Beberapa hari lalu, diawal bulan puasa, berbagai media menayangkan sebuah program menarik: bagaimana pemain muslim perlahan ikut mengubah wajah Liga Primer Inggris. Data resmi meyebutkan setidaknya 40 pemain di Liga Primer menyebut dan ‘memproklamirkan’ diri sebagai seorang muslim. Masih belum luar biasa dari segi jumlah -sebenarnya- masih kurang 10 persen dari keseluruhan 540 pemain dari 20 klub yang terdaftar di Liga Primer. Meski sedikit dari segi jumlah, namun dampaknya tak bisa diabaikan. Demikian pesan yang nyaring dari media tersebut. Contoh pengaruh itu bertebaran. Misalnya, Liverpool hanya menyediakan ayam halal untuk dikonsumsi para pemain di musim latihan, karena baik yang muslim maupun bukan, sama-sama bisa mengonsumsinya. Newcastle menyediakan mushola di St James Park. Arsenal memberi waktu luang bagi pemain yang ingin menjalankan sholat.

Tidak terbatas pada tiga klub itu saja tentunya, hampir semua klub yang memiliki pemain muslim memberikan konsesinya masing-masing agar mereka bisa semaksimal mungkin menjalankan kewajiban. Toh prinsipnya bagi klub-klub ini, kalau pemain senang, maka kerja mereka akan maksimal, dan klub juga yang akan meraih keuntungan.

Walau sifatnya masih semi resmi, bahkan ada kursus bagi para calon pelatih untuk memahami ritual seperti puasa dan sholat yang harus dijalani pemain muslim. Tujuannya sederhana, agar potensi konflik bisa dikurangi dan keseimbangan yang mutualistis bisa dicapai.

Bank Barclays sebagai sponsor Liga Primer bahkan tidak lagi memberi sampanye bagi mereka yang dipilih menjadi man of the match. Tidak untuk pemain muslim maupun non-muslim. Awal sebabnya sederhana. Yaya Toure pernah dengan sopan menolak pemberian sampanye itu dengan mengatakan dirinya muslim dan tidak minum alkohol. kerennya, pemain sekaliber Yaya seringkali menjadi man of the match. Begitupun dengan beberapa pemain muslim lain. Karenanya diputuskan, untuk tidak mempermalukan kedua belah pihak lebih baik sampanye diganti semacam trofi, karena ternyata pemain non-muslim juga tak keberatan sama sekali dengan pergantian itu.

Bahkan konon perayaan kemenangan di ruang ganti pemain, lengkap dengan semburan sampanye, dilakukan setelah pakaian para pemain muslim disingkirkan terlebih dahulu supaya tidak terkena percikan minuman beralkohol itu.

Dengan banyaknya pesepakbola muslim, para pemain yang dikenal atau dianggap insular — tak peduli dengan kehidupan lain di luar sepakbola –, menjadi sedikit banyak mengerti apa itu Islam dan hal-hal yang terkait dengan ajaran itu.

Pengaruhnya tidak sebatas di kalangan administrator klub dan liga saja, tetapi juga di kalangan penonton dan suporter. Misalnya pendukung Newcastle punya lagu pujaan khas untuk Demba Ba, sewaktu ia masih bermain di sana, yang mengaitkan kemampuannya mencetak gol dengan bulan Ramadan. Ba dikenal sebagai salah satu pemain yang selalu berpuasa, tak peduli apakah itu hari latihan dan pertandingan. Kalau sebelumnya penggemar Newcastle tidak tahu sama sekali apa itu Islam dan apa yang terjadi selama Ramadan,

Anak-anak pendukung Newcastle, serta siapapun yang suka dengan Ba dan Papis Cisse — yang juga seorang muslim yang taat, banyak meniru perayaan gol mereka dengan bersujud syukur (di atas lapangan). Tentu anak-anak itu tidak paham sama sekali mengapa Ba dan Cisse melakukannya. Tetapi sekali lagi, ada dimensi kehidupan lain yang mulai menyusup tanpa disadari bahkan sejak kanak-kanak.

Inilah kekuatan Islam dalam memberikan influence tanpa menimbulkan konflik, ia menghembus dengan sangat smooth dan polite. Bahkan -bisa jadi- pengaruhnya bisa jauh melebihi ‘juru dakwah’ yang gemar berlucu di televisi sepanjang waktu sahur.

(Dari berbagai sumber)

Sudah sepekan Ramadhan berlaju tanpa rehat, tiada henti keagungannya bersinar pada jiwa setiap hamba. Cahayanya tak pernah padam walau banyak manusia yang menyiakan-nya. Ia kan terus berpacu dengan keberkahan yang menyelimuti seantero bumi. Bulan yang sesungguhnya memberikan multi education pada setiap muslim yang menghirupnya. Kedamaian, kehangatan dan ragam kemulian lainnya, hanya akan diraih pada bulan ini. “Cuci gudang dosa” tahunan ini, sejatinya memberikan spirit tuk membenahi segala tindak yang terpatri. Melakukan ekplorasi kebaikan tuk merayakan selebrasi fitri dikemudian hari. Terkhusus bagi calon tamu ALLAH yang berapa saat lagi akan menunaikan ibadah haji, Ramadhan menjadi satu-satunya kesempatan yang layak tuk dikemas menuju jalan kemabruran. Tentunya bukan ‘kebetulan’ atau tak sengaja ALLAH menciptakan Ramadhan berada dalam urutan waktu sebelum musim haji. Bisa jadi, ALLAH memberikan Ramadhan sebagai space prepare menjelang peribadatan paripurna 9 Dzulhijjah kelak. Sebab, semua dimensi ketaatan manusia pada Sang Khalik berada pada bulan suci ini.

Kesinambungan waktu itulah yang menjadi modal bagi calon tamu ALLAH SWT, tuk dijadikan preparing menghadapi penutup segala rukun yang membalut identitas seorang muslim. Haji adalah klimaks dari segala ketaatan seorang muslim, hingga wajar –bahkan- sepatutnya, jika bulan yang kental dengan nuansa pembenahan jiwa ini, dijadikan sebagai tolak ukur untuk menyusun agenda kemabruran kita. Rasa kepedulian, sabar, ikhlas, jujur, disiplin, dan semua karakter dalam perjuangan haji terdapat pada bulan ini. Maka, manasik jiwa menghadapi haji sesungguhnya telah berada dihadapan kita.

Melaksanakan tahapan ibadah haji sebenarnya sangat mudah dipelajari, manasik teori maupun praktik bukan hal yang teramat sulit tuk dihapal, tetapi yang terlampau sulit adalah bagaimana kita mengendalikan jiwa saat berada di medan haji nanti. Watak dan karakter manusia yang tidak kebal dosa, akan menjadi bumerang saat detik-detik haji kan terpijak. Oleh karenanya, proses pembentukan haji mabrur menjadi sangat dominan di bulan suci ini. Sebab jalan menuju mabrur tidak mudah tercipta oleh waktu yang instan.

So, segala aspek pendidikan Ramadhan menjadi teramat penting tuk menggaet predikat tertinggi haji ‘Mabrur’. Selain kembali fitri selepas perjuangan 30 hari puasa, para tamu Agung kan kembali berkesempatan meraih tiket Mabrur. Yaa Rabb! So, mari kita jadikan Ramadhan sebagai ‘Manasik Jiwa’.

Pada suatu kesempatan seorang teman pernah bercerita, bahwa dalam segala hal dirinya tidak bisa menjadi orang nomor dua di komunitasnya. Maksudnya, ia selalu harus menjadi pemenang dalam setiap bidang. Baik dalam kejuaraan olahraga, struktur organisasi, terlebih dalam peringkat akademis di kelasnya. Bertarung mendapatkan kursi teratas adalah sebuah kelaziman yang harus ia peroleh dimana dan kapan pun. Dalam kehidupannya, ia sangat memerlukan rasa ‘menaklukkan’, suatu rasa superior dan rasa menang terus berputar dalam langkah hidupnya. Ia merasa bahwa suatu ‘kemenangan’ selalu dimulai dari bagaimana ia menghargai pencapaiannya setiap hari. Ia merasa, tanpa rasa menang, sepertinya ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.

Rasa-rasanya hanya di bulan Ramadhan saja, waktu menjelang Subuh jalanan masih ramai, denyut aktivitas masih hidup dan menghidupi banyak manusia. Kemungkinan juga, bulan Ramadhan saja yang bisa menciptakan kekuatan besar pemicu pergerakan ekonomi yang pesat. Karena pada ramadhan semua manusia muslim meyakini bahwa turunnya keberkahan dimulai dari spirit berbagi pada bulan ini. Sesungguhnya terdapat potensi besar dibalik konsumtifisme yang terjadi saat ramadhan. Ketika permintaan meningkat pesat, demikian pula dengan penawaran yang tak kalah tingginya. Maka saat itu terjadilah situasi dimana pada tingkat harga yang terbentuk, konsumen dapat membeli semua produk yang diinginkannya, dan menurut Vincent Gasperz, Ekonomi Manajerial, produsen pun dapat menjual semua produk yang diinginkannya. Istilah simple-nya, semua berputar merata dengan simpul-simpul penggerak ekonominya di masing-masing daerah.

Di bulan ini, ada semacam spirit berwirausaha yang menjamur. Masyarakat yang sehari-harinya bukan pedagang pun, saat ramadhan, tiba-tiba menjadi pedagang ‘dadakan’. Hingga muncul pasar-pasar rakyat atau bazar sore, mereka berlomba menjual aneka menu berbuka. Dan harus diakui ini menjadi pertanda bahwa ramadhan turut andil dalam kebangkitan ekonomi umat (atas keberkahannya), karena tanpa disadari, mereka telah menjadi pelaku langsung dalam berwirausaha, meskipun setelah ramadhan semuanya akan kembali seperti semula.

Di sisi lain, percaya atau tidak, setiap datang ramadhan uang belanja harian, atau bulanan akan mengalami lonjakan yang signifikan. Bahkan bisa jadi pendapatan bulanan bisa langsung ‘amblas’ dalam dua-tiga hari. Namun percayakah Anda, meski banyak pengeluaran yang tak terduga, namun rezeki pun selalu muncul tanpa duga dengan kenikmatan yang luar biasa. Mari kita perhatikan sedikit contoh bagaimana tidak melonjaknya pengeluaran saat berbuka saja; ada kolak, es buah, cendol ‘Elizabeth’, goreng-gorengan, kue basah dan beragam minuman lainnya. Ini hanya dessert lho’ belum makan beratnya sehabis sholat Maghrib. Biasanya selalu ingin makanan yang berbeda saat berbuka puasa, dilanjutkan setelah sholat tarawih, bisa berupa bakso, mie kocok, atau pun siomay dan batagor.

Tidak masalah sebenarnya, jika semua makanan itu bisa habis termakan dan sesuai dengan ruang kapasitas perut kita, karena tokh bulan ini, kita belajar untuk share kepada mereka yang sibuk berjualan mencari nafkah. Dimakan atau tidak oleh kita, pada saat itu, kita telah menjadi bagian perekat dalam pembangunan ekonomi umat, meski dalam skala kecil dan luput dirasakan.

So’ Ramadhan adalah waktu yang sangat baik untuk sharing –dan- akan lebih bermakna lagi jika terus berlanjut ‘sharing’ ini ke bulan-bulan selanjutnya. Karenanya, bahagia berbagi dalam ramadhan ini menjadi salahsatu fenomena sosial yang marak terjadi dikalangan masyarakat muslim kita.

-Tidak asal puasa-

Tak dipungkuri, sedari rembulan suci tampak di ufuk sana, cakrawala merubah segala peristiwa yang kan terjadi selama 720 jam menuju kefitrahan hakiki. Setiap insan beriman, bahu membahu menyongsong bulan penuh kehangatan, menyibak balutan lentera hitam-nya, menuju sebuah tingkatan ketakwaan yang tiada tara. Yah, Ramadhan menjadi magnet luar biasa bagi setiap muslim dimana pun berada. Semua bergerak mengarah keshalihan massif, semua berjalan menuju buih kecintaan-Nya. Karena memang Ramadhan tercipta sebagai “Mesin” pencuci segala kepongahan manusia. Berbeda dengan semua ibadah yang dilakoni, shaum Ramadhan adalah titik dasar yang mengikat sebenar-benarnya ketakwaan manusia pada Rabb-nya. Jika semua ibadah yang dilakukan dapat terukur oleh kacamata manusia, maka shaum hanya terukur oleh kekuatan Azza wa Jalla.

Seseorang tak mudah mengetahui bagaimana orang lain melakukan kewajiban puasa dengan baik, karena puasa adalah sebuah ketakwaan yang didedikasikan hanya untuk ALLAH SWT. Ibadah ini nyaris lepas dari sifat takabur atau riya tuk menampakkan keshaumannya, shaum pun bukan hanya sebuah ritual ketakwaan belaka, namun lebih merupakan kesinambungan ma’ruf antara dua alam, langit dan bumi.

Tak ayal, disetiap mengawali Ramadhan, setiap muslim di dunia, sebisa mungkin mencoba lepas dari kebiasaan buruk watak dan thabiat-nya. Jika –tak ingin- disebut sebagai “Shalih dadakan” maka kita dapat menafsirkan mereka berduyun-duyun menghormati sakralnya bulan suci umat Islam. Karena tiada yang tahu, ketika “kita” menjadi bagian dari para “shoimin” (orang yang berpuasa), maka segala noktah dalam jiwa kan terkuras bersih oleh keberkahan Ramadhan.

Dihubungkan dengan dimensi duniawi, maka sesungguhnya Ramadhan memiliki efek besar pada perjalanan ruh manusia sebagai makhluk sosial. Selain mengajarkan ketakwaan tinggi pada Sang Pencipta, Shaum dinilai menjadi kunci tuk meruntuhkan sikap rakus manusia. Ia juga mampu menjadi kendali rasa peka sesama manusia disekitarnya. Terlebih dipenghujung shaum kita nanti, Islam menggariskan sebuah kewajiban menyisihkan harta kita melalui zakat fitrah. Sungguh lengkap edukasi yang terdapat dalam Ramadhan, sehingga award yang dijanjikannya pun tak tanggung-tanggung bagi para shoimin yang ‘benar-benar shoim’, mereka kan kembali suci laiknya bayi merah yang mendapat lembaran baru dan bersih dari segala noktah.

Tak salah mengawali Ramadhan tahun ini, dengan segenap rasa, mari bersama membangun sebuah paradigma baru tentang ramadhan. Tidak asal puasa, tidak asal tarawih, tidak asal sedekah, tetapi menjadi puasa, tarawih, dan sedekah yang tidak asal-asalan. Seolah bulan suci ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita.

Ramadhan Kareem, Allahu Akram!

-Rindu iklimnya-

Sejak kecil kita telah dikenalkan dengan Ramadhan, kita semua tahu bahwa Ramadhan adalah bulan puasa, namun –rasanya- jarang kita mengerti apa arti Ramadhan dan makna yang terkandung dari kata “Ramadhan” itu sendiri. Secara bahasa ia berarti: Membakar, amat panas. Penyebutan bulan Ramadhan -bulan ke-9 pada kalender Hijriah- sesuai dengan kondisi pada bulan tersebut.” yakni panas membara. Rasa-rasanya kita patut bangga menyaksikan semangat ibadah yang timbul saat bulan Ramadhan tiba, namun dalam kebanggaan itu, ada celah yang membuat kita bersedih. Karena jika ditelusuri, fenomena yang ada, adalah seakan-akan masyarakat kita ‘menyembah’ Ramadhan, dan bukan menyembah Tuhannya Ramadhan, karena jika memang kita menyembah Tuhannya Ramadhan, maka tentu nilai ramadhan selalu tampak dalam ke-sebelas bulan lainnya. Efek dan kestabilan nilai itulah yang sejatinya para sahabat selalu ingin setiap bulan itu bernilai Ramadhan. Whatever (karena kita berada di masyarakat majemuk) -setidaknya- kita masih bangga bahwa di bulan ini banyak yang menjadikan sebagai bulan tobat massal. Terlepas apa selanjutnya yang akan kita lakukan setelah itu, karena tokh yang bisa merubah keteguhan hati itu hanya ALLAH SWT. Hanya pada saat Ramadhan itulah sebagai harapan besar untuk merubah segala tingkah di bulan-bulan lainnya.

Para ulama mengartikan ‘Ramadhan’ sebagai sebuah kata yang terbentuk dari lima huruf, dan setiap hurufnya memiliki makna tertentu yaitu : “Ra”: Rahmat (rahmat Allah), Mim: Maghfirah (ampunan Allah), Dhod: Dhommanun li al jannah (jaminan untuk menggapai surga), Alif: Amaanun min an nar (terhindar dari neraka) Nun: Nurullahi al Azizi al Hakim al Ghofuuri ar Rahiim (cahaya dari Allah SWT yang maha kuasa dan bijaksana, maha pengampun dan pengasih).

Saat kita telaah makna yang terkandung dalam kata ramadhan tersebut kita akan semakin meyakini bahwa datangnya bulan Ramadhan adalah membawa sebuah keberkahan dari ALLAH SWT untuk kita sebagai hamba-Nya. Hal ini sesuai sabda Nabi “Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, pada bulan tersebut engkau diwajibkan berpuasa dan dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka dan syetan-syetan di belenggu, dalam bulan tersebut ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barang siapa yang tidak mampu mendapatkan kebaikan bulan Ramadhan tersebut maka haramlah baginya surga. (HR. Ahmad, an-Nasa’i dan Baihaqi).

Dari hadits di atas terdapat kaitan yang sangat erat dengan bulan Ramadhan itu sendiri, Rahmat dan Magfirah adalah dua sisi yang sangat erat bagaikan dua sisi pada uang logam yang tak terpisahkan, disaat ALLAH SWT menurunkan rahmat-Nya maka Maghfirah-Nya pun turun mengiringi, demikian juga sebaliknya. Ketika rahmat ALLAH SWT yang diiringi oleh maghfirah-Nya ini telah mengalir, maka jaminan mendapatkan surga dan terhindar dari neraka telah menanti.

Sejatinya menyambut Ramadhan tidak hanya ditampakkan dengan material saja, tetapi semua hati, raga dan apapun yang meliputinya bersatu menanti kehangatan Ramadhan. berseri dari hati, bersuka dari jiwa. Semuanya bersatu menyambut bulan suci-Nya. Ahlan wa Sahlan Yaa Sayyidus Suhur! We Love Ramadhan

Teruntuk Soulmate Tercinta

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu terlelap tidur, Aku akan menyelimutimu dengan lebih rapat dan berdoa kepada ALLAH agar menjaga jiwamu.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu.

Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya, Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa.

Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda. Dan hari ini mungkin kesempatan terakhir kita untuk memeluk erat orang tersayang.
Jadi, bila kita sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang (?)

Karena bila esok tak pernah datang, kita –mungkin- akan sangat menyesali hari ini.
Saat kita tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman. Dan saat kita terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka.

Jadi, dekap erat orang-orang tersayang hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kita sangat mencintai mereka dan akan selalu menyayangi mereka.
Luangkan waktu untuk mengatakan “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “I love u”

Dan bila esok tak pernah datang, kau takkan menyesali hari ini.

(Norma Cornett Marek)

Perencanaan adalah awalan yang menentukan. Perencanaan juga bisa mengindikasikan langkah yang diayunkan terkonsep dengan baik. Rencana adalah ‘makhluk’ yang masih berada dalam dunia khayal, bayangan yang terkontrol oleh alam pikir. Ia masih hal ghaib yang sulit terdeteksi oleh dunia riil, masih terkesan liar dan meletup-letup. Sebagian keberadaannya masih berada di luar kawasan otak. Perencanaan akan semakin fokus menjadi ‘makhluk utuh’ ketika tergiring pada sebuah ketetapan hati, yakni; niat. Dengan diikat oleh hati, maka keliaran-nya menjadi lunak dan cenderung taat. Hati menjadi komandan ‘makhluk’ yang bernama rencana. Sehingga memiliki spirit tuk segera bermetamorfosa menjadi nyata. Semua karya manusia awalnya dari sebuah perencanaan yang liar, sampai terikat oleh kekuatan niat tuk merubahnya. Sehingga dalam Islam, ALLAH menilai dan memberikan apresiasi (pahala) ketika sebuah kebaikan masih berada dalam dunia khayal (perencanaan). Jika rencana kebaikan –meski- tanpa aksi saja ALLAH memberikan apresiasi, lalu bagaimana jika semua itu berwujud menjadi aksi (?)

Bila setiap helaan nafas nyaris kosong oleh satu rencana pun, maka dapat dipastikan kita berada dalam langkah kerugian yang nyata. Karenanya, tidak salah jika hati ini di sesakkan oleh rencana kebaikan itu, siapa tahu jika telah penuh akan meluber menjadi aksi. Kekuatan Islam dalam melaksanakan hidup terdapat pada niat, dan niat –seperti telah dijelaskan di atas- adalah corong yang mengingat semua rencana yang ada. Aksi tergantung oleh niat, begitu sabda Rasul dalam menyoal amalan (aksi) dalam setiap langkah.

Rencana yang baik memang harus jelas, matang, mantap, tertata, dan terperinci setiap langkahnya, sehingga memudahkan untuk proses selanjutnya. Namun jika hidup hanya penuh rencana dan rencana terus menerus hingga meluber sekalipun tanpa aksi, tindakan dan gerak nyata, maka rencana itu hanya akan berakhir di tempat sampah, terbuang percuma.

Pada umumnya, gagasan dan pikiran-pikiran yang mendukung ke arah tujuan kita, berdampingan dengan tantangan dan masalah yang pasti muncul di lapangan, namun berbarengan dengan itu pula segala jalan keluar akan menghampiri dengan bergerak secara ajaib.

Setiap mengawali perencanaan-perencanaan –tentunya- selalu berhadapan dengan kondisi yang sesuai dengan keinginan kita atau tidak sama sekali. Perubahan alamiah yang terjadi dari fase ‘liar’ menuju sebuah konsep, dilanjutkan aksi maka akan ada semacam ‘transisi’ dari sikap yang berubah. Seperti halnya, tidak ada di dunia ini yang menginginkan perubahan tanpa melalui turbulensi (perguncangan) yang terjadi. Baik dirasakan dalam jiwa ataupun tapak yang melangkah. Permasalahan lama tidaknya, besar kecilnya ‘guncangan’ itu selalu ada dalam pola pikir kita sendiri.

Masjidil Haram adalah masjid tertua di dunia. Masjid bertiang 589 buah dari marmer atau granit ini lebih tua 40 tahun dari Masjid Al-Aqsa di Yerussalem. Pembangunan masjid ini untuk pertama kalinya dibangun oleh Nabi Ibrahim AS bersama dengan putranya Ismail AS.

Pada saat ini pembangunan Masjidil Haram telah berlangsung sekitar dua tahun lalu. Pelataran Masjidil Haram terus diperluas. Akibatnya, sekitar lebih 1.000 gedung di sekitar Masjidil Haram dibongkar demi untuk pelayanan jamaah haji yang datang dari seluruh dunia. Pembangunan, penyempurnaan, dan perluasan Masjidil Haram adalah bagian dari sejarah dalam perjalanannya dari masa ke masa.

Pada awalnya, masjid yang memiliki 152 buah kubah ini sangat sederhana bentuknya. Bangunannya terdiri dari Ka’bah yang terletak di tengah-tengahnya. Kemudian ada sumur zamzam dan Maqam Ibrahim di sampingnya. Ketiga bangunan tersebut berada di tempat terbuka.

Pada masa awal perkembangan Islam sampai pada masa pemerintahan khalifah pertama Abu Bakar As-Shiddiq (543 M), bentuk bangunan Masjidil Haram juga masih sederhana. Masjid ini belum memiliki dinding sama sekali. Pada tahun 644 M, di masa Khalifah Umar bin Khattab (khalifah kedua), ia mulai membuat dinding masjid ini. Akan tetapi, dindingnya masih rendah, tidak sampai setinggi badan orang dewasa. Umar juga membeli tanah di sekitar Masjidil Haram untuk memperluas bangunan masjid guna menampung jamaah yang semakin hari semakin banyak.

Bangunan Masjidil Haram selalu diperluas dan diperindah dengan semakin banyaknya umat Islam yang berkunjung ke Baitullah dari masa ke masa. Khalifah Utsman bin Affan juga memperluas bangunan masjid tersebut pada masa pemerintahannya. Kemudian Abdullah Ibn al-Zubair (692 M) memasang atap di atas dinding yang telah dibangun. Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi (714 M) yang pernah berkuasa di Makkah, juga pernah melakukan penyempurnaan bangunan Masjidil Haram. Demikian pula pada masa Khalifah al-Mahdi (Khalifah Bani Abbasiyah) yang berkuasa pada tahun 885 M, dibuat deretan tiang yang mengelilingi Ka’bah yang ditutup dengan atap. Saat itu dibangun pula beberapa menara.

Pada pemerintahan Sultan Salim II dari Kekhalifahan Turki Utsmani yang dilanjutkan oleh putranya, Sultan Murad III, dilakukan beberapa kali perbaikan dan perluasan bangunan Masjidil Haram. Pada masa ini juga dibuat atap-atap kecil berbentuk kerucut. Bentuk dasar bangunan Masjidil Haram hasil renovasi Dinasti Utsmani inilah yang dapat dilihat sekarang ini.

Pada masa pemerintahan kerajaan Saudi Arabia yang bertindak sebagai Khadim al-Haramain (pelayan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) beberapa tahun lalu, juga dilakukan perbaikan, penyempurnaan, dan perluasan Masjidil Haram. Tempat Sa’i yang sebelumnya berada di luar masjid, kini dimasukkan ke dalam dan dilengkapi dengan jalur-jalur sa’i yang dilengkapi atap yang teduh.

Ka’bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah sholat bagi kaum muslim seluruh dunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi yang berada di sekitarnya.

Bagi jamaah umrah dan haji pada tahun ini sampai tahun 2016 nanti, penyempurnaan masih terus berlanjut. Sehingga akan membuat sedikit keleluasaan dalam melakukan tawaf dan ibadah lainnya. Demikian juga dengan debu dan suara keras dari alat berat konstruksi bangunan. Sehingga bagi yang akan melaksanakan umrah ataupun ibadah di Masjidil Haram disarankan menggunakan masker. Selain itu, kebisingan dan crowded-nya lalulintas dari sekitaran Masjidil Haram menjadikan semua jemaah untuk bersabar.

Dampak yang lebih terasa oleh calon jemaah haji adalah turunnya keputusan dari Kerajaan Saudi Arabia untuk memangkas kuota haji sebanyak 20 persen. Sehingga diperkirakan sebanyak 42.000 calon jemaah haji asal Indonesia terancam gagal berangkat haji tahun ini.