Akhir Pekan di Kota Lombok

Di setiap akhir pekan, Cordova akan menyuguhkan destinasi-destinasi impian Anda sekeluarga. Bukan hanya di negeri sendiri, kedepannya akan dipersembahkan juga destinasi mancanegara yang kami rekomendasikan untuk dikunjungi. Sehingga menjadi pertimbangan disetiap akan merencanakan liburan bersama Cordova. Rekomendasi kami tidak terlepas dari kualitas yang selama ini kami terapkan dalam pelayanan eksklusif dengan akomodasi yang membuat liburan Anda benar-benar berkualitas, nyaman dan menyimpan sejuta kenangan manis.

The Chapter inside Raudhah

Pagi itu di kota Nabi, udaranya segar dan lumayan dingin, temperaturnya sekitar 19-21 Celcius, hampir sama dengan suhu pagi di kota Bandung. Saat sholat Subuh, perjalanan spritualku kembali terlangkah di pelataran SuciNya. Memulai perjalanan yang kuharapkan menjadi tambal dari kegelisahan hidup. Perjalanan jiwa berbalut rasa, dan perjalanan yang teramat penting dari nilai langkahku. Journey of my life, sarat dengan dinamika. Laksana waktu yang berpacu, semuanya tak pernah henti, begitu pun dengan langkah ini kuharapkan ada cerita cinta yang tak kan pernah padam pada perjalanan ini.

Entah siapa yang memulai –dalam waktu sekejap- terbentuk kerumunan. Jemaah sholat merangsek maju menuju Raudhah, satu sisi terdepan di Masjid Nabawi. Di Masjid Rasul ini, beragam wajah berbeda bangsa, termasuk kami berharap sempat untuk merasakan nikmatnya ibadah di Raudhah, satu dari Taman-Taman Surga yang dikatakan Rasulullah SAW. “Antara rumahku (Makam Nabi) dan mimbarku terdapat taman dari taman-taman surga”.

Raudhah menyimpan rapi kenangan perjuangan Nabi-Nya. Mengejarnya, seperti napak tilas perjuangan Baginda Rasul. Di tempat barokah itu, barisan sahabat Nabi di tempa. Hamparan ketakwaan senantiasa menghiasi Raudhah, dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Dada terasa sesak. Airmata tumpah di Surga-Nya, tak mampu menyimpan kenangan dan keindahan sejarah tanah ini.

Bagi jemaah pria, bisa lebih merasakan bagaimana getaran nafasnya berdetak, ketika menyentuh tirai makam manusia agung berada. Rasulullah bersama dua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Desahan dan gejolak rasanya sangat terasa meski terhalang tembok berukiran indah.

Keindahan yang di rasakan pagi itu benar-benar menyeruak dalam jiwa. Di luar kesadaran, tangisan tersedu sembari berdoa kepada Pencipta Alam dengan keberkahan makhluk termulia Rasulullah SAW, agar suatu saat kami dan keluarga diperkenankan kembali dan kembali merasakan deraian cinta yang penuh berkah di tempat ini.

Masjid ini benar-benar masjid cinta. Tak ada lagi sesuatu yang indah, selain keindahan yang dirasakan saat Allah mencintai hamba-Nya. Masjid yang menyatukan gairah cinta, kepada-Nya, kepada kekasih-Nya dan letupan cinta kepada manusia yang menemani langkah hidup kami.

Yaa Rasulullah…
Engkaulah yang menjadi permata hati kami
Engkaulah yang menjadi mutiara akal ini
Engkaulah yang menerangi kegelapan jiwa ini
Engkaulah yang menunjuki jalan keselamatan

Yaa Nabiyallah…Yaa Rasulallah…Yaa Habiballah
Sholawat dan salam untukmu
Semoga kami dapat bertemu denganmu
Nanti di Yaumil akhir

See u… Cikgu!

Pertemuan singkat terkadang membuat ending yang berasa, terlebih pertemuan itu telah menyatukan rasa. Bak seorang soulmate yang ditinggal kekasih, rasa yang berkecamuk menyentuh jiwa. Begitulah perasaan Mai Pedro, Cordova team yang mendapat tugas mengguide para Encik Guru (Cikgu) asal Brunai Darussalam, dalam perjalanan smartTRIP di Jakarta, Bogor dan Bandung selama 5 hari. “Begitu menyesakkan”, gumam Pedro, usai mengantar kepulangan Cikgu di Bandara Soekarno Hatta beberapa hari lalu. Yah, ia merasa kehilangan dengan 20 peserta smartTRIP, betapa tidak, selama perjalanan totalitas rasa telah diberikan oleh Pedro. Kemana dan kapan pun ia layani dengan suka rela tak kenal lelah. “Mereka sudah seperti keluarga saya”, tambahnya dengan sedikit berkaca. Tema ‘Selayang Pandang’ pada smartTRIP ini benar-benar menjadi sekilas pandang indahnya suatu ikatan emosional. Ketika nilai layanan itu terlahir dari jiwa, maka semuanya kan berasa pula oleh jiwa yang terlayani.

Pertemuan singkat terkadang membuat ending yang berasa, terlebih pertemuan itu telah menyatukan rasa. Bak seorang soulmate yang ditinggal kekasih, rasa yang berkecamuk menyentuh jiwa. Begitulah perasaan Mai Pedro, Cordova team yang mendapat tugas mengguide para Encik Guru (Cikgu) asal Brunai Darussalam, dalam perjalanan smartTRIP di Jakarta, Bogor dan Bandung selama 5 hari. “Begitu menyesakkan”, gumam Pedro, usai mengantar kepulangan Cikgu di Bandara Soekarno Hatta beberapa hari lalu. Yah, ia merasa kehilangan dengan 20 peserta smartTRIP, betapa tidak, selama perjalanan totalitas rasa telah diberikan oleh Pedro. Kemana dan kapan pun ia layani dengan suka rela tak kenal lelah. “Mereka sudah seperti keluarga saya”, tambahnya dengan sedikit berkaca. Tema ‘Selayang Pandang’ pada smartTRIP ini benar-benar menjadi sekilas pandang indahnya suatu ikatan emosional. Ketika nilai layanan itu terlahir dari jiwa, maka semuanya kan berasa pula oleh jiwa yang terlayani.

Begitulah Pedro, pemuda berdarah Aceh dengan senyum khasnya ini, menarik rasa semua peserta smartTRIP. Bukan hanya karena handsome (seperti yang diungkapkan beberapa Cikgu kepadanya), ia juga pandai dan gesit dalam memberikan pelayanan. Tak pernah mengeluh, ia selalu tersenyum dan membantu setiap diminta pertolongan. Wal hasil, banyak para Cikgu yang simpati kepada ayah beranak dua ini. Bahkan tak segan-segan, mereka minta untuk kembali di handle oleh Mai Pedro, jika suatu saat nanti kembali ke Indonesia. Tidak sedikit pula yang minta photo bareng dengannya.

“Subhanallah, Ane terkesan banget kang”, tuturnya lagi. “Para Cikgu dari Brunei itu orangnya asyik-asyik, mereka baik dan sangat antusias datang ke Indonesia, terlebih saat menyaksikan seni angklung Mang Udjo saat ke Bandung, wah seru banget deh”, timpahnya dengan semangat 45.

Para Cikgu perwakilan dari perhimpunan kepala sekolah Brunei Darussalam ini, bukan hanya melakukan studi banding tentang kurikulum dan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) anak-anak sekolah dasar, mereka juga sekaligus menikmati dan mempelajari setiap budaya yang mereka saksikan baik di Jakarta, maupun Bogor dan Bandung.

Ada kesamaan dan perbedaan antara budaya serta adat Brunei Darussalam dan Indonesia, tetapi rumpun kita sama, sama-sama melayu yang menjungjung tinggi rasa sopan dan santun.
Kalau ada sumur di ladang, boleh kita numpang mandi, kalau ada umur panjang, boleh kita berjumpa lagi

See u… Cikgu!

Simbol ‘bulan bintang’ yang kerap terdapat pada menara masjid, selalu menjadi pertanyaan di antara kita. Bagaimana asal-muasalnya dan apakah itu sebagai simbol yang sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Sehingga menjadi sebuah kelajiman di setiap menara-menara masjid atau simbol-simbol keislaman. Baiklah, kita runut bagaimana simbol ‘Bulan Bintang’ itu menjadi syiar Islam hingga kini dan seterusnya. Seperti halnya Kristen memiliki simbol salib, Yahudi mempunyai bintang Daud, dan Islam identik dengan bulan sabit dan bintang berdimensi lima. Rasanya tidak afdhol jika di puncak kubah atau menara masjid tidak ada bulan bintang. Tidak akan ada yang membantah bahwa keduanya diasosiasikan sebagai simbol Islam. Penggunaan simbol bulan bintang berhubungan dengan kekaisaran Ottoman di Turki, atau lebih dikenal dengan Turki Usmani. Dinasti Usman menjadi penguasa Islam dalam 36 generasi, lebih dari enam abad (1299-1922). Usman atau dikenal sebagai Usman I tak ada hubungannya dengan Khalifah Usman bin Affan RA. Usman adalah pendiri kekaisaran ini. Ayahnya, Urtugul, seorang kepala suku dan penguasa lokal, semacam demang di jawa. Sebagai suku yang berkelanan dari Asia Tengah selama berabad-abad, oleh kesultanan Saljuk di Anatolia ia diberi wilayah di perbatasan dengan Byzantium. Seiring melemahnya kesultanan Saljuk, Usman menyatakan kemerdekaan wilayahnya pada 1299.

Penggunanaan simbol bulan bintang terjadi setelah Sultan Mehmet (Muhammad) II, sultan ke-7, menaklukkan konstatinopel pada 1453, ibukota Romawi Timur atau lebih dikenal dengan kekaisaran Bizantium. Negara super power saat itu yang menetapkan Kristen sebagai agama resmi Negara. Lambang kota itu adalah bulan dan bintang. Mehmet II mengadopsi simbol Konstatinopel menjadi bendera Ottoman. Nama Konstatinopel pun diganti dengan Istanbul.

Sebelumnya bendera Ottoman hanya segitiga sama kaki yang rebah, yang garis sisi kedua kakinya melengkung. Benderanya berwarna merah. Setelah penaklukan konstatinopel, di tengah bendera itu ditambahi bulan dan bintang berwarna putih. Pada 1844. bentuk bendera Ottoman berubah segiempat. Bendera ini mengalami modifikasi lagi pada 1922, yang kemudian ditetapkan dalam konstitusi pada 1936, setelah Ottoman jatuh, menjadi bendera seperti sekarang ini yang dipakai oleh turki modern. Bintang dan bulan sabitnya menjadi lebih langsing. Sebelumnya tampak lebih gemuk namun warna dasarnya tetap merah, serta gambar bulan bintangnya tetap putih.

Catatan lain menyebutkan bahwa kedua simbol itu telah dipakai bangsa Turki Kuno. Hal ini dibuktikan oleh penemuan artefak yang menggambarkan bulan bintang. Bahkan disebutkan bahwa simbol itu juga digunakan di Sumeria. Simbol itu kemudia diserap bangsa Turki ketika mereka melewati lembah itu dalam perjalanannya dari Asia Tengah – wilayah yang diduga sebagai asal-usul bangsa Turki – menuju Anatolia.

Lalu, apakah simbol Islam yang asli (?) Rasulullah Muhammad SAW maupun Khulafaur Rasyidin (632-661) tak pernah membuat ketetapan soal itu. Al-Qur’an pun tak pernah membicarakan soal tersebut. Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa di zaman Rasulullah hanya ada bendera panji-panji perang yang sangat sederhana dengan satu warna: hitam, putih, atau hijau. Di ‘Negara Madinah’ di zaman para Khalifah memiliki simbol berupa bendera persegi empat berwara hitam.

Bendera segi empat warna hitam juga digunakan Dinasti Umayah di Damaskus (660-750) dan di Kordoba (929-1010), dan Dinasti Abbasiyah di Baghdad (750-1258) maupun di Kairo (1261-1517). Hanya Dinasti Fatimiyah di Kairo (909-1171) yang menggunakan bendera warna hijau.

Lalu, timbulah pertanyaan, apakah penggunaan simbol itu harus dihentikan karena bukan lahir dari tradisi Islam (?) Ternyata, hasil polling sebuah situs Islam terkenal menyatakan , bahwa 39% tetap ingin menggunakan simbol tersebut. Jauh meninggalkan urutan kedua dan ketiganya: kaligrafi (18%), dan Ka’bah (15%).

Selain itu, seperti kata cendikiawan muslim Prof. Dr. Azyumardi Azra, dalam tradisi Islam simbol simbol bulan bintang memang sangat dominan begitu pula di bidang astronomi Islam. Dalam kalender Hijriyah bulan dijadikan dasar perhitungan astronomis. Sehingga bulan sebagai simbol, bukan matahari. Hal-hal yang bersifat ibadah seperti shalat, penentuan awal puasa, maupun lebaran juga menggunakan bulan sebagai patokannya. Karena itu tahun Islam sebagai tahun Qomariyah, yang artinya bulan. Bukan Syamsiyah (matahari).
Sedangkan teori yang menyebutkan bahwa simbol bulan bintang lahir dari Yunani dan Romawi hanya spekulasi saja. Berbeda dengan tradisi Islam yang sangat kuat dengan bulan. Apalagi simbol bulan bintang sudah diterima secara universal.

(Dari Berbagai Sumber)

The Power of smartTRIP

Ada yang berbeda pada hari Ahad, (10/03) kemarin. Tidak seperti biasanya, Cordova selalu melayani jemaah smartUMRAH, smartHAJJ dan smartJOURNEY, dimana kita selalu melayani mereka untuk berangkat menuju Baitullah, dan journey ke destinasi belahan Bumi lainnya. Namun, kali ini melalui product barunya, Cordova melebarkan sayap pada dunia traveling, smartTRIP. Kali ini, Cordova melayani 20 warga negara asing (WNA) yang berkunjung ke Indonesia. Mereka adalah perhimpunan Kepala Sekolah dari negeri tetangga, Brunei Darussalam. Selain untuk studi banding mengenai kurikulum dan proses Belajar mengajar di beberapa sekolah di Jakarta dan Bandung, mereka juga ingin mengenal lebih jauh tentang budaya Indonesia, budaya yang memiliki kesamaan rumpun serta menikmati kuliner Indonesia yang beraneka ragam. Sesuai dengan standar Cordova, mereka pun merasakan bagaimana Cordova melayani para tamunya. Dengan taste yang penuh value, Cordova mencoba untuk memberikan rasa yang berbeda kepada mereka, yang –mungkin- telah beberapa kali mengunjungi Indonesia.

Misi menyiarkan Islam yang indah dan elegant, coba ditampilkan Cordova dalam smartTRIP ini. Memberikan pelayanan total, untuk mengesankan hangatnya masyarakat Indonesia kepada setiap tamunya yang datang dan singgah di negeri ini. Menjadi ‘duta’ pariwisata Indonesia yang mengenalkan setiap destinasi yang akan mereka singgahi. Selain itu, mengenalkan juga bagaimana Indonesia menjadi surga bagi mereka yang ‘gila’ belanja dan berburu kuliner. Aneka ragam rasa dengan rempah yang meruah.

Cordova mencoba membangun sebuah layanan inbound yang berkualitas dari semua aspek. Bukan hanya dalam melayani –yang sejatinya- adalah pekerjaan inti dari sebuah perusahaan jasa, namun jauh lebih dari itu. Cordova juga mencoba menjembatani bagaimana kultur peserta inbound dengan budaya yang akan mereka singgahi selama di Indonesia. Selain itu, bentukan content wisata dan pernik yang mereka dapatkan adalah hal yang sangat bernilai. Bernilai bukan hanya dari segi manfaatnya, tetapi dari keindahan artistik maupun kenyamanannya.

smartTRIP menjadi sebuah product yang diluncurkan untuk menjembatani Warga Negara Asing mengenal Indonesia dengan sentuhan yang berbeda. Memberikan kesan yang penuh dengan rasa.

Selamat datang di Indonesia Cikgu!

It’s Brunei Day

Ada yang berbeda pada hari Ahad, (10/03) kemarin. Tidak seperti biasanya, Cordova selalu melayani jemaah smartUMRAH, smartHAJJ dan smartJOURNEY, dimana kita selalu melayani mereka untuk berangkat menuju Baitullah, dan journey ke destinasi belahan Bumi lainnya. Namun, kali ini melalui product barunya, Cordova melebarkan sayap pada dunia traveling, smartTRIP. Kali ini, Cordova melayani 20 warga negara asing (WNA) yang berkunjung ke Indonesia. Mereka adalah perhimpunan Kepala Sekolah dari negeri tetangga, Brunei Darussalam. Selain untuk studi banding mengenai kurikulum dan proses Belajar mengajar di beberapa sekolah di Jakarta dan Bandung, mereka juga ingin mengenal lebih jauh tentang budaya Indonesia, budaya yang memiliki kesamaan rumpun serta menikmati kuliner Indonesia yang beraneka ragam. Sesuai dengan standar Cordova, mereka pun merasakan bagaimana Cordova melayani para tamunya. Dengan taste yang penuh value, Cordova mencoba untuk memberikan rasa yang berbeda kepada mereka, yang –mungkin- telah beberapa kali mengunjungi Indonesia.

Islam adalah agama langit (Samaa) semua manusia. Termasuk yang dibawa oleh para Nabi sebelum Rasulullah SAW. Keyakinan dan keimanan setiap kaum Nabi yang diberikan kitab dari ALLAH SWT –sejatinya- adalah Al-istislamu atau berserah diri hanya kepada ALLAH, tunduk dan patuh hanya kepada-NYA. Pengertian Islam inilah yang dimaksud oleh ALLAH dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa syariat yang dibawa oleh para Nabi terdahulu juga disebut Islam. Seperti Firman ALLAH yang menceritakan tentang Nabi Ibrahim; “Wahai RABB kami, jadikanlah kami berdua orang yang muslim kepada-MU dan juga anak keturunan kami sebagai umat yang muslim –berserah diri- kepada-MU” (Qs. Albaqarah: 128). Baiklah, kita sedikit keluar dari ‘pembahasan’ tauhid masa sebelum kerasulan Muhammad SAW. Kita beranjak dan menikmati bagaimana alur Islam dalam meng-influence– setiap jejak manusia abad ke-7 hingga zaman kita berada dibawah panji Islam. Menarik –sesungguhnya- jika kita telusuri bagaimana keutuhan tauhid Islam berkembang biak di planet Bumi.

Jika mengurai dari awal, kesenjangan Islam mulai tercabik oleh sebuah rasa keangkuhan diri manusia. Bagaimana kaum kafir Quraisy menolak mentah-mentah ajaran Nabi Muhammad SAW, hanya karena beliau membawa risalah ‘Hanief’ yang bertolak belakang dengan adat kebiasaan mereka yang berdoa melalui wasilah patung sebagai ‘kaki tangan’ Tuhan. Mereka percaya kepada ALLAH, namun peribadatannya melalui proses animisme maupun dinamisme yang mereka yakini. Secara tidak langsung, kita bisa mengatakan bahwa sebelum Islam datang atau Nabi Muhammad menjadi Nabi serta Rasul, maka mayoritas kehidupan orang Arab berada dalam kejahiliyahan, terkecuali bagi mereka yang masih mengikuti ajaran (millah) Nabi Ibrahim AS.

Setelah Rasulullah SAW membawa ajaran Islam yang menyempurnakan risalah-risalah Nabi sebelumnya, maka gugurlah semua ajaran yang berkembang saat itu, mereka harus mengikuti millah dan ketentuan agama yang dibawa Rasulullah SAW. Perlahan namun pasti, Rasulullah SAW mampu bertahan dan move on untuk meninggikan kalimat Tauhid, serta menyebarkan ke seluruh pelosok Arab. Jika kita saksikan sebuah film dari tema diatas; Islam Empire of Faith, maka –sungguh- ketakjuban kita akan perjuangan mereka yang bertahan teguh bak karang di tengah lautan akan membuat kita masih terasa ‘tidak ada apa-apanya’ dibanding kegigihan mereka memperjuangkan panji Islam.

Islam berkembang sangat cepat dan mengubah orang-orang nomaden menjadi penggerak utama peradaban dunia. Nabi Muhammad SAW lah arsitek dari transformasi itu. Namun setelah kewafatannya pada tahun 632 ternyata menghadapkan komunitas Islam kepada tantangan besar pertamanya. Dengan segala inovasi yang tidak keluar dari risalah nubuwah, kaum muslim menyambut tantangan itu dengan mendirikan institusi kekhalifahan dan menegaskan kelangsungan sejarah Islam. Negara Islam yang baru lahir, dengan ibukota di Madinah Al-Munawarah.

Secara perkasa dan atas pertolongan ALLAH SWT –tentunya-, mereka berhasil mempertahankan diri dari jangkauan predator Kekaisaran Bizantium dan para sekutunya. Kemenangan demi kemenangan selalu ada konsekwensinya, terutama dari sifat asli manusia yang lolos dari filter keimanan, yakni ketamakan, keserakahan dan kedengkian yang menjalar ke tubuh masyarakat Muslim saat terjadinya pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan RA.

Peradaban diuji dengan adanya krisis sebagaimana seorang individu diuji dengan kesulitan. Ini adalah saat-saat penting yang menunjukkan wujud asli karakter sebuah peradaban, seperti ujian terhadap individu yang memunculkan wujud asli dari karakter individu tersebut. Peradaban besar menghadapi tantangan dan mereka tumbuh lebih tangguh setiap kali melewati krisis, mengubah kesulitan menjadi peluang. Dalam banyak hal, kejadian ini persis sama dengan yang dialami oleh individu. Saat-saat kritis dalam sejarah menguji keberanian manusia. Orang-orang besar mengarahkan sejarah sesuai kemauan mereka, sedangkan yang lemah tertelan di masa yang keras.

Hal itu diyakini, karena keislaman sudah tidak seirama dengan keimanan yang seharusnya menjadi satu kesatuan. Jika Islam ditafsirkan melalui amalan-amalan anggota badan, atau jasad, maka iman ditafsirkan dengan amalan-amalan dalam jiwa. Karenanya, sebuah peradaban selalu muncul ketika konsep Islam melaju bersama dengan keimanan dalam jiwa.

(to be continued)

Permata Bank Edition

Untuk kesekian kalinya, Permata Bank merajut rasa bersama Cordova. Setelah Hongkong, Singapura dan Bali (baca disini), kini Global Markets division dari Permata Bank melakukan langkah yang lebih strategis dengan melakukan presentasi product bersama nasabah loyalnya di Negeri Sakura. Cita-cita besar bermula dari perencanaan yang matang. Pun demikian dengan Permata Bank, selalu saja melakukan inovasi dalam dunia perbankan demi pembangunan ekonomi Bangsa. Jepang pun menjadi pilihan yang sangat worth it, selain semangat kerja kerasnya, Jepang dinilai sebagai negara yang paling bersinar di Asia. Semoga, bermula dari Jepang, Global Markets mampu meraih cita-cita besarnya, meraih kesuksesan yang tiada batas. Dengan semangat dan kerja keras, tidak ada yang mustahil membangun semua rancangan itu.

Kita semua tahu, bahwa sukses adalah kata yang diimpikan oleh semua orang dan merupakan sebuah pilihan hidup. Manusia adalah makhluk pencipta kesuksesan. –sejatinya- manusia selalu lapar dan dahaga akan kesuksesan, apapun makna sukses tersebut baginya. Prestasi-prestasi besar dalam sejarah seperti tembok besar di Cina, Pyramida para Fir’aun di Mesir, kompleks Taj Mahal di India atau Candi Borobudur di Indonesia adalah monumen akan hebatnya karya akal manusia, tentunya manusia yang selalu ingin mencapai keberhasilan terjauh, tertinggi dan terbesar.

Karenanya, untuk menunjang semua itu, Cordova mencoba untuk selalu memberikan pelayanan prima dan berbeda dengan apa yang telah tersajikan sebelumnya di dunia traveling Indonesia. Memberikan kenyamanan melalui smartJOURNEY yang akan menyuguhkan beragam rasa yang menyenangkan. Perwakilan Cordova di setiap negara yang dikunjungi, diyakinkan akan membuat perjalanan itu semakin berasa. Menempuh jalur-jalur yang ‘terkadang’ tak pernah dilalui atau hanya berkunjung pada destinasi ‘itu-itu’ saja. Eksplorasi dalam menyentuh belahan bumi lainnya adalah pengalaman yang sulit terlupakan, karena itu kenyamanan dan pelayanan eksklusif menjadi value yang akan menambah point perjalanan kita.

From Japan With Success, adalah sebuah agenda yang patut di apresiasi. Meraih kesuksesan dengan langsung menembus negeri yang sarat dengan kemajuan di berbagai bidang. Merasakan aura sukses dengan hirupan yang penuh makna.

Anzende seiko!