The Days After Wukuf

Percayakah Anda bahwa setiap muslim yang telah sampai pada perjalanan haji di tanah Arafah akan begitu memahami dimensi ukhrawi yang terjadi. Bagaimana tidak, “miniatur” perjalanan menuju alam ghaib melalui tahapan haji, dilalui dengan penuh khidmat. Tidak tanggung-tanggung, dalam hadist riwayat Al-Bukhari, Rasulullah SAW. Menjamin pahala surga bagi mereka yang melaksanakan haji. “Barangsiapa melaksanakan di rumah ini (Baitullah) dengan tidak melakukan rafast, dan tidak berbuat fasik, maka dia kembali seperti pada hari dilahirkan ibunya” (HR. Bukhari). It means, segala dosa yang telah dilakukannya menjadi zero, dan tentunya –hal ini- menjadi sebuah moment terpenting untuk meraih surga dengan terus memelihara kesuciannya. Mereka akan digelari sebuah kemabruran haji. kata mabrur artinya baik, maka mereka yang berhaji adalah yang selalu berbuat baik. [>>>]

Kenapa Ada “Setan” Kecil, Sedang dan Besar (?)

Dalam sebuah kegiatan yang juga merupakan bagian dari ibadah haji adalah lempar jumrah. Dalam prosesi ini, jemaah haji melemparkan batu-batu kecil (kerikil) ke tiga tiang (jumrah) di kota Mina. Ula’, Wustha dan Aqabah adalah penamaan tiang-tiang yang menjadi tujuan lempar, kecil (Ula’), sedang (Wustha), besar (Aqabah) adalah tahapan saat melempar. Seperti yang lain, prosesi pelemparan jumrah juga memiliki filosofi dan sejarah yang menjelaskan asal muasal disyariatkan-nya ibadah ini. Islam selalu menghargai sejarah. Terlebih sejarah orang sholeh selalu menjadi pelajaran yang patut diikuti. Karena sejarah adalah sebuah nilai kehidupan yang “menyempurnakan” masa depan. Ketika Ibrahim As – yang telah lama tidak dikarunia anak- setelah menikah dengan istri keduanya, Siti Hajar, atas kehendak-Nya pula, ia dikarunia seorang anak bernama Ismail. Ada yang menarik ketika Ibrahim As. Diperintahkan untuk menyembelih (berkurban) anak semata wayangnya, karena itu perintah Allah SWT. Ia tak lantas mengambil aksi untuk segera meng-“kurban”kan anaknya. Dengan santun, ia mendiskusikan terlebih dahulu kepada anak dan istrinya. [>>>]

Langsung Dari smartHAJJ 1429 H.

Cordova Qurban 1429 H.

Wukuf 1429 Live at Cordova Head Office

Biarkanlah Kami Menangis (Part 3)

Pernahkah terpikir bahwa teknologi tele-conference dapat bermanfaat bagi jemaah haji di padang Arafah (?) Yah, dengan teknologi wi-fi, Cordova dapat merealisasikan sebuah moment terpenting dalam pelaksanaan haji. Kerinduan yang terhujam dalam sanubari smartHAJJ Cordova bisa sedikit terobati dengan bertatap muka langsung bersama sanak keluarga di tanah air. Acara yang berlangsung selama 5 jam, di halaman kantor Cordova itu, menyisakkan perasaan haru diantara keluarga jemaah yang hadir menyaksikan “Cordova Wukuf Live”. Betapa tidak, setelah pelaksanaan khutbah Arafah, doa bersama yang diikuti doa-doa permohonan masing-masing diri, serta dilanjutkan permohonan maaf diantara jemaah Cordova di Arafah, ada sebuah moment yang menusuk jiwa mengkoyak rasa di area kantor Cordova. Perasaan yang terbenam dalam jiwa itu pecah diantara gema takbir yang saling bertautan. Lihat saja bagaimana Sasya, putri dari pasangan Bapak Fujiyama dan Ibu Rahmi, menanyakan kabar kedua orangtuanya sembari mata berkaca. “Mami…Sasya kangen mami…”, spontan apa yang terasa oleh Ibu Rahmi akan sama dengan apa yang dirasa oleh orangtua siapa saja yang jauh dengan buah hatinya. Terlebih ia berada dalam dekapan cinta bumi Arafah. [>>>]

The Memory of Arafah

Satu hari setelah saya melaksanakan Wukuf di Arafah tahun lalu, seorang jemaah Cordova bertanya. “Mas, apa betul waktu wukuf kemarin banyak kawanan hewan kera yang turun dari gunung (?) Lalu ketika waktu wukuf berlangsung secara berkelompok mereka membentuk barisan dan berdiam sampai akhir wukuf tiba, apa mereka juga berwukuf Mas (?) Mendengar pertanyaan itu, saya hanya bisa menjawab, betul saya dan juga banyak jemaah yang melihat kera-kera yang turun dari gunung sebelum waktu wukuf, jumlah mereka banyak. Dan ketika dzuhur tiba, mereka kembali ke atas gunung. Masih terlihat oleh mata telanjang, mereka berkumpul laiknya sebuah kumpulan pengajian dan berdiam diri. Setelah usai waktu wukuf, saya masih melihat mereka kumpul berkelompok-kelompok. Untuk pertanyaan jemaah tadi, saya hanya bisa menjawab, “mungkin” mereka ikut wukuf juga ibu. Karena secara bahasa wukuf artinya; berhenti atau berdiam. Konon menurut Syaifudin, muthawif Cordova di KSA, kera-kera itu biasanya turun dari pegunungan Thaif. [>>>]

The Biggest Meeting in The World

Nampaknya kita sepakat, jika para hujaj yang berada di padang Arafah adalah sebuah pertemuan terbesar di jagad raya. Bukan hanya orang muslim, orang diluar muslim pun nampaknya setuju jika keberadaan umat Islam yang berkumpul di satu padang itu adalah terbesar di dunia. Perhatikan saja, jumlah nasrani yang berkumpul di vatikan, untuk merayakan kelahiran yesus, atau sekedar ceremony pengukuhan Paus baru, jumlahnya tidak sampai 2 juta orang, atau mungkin jauh dari angka jutaan. Begitu juga dengan Pentakosta, hari raya Yahudi selama tujuh minggu itu tidak pernah menembus angka jutaan. Kesatuan jiwa yang berkumpul pada satu titik kesucian tanah Arafah ini, adalah gambaran manusia yang kelak akan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Lautan putih dengan satu pengharapan suci, menjadi sebuah syiar Islam terbesar guna meninggikan kalimat Allah SWT. Di muka bumi. Kesatuan tauhid, kesatuan ibadah, kesatuan warna, dan kesatuan tempat menjadi fenomena yang luar biasa. Amazing! Jumlah yang besar dalam satu tempat, dengan satu keimanan mampu menundukan jiwa, melembutkan hati dan menyatukan rasa. [>>>]

The Best Ten Days at Dzulhijjah

Dalam setiap hitungan tahun, Allah SWT. Menempatkan hari-hari agung untuk terus men-charge- spirit keislaman kita yang selalu luntur oleh noda dan dosa. Setelah bulan penuh ampunan usai, yakni bulan suci ramadhan. Kini kembali bergulir bulan Dzulhijjah yang juga terdapat hari-hari special tuk kembali menyegarkan spirit keagamaan. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW pernah bersabda “Tiada hari yang paling agung di sisi Allah dan dicintai-Nya untuk beramal di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka, perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid.'' (HR. Bukhari). Dzulhijjah termasuk bulan yang diperlakukan secara khusus oleh Allah SWT. Ia menjadikannya sebagai bulan haram. Bulan yang di dalamnya umat Islam diharamkan melakukan perang dan pertumpahan darah. Bahkan, sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan waktu yang paling utama pada bulan ini. Dalam Alquran, Allah berfirman, ''Demi fajar dan malam yang sepuluh.'' (QS. 89:1-2). Ibnu Katsir menerangkan bahwa yang dimaksud malam sepuluh adalah sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah. Sumpah Allah atas sepuluh hari pertama bulan ini menunjukkan kemuliaan hari-hari tersebut. [>>>]