjajah di Bumi Palestina (?)

Sub judul diatas sengaja saya tempatkan diawal artikel ini, selain untuk memberikan stimulus, juga agar mindset kita tidak terjebak dengan apa yang dirayakan oleh mereka tentang hari kemerdekaan Israel Raya. Tulisan ini juga bukan untuk mengingatkan ‘HUT’ Israel yang ke-63, tetapi sedikit urun rembuk agar semua mata ‘melek’ bahwa siapa yang menjajah dan terjajah lebih jelas terdeskripsikan. Sehingga penilaian dan pemahaman tentang klaim negara Israel Raya tidak ahistory. Hari Kemerdekaan atau Independence Day selalu dimaknai setelah meraih kemenangan dari jajahan atau ketakberdayaan. Lalu bagaimana bisa dikatakan merdeka, jika yang terjadi justru merekalah yang mencaplok, menjajah, membunuh dan mengusir jutaan pribumi dengan dalil Al-kitab bahwa bangsa Yahudi lah yang pantas hidup di bumi Palestina. Baiklah, untuk lebih jelas mari kita telusuri sejarah singkat kenapa tanah Palestina ini menjadi sengketa sepanjang masa. Tafsir Al-Quran menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim As. atau yang mereka sebut Abraham, diperkirakan tinggal di daerah Palestina yang dikenal saat ini sebagai Al-Khalil (Hebron), tinggal di sana bersama Nabi Luth (QS. 21:69-71). Putra nabi Ibrahim adalah nabi Ismail dan nabi Ishak, kemudian putra nabi Ishak adalah nabi Yakub As. keturunan nabi Yakub dari 12 putranya inilah yang kemudian dikenal sebagai suku Israel.

Suatu ketika di negeri ‘Samudra’, ada tiga tamu mendatangi satu keluarga. Ketika ditanya sang istri, siapa dan hendak bertemu dengan siapa, mereka hanya mengatakan sederhana “Nama kami CintaNa, dan ini saudara saya, HartaNa dan TahtaNa, Kami ingin bertemu dengan semua penghuni rumah”. Sang istri pun mengatakan bahwa suami dan anak-anaknya belum tiba di rumah. Tiga tamu itu hanya tersenyum, serta meminta izin untuk menunggu suami dan anaknya di serambi rumah. Tidak lama kemudian, anaknya tiba dan menanyakan kepada sang bunda perihal tamu asing yang berada di teras rumahnya. Ibunya hanya menjawab “Mereka tamu yang akan masuk ketika semua keluarga kita berkumpul, kali ini kita hanya menunggu ayahmu Nak,” ujarnya singkat. Setelah berapa lama menunggu, akhirnya si Ayah tiba di rumahnya seraya melihat ketiga tamu dengan senyuman di beranda rumah. Saat bertanya kepada istrinya, maka dijelaskan lah seperti jawaban kepada anaknya beserta nama-namanya. “Kalau begitu, persilahkan mereka masuk!” Perintah sang Bapak kepada anaknya.

Manusia hidup dalam lingkaran sejarah, setiap aspek kehidupannya tak lepas dari ruang sejarah yang akan terus berkelanjutan. Sadar atau tidak, manusia adalah makhluk sejarah. Ia bisa dibesarkan dan juga ditenggelamkan oleh sejarah. Sejarah adalah ‘tonggak’ suatu peradaban, bisa memihak yang menang, tetapi tidak selamanya membunuh yang kalah. Setiap kita akan menjadi sejarah, bagi keluarga, handai taulan bahkan untuk sebuah peradaban yang kelak terbangun dari sikap dan buah karya kita, baik maupun jelek. Di setiap langkah kaki terdapat pijakan yang menjadi buncahan history. Terekam dalam suara alam yang –mungkin- tak pernah kita sadari. We Will Be History, yah kita akan menjadi sejarah. Sejarah bagi siapapun, sejarah yang tak kan pernah luput dari pembelajaran, bahkan –kelak- kujur kaku tubuh kita pun akan menjadi sejarah bagi mereka yang berfikir. Merubah sejarah menjadi pelajaran penting harus disertai dengan kejujuran dan nurani, sebab jika tidak, sejarah kelam bukan malah ditinggalkan, tetapi menjadi pengulangan yang kelam.