Tak Ada yang Salah dengan Garuda

Isu kontraversial mengenai larangan maskapai Indonesia (Garuda Air Lines) untuk mengudara ke “Tanah Haram” dari pemerintah Arab Saudi akhir-akhir ini dinilai terlalu berlebihan. Meski hanya meminta penjelasan larangan mengudara dari Uni Eropa, namun sikap otoritas penerbangan sipil Arab Saudi itu mencerminkan arogansi produsen pesawat Arab versus Indonesia. Surat pertanyaan dari Arab Saudi ke Dirjen Perhubungan Udara ini ditengarai oleh larangan Uni Eropa akan penerbangan maskapai Indonesia. Karena patokan keselamatan penerbangan Saudi lebih mengadopsi ke Uni Eropa.

Disatu sisi, isu ini terus menggelinding sehingga menimbulkan keresahan puluhan ribu jemaah haji asal Indonesia. Bayangkan saja, hampir setiap tahun Garuda Air line menerbangkan jemaah haji ke tanah suci sebanyak 200.000 ribu orang, dengan 8 kali penerbangan setiap pekan. Bagaimana jika isu itu benar-benar terjadi laiknya sikap Uni Eropa (?), akankah Al Haram sunyi dari sentuhan jemaah terbesar di dunia (?).

Wacana radikal juga dilontarkan oleh Menag, Muhammad Maftuh Basyuni, jika Arab Saudi mengambil langkah sama dengan Uni Eropa, yakni melarang penerbangan Indonesia ke Saudi maka pemberangkatan jemaah haji Indonesia akan dihentikan. Padahal Arab Saudi paham betul bahwa Indonesia sebagai penyumbang devisa terbesar untuk mereka dalam pelaksanaan Haji. Dalam sebuah surat kabar, maftuh juga memberikan peluang besar pada General Authority Civil Aviation (GACA), sebuah tim penyidik dari Arab Saudi untuk mengecek langsung kondisi penerbangan dalam negeri. Jika terbukti dibawah standar keselamatan, maka jemaah haji Indonesia akan tetap “Parkir” di tanah air alias tidak berangkat haji.

Semua spekulan menyimpulkan kasus ini ditengarai oleh persaingan “bisnis” perusahaan pembuat pesawat. Konon Eropa dan Arab dikuasai Airbus, sementara Indonesia umumnya menggunakan pesawat Boeing. Menurut penuturan Martono, pengamat transportasi dari Universitas Trisakti di sebuah media massa persaingan antara Airbus dan Boeing ini mengingatkan pada era perang dingin dulu, khususnya antara Amerika Serikat dan uni Soviet. Amerika menggunakan pesawat Boeing sedangkan Uni Soviet memakai Antonov.

Terlepas dari semua itu, nampaknya surat pelarangan terbang dari Uni Eropa dan kini akan lahir dari Arab Saudi, harus menjadi pecutan bagi dinas perhubungan kita untuk lebih memprioritaskan keselamatan transportasi dalam negeri. Konkretnya antara lain, mempersiapkan SDM penerbangan dengan baik, menambah fasilitas dan juga memperbaiki regulasi.

By; Team

Related Post

One Comment

  • Sangat mendukung apa yang disampaikan oleh Menag untuk tidak mengirimkan jemaah haji tahun ini bila benar-benar Arab Saudi melakukan kezoliman kepada maskapai Indonesia (baca : Garuda Indonesia), mau ditarok dimana muka Republik ini bila kita tetap mengirimkan jemaah haji kesana, tidak etis dan tidak nasionalis.
    Semoga Garuda Indonesia tetap terbang dilangit Saudi, amin..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *