Sebelum mengulas lebih jauh, ada sebuah pertanyaan yang cukup serius namun bisa jadi jawabannya akan sangat mencengangkan. ‘Jika suatu saat kita meninggal, akankah anak cucu kita takut terhadap kita (?)’. Takut melihat jasad kita yang terbungkus kafan, seperti takutnya mereka melihat adegan pocong dalam tayangan-tayangan televisi. Bahkan bisa juga bekas pembaringan kita, pemandian kita dan ruangan yang dikujurkan tubuh kita mereka takuti. Jika jawabannya adalah benar, mereka takut terhadap ‘jasad’ kita, maka sungguh skenario besar telah berhasil di hembuskan pada generasi muslim dekade ini. Sadar ataupun tidak, arus perusakan sistem kontrol Islam telah dihancurkan tepat pada pola pikir dan mindset generasi penerus bangsa, terlebih bagi para umat Islam yang terus di bom-bardir dari segala penjuru. Lepas terlebih dulu anggapan bahwa itu hanyalah sebuah kebetulan, atau hiburan-hiburan yang di ekploitasi menjadi sebuah komoditi bisnis, yang suka boleh lihat, yang tidak tinggal matikan televisi. Tidak semudah itu, marilah kita lihat bersama dengan seksama, bahwa tayangan-tayangan ‘hantu’ atau mistis yang meng-atasnamakan agama adalah sebuah ‘kejahatan’ yang terorganisir.

Kenapa disebut sebagai kejahatan yang terorganisir (?) bagaimana tidak dikatakan sebuah kejahatan, jika nilai luhur Islam menjadi sangat dangkal dengan tayangan-tayangan musyrik. Hanya demi menaikkan rating atau popularitas sebuah acara. Belum lagi jika kita harus merunut tentang sebuah ‘kepentingan’ media itu. Orang dan pihak yang berada dalam skenario besar itu, tentunya Penghancuran! Benar bahwa sebagian masyarakat kita sudah sangat apriori dengan ungkapan ‘konspirasi zionis’ atau apalah yang menurut mereka terlalu ‘dilebay’kan. Tapi jujurlah pada nurani kita, apakah siaran-siaran televisi yang ‘seram’ dengan bumbu-bumbu kemusyrikan massive akan mempengaruhi pola pikir seorang anak (?). Mereka sudah bisa memfantasikan bagaimana bentuk makhluk ghaib, mereka juga diajarkan agar memiliki mental penakut, pun jika dibilang berani, mereka berani pada hal-hal kemusyrikan belaka.

Jika mau jujur, di negeri ini, salahsatu lahan komodifikasi yang lazim ditayangkan di televisi kita adalah agama. Agama adalah ‘barang seksi’ yang bagi mereka akan menjadi mesin pencari uang yang fantastis. Agama dengan beragam perniknya menjadi lahan yang senantiasa tidak pernah kering untuk di eksplorasi sekaligus di eksploitasi ke dalam berbagai bentuk tayangan. Mirisnya, ranah agama yang banyak mereka nikmati sebagai lahan bisnisnya adalah kehadiran dunia-dunia mistik yang ‘nyeleneh’ dan keluar dari tauhid Islam.

Dalam film-film itu digambarkan bagaimana makhluk-makhluk aneh berwajah putih pucat, bertaring dan sedikit darah menempel mengalir di sisi bibir dengan kostum putih membalut seluruh tubuh, laiknya kain kafan. Mereka berjalan menakuti-nakuti setiap orang yang melihatnya. Tidak jarang, tayangan ‘murahan’ itu mengekploitasi sexual sebagai bumbu yang akan dinikmati jutaan orang muslim Indonesia.

Perlakuan seperti ini jelas-jelas pelecehan terhadap ajaran Islam, karena hanya dalam Islam lah orang yang meninggal diberi kain kafan. Sementara Islam tidak pernah mengajarkan bahwa orang yang sudah meninggal akan hidup kembali dan melakukan aktifitas menakut-nakuti. Cerita dan tayangan ini tidak hanya akan mendangkalkan akidah umat, tetapi juga mempengaruhi seorang muslim yang belum memahami konsep Islam secara kaffah.

Baiklah, jikapun kita menutup mata akan semua yang telah terjadi, namun akan miris kah jika pertanyaan diatas ditunjukkan kepada anak-cucu kita, lalu mereka benar-benar takut pada jasad orangtuanya yang terbalut kain kafan. Masya ALLAH

Rasanya banyak yang tidak menyadari bahwa jiwa kita setiap hari mengalami kematian. ‘berwisata’ ke suatu alam yang dikenal dengan Barzah. Bertemu dengan roh-roh yang telah tidak ada. Bersenda gurau dan bercengkrama dengan sosok yang telah lama pergi, mungkin orangtua kita, mungkin juga orang-orang yang kita cintai lainnya yang telah wafat. Yah, kita mengalaminya ketika dalam keadaan tidur. Pada saat itu, ruh dikeluarkan oleh malaikat dengan seizin ALLAH SWT dari jasad manusia dan dibawa ke suatu tempat di luar alam dzohir. Seperti firman ALLAH dalam surat Az-Zumar “ALLAH memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya, maka DIA tahanlah jiwa (orang) yang telah DIA tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan ALLAH bagi kaum yang berfikir” (QS. Az-Zumar : 42).

Maksud spesifiknya adalah orang-orang yang mati itu rohnya ditahan ALLAH, sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya, dan orang-orang yang tidak mati, hanya tertidur saja, rohnya dilepaskan sehingga kembali pada jasadnya. Jika demikian, maka dinding pemisah antara tidur dan mati hanya terletak pada iradah-NYA. Karena pada hakikatnya kita semua mengalami kematian dalam tidur. Mari kita simak bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk berdoa sebelum tidur, “Dengan menyebut nama-MU ya ALLAH aku hidup dan menyebut nama-MU aku mati” (HR.Muslim). Jelas bahwa doa itu adalah doa untuk persiapan kita berada dalam persimpangan antara hidup dan mati.

Pun dengan sunnah Rasul yang mencontohkan kepada kita, sebelum pulas tidur agar selalu berada dalam keadaan suci, atau senantiasa dalam keadaan ber-wudlu, sehingga jika ruh kita tidak kembali menuju jasad duniawi, atau tiba saat ajalnya, maka ruh dan jasad kita berada dalam kesucian air wudlu dalam menghadap-NYA. Itulah kenapa ada semacam spirit umat Islam yang mengatakan ‘Hayatuna Kulluha Ibadah’ (hidup kami semuanya adalah ibadah). Tidur pun menjadi ibadah ketika nama ALLAH senantiasa bersemayam dalam jiwa kita yang akan lepas menuju alam Barzah. Karena kita tidak pernah tahu apakah setelah tidur, kita diberikan kesempatan lagi oleh ALLAH untuk bangun di esok hari, atau meninggalkan keberadaan jasad kita di tengah makhluk-makhluk tercinta, anak dan istri.

Seperti halnya kematian, maka tidur pun sesungguhnya memiliki nasihat. Yah, diamnya adalah nasihat. Tidak pernah berkata-kata, tidak pernah melongok. Nasihat itu bisa membuat kita lupa dengan indahnya dunia. Keindahan-keindahannya tidak diperdulikan lagi, kita menjadi sangat pelupa. Dan meyakini semua itu hanya fana. Bahwa keindahan itu hanya sementara, bahwa hidup itu sebentar saja, bahkan sebelum kita sempat sadar, -bisa saja- ternyata hidup kita telah berakhir. Kematian setiap harinya mengelilingi kita, Malaikat Izrail –tanpa disadari- berada ditengah kehidupan kita, disela kerongkongan nafas kita, menanti waktu tepat untuk mencabut nyawa kita.

Semoga kita diberikan khusnul Khatimah, akhir yang baik dengan kemudahan syakaratul maut. Allahumma Amiin

ALLAH tetap menerbitkan Matahari di ufuk Timur, tak peduli –walau- se isi Jagad Raya mengkafiri-NYA. Meski manusia sepenuhnya enggan sujud kepada-NYA. DIA tetap memberikan hajat semua makhluk ciptaan-NYA. karena DIA lah Dzat yang memberikan limpahan kasih kepada setiap manusia yang beriman dan tidak. Manusia bersyukur atau tidak. Pernah suatu ketika Nabi Ibrahim AS. Kedatangan tamu dari negeri sebrang. Tamunya adalah seorang hamba yang taat menyembah dewa api, seorang Majusi. Ia mendengar kenabian Ibrahim di negerinya, dan ingin mengenal lebih jauh tentang risalah yang dibawa Khalilullah Ibrahim As. Lalu ia minta izin tinggal bersama Nabi Ibrahim selama 3 hari, untuk merasakan bagaimana risalah yang ada pada diri seorang Nabi. Akan tetapi Beliau menolaknya, dan memberikan syarat agar meninggalkan agamanya terlebih dulu, serta meyakini ajaran Hanifah yang dibawanya jika hendak menginap di rumahnya. Merasa ditolak oleh seorang Nabi, ia pun meninggalkan dengan rasa sakit yang mendalam.

Setelah tamunya pergi, ALLAH SWT menegur Nabi Ibrahim karena telah menolaknya. “Apa kerugianmu jika engkau menerima tamu itu, walaupun ia mengingkari dan mengkafiri-KU, AKU yang telah memberinya makan dan minum kepadanya selama 70 tahun, tidak pernah mendzoliminya”. Subhanallah. Setelah menerima wahyu tersebut, Nabi Ibrahim sangat menyesal atas tindakannya, dan segera mencari orang Majusi itu. Ketika bertemu dengannya, beliau segera meminta maaf dan mengajak untuk kembali ke rumahnya. Orang Majusi pun teramat heran dengan sikap Nabi Ibrahim yang berubah total dengan penolakan yang dilakukan kepadanya. “Sungguh aneh, tadi engkau mengusirku, tapi sekarang mengajakku pergi ke rumahmu (?)”, tanyanya dengan penuh rasa heran.

Nabi Ibrahim pun menceritakan tentang wahyu yang diterimanya, bahwa ALLAH SWT tidak pernah mendzoliminya meski dia orang yang kufur terhadap ALLAH. “Sungguh baik Tuhan-mu memperlakukan aku seperti itu, meskipun aku tidak beriman kepadanya, tanpa harus mengulur waktu, aku bersaksi di depanmu bahwa tiada Tuhan selain ALLAH, dan engkau adalah nabi ALLAH”.

Demikianlah ALLAH SWT, Dzat yang tiada pernah luput dari tidur untuk melihat dan memberikan karunia kepada semua makhluknya di muka Bumi. Tidak hanya itu, DIA pun senantiasa merindukan hamba-hambaNYA yang berpaling untuk kembali kepada fitrah Islam. Kembali kepada cinta hakiki-NYA.

DIA tidak pernah dzolim kepada makhluknya, namun sebaliknya, kita selaku manusia yang justru selalu mendzolimi diri sendiri, sehingga lupa akan segala karunia-NYA.

Suatu saat Rasulullah SAW didatangi seorang pemuda yang hatinya telah mantap untuk memeluk Islam, namun syahwatnya masih belum bisa terkendali. Ia pun mengutarakan maksudnya dengan dibumbuhi syarat yang ‘aneh’. “Wahai Rasulullah, aku ingin masuk Islam, tapi izinkan aku tetap berzina”. Seperti biasa, Rasulullah tidak marah, beliau tersenyum dan meng-iya-kan permintaannya dengan hanya memberikan satu pesan “Tapi kamu jangan berdusta!”. Syarat dilawan pesan. Pemuda itu pun menyanggupi dan menepatinya. Siapa sangka, ternyata belakangan pesan itu adalah strategi ‘penyembuhan’ bagi si pemuda yang kadung terjebak oleh putaran nafsu. Lalu Rasul pun mulai ‘menyerang’ dan memainkan strategi itu sedikit demi sedikit. Di lain hari, Rasul mendatangi dan menyapanya “Bagaimana kabarmu (?)” Sapa Rasulullah SAW. “Alhamdulillah ya Rasulullah”, jawabnya singkat. “Apakah kamu masih berzina hari ini (?)” pertanyaan Rasul yang langsung menohok pada si pemuda itu. “Masih Ya Rasulullah” sebuah jawaban jujur yang membuat merah semua mukanya karena rasa malu yang besar.

Pertanyaan yang terus menerus di ‘mainkan’ Rasul kepadanya. Bagi hati yang masih memiliki nurani, pemuda itu menghentikan ‘kegiatan’ zinanya hanya karena tidak ingin berdusta pada Rasulullah SAW. Awal yang mudah, dan diakhiri dengan niatan luhur sehingga terlepas dari belenggu nafsu yang menjerat. Lalu timbul sebuah pertanyaan; Kenapa Rasulullah membiarkan pemuda itu terus berzina (?) Dan apa hubungan syarat itu dengan pesan Rasul yang melarang berdusta (?). itulah strategi ‘berperang’ tanpa memerangi secara langsung. Politik dakwah yang tidak membidik kebathilan tepat di kepala. Dalam sebuah sumber, bahwa gelitikan di telapak kaki pun dapat membuat lawan mati kejang.

Artikel ringan ini, sebenarnya mengajak kita untuk bersama membenahi diri, melakukan otokritik terhadap apa yang telah kita lakukan untuk Islam serta bagaimana menyuguhkan Islam yang indah. Bukankah hancurnya keindahan budaya Islam disebabkan oleh banyaknya paradigma yang bergelut dengan pola pikir Islam itu sendiri. Banyak sesuatu kewajiban yang sudah sangat jelas, namun dipelintirkan atau disesuaikan dengan kondisi kita sendiri. Sebut saja dengan penggunaan (pemakaian) jilbab (kerudung) yang selalu saja dihubung-hubungkan dengan permasalahan siap atau tidak siap. Atau masalah zakat yang melulu menunggu harta kita bertambah. Sampai pada akhirnya, melaksanakan ibadah haji selalu tak kunjung terealisasi lantaran selalu berlindung pada kata jika mampu.

Memang disadari, kini dunia Islam terjangkit budaya hedonis dan akut berpola hidup kapitalisme. Pola kapitalisme yang benar-benar hanya diarahkan ke duniawi saja. Padahal sesungguhnya pola hidup kapitalisme itu tidak selalu negatif. Andai saja konsep balance bisa diterapkan, yakni; Dalam mengejar dunia kita seolah akan hidup 1000 tahun lagi, dan ketika ingat akherat seolah mati esok hari, maka kapitalisme with Qalbu akan bisa terwujud. Juga Andai para ‘juru dakwah’ memiliki kemampuan komunikasi yang canggih terhadap umat, maka apa yang dikatakan tentang kebenaran Islam, akan mudah diserap tanpa tendeng aling-aling, tanpa alasan. Karena memiliki strategi dakwah tanpa ‘berperang’.

Mengapa semua ini terjadi (?) Mengapa umat Islam masih saja terpuruk (?) jawabannya, karena kita selaku muslim masih setengah-setengah dalam mengaplikasikan hukum dan budaya Islam yang indah. Karena kita selalu enggan untuk saling mengingatkan. Karena kita selalu merasa yang paling benar. Karena kita selalu saja merasa besar.

Ungkapan total footbal yang menganggap menyerang adalah pertahanan yang ideal nampaknya sangat beralaskan, sebatas penyerangan itu tak berpotensi ‘perang’. Kini saatnya kita meniupkan semangat untuk menyerang tanpa melakukan peperangan. Tentunya dengan menyentuh sendi-sendi kehidupan Islam dengan syariat yang berlaku. Selagi jiwa masih mendekap badan, selagi nafas berteman jiwa, selagi rasa berkawan raga. Kita bisa, karena Allah berkenan…

“Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak membiarkan sesuatu yang berbentuk salib kecuali pasti ia hilangkan” (HR. Bukhari, Abu Daud dan Ahmad).

Sejak berakhirnya perang salib dengan kemenangan pasukan Shalahudin Al-Ayubi (yang) sekaligus membebaskan tanah suci Palestina dari cengkraman Nasrani pada tahun 1192 M. Mereka (Nasrani) beserta kolega-kolega bangsa Yahudi sepakat untuk membuat sebuah sistem penghancuran muslim dengan perangkat yang berbeda. Dengan memahami kekuatan orang Islam dalam berperang, maka mereka mengalihkan –sementara- pertempuran dengan mengangkat senjata. Mereka sadar, umat Islam tidak akan mudah dikalahkan saat berada di medan tempur. Sehingga mereka berupaya untuk menghancurkan Islam melalui pemikiran. Sadar atau tidak, mereka telah berhasil menghancurkan kekuatan Islam dengan sangat smooth beberapa abad ini melalui ghazwu al Fikr (perang pemikiran).

Lalu apa hubungannya dengan ‘symbol’ yang dimaksud tema diatas (?) Yah, simbol-simbol yang mereka (Yahudi dan Nasrani) tampilkan adalah bagian dari sistematis ghazwu al fikr. Kaum Yahudi modern sangat terkenal dengan simbol-simbol. Sehingga ada studi tersendiri yang mengkaji soal simbol-simbol itu. Simbol yang ditampakkan di depan umum, adalah semacam ‘deklarasi’ bahwa organisasi, kelompok, perusahaan tertentu masih satu bagian dari gerakan mereka. Siapa yang memakai simbol itu, baik paham ataupun tidak dengan yang ia kenakan, maka itu dianggap sebagai kawan, siapa yang tidak memakai, dianggap orang luar.

Ada beberapa orang Islam yang berbeda memandang simbol-simbol tersebut. Ada yang merasa biasa saja, seolah tidak tahu bahwa lambang-lambang (di luar keyakinannya itu) tidak membawa madharat sedikit pun baginya. Bahkan merasa bangga jika ia memakainya. Itulah perangkap yang sejatinya telah berhasil mengunci ‘pikir’ bahwa hal demikian biasa saja. Apatis terhadap sebuah ideologi. Padahal Rasulullah SAW benar-benar telah mewanti akan simbol-simbol kaum yang membenci umat Islam.

Ibnu Hajar Al-Asqolani seorang ulama terkemuka menjelaskan bahwa maksud menghilangkan simbol salib yang tertera dalam hadist Rasul diatas diantaranya dengan cara menghapus jika berupa ukiran di tembok, menggosoknya atau mencoretnya hingga bentuknya tidak tampak. Namun jika tidak mampu melakukannya dengan tangan, maka bisa dengan urutan yang rasul sabdakan ketika melihat suatu kemungkaran. Dengan lisan dan hatinya.

Demikianlah Rasulullah SAW yang memperlihatkan, bagaimana Beliau begitu membenci simbol-simbol umat yang senantiasa memerangi umat Islam. Kendati ‘terasa’ biasa saja dan –mungkin- sebagian orang menyepelekan makna sebuah simbol. Tapi tidak dengan Rasul, simbol yang tampak benderang adalah sebuah perlawanan yang begitu jelas pada semangat ketauhidan.

Biasanya simbol-simbol itu digunakan orang untuk menarik perhatian kekuatan gelap. Mungkin –juga- sebagian dari kita belum sepenuhnya menyadari kekuatan ‘misterius’ dari ‘simbol-simbol’ yang digunakan. Terkadang digunakan sebagai kalung yang melingkar leher, menjadi gelang di pergelangan tangan, atau menyimpannya di dalam kamar. Simbol-simbol itu –sesungguhnya- bukan gambar tak bermakna, namun ada semacam kekuatan jahat di baliknya. Kalaupun tidak ada, maka kita bisa terjatuh pada sebuah hukum tasabbuh jika mengenakannya.

Maka tidak aneh jika ada sebagian orang yang benar-benar konsen untuk mem-protect keyakinannya dengan sangat kokoh. Berdiri diantara perlawan ghozwul fikr yang memerangi Islam secara sporadis, baik berupa simbol yang sengaja untuk me-rimender dan men-save otak untuk terus mengenang simbol itu, atau pun memang tanpa di sengaja.

Termasuk golongan manakah kita (?) Muslim yang cuek bei-beh dengan simbol-simbol itu (?) Atau sebaliknya seorang muslim yang dengan sekuat hati menjadi pembela risalah Nubuwah (?)

Semua orang –tentunya- telah paham bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa sebuah komunitas. Lebih lanjutnya kita tidak bisa hidup tanpa pertolongan dan bantuan orang lain. Siapa pun itu, semua akan saling membutuhkan satu sama lain, seperti halnya sebuah bangunan yang berdiri kokoh, ia tidak bisa lepas dari unsur perekat yang bisa jadi peranannya sama penting untuk kekokohan konstruksi. Klasik –memang- membahas tentang solidaritas yang diibaratkan seperti bangunan itu, setiap orang sudah sangat hapal dan sering mendengar tentang bahasan ini. Namun teramat sering –pula- kita melihat dan merasakan bahwa filosopi “Saling merekat” diantara bangunan itu kian pudar termakan oleh keegoisan dan keserakahan diri. Betapa banyak komunitas yang terasa hambar persaudaraannya hanya karena hilangnya respect pada hal yang terjadi di depan hidungnya. Saling menyalahkan dan sembunyi ‘dibalik tirai rasa aman’ menjadi komoditi yang terus berkembang di masyarakat kita. Bahkan tidak mustahil dalam aktifitas keseharian kita.

Kita seakan lupa, bahwa Islam berkembang hanya dengan sebuah konsep silaturahmi yang menyolidkan rasa solidaritas. Risalah yang dibawa Rasulullah SAW dengan dua konsep pergerakan di dua kota Makkah dan Madinah, seharusnya memberikan pelajaran kongkrit bagi kita untuk melihat bagaimana keutuhan sebuah peradaban pada dimensi hubungan antar manusia. Atau menyatukan rasa solidaritas antara kaum muslim. Rasul berdakwah selama 10 tahun di kota Makkah untuk menyatukan tauhid manusia. Konsep Ilahiyyah yang terus dikonsentrasikan pada titik dakwah Makkiyah. Sedangkan di Madinah Rasulullah SAW lebih memfokuskan untuk menyatukan solidaritas umat Islam sebagai basic kekuatan selama 13 tahun. Lebih lama dari ‘sentralisasi’ tauhid di kota Makkah. Hal ini –bagi saya- menggambarkan bahwa konsep penyatuan rasa solidaritas antara muslim memasuki gerbang kompleks, yang menyamakan jiwa diantara perbedaan yang ada. Menyeragamkan rasa diantara warna yang terjadi, dan mengokohkan barisan diantara kelompok yang berbeda.

Tauhid adalah tentang suatu keyakinan, juga tidak lepas dari hidayah Dzat Pencipta, ALLAH SWT. Rasul cukup menyampaikan tentang ke-Wihdah-an ALLAH. Namun solidaritas adalah tentang sebuah rasa yang menyatu. Ia tidak bisa hanya disampaikan, namun jauh lebih dari itu, Beliau selalu memberikan perhatian rasa bagaikan satu anggota bagian tubuh lainnya. Semuanya dibangun atas dasar kesatuan tubuh, satu anggota sakit, maka anggota lainnya akan terasa nyeri. Demikianlah gambaran solidaritas muslim yang senantiasa di ajarkan risalah Nubuwah oleh Rasulullah tercinta.

Dewasa ini, kita bisa merasakannya. Bagaimana solidaritas itu lambat-laun hanya menjadi hiasan ‘verbal’ dalam sebuah kesempatan pidato. Rasa itu kian menipis jika tidak dikatakan lenyap sama-sekali. Kebersamaan rasa hanya mampu bertahan ketika kita bersama dalam kebahagiaan, namun entah jika terjadi sebaliknya. Apakah akan terus terjalin kekokohan bangunan itu, atau sedikit demi sedikit lenyap tergerus oleh keegoisan untuk mengamankan diri sendiri.

Gangster atau perkumpulan kriminal yang selalu membuat onar dan kekacauan saja bisa menampakkan aksi solidaritas diantara mereka, maka bagaimana kita takut untuk menyiarkan solidaritas diatas bangunan yang terbangun kokoh oleh sebuah nilai kebajikan (?) Tentunya lebih mulia dan indah untuk dijadikan nilai luhur umat Islam.

Semoga semakin banyak ‘serangan’ yang tertuju pada keutuhan umat Islam, kita selaku bagian dari perekat umat ini menjadi lebih solid merapatkan barisan itu. Sehingga ‘Loss of Solidarity’ tidak akan pernah terjadi diantara umat yang kini banyak ‘diguncangkan’.

“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya, dan di panjangkan umurnya, maka sambungkanlah tali silaturahmi” (HR. Mutafaq ‘Alaihi).

Dalam perjalanan K-LINK yang ke-5 ini, Cordova menyuguhkan sebuah konten yang sangat berkaitan erat dengan salahsatu fungsi kerja keluarga besar K-LINK, karena prinsip kerja K-LINK adalah mengembangkan semaksimal mungkin hubungan antara manusia dengan saling menguntungkan diantara keduanya. Wal-hasil keberkahan senantiasa menyelimuti keluarga besarnya, selain mendapatkan limpahan rezeki duniawi, sebagian besar mereka juga dapat merealisasikan impian terbesar umat muslim untuk ber-umrah ke Baitullah. Berbicara tentang silaturahim, tidak hanya terbatas pada sekedar saling bersalaman, menyentuhkan tangan, atau memohon maaf. Dalam silaturahim, kita harus berbicara tentang masalah yang lebih hakiki lagi, yakni suatu kekuatan mental dan kemampuan yang tinggi dari hati manusia.

Hal ini sesuai dengan asal kata silaturahim. Sillah atau washi berarti menyambungkan atau menghimpun. Dan arrahim berarti kasih sayang. Pengertian menyambungkan adalah suatu proses aktif dari sesuatu yang semula tidak tersambung. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda: “Yang disebut bersilaturahim bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahim itu adalah menyambungkan apa yang terputus. (HR Bukhari)

Dalam aktivitas silaturahim ini terdapat keberkahan yang tiada henti, selain mengenal bagaimana setiap watak orang yang baru atau sudah kita kenal, -tentunya- akan selalu dilanjutkan dengan obrolan atau percakapan-percakapan penting demi bisnis dunia akhirat kita. Terlampau indah rasanya jika silaturahim ini selalu disematkan dalam setiap gerak umat Islam, terlebih bagi mereka yang akan menuju ke Tanah Suci, semoga keberkahan demi keberkahan selalu tercurah untuk kembali dan kembali melakukan ibadah umrah maupun haji.

Melalui silaturahim juga, para smartUMRAH mendapatkan ‘pintu’ untuk memberikan kunci-kunci kebaikan bagi segenap orang yang dicintainya. Mereka membawa keluarga, orangtua, bahkan kerabat untuk bersama melaksanakan umrah. Salahsatu faktor kunci kesuksesan mereka tiada lain adalah indahnya silaturahim yang mereka peragakan dalam kehidupan sehari-hari, tentunya selain bekerja keras.

Silaturahim yang akan kita laksanakan benar-benar bukan mengharapkan imbalan dari siapapun, bukan pula untuk mengharapkan pujian dan penghargaan. Silaturahim ini dilaksanakan semata-mata agar kita disayang oleh ALLAH Azza wa Jalla, ALLAH Maha Agung, Maha Hebat, Maha Suci, dan Maha Mulia.

Hanya dengan jalinan silaturahmi yang erat lah, umat Islam akan menjadi kuat. Seperti halnya jaringan K-LINK yang begitu fenomenal dalam bisnis syar’i yang mereka kembangkan. Subhanallah

Terakhir, semoga perjalanan smartUMRAH K-LINK senantiasa diberikan kelancaran, kesehatan dan kembali dengan membawa pahala umrah yang makbul. Amiin Yaa Rabb

Sebenarnya ada benang merah antara tulisan ini dengan artikel beberapa hari lalu, ‘The Power of Reading’. Korelasi antara kekuatan membaca dengan apa yang akan di ulas dalam artikel ini, akan semakin menjelaskan bagaimana kekuatan pikir dalam mengolah setiap hal yang kita ‘baca’. Diantara sebagian kecil manusia memiliki kemampuan untuk membaca apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Tentunya kemampuan itu memiliki tingkatan perbedaan yang mendasar antara mempelajari ilmu bintang (nujum) atau sihir dengan sebuah prediksi dari pengetahuan ilmiah bahkan jauh bila disamakan dengan ramalan nubuwat (Prophecy). Seseorang yang “Membaca” dan meramal sesuatu yang akan terjadi sesungguhnya memiliki pemaknaan yang mendalam. Prediksi atau ramalan adalah pernyataan atau klaim bahwa kejadian tertentu akan terjadi pada suatu saat di masa mendatang. Secara etimologi, prediction berasal dari bahasa Latin: prae (sebelum) dan dicere (mengatakan). Kemampuan “mengatakan sebelum” sesuatu terjadi di masa mendatang.

Jika kemarin adalah sejarah (history), hari ini adalah hadiah (gift), maka besok adalah misteri (mistery). Begitu kata Joan Rivers, seorang komedian terkenal di awal abad 21. Bahkan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi sedetik ke depan. So, mengutip peraih Nobel Fisika, Niels Bohr, mengatakan “Prediction is very difficult, especially if it’s about the future.”, (Memprediksi sesuatu sangat sulit, terlebih mengenai masa depan).

Seiring dengan kemajuan teknologi dan keberhasilan penemuan serta pemecahan berbagai fenomena alam semesta, memang menjadikan apa yang dulu dianggap sulit diprediksi, kini hal itu bisa dengan mudah dihitung dan diperkirakan. Kapan gerhana matahari dan bulan terjadi, hisab awal bulan Komariah, dan hal-hal lain yang terjadi di planet luar. Tentu saja semua itu berangkat dari data historis yang telah dimiliki atau ditemukan sebelumnya melalui “Membaca” dan meneliti. So, fenomena di masa depan boleh jadi bisa diprediksi hanya yang bersifat countable (bisa dihitung).

Tetapi kecendrungan meramal tanpa data ilmiah yang otentik, yang hanya menggunakan bola kristal, atau guratan anggota tubuh misalnya. Bukan sebuah ramalan yang diperbolehkan dalam Islam, karena dengan meramal dan mempercayai sesuatu menggunakan ilmu magic akan mendamparkan kita pada sebuah harapan semu. Sehingga dimensi waktu yang tertapak, hanya akan tersia karena percaya menunggu takdir yang diramalkannya esok.

Lalu bagaimana jika sebuah prediksi atau ramalan tercetus seketika, tanpa data historis sebelumnya, dan tak terbayangkan sebelumnya (?) seperti halnya Rasul sering mengeluarkan ramalan pada sahabat dan peristiwa-peristiwa yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Seperti contoh ketika Rasul hendak melakukan perjalanan hijrah bersama Abu Bakar ke Madinah. Saat itu, para pemuka Quraisy akan menghadiahi bagi yang berhasil menangkap Rasulullah dalam keadaan hidup ataupun mati dengan 100 ekor sapi. Mendengar sayembara itu seorang pemuda badui berbadan kurus, bernama Suraqah bin Balik bin Ja’tsam Al-Mudallij, segera mengejar Rasul dan Abu Bakar yang terlihat bagai satu titik bergerak di padang yang begitu luas.

Karena kelihaian dalam memacu kuda, dengan tangan di tombak, Suraqah semakin mendekati jarak Rasul. Abu Bakar pun merasa cemas, tetapi Rasulullah segera menenangkan “Jangan bersedih sahabatku, ALLAH bersama kita”, tidak beberapa lama Suraqah sudah berada dibelakang Rasul, baginda Rasul pun berdo’a “Yaa ALLAH, lindungilah kami dari bahayanya sekehendak-MU”. Seketika itu, tiba-tiba kuda yang ditunggangi Suraqah tergelincir, dan ia terpelanting ke tanah berpasir. Dengan susah payah Suraqah bangkit dan kembali mengejar Rasulullah. Semakin mendekat Rasul kembali berdoa, dan kembali Suraqah terjatuh dari kudanya, hingga tiga kali berturut-turut.

Akhirnya setelah itu, Suraqah berteriak “Wahai Rasulullah! Aku Suraqah bin Balik, lihatlah aku, aku akan berbicara, aku akan melakukan apa yang kalian sukai dan tidak akan mendatangkan bahaya. Lalu Rasul pun menghentikan kudanya dan Abu Bakar bertanya, “Apa yang kamu inginkan” (?). Suraqah lalu meminta maaf atas ulahnya, setelah ia menceritakan tentang sayembara yang diadakan pemuka Quraisy tentang pembunuhan Rasul, Suraqah melanjutkan perkataanya. “Aku tahu bahwa dakwahmu akan tersebar pada orang banyak, kumohon tulislah jaminan untukku, jika suatu saat aku mendatangimu, engkau akan memuliakanku. Rasulullah tersenyum, dan memberikan jaminan itu. Lalu beliau bersabda “Hai Suraqah, bagaimana perasaanmu, jika suatu saat kelak engkau akan berpakaian dan berhiasan gelang-gelang emas yang biasa dipakai Kisra (?)”

Suraqah, badui Arab itu tampak linglung. “Kisra bin Hurmuz, Yaa Rasulullah (?) Rasulullah tersenyum, “Ya benar”. Bagaimana dapat memahaminya, saat janji Rasul itu diucapkan, kaum muslimin masih dalam keadaan tertindas. Jumlahnya hanya segelintir orang, sementara Suraqah adalah pemuda kampung, kurus kering hitam legam, dan belum memeluk Islam. Sedangkan Kisra adalah sebuah imperium kuat yang telah berdiri berabad-abad.

Itulah nubuwat (prophecy). Sebuah berita dari mulut seorang utusan-Nya tentang suatu peristiwa di masa depan. Nubuwat sebagai tanda nubuwah (kenabian). Maka tidaklah apa yang diprediksikannya kecuali pasti datang dari Sang Pengutus, ALLAH SWT. yang Maha Mengetahui “Tidaklah apa yang dikatakan utusan-Nya kecuali wahyu yang diwahyukan kepadanya (QS. Al-Anam: 4).

Hingga akhirnya tiba waktu saat Islam ber-khalifah Umar bin Khattab, sekian tahun setelah Rasul wafat, Islam dapat menghancurkan Kisra. Dan peristiwa yang dikatakan Rasul terjadi, dimana Umar memakaikan pakaian kerajaan dengan berhiasan gelang-gelang indah dan mahkota raja kepada Suraqah sebagai panglima perang Islam yang handal. Kedua pelupuk matanya pun basah mengambang air, isaknya pecah, dan airmatanya mengalir deras, ingatannya kembali melayang ke sebuah peristiwa saat berjumpa Rasulullah SAW. Subhanallah…

Masih banyak tentunya Rasulullah meramalkan sesuatu yang akan terjadi pada sahabat dan umatnya. Tentu sebuah ramalan atau prediksi spontan yang dituntun Dzat Kuasa tanpa data atau historis yang melatar belakanginya. Karena memang beliau adalah manusia pilihan dan kekasih ALLAH SWT.