Road to Manasik

Nampaknya pembahasan mudik pra dan paska lebaran selalu menjadi menu utama untuk diperbincangkan, diberitakan dan dikisahkan setiap media di Indonesia. Karena bukan hanya aktivitas massif yang melibatkan jutaan manusia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, pada rentang waktu yang hampir bersamaan, tetapi juga pergerakan arus ekonomi yang melaju rata ke setiap pelosok desa. Sebagaimana filosopi ‘Mudik’ yang juga berarti hulu sungai, dimana semua aliran air (sumber kehidupan) berawal. Jadi –memang- adakalanya seseorang harus kembali ke daerah asal, sebagai tanda penghargaan dan rasa syukur atas tanah lahirnya. Mudik juga bisa dibilang merupakan sebuah gerakan nasional (kendati tidak secara resmi dinamakan gerakan nasional), semua orang urban untuk kembali ke kampung halamannya. Tradisi ini, bak warisan yang telah turun temurun dari generasi ke generasi. Mereka rela berdesak-desakan, berdiri selama perjalanan di kereta bahkan ada juga yang menempati WC kereta untuk duduk dan istirahat. Semua itu adalah hal yang secara nalar –mungkin- tidak pernah dilakukan selama hari-hari biasa (non mudik).

Kisah dan cerita pemudik memang kerap mengundang media untuk dijadikan ‘rasa’ mudik setiap tahunnya berbeda. Memiliki rasa yang nikmat untuk disuguhkan kepada jutaan pemirsa di Tanah Air. Namun kali ini, mari kita sedikit fokus pada hakikat mudik sesungguhnya, bukan hanya mudik biologis yang sudah pasti membuat raga letih, namun juga kita mengambil posisi mudik dari kacamata lain. Kacamata spiritual yang menegaskan makna mudik sesungguhnya.

Siklus mudik menggambarkan tentang kerinduan manusia akan keberadaan asal muasal penciptaan. Manusia menyadari bahwa dirinya memang berasal dari zat yang kekal (Rabbul Izzati), yang pastinya manusia juga akan kembali kepada-Nya. Mudik merupakan gambaran manusia yang merindukan spiritual di sela-sela kehidupan yang cenderung dibuai rayuan modernitas.

Mudik tak ubahnya laku ziarah atas ruang dan waktu, kembali pada roh masa lalu demi menemukan kesadaran tentang kesejatian diri manusia yang hakikatnya terbebas dari segala ‘kejahatan’ dan ‘kotoran’. Spritualitas mudik mengingatkan kita, bahwa keluhuran manusia dapat tergapai dengan mewujudkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Mudik ke kampung rohani merupakan perjalanan spiritual agar pemudik kembali menimba semangat religiusitasnya di arena social kultural, seperti kampung halaman kita.

Sejatinya yang harus mudik bukan semata bersifat jasad-biologis, tetapi juga memudikkan ruhani ke asal sifatnya yang segar, jernih dan manusiawi. Sebelum mudik yang sebenarnya tiba menyapa manusia, menuju panggilan-Nya melalui Malakul Maut. Kembali kepada dimana kita mengawali kehidupan.

So, let’s do the best for last!

Dalam tataran teori, makna ikhlas sangat mudah untuk dipresentasikan, terlebih dijadikan semacam buah bibir. Lalu apa dalam konteks praktis, rasa ikhlas mudah pula diaplikasikan (?) Hanya kita tentunya yang mampu menjawab semua itu. karena ikhlas adalah sesuatu yang hanya bisa dikerjakan oleh kekuatan hati. Sehebat apapun nilai postif dari pekerjaan, jika pesona ikhlas tak bersemi dalam jiwa, maka yakinlah segala sesuatunya akan terasa berat. Jangankan untuk melakukan hal-hal besar, untuk tersenyum saja, jika keikhlasan tak pernah ada, maka mulut ini akan sulit digerakkan. Padahal tersenyum adalah hal yang paling ringan dalam beribadah.

Terlebih jika konsep ikhlas ini kita tarik ke ruang lingkup pelaksanaan haji yang benar-benar membutuhkan keikhlasan super hebat. Bayangkan saja, mulai dari niatan haji, pengeluaran biaya yang tak sedikit, menghadapi prihal crowded di tanah suci, meninggalkan keluarga, dan 1001 masalah teknis maupun non-teknis lainnya. Ikhlas adalah satu-satunya kunci yang akan menjadikan setiap perjalanan haji menjadi lebih mudah dan bermakna. Sahabat dekat ikhlas adalah sabar, berbeda dengan sabar, terkadang tidak selamanya orang sabar akan mengikhlaskan segala sesuatu, namun dengan keikhlasan, ia akan meliputi rasa sabar yang tak terhingga.

Ikhlas adalah sesuatu yang sangat berharga menjadi bekal perjalanan haji. Tanpa jiwa ikhlas, semuanya benar-benar akan menjadi ancaman pelebur pahala mabrur. Setiap orang meyakini bahwa pelaksanaan haji selalu saja memberikan cerita yang tidak selamanya indah tuk dirasa. Seorang teman yang juga pakar bahasa Arab, memberikan plesetan mengenai kata ikhlas. Ikhlas hampir sama dengan makna kholas, yakni “sudahlah”. Menyudahi segala perkara yang terjadi dengan perasaan ikhlas terhadap segala sesuatu yang telah terjadi. Selain itu penyerahan diri yang total menjadikan jiwa semakin mantap adalah bagian makna ikhlas.

Menjelang bulan-bulan haji, rasa ikhlas harus benar-benar diolah kembali. Menjadi sesuatu yang berharga laiknya sebuah senjata kala maju ke medan perang. Tanpa senjata di laga pertempuran, kita akan sulit menembus panji kemenangan, tidak mustahil tanpa senjata kita juga akan mati konyol di medan laga. Ikhlas adalah senjata dan bekal perang di medan haji yang sangat “buas”. Ia akan meng-cover segala kemungkinan serangan hati saat berada di tanah suci. Karena dari sanalah, segala point haji kita ditentukan. Ikhlas memang segalanya.

Ikhlas tak perlu belajar namun perlu dibiasakan. Ikhlas adalah komandan hati dalam merangkai ibadah lainnya. Dengan ikhlas pula manusia akan mudah mendapatkan apa yang diinginkan. Karena klunya satu, Allah SWT hanya menerima peribadatan hamba-Nya atas dasar keikhlasan jiwa.

Sebuah kontemplasi

Menjelang senja di hari libur, biasanya kami menghabiskan waktu di depan rumah yang ditumbuhi beragam tanaman di teras yang tak terlalu luas. Terlebih saat ramadhan, ritual ini menjadi semacam ngabuburit menunggu adzan maghrib. Selepas mencuci sepeda motor, selang air yang saya pegang, diminta anak sulung saya untuk menyiram beberapa tanaman yang sudah tumbuh beberapa bunganya. –Memang- anak kecil paling senang jika harus bermain air, apalagi jika mendapatkan ‘restu’ dari ibunya, sungguh akan semakin menjadi ia bermain dengan air. Sewaktu menyiram tanaman sansevieria, atau nama terkenalnya “Lidah mertua” setinggi kurang lebih setengah meter, dikiranya akan kuat, ternyata begitu di semprot 3-4 kali, tanaman ini tumbang. Padahal beberapa kawan-nya masih tampak kokoh, ternyata bukan hanya “Lidah mertua” yang melilit disamping pagar tadi saja yang tumbang, kembang Telang, tanaman yang secara khusus dirawat istri saya pun sangat mudah tumbang, bahkan hanya dengan satu kali semprot. Anak saya begitu bangga, karena seolah telah mudah menumbangkan tanaman-tanaman mungil orangtuanya. Namun –justru- ibunya heran kenapa tanaman-tanaman itu begitu mudah jatuh hanya karena semprotan air selang. Ternyata ohh ternyata masalahnya terletak pada akar, kenapa akar (?)

Baik, kita lupakan cerita senja diatas. Kini kita masuk pada inti permasalahan besar di setiap kita, di setiap rumah yang kita hidupi, di setiap tempat mencari nafkah kita. Sesungguhnya peristiwa kecil diatas bisa menjadi besar ketika hal itu terwujud dalam kehidupan kita yang lebih besar, terlebih ketika cita dan impian-impian kita mudah sekali tumbang, jatuh dan mati justru ketika bangunan cita dan impian itu tampak kokoh.

Awalnya, ketika kita sering melihat peristiwa pohon besar rubuh dan menghantam kendaraan bahkan banyak pula yang menjadi korban jiwa, kita tidak menyangka pohon sebesar itu bisa tumbang, padahal tampak sebelum diterpa angin, pohon itu sangat kokoh. Penyebabnya ada beberapa kemungkinan, bisa saja karena anginnya memang besar, atau karena akar dari pohon itu sudah tidak bisa menyambat dan mencengkram bumi dengan kuat lagi. Seperti layaknya pohon, ketika sebatang pohon sebelum tumbuh dan menjadi tunas, maka pohon itu akan menancapkan akarnya sedalam-dalamnya di bawah tanah. Akar itu tiada lain adalah untuk mencari dan mendapatkan air, vitamin, mineral dan zat-zat lain yang digunakan untuk mewujudkan sebatang pohon yang akan menghasilkan dahan dan daun, pun demikian, dahan yang dihasilkan batang itu akan menghasilkan bunga atau buah yang dapat dinikmati.

Begitupun dengan manusia, -dan- atau bangunan masadepan yang tercipta dari kebersamaan mimpi mewujudkannya. Masadepan bersama berupa tempat mencari nafkah pun bisa diibaratkan sebagai batang yang kokoh. –Meski- kesuksesan batang itu bisa tampak gemerlap dari luar dan dari kejauhan sudah tampak menjulangnya, namun jika kekokohan pohon itu tidak dikuatkan pula oleh akarnya, maka tidak mustahil kemewahan pohon itu tidak menunggu lama untuk jatuh, tumbang, dan mati. Padahal orang tak menyangka, pohon kuat itu bisa tumbang dan luput dari tanda-tanda ketumbangannya. Hanya cerita saja yang akan menjadi sejarah, bahwa pohon istimewa itu tumbang tiba-tiba, semuanya kaget tidak mengira, yang tahu hanyalah jalaran akar yang saling mengikat bumi itu.

Kitalah akar yang menguatkan bangunan kokoh itu, kitalah yang akan mengairi air, vitamin dan mineral terhadap pertumbuhan dan keberlangsungan pohon tersebut. Semakin kita lebih dalam menggali bumi, semakin menjalar dan semakin kuat menancap pada bumi dengan cengkraman-cengkraman baru, maka semakin istimewa pohon masadepan kita.

So, mari bersama mengokohkan cengkraman akar kita, demi masadepan yang lebih bermakna.

Sambel dadakan seh enak, kalo ustadz dadakan (?)

Rasanya tema diatas akan sedikit mengundang kontroversi bahkan polemik, jika saja pemahaman tentang makna ‘ustadz’ itu sendiri tidak kita kupas secara detail, ditambah jika kita saksikan bagaimana gamblangnya peran ustadz ini di ‘panggung’ dakwah, maka kita akan semakin yakin bahwa ustadz dadakan yang kini berjamur di negeri kita, bisa masuk dalam ‘Penghancur agama’ atau jika tidak ingin kita sebut sebagai ulama su’u (ulama jahat). Seperti atsar ulama yang menyebutkan “Tidak ada yang merusak agama ini, kecuali raja, dan para ulama su’u serta para rahibnya”. Oleh karenanya, mari kita perjelas apa sebenarnya makna ‘ustadz’ itu sesungguhnya, sehingga tidak terjadi penggelinciran makna sesungguhnya. Tetapi jika awalnya kita sudah apriori, karena mengganggap bahwa panggilan ustadz itu sudah menjadi kebiasaan dan budaya Indonesia, maka yakinlah akan banyak bermunculan ustadz-ustadz ‘dadakan’, yang –ekstrimnya- hanya menggunakan kopiah saja, sudah bisa menjadi sosok seorang ustadz. Lincah dan lihai dalam panggung dakwah yang tentunya bertarif mahal jika ingin mengundangnya. “biaya sebesar itu bukan untuk saya, itu untuk yayasan sosial dan orang-orang yang mencari nafkah didalamnya,” alasannya terkesan logis.

Asal kata dari ustadz adalah ustad (tanpa huruf “Z” atau tanpa huruf “Dzal”). Dalam kamus Arab, Al-Mu’jamul Wasith, kata ustadz memiliki beberapa makna sebagai berikut: Pengajar, Orang yang ahli dalam suatu bidang industry dan mengajarkan pada yang lain, serta julukan akademis level tinggi di universitas. Kata jamaknya adalah Asatiidz dan Asatidzah. Demikian menurut pengertian bahasa. Sedangkan pengertian pokok ustadz adalah “seorang pakar spesialis tingkat tinggi”, atau orang yang sangat ahli dalam suatu bidang. Menurut pengertian ini, maka seseorang tidak pantas disebut ustadz kecuali, jika ia memiliki keahlian dari 18 atau 12 ilmu (bidang studi) dalam sastra Arab, seperti ilmu nahwu, Shorof, bayan, badi’ ma’ani, adab, mantiq, kalam, perilaku, ushul fikih, tafsir, hadist.

Sedang di Indonesia, (entah sejak kapan, dan siapa yang memulai) seolah pemanggilan atau penamaan ustadz begitu lumrah dan mudah, seakan tiada beban, yang penting orang tersebut memiliki kemampuan agama (meski hanya sekadar bisa baca Al-qur’an) dan bersikap serta berpakaian layaknya orang alim, maka dengan mudah ia sudah ‘lulus’ mendapat julukan Ustadz. Walaupun kemampuan riil yang dimilikinya sangat minim dan jauh dari definisi Ustadz sesungguhnya. Sehingga dengan demikian (mudahnya mendapat gelar ustadz), ia memiliki potensi besar dalam menguasai ‘panggung’ dakwah yang sarat dengan kenyamanan duniawi (materialistik).

Wajar jika output yang instant dalam penggodokan ustadz itu menghasilkan sosok-sosok ustadz yang lebih ‘nyaman’ bersenda gurau di depan layar kaca, terlebih jika masuk infotainment, merasa figur ustadz seperti predikat yang dikenakan dalam berdakwah. Ada juga yang mengatasnamakan metode dakwah, atau apalah sebutannya, memproklamirkan ceramah di bulan ramadhan di sebuah Resto Wine, yang jelas-jelas (setelah usai ceramah) Restoran itu tidak akan berubah menjadi Resto Zam-zam misalnya. Apalagi hal demikian itu, jika tidak disebut dengan penghinaan metode dakwah. Dimana kehormatan dan harga diri seorang ustadz yang ‘manut’ saja dipanggil hanya karena bayarannya kencang (?)

Dimanakah sosok ulama yang benar-benar menjadi Pewaris para nabi itu (?)

Rasanya hanya dibulan Ramadhan saja, waktu menjelang Subuh jalanan masih ramai, denyut aktivitas masih hidup dan menghidupi banyak manusia. Kemungkinan juga, bulan Ramadhan saja yang bisa menciptakan kekuatan besar pemicu pergerakan ekonomi yang pesat. Karena pada ramadhan semua manusia muslim meyakini bahwa turunnya keberkahan dimulai dari spirit berbagi pada bulan ini. Sesungguhnya terdapat potensi besar dibalik konsumtifisme yang terjadi saat ramadhan. Ketika permintaan meningkat pesat, demikian pula dengan penawaran yang tak kalah tingginya. Maka saat itu terjadilah situasi dimana pada tingkat harga yang terbentuk, konsumen dapat membeli semua produk yang diinginkannya, dan menurut Vincent Gasperz, Ekonomi Manajerial, produsen pun dapat menjual semua produk yang diinginkannya. Istilah simple-nya, semua berputar merata dengan simpul-simpul penggerak ekonominya di masing-masing daerah.

Di bulan ini, ada semacam spirit berwirausaha yang menjamur. Masyarakat yang sehari-harinya bukan pedagang pun, saat ramadhan, tiba-tiba menjadi pedagang ‘dadakan’. Hingga muncul pasar-pasar rakyat atau bazar saat sore hari, mereka berlomba menjual aneka menu berbuka. Dan harus diakui ini menjadi pertanda bahwa ramadhan turut andil dalam kebangkitan ekonomi umat (atas keberkahannya), karena tanpa disadari, mereka telah menjadi pelaku langsung dalam berwirausaha, meskipun setelah ramadhan semuanya akan kembali seperti semula.

Di sisi lain, percaya atau tidak, setiap datang ramadhan uang belanja harian, atau bulanan akan mengalami lonjakan yang signifikan. Bahkan bisa jadi pendapatan bulanan bisa langsung ‘amblas’ dalam dua-tiga hari. Namun percayakah Anda, meski banyak pengeluaran yang tak terduga, namun rezeki pun selalu muncul tanpa duga dengan kenikmatan yang luar biasa. Mari kita perhatikan sedikit contoh bagaimana tidak melonjaknya pengeluaran saat berbuka saja; ada kolak, es buah, cendol ‘Elizabeth’, goreng-gorengan, kue basah dan beragam minuman lainnya. Ini hanya dessert lho’ belum makan beratnya sehabis sholat Maghrib. Biasanya selalu ingin makanan yang berbeda saat berbuka puasa, dilanjutkan setelah sholat tarawih, bisa berupa bakso, mie kocok, atau pun siomay dan batagor.

Tidak masalah sebenarnya, jika semua makanan itu bisa habis termakan dan sesuai dengan ruang kapasitas perut kita, karena tokh bulan ini, kita belajar untuk share kepada mereka yang sibuk berjualan mencari nafkah. Dimakan atau tidak oleh kita, pada saat itu, kita telah menjadi bagian perekat dalam pembangunan ekonomi umat, meski dalam skala kecil dan luput dirasakan.

So’ Ramadhan adalah waktu yang sangat baik untuk sharing –dan- akan lebih bermakna lagi jika terus berlanjut ‘sharing’ ini ke bulan-bulan selanjutnya. Karenanya, bahagia berbagi dalam ramadhan ini menjadi salahsatu fenomena sosial yang marak terjadi dikalangan masyarakat muslim kita.

Rindu suara adzan

Saat saya menulis artikel tentang Ramadhan di Yunani ini, saya hanya bisa membandingkan saat bulan puasa di Tanah Air. Luarbiasa secara tidak sadar imajinasi saya malah menyeruak terbang ke kampung halaman, alih-alih akan bercerita mengenai fenomena puasa ramadhan di Athena, saya malah tergerus oleh gelayut pikir yang mengawang-ngawang menghantarkan jasad berpuasa di desa yang penuh kedamaian. Bagaimana setiap menjelang adzan Maghrib, semua orang, dari anak-anak, muda-mudi, serta orangtua bersama keluar rumah, menanti beduk maghrib yang dinanti. Bermain sore di halaman, dengan ragam aktivitas yang tak pernah bosan dilakukan oleh anak-anak kampung. Belum lagi menu makanan untuk berbuka yang semuanya membuat puasa semakin bersemangat. Ada kolak, es buah, goreng-gorengan, dan makanan tradisional lainnya. Tapi, gubrak! Kenapa saya malah bercerita ramadhan di Tanah Air, yang tidak perlu diceritakan. Karena setiap kita yakin, bahwa dimanapun kita berada, Tanah Air adalah tempat dibawah kolong langit yang sangat cocok bagi kita dalam melaksanakan puasa ramadhan.

Baiklah, saya akan bercerita bagaimana seorang muslim bisa bertahan dan istiqomah dalam melaksanakan puasa ramadhan di negeri ini. Negeri para dewa, negeri berlambang Acropolis yang dua tahun terakhir ini selalu mendiskriminasi warga muslim. Bahkan seolah mereka enggan mengakui keberadaan muslim di negaranya yang mayoritas agamanya adalah Gereja Ortodoks Timur. Bertahannya seorang muslim untuk terus berpuasa di sini, benar-benar tergantung pada keimanannya. Berpuasa dimana masyarakat sekitar tidak, suhu yang kini pada puncaknya musim panas, bayangkan suhu udara tahun ini mencapai 43-49 derajat celcius, dan puasa berlangsung sampai 16 jam. Subuh pukul 4 pagi, dan adzan Maghrib pukul 21.00 malam. jika harus di deskripsikan secara detail maka kita harus bangun sekitar pukul 3 pagi, untuk masak dan makan sahur. Dan usai sholat terawih bisa sampai pukul 24.00. Istirahat bisa kita gunakan diantara tengah malam sampai jam 3 pagi menjelang sahur. Bagaimana dengan siang hari, jangan harap kita punya dispensasi pekerjaan atau aktivitas lainnya, karena mereka tidak mau tahu, saat itu kita berpuasa atau tidak.

Begitulah, jika kadar iman kita kokoh, dihadapkan dengan kondisi yang menghimpit keleluasaan puasa seperti diatas sekalipun, insya Allah tidak bernilai sedikit pun. Karena itu, selain WNI yang beragama Islam, ada pula komunitas muslim dari Mesir, Arab Saudi, Bangladesh, dan Pakistan yang sama-sama berpuasa di ramadhan ini. Mereka sama-sama lebih menyatukan rasa di bulan ini, terkadang saling mengundang makan untuk berbuka puasa.

Untuk masalah makanan di bulan ramadhan, favorit saya –dan juga mungkin- sebagian orang Indonesia lainnya saat berbuka adalah dengan Bahlava, semacam manisan roti bercampur kacang dan madu khas yunani, kadang sering ditemukan juga di toko makanan Turki atau makanan Arab. Adapun menu makan ‘besar’nya kami selalu memilih Souvlaki, semacam sate khas Greek, dengan tambahan jeruk mipis, bawang dan tomat, jika Souvlaki itu tidak dimakan bersamaan roti atau kentang, kita –orang Indonesia- selalu saja harus dengan nasi.

Di Athena, suasana Ramadhan biasa saja. Tidak ada perbedaan dengan bulan-bulan lainnya. Kalaupun ada, itu tercipta dari inisiatif komunitas muslim di sini. Me’ramadhan’kan situasi dan kondisi yang ada, mereka juga menjadikan basement yang disewa secara ‘urunan’ sebagai tempat sholat tarawih dan homebase kegiatan ramadhan.

Pun demikian dengan KBRI kita di Athena, untuk menyemarakkan Ramadhan dan menjalin silaturahmi dengan warganya, selalu mengadakan buka bersama setiap hari minggu. Di waktu inilah menjadi semacam aji mumpung, menyantap masakan Indonesia yang penuh cita rasa. Dan berkumpul mengobati rasa rindu kebersamaan keluarga di tanah air.


*Anggota MUTIA, Perwakilan Cordova – Yunani

Sinkronisasi ruh & jasad

Setiap tahun dalam satu bulan, sesungguhnya ada sebuah peristiwa besar yang luput menjadi perhatian manusia di Alam raya. Disebut perhatian manusia, karena –manusia- memiliki ruh dan jasad. Jika tidak memiliki salah-satunya, maka makhluk itu tidak bisa dikatakan sebagai manusia. Tanpa ruh, jasad itu hanya berupa mayat yang tak berdaya. Pun sebaliknya, tanpa jasad, ruh hanya bagian abstrak yang hidup diluar dunia materi. Peristiwa besar yang terus berulang, memutar dan bersinergi dari satu tempat menuju tempat lainnya di Bumi ini. Selama satu bulan itu, letupan dahsyat sesungguhnya telah terjadi ditengah-tengah kita, bahkan dalam diri kita sendiri. Ketika ruh dan jasad melakukan balutan rasa yang mencengkram satu sama lain, bersatu padu bak gelombang yang sulit dipisahkan. Menyatu erat selama satu bulan di waktu yang terus menerus berputar. Hari ini di Jakarta, peristiwa itu akan kembali terjadi pada pukul 17.57. dan akan terus diikuti dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu individu manusia, ke individu manusia lainnya. Yah, ketika dua tujuan antara ruh dan jasad itu bersatu untuk melepaskan dahaga usai puasa seharian. Jasad membutuhkan makan, secara otomatis ruh mengamini apa yang digerakkan jasad.

Hampir dipastikan menjelang waktu berbuka, setiap muslim yang berpuasa menanti dengan penuh kesenangan, dengan segenap rasa, sehingga dimana dan bagaimana pun, preparing penyambutan beduk maghrib menjadi yang paling dinanti oleh umat Islam di manapun berada. Yang dijalan, segera mencari gelombang radio didalam kendaraan, jika bisa ingin segera me-request tembang hits lagunya diganti adzan maghrib, atau yang di rumah, segera mencari chanel televisi yang mengumandangkan adzan, -untuk didaerah- terpaksa harus mencari saluran televisi lokal yang –tentunya- tidak sama waktu kumandang adzannya. Bahkan di berbagai desa, peristiwa besar itu ditandai dengan dentuman bom bamboo atau meriam pertanda telah tiba waktunya berbuka puasa, telah sinkron-nya needed ruh dan jasad.

Seperti jasad, ruh pun memerlukan makanan. Setiap yang hidup perlu makan, dan makanan ruh yang baik adalah cahaya-cahaya Ilahiyah dan ilmu-ilmu Rabbaniyah yang tercermin dalam setiap kemuliaan syariat. Termasuk cahaya Ilahiyah dalam bentuk doa, dzikir, shalat, puasa, zakat, haji dll. Di bulan Ramadhan ini, manusia muslim berusaha menerangi ruh dengan beragam makanan ruhani. Memandikannya dengan proses pencucian batin, seperti istigfar, mengendalikan hawa nafsu dan semua aktifitas mulia di bulan yang juga penuh dengan kemuliaan.

Seperti tubuh, ruh pun memiliki rupa yang bermacam-macam; buruk atau indah, juga mempunyai bau yang berbeda; busuk atau harum. Rupa ruh lebih beragam dari rupa tubuh yang tampak secara kasat mata. Berkenaan dengan rupa atau wajah secara jasadiyah (atau lahiriah), kita dapat saja menyebut wajahnya mirip binatang, tapi –pastinya- ia bukan seekor binatang. Namun ruh, dapat benar-benar berupa binatang jika ia memiliki sifat binatang. (QS: Al-Maidah: 60). Lalu dapatkah kita bayangkan bagaimana indahnya rupa ruh kita saat berada dalam dekapan jasad yang bersamaan di saat berbuka nanti (?) Subhanallah, mungkin saja lebih indah dari rupa jasad sesungguhnya.

So, 17.57 waktu Jakarta sore ini adalah waktu dimana rasul memberikan salahsatu janji kesenangan bagi mereka yang berpuasa, yakni indahnya berbuka. Dan –tentunya- waktu dimana merekahnya keindahan rupa ruh dalam jasad manusia.

“Ketika batin tulus tuk memberi, kala itulah ALLAH akan bantu membuka jalan terbaik-Nya tuk memberi”

–Cordova Founding Father-

Semakin kita banyak memberi, semakin berlimpah nikmat yang teraih. Karena memberi adalah salahsatu cara manusia bersyukur. Dengan bersyukur ALLAH berjanji akan terus menambah nikmatnya yang tiada henti. Memberi sesungguhnya merupakan pangkal kebahagian. Sebaliknya, meminta atau menuntut merupakan sumber keresahan. Jika memberi, tanpa rasa yang dipaksa, kita akan merasa lega dan gembira. Sedangkan jika kita menuntut, terlebih jika tuntutannya besar dan tak terpenuhi, hasil akhirnya kita kan merasa jengkel dan kecewa. Demikianlah sebabnya, Islam mengajarkan kita agar memberi bukan meminta. Karena -memberi juga- merupakan sunatullah dan watak dari alam semesta. Perhatikan; Matahari, bumi, tumbuh-tumbuhan, sungai dan lautan mereka semuanya hanya memberi dan memberi, tak pernah meminta apa pun dari kita sebagai manusia dan sesama makhluk. Bagaimana kita –manusia- yang hina dan teramat kecil bisa kikir dengan apa yang kita dapatkan, sedangkan Pencipta kita, ALLAH SWT adalah Dzat Maha Pemberi. (QS. Ali Imran: 8).

Narayanan Krishnan, seorang chef terkenal di India yang hampir menggenggam puncak karirnya, memutuskan untuk berhenti sebagai chef dan memilih menjadi pelayan bagi orang-orang miskin. Saat ditanya tentang alas an keputusannya itu, jawabannya sangat singkat. “Ada ribuan manusia yang menderita di sekitar kita. Apakah makna hidup sesungguhnya jika bukan untuk memberi (?) Mulailah memberi dan rasakan kebahagiaannya…”

Hukum memberi (the law of giving) ini mengajarkan kepada kita paling tidak ada tiga hal. Pertama, apa yang kita tanam, itu pulalah yang kita tuai. Kata pepatah Arab “Man Zara’a Hashada,”. Adagium lama yang menyatakan, “Siapa menabur angina, ia akan menuai badai”, ini merupakan ketetapan ALLAH (Sunatullah) yang tidak akan pernah berubah. Kedua, kalau kita memberi, pasti kita akan mendapat. Diakui, manusia sering berpikir pendek dan terjebak pada logika materialism sempit, yang seolah-olah jika kita memberi, ada sesuatu yang hilang dari sisi kita. Padahal sebenarnya tidak demikian, apa yang diberikan tidak pernah hilang, ada semacam kekekalan energi di situ. Ketiga, rasanya tidak salah jika kita mulai membudayakan kebiasaan memberi bukan meminta. Memberi dahulu, baru kemudian mendapat. Ungkapan take and give (mendapat dan lalu memberi) yang popular dalam masyarakat kita, mungkin bisa diganti dengan ungkapan “give and receive” (memberi dan lalu mendapat).

Apa yang kita berikan –tentu- tidak selamanya berarti harta dan kekayaan kita (fisik-material). Kita bisa memberikan hal-hal lain yang dimiliki. Semisal tenaga, pikiran, ide, kasih saying, cinta, perhatian serta doa. Pemberian yang seperti inilah yang sejatinya menjadi pemberian yang besar dan penuh makna. Tidak selamanya, memberi dilakukan karena pertimbangan kebaikan, atau mencari solusi menang-menang (win-win solution), melainkan jalan keluar menuju kebesaran dan kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat.

Pun demikian, Cordova ada dan berdiri karena memiliki konsep memberi yang menjadi basic atas segala langkah yang tertapak. Semoga ‘ketulusan-nya’ senantiasa terus mengalirkan limpahan berkah bagi kita semua.

Buka Puasa dengan Pide

Secara umum, Ramadhan di negeri 2 benua ini hampir mirip dengan puasa di Negara-negara Timur Tengah. Namun geliat dan antusias menghadapi ramadhan, tentunya masih kalah di banding Negara Middle East, semacam Mesir, Maroko dan lainnya. Mungkin karena pengaruh budaya Eropa yang sulit di bendung, karena –memang- kita berdiri diantara dua budaya. Namun tetap atmosphere Ramadhan masih kental terasa, meski banyak kalangan muda muslim disini yang berpaham sekuler, tetapi mereka tetap bersama mengagungkan bulan penuh suci diatas aktivitas harinya. Negara yang dikenal sebutan Eurasia (atau Negara yang terletak di dua benua, Eropa dan Asia) ini berpenduduk mayoritas muslim, dari 70 juta jiwa, 98 persennya adalah muslim. Sayangnya, Negara Islam di Turki ini masih berpaham sekuler, sehingga penyambutan kedatangan bulan Ramadhan masih tidak semeriah apa yang terjadi di Tanah Air.

Seperti yang terjadi di Tanah Air, di jalanan –terutama- di kota Istanbul, banyak dijumpai spanduk dan baliho-baliho besar berisikan ucapan selamat berpuasa atau ungkapan marhaban, ahlan wa sahlan dan juga Ramadhan kareem. Begitu juga program acara di televisi, selalu ada program khusus religi menemani santap sahur dan saat berbuka, baik berupa ceramah keagamaan, kisah sejarah rasul, maupun hiburan yang berkaitan dengan puasa.

Di negeri yang mayoritas muslim dan bermazhab Hanafi ini, adzan Shubuh di luar bulan ramadhan sengaja dikumandangkan agak terlambat sekitar empat puluh sampai empat puluh lima menit, namun pada bulan Ramadhan adzan lima waktu dikumandangkan tepat sesuai jadwal.

Setiap ramadhan tiba, -saya dan kebanyakan teman mahasiswa lainnya- hampir dipastikan jarang buka puasa di rumah masing-masing. Karena setiap datang Ramadhan, kebiasan yang telah menjadi adat di turki adalah kebiasaan mengundang buka puasa, baik antar kerabat, teman bahkan sesama warga asing. Tidak sepenuhnya kami menghadiri undangan buka puasa di tempat warga local tentunya, kami juga menyempatkan beberapa kali mengundang mereka makan bersama di rumah mahasiswa. Biasanya mereka sangat senang, dan selalu menanyakan kue Pide, jika kita tidak menyediakan kue Pide, maka mereka sendiri lah yang akan membawanya. Pide adalah roti yang lebar seukuran nampan, namun sedikit lonjong.

Selain kebiasaan mengundang makan berbuka, Pemerintah Kota di Turki juga memiliki program buka puasa yang dikelola oleh pemerintah lokal untuk siapa saja yang ingin berbuka secara gratis. Biasanya selalu disediakan di halaman-halaman masjid, taman atau jalanan yang sering di lalulalang oleh masyarakat. Biasanya program ini keliling dari satu ke tempat lainnya, dengan menu yang super mewah. Ada juga NGO, petugas yang keliling Turki menyediakan makanan buka puasa, dengan fasilitas mobil kontener besar yang di setting menjadi dapur umum, keliling dari satu profinsi ke profinsi lainnya.

Pesona Ramadhan pun semakin hidup ketika jelang sholat tarawih dengan temaram lampu masjid dan taman yang indah. Hal yang sering mengundang decak kagum adalah di beberapa masjid besar, seperti Blue Mosque, Sulaymaniye, dan Masjid Ayyub Al-Anshari. Ribuan jamaah memadati masjid-masjid indah itu. Suara imam yang merdu menambah suasana malam di Turki semakin mempesona.

Ada satu kultur unik lainnya yang membuat saya kaget bercampur senyum, adalah anak-anak kecil di sini bebas memijit bel apartemen siapa saja, sekedar untuk memberikan ucapan selamat lebaran, lalu biasanya yang punya rumah memberikan coklat atau uang. Begitu pun jika ada anak-anak mengucapkan selamat lebaran, maksud lainnya mereka ingin coklat, uang atau hadiah lebaran. Makanya hal ini pernah menjadi becandaan kami para mahasiswa, jika uang dan coklat sudah mulai habis, maka untuk pergi kejalan kami pura-pura menggunakan Walkman, atau menghindar kelompok anak-anak, malu tidak bisa memberikan hadiah bagi mereka.

Baiklah, salam kompak dari Turkey, sampai jumpa di episode Ramadhan lainnya!

*Perwakilan Cordova-Turkey

Ramadhan di negeri orang*

Negeri Seribu Menara, demikian salah-satu julukan tempat saya merantau. Negeri ini tidak terlalu indah jika dipandang siang hari. Gersang, berdebu dan padat oleh gedung berbentuk kardus. Namun, sangat mempesona bila dilihat malam hari. Flamboyan yang memerah, lampu-lampu kota yang gemerlap dan pohon-pohon kurma yang berjajar rapi membatasi taman kota. Suasana malam yang melankolis itu, membuat separuh penduduk Mesir menjadikan kehidupannya pada malam hari. Termasuk di bulan suci Ramadhan, detak nafas kehidupannya bergeliat menjelang Maghrib tiba. Terlebih Ramadhan kali ini jatuh tepat di puncak musim panas, membuat semua roda aktivitas berputar menjelang dan setelah berbuka puasa.

Fenomena yang tidak pernah berubah sejak dulu adalah maraknya lampu-lampu Fanous di semua pelosok negeri. Bukan hanya di Kairo, di pelosok desa pun lampu ini menjadi semakin benderang. Fanous berasal dari kata Yunani, yang bermakna lilin. Saat ini, kata fanous digunakan di dunia Arab yang menunjukkan jenis lentera yang terbuat dari timah dan kaca berwarna-warni, bentuknya ada sedikit kemirip-miripan dengan lampu yang sering muncul di lagenda Arab Aladdin. Sedangkan makna fanous menurut bahasa Arab adalah titik putih pada warna hitam. Nama ini merujuk pada pembawa lampu yang terlihat terang saat berada ditengah-tengah kegelapan. Fanous ini dahulunya pun digunakan sebagai tanda waktu pengingat waktu imsak. Jika cahaya lampu atau lilin di dalam fanous sudah meredup padam, maka itu tanda waktu imsak, segera menghentikan aktifitas makan minum.

Selain fanous, fenomena unik lainnya adalah hidangan ta’jil dan makan gratis di hampir setiap masjid di pelosok negeri. Hidangan yang sering disebut sebagai Maidatur Rahman atau hidangan kasih sayang ini adalah program resmi pemerintah Mesir, dari dulu sampai sekarang masih tersaji dengan aneka ragam menu yang mewah, terlebih di beberapa masjid besar, hidangannya hampir menyerupai restoran berbintang 5. Bagi kami –mahasiswa- tentunya Maidatur Rahman ini menjadi sangat special, selain bisa mengirit pengeluaran bulanan, juga sebagai ‘perbaikan gizi’. Kedermawanan orang Mesir memang sangat tampak sekali setiap Ramadhan tiba, karena selain Maidatur Rahman, di beberapa masjid selalu memberikan semacam ‘Musa’adah’ bantuan keuangan bagi ribuan warga asing yang sedang menuntut ilmu. Meski –sesungguhnya- kehidupan ekonomi masyarakat Mesir terbilang rendah, tetapi setiap Ramadhan mereka berlomba untuk menyisihkan sebagian hartanya hingga menjelang hari raya.

Sebenarnya, dimana pun kita berada, ketika Ramadhan tiba, ada rasa yang hilang dalam melakukan aktifitas ramadhan. Seindahnya ramadhan di negeri orang, tetap bahwa kebersamaan dengan sanak keluarga adalah ganjalan rasa yang sulit di pungkiri. Rasa rindu berkumpul dengan keluarga menyeruak di setiap santap sahur dan terlebih menjelang hari raya. Jika ada ruang waktu atau lorong yang bisa memindahkan jasad –sebentar saja- menuju dekapan sang ibu dan ayah di kampung sana, rasanya ingin melangkah mencium tangan dan keningnya hanya untuk mengatakan “Aku sangat rindu padamu ayah, ibu”.

Wal’ akhir saya ingin bertanya bagaimana Ramadhan di belahan negeri lainnya (?)
Salam kompak selalu!

*Perwakilan Cordova-Kairo