Well, tujuh tahun sudah Cordova berada dalam dinamika kehidupan masyarakat Indonesia. Dari segi umur, memang masih tampak ‘hijau’, namun spirit membangun peradaban Andalusia-nya tak pernah hanyut dalam setiap langkah. Tak banyak mengira kalau Cordova tampil bukan hanya di dunia traveling suci haji dan umrah, karena memang sejak awal bangunannya di-setting bukan hanya sebagai jembatan menuju Baitullah, tetapi lebih integral merangkai cita mulia peradaban Islam di Cordoba, Andalusia. Kemajuan sains dan budayanya telah banyak menelurkan inspirasi untuk merubah dan mengembalikan paradigma Islam sebagai agama kuat yang elegan dengan balutan seni Islam yang menawan dan berkarakter. Menyerap kelebihan budaya lain, lalu memodifikasi dan membuat inovasi dengan beragam ide adalah ciri sains yang juga menjadi salahsatu ciri agama Islam. Karena sejak awal Rasulullah SAW telah menegaskan, bahwa Islam bukanlah agama baru, dan Al-Quran bukanlah satu-satunya kitab, tetapi kitab terakhir yang menyempurnakan semua kitab yang telah ada. Ciri khas Islam adalah menjadi penghubung ke masa lalu dan masa depan.

Begitulah Cordova ini dibangun dengan penuh konsep yang menyelaraskan zaman ‘klasik’ dengan kondisi yang akan terus berlaju. Menjaga tradisi tanpa menanggalkan impian masadepan yang terus mengalami perubahan. Karenanya –saya- sering melihat banyak orang yang terheran-heran melihat headquarter Cordova atau setiap both-both yang terpasang baik di ajang expo maupun event-event Cordova. Entahlah, apakah keheranan itu sebagai rasa takjub akan keindahan seni Islam. Atau heran karena sulit mendeteksi profit apa yang didapatkan Cordova dalam merancang semua ini. Merancang sebuah Civilization (Peradaban) yang –mungkin- banyak pihak yang meragukan atau pesimis akan terwujud. Tetapi dengan spirit kuat, komitmen dan kerja smart, minimal akan tumbuh generasi Cordoba melalui celah komunitas smartHAJJ dan smartUMRAH-nya.

Saya dan juga team, sangat menyadari ke arah mana Cordova ini di bentuk. Terpaan mental dan pembelajaran hidup menjadi yang utama dalam membangun misi besar ini. Karenanya serpihan dinding penyangga bangunan ini, terdiri dari kombinasi rasa, jiwa dan raga. Semua terbalut oleh semangat keindahan peradaban Cordova yang menjanjikan kesejahteraan lahir dan batin. Seperti semangat Ibnu Battuta dari Marokko. Seorang petualang terhebat sepanjang sejarah. Perjalanan dan petualangannya naik haji kerap menjadi syiar besar bagi perkembangan Islam di Muka Bumi.

Hanya soal waktu, begitu para ulama menjelaskan tentang kembalinya peradaban Islam ke tangan muslim. Sejarah kan selalu terulang, karena hidup selalu mengalami siklus perputaran. Cordova akan menjadi barometer betapa Islam adalah agama yang tak bisa dilepaskan dengan keindahan apapun. Bismillah…semua tergantung pada niat.

Kesungguhan dan potensi diri adalah master keys dalam menciptakan kesuksesan nyata” –Cordova Founding Father

Kami selalu diajarkan untuk senantiasa stand by dalam menjalankan tugas, memberikan service detail yang excelent. Namun juga kami selalu diberikan kesempatan untuk meng-Upgrade diri serta mengelola potensi yang ada dalam diri setiap kami. Menikmati teknologi serta kosmetik yang membuat kinclong diri. Terkadang semua kemampuan tergadai oleh sikap ‘kasih’ yang teramat jembar. Meski –sedikit- jika tidak dikatakan tanpa kontribusi bagi roda Company, namun semuanya kami nikmati dengan penuh rasa. Dalam kacamata bisnis, -tentunya- semua hal itu membutuhkan konsekwensi yang tidak murah bagi sebuah company. Betapa tidak, di saat company membutuhkan result matang dari setiap skill yang terlahir dari background semua individu –kemampuan akademis-, tetapi ladang menuju pembenahan diri begitu luas. Kesempatan yang merata tuk menata jiwa dikala dunia kerja di depan mata.

Diperlukan sikap tanggungjawab pada setiap episode yang terlakoni. Jika para ahli agama bilang ‘Gusti ALLAH ora sare’ dalam menyikapi keikhlasan kerja, maka cukuplah bagi kita selain keyakinan itu dengan mempatrikan diri bahwa semua yang kita lakoni bermanfaat bagi diri kita sendiri. Permasalahannya, bagaimana menyeimbangi potensi diri dengan tuntutan kewajiban yang terus update, menuntut perkembangan inovasi yang terlahir dari jiwa kreativitas. Merangkak, berjalan atau berlarikah kita tuk menggapainya (?). Disinilah substansi sebenarnya, ketika skill –senantiasa- menjadi komando diri dalam menciptakan kemandirian kerja. Merancang strategi yang membumi dengan kualitas skill yang mumpuni. Tiada lagi menampakkan muka memelas belas kasih untuk diberdayakan, kini eranya skill yang bermain. Meng-upgrade diri atau tergilas zaman.

Itulah yang Rasulullah SAW ajarkan kepada umatnya, bahwa hidup dikasihani tidak lebih mulia dari hidup yang mengkasihani diri sendiri, menyayangkan diri jika tak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi hidup. Sehingga ia tergerak dan melakukan up-grade tuk menghadapi segala tantangan zaman yang digelutinya. Tidak hanya menanti belas kasih tuk meng-survive-kan hidup hanya karena telah melakukan ‘kewajiban’ biasanya. Namun enggan tuk melakukan terobosan ‘kewajiban’ luarbiasa.

Strategi yang membumi adalah sebuah konsep yang terurai dari manusia-manusia cerdas tuk mempetakkan segala permasalahan yang dihadapi. Memberikan solusi atau jalan tuk memuluskan misi kebersamaan. Tentunya dengan menyimak semua aspek riil yang mendukung jalannya misi tersebut. Tanpa mengada-ngada, terlebih terjebak pada sebuah retorika komunikasi yang selalu mentok dengan aksi.

So’ mari bersama-sama tuk menjemput anugerah ALLAH SWT tuk membuka, menggali, mengenali, mengembangkan dan memanfaatkan potensi diri yang –sejatinya- telah lama berada dalam diri setiap kita.

Lebih dari 4000 tahun lalu, tiga anak manusia, dengan bekal secukupnya, berjalan kaki sejauh 2000 km melintasi gurun pasir dari Syam menuju lembah tandus yang tak berpenghuni, Bakkah. Mereka adalah satu keluarga: Ibrahim, sang ayah, Ismail, sang anak yang masih bayi, dan Hajar, sang ibu. Dapatkah kita menghitung bahwa jarak tempuh mereka mungkin -saat ini – sebanding dengan jarak antara Sulawesi – Jakarta. Di lembah Bakkah, mereka memulai kehidupan baru tanpa siapa-siapa. Ya, cuma mereka bertiga. Tidak lama setelah itu, sang ayah mendapat perintah dari Dzat Mahakuasa untuk kembali ke negeri asalnya serta melanjutkan tugas-tugas sucinya di sana. Sungguh, ia tak kuasa memberitahukan perintah itu kepada istrinya. Namun, harus bagaimana (?) Dengan terbata-bata, akhirnya, disampaikannya juga perintah itu.

“Apakah Kakanda akan meninggalkan kami di sini, di gurun gersang tak berpenghuni ini, tanpa siapa-siapa (?)”, tanya istrinya dengan sendu. Nabi Ibrahim hanya terdiam karena sungguh -memang- ia tidak memiliki jawabannya dari sudut pandang manusiawi. “Atas perintah ALLAH-kah ini wahai Kakanda (?)”
“Ya…”, jawab sang suami dengan lirih.

Menurut kita, logika mana yang dapat menerima seorang ayah harus meninggalkan istri dan anaknya yang masih merah di sana (?) Dapat dibayangkan, jika saja saat itu sudah berdiri Komnas HAM, tentunya NABIYULLAH Ibrahim As sudah diseret ke pengadilan HAM karena dakwaan pelanggaran HAM berat. Namun begitulah, tidak semua hal dan peristiwa di dunia ini dapat dilogikakan oleh manusia. Yang dapat menerima rumus logika hanyalah yang sifatnya “rasional”, sedangkan hal-hal yang suprarasional, bukan menjadi wilayah garapannya

Sebelum meninggalkan mereka di lembah itu, Nabi Ibrahim menengadah ke langit. Dengan tangan terangkat, ia menggumamkan beberapa penggal doa, bukan untuk menunjukkan kegalauan hatinya, melainkan sebaliknya. Untaian munajat itu justru untuk mempertegas keyakinannya akan kepastian jaminan yang diberikan oleh ALLAH SWT, Sang Pembuat Skenario, yang memilih ia dan keluarganya sebagai pemeran utama.

“Ya, RABB”, demikian orang tua suci itu memulai doanya, “Sungguh aku telah menempatkan dzurriyat (istri dan anak)-ku untuk menetap di lembah yang tak tertumbuhi tanaman apa pun, di sisi rumah-MU yang disucikan. Yaa RABBANAA, semua itu kulakukan agar mereka mendirikan salat. Maka penuhilah hati sebagian manusia dengan cinta kepada mereka dan rezekikan kepada mereka buah-buahan agar mereka bersyukur” (Q.S. Ibrahim: 37).

Sungguh sebuah doa yang visioner dari seorang visioner! Dan, lihatlah, bagaimana ia menjadikan “rezeki buah-buahan” sebagai prioritas terakhir dalam permohonannya itu.

Dalam bagian munajat-munajatnya yang lain, lelaki suci ini kembali menunjukkan visi futuristiknya yang cemerlang. Saat itu, ia telah meng-install di alam bawah sadarnya bahwa sebentar lagi lembah Bakkah yang gersang, tandus, dan tidak berpenghuni itu akan menjadi kawasan yang makmur, aman, dan sejahtera. Lihatlah, bagaimana visi itu dituangkan dalam doa.

“Wahai RABB, jadikanlah kawasan ini negeri yang aman dan berikanlah rezeki kepada penduduknya berupa buah-buahan yang banyak…” (Q.S. al-Baqarah: 126).

Visi yang dilandasi skill individu dan spirit keagamaan tentunya akan menghasilkan visi yang Mardho TILLAH. Karenanya, jangan pernah bermain-main dengan visi, sebab itulah yang akan menampakkan kehidupan kita selanjutnya, setelah langkah saat ini tertapak.

“Cinta itu laksana pohon dalam jiwa, akarnya adalah ketundukan, dan buahnya adalah ketaatan, tanpa pohon Bumi kian gersang” –Cordova Founding Father

Banyak syair yang menceritakan tentang kekuatan cinta. Tentang sesuatu yang dapat merubah segala hal mustahil menjadi nyata. Tentang rasa yang mendorong raga tuk melakukan segala asa, dan masih banyak hal yang terungkap dari cerita cinta. Namun sering juga cinta menjadi absurd, dari dan untuk siapa rasa cinta tertinggi itu diberikan. “Jangan terlampau besar mencinta, karena dapat terjatuh pada jurang kebencian”, adigium yang sering terdengar dari pujangga cinta itu –tentunya- hanyalah sepenggal cinta sesama makhluk. Namun berbeda ketika rasa cinta itu tertuangkan kepada Dzat Maha Pen-Cinta. Bahkan seorang sufi selalu memposisikan dirinya sebagai ‘Pengemis’ cinta Ilahi, bahwa cinta tertinggi itu hanyalah untuk ALLAH SWT.

Jika dicermati dengan nurani, maka puncak perjalanan hidup manusia –sesungguhnya- adalah mahabbah atau cinta, dan yang berhak untuk menerima cinta tertinggi kita hanyalah ALLAH SWT. DIA lah satu-satunya Mustahiq cinta. DIA hanya berlaku diskriminatif dalam urusan agama dan cinta saja. IA hanya mencintai orang yang mencintai-NYA. Dan IA memberikan kepada siapa saja kasih sayang-NYA, tetapi tidak dengan cinta (hubb)-NYA. Semakin kita mendekat, maka IA akan semakin merapat kepada kita, pun demikian semakin jauh kita pada-NYA, maka kenestapaan yang teramat dahsyat bagi manusia. Sebab DIA tidak akan pernah mendekat kepada kita.

Seorang sufi wanita terkenal dari Bahsrah, Rabi’ah Al- Adawiyah (w. 165H) ketika berziarah ke makam Rasul Saw. pernah mengatakan: “Maafkan aku ya Rasul, bukan aku tidak mencintaimu, tapi hatiku telah tertutup untuk cinta yang lain, karena telah penuh cintaku pada ALLAH SWT”. Tentang cinta itu sendiri, Rabiah mengajarkan bahwa cinta itu harus menutup dari segala hal kecuali yang dicintainya. Bukan berarti Rabiah tidak cinta kepada Rasul, tapi kata-kata yang bermakna simbolis ini mengandung arti bahwa cinta kepada ALLAH adalah bentuk integrasi dari semua bentuk cinta termasuk cinta kepada Rasul. Jadi mencintai Rasulullah Saw. sudah terhitung dalam mencintai ALLAH SWT. Seorang mukmin pecinta ALLAH pastilah mencintai apa-apa yang di cintai-NYA pula. Rasulullah pernah berdoa: “Ya ALLAH karuniakan kepadaku kecintaan kepada-MU, kecintaan kepada orang yang mencintai-MU dan kecintaan apa saja yang mendekatkan diriku pada kecintaan-MU.

Jiwa para pencinta, tak kan pernah mengemis cinta kepada selain kekasihnya. Ia terus memberikan cinta kepada Mustahiq cinta hakiki, tak peduli harus berkorban hidup yang berupa materi. Karena dengan mencintai-NYA, ia kan terjamin oleh kekasihnya yang MAHA segalanya.

Rasanya jika kita tanya ke separuh muslim Indonesia secara random tentang nama-nama bulan hijriyyah, atau menanyakan tanggal berapa hari ini dalam kalender Hijriyyah, pastinya masih banyak yang kurang paham. Kalau pun tahu, -mungkin- akan berpikir sejenak sebelum menjawabnya. Mengapa demikian (?) karena memang kalender Hijriyyah masih terasa asing dalam penentuan tanggal di negeri ini. Selain itu, gebyar dari peralihan tahun Masehi begitu membahana di langit bumi. Kemeriahannya menyulut semua generasi dari generasi mengenang setiap peralihan tahun Masehi. Sebelum mengupas tentang dominasi Masehi atas Hijriyyah, baiknya kita bahas dulu tentang tahun Hijriyyah dan Masehi. Penanggalan Bulan Hijriyyah adalah mengikuti perputaran bulan, bukannya matahari seperti penanggalan Masehi. Oleh karena itu, jumlah harinya pun berbeda. Hijriyyah memiliki 11 hari lebih pendek dari Masehi, karena dalam perhitungan matahari dalam satu tahun terdapat 365 hari, sedangkan pergerakkan bulan hanya terdapat 354 hari.

Ada dua sisi jika kita perhatikan mengenai dua tahun ini, pertama ditelaah secara history, kedua dengan pendekatan adat dan tradisi. Baiklah pertama kita kupas sedikit tentang Masehi. Tahun baru Masehi pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (Sebelum Masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai Kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari, dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Adapun Bulan Hijriyyah, seperti namanya, ia ditetapkan setelah Rasulullah SAW Hijrah dari Makkah ke Madinah. Hijrah ini bukan sekedar secara fisik tapi juga hijrah secara drastis dari sisi mental. Seperti yang diungkapkan oleh sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab tentang hijrahnya Nabi Muhammad Saw, bahwa “Hijrah itu membedakan antara yang hak dan bathil”.

Secara tradisi, peringatan Tahun Baru Masehi merupakan budaya asli Eropa yang di impor ke Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Sebelum masa penjajahan Belanda, rakyat Indonesia mengenal kalender Hijriyyah dan kalender Saka. Budaya peringatan Tahun Baru Masehi tak lepas dari peringatan kelahiran Isa Al Masih as. dalam kepercayaan orang Kristen. Nama Masehi diambil dari kata Al Masih -gelar untuk Nabi Isa AS-. yang dianggap Tuhan oleh Umat Kristen. Secara bahasa, kata Masehi juga sering digunakan untuk menyebut nama lain dari agama Kristen. Tahun Masehi dalam bahasa Latin disebut Anno Domini (Tahun Tuhan), disingkat AD.

Kendati demikian, apapun alasan yang terlontar dengan pendekatan histori atau pun tradisi, kita masih harus mengakui, bahwa tahun Masehi masih sangat melekat dikalangan masyarakat kita. Entahlah, apakah itu konspirasi Yahudi agar umat Islam terhindar dari pengetahuan tentang penanggalan Islam, yang nota bene sebagai acuan dari penjadwalan ibadah, atau memang karena kitanya sendiri (muslim) yang tidak ingin di ribet kan dengan dua penanggalan Hijriyyah maupun Masehi. Syiar tentang pentingnya penanggalan Hijriyyah, masih kalah dengan geliat mereka yang ‘memiliki’ tahun Masehi. So, kita masih sadar, bahwa Masehi (masih) Juara.

“Tanpa mimpi, event sebesar apapun hanya akan berlangsung dengan sangat datar, kosong dari kreativitas dan inovasi” –Cordova Founding Father

Banyak sekali berita atau artikel-artikel motivasi mengenai kekuatan mimpi. Bahkan bukan hanya artikel, mungkin diantara kita selalu hadir mengikuti kelas-kelas motivator Indonesia. Membahas dan mendiskusikan tentang peran ‘mimpi’ dalam aktivitas keseharian. Bagaimana mimpi dapat membangun sebuah kekuatan raga dalam menyusun lego-lego kehidupan. Bagi sebagian orang hidup adalah perjuangan. Tetapi bagi kami, hidup adalah sebuah mimpi, mimpi yang harus di ‘nyata-kan’ dalam segala bentuk kehidupan. Dengan mimpi manusia akan mempunyai keinginan untuk berbuat dan bertindak. Klasik memang ungkapan tersebut, bukan karena sering terdengar dan hadir dalam diskusi keseharian tentang mimpi dan kekuatannya, namun demikian lah nyatanya, bahwa mimpi memiliki peran dalam menentukan kehidupan kita di masa yang akan datang. Manusia tanpa mimpi bak hidup dalam pasungan. Terpasung dan terhalang oleh benteng kokoh yang menghimpitnya. Tiada detak dalam titik.

Bermimpi bukan buah dari kemalasan, namun mimpi adalah rongga menuju kedinamisan hidup. Mimpi adalah suatu kekuatan yang akan mendorong manusia agar hidup tak mudah nyerah, pasrah dengan ‘nasib’ yang diberi, dan legowo ketika asa memutuskan rasa. Berkhayal dan bermimpi adalah dua kosakata yang kerap disandingkan kepada mereka yang –konon- ‘terdakwa’ sebagai manusia irasional. Namun sesungguhnya, peristiwa-peristiwa yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan, muncul dari mereka yang menjiwai setiap pekerjaannya dengan berhayal dan bermimpi.

“Jangan bermimpi di siang bolong” Meski kalimat ini mengajarkan kita untuk realistis dalam menjalani hidup, tetapi makna optimisme-nya perlu ditingkankan menjadi “Gapailah mimpi mu meski hari menjelang siang”. Tiada batasan waktu untuk menciptakan mimpi menjadi nyata. Karena tiada manusia yang tahu kapan waktunya kan berhenti.

Terbang menuju mimpi adalah suatu yang awalnya imposible, tetapi jika dijalani secara konsisten dengan melibatkan jiwa yang sungguh tuk menggapainya, niscaya akan muncul beragam jalan tuk mendapatkannya. Bukankah semua yang ada disekitar kita berawal dari mimpi dan imaginasi belaka (?) berkhayal dengan cukup mengutarakan pertanyaan ‘HOW’, dilanjutkan dengan pencarian jalan menuju mimpi yang menurut banyak orang mustahil tuk di gapai.

Itulah sebabnya, kenapa setiap akan menuju satu event, kami selalu diajarkan untuk berkhayal dan bermimpi terlebih dulu. Meraba dan merangkai khayalan tuk menciptakan sebuah bangunan yang nyaris sempurna. Bangunan kehidupan yang hampir menyamai impian kita di alam fikir.

Panggung politik Timur Tengah dua hari ini –setidaknya- mereda dari gejolak ambisius zionis. Darah dan airmata bangsa Palestina, terutama para syuhada di Jalur Gaza mendapatkan hasil positif dalam mempertahankan tanah lahirnya. Meski hanya berstatus sebagai ‘Anggota Negara Pengawas’ PBB (seperti halnya Vatikan), namun nafas perjuangan perlu dinikmati sejenak untuk kembali menatap, dan meraih sebagai negara utuh yang mendapatkan hak sepenuhnya sebagai negara yang berdaulat penuh. Meski masih lunak dalam posisi hukum internasional, akan tetapi Palestina akan menjadi barometer kekuatan Bangsa Arab di mata dunia internasional. Terlebih peran Turki dan Mesir yang tampak menjadi kekuatan baru dalam pengokohan peradaban Timur.

Amerika, Israel dan Kanada menjadi negara yang teramat getol menentang ‘Kemerdekaan’ Palestina dalam peningkatan status Palestina. Bukan hanya ingin menghindar dari tuntutan hukum atas Israel dengan dakwaan melakukan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Mereka (Zionis dan sekutunya) harus menghadapi pula kekuatan baru dunia Arab yang diprakarsai Mesir dan Turki.

Baiklah kita tinggalkan sejenak percaturan politik Timur Tengah yang –sejatinya- boleh percaya atau tidak, Israel akan lenyap dalam peta dunia karena ulahnya sendiri. Bangsa ‘culas’ yang tidak tahu malu itu, terlalu menganggap remeh perjuangan intifadah yang dikobarkan rakyat Palestina sejak beberapa tahun kebelakang. Kecanggihan alat perangnya, tak mampu menggoyahkan kekuatan jihad bangsa Palestina. Keberaniannya hanya berada dibelakang senjata canggih, yah senjata canggih yang mereka acungkan kepada kaum hawa dan anak-anak.

Kemenangan ini adalah kemenangan umat Islam, kemenangan ini adalah kemenangan rakyat Palestina, suatu kemenangan yang berharap gerakan fatah dan Hamas masuk dan bergandeng tangan dalam gerbang rekonsiliasi nasional. Tentunya menyongsong masadepan Negara Palestina, negara yang berwibawa dan mampu melakukan perlawanan hukum terhadap bangsa yang menjajahnya.

Selamat, BARAKALLAH! Darah dan airmata para syuhada menjadikan bangsa ini mampu berbicara diatas mimbar Majlis Umum PBB, yang dikenal dengan ‘Hak Nurani Dunia”

Tiada yang tersia dalam perjuangan mu, MERDEKA Palestina!

Nama aslinya Didi Darmadi, namun terkenal dengan sebutan Jantux. Wajahnya sedikit sangar, rambut panjang bergelombang, serta perawakannya subur namun berotot. Yah, Didi adalah sosok yang kerap kami jumpai di kawasan Cordova office. Meski terlihat ‘sangar’, namun –sesungguhnya- Didi memiliki hati yang mulia. Selain bekerja sebagai ‘tukang parkir’ di sebuah mini market, ia juga merangkap sebagai tukang ojek. Pelanggan ojeknya bukan hanya kalangan WNI, bahkan ia mengaku banyak juga orang ‘bule’ yang menjadi pelanggan setianya. “Setiap pagi saya mengantar ‘bule’ asal Inggris ke kantornya di daerah Sudirman, setelah itu kembali giliran sama teman-teman jaga parkir”, gumam Didi yang hobi menggunakan kacamata hitam kemana pun itu.

Sepintas, orang yang baru pertama melihat penampilannya, akan mengira bahwa Didi adalah seorang Preman. Yah, preman ‘kampung’ yang konon sering mengganggu kepentingan umum. Namun jika mengenal lebih dekat dengan Didi dan teman-teman ‘seperjuangannya’, maka penilaian itu salah. Didi bersama temannya itu, hanyalah sekelompok orang yang mencari nafkah dengan apa yang bisa mereka kerjakan. Bagi mereka, pekerjaan sebagai tukang parkir dan tukang ojek bukanlah suatu pekerjaan yang hina. Bahkan mereka menikmati pekerjaannya, bersemangat mendulang rezeki, -meski- harus berjuang lebih keras untuk survive di tengah geliat kehidupan masyarakat Kemang.

Jika ditelusuri lebih lanjut, tentunya kita akan salut dengan Didi ‘n’ the gank. Bagaimana tidak, dengan penghasilan seadanya, ternyata Didi bisa menyekolahkan adik-adiknya. Ia rela putus sekolah dan bekerja ‘serabutan’ hanya karena lebih memilih agar adik-adiknya lah yang melanjutkan sekolah. Pun demikian dengan M. Tisna, yang terkenal dengan sebutan Dede, atau juga Opick yang akrab di panggil Jawa. Nasibnya hampir sama dengan Didi, bedanya mereka sudah berkeluarga dan memiliki buah hati. Penghasilan mereka pun terfokus untuk mengepulkan dapur serta biaya pendidikan anak-anaknya.

Meski hidup dalam kesederhanaan, jika kita singgah ke tempat ‘nongkrong’-nya, maka akan tampak sebuah kencleng kuning, dibalik kaki besi antena Parabola milik mini market tempat mereka ‘bekerja’. Saat ditanya, ternyata kencleng itu adalah uang rembukan sisa dari uang parkir. Setiap harinya mereka menyisihkan sepuluh persen dari pendapat uang parkir. Lalu setelah terkumpul banyak, mereka serahkan uang itu kepada anak-anak yatim yang berada disekitarnya. Penanggungjawabnya adalah Opick, atau ‘Jawa’. Sosok yang pertama kami kenal di daerah itu, bahkan nyaris menganggap sebagai Preman Kemang Timur saat itu.

Ternyata setelah dekat dan mengenal mereka, banyak sisi positif yang kami dapatkan dari mereka yang nampak ‘terpinggirkan’ oleh kehidupan ibukota. Jiwa yang senantiasa bersyukur, tidak mengeluh, solidaritas, serta apa-adanya. Terkadang kami harus banyak belajar kepada mereka tentang arti kehidupan. Tentang sebuah mental manusia ‘pekerja’, manusia yang penuh rasa, manusia yang terlepas dari zona nyaman.

Kami hanya bisa menatap tawa lepas mereka di balik jendela ber-krey kayu.

Dalam setiap pengambilan sikap, kita dianjurkan untuk menyatakannya dengan tegas dan lugas. Hitam atau putih, maju atau mundur. Pun demikian dalam sebuah komando, sikap prajurit harus menyatakan kesiapannya menyambut tugas dengan sangat respek. Begitupula dalam Islam, Rasulullah SAW mengajarkan untuk selalu tegas dalam mengambil sebuah keputusan. Terlebih antara haram dan halal. Terbebas dari sebuah ketidak jelasan. Menghindar dari posisi abu-abu, antara iya dan tidak, tampak siap namun ragu. Hal demikianlah yang kerap menjadikan peran musuh mudah melakukan apa yang mereka inginkan. Hal demikian pula dapat menggelincirkan sikap serta watak manusia pada suatu sikap yang patut dihindari, yakni kemunafikan. Atau terlampau nyaman dengan zona ‘nyaman’ sehingga sikap yang ‘tampak’ respek terlihat seolah-olah bereaksi, namun pada kenyataannya tiada aksi yang tereksekusi. Kalaupun terjalani atau tereksekusi, itupun hanya berjalan beberapa saat saja, setelah suasana kembali normal, maka ‘perintah’ itu akan kembali terabaikan. Kontinyuitas dan komitmen itulah yang kini menjadi harga mahal bagi kebanyakan masyarakat kita.

Yah dewasa ini, kita kerap dihadapkan dengan kondisi yang kurang jelas, abal-abal atau selalu berhadapan dengan sikap yang tidak lugas. Baik dalam tataran kepemimpinan nasional, maupun dalam scoop yang lebih kecil, antara pimpinan dan bawahan pada sebuah company. Pernyataan ‘siap’ yang terlontar dalam kesiapan kerja –terkadang- hanya merupakan sikap reaksi, namun terkendala dengan aksi riil. Terlepas dari skill yang mumpuni, masalah ini akan memunculkan stigma buruk bagi individu yang terbiasa melakukan reaksi tanpa aksi tersebut.

Namun –tentunya- tidak bisa dikatakan buruk juga, karena ia telah bereaksi, respek terhadap suatu permasalahan (tidak ‘membatu’ alias apatis), tetapi karena kosong dari aksi itulah yang menyebabkan reaksi itu menjadi tidak berguna. Jika kita masih kabur dalam memahami ‘Reaksi tanpa aksi’, marilah sedikit kita ambil sepenggal contoh mengenai banjir yang kerap melanda di setiap sudut kota saat ini. Setiap akan banjir kita sudah bereaksi untuk mencegah banjir itu, baik dengan bersiap untuk di evakuasi dari tempat banjir, atau menyiapkan penghalang agar air tidak masuk ke dalam rumah. Namun aksi untuk mencegah agar banjir itu tidak melanda kembali, menjadi hal yang teramat sulit dilakukan. Biarlah aksi untuk menangani masalah itu dibebankan kepada orang. Bereaksi namun tanpa aksi.

Contoh lain, ketika seorang pemimpin perusahaan memberikan perintah untuk memberikan pelayan yang terbaik kepada setiap client-nya, dengan sigap kita menyatakan kesiapannya. Bereaksi menyambut perintah tersebut, namun disisi lain ternyata kita tidak memberikan pelayanan terbaik bagi dirinya sendiri. Penampilan, performance dan body langunge yang kerap mengendurkan kualitas layanan tersebut. Bukankah hal demikian juga sebagai pertanda reaksi tanpa aksi (?).

Tentunya, tulisan ini bukanlah sebuah ajang men-judge bahwa kita hanya bisa bereaksi namun kosong dari aksi, terlampau lembut dari bahasa ‘OMDO’. Namun menjadi semacam intropeksi diri bahwa untuk menciptakan sesuatu bernilai tinggi, ternyata tidak bisa hanya dengan sikap reaksi atau cukup dengan respect, namun perlu lebih riil dengan aksi yang telah kita rencanakan.

Rasanya kita pernah mendengar istilah ‘Harakiri’, baik melalui artikel atau berita-berita di layar kaca. Atau bahkan melalui aksi laga film-film Jepang. Adegan ‘Harakiri’ selalu menggambarkan sebuah patriotisme para pelakunya. Harakiri atau bunuh diri ala jepang menjadi salah satu tradisi negeri Sakura. Harakiri dilakukan dengan cara menusukkan samurai ke perut sang pelaku hingga tewas. Akan tetapi dewasa ini, tradisi Harakiri berkembang dengan beragam cara, mulai dari menusukkan samurai, menenggak racun, gantung diri, menabrakkan diri di kereta, hingga loncat dari ketinggian tertentu yang mematikan. Harakiri, suatu aksi yang dilakukan oleh masyarakat Jepang karena mereka tahu malu. Semangat Harakiri ini –tentunya- memiliki nilai filosopis yang mencerminkan sebuah budaya pekerja keras, yang sarat dengan rasa malu ketika mereka gagal mengemban amanah kerja, atau failed dalam mengemban tugas. Mungkin kita masih ingat bagaimana Menteri Kesehatan Jepang yang mengundurkan diri karena melakukan kesalahan. Atau pejabat yang akhirnya bunuh diri karena telah melakukan korupsi. Atau pelajar yang bunuh diri karena nilainya jelek. Dan semua peristiwa itu menjadikan orang Jepang menjadi nomor wahid dalam kasus bunuh diri.

Fenomena Harakiri –menurut saya- menarik untuk dikaji, yah terlepas dari tindakan yang “Tidak normal” dengan bunuh dirinya, atau keluar dari batasan norma agama. Bagi –saya- banyak values yang terkandung dalam Harakiri, mengingat peristiwa bunuh diri acap kali muncul di berbagai negeri, pun demikian di negeri kita, Indonesia. Namun aksi ‘Harakiri’ masih sangat menarik untuk dibahas. Tentunya, kita menyadari bahwa ada motif dan spirit yang ‘berbeda’ dalam aksi Harakiri, berbeda dengan kasus-kasus bunuh diri yang kerap terjadi di negeri kita.

Selain motif rasa malu, dalam Harakiri ada juga motif harga diri. Tindakan kamikaze (yang berarti; angin besar. Sebuah gerakan para pilot yang menabrakkan dirinya ke kapal-kapal sekutu untuk menghambat pergerakan musuh yang mendekati Jepang) ini tiada lain adalah bentuk super heroik. Mereka menunjukkan heroismenya tentara Jepang yang melakukan pertempuran hingga titik tenaga dan titik darah terakhir.

Jika boleh disamakan tindakan para Kamikaze ini dengan gerakan Bom mati syahid di Palestina (Al-‘Amalatu Istishadiyyah), bom bunuh diri, menghancurkan musuh dengan menghantamkan dirinya yang telah dililitkan dengan bahan peledak. Tentu substansinya berbeda, namun motifnya sama. Mempertahankan harga diri tanah dan Bangsanya.

Bunuh diri yang teramat unik ini. Memiliki spirit yang –sepatutnya- menjadi pelajaran untuk kita semua. Pesan dari Harakiri ini –tentunya- bukan mengajarkan kita untuk bunuh diri, namun lebih kepada pesan moral “Tahu Malu-lah”, yang kemudian menjadi semangat untuk berintropeksi agar berbuat lebih baik lagi.