Orang-orang Quraisy dan orang yang masih berpegang pada agamanya adalah penduduk tanah haram (Makkah) yang bersemangat wukuf di Muzdalifah sambil berkata, ‘Kami adalah penduduk Allah’. Sedangkan selain mereka wukuf di Arafah Kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, ‘Kemudian bertolaklah kamu sekalian dari tempat bertolaknya orangorang banyak (Arafah)’.
(Shahih: Ibnu Majah dan Muttafaqun ‘alaih)

Dan ketika kami jelaskan kepada Ibrohim tempat Baitullah janganlah kamu menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf dan orang orang yang mukmin dan orang orang yang ruku’ dan sujud.

Perencanaan adalah awalan yang menentukan. Perencanaan juga bisa mengindikasikan langkah yang diayunkan terkonsep dengan baik. Rencana adalah ‘makhluk’ yang masih berada dalam dunia khayal, bayangan yang terkontrol oleh alam pikir. Ia masih hal ghaib yang sulit terdeteksi oleh dunia riil, masih terkesan liar dan meletup-letup. Sebagian keberadaannya masih berada di luar kawasan otak. Perencanaan akan semakin fokus menjadi ‘makhluk utuh’ ketika tergiring pada sebuah ketetapan hati, yakni; niat. Dengan diikat oleh hati, maka keliaran-nya menjadi lunak dan cenderung taat. Hati menjadi komandan ‘makhluk’ yang bernama rencana. Sehingga memiliki spirit tuk segera bermetamorfosa menjadi nyata. Semua karya manusia awalnya dari sebuah perencanaan yang liar, sampai terikat oleh kekuatan niat tuk merubahnya. Sehingga dalam Islam, ALLAH menilai dan memberikan apresiasi (pahala) ketika sebuah kebaikan masih berada dalam dunia khayal (perencanaan). Jika rencana kebaikan –meski- tanpa aksi saja ALLAH memberikan apresiasi, lalu bagaimana jika semua itu berwujud menjadi aksi (?)

Bila setiap helaan nafas nyaris kosong oleh satu rencana pun, maka dapat dipastikan kita berada dalam langkah kerugian yang nyata. Karenanya, tidak salah jika hati ini di sesakkan oleh rencana kebaikan itu, siapa tahu jika telah penuh akan meluber menjadi aksi. Kekuatan Islam dalam melaksanakan hidup terdapat pada niat, dan niat –seperti telah dijelaskan di atas- adalah corong yang mengingat semua rencana yang ada. Aksi tergantung oleh niat, begitu sabda Rasul dalam menyoal amalan (aksi) dalam setiap langkah.

Rencana yang baik memang harus jelas, matang, mantap, tertata, dan terperinci setiap langkahnya, sehingga memudahkan untuk proses selanjutnya. Namun jika hidup hanya penuh rencana dan rencana terus menerus hingga meluber sekalipun tanpa aksi, tindakan dan gerak nyata, maka rencana itu hanya akan berakhir di tempat sampah, terbuang percuma.

Pada umumnya, gagasan dan pikiran-pikiran yang mendukung ke arah tujuan kita, berdampingan dengan tantangan dan masalah yang pasti muncul di lapangan, namun berbarengan dengan itu pula segala jalan keluar akan menghampiri dengan bergerak secara ajaib.

Setiap mengawali perencanaan-perencanaan –tentunya- selalu berhadapan dengan kondisi yang sesuai dengan keinginan kita atau tidak sama sekali. Perubahan alamiah yang terjadi dari fase ‘liar’ menuju sebuah konsep, dilanjutkan aksi maka akan ada semacam ‘transisi’ dari sikap yang berubah. Seperti halnya, tidak ada di dunia ini yang menginginkan perubahan tanpa melalui trubulensi (perguncangan) yang terjadi. Baik dirasakan dalam jiwa ataupun tapak yang melangkah. Permasalahan lama tidaknya, besar kecilnya ‘guncangan’ itu selalu tergantung pada pola pikir kita sendiri.

“Walaupun aku adalah generasi yang datang paling ujung, aku akan melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh para pendahulu”. Ini adalah penggalan syair Arab yang menceritakan sosok khalifah muda yang menaklukan Konstantinopel. Ketika anak muda berusia 16 tahun itu diangkat menjadi seorang Khalifah, para senior dan ‘sesepuh’ di kerajaan itu meremehkan dan merendahkan, seolah tak percaya dengan kemampuan si anak muda. Maka dengan spirit yang kuat dan percaya diri, khalifah muda ini melakukan ‘loncatan’ yang membuat semua orang terdiam, yakni membebaskan Konstantinopel, wilayah yang tidak bisa dilakukan oleh para senior dan pendahulunya. Hal ini juga merupakan janji Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa suatu saat nanti Konstantinopel akan dikuasai tentara Islam. Meski peristiwa penaklukan itu jaraknya telah 700 tahun dari sabda Rasul. Namun terdapat value yang jelas dalam kisah itu, yakni; Bagaimana kita menulis cerita kita sendiri, menentukan langkah hidup atas dasar pilihan yang kita tentukan. Tidak pernah membiarkan orang lain menentukan masa depan kita, justru tangan dan langkah kita lah yang bertanggungjawab atas diri kita, untuk menulis jalan hidup kita sendiri, untuk menulis sejarah kita sendiri.

Sejarawan dapat menulis apapun tentang sejarah orang, tentang peristiwa yang pernah terjadi, bahkan dengan piawai –bisa saja- para penulis membuat karangan cerita sejarah palsu dari peristiwa sesungguhnya. Sesuai kepentingannya, alur cerita itu bisa ditulis kemana pun ia mau. Sebanding pesanan pula, ia bisa memutar balikkan sejarah yang terjadi. Sebelum sejarah kita digoreskan oleh orang, -rasanya- lebih baik kita menuliskan sejarah kita dengan kekuatan dan tangan kita sendiri. Tidak membiarkan orang lain yang menentukan sejarah dan masadepan kita. Kitalah yang bertanggung-jawab atas diri kita, untuk menulis jalan hidup kita sendiri, untuk merangkai alur sejarah kita sendiri.

Untuk menulis dan merangkai cerita hidup, Cordova Founding Father, kerap mengajarkan kami, untuk menulisnya dengan berimajinasi, menghayal semua cerita yang akan kita wariskan kepada anak-anak tercinta, kepada orang yang datang sesudah kita semua. Mungkin apa yang kita goreskan ini akan menjadi catatan sejarah yang dibaca oleh puluhan tahun generasi yang akan datang.

Sejarah hidup tak akan pernah berubah, jika apa yang kita goreskan benar-benar dinantikan oleh semua orang tercinta. Mereka akan menjaga dan mengabadikan keabsahan sejarah yang kita ukir. Menangkis setiap tangan jahil yang akan merubah alur cerita sesungguhnya, berbekal dari apa yang ia rasakan dari result yang kita ukir sendiri.

Intinya, disaat kita mengukir sejarah dengan tangan kita sendiri, maka biarkan pikiran menerawang tuk apa yang kita impikan itu terjadi. Menjadi sebuah ‘product’ yang dinantikan banyak orang.

Semua manusia tentunya ingin selalu menjadi yang spesial di mata siapapun. Anak dimata orangtua, istri di mata suami, murid di mata guru, dan seterusnya. Terlebih jika spesial itu di hadapan ALLAH SWT, Rabb dan Dzat yang memberikan segalanya kepada makhluk. Tentunya akan sangat berharga, karena setiap perlakuan spesial akan dirasa kenikmatan yang tiada tara. Diberikan layanan yang prima, layanan kasih serta sayang dari apa yang kita inginkan. Semua yang spesial berawal dari pemberian layanan yang spesial juga. ALLAH akan sesuatu yang spesial, ketika kita memberikan persembahan (layanan) total kepada-NYA. Pun demikian dalam dunia bisnis, pelayanan berhubungan dengan kualitas produk yang berupa barang ataupun jasa. Jika untuk meningkatkan kualitas produk, maka kini telah dikembangkan konsep Total Quality Management. Adapun untuk meningkatkan kualitas pelayanan (service) telah dikembangkan konsep Total Quality Service. Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan perlu diidentifikasikan ‘Siapa pelanggan kita (?)’, ‘Apa kebutuhan pelanggan kita (?)’ dan apa ‘produk’ yang kita tawarkan (?). Pelayanan prima merupakan terjemahan dari istilah ‘Excellent Services’ yang secara harfiah berarti pelayanan yang sangat baik, atau pelayanan yang terbaik. Itulah result yang akan diraih dari identifikasi-identifikasi diatas tersebut.

Pelayanan prima bermula dari hal detail yang tak luput dari perhatian. Selain ‘hardware’, ‘software’, -tentunya- brainware juga harus diperhatikan. Yah, jika dalam ilmu komputer ada perangkat lunak dan keras, maka brainware adalah orang yang terlibat dalam kegiatan pemanfaatan komputer tersebut. Tanpa adanya brainware, mustahil hardware dan software yang canggih sekalipun dapat dimanfaatkan secara maksimal. Demikian pula dalam dunia pelayanan jasa, jika semua alat dan product sudah tersedia, tetapi orang yang mengendalikannya luput dari upgrade (pembenahan) diri, maka goal yang dituju akan lepas atau jauh api dari panggang.

Dalam pelayanan prima terdapat dua elemen yang saling berkaitan, yakni pelayanan dan kualitas. Kedua elemen itu sangat penting untuk dimiliki oleh setiap kita yang menjadi ‘brainware’ dalam sebuah perusahaan jasa. Dengan kata lain, pelayanan yang memenuhi standar kualitas adalah suatu pelayanan yang sesuai dengan harapan dan kepuasan costumer.

Untuk memenuhi semua itu, Cordova mencoba terus berbenah dalam segala hal. Road to Excellent, pengertiannya adalah proses menuju kesempurnaan, yah karena kita meyakini bahwa setiap apa yang kita berikan dengan total, tidak akan pernah ada kata sempurna, karena kesempurnaan hanya milik-NYA. Terus melangkah dalam kenyamanan pelayanan terbaik. Merangkai tangga kesempurnaan dengan segala kerendahan hati.

(to be continued)

Sejak pengujung abad yang lalu hingga kini, diskursus mengenai pemimpin atau kepemimpinan mencuat ke permukaan. Ada dua penyebabnya. Pertama, banyak pemimpin dalam berbagai bidang terlibat pelanggaran moral. Kedua, mungkin karena usianya yang makin menua, dunia kita sekarang tak kuasa lagi melahirkan pemimpin-pemimpin besar (great leader) seperti pada masa-masa terdahulu. Kenyataan ini dikeluhkan oleh Jeremie Kubicek (2011) dalam bukunya yang kontroversial, “Leadership is Dead: How Influence is Riviving it” (kepemimpinan telah mati: bagaimana pengaruh yang merupakan inti kepemimpinan bisa dihidupkan kembali). Dikatakan, pemimpin sekarang lebih banyak menuntut (getting), bukan memberi (giving), menikmati (senang-senang), bukan melayani (susah-payah), dan banyak mengumbar janji, bukan memberi bukti. Dalam fikih politik Islam, moral yang menjadi dasar kebijakan dan tindakan pemimpin adalah kemaslahatan bangsa.

Dikatakan tasharruf al-imam `ala al-ra`iyyah manuthun bi al-mashlahah (tindakan pemimpin atas rakyat terikat oleh kepentingan atau kemaslahatan umum). Jadi, pemimpin wajib bertindak tegas demi kebaikan bangsa, bukan kebaikan diri dan kelompoknya semata. Kaidah ini diturunkan dari moral kepemimpinan Nabi SAW seperti disebutkan dalam Alquran. Firman ALLAH, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS: At-Taubah : 128). Ada tiga sifat (moral) kepemimpinan Nabi SAW berdasarkaan ayat di atas.

Pertama, azizin alaihi ma anittum (berat dirasakan oleh Nabi penderitan orang lain). Dalam bahasa modern, sifat ini disebut sense of crisis, yaitu kepekaan atas kesulitan rakyat yang ditunjukkan dengan kemampuan berempati dan simpati kepada pihak-pihak yang kurang beruntung. Secara kejiwaan, empati berarti kemampuan memahami dan merasakan kesulitan orang lain. Empati dengan sendirinya mendorong simpati, yaitu dukungan, baik moral maupun material, untuk mengurangi derita orang yang mengalami kesulitan.

Kedua, harishun `alaikum (amat sangat berkeinginan agar orang lain aman dan sentosa). Dalam bahasa modern, sifat ini dinamakan sense of achievement, yaitu semangat yang mengebu-gebu agar masyarakat dan bangsa meraih kemajuan. Tugas pemimpin, antara lain, memang menumbuhkan harapan dan membuat peta jalan politik menuju cita-cita dan harapan itu.

Ketiga, raufun rahim (pengasih dan penyayang). ALLAH SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Nabi Muhammad SAW adalah juga pengasih dan penyayang. Orang-orang beriman wajib meneruskan kasih sayang ALLAH dan Rasul itu dengan mencintai dan mengasihi umat manusia. Kasih sayang (rahmah) adalah pangkal kebaikan. Tanpa kasih sayang, sulit dibayangkan seseorang bisa berbuat baik. Kata Nabi, “Orang yang tak memiliki kasih sayang, tak bisa diharap kebaikan darinya.” Bagi ulama besar dunia, Rasyid Ridha, tiga moral ini wajib hukumnya bagi pemimpin. Karena, tanpa ketiga moral ini, seorang pemimpin, demikian Ridha, bisa dipastikan ia tidak bekerja untuk rakyat, tetapi untuk kepentingan diri, keluarga, dan kelompoknya saja. Maka, betapa pentingnya moral pemimpin.

(Sumber: Republika)

Awalnya, -saya- ragu mengangkat kondisi politik Timur Tengah yang meluas menuju Jalur Sutra di smartBLOG ini, namun karena angle yang akan dikemukakan adalah peran media yang mampu merubah kondisi apapun, maka –setidaknya- terdapat korelasi dengan konten website Cordova, yang juga tak pernah luput untuk memperhatikan konflik-konflik yang terjadi di Timur Tengah. Baiklah, embrio tulisan ini, -sesungguhnya- berawal dari banyak perbincangan diantara jemaah maupun team Cordova di sudut-sudut diskusi ringan. Mengenai konflik yang terus melanda Timur Tengah, negeri-negeri yang secara langsung atau tidak memiliki pengaruh dengan dunia yang kami geluti. Mencermati pergolakan politik di Maroko, Tunisia, Al-Jazair, Mesir, Jordania, Yaman, Syiria dan seterusnya, menarik untuk dikaji. Gencarnya media seringkali hanya memblow up ‘Apa yang terjadi’ yang terkadang juga hanya menjadi komoditi bos media untuk sebuah kepentingan besar dari hal yang terjadi.

Tulisan yang mungkin –kurang- ilmiah ini, mencoba menguraikan bukan dari aspek ‘apa yang terjadi’ namun mencoba untuk sedikit menguak persoalan dari sisi ‘Mengapa ia terjadi’, baik dari aspek internal maupun eksternal. Berangkat dari asumsi bahwa konflik lokal merupakan bagian dari konflik global. Itu mutlak, karena memantau gejolak dan gerakan massa di Timur Tengah (Timteng) harus totalitas dan bulat.

Pada akhir 2010 hingga awal tahun 2013 ini terjadi gelombang protes dan demonstrasi di sejumlah negara Timur Tengah dan Afrika Utara. Percikan pertama dari rangkaian perubahan ini terjadi pada 17 Desember 2010 saat seorang pemuda Tunisia bernama Muhammad Buazizi (26) ia juga adalah simbol pemuda tertindas di kota itu. Buazizi, selama tujuh tahun berjibaku menjadi tukang sayur, hingga polisi menyita gerobak sayurnya. Ia dituduh berjualan tanpa izin. Ia pun sudah mencoba membayar 10 dinar Tunisia dan membayar lagi sekitar 7 USD, namun ia malah ditampar, diludahi dan ayahnya (yang sudah meninggal) dihina serta dicaci maki. Lalu ia pun menuangkan bahan bakar ke tubuhnya dan membakar dirinya sendiri. bak sebuah akumulasi amarah, ternyata ia tidak hanya membakar dirinya, tetapi juga membakar amarah seluruh rakyat Tunisia atas kediktatoran rezim yang berkuasa. Keesokan harinya, kota Sidi Bouzid menyaksikan demonstrasi besar-besaran. Aparat melawan para demonstran, hingga berakibat pada kerusuhan yang meluas.

Daerah-daerah lain di Tunisia pun kemudian ikut bangkit dan menyatakan solidaritas. Tak lama berlalu, seluruh Tunisia bergolak dan pada 14 Januari 2011, Presiden Zainal Abidin Ben Ali yang telah berkuasa hampir 25 tahun pun melarikan diri ke Arab Saudi. Pergolakan Tunisia ini lantas mewabah ke daerah sekitarnya, yakni Mesir dan Libya, dan ke seluruh penjuru Timur Tengah. Gelombang pergolakan inilah yang disebut dengan Arab Spring (Musim Semi Arab) atau Revolusi Arab.

Kisruh politik di kelompok negeri seputaran Jalur Sutra memang tidak sporadis atau berdiri sendiri-sendiri. Seperti ada skenario besar yang tengah dijalankan. Ada wayang, dalang dan juga terdapat kelompok hajatan atau yang punya hajat.

Pergolakan yang membentang dalam wilayah geografis sangat luas ini tentu saja memiliki latarbelakang, pemicu, pola, karakter, dampak, dan kerangka yang berbeda-beda. Sejumlah analisis memilah antara pergolakan yang autentik, lahir dari aspirasi rakyat domestik dan pergolakan yang disponsori dan dipicu oleh kepentingan asing. Sejauh ini kita juga dapat menemukan tiga kelompok pengamat yang meletakkan rangkaian pergolakan ini dalam tiga tema besar, pergolakan demi ‘sekerat roti’; tuntutan pada kebebasan, penegakan HAM dan demokrasi; dan terakhir, kebangkitan Islam (Islamic Awakening). Tentu tiga tema ini tidak selalu berarti saling berhadap-hadapan, melainkan justru kerap saling mendukung dan melengkapi.

Hal yang menarik adalah peran media yang justru menyatukan people power yang teramat dahsyat. Tak mampu dibendung oleh kepemimpinan diktator dan kekuatan militer loyalis. Padahal Bangsa Arab –sesungguhnya- sudah sejak lama terkenal dengan ‘silent people’, masyarakat yang hanya bisa diam dan menyaksikan ketidak adilan didepan matanya. Tiada kuasa dalam melawan kekuatan rezim. Artinya apapun gejolak di Timteng dan sekitarnya, terutama negeri seputaran Jalur Sutra — apabila ia menyangkut politik dan kekuasaan, sesungguhnya tak lepas dari “remot” Amerika Serikat (AS) dari kejauhan. Indikasi itu terlihat di Mesir. Adanya statement beberapa pakar dan tokoh Mesir sendiri menyebut, bahwa siapa memegang tampuk kekuasaan di negeri piramida harus melalui “restu” dari Paman Sam. Meski kebenaran pendapat tersebut sempat kabur dengan turunnya 1500 tentara Israel membantu pemerintah Mesir, ditambah bertolak-belakangnya statement antara Tel Aviv dan Washington.

Namun akhirnya terkuak bahwa ternyata hanya soal ketakutan berlebihan (phobia) Israel ditinggal sendirian jika Mubarak jatuh. Bagi Israel, kejatuhan Mubarak, selain akan menghilangkan sekutu dekatnya – juga bisa berimbas putusnya pasokan 40 % gas dari Mesir jika kelak rezim penggantinya sosok anti-Israel. Dan phobia Israel terbukti dengan meledaknya pipa yang mentransfer gas ke negaranya. Disinyalir pergolakan di Mesir akan menciptakan kekacauan ekonomi Israel. Tel Aviv khawatir perubahan rezim di Mesir kemungkinan akan merugikan impor gas, sebab cadangan gas Israel hanya bertahan hingga akhir tahun ini.

Media-media sosial yang kerap digunakan oleh masyarakat luas sebagai motor pergerakan adalah kanal Youtube, Facebook, foto album Flickr, serta akun Tumblr. Juga melalui e-mail, BBM dan teknologi komunikasi lainnya.

Dengan aktif di media sosial, hal itu menandakan bahwa selain dari isu ‘seksi’ mengenai revolusi, terdapat alat yang juga sangat mempengaruhi perjuangan mereka. Alat yang ketika dikendalikan sesuai dengan misi perjuangan, maka ia akan menjadi kekuatan dahsyat yang sulit dibendung oleh kekuatan militer sekalipun.

Syukur tiada henti terus terucap menghantar smartUMRAH perdana di tahun 2013. Hari Rabu 06 Februari ini menjadi momentum awal keberangkatan smartUMRAH Cordova. Masih pada momentum Maulid Nabi, smartUMRAH yang kali ini mayoritas mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan, termasuk Prof. Arief Rahman, Pakar pendidikan, yang tampak sangat antusias dalam persiapan keberangkatan ke Tanah Suci. Berkah yang mengiringi smartUMRAH ini adalah dengan turunnya kembali hujan, semoga air hujan yang mengguyur bumi kali ini menjadi keberkahan yang tidak mengakibatkan bencana. Juga sebagai penyubur kegersangan yang melanda sebagian jiwa bangsa tercinta. Semoga juga perjalanan ini memberikan semangat berlapis untuk semua smartUMRAH dalam melaksanakan ibadah umrah. Kembali dengan membawa predikat maqbul, terampuni segala dosa dan terkabul setiap doa yang terpanjat.

Mengawal tema tentang Maulid Nabi tercinta Muhammad SAW, para smartUMRAH yang berkarakter di dunia pendidikan. Baik para pendidik ataupun wali siswa menjadi sangat relevan jika dikaitkan dengan peran Rasul sebagai pendidik dan pengajar. Sebagaimana firman ALLAH (QS: Az-Zumar – 9) “Katakanlah (Muhammad) ‘Apakah sama orang-orang yang tahu (berilmu) dengan orang-orang yang tidak berilmu (?) Sesungguhnya orang-orang berilmu / (berakal) lah yang akan dapat menerima pelajaran”. Oleh karenanya belajar tiada kata akhir. Terbebas dari dimensi waktu dan tempat.

Pendidik atau pengajar sesungguhnya juga saling melakukan simbiosis dengan anak didik untuk selalu belajar. Dunia belajar mengajar itulah yang diwajibkan bagi setiap muslim hingga akhir hayat. Mencontoh bagaimana Rasulullah SAW yang sampai akhir hayatnya adalah pengajar dan pendidik yang sangat baik. “Tuntutlah ilmu sedari kecil hingga akhir hayat” begitu pesan agama yang kerap terdengar oleh kita.

Rasulullah SAW adalah sebaik-baiknya teladan dalam belajar dan mengajar. Beliau belajar kepada Jibril, dan mengajar beragam ilmu kepada para sahabat. Semoga perjalanan suci ini smartUMRAH akan lebih mendapatkan value ibadah bersama Rasul, bukan hanya sebagai pendidik tetapi bagaimana akhlaq nya yang begitu antusias dalam mencari ilmu.

Wal akhir, semoga momentum maulid ini bukan hanya mengingatkan kita pada sejarah kehidupan Rasul saja, tetapi lebih mendalami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata kita. Yaa Rabb

Membela Al-Aqsha selalu menjadi isu bersama umat Islam, meski aliran dan madzhab berbeda. Semuanya merapatkan jari dan menyatukan hati. Menekan Aqsha berarti menekan syaraf paling sensitif di tubuh umat yang bisa menyulut emosi dan harga diri. Bukan hanya sebagai kiblat pertama umat Islam, Masjidil Aqsha juga adalah sebuah identitas kemusliman yang sempurna. Situs islam yang kental dengan sejarah perlawanan ini berada disetiap jiwa manusia muslim. Mengawal dan mempertahankan dari ancaman yahudi yang kerap bercita meratakannya guna mencari kuil Solomon. Karenanya, konspirasi kerap dilakukan oleh mereka untuk membiaskan muslim dunia mengenai keberadaan komplek masjid Aqsha. Menyebarkan dua gambar masjid berkubah kuning (Dome of the rock / Masjid Umar), dan masjid berkubah hijau. Tujuannya satu, agar umat Islam di dunia senantiasa beranggap bahwa masjid Aqsha adalah salahsatu diantaranya. Padahal sesungguhnya, letak Aqsha adalah satu komplek yang meliputi dua masjid itu, tak terpisahkan!.

Setelah tujuannya tercapai, atau mereka berhasil menggiring opini publik bahwa masjid Aqsha adalah salahsatu masjid diantara dua kubah itu, maka mereka dengan leluasa mudah untuk menghancurkan (meratakan) bangunan masjid disebelahnya, yang dianggap umat Islam bukan masjid Aqsha. Konspirasi yang sangat halus guna meluaskan pencarian kuil solomon di area suci Aqsha.

Pasca revolusi Al-Barraq, perwakilan kaum muslimin dari 22 negara berkumpul di konferensi umum Islam di Al-Quds tahun 1931 untuk membahas cara menjaga dan mempertahankan Al-Aqsha dan Palestina. Mereka bertukar pikir bagaimana Al-Aqsha ini senantiasa menjadi masjid ke-3 yang aman untuk dikunjungi umat Islam di dunia, laiknya Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Demikian pula setelah pembakaran masjid Al-Aqsha pada tahun-tahun berikutnya, mengundang perwakilan negara-negara Islam berkumpul dan membentuk OKI yang hingga kini kurang lebih telah beranggotakan 56 negara.

Ketika Sharon menggelar kunjungan pelecehan ke Masjid Al-Aqsha 28 September 2000, lalu meletusnya api Intifada Al-Aqsha yang berlangsung selama sekitar 5 tahun dan diikuti oleh dukungan dunia Islam serta Arab secara menggemparkan. Semua bersama membela Aqsha tercinta.

Namun kini, konferensi umum Islam meredup dan Organisasi Konferensi Islam berubah hanya menjadi perayaan seremonial yang hanya mengeluarkan sikap kecaman dan pernyataan semata. Intifada pun terhenti. Arab seolah tuli dan tak bernyali. Sikapnya cenderung basi. Di lain pihak, penjajah Israel tetap bercokol. Aksi yahudisasi, ekspansi pemukiman, dan aksi perampasan wilayah Palestina terus berlanjut. Warga Al-Quds sendirian memegang bara api. Teriakan-teriakan Al-Quds dan rintihan Al-Aqsha pun semakin mendidih. Namun teriakan dan rintihan itu menjadi tertahan yang tidak didengar oleh siapa pun. Seakan orang terbiasa dengan rintihan dan tidak menjadi berita penting, penyulut emosi, atau pendorong.

Mungkin setelah lebih dari 63 tahun penjajahan Al-Quds dan 44 tahun penjajahan Al-Quds timur, bangsa Arab dan umat Islam tertimpa pesimistis. Banyak orang mungkin terbiasa dengan berita-berita yang sama yang mengenaskan tentang Al-Quds untuk jangka panjang.

Barangkali -juga- sebagian kita lainnya disibukkan oleh masalah-masalah lokal dan regional. Mungkin sebagian lagi mengecam perpecahan di Palestina. Atau sebagian besar orang kini disibukkan dengan revolusi Arab dan segala implikasinya.

Barangkali faktor ini atau sebagiannya yang menjadikan jeritan Al-Quds tertahan. Namun yang terpenting bahwa semua pihak harus menyadari bahwa proyek zionis untuk yahudisasi Al-Quds terus berjalan dengan sangat intens dan terorganisir. Mereka akan menciptakan status quostatus quo baru di lapangan dan berusaha membuat gambaran manipulatif baru terhadap Al-Quds yang bertentangan dengan identitas Al-Quds sebagai milik Arab dan Islam. Jeritan Al-Quds sesunguhnya sangat keras namun telinga umat Islam tertutup oleh tanah lumpur dan adonan.

“Ahh, untuk apa mengurusi politik negeri orang, yang jelas-jelas akan terus terjadi hingga akhir zaman” Begitu pesimistis orang memandang permasalahan bangsa Palestina dan Al-Aqsha, yang jelas-jelas sebagai urat nadi perjuangan Islam sesungguhnya. So’ jika berkenan, -paling tidak- mari bersama untuk tidak melupakan sisipan doa untuk perjuangan mereka. Sehingga mereka tidak merasa sendiri.

Kemungkinan tema diatas akan mengundang pro dan kontra dari setiap orang yang membacanya. Yah, bukan tanpa sengaja hal ini diangkat. Karena memang hal demikian (mengenai bekal haji) telah terlebih dulu diangkat oleh ALLAH dan rasul-Nya. Tidak serta merta bahwa saat melaksanakan haji, hanya cukup dengan modal ikhlas, tawakal dan sabar. Ada komponen yang secara lugas mengiringi perintah dalam pelaksanaan ibadah haji. Oleh karenanya, Haji menjadi rukun terakhir dari tahapan seorang muslim paripurna, sebab dalam haji terdapat cakupan ibadah yang lebih luas dan detail. Perspektif haji mahal, rasanya akan bijak ketika dilihat dari sisi value ibadah haji itu sendiri, -tentunya- tanpa mengatakan ada semacam ketidakseimbangan antara (dana) yang dikeluarkan dengan (thing) yang diberikan.

Baiklah, kerangka awal tulisan ini –sesungguhnya- terdapat dari pemahaman mengenai ibadah mahdoh seorang muslim dalam membangun konstruksi muslim sejati. Diantara 5 rukun Islam, adakah perintah untuk mengeluarkan bekal (materi ataupun imateri) selain ibadah haji (?). Berbeda dengan zakat, yang –sejatinya- memang untuk membersihkan harta dan jumlah (batasan) pengeluarannya sudah ditentukan dengan jelas. Rasanya hanya perjalanan haji yang ALLAH perintahkan untuk memiliki ‘bekal’ dalam mengarunginya. Ditambah dengan keharusan pelaksanaannya cukup hanya bagi mereka yang mampu. Meski ‘mampu’ disini masih umum (bisa mampu secara fisik ataupun harta), tetapi mayoritas penekanan adalah mampu dalam finansial. Sebab dengan bekal finansial, ia telah menginjak 80 persen pada status hukum wajib melaksanakan haji.

Jika saja Haji tidak perlu ada biaya yang dikeluarkan, semacam sahadat, sholat, dan puasa, maka tidak akan ada perintah yang mengarahkan untuk memiliki bekal dalam pelaksanaanya. Meski bekal yang paling baik adalah takwa, namun bangunan takwa itu –tidak dipungkiri- selalu diawali dari perbekalan haji yang (umumnya) harus mengeluarkan materi. Besar dan kecil, mahal dan murah tentang ONH (ongkos naik haji) sesungguhnya adalah relatif. Semuanya kembali pada orang yang telah meraih gelar ‘Mampu’ melaksanakan haji.

Juga tidak lantas mengatakan, agar perjalanan haji itu lebih terasa ‘pengorbanan’nya, maka kelayakan hidup selama di tanah suci, tidak ‘perlu’ terlalu diperhatikan. Yang penting ibadah kepada ALLAH dengan tulus dan ikhlas. Lalu muncul pertanyaan; Lantas mengapa kerap muncul permasalahan melanda para jemaah yang terlantar, kelaparan, penipuan, kekecewaan dan seterusnya, apakah ini bagian dari pengorbanan (?).

Dalam hukum ‘dagang’ sering kita dengar ungkapan pasar, bahwa ‘barang’ dan kualitas tergantung harga. Karena rate sebuah value perbekalan haji, maka wajar jika banyak calon jemaah haji memilih bekal yang lebih mahal. Meski ALLAH meneruskan perintah bekal itu dengan; Sebaik-baiknya bekal adalah takwa. Sebab menuju ketakwaan adalah sesuatu yang teramat ‘Mahal’.