Jakarta, 25 Oktober 2012.

Wukuf Live adalah event tahunan Cordova yang telah berlangsung sejak smartHAJJ 2008/ 1429 H. Kegiatan lepas kangen antara jamaah smartHAJJ di Tanah Suci dengan keluarga di Tanah Air yang Cordova fasilitasi dengan video conference melalui satelit Inmarsat menggunakan teknologi BGAN ini membuat sensasi emosi smartHAJJ membumbung tinggi di Arafah.

Wukuf di Padang Arafah adalah peristiwa yang sangat besar di muka Bumi. Bagi umat manusia, -sesungguhnya- tidak ada peristiwa yang terdahsyat selain apa yang terjadi di hari ini, di hamparan Padang Arafah. Dimana ALLAH SWT, Pencipta, Pemilik dan Penguasa Alam Raya, turun langsung ke Langit Bumi, menembus relung jiwa manusia muslim di hamparan Arafah. Membangga-banggakan manusia muslim yang sedang wukuf kepada para Malaikat-Nya. Peristiwa Besar inilah (Wukuf) yang sepatutnya dikenal dan dipahami secara luas oleh masyarakat muslim di Indonesia, terutama bagi anak dan keluarga mereka yang berada di Arafah.

Arafah adalah tempat dipertemukan kembali Adam dengan Hawa dalam kasih sayang dan ampunan Allah, peristiwa monumental tersebut diabadikan dalam prosesi terpenting ibadah haji yaitu Wukuf Arafah. Sebagai rukun haji, Wukuf di Arafah menjadi indicator sah-tidaknya seseorang berhaji sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa Haji itu (wukuf di) Arafah. Sudah menjadi tradisi setelah mengikuti wukuf Arafah dengan sholat berjamaah, mengikuti khutbah Arafah, berdoa dan dzikir bersama, para jamaah saling bermaafan dan mengucapkan selamat satu dengan lainnya.

Dengan berkembangnya teknologi, permohonan maaf juga dilakukan para jamaah kepada keluarga terdekatnya yang ada di Tanah Air. Suasana yang sarat emosi jiwa dalam rasa syukur yang kuat atas terselenggaranya prosesi terpenting ibadah haji, wukuf di Arafah. Keharuan paling dalam dirasakan antara orang-tua dengan anaknya yang terhalang jarak, kerinduan yang terpendam sepeninggal orang-orang terkasihnya melakukan perjalan haji akan tertumpah saat mereka “dipertemukan” melalui video conference di Aula Cordova di daerah Kemang.

Momentum sakral wukuf selalu menjadi ‘Primadona’ dalam setiap etape perjalanan haji. Untuk ke-5 kalinya pelaksanaan wukuf menjadi ajang ‘Klimaks’ dalam menyambungkan rasa antara mereka yang melaksanakan wukuf di Arafah dengan keluarga tercinta di Tanah Air. Selain itu, Cordova juga mencoba untuk mengkoneksikan kepedulian mereka dengan saudaranya yang tertimpa musibah. Menyapa, berdo’a dan mengumpulkan dana untuk sekedar memberikan motivasi, bahwa mereka yang tertimpa musibah di seantero negeri masih memiliki saudara yang selalu mendoakannya di Tanah Suci.

Seperti estafeta wukuf live tahun 2010, keluarga dan anak-anak jemaah haji yang berada di Arafah telah berhasil mengumpulkan dana kemanusiaan untuk korban Merapi. Tahun ini, dengan semangat Care & Share, semoga bisa memberikan yang terbaik pula bagi mereka yang terkena Musibah di manapun. Apapun bentuk bantuan itu, bisa materi ataupun doa-doa Arafah yang pasti di ijabah.

Wukuf Live yang mengusung konsep ‘Care & Share’ ini sekaligus ikhtiar dari pengejawantahan makna Mabrur yang berimplikasi pada kebaikan dan rasa peduli terhadap sesama.

Arafah adalah tempat di wilayah Makkah Al-Mukarramah yang menjadi berkumpulnya para jamaah haji dari seluruh dunia. Hadir Arafah merupakan salah satu rukun haji, sehingga tidak sah ibadah haji seseorang jika tidak hadir di Arafah. Abdurrahman bin Ya’mar meriwayatkan bahwasanya sekelompok manusia dari suku Najd mendatangi Rasulullah SAW pada saat beliau di Arafah. Kemudian mereka bertanya kepada beliau, sehingga Rasulullah SAW memerintah mereka seraya menyeru, “Haji adalah (hadir) di Arafah.” (HR. Tirmidzi). Arafah menjadi hari kesembilan di bulan Dzulhijjah. Arafah yang berarti mengetahui, memiliki pengertian bahwa mimpi yang terjadi pada Kholilullah Ibrahim AS adalah benar berasal dari ALLAH SWT. Sebelumnya, nabi Ibrahim mengalami fase keraguan (hari tarwiyah) apakah mimpinya berasal dari ALLAH atau tidak.

Setelah melalui proses verifikasi-kritisisme, Nabi Ibrahim mengetahui dan meyakini kebenaran mimpinya di hari Arafah. Tibalah keesokan harinya Yaum An-Nahr (hari penyembelihan) yang menjadi tonggak pelarangan pengorbanan manusia dalam mendekatkan diri kepada ALLAH SWT.

Arafah merupakan miniatur Alam Mahsyar, tempat seluruh manusia dibangkitkan dari alam kubur untuk dihitung amal kebaikan dan keburukannya (hisab). Maka pengertian Arafah memberikan kesadaran bagi manusia dalam hubungannya dengan Rabb-nya, sesamanya dan alam semesta, sehingga mereka mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk kehidupan abadinya di akhirat.

Peristiwa monumental yang terjadi di hari Arafah antara lain turunnya wahyu terakhir kepada Rasulullah SAW, penegasan tidak diperkenankannya kaum musyrikin melakukan ibadah di sekitar Ka’bah, dan penegasan deklarasi hak asasi manusia (HAM) pertama di dunia yang menjadi tonggak sejarah bagi berkembangnya penghormatan prinsip-prinsip HAM pada saat ini.

Latar belakang tersebut menjadikan hari Arafah memiliki keagungan dibandingkan dengan hari-hari lainnya, di antaranya: Pertama, menjadi hari pengampunan dosa dari ALLAH SWT karena banyaknya hamba yang beribadah semata-mata untuk diri-Nya.

Dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda, “Jika hari Arafah tiba, ALLAH SWT turun ke langit dunia dan berfirman kepada para malaikat, ‘Lihatkan kepada para hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dengan bersusah payah, mereka datang dari berbagai penjuru yang jauh. Saksikanlah! Bahwa Aku telah mengampuni dosa-dosa mereka.’

Para Malaikat berkata, ‘Wahai RABB-ku, (diantara manusia itu) ada lelaki yang senantiasa mensucikan-Mu, mengagungkan-Mu dan lain sebagainya.’ ALLAH SWT berfirman, ‘Aku telah ampuni dosa-dosa mereka.’ Rasulullah SAW bersabda, “Maka sungguh tiada hari yang lebih besar pembebasannya dari api neraka dari pada hari Arafah.” (HR. Ibnu Huzaimah).

Kedua, dilipatgandakannya amal kebajikan yang dilakukan oleh para jamaah haji di Makkah dan disunahkannya bagi yang tidak haji untuk melakukan puasa Arafah. Dari Abu Qatadah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Puasa Arafah dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu dan dosa tahun depan.” (HR. Ibnu Huzaimah).

Ketiga, banyaknya rahmat yang dilimpahkan oleh ALLAH kepada manusia, sampai-sampai setan berkecil hati pada hari Arafah tersebut. Dari Talhah bin Abdullah bin Kariz RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setan tidak melihat bahwa suatu hari dirinya merasa kecil, hina, teraniaya dan teremehkan daripada hari Arafah. Hal itu tidak lain karena ia melihat banyaknya rahmat dan ampunan dosa besar yang diberikan Allah kepada manusia, sebagaimana pada saat Perang Badar.”

Demikianlah keagungan hari Arafah, semoga ALLAH SWT memberikan keringanan kepada kita dalam mengagungkan hari mulia-Nya dengan memperbanyak kebajikan dan berpuasa, sehingga kita dijadikannya sebagai hamba agung nan mulia.

(Dari Berbagai sumber)

Sang waktu terus berlalu. Tak terasa musim haji kembali tiba. Tiga juta muslim dari segala penjuru kini tumpah-ruah di bumi bersejarah Makkah. Mereka bersimpuh di hadapan Ka’bah, kiblat seluruh muslim dunia. Nabi Ibrahim AS telah tiada, namun kedalaman tauhid Khalilullah beserta keluarganya selalu dikenang hingga kini. Pengabdian yang tulus kepada Rabb-nya, tidak pernah membuat mereka menawar perintah Allah Ta’ala. Meski kadang perintah itu tak masuk nalar manusia. Kini, mata seluruh muslim dunia tertuju ke sana. Mereka yang beragam suku dan budaya disatukan dengan satu syi’ar: “Labbaik, Allahumma labbaik… Labbaik laa syarikalaka labbaik…” Ka’bah yang menjadi sentral, selalu memunculkan kedengkian dari dulu kala. Raja Abrahah, pernah membangun tempat ibadah begitu besar dan indah di Yaman untuk menandingi keagungannya. Tapi, seorang Arab badui justru membuang hajat di sana. Abrahah marah dibuatnya. Dengan tentara gajah, ia menuju ke Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Niat itu tidak terwujud, karena seperti kata Abdul Muthallib, “Ka’bah itu milik Allah, Dia yang akan menjaganya.” Burung Ababil pun berpesta pora.

Ka’bah juga memunculkan kecemburuan bangsa Yahudi. Saat di Madinah, mereka berdebat soal rumah ibadah pertama di dunia. Yahudi bersikeras bahwa di Baitul Maqdis rumah ibadah pertama dibangun. Sampailah hal ini ke telinga Nabi Saw. Allah kemudian menjawab melalui firman-Nya, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadat manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi …” (QS 3: 96).

Saat ditegaskan bahwa agama selain Islam tertolak, orang Yahudi berkata, ‘kalau begitu kami Islam’. Saat ditandaskan, ‘kalau kalian Islam, Allah mewajibkan haji untuk kaum muslimin ke Mekkah.’ Namun, gengsi yang begitu tinggi membuat mereka berujar, ‘yang demikian tidak pernah diwajibkan atas kami.’ Itu sebabnya, dalam ayat selanjutnya disebutkan, “Katakanlah, Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha menyaksikan apa yang kamu kerjakan?”. Demikian asbabun-nuzul menyebutkan.

Apa yang melatarbelakangi sikap Yahudi (?) Tak lain adalah klaim mereka sebagai ‘bangsa pilihan’ yang akan mendapat ‘tanah yang dijanjikan’. Meski pensifatan dalam kitab suci mereka mengarah bahwa hal itu sudah muncul; bahwa umat yang dipilih adalah Muhammad Saw; dan tanah yang dipilih adalah Makkah, namun mereka tak menerima kenyataan ini. Kedengkian membutakan mereka hingga selalu mencari dan mencari. Dan itu berlangsung hingga kini. Zionisme kemudian dibentuk untuk menyambut ilusi ‘jadwal Tuhan’.

Erzt Israel (negara Israel) kemudian menjadi missi yang ditetapkan. Yahudi bermimpi mendatangkan masa keemasan kerajaan Israel di era Nabi Daud dan Sulaiman dulu. Tiba-tiba, bangsa yang gemar membunuh Nabi utusan Allah ini, merasa sebagai ahli waris. Padahal sejarah mencatat, bagaimana ideologi paganisme Mesir kuno begitu mengakar dalam
bangsa ini dan bukan tauhid; ajaran para Nabi. Bukankah mereka pernah meminta dibuatkan patung sapi sesaat setelah diselamatkan Nabi Musa dari Fir’aun (?) Secara biologis mungkin mereka bisa mengklaim sebagai anak turun Nabi Israel, namun secara ideologis, terlalu jauh untuk menyebut mereka sebagai pewaris.

Negara Israel impian dideskripsikan lokasinya ‘dari sungai Nil sampai sungai Eufrat Tigris’. Dalam Konperensi Perdamaian di Versailles pada 1919, batas wilayah negara Israel selanjutnya ditetapkan: di Utara meliputi Shaida (Lebanon) dan Damsyiq (Suriah), di Timur mencakup Amman (Yordania) dan Aqaba, sedang di Barat sampai di El-Arish Mesir. Luas Erzt Israel dengan demikian sama dengan dua kali lipat luas wilyah Israel sekarang. Demikianlah, ekspansi perluasan wilayah Israel nampaknya tinggal soal waktu. Dan konflik di Timur Tengah, belum ada tanda-tanda akan padam.

Dan inilah sumber banyak konflik di dunia hari ini. Ambisi Israel yang didukung negara Barat memparadekan kedzhaliman secara kasat mata. Bangsa Barat seolah menafikan lolongan dan protes bangsa lain. Lembaga Internasional semacam PBB juga mandul, karena sejatinya merekalah yang menerbitkan akte notaris berdirinya Israel di Palestina. Dan inilah pemicu yang menggerakkan banyak pemuda untuk membela saudaranya… dengan segenap cara dan keyakinannya. Tak terkecuali, Usamah bin Laden. Ia harus meninggalkan kasur empuk, berpindah ke goa-goa Afghanistan demi membuat perhitungan.

Popularitas Israel sebagai bangsa cerdas, tidaklah diragukan. Ragam kekuatan yang mereka miliki dari ekonomi, militer dan lobi membuat seolah mereka bisa berbuat apa saja. Yahudi sadar, bahwa potensi ancaman atas missi Israel Raya adalah Islam. Karena selain lokasinya di negeri muslim, Islam juga memiliki ideologi jihad. Dan ideologi jihad disemai di pesantren-pesantren juga di komunitas-komunitas pengajian. Terbitlah sandi ‘war on terror’ yang membidik pusat persemaian ideologi jihad. Dan penguasa-penguasa negeri muslim, turut menari dalam gendangan itu. Banyak program digelar dan direncanakan, dari yang soft hingga yang hard. Dolar Amrik mengalir ke kantong-kantong para Kyai juga Polisi.

Coba kita perhatikan diskusi-diskusi akhir-akhir ini. Orang muslim sendiri sibuk mencari akar persoalan terorisme. Dan akar itu, selalu diarahkan ke Islam dan jihad tanpa berusaha kritis terhadap kedzhaliman Yahudi di Timur Tengah. Juga tanpa ada sedikit ‘empati’ bahwa perlawanan pemuda muslim hari ini di dunia, hanyalah reaksi dari sebuah aksi. Para pemuda itu hanyalah terpanggil secara aqidah, meski kadang ada sikap ghuluw (berlebihan) dari mereka yang memiliki semangat over dosis. Begitulah, tak ada yang memiliki kemauan politik serius dalam menangani akar terorisme.

Tapi itulah dinamika hidup; sunnatullah yang terus berjalan. Front-front begitu jelas. Kubu-kubu juga begitu tegas. Banyak pihak berharap konflik bisa diredam. Dan itu adalah kemauan siapapun yang memiliki akal sehat. Hanya, seiring tidak ada kemauan positif dari Yahudi dan Barat, nampaknya konflik belum akan berhenti. Disini kita melatakkan nubuat Rasulullah, bahwa pernah beliau meramalkan akan eksistensi thaifah manshurah (kelompok yang mendapat kemenangan). Kelompok yang menjadikan jihad sebagai jalan perjuangannya. Kelompok yang selalu melawan kedzhaliman. Secara khusus, hadits-hadits yang memuat thaifah manshurah bahkan ada yang menyebut daerah Syam sebagai maqor (benteng). Penyebutan ini menunjukkan betapa penting daerah Syam sebagai pusat wilayah konflik. Dan Syam dalam peta lama, adalah Palestina, Yordania, Libanon, Suriah; dalam peta sekarang.

Dalam nubuat juga, kelak peperangan akan dimenangkan oleh kaum muslimin. Bukhari dan Muslim meriwayatkan, “Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata: Hai Muslim! Hai hamba Allah! Ini Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohonnya orang Yahudi. ”

Begitulah babak akhir itu nantinya. Yahudi sendiri mengimani hasil akhir dari perseteruan ini. Sampai-sampai Jewish National Fund (www.jnf.org) melakukan gerakan penanaman pohon ghorqod. Melalui situs, kaum Zionis ini melakukan penjualan ghorqod secara online dengan US $ 18. Barangsiapa membeli 3 batang bonus 1 batang. Pohon tersebut akan disumbangkan untuk Israel dan ditanam disana. Disebutkan, bahwa sebanyak 220 juta batang ghorqod kini telah ditanam di Palestina. Begitulah mereka meyakini. Tapi sayang seribu sayang, tidak sedikit umat Islam yang kurang meyakini babak akhir ini. Hingga mereka lebih memilih bersekutu dengan Yahudi dalam amal ketimbang berpihak kepada muslim sendiri.

Momentum haji seharusnya menyadarkan umat Islam akan banyak hal. Tentang tauhid, tentang kedengkian Yahudi, dan tentang keharusan persatuan ummat. Selamat menunaikan ibadah haji. Get Mabrur for Indonesia Makmur!

(Sumber; eramuslim.com)

Menjadi haji mabrur adalah idaman setiap insan yang pergi ke tanah suci. Puluhan hingga ratusan juta rupiah, rela dihabiskan untuk ongkos haji. Berpisah dengan sanak saudara, tak menyurutkan semangat untuk menjadi tamu-Nya. Tak akan ada yang dapat menghentikan langkah calon jemaah haji kecuali atas kehendak Allah SWT. Meski raga rapuh, sakit tak kunjung sembuh, hingga usia yang tak lagi muda, tak kan memadamkan semangat untuk menyempurnakan rukun Islam. Jutaan do’a dan harapan dipanjatkan di tanah suci. Terukir janji untuk menjadi muslim sejati disertai Itikad agar dosa tak terulangi. Kala kaki tersandung, atau badan terjatuh bahkan roboh karena tersenggol orang, hanya istighfar yang terucap dari lisan sang jemaah. Sebuah sikap yang sulit ditemukan di luar tanah Haram.

Sang Direktur yang selama ini dikenal otoriter, Sang majikan yang dahulu dikenal judes, sekejap berubah menjadi sosok penuh senyum, penebar salam kepada siapa saja dan dimana saja. Kiranya sapaan “Assalamualaikum, how are you, brother !” dari seorang berkulit hitam legam yang ramah menjadi sebabnya yang tak terlupakan.

Semua terbawa atmosfer peradaban yang telah dibina Rasulullah SAW sebagaimana sabdanya,

“(Hendaklah) orang yang muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak”. (HR. Bukhari)

“(Hendaklah) orang yang naik kendaraan memberi salam kepada orang yang berjalan kaki, (sedangkan) orang yang berjalan kaki memberi salam kepada orang yang duduk, dan kelompok yang sedikit memberi salam kepada yang banyak”. [HR. Bukhari)

Seandainya suasana ini terbawa hingga tanah air. Jemaah haji yang menjadi layaknya cahaya yang menyinari sekitarnya. Di rumah, di masyarakat, dan di kantor. Menyinari masyarakat yang sudah kental dengan anarkisme. Masyarakat yang marak dengan perkelahian antar kampung, antar pelajar, dan antar mahasiswa. Sedemikian parah hingga membunuh manusia bahkan saudaranya sesama muslim. Padahal nyawa manusia terlebih seorang muslim sangatlah dilindungi dalam Islam.

Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim (HR. An-Nasa’i)

Jika terjadi saling membunuh antara dua orang muslim maka yang membunuh dan yang terbunuh keduanya masuk neraka. Para sahabat bertanya, “Itu untuk si pembunuh, lalu bagaimana tentang yang terbunuh?” Nabi Saw menjawab, “Yang terbunuh juga berusaha membunuh kawannya.” (HR. Bukhari)

Tanpa bermaksud membuat jemaah haji menjadi sulit tidur karena memikirkan sedemikan berat beban yang dipikul, tapi selayaknya ada aksi yang bisa dilakukan. Memulai dari diri sendiri (ibda binafsika), memulainya sekarang. Serta mendo’akan kedamaian dan kesejahteraan bagi Bangsa Indonesia dalam kekhusyu’an ibadah haji kita.

Rasanya tema ini akan sedikit membuat confused saat mengartikannya, yah betapa tidak mayoritas pola pikir kita sudah ter-setting bahwa kesalahan adalah sesuatu yang akan membuat manusia terperosok, dalam ranah duniawi maupun ukhrowi. Bahwa kesalahan merupakan sebuah dosa yang harus ditebus mahal oleh sebuah amalan baik, bagaimana ketika Nabi Adam As. Saat melakukan kesalahan, ia menjadi sosok yang merasa ‘terhina’ ketika melakukannya. Kesalahan juga membuat khalayak orang cenderung pasif tuk melanjutkan langkah. Sebisa mungkin kesalahan-kesalahan harus selalu dihindari guna mencapai jalan terbaik yang di idamkannya. Masih banyak orang yang menganggap bahwa kesalahan demi kesalahan merupakan mimpi buruk yang sewajibnya dihempaskan dalam setiap proyek kehidupan yang dijalani. Banyak yang terpuruk ketika seseorang terlanjur melakukan kesalahan-kesalahan kecil ataupun besar, ia merasa terporosok pada sebuah hole yang teramat dalam dan sulit tuk kembali bangkit dari rasa sesalnya yang mendalam. Karenanya tema di atas semacam suguhan anti-tesis pada artian banyak manusia dewasa ini. Sikap perfeksionis adalah anti-tesis dari penggambaran Power of Mistakes.

Pengertian detail Power of Mistakes adalah sesuatu energi yang akan merubah kehinaan menjadi sebuah kemuliaan yang tiada tara. Bagaimana dengan NabiyuLLAH Musa AS. Atas sikapnya yang sedikit merasa sombong, diberikan pelajaran berharga oleh manusia sholeh Khidzir AS. Bagaimana pula dengan kelemahan NabiyuLLAH Harun AS saat berhadapan dengan Bani Israel, namun akhirnya dengan kesalahan-kesalahan itu, mereka mengubahnya menjadi sebuah kemuliaan yang dirasakan keindahannya bukan hanya di dunia, bahkan akhirat sekali pun.

Power of Mistakes adalah memaafkan diri sendiri atas sesuatu kesalahan yang kita lakukan. Menyadari suatu kesalahan bahkan mengakui sebuah kekalahan adalah awal kemenangan. Jika segala rasa terpuruk itu dinikmati dan disyukuri, itu –tentunya- adalah bagian dari rasa sayang ILAHI kepada kita. Laiknya sakit jasmani, sakit rohani pun adalah belaian kasih sayang-Nya. Terlebih ALLAH sangat memberikan reward kepada hati yang tersungkur namun tetap bersyukur serta tafakur meski itu karena terdzolimi. Akhirnya kesalahan menjadi suatu kekuatan doa yang sangat luarbiasa. Power of Mistakes akan ada, jika ada rasa mengakui, menyesali dan akhirnya mensyukuri segala yang pernah terjadi.

Saat ini jutaan manusia berada di Tanah Suci-Nya, membawa sejuta rasa salah dengan harap menjadikannya kekuatan tuk mengubah kesalahan itu dengan kemuliaan Mabrur. Mengakui dan menyesali kehinaan-nya dihadapan Dzat Maha Mulia, adalah prosesi menuju Power of Mistakes. Karena tanpa pengakuan dosa, se-sholeh apapun ia, di Sisi ALLAH adalah orang yang paling terhina. So, mari kita temukan kekuatan dibalik setiap salah kita.