Wanted! Something Unique

Ada sesuatu yang menarik ketika Cordova melakukan perjalanan menuju kota kembang beberapa hari lalu. Sesuatu yang mungkin baru bagi saya, Anda dan juga team Cordova. Betapa tidak, ditengah perburuan kuliner untuk Lunch di sekitar wilayah Gedung sate, terdapat sebuah resto “kampungan” diantara deretan resto modern. Restoran yang benar-benar kampungan ini, tidak hanya menonjolkan makanan cita rasa jaman dulu, seluruh suasana dan interior juga disetting sangat “Kampungan”. Dinding restoran ini tidak dihiasi oleh lukisan atau photo-photo artistik, tetapi ditempeli berbagai poster-poster, mulai dari poster India, band-band Indonesia masa kini, dangdut, rolling stone dll. Poster-poster ini diselangi oleh lukisan pemandangan yang memperkuat image “Kampungan” yang sedang dibangun. Wajah Bung Karno juga tak luput dari image yang terpasang di dinding. Nasi Bancakan, demikian nama “Warung” ini. Makanan yang disajikan juga tak kalah uniknya, mulai dari ikan peda, sayur asem, perkedel jagung, ceos kacang merah, gejos cabe hejo, tumis lember, nasi daun, nasi liwet, tutut, semur jengkol dan masih banyak menu aneh lainnya. [>>>]

Change! Pintu Awal “Blue Ocean Company”

Change! salah satu slogan efektif Obama saat berkampanye, akhirnya mampu mendongkrak popularitas-nya menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat. Kata “change” yang terhembus dari berbagai media kampanye-nya itu ibarat “tongkat ajaib” yang mampu menyihir mayoritas warga Paman Sam. “Change” disini tentunya lebih diprioritaskan pada kebijakan baru yang menganggap kegagalan rezim Bush. Terlepas dari sandiwara politik diatas, kalimat “Change” tentunya sangat relevan untuk dijadikan poros peningkatan kualitas disegala bidang. Tak terkecuali pada bidang industri dan perusahaan-perusahaan lainnya. Industri tak pernah diam, industri selalu berevolusi. Maka jalan satu-satunya menghadapi itu adalah “Change”, perubahan dari segala aspek. Kedinamisan menjadi titik awal menuju sebuah prilaku positif bagi setiap person menghadapi geliat industri. Change! Perubahan adalah kata yang tak terelakkan dalam dunia bisnis. Pemenang masa kini bisa menjadi pecundang masa depan, sementara anak bawang di masa lampau mungkin tumbuh sebagai raksasa di masa depan. [>>>]

Morning at Paris Van Java

Cordova goes to Bandung? Kenapa tidak, setelah beberapa waktu lalu mengunjungi kota Surabaya, Solo dan Jogya, kini Cordova menapaki kota kembang nan asri. Sesaat kaki terpijak diranah ini, team terperanjat dengan penginapan yang memiliki konsep “hommy”. Yah, sebuah penginapan yang kental dengan suasana kekeluargaan ini menjadi pilihan Cordova untuk memadu rasa bersama keluarga besar Cordova. The Kartipah Guest & Wedding House adalah sebuah hotel yang terletak di kawasan Bandung Utara, semenjak didirikan pada tahun 2003, bangunan bergaya kolonial ini masih menjadi kebanggaan masyarakat luas. Pasalnya, selain interior setiap kamarnya mengambil konsep modern nan elegan, the Kartipoh juga menampilkan eksklusifitas bagi para tamunya. Berbeda dengan desain main house yang kental dengan desain western, untuk Aniramanda Garden di Kartipoh ini lebih menonjolkan arsitektural etnis Jawa. Dengan suasana yang penuh kehangatan dan kental dengan rasa kekeluargaan inilah menjadikan tempat Cordova untuk saling berbagi baik untuk “refresh” maupun “merancang” berbagai program yang akan dijalani Cordova. [>>>]

International Islamic Expo 2009

Balai Kartini, Jakarta - INDONESIA 14 - 16 Februari 2009

“Yo-Yo Man” Beraksi With “Intifadhah Trick”

Balai Kartini – Ahad (15/12) Ada yang luar biasa dalam pergelaran Expo tahun ini, “Tribute for Gaza” serasa lebih menggaung dengan kehadiran “Manusia” Yoyo peraih juara se Asia Pasifik. Dan juga sebagai pendiri klub Yo-Yo Indonesia. Peraih Yo-Yo-wiki 1st winner desainer –USA ini hadir dan beraksi untuk melakukan “Intifadhah Trick” diatas stage Expo. Rosgana, pria asal Subang, Jawa Barat ini memainkan yoyo dengan iringan musik “We Will Not Go Down” Song For Gaza dari Michael Heart. Dengan menggunakan sorban putih bergaris hitam, dan dresscode hitam Cordova, ia dengan apik dan penuh penjiwaan meluncurkan dua buah Yo-Yo mirip gerakan intifadhah para pejuang Hamas. Kontan saja, pergelaran unik dan langka ini tidak disia-siakan [>>>]

We Love Gaza

Balai kartini – Ahad (15/02) Tema “Tribute For Gaza” pada booth Cordova Expo kali ini, bukan hanya unik, tetapi mendapat apresiasi besar dari para pengunjung stand Cordova. Selain mengenalkan produk smartHAJJ dan smartUMRAH Cordova, team juga berhasil mengajak para pengunjung dan pemilik stand untuk bersama menanggap dan menaruh simpati pada masalah umat Islam di Jalur Gaza. Terbukti untuk hari kedua saja, atau Ahad 15 Februari kemarin, dana yang terkumpul dari hasil penjualan pin “Freedom Palestine”, “Save Palestine” dan ragam desain mengenai penderitaan Gaza yang tertuang dalam pin tersebut menyentuh angka 6 juta rupiah. Luar biasa! Itu hanya untuk satu hari saja. Semua ini membuktikan bahwa animo pengunjung International Islamic Expo (IIE) sangat besar menanggapi tragedi kemanusiaan yang terjadi di Jalur Gaza. Jangan pernah melihat berapa dana yang didapat dari sukarela pengunjung untuk membeli (infaq) pin-pin gaza, tetapi semangat yang mereka tanamkan untuk membantu umat Islam di Palestina sangat luar biasa. Bisa saja, apa yang kita sembahkan dalam menanggap peristiwa ini hanyalah sebagian kecil dari “kekuatan” kita untuk sekedar memberikan dukungan moril pada perjuangan umat Islam yang terdzolimi. [>>>]

Menag: “Kuota akan ditambah, tapi…”

Balai Kartini – 14/02 International Islamic Expo (IIE) 2009 resmi dibuka oleh Menteri Agama RI, Maftuh Basyuni. Sebelum bedug itu dihentakkan –menandai- resminya program Expo dibuka, ketua panitia (event organizer) IIE, Joko Suhartono menyebutkan bahwa Islamic Expo setelah berturut-turut mendapatkan apresiasi dari lembaga penelitian di London, sebagai Pameran Umrah dan Haji terbesar di dunia. Semua ini menunjukan bahwa, betapa besarnya peluang bisnis haji dan umrah di Indonesia, yang juga mendatangkan jamaah haji terbesar di dunia. Expo kali ini –masih menurut Joko- diikuti oleh 189 stand dari berbagai Negara. Terutama Timur Tengah, yang secara logis merupakan travel-travel (operator) yang menjalin bisnis dengan biro-biro perjalanan haji dan umrah di tanah air. Joko menambahkan, selama 4 hari ini (14-17 Feb), IIE di ikuti bukan hanya oleh travel-travel haji maupun umroh. Tetapi banyak pula perusahaan-perusahaan busana muslim, maskapai penerbangan hingga dinas kebudayaan dan pariwisata ikut menyemarakan gedung Kartika Expo Center, Balai Kartini. [>>>]

Tribute For Gaza; Theme of Our Booth

Balai kartini – 14/02 Cordova kembali ikut dalam perhelatan International Islamic Expo (IIE) 2009. Kali ini Cordova mengangkat tema “Tribute For Gaza” dalam sentuhan desain stand-nya. bukan tanpa makna, tema yang Cordova dedikasikan untuk bangsa Palestina, terutama yang berada di Jalur Gaza adalah sebuah pesan moral yang –mungkin- masih minim kami sembahkan. Namun spirit yang tergores dari perjuangan mujahidin di Palestina, mampu menciptakan sebuah inspirasi yang terbangun melalui polesan “lirih” yang terlukis dalam puing-puing kota yang terhantam oleh tank-tank Israel. Puing-puing kehancuran dan bangunan bernuansa kubah-kubah Timur Tengah disampingnya, menjadi sebuah pertunjukan “langka” dalam pergelaran Expo haji-umrah kali ini. Betapa tidak, diantara ratusan stand, “Tribute For Gaza” lah yang menjadi stand terunik yang juga menjadi favorit pengunjung untuk berpose ria dengan latar tank yang menghancurkan puing bangunan masyarakat Gaza. [>>>]

Green or Brown; No Problemo !

“Pemberitahuan tentang kebijakan baru dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi itu diterima tanggal 3 Desember tahun lalu. Isinya, mulai musim haji tahun 2009, jamaah haji dari seluruh dunia, harus memakai paspor internasional, alias paspor yang berwarna hijau”. Demikian penggalan isi berita yang termuat di salah satu surat kabar nasional tanah air yang terbit tanggal 6 Februari 2009 beberapa hari yang lalu. Polemik tentang perdebatan kepengurusan masalah paspor untuk haji akhir-akhir ini menjadi sorotan hangat di media massa. Alhasil, masalah tersebut semakin bertambah kabur (blurred) dan terjadi kesimpang siuran di masyarakat yang notabennya mereka adalah para calon tamu-tamu Allah. Pemerintah Indonesia yang biasanya memberlakukan paspor coklat (local) khusus untuk haji dan juga beberapa Negara lain yang sebelumnya memberlakukan paspor khusus (local) untuk para calon jemaah hajinya yang akan berangkat ke tanah suci Mekkah, tentunya harus mencari jalan keluar terbaik menyikapi keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah Kerajaan Arab Saudi tersebut. [>>>]