Beberapa bulan yang lalu, tepatnya kisaran bulan April – Mei tahun ini, media massa banyak mengangkat tentang spanduk-spanduk yang bertuliskan ‘Negeri Auto Pilot’ yang dipasang di beberapa titik keramaian Ibukota. Karena pesannya begitu ‘dalam’ dan –mungkin juga- banyak membuat ‘panik’ beberapa pihak, maka spanduk-spanduk itu tak bertahan lama. Dalam pandangan kami, kalimat Auto Pilot itu sendiri memiliki dua pemahaman yang teramat dalam, dan menarik untuk dibahas, hingga ruang lingkup dunia bisnis sekalipun. Yah, ada dua sisi positif dan negatif jika kita melihat penggalan kata ‘Auto Pilot’ itu sendiri. Kita tidak akan membahas tentang persoalan spanduk-spanduk bertuliskan ‘Auto Pilot’ di titik ramai Ibukota seperti bahasan diatas. Namun lebih mengangkat tentang persoalan baik dan buruknya sebuah Perusahaan Auto Pilot. Seperti dua mata sisi yang terdapat dalam uang logam, keduanya akan membentuk sebuah perspektif ketika gambar mana yang akan digunakan.

Jika ‘gaya’ perusahaan menggunakan ‘Auto pilot’ tanpa goal, atau tanpa sebuah tujuan, maka inilah yang akan membawa ‘Auto pilot’ itu akan hancur berkeping. Tiada arah tanpa landasan, tiada tujuan tanpa arah. Semua terombang dalam kebingungan. Entah kemana langkah itu kan tertuju. Tiada kebersamaan dalam komando, bersatu dalam kepentingan individu, beratap dalam skill individu yang tak bersinergi. Ia terbang kemana arah angin meniupnya, tanpa landasan yang akan menyelamatkan dalam kubangan besar bernama company. Tidak jelasnya arah itulah yang membuat sistem ‘Auto Pilot’ menjadi tidak berguna sedikit pun.

Berbeda jika sistem ‘Auto Pilot’ itu memiliki visi yang jelas dalam melangkah, mungkin perjalanan itu akan sangat berbeda, bahkan menghasilkan suatu wish coming true. Dengan balutan visi yang jelas dalam menggunakan systemAuto Pilot’ maka bangunan perusahaan itu akan terhindar dari siklus negatif yang kerap melanda dunia bisnis; Generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, sedangkan generasi ketiga menghabiskan.

Awalnya, auto pilot berarti sistem mekanikal, elektrikal, termasuk hidraulik yang memandu sebuah pesawat atau kapal tanpa campur manusia. Namun karena terlihat efisien dan efektif, lama-kelamaan, ini digunakan juga dalam dunia bisnis. Salahsatunya menuangkan visi-visi suatu company, baik dalam bentuk road map dalam jangka waktu panjang ataupun pemaparan kerja selama beberapa waktu ke depan (visi-Misi).

Dengan sistem auto pilot yang dilengkapi dengan arah yang jelas, maka semua perangkat yang memfasilitasi ‘penerbangan’ company itu, dapat melintasi antariksa sekalipun, -tentunya- dengan sangat mudah terjangkau. Semua skill ‘awak’ penerbangan itu bersinergi dalam mengawal dan mensukseskan perjalanan bisnis perusahaan tersebut.

Karenanya, apapun yang terlontar dari ungkapan Cordova Founding Father beberapa waktu lalu senantiasa mengandung arti dalam mensukseskan pijakan Cordova selanjutnya.

So’ Auto Pilot adalah dua perspektif yang akan mengubah pandangan kita tentang kinerja dan loyalitas kerja.

Hidup adalah berpikir. Karena segala perjuangan hidup tak lepas dari aktivitas pikir. Dengan pikiran, Islam pun tegak dalam peradaban yang penuh adab, pikiran juga mampu menciptakan segala sesuatu berjalan sesuai dengan buah pikirnya. Islam datang bermula dari kata verbal yang connecting jua dengan aktivitas berpikir. Setelah Islam menyebar ke-seantero Bumi, intisari pelajarannya banyak diserap dan digunakan justru oleh pihak yang ingin merebut peradaban Islam yang sudah sangat terkenal dengan kekuatan pikir serta spirit ke-islamannya. Pikiran adalah anugerah ALLAH yang paling besar dan terindah. Dengan memahami cara bekerja dan mengetahui bagaimana cara mendayagunakan kekuatan pikiran, kita dapat menciptakan hal-hal terbaik bagi kehidupan. Dengan melatih dan mengembangkan kekuatan pikiran, selain kecerdasan intelektual dan kecerdasan kreatif kita meningkat, juga secara bertahap kecerdasan emosional, bahkan kecerdasan spiritual kita akan bertumbuh dan berkembang ke tataran yang lebih tinggi.

Pikiran adalah sebuah kerajaan terkadang tanpa tuan. Dikatakan kerajaan tanpa tuan karena mahkota tampuk kerajaan berpindah-pindah dari kekuasaan satu ke kekuasaan lain dalam tempo sesingkat-singkatnya, atau bahkan bercokol agak lumayan lama bertahan tergantung dari mood. Suasana kerajaan ini sering terjadi hingar-bingar, sunyi, sepi, silih berganti.

Bayangkan jika kita berada dalam situasi dimana tempat tinggal kita tanpa ada kekuasaan yang jelas. Tentu banyak saja sisi empuk untuk duduk di tempat tersebut. Maksudnya, karena kekosongan temporary, pikiran ini mudah berganti fokus perhatian seperti memutar pita kaset saat menekan fwd. Isi pikiran atau perhatian mudah berganti-ganti secara cepat dan random.

Imaginasikan sesuatu hal yang indah, menajubkan, dalam benak lalu bayangkan kita terlibat di dalamnya. Bagaimana kondisi perasaan saat itu (?) Boleh jadi kita dalam keadaan nyaman, kondusif, positif, dan PeDe. Boleh percaya boleh tidak. Sesungguhnya imajinasi adalah awal proses awal penciptaan di dunia maya. Semakin dan berulang imajinasi muncul dalam pikiran dan perasaan, maka dunia universal/alam semesta akan menerjemahkan imajinasi tersebut dalam dunia nyata.

Sisi paradigma orang-orang suci, bijak, leader memang agak berbeda dengan kebanyakan umumnya. Mereka melihat dunia bukan berarti aneh, tetapi penuh dengan daya kreatifitas, dan unik. Perpaduan selaras, harmoni antara pikiran, perasaan, alam semesta yang didukung dengan penuh kebahagian akan menarik daya khayal ke dunia realita secara cepat, terkadang sangat cepat dan tak terduga. Demikianlah orang-orang unik yang mungkin di Bumi ini hanya berjumlah hitungan jari.

Essai Palestina

Masih sulit untuk dibayangkan, ketika pijar api itu menggulung rumah yang bertahun-tahun mereka pertahankan. Dengan keringat, bangunan batu-bata itu tersusun, kini tinggalah ponggahan dan puing yang mengenaskan. Mereka memasang sebuah rumah dalam lekuk aliran darah di mana kepergian adalah juga kepulangan. Di sana, berlapis-lapis musim senantiasa menemuinya dalam hujan. Kisah-kisah tentang bangsa yang mencari rumahnya kembali di ujung tangisan. Barangkali, kepiluan adalah batu-batu yang dirawat oleh sejarah tempat kebanggaan menjadi masa lalu. Sebuah bangsa yang hilang dalam egoisme yang tak berujung. Di sana rumah mereka benar-benar berangkat dalam pengembaraan panjang di antara pekuburan tanpa jeda. Begitu panjang dan melirih.

Namun kami masih saja mempercayai sebuah rumah tetap mengalir dalam mimpi panjang sebuah bangsa yang terus terusir. Tanah-tanah yang memasang pijaran lampu di mana kanak-kanak menatapnya dalam gairah. Mereka berlari kesana-kemari memutari bangunan rumah yang luasnya hanya sepetak, bermain petak umpat dengan anak-anak tetangga. Tertawa lepas, terseyum manis dengan kepangan rambut yang membuat setiap orang gemas dan rindu. Kini rumah itu telah menjadi lubang jagal bagi mereka. Anak-anak harus petak umpat dengan martil dan peluru yang entah muncul dari mana. Rumah tempat merebahkan diri dan berlindung dari panas dan dingin itu, kini telah menjadi bangunan yang menghancurkan tubuh mungil itu. Mematahkan tulang-tulang kecil, meremukkan susunan tubuh cantik anak-anak Palestina. Balita cantik berkepang dua itu, kini telah di tandu kaku bersama puluhan bocah lainnya. Di rumah itu, rumah yang menjadi dunianya.

Rumah yang terus saja terbit setiap pagi menjatuhkan kabut itu tak menemukan tanahnya lagi. Hikayat-hikayat telah menerbangkannya dalam berlembar-lembar puisi yang tak pernah terbaca. Tangisan yang tak lagi ber-airmata, dan jeritan yang tak bersuara. Semuanya menyatu dengan rasa yang penuh duka. Wajar jika –saya- dan mungkin juga Anda masih bisa berjalan dengan tegak, karena masih dapat menyaksikan, memeluk dan menciumi buah hati tercinta di sebuah rumah yang nyaman. Rumah yang terhindar dari hiruk pikuk dan desingan suara rudal. Hallo (?) Ini Jakarta Bung, bukan Gaza! Hmm… yup, benar. Namun setidaknya simpati ini menjadi kepingan doa yang terbang bersama semangat mereka.

Mereka memasang sebuah rumah dalam lekukan aliran darah, di mana tangisan adalah juga ketakberdayaan. Pada kelokan di mana kehilangan bertemu dengan cahaya bulan yang penuh tumpahan darah itu rumah menjadi demikian jauh di pelupuk mata. Lalu mereka mungkin sedang berjalan ke pemakamannya sendiri. Menjadikannya kisah tertinggal disetiap jejak kematian antara luka dan dendam. Di sana, mereka mencari rumah. Senantiasa saling mencari di antara kabut dan peperangan. Diantara keserakahan dan kebuasan yang bernama manusia.

*Untuk (Syuhada) anak-anak Palestina, sambutlah rumah indah di Surga-Nya

Entah sampai kapan nyawa di negeri para Nabi, Palestina itu akan bernilai. Harganya teramat murah dibanding sepasang sepatu para pemuka Arab yang tak terusik dengan gejolak yang terjadi. Tangisan para ibu yang bayinya gugur dihantam roket, hanyalah sebuah drama klasik, -yang menurutnya- akan terus berulang, dan berharap mereka yang gugur masuk ke dalam surga-Nya. Jeritan anak-anak ketika di bom-bardir oleh persenjataan canggih Israel, tak mampu menggerakkan rasa untuk berbuat ditengah kuasa minyak yang berlimpah. Ruang-ruang seminar dunia Arab hanya menjadi ruang diskusi pencitraan dunia internasional, bahwa mereka peduli dengan nasib Palestina. Agar dunia menyaksikan bahwa mereka bersatu untuk mendamaikan konflik panjang Palestina-Israel. Negara tak ber tanah air (Israel) itu sesungguhnya hanya secuil dari negeri Arab yang sangat luas, namun gurita Arab tak mampu melenyapkan Israel dari peta Timur Tengah.

Yah, pastinya kita tidak bisa berharap banyak pada dunia Arab untuk keselamatan Palestina. Seperti hilangnya harap pada Barrack ‘Husen’ Obama, sebagai orang no 1 negara Adidaya. Presiden yang konon dekat dengan dunia Islam itu malah mendukung agresi militer Israel ke Tanah Gaza akhir-akhir ini, dalihnya sebagai bentuk perlawanan pada serangan pejuang Palestina ke Tel Aviv. Sebuah langkah politis yang ‘membeo’ zionis. Tak peduli masyarakat dunia mengecam tindakan brutal Israel, Obama ‘keukeuh’ memeluk erat kekasihnya untuk terus mendukung agresi itu. Entah ada apa dengan dunia Arab yang selalu ‘silent’ dengan peristiwa yang terjadi di Jalur Gaza, mereka hanya cukup dengan mengecam dan mengutuk, bereaksi tanpa aksi. Mungkin karena kepentingan mereka dengan Negeri Paman Sam, membuat langkah strategis politik terhadap Palestina menjadi ‘lembek’.

Rasanya tanpa khilafah Islamiyyah, atau Daulah yang terpusat pada satu pimpinan Islam dunia, sulit untuk menghentikan airmata bangsa Palestina. Teramat rumit untuk mencegah terjadinya perdamaian di Timur Tengah, keruntuhan Turki Utsmani menjadi gerbang musuh Islam untuk menghancurkan dunia Islam. Belum lagi dengan senyum hipokrit para pemimpin Arab yang apriori terhadap mujahidin Islam di belahan Bumi. Mereka akan terus mengencangkan jemari untuk kepentingan politik negerinya sendiri, sembunyi pada zona aman yang terpayungi oleh negeri polisi dunia, AS beserta sekutunya. Entah sampai kapan dunia mengutuk aksi brutal zionis itu, sebuah harapan yang –sejatinya- akan segera melenyapkan bangsa Yahudi dari Bumi ini.

Secara subjektif, –saya- hanya berharap, semoga Bangsa Yahudi segera bersatu dalam satu teritorial. Sehingga –ketika bersatu dalam satu tempat-, mudah untuk menghancurkan bangsa tersombong di muka Bumi ini. Pun demikian dengan catatan sejarah, Islam menjelaskan dengan lugas bahwa suatu saat Bangsa Yahudi akan berkumpul pada satu tempat, maka saat itulah mereka akan dihancurkan dengan sangat tragis. Mereka pun meyakini hal itu, namun ironi-nya mereka malah berbondong membangun ribuan tempat tinggal, untuk menciptakan Negara Israel Raya. Sepertinya mereka mempersiapkan kuburannya sendiri di tanah jajahannya.

Bersabarlah duhai Bangsa Palestina, airmata dan pengorbananmu adalah perjuangan yang termat mulia guna menghancurkan bangsa laknat dari muka Bumi ini. We will not go down!

Setiap akan tiba tahun baru, mindset kita sudah terfokus pada suasana yang meriah, aneka kembang api, pesta pora, dan sejumlah hiburan lainnya akan mengawali langkah di tahun baru. Yah, itulah fenomena pesta Tahun Baru Masehi, yang gebyar-nya selalu terasa bersamaan dengan hari natal sebelumnya. Berbeda dengan pergantian tahun baru Islam, -meski- gebyarnya dirasa kurang ‘merasuk’ pada setiap masyarakat muslim, namun –sesungguhnya- substansi hijrah itulah yang diharapkan mampu menjadikan kita memiliki harap yang lebih besar dibanding dengan perayaan Tahun baru Masehi. Harapan baru tentang bagaimana –sejatinya- seorang muslim melangkah, tentang bagaimana seorang Haji mempertahankan kemabrurannya. Dan tentang bangsa yang harus keluar dari jeratan sakit yang berkepanjangan. Harapan baru di awal berkahnya Hijriyyah.

Hampir disetiap peralihan tahun baru, setiap kita selalu memiliki harapan lebih baik dalam melangkah. Beralih dari hal tidak baik menuju yang lebih baik, dari kondisi menjenuhkan pada situasi yang penuh dengan inspiratif. Dan dari hal-hal yang berbau usang menuju kondisi serba anyar. Pola kerja, sistem kerja, dan hal-hal “kata kerja” inilah yang –sesungguhnya- terlampau usang untuk dibicarakan. Tetapi yang patut dijadikan inspirasi dalam mengawali tahun baru justru berada pada kata sifat ‘Semangat’ dan ‘Harapan’. Yah, bagaimana konteks semangat dan harapan itu dapat menguasai setiap jejak yang akan terpijaki.

Bukan hanya diawal tahun baru tentunya semangat dan harap itu harus tetap terjaga. Tetapi menjadikan tahun baru sebagai momentum Re-Charge Semangat Baru adalah sesuatu yang sejatinya berkobar di setiap mengawali tahun baru. Jika semangat telah terpatri, maka apapun yang dikerjakan akan sangat mudah dan penuh dedikasi. Itulah kenapa Umar bin Khattab mencetuskan ide pembuatan kalender Hijriyah, sepenuhnya karena dilandasi semangat keislaman yang sangat kuat.

Begitu pula dengan Sultan Shalahudin Al-Ayubi, ketika menjadi Panglima perang Islam saat menghadapi kaum salibis, ia membakar semangat umat Islam yang pada saat itu terkesan berada pada titik stagnan. Sultan Shalahudin menabuh perang dengan mencetuskan sebuah perayaan ‘Maulid Nabi’ yang tak pernah ada sebelumnya. Dengan perayaan itu, Sang Sultan berharap semangat Umat Islam kembali naik dengan mengenang sekaligus merefleksi bagaimana perjuangan Rasulullah dalam menegakkan agama Islam. Begitu juga dengan Panglima Thariq bin Ziyad yang mampu menguasai Spanyol dengan membakar satu-satunya kapal laut milik umat Islam setelah di kepung oleh tentara Nasrani di pesisir pantai. Ide pembakaran itu tiada lain mengobarkan semangat juang tentara Islam untuk menghadapi musuh yang sudah di depan mata. Walhasil Islam berhasil masuk dan menguasai Andalusia.

Sejarah dan pembelajaran di atas, tentunya mengandung hikmah yang sangat dalam di mata umat Islam. Betapa pentingnya mencipta dan memelihara semangat dan memiliki harap, karena tanpa semangat dan harapan, mustahil Islam akan berada di belahan bumi yang secara letak geografis sangat sulit tuk disinggahi.

Jika pada peralihan tahun baru hijriyyah ini, kita tidak memiliki harap dan semangat dalam melangkah, maka peristiwa besar dalam dunia Islam itu kita lewatkan seperti hari biasa saja, flat dan tak bergairah. Tidak menjadikan momentum Hijriyyah sebagai tolak ukur perubahan sikap. Setidaknya, -pada kesempatan itu- kita berharap bahwa tahun depan semua langkah kita masih tetap terjaga dan terberkahi.

Pahlawan adalah manusia misterius. Karya tanpa nama, keberadaanya tiada namun berasa. Terpuruk, terluka, demi bangsa dan agama –Cordova Founding Father-

Pagi itu, gerbang menuju pemakaman tua baru saja terbuka. Ratusan langkah mulai menapaki anak tangga di sebelah utara tempatku menginap. Ratusan bahkan ribuan pusara dan batu nisan berjejer rapi. Tidak ada yang unik, semuanya hampir sama bentuk dan panjang-nya makam-makam itu. Jarak antara satu makam ke makam lain hanya berapa kasta saja, antara blok satu dengan blok lain di batasi jalan untuk mereka yang berziarah. Meski tanpa pohon kemboja yang selalu menghiasi makam di Tanah Air, ratusan nisan itu tetap terlihat bersih dan terawat. Tidak pula berlapis semen, atau keramik mewah. apalagi berlapis emas atau replika helm diatas pusaranya. Nisan yang dijadikan sebagai petunjuk itupun hanya seponggah batu biasa. Hanya sebagai tanda, bahwa area itu adalah makam seseorang. Makam manusia mulia yang merupakan pahlawan sebenarnya.

Yah, di dalam sana jasad manusia-manusia mulia terkujur. Tanpa terukir sedikit pun nama dan jasa mereka. Tanpa hiruk pikuk pro dan kontra, layak atau tidak bergelar pahlawan. Kontribusinya sangat jelas dan terasa oleh jutaan manusia hingga kini. Saya tidak begitu paham tentang letak sahabat Rasul yang satu dengan yang lain, karena memang bentuknya sama rata. Tidak ada perbedaan antara raja dan budak, kaya dan miskin, semuanya sama bernisan batu. Hanya beberapa sahabat dekat Rasul saja yang –mungkin- di yakini letaknya dimana, itu pun kerap diakhiri oleh empu (penjaga) Makam Baqi itu dengan ungkapan Wallahu ‘alam.

Saya tidak akan memperpanjang tentang dimana letak makam sahabat Rasulullah SAW itu berada, saya hanya ingin mengkorelasikan makna pahlawan hakiki dengan pemahaman pahlawan yang banyak diperdebatkan di negara kita. Tentang bagaimana para pahlawan diberlakukan oleh kita sebagai penerima tongkat estafeta kehidupan beragama dan berbangsa. Siapa –sebenarnya- yang layak menerima gelar pahlawan (?)

Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan-nya. Tetapi apa cukup mereka hanya menjadi sebuah simbol yang akan ramai dikunjungi saat ritual penghormatan setiap 10 November (esok hari) di atas batu nisan (?) Hemat saya –justru- Bangsa ini akan besar ketika attitude dan action para pahlawan dapat menyemangati segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak lantas dengan segala ‘kepentingan’ berebut tuk mendapatkan empati sebagai pengusung ‘Sang Pahlawan’, tetapi sikap dan jasa sosok yang di usung melebur usai upacara ‘Penghormatan’ itu.

Menurut pandangan saya, siapapun memiliki kans sebagai Pahlawan, tidak terkecuali mereka yang melakukan perjalanan haji menuju Baitullah. Selain menyempurnakan bangunan keislamannya, rangkaian doa mustajabnya kerap memberikan sentuhan Ilahiyyah guna kemakmuran bangsa. Karena tanpa elemen itu, Indonesia tak kan pernah mampu bertahan menuju suatu kenikmatan berbangsa dan bernegara. Terlebih bagi mereka yang gugur dalam kesucian di tanah-Nya. Mereka bukan hanya sebagai haji yang mabrur, tetapi pahlawan dan duta Bangsa yang mengharumkan Bangsa di atas nisan yang penuh dengan keberkahan.

Saya kembali pada gambaran dihadapan saya pada makam Baqi, dihadapan nisan yang tak bertuan, makam yang penuh berkah, makam pahlawan sesungguhnya, pahlawan yang tak ingin namanya terukir diatas ukiran apapun, pahlawan sejati yang membela kebenaran seutuhnya. Mereka terpuruk, terluka dan terkoyak hanya demi kemuliaan anak-cucu dan bangsanya. Pun demikian, semoga para Pahlawan bangsa ini selalu diberikan tempat yang terindah di sisi-NYA. Juga memberikan semangat kepahlawanan bagi kita semua, seperti kata Cordova Founding Father di atas; Mereka adalah manusia misterius, berkarya tanpa nama.

Kemana kita setelah berhaji (?) Sebagai seorang “Pak Haji” atau orang biasa yang pernah berhaji -bila tak ingin disebut “Pak Haji”-, gerak kita seolah dibatasi oleh tembok-tembok norma. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Harus bisa ini, harus bisa itu. Citra Pak Haji sebagai “orang suci” masih erat melekat di mata masyarakat. Di pelosok-pelosok daerah, Pak Haji sepertinya kurang pas kalau kemana-mana tidak memakai kopiah dan berdiri di shaf pertama saat shalat berjamaah. Meski tidak sekuat di daerah, di perkotaan citra Pak Haji tetap masih bertahan di benak masyarakat. Namun lebih ke arah substansinya seperti bagaimana akhlak dan ibadah sepulang haji menjadi sorotan. Bila yang melakukan maksiat adalah orang awam, sepertinya masyarakat sudah menganggap biasa. Tapi kalau Pak Haji pelakunya, bakal jadi berita heboh bak kejahatan luar biasa.

Oleh karena itu rasanya kita patut lebih berhati dalam melangkah. Mabrur diraih bukan tanpa perjuangan. Dari pada merasa terkungkung dengan batasan norma lebih baik nikmati saja karena menjaga norma Islam adalah wujud ketaatan kepada sang Khalik. Fokus pada kebebasan berlimpah pasca haji. Kita bebas berperan lebih banyak bagi umat karena takkan khawatir dibilang sok alim seperti kala belum ke tanah suci. Wajar jika ‘bu haji’ melarang karyawannya memakai pakaian ketat padahal dahulu bisa jadi beliau salah satu penggiatnya. Pak haji tidak akan ditertawakan bila menggagas majlis taklim karyawan klub malam, meski sudah tidak lagi clubbing. Atau mungkin menjadi pendiri gerakan wakaf Al Qur’an se Asia Tenggara.

Kemanakah kaki kita melangkah (?) Karena ia akan menjadi saksi di akhirat kelak. Pergi belanja ke Mall menjadi ladang tarbiyah saat si kecil diminta mencari permen berlabel halal. Pergi dinas ke Macau, jadi ladang amal, kala kita malah berhasil membuat direktori restoran halal di Macau.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan kemabruran kita. Air mata yang senantiasa deras mengalir saat shalat tahajud di depan Ka’bah, apakah akan tetap mengalir setelah 4 bulan kembali berjibaku dengan padatnya pekerjaan kantor. Ketawadhu’an, keikhlasan, kesabaran, keramahan, dan semangat menebar salam kala berinteraksi dengan jutaan jemaah haji, janganlah sirna ditelan waktu. Bergabung dengan komunitas orang-orang sholeh. Bagi setan, kita laksana banteng yang sendirian padahal singa takkan berani memangsa banteng yang berkerumun. Lagian sederhana saja rumusnya. Bergaul dengan tukang minyak, maka kita akan ikut wangi.

Kemanakah Pak Haji melangkah (?) Mari sesekali kita singgah ke bantaran kali ciliwung, sekedar mengantar sebungkus fried Chicken atau gado-gado untuk sang dhuafa yang menahan lapar. Atau rutin bertamasya ke pusara untuk mengingat maut yang pasti datang meski bekal belumlah cukup. Bisa juga Cicipi mahalnya kesehatan lewat jendela ruang ICCU.

Mari kita simak, kemana kaki kita melangkah (?).

Jakarta, 25 Oktober 2012.

Wukuf Live adalah event tahunan Cordova yang telah berlangsung sejak smartHAJJ 2008/ 1429 H. Kegiatan lepas kangen antara jamaah smartHAJJ di Tanah Suci dengan keluarga di Tanah Air yang Cordova fasilitasi dengan video conference melalui satelit Inmarsat menggunakan teknologi BGAN ini membuat sensasi emosi smartHAJJ membumbung tinggi di Arafah.

Wukuf di Padang Arafah adalah peristiwa yang sangat besar di muka Bumi. Bagi umat manusia, -sesungguhnya- tidak ada peristiwa yang terdahsyat selain apa yang terjadi di hari ini, di hamparan Padang Arafah. Dimana ALLAH SWT, Pencipta, Pemilik dan Penguasa Alam Raya, turun langsung ke Langit Bumi, menembus relung jiwa manusia muslim di hamparan Arafah. Membangga-banggakan manusia muslim yang sedang wukuf kepada para Malaikat-Nya. Peristiwa Besar inilah (Wukuf) yang sepatutnya dikenal dan dipahami secara luas oleh masyarakat muslim di Indonesia, terutama bagi anak dan keluarga mereka yang berada di Arafah.

Arafah adalah tempat dipertemukan kembali Adam dengan Hawa dalam kasih sayang dan ampunan Allah, peristiwa monumental tersebut diabadikan dalam prosesi terpenting ibadah haji yaitu Wukuf Arafah. Sebagai rukun haji, Wukuf di Arafah menjadi indicator sah-tidaknya seseorang berhaji sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa Haji itu (wukuf di) Arafah. Sudah menjadi tradisi setelah mengikuti wukuf Arafah dengan sholat berjamaah, mengikuti khutbah Arafah, berdoa dan dzikir bersama, para jamaah saling bermaafan dan mengucapkan selamat satu dengan lainnya.

Dengan berkembangnya teknologi, permohonan maaf juga dilakukan para jamaah kepada keluarga terdekatnya yang ada di Tanah Air. Suasana yang sarat emosi jiwa dalam rasa syukur yang kuat atas terselenggaranya prosesi terpenting ibadah haji, wukuf di Arafah. Keharuan paling dalam dirasakan antara orang-tua dengan anaknya yang terhalang jarak, kerinduan yang terpendam sepeninggal orang-orang terkasihnya melakukan perjalan haji akan tertumpah saat mereka “dipertemukan” melalui video conference di Aula Cordova di daerah Kemang.

Momentum sakral wukuf selalu menjadi ‘Primadona’ dalam setiap etape perjalanan haji. Untuk ke-5 kalinya pelaksanaan wukuf menjadi ajang ‘Klimaks’ dalam menyambungkan rasa antara mereka yang melaksanakan wukuf di Arafah dengan keluarga tercinta di Tanah Air. Selain itu, Cordova juga mencoba untuk mengkoneksikan kepedulian mereka dengan saudaranya yang tertimpa musibah. Menyapa, berdo’a dan mengumpulkan dana untuk sekedar memberikan motivasi, bahwa mereka yang tertimpa musibah di seantero negeri masih memiliki saudara yang selalu mendoakannya di Tanah Suci.

Seperti estafeta wukuf live tahun 2010, keluarga dan anak-anak jemaah haji yang berada di Arafah telah berhasil mengumpulkan dana kemanusiaan untuk korban Merapi. Tahun ini, dengan semangat Care & Share, semoga bisa memberikan yang terbaik pula bagi mereka yang terkena Musibah di manapun. Apapun bentuk bantuan itu, bisa materi ataupun doa-doa Arafah yang pasti di ijabah.

Wukuf Live yang mengusung konsep ‘Care & Share’ ini sekaligus ikhtiar dari pengejawantahan makna Mabrur yang berimplikasi pada kebaikan dan rasa peduli terhadap sesama.