Belajar Dari “Kebisuan” Ka’bah

Sungguh saya dan –mungkin- Anda yang pernah menyaksikan bangunan Ka’bah secara langsung, akan sangat takjub pada kekuatan Ka’bah, laiknya magnet raksasa yang menarik kekuatan positif pada gelombang manusia yang memutarinya. Saya banyak belajar dari “kebisuan” ka’bah. Yah, meski secara kasat mata saya memandang ka’bah sebuah bangunan ‘Bisu’ yang tak pernah berkata, namun jauh dalam jiwa manusia, bangunan kubus itu memiliki kekuatan super tuk menghempaskan sisi gelap manusia. Jauh sebelum Rasulullah membersihkan ka’bah dari praktik Jahiliyyah, mereka tetap menganggap Ka’bah adalah bangunan suci yang memiliki nilai historis yang dibangun leluhur mereka. Sesungguhnya, jika kita memandang Ka’bah dari sudut pandang bentuk, maka kita hanya melihat kubus sebagai kotak biasa yang terbalut kain hitam, titik. Tetapi jika kita melihat dari dimensi lain, kita akan melihat ka’bah yang berbentuk kubus sebagai bangunan ruang yang spesial.

Kubus merupakan bentuk yang konsisten, setiap sikunya memiliki panjang yang sama, besar sudut yang sama dan luas sisi yang sama. Jika dilihat dari sisi-sisinya maka kubus menggambarkan kestabilan yang absolut. Tahan terhadap tekanan, berbeda dengan bola yang merupakan bangunan ruang paling tidak stabil, akan berubah arah setiap mendapatkan tekanan. Filosofi kubus pun menggambarkan seseorang yang stabil, konsisten, adil, kuat dan cerdas.

Jika digambarkan salahsatu organ manusia, maka Ka’bah yang Mulia itu harus dijadikan ibrah pada hati yang menggumpal pada diri manusia. Meski bentuk hati dan Ka’bah berbeda, namun kandungan kesederhanaan tetap bersinar diantara kilauan cahaya disekitarnya. Saksikanlah bagaimana megahnya bangunan-bangunan disekeliling Ka’bah, masjid yang megah, bangunan-bangunan hotel yang indah, istana raja yang gemerlap, kecanggihan infrastruktur kota, dsb. Namun semua itu tidak menggoyahkan bentuk ka’bah yang sederhana namun penuh kemuliaan. Tegak berdiri melawan waktu, menyingkap ketakaburan manusia, serta menembus relung jiwa setiap hamba.

Jika hati sekokoh Ka’bah, maka pandangan diri takkan terbudaki oleh kilauan harta yang menyilau. Ia kan tetap menjadi sosok sederhana dengan sejuta kemuliaan. karena konsistensi diri tergantung pada kestabilan hati sebagai komando diri. Bukan hanya itu, dengan hati yang suci, seorang manusia kan mudah menelusuri hati-hati manusia, laiknya kemuliaan Ka’bah yang mampu menembus dan mengalir pada desiran darah manusia saat menyaksikannya secara langsung ataupun tidak.

So, diantara ‘silent’-nya, gelombang positif Ka’bah dapat menembus ruang dan waktu manusia hingga terompet kehancuran menggelegar planet ini.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *