Islam adalah agama langit (Samaa) semua manusia. Termasuk yang dibawa oleh para Nabi sebelum Rasulullah SAW. Keyakinan dan keimanan setiap kaum Nabi yang diberikan kitab dari ALLAH SWT –sejatinya- adalah Al-istislamu atau berserah diri hanya kepada ALLAH, tunduk dan patuh hanya kepada-NYA. Pengertian Islam inilah yang dimaksud oleh ALLAH dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa syariat yang dibawa oleh para Nabi terdahulu juga disebut Islam. Seperti Firman ALLAH yang menceritakan tentang Nabi Ibrahim; “Wahai RABB kami, jadikanlah kami berdua orang yang muslim kepada-MU dan juga anak keturunan kami sebagai umat yang muslim –berserah diri- kepada-MU” (Qs. Albaqarah: 128). Baiklah, kita sedikit keluar dari ‘pembahasan’ tauhid masa sebelum kerasulan Muhammad SAW. Kita beranjak dan menikmati bagaimana alur Islam dalam meng-influence– setiap jejak manusia abad ke-7 hingga zaman kita berada dibawah panji Islam. Menarik –sesungguhnya- jika kita telusuri bagaimana keutuhan tauhid Islam berkembang biak di planet Bumi.

Jika mengurai dari awal, kesenjangan Islam mulai tercabik oleh sebuah rasa keangkuhan diri manusia. Bagaimana kaum kafir Quraisy menolak mentah-mentah ajaran Nabi Muhammad SAW, hanya karena beliau membawa risalah ‘Hanief’ yang bertolak belakang dengan adat kebiasaan mereka yang berdoa melalui wasilah patung sebagai ‘kaki tangan’ Tuhan. Mereka percaya kepada ALLAH, namun peribadatannya melalui proses animisme maupun dinamisme yang mereka yakini. Secara tidak langsung, kita bisa mengatakan bahwa sebelum Islam datang atau Nabi Muhammad menjadi Nabi serta Rasul, maka mayoritas kehidupan orang Arab berada dalam kejahiliyahan, terkecuali bagi mereka yang masih mengikuti ajaran (millah) Nabi Ibrahim AS.

Setelah Rasulullah SAW membawa ajaran Islam yang menyempurnakan risalah-risalah Nabi sebelumnya, maka gugurlah semua ajaran yang berkembang saat itu, mereka harus mengikuti millah dan ketentuan agama yang dibawa Rasulullah SAW. Perlahan namun pasti, Rasulullah SAW mampu bertahan dan move on untuk meninggikan kalimat Tauhid, serta menyebarkan ke seluruh pelosok Arab. Jika kita saksikan sebuah film dari tema diatas; Islam Empire of Faith, maka –sungguh- ketakjuban kita akan perjuangan mereka yang bertahan teguh bak karang di tengah lautan akan membuat kita masih terasa ‘tidak ada apa-apanya’ dibanding kegigihan mereka memperjuangkan panji Islam.

Islam berkembang sangat cepat dan mengubah orang-orang nomaden menjadi penggerak utama peradaban dunia. Nabi Muhammad SAW lah arsitek dari transformasi itu. Namun setelah kewafatannya pada tahun 632 ternyata menghadapkan komunitas Islam kepada tantangan besar pertamanya. Dengan segala inovasi yang tidak keluar dari risalah nubuwah, kaum muslim menyambut tantangan itu dengan mendirikan institusi kekhalifahan dan menegaskan kelangsungan sejarah Islam. Negara Islam yang baru lahir, dengan ibukota di Madinah Al-Munawarah.

Secara perkasa dan atas pertolongan ALLAH SWT –tentunya-, mereka berhasil mempertahankan diri dari jangkauan predator Kekaisaran Bizantium dan para sekutunya. Kemenangan demi kemenangan selalu ada konsekwensinya, terutama dari sifat asli manusia yang lolos dari filter keimanan, yakni ketamakan, keserakahan dan kedengkian yang menjalar ke tubuh masyarakat Muslim saat terjadinya pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan RA.

Peradaban diuji dengan adanya krisis sebagaimana seorang individu diuji dengan kesulitan. Ini adalah saat-saat penting yang menunjukkan wujud asli karakter sebuah peradaban, seperti ujian terhadap individu yang memunculkan wujud asli dari karakter individu tersebut. Peradaban besar menghadapi tantangan dan mereka tumbuh lebih tangguh setiap kali melewati krisis, mengubah kesulitan menjadi peluang. Dalam banyak hal, kejadian ini persis sama dengan yang dialami oleh individu. Saat-saat kritis dalam sejarah menguji keberanian manusia. Orang-orang besar mengarahkan sejarah sesuai kemauan mereka, sedangkan yang lemah tertelan di masa yang keras.

Hal itu diyakini, karena keislaman sudah tidak seirama dengan keimanan yang seharusnya menjadi satu kesatuan. Jika Islam ditafsirkan melalui amalan-amalan anggota badan, atau jasad, maka iman ditafsirkan dengan amalan-amalan dalam jiwa. Karenanya, sebuah peradaban selalu muncul ketika konsep Islam melaju bersama dengan keimanan dalam jiwa.

(to be continued)

Permata Bank Edition

Untuk kesekian kalinya, Permata Bank merajut rasa bersama Cordova. Setelah Hongkong, Singapura dan Bali (baca disini), kini Global Markets division dari Permata Bank melakukan langkah yang lebih strategis dengan melakukan presentasi product bersama nasabah loyalnya di Negeri Sakura. Cita-cita besar bermula dari perencanaan yang matang. Pun demikian dengan Permata Bank, selalu saja melakukan inovasi dalam dunia perbankan demi pembangunan ekonomi Bangsa. Jepang pun menjadi pilihan yang sangat worth it, selain semangat kerja kerasnya, Jepang dinilai sebagai negara yang paling bersinar di Asia. Semoga, bermula dari Jepang, Global Markets mampu meraih cita-cita besarnya, meraih kesuksesan yang tiada batas. Dengan semangat dan kerja keras, tidak ada yang mustahil membangun semua rancangan itu.

Kita semua tahu, bahwa sukses adalah kata yang diimpikan oleh semua orang dan merupakan sebuah pilihan hidup. Manusia adalah makhluk pencipta kesuksesan. –sejatinya- manusia selalu lapar dan dahaga akan kesuksesan, apapun makna sukses tersebut baginya. Prestasi-prestasi besar dalam sejarah seperti tembok besar di Cina, Pyramida para Fir’aun di Mesir, kompleks Taj Mahal di India atau Candi Borobudur di Indonesia adalah monumen akan hebatnya karya akal manusia, tentunya manusia yang selalu ingin mencapai keberhasilan terjauh, tertinggi dan terbesar.

Karenanya, untuk menunjang semua itu, Cordova mencoba untuk selalu memberikan pelayanan prima dan berbeda dengan apa yang telah tersajikan sebelumnya di dunia traveling Indonesia. Memberikan kenyamanan melalui smartJOURNEY yang akan menyuguhkan beragam rasa yang menyenangkan. Perwakilan Cordova di setiap negara yang dikunjungi, diyakinkan akan membuat perjalanan itu semakin berasa. Menempuh jalur-jalur yang ‘terkadang’ tak pernah dilalui atau hanya berkunjung pada destinasi ‘itu-itu’ saja. Eksplorasi dalam menyentuh belahan bumi lainnya adalah pengalaman yang sulit terlupakan, karena itu kenyamanan dan pelayanan eksklusif menjadi value yang akan menambah point perjalanan kita.

From Japan With Success, adalah sebuah agenda yang patut di apresiasi. Meraih kesuksesan dengan langsung menembus negeri yang sarat dengan kemajuan di berbagai bidang. Merasakan aura sukses dengan hirupan yang penuh makna.

Anzende seiko!

Orang-orang Quraisy dan orang yang masih berpegang pada agamanya adalah penduduk tanah haram (Makkah) yang bersemangat wukuf di Muzdalifah sambil berkata, ‘Kami adalah penduduk Allah’. Sedangkan selain mereka wukuf di Arafah Kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, ‘Kemudian bertolaklah kamu sekalian dari tempat bertolaknya orangorang banyak (Arafah)’.
(Shahih: Ibnu Majah dan Muttafaqun ‘alaih)

Dan ketika kami jelaskan kepada Ibrohim tempat Baitullah janganlah kamu menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf dan orang orang yang mukmin dan orang orang yang ruku’ dan sujud.

Perencanaan adalah awalan yang menentukan. Perencanaan juga bisa mengindikasikan langkah yang diayunkan terkonsep dengan baik. Rencana adalah ‘makhluk’ yang masih berada dalam dunia khayal, bayangan yang terkontrol oleh alam pikir. Ia masih hal ghaib yang sulit terdeteksi oleh dunia riil, masih terkesan liar dan meletup-letup. Sebagian keberadaannya masih berada di luar kawasan otak. Perencanaan akan semakin fokus menjadi ‘makhluk utuh’ ketika tergiring pada sebuah ketetapan hati, yakni; niat. Dengan diikat oleh hati, maka keliaran-nya menjadi lunak dan cenderung taat. Hati menjadi komandan ‘makhluk’ yang bernama rencana. Sehingga memiliki spirit tuk segera bermetamorfosa menjadi nyata. Semua karya manusia awalnya dari sebuah perencanaan yang liar, sampai terikat oleh kekuatan niat tuk merubahnya. Sehingga dalam Islam, ALLAH menilai dan memberikan apresiasi (pahala) ketika sebuah kebaikan masih berada dalam dunia khayal (perencanaan). Jika rencana kebaikan –meski- tanpa aksi saja ALLAH memberikan apresiasi, lalu bagaimana jika semua itu berwujud menjadi aksi (?)

Bila setiap helaan nafas nyaris kosong oleh satu rencana pun, maka dapat dipastikan kita berada dalam langkah kerugian yang nyata. Karenanya, tidak salah jika hati ini di sesakkan oleh rencana kebaikan itu, siapa tahu jika telah penuh akan meluber menjadi aksi. Kekuatan Islam dalam melaksanakan hidup terdapat pada niat, dan niat –seperti telah dijelaskan di atas- adalah corong yang mengingat semua rencana yang ada. Aksi tergantung oleh niat, begitu sabda Rasul dalam menyoal amalan (aksi) dalam setiap langkah.

Rencana yang baik memang harus jelas, matang, mantap, tertata, dan terperinci setiap langkahnya, sehingga memudahkan untuk proses selanjutnya. Namun jika hidup hanya penuh rencana dan rencana terus menerus hingga meluber sekalipun tanpa aksi, tindakan dan gerak nyata, maka rencana itu hanya akan berakhir di tempat sampah, terbuang percuma.

Pada umumnya, gagasan dan pikiran-pikiran yang mendukung ke arah tujuan kita, berdampingan dengan tantangan dan masalah yang pasti muncul di lapangan, namun berbarengan dengan itu pula segala jalan keluar akan menghampiri dengan bergerak secara ajaib.

Setiap mengawali perencanaan-perencanaan –tentunya- selalu berhadapan dengan kondisi yang sesuai dengan keinginan kita atau tidak sama sekali. Perubahan alamiah yang terjadi dari fase ‘liar’ menuju sebuah konsep, dilanjutkan aksi maka akan ada semacam ‘transisi’ dari sikap yang berubah. Seperti halnya, tidak ada di dunia ini yang menginginkan perubahan tanpa melalui trubulensi (perguncangan) yang terjadi. Baik dirasakan dalam jiwa ataupun tapak yang melangkah. Permasalahan lama tidaknya, besar kecilnya ‘guncangan’ itu selalu tergantung pada pola pikir kita sendiri.

“Walaupun aku adalah generasi yang datang paling ujung, aku akan melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh para pendahulu”. Ini adalah penggalan syair Arab yang menceritakan sosok khalifah muda yang menaklukan Konstantinopel. Ketika anak muda berusia 16 tahun itu diangkat menjadi seorang Khalifah, para senior dan ‘sesepuh’ di kerajaan itu meremehkan dan merendahkan, seolah tak percaya dengan kemampuan si anak muda. Maka dengan spirit yang kuat dan percaya diri, khalifah muda ini melakukan ‘loncatan’ yang membuat semua orang terdiam, yakni membebaskan Konstantinopel, wilayah yang tidak bisa dilakukan oleh para senior dan pendahulunya. Hal ini juga merupakan janji Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa suatu saat nanti Konstantinopel akan dikuasai tentara Islam. Meski peristiwa penaklukan itu jaraknya telah 700 tahun dari sabda Rasul. Namun terdapat value yang jelas dalam kisah itu, yakni; Bagaimana kita menulis cerita kita sendiri, menentukan langkah hidup atas dasar pilihan yang kita tentukan. Tidak pernah membiarkan orang lain menentukan masa depan kita, justru tangan dan langkah kita lah yang bertanggungjawab atas diri kita, untuk menulis jalan hidup kita sendiri, untuk menulis sejarah kita sendiri.

Sejarawan dapat menulis apapun tentang sejarah orang, tentang peristiwa yang pernah terjadi, bahkan dengan piawai –bisa saja- para penulis membuat karangan cerita sejarah palsu dari peristiwa sesungguhnya. Sesuai kepentingannya, alur cerita itu bisa ditulis kemana pun ia mau. Sebanding pesanan pula, ia bisa memutar balikkan sejarah yang terjadi. Sebelum sejarah kita digoreskan oleh orang, -rasanya- lebih baik kita menuliskan sejarah kita dengan kekuatan dan tangan kita sendiri. Tidak membiarkan orang lain yang menentukan sejarah dan masadepan kita. Kitalah yang bertanggung-jawab atas diri kita, untuk menulis jalan hidup kita sendiri, untuk merangkai alur sejarah kita sendiri.

Untuk menulis dan merangkai cerita hidup, Cordova Founding Father, kerap mengajarkan kami, untuk menulisnya dengan berimajinasi, menghayal semua cerita yang akan kita wariskan kepada anak-anak tercinta, kepada orang yang datang sesudah kita semua. Mungkin apa yang kita goreskan ini akan menjadi catatan sejarah yang dibaca oleh puluhan tahun generasi yang akan datang.

Sejarah hidup tak akan pernah berubah, jika apa yang kita goreskan benar-benar dinantikan oleh semua orang tercinta. Mereka akan menjaga dan mengabadikan keabsahan sejarah yang kita ukir. Menangkis setiap tangan jahil yang akan merubah alur cerita sesungguhnya, berbekal dari apa yang ia rasakan dari result yang kita ukir sendiri.

Intinya, disaat kita mengukir sejarah dengan tangan kita sendiri, maka biarkan pikiran menerawang tuk apa yang kita impikan itu terjadi. Menjadi sebuah ‘product’ yang dinantikan banyak orang.

Semua manusia tentunya ingin selalu menjadi yang spesial di mata siapapun. Anak dimata orangtua, istri di mata suami, murid di mata guru, dan seterusnya. Terlebih jika spesial itu di hadapan ALLAH SWT, Rabb dan Dzat yang memberikan segalanya kepada makhluk. Tentunya akan sangat berharga, karena setiap perlakuan spesial akan dirasa kenikmatan yang tiada tara. Diberikan layanan yang prima, layanan kasih serta sayang dari apa yang kita inginkan. Semua yang spesial berawal dari pemberian layanan yang spesial juga. ALLAH akan sesuatu yang spesial, ketika kita memberikan persembahan (layanan) total kepada-NYA. Pun demikian dalam dunia bisnis, pelayanan berhubungan dengan kualitas produk yang berupa barang ataupun jasa. Jika untuk meningkatkan kualitas produk, maka kini telah dikembangkan konsep Total Quality Management. Adapun untuk meningkatkan kualitas pelayanan (service) telah dikembangkan konsep Total Quality Service. Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan perlu diidentifikasikan ‘Siapa pelanggan kita (?)’, ‘Apa kebutuhan pelanggan kita (?)’ dan apa ‘produk’ yang kita tawarkan (?). Pelayanan prima merupakan terjemahan dari istilah ‘Excellent Services’ yang secara harfiah berarti pelayanan yang sangat baik, atau pelayanan yang terbaik. Itulah result yang akan diraih dari identifikasi-identifikasi diatas tersebut.

Pelayanan prima bermula dari hal detail yang tak luput dari perhatian. Selain ‘hardware’, ‘software’, -tentunya- brainware juga harus diperhatikan. Yah, jika dalam ilmu komputer ada perangkat lunak dan keras, maka brainware adalah orang yang terlibat dalam kegiatan pemanfaatan komputer tersebut. Tanpa adanya brainware, mustahil hardware dan software yang canggih sekalipun dapat dimanfaatkan secara maksimal. Demikian pula dalam dunia pelayanan jasa, jika semua alat dan product sudah tersedia, tetapi orang yang mengendalikannya luput dari upgrade (pembenahan) diri, maka goal yang dituju akan lepas atau jauh api dari panggang.

Dalam pelayanan prima terdapat dua elemen yang saling berkaitan, yakni pelayanan dan kualitas. Kedua elemen itu sangat penting untuk dimiliki oleh setiap kita yang menjadi ‘brainware’ dalam sebuah perusahaan jasa. Dengan kata lain, pelayanan yang memenuhi standar kualitas adalah suatu pelayanan yang sesuai dengan harapan dan kepuasan costumer.

Untuk memenuhi semua itu, Cordova mencoba terus berbenah dalam segala hal. Road to Excellent, pengertiannya adalah proses menuju kesempurnaan, yah karena kita meyakini bahwa setiap apa yang kita berikan dengan total, tidak akan pernah ada kata sempurna, karena kesempurnaan hanya milik-NYA. Terus melangkah dalam kenyamanan pelayanan terbaik. Merangkai tangga kesempurnaan dengan segala kerendahan hati.

(to be continued)

Sejak pengujung abad yang lalu hingga kini, diskursus mengenai pemimpin atau kepemimpinan mencuat ke permukaan. Ada dua penyebabnya. Pertama, banyak pemimpin dalam berbagai bidang terlibat pelanggaran moral. Kedua, mungkin karena usianya yang makin menua, dunia kita sekarang tak kuasa lagi melahirkan pemimpin-pemimpin besar (great leader) seperti pada masa-masa terdahulu. Kenyataan ini dikeluhkan oleh Jeremie Kubicek (2011) dalam bukunya yang kontroversial, “Leadership is Dead: How Influence is Riviving it” (kepemimpinan telah mati: bagaimana pengaruh yang merupakan inti kepemimpinan bisa dihidupkan kembali). Dikatakan, pemimpin sekarang lebih banyak menuntut (getting), bukan memberi (giving), menikmati (senang-senang), bukan melayani (susah-payah), dan banyak mengumbar janji, bukan memberi bukti. Dalam fikih politik Islam, moral yang menjadi dasar kebijakan dan tindakan pemimpin adalah kemaslahatan bangsa.

Dikatakan tasharruf al-imam `ala al-ra`iyyah manuthun bi al-mashlahah (tindakan pemimpin atas rakyat terikat oleh kepentingan atau kemaslahatan umum). Jadi, pemimpin wajib bertindak tegas demi kebaikan bangsa, bukan kebaikan diri dan kelompoknya semata. Kaidah ini diturunkan dari moral kepemimpinan Nabi SAW seperti disebutkan dalam Alquran. Firman ALLAH, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS: At-Taubah : 128). Ada tiga sifat (moral) kepemimpinan Nabi SAW berdasarkaan ayat di atas.

Pertama, azizin alaihi ma anittum (berat dirasakan oleh Nabi penderitan orang lain). Dalam bahasa modern, sifat ini disebut sense of crisis, yaitu kepekaan atas kesulitan rakyat yang ditunjukkan dengan kemampuan berempati dan simpati kepada pihak-pihak yang kurang beruntung. Secara kejiwaan, empati berarti kemampuan memahami dan merasakan kesulitan orang lain. Empati dengan sendirinya mendorong simpati, yaitu dukungan, baik moral maupun material, untuk mengurangi derita orang yang mengalami kesulitan.

Kedua, harishun `alaikum (amat sangat berkeinginan agar orang lain aman dan sentosa). Dalam bahasa modern, sifat ini dinamakan sense of achievement, yaitu semangat yang mengebu-gebu agar masyarakat dan bangsa meraih kemajuan. Tugas pemimpin, antara lain, memang menumbuhkan harapan dan membuat peta jalan politik menuju cita-cita dan harapan itu.

Ketiga, raufun rahim (pengasih dan penyayang). ALLAH SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Nabi Muhammad SAW adalah juga pengasih dan penyayang. Orang-orang beriman wajib meneruskan kasih sayang ALLAH dan Rasul itu dengan mencintai dan mengasihi umat manusia. Kasih sayang (rahmah) adalah pangkal kebaikan. Tanpa kasih sayang, sulit dibayangkan seseorang bisa berbuat baik. Kata Nabi, “Orang yang tak memiliki kasih sayang, tak bisa diharap kebaikan darinya.” Bagi ulama besar dunia, Rasyid Ridha, tiga moral ini wajib hukumnya bagi pemimpin. Karena, tanpa ketiga moral ini, seorang pemimpin, demikian Ridha, bisa dipastikan ia tidak bekerja untuk rakyat, tetapi untuk kepentingan diri, keluarga, dan kelompoknya saja. Maka, betapa pentingnya moral pemimpin.

(Sumber: Republika)

Awalnya, -saya- ragu mengangkat kondisi politik Timur Tengah yang meluas menuju Jalur Sutra di smartBLOG ini, namun karena angle yang akan dikemukakan adalah peran media yang mampu merubah kondisi apapun, maka –setidaknya- terdapat korelasi dengan konten website Cordova, yang juga tak pernah luput untuk memperhatikan konflik-konflik yang terjadi di Timur Tengah. Baiklah, embrio tulisan ini, -sesungguhnya- berawal dari banyak perbincangan diantara jemaah maupun team Cordova di sudut-sudut diskusi ringan. Mengenai konflik yang terus melanda Timur Tengah, negeri-negeri yang secara langsung atau tidak memiliki pengaruh dengan dunia yang kami geluti. Mencermati pergolakan politik di Maroko, Tunisia, Al-Jazair, Mesir, Jordania, Yaman, Syiria dan seterusnya, menarik untuk dikaji. Gencarnya media seringkali hanya memblow up ‘Apa yang terjadi’ yang terkadang juga hanya menjadi komoditi bos media untuk sebuah kepentingan besar dari hal yang terjadi.

Tulisan yang mungkin –kurang- ilmiah ini, mencoba menguraikan bukan dari aspek ‘apa yang terjadi’ namun mencoba untuk sedikit menguak persoalan dari sisi ‘Mengapa ia terjadi’, baik dari aspek internal maupun eksternal. Berangkat dari asumsi bahwa konflik lokal merupakan bagian dari konflik global. Itu mutlak, karena memantau gejolak dan gerakan massa di Timur Tengah (Timteng) harus totalitas dan bulat.

Pada akhir 2010 hingga awal tahun 2013 ini terjadi gelombang protes dan demonstrasi di sejumlah negara Timur Tengah dan Afrika Utara. Percikan pertama dari rangkaian perubahan ini terjadi pada 17 Desember 2010 saat seorang pemuda Tunisia bernama Muhammad Buazizi (26) ia juga adalah simbol pemuda tertindas di kota itu. Buazizi, selama tujuh tahun berjibaku menjadi tukang sayur, hingga polisi menyita gerobak sayurnya. Ia dituduh berjualan tanpa izin. Ia pun sudah mencoba membayar 10 dinar Tunisia dan membayar lagi sekitar 7 USD, namun ia malah ditampar, diludahi dan ayahnya (yang sudah meninggal) dihina serta dicaci maki. Lalu ia pun menuangkan bahan bakar ke tubuhnya dan membakar dirinya sendiri. bak sebuah akumulasi amarah, ternyata ia tidak hanya membakar dirinya, tetapi juga membakar amarah seluruh rakyat Tunisia atas kediktatoran rezim yang berkuasa. Keesokan harinya, kota Sidi Bouzid menyaksikan demonstrasi besar-besaran. Aparat melawan para demonstran, hingga berakibat pada kerusuhan yang meluas.

Daerah-daerah lain di Tunisia pun kemudian ikut bangkit dan menyatakan solidaritas. Tak lama berlalu, seluruh Tunisia bergolak dan pada 14 Januari 2011, Presiden Zainal Abidin Ben Ali yang telah berkuasa hampir 25 tahun pun melarikan diri ke Arab Saudi. Pergolakan Tunisia ini lantas mewabah ke daerah sekitarnya, yakni Mesir dan Libya, dan ke seluruh penjuru Timur Tengah. Gelombang pergolakan inilah yang disebut dengan Arab Spring (Musim Semi Arab) atau Revolusi Arab.

Kisruh politik di kelompok negeri seputaran Jalur Sutra memang tidak sporadis atau berdiri sendiri-sendiri. Seperti ada skenario besar yang tengah dijalankan. Ada wayang, dalang dan juga terdapat kelompok hajatan atau yang punya hajat.

Pergolakan yang membentang dalam wilayah geografis sangat luas ini tentu saja memiliki latarbelakang, pemicu, pola, karakter, dampak, dan kerangka yang berbeda-beda. Sejumlah analisis memilah antara pergolakan yang autentik, lahir dari aspirasi rakyat domestik dan pergolakan yang disponsori dan dipicu oleh kepentingan asing. Sejauh ini kita juga dapat menemukan tiga kelompok pengamat yang meletakkan rangkaian pergolakan ini dalam tiga tema besar, pergolakan demi ‘sekerat roti’; tuntutan pada kebebasan, penegakan HAM dan demokrasi; dan terakhir, kebangkitan Islam (Islamic Awakening). Tentu tiga tema ini tidak selalu berarti saling berhadap-hadapan, melainkan justru kerap saling mendukung dan melengkapi.

Hal yang menarik adalah peran media yang justru menyatukan people power yang teramat dahsyat. Tak mampu dibendung oleh kepemimpinan diktator dan kekuatan militer loyalis. Padahal Bangsa Arab –sesungguhnya- sudah sejak lama terkenal dengan ‘silent people’, masyarakat yang hanya bisa diam dan menyaksikan ketidak adilan didepan matanya. Tiada kuasa dalam melawan kekuatan rezim. Artinya apapun gejolak di Timteng dan sekitarnya, terutama negeri seputaran Jalur Sutra — apabila ia menyangkut politik dan kekuasaan, sesungguhnya tak lepas dari “remot” Amerika Serikat (AS) dari kejauhan. Indikasi itu terlihat di Mesir. Adanya statement beberapa pakar dan tokoh Mesir sendiri menyebut, bahwa siapa memegang tampuk kekuasaan di negeri piramida harus melalui “restu” dari Paman Sam. Meski kebenaran pendapat tersebut sempat kabur dengan turunnya 1500 tentara Israel membantu pemerintah Mesir, ditambah bertolak-belakangnya statement antara Tel Aviv dan Washington.

Namun akhirnya terkuak bahwa ternyata hanya soal ketakutan berlebihan (phobia) Israel ditinggal sendirian jika Mubarak jatuh. Bagi Israel, kejatuhan Mubarak, selain akan menghilangkan sekutu dekatnya – juga bisa berimbas putusnya pasokan 40 % gas dari Mesir jika kelak rezim penggantinya sosok anti-Israel. Dan phobia Israel terbukti dengan meledaknya pipa yang mentransfer gas ke negaranya. Disinyalir pergolakan di Mesir akan menciptakan kekacauan ekonomi Israel. Tel Aviv khawatir perubahan rezim di Mesir kemungkinan akan merugikan impor gas, sebab cadangan gas Israel hanya bertahan hingga akhir tahun ini.

Media-media sosial yang kerap digunakan oleh masyarakat luas sebagai motor pergerakan adalah kanal Youtube, Facebook, foto album Flickr, serta akun Tumblr. Juga melalui e-mail, BBM dan teknologi komunikasi lainnya.

Dengan aktif di media sosial, hal itu menandakan bahwa selain dari isu ‘seksi’ mengenai revolusi, terdapat alat yang juga sangat mempengaruhi perjuangan mereka. Alat yang ketika dikendalikan sesuai dengan misi perjuangan, maka ia akan menjadi kekuatan dahsyat yang sulit dibendung oleh kekuatan militer sekalipun.

Syukur tiada henti terus terucap menghantar smartUMRAH perdana di tahun 2013. Hari Rabu 06 Februari ini menjadi momentum awal keberangkatan smartUMRAH Cordova. Masih pada momentum Maulid Nabi, smartUMRAH yang kali ini mayoritas mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan, termasuk Prof. Arief Rahman, Pakar pendidikan, yang tampak sangat antusias dalam persiapan keberangkatan ke Tanah Suci. Berkah yang mengiringi smartUMRAH ini adalah dengan turunnya kembali hujan, semoga air hujan yang mengguyur bumi kali ini menjadi keberkahan yang tidak mengakibatkan bencana. Juga sebagai penyubur kegersangan yang melanda sebagian jiwa bangsa tercinta. Semoga juga perjalanan ini memberikan semangat berlapis untuk semua smartUMRAH dalam melaksanakan ibadah umrah. Kembali dengan membawa predikat maqbul, terampuni segala dosa dan terkabul setiap doa yang terpanjat.

Mengawal tema tentang Maulid Nabi tercinta Muhammad SAW, para smartUMRAH yang berkarakter di dunia pendidikan. Baik para pendidik ataupun wali siswa menjadi sangat relevan jika dikaitkan dengan peran Rasul sebagai pendidik dan pengajar. Sebagaimana firman ALLAH (QS: Az-Zumar – 9) “Katakanlah (Muhammad) ‘Apakah sama orang-orang yang tahu (berilmu) dengan orang-orang yang tidak berilmu (?) Sesungguhnya orang-orang berilmu / (berakal) lah yang akan dapat menerima pelajaran”. Oleh karenanya belajar tiada kata akhir. Terbebas dari dimensi waktu dan tempat.

Pendidik atau pengajar sesungguhnya juga saling melakukan simbiosis dengan anak didik untuk selalu belajar. Dunia belajar mengajar itulah yang diwajibkan bagi setiap muslim hingga akhir hayat. Mencontoh bagaimana Rasulullah SAW yang sampai akhir hayatnya adalah pengajar dan pendidik yang sangat baik. “Tuntutlah ilmu sedari kecil hingga akhir hayat” begitu pesan agama yang kerap terdengar oleh kita.

Rasulullah SAW adalah sebaik-baiknya teladan dalam belajar dan mengajar. Beliau belajar kepada Jibril, dan mengajar beragam ilmu kepada para sahabat. Semoga perjalanan suci ini smartUMRAH akan lebih mendapatkan value ibadah bersama Rasul, bukan hanya sebagai pendidik tetapi bagaimana akhlaq nya yang begitu antusias dalam mencari ilmu.

Wal akhir, semoga momentum maulid ini bukan hanya mengingatkan kita pada sejarah kehidupan Rasul saja, tetapi lebih mendalami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata kita. Yaa Rabb