PIT STOP RAMADHAN

PIT STOP RAMADHAN

Dalam ‘sirkuit kehidupan’, laju kencang kendaraan F1 kita telah sejenak singgah di ‘Pit Stop’.

Bahan bakar telah di refill, panel-panel listrik telah di checked & recharged. Ban diganti, dan kaki-kaki telah diperiksa hingga kondisinya oke. Kembali siap melaju.

Demikianlah kondisi kita sekarang. Sebulan penuh kita menempa diri dalam kesabaran berpuasa, mendirikan sholat wajib maupun sunnah, bangun tengah malam qiyamul lail dan sahur, bersedekah berbagi berderma, telah mewarnai hari-hari kita. Recharge kondisi badan dan juga iman.

Maka kitapun kini telah siap, ngebut dan berlomba, kembali mengarungi perjalanan kehidupan selama sebelas bulan kedepan.

Semoga Allah SWT meridhoi dan menerima segala amal ibadah kita di Ramadhan ini, dan masih beri kesempatan berjumpa kembali Ramadhan tahun depan.

Taqobbalallahu minna waminkum, taqobbal yaa kariim. Barokallahu fiikum.

>>Cordova Travel Blog<<

Seperti janji pada artikel sebelumnya, kita akan mengulas bagaimana Cordova punya ‘gaya’ dalam memaknai Ramadhan tahun ini. Yah, setiap datang Ramadhan, semua asa pada team ini focus memberikan yang terbaik pada bulan terbaik. Jejak yang telah tebal membekas dalam perjalanan kita, kembali dikembalikan pada titik nol. Titik untuk kembali menuju sebuah harap yang terpancar dalam sanubari. Titik yang akan menghapus segala ‘jejak kotor’ dalam bagian perjalanan kita.

do MORE Ramadhan!

Rasanya Anda akan sering mendengar, membaca dan melihat bagaimana keutamaan bulan suci Ramadhan. Kemuliaannya menjadi semacam magnet spiritual,yang membuat orang-orang muslim ‘bergumul’ menikmati indahnya ‘rasa’ Ramadhan disetiap kedatangannya. Spirit keagamaan sangat nampak pada setiap kita yang menanti Ramadhan tiba.

Tak dipungkuri, sedari rembulan suci tampak di ufuk sana, cakrawala merubah segala peristiwa yang kan terjadi selama 720 jam menuju kefitrahan hakiki, tepatnya selama bulan Ramadhan berlangsung. Kini, tak lebih 144 jam lagi ‘rembulan’ suci itu kan meninggalkan kita. Jauh sebelum Ramadhan tiba, setiap insan beriman, bahu membahu menyongsong bulan penuh kehangatan, menyibak balutan lentera hitam-nya, menuju sebuah tingkatan ketakwaan yang tiada tara.

Pada suatu kesempatan seorang teman pernah bercerita, bahwa dalam segala hal dirinya tidak bisa menjadi orang nomor dua di komunitasnya. Maksudnya, ia selalu harus menjadi pemenang dalam setiap bidang. Baik dalam kejuaraan olahraga, struktur organisasi, terlebih dalam peringkat akademis di kelasnya. Bertarung mendapatkan kursi teratas adalah sebuah kelaziman yang harus ia peroleh dimana dan kapan pun. Dalam kehidupannya, ia sangat memerlukan rasa ‘menaklukkan’, suatu rasa superior dan rasa menang terus berputar dalam langkah hidupnya. Ia merasa bahwa suatu ‘kemenangan’ selalu dimulai dari bagaimana ia menghargai pencapaiannya setiap hari. Ia merasa, tanpa rasa menang, sepertinya ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Karena itu, konsekwensi dari pencapaiannya itu harus ia lakukan dengan gigih dan penuh juang. Sekilas, kita memandang karakter seperti itu mencerminkan sosok ambisius yang tak ingin kalah. Negatif dan sulit diterima di masyarakat majemuk. Tetapi, jika kita telaah secara objektif, ternyata sifat dan kegigihan dalam meraih citanya untuk selalu menjadi ‘juara’ adalah hal yang sangat positif dan sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Sang Maha Kuasa. Kenapa demikian (?) Cobalah tengok bagaimana ia harus menjadi ‘Sang’ champion setelah melalui proses yang tidak mudah. Pantang menyerah, gigih dengan ledakan semangat yang jauh dari mental kerupuk yang mudah hancur hanya dengan remasan tangan.

Kemenangan adalah hasil akhir dari apa yang diinginkan Allah SWT pada setiap hamba-Nya. Menjadi juara dari setiap etape kewajiban yang telah dilaluinya. Untuk meraih hasil akhir yang positif, tentunya setiap hamba harus melakukan pencapaian yang maksimal. Gigih, tiada keluh maupun kesah, totalitas, serta siap menerima segala apa yang terjadi dari proses pencapaiannya itu. Setelah melalui proses demikian, maka di mata Allah ia telah menjadi sosok juara yang memenangi etape kewajibannya. Logika sederhananya, bagaimana seseorang menjadi peringkat pertama di kelasnya, jika tidak melalui proses belajar yang maksimal. Atau bagaimana ia menjadi seorang yang memiliki kekayaan berlimpah secara alami, tanpa bekerja keras yang smart. Begitu seterusnya. Karena sesuatu kemenangan tidak bisa diraih secara instan dan kebetulan.

Pun demikian, dalam kehidupan fana ini, Allah SWT selalu menginginkan kita menjadi juara disetiap momentum. Bagaimana Allah akan membuka keberkahan rizkinya, tanpa melalui proses kita mendistribusikan kembali rizki yang kita miliki. Dan bagaimana mendapatkan rizki yang kita peroleh tanpa bekerja dan berkarya dengan maksimal. Bagaimana pula Allah menjadikan ‘pemenang’ setiap muslim pada hari raya, tanpa melalui proses ‘kesholehan’ di bulan suci ramadhan.

Pada kenyataannya, kehidupan ini setiap hari memberikan kesempatan untuk menaklukan dan memenangi setiap proses perjuangan. Tetapi penghargaan dan perayaan kemenangan itu harus dimulai oleh diri sendiri. Kongkritnya, setiap kita bisa mencapai target pada hari tersebut, itu adalah sebuah kemenangan.

Rasanya, pada momentum ramadhan ini, kita harus belajar bersama untuk menjalani setiap detik kehidupan sebagai seorang pemenang. Karena itu adalah jati diri kita sesungguhnya. Karena sudah jelas, Allah Azza wa Jalla pun menginginkan kita menjadi sang juara yang memenangi setiap perjuangan hidup.

Setiap tahun di akhir bulan suci, selalu ada cerita tentang sebuah rasa. Rasa sedih karena harus ditinggal Ramadhan, juga rasa lain yang selalu ada dalam jiwa peraih kemenangan fitri. Begitu cepat waktu bergulir, rasanya baru kemarin cerita tentang mudik barokah 1431 di posting pada smartBLOG ini, kini kembali ‘pesta’ tahunan itu menjadi pembahasan yang yang tak akan pernah basi hingga dua pekan ke-depan. Entah sejak kapan aktivitas ‘mudik’ lebaran ini berlangsung, yang jelas setiap orang memiliki catatan rasa dalam perjalanan mudik. Terlebih bagi mereka yang menjadikan mudik sebagai jalan silaturahmi bersama keluarga di kampungnya. Pulang kampung menjadi sesuatu yang ‘sakral’ bagi mereka yang jarang bertemu dengan sanak keluarga. Tak peduli harus berjubel memesan tiket, berdesak dengan ribuan pemudik lainnya, dan bercengkrama dengan kondisi macet yang membosankan. Semuanya menjadi aroma perjalanan yang penuh cita demi menghirup udara tanah leluhurnya. Bukan hanya itu, semua perbekalan dikumpulkan untuk berbagi saat tiba di kampungnya nanti. Bagi orang desa yang mencari nafkah di ibukota, banyak cerita yang terekam dalam benaknya untuk diceritakan pada handai taulan tentang kehidupan kota yang penuh dengan dinamika.

Bagi sebagian orang, semangat mudik menjadi salahsatu ‘pendistribusian’ rezeki untuk saling berbagi. Jauh-jauh hari, dengan niatan tulus, sebagian pendapatannya ia tukarkan dengan lembaran uang untuk dibagikan. Tidak hanya lembaran uang sepuluh ribu rupiah, lima ribu hingga seribuan menjadi suatu nilai yang sempurna di hari yang fitri. Merasakan ‘keringat’ kota, meski semua tahu bahwa uang itu diperoleh dari tunjangan hari raya yang ia dapatkan. Ada semacam perputaran ‘rezeki’ yang berdampak berkah pada setiap lini. Baik orang ‘kota’ maupun orang ‘desa’ mendapatkan keberkahan aktivitas mudik.

Dalam kegiatan mudik, -terlepas- dari aspek negatifnya berupa kemacetan yang luarbiasa. Terdapat keberkahan yang tampak pada rona setiap perangkat mudik. Dari mulai pengguna jasa perjalanan, angkutan jasa perjalanan, penjual BBM, pegawai Jasa Rahardja, penjual asongan, Bapak polisi, bengkel-bengkel kendaraan, rumah makan di Rest Area, bahkan –mungkin- juga para pengamen jalanan yang ikut merasakan berkahnya kegiatan mudik. Bak air bah yang mengalir pada tempat yang lebih rendah, rezeki ‘orang kota’ saat itu mengalir deras pada ‘orang desa’. Pada saat itu juga, sesungguhnya tiada perbedaan lagi antara orang kota dan desa. Karena tidak ada penamaan orang kota atau orang desa, jika salah-satunya tidak ada.

Menjelang keberangkatan Mudik lebaran, biasanya kami (Cordova team) mendapat pesan untuk selalu memberikan report tentang kegiatan selama berada di kampung halaman. Saling posting photo aktivitas mudik dengan ragam ceritanya. Selain itu, kami diajarkan untuk tidak banyak menawar jika membeli sesuatu pada saat hari yang fitri. Tentunya menjaga keberkahan yang dirasakan semua orang. Biarlah pada hari fitri itu, para penjual mendapatkan pula keberkahan yang mereka raih melebihi harga pada hari biasanya.

Bagi sahabat dan saudara kami yang besok dan hari-hari berikutnya akan berangkat mudik, hati-hati dijalan, sampaikan salam pada keluarga di kampung halaman. Sampai jumpa kembali di Headquarter dengan semangat baru. Ma’assalamah Ilal Liqo…Mudik Barokah!

Ketika sadar bahwa Ramadhan telah melangkah pada sepertiganya, kebanyakan kita mulai terhentak, betapa kita melepaskannya dengan tiada arti. Biasa saja, bahkan cenderung ingin segera berakhir dan berlanjut pada hari-hari yang tiada shaum di siang bolong. Bulan yang –sejatinya- di damba kedatangannya, kini (ketika telah hadir) menjadi bulan biasa yang luput dari makna. Menjalankan aktivitas harian, sahur, puasa dan berbuka. Titik, tiada koma terlebih spasi untuk menambahkan aktivitas yang lebih konsisten seperti pada awal-awal Ramadhan. Padahal jika kita cermati, dalam setiap gerak aktivitas yang kita lakukan di bulan ini, sarat dengan filosopi kehidupan. Tujuan dari puasa agar kita menjadi manusia takwa. Puasa sebagai formula kesehatan tertinggi yang dipilih Allah untuk sebuah kehidupan. Tapi tak sekedar menyangkut kesehatan tubuh, melainkan lebih luas, kesehatan sejarah. Bukankah rusaknya dunia ini karena orang-orang yang tak mau “berpuasa”. Orang-orang yang terus “makan” meskipun sudah “kenyang”. Bahkan dalam sebuah catatan, teman saya mengatakan bahwa puasa memperlihatkan bagaimana dunia menipu manusia: Setiap pelaku puasa punya pengalaman untuk cenderung mendambakan dan menumpuk berbagai jenis makanan dan minuman sepanjang hari, kemudian ketika saat berbuka tiba, ia baru tahu, bahwa perut sama sekali tidak membutuhkan sebanyak dan semewah itu.

Formula yang di desain Dzat Maha Kuasa tentang arti shaum begitu mulia. Tidak sekedar yang –umumnya- kita ketahui. Semua ornamen ibadah vertikal maupun horizontal dikemas dengan begitu indah dalam Ramadhan. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan dan mulut untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi, dan itu artinya adalah perang secara jantan terhadap sesuatu yang sehari-hari merupakan tujuan dan kebutuhan hidup manusia.

Masih banyak rasanya faidah dan hikmah shaum, yang –mungkin- telah kita serap disetiap kesempatan tausyiah para ustadz tentang bulan suci. Selama sebulan penuh, kita dihadapi beragam pesan religi, saat sahur, menjelang berbuka, saat khutbah tarawih dan setiap celah program-program televisi penuh dengan pesan keagamaan. Semuanya mengajarkan bahwa puasa sebagai mesin pembersih setiap ‘ampas’ yang menggumpal baik dalam diri maupun jiwa.

Apa yang dikemukakan diatas tentang puasa juga merupakan formula ‘kesehatan sejarah’ tentunya telah menjadi pengetahuan kita. Betapa orang yang ‘berpuasa’ lebih mampu menahan segala gejolak hasrat nafsu yang menggenggamnya. Sabda Rasul “Kuluu walaa tusrifuu” (Makan dan janganlah berlebihan) adalah ‘suguhan’ orang yang berpuasa saat berbuka. Hal itu sama seperti ungkapan “hidup dan nikmatilah kehidupan, tetapi jangan lah berlebihan”. Kalimat itu tentunya ada faktor ‘shaum’ untuk menahan atau tidak berlebihan dalam menikmati kehidupan.

Dalam kondisi puasa seperti sekarang, terkadang jiwa lebih bertoleran pada aktivitas yang tak biasa. Masuk kerja siang, lemas-lunglai, dan berkurangnya segala semangat yang terpancar seperti pada bulan selain Ramadhan. Namun, lebih menghina-kan lagi, jika semua alasan itu hanya karena sedang mengerjakan puasa. Ketika hal itu terjadi, -sejatinya- kita segera meniru apa yang musuh sejati kita lakukan. Semangat yang setan luangkan pada darah manusia, sulit terbendung dan hanya mampu dikalahkan oleh jiwa yang mukhlis alias ikhlas. Baiklah untuk mengupas kenapa kita harus meniru apa yang menjadi ‘kelebihan’ setan dibanding kekuatan manusia pada umumnya. Setan dan manusia pada dasarnya memang makhluk yang berbeda. Tetapi, setidaknya ada 7 ‘kelebihan’ setan dibandingkan manusia. Umumnya manusia sangat membenci setan, tetapi dibalik niat jahatnya, ternyata setan memiliki sifat yang ‘perlu kita simak dan tiru’.

1. Pantang menyerah
Setan tidak akan pernah menyerah selama keinginannya untuk menggoda manusia belum tercapai. Sedangkan manusia banyak yang mudah menyerah dan malah sering mengeluh.

2. Kreatif
Setan akan mencari cara apapun dan bagaimanapun untuk menggoda manusia agar tujuannya tercapai, selalu kreatif dan penuh ide. Sedangkan manusia –terkadang- hanya ingin yang berbentuk instan.

3. Konsisten
Setan dari mulai diciptakan tetap konsisten pada pekerjaannya, tak pernah mengeluh dan berputus asa. Sedangkan manusia (?) Banyak manusia yang mengeluhkan pekerjaannya, padahal banyak manusia lain yang masih sulit mendapatkan kerja dan membutuhkan pekerjaan.

4. ‘Solider’
Sesama setan tidak pernah saling menyakiti, bahkan selalu bekerjasama untuk menggoda manusia. Sedangkan manusia, jangankan peduli terhadap sesama, kebanyakan malah saling bunuh dan menyakiti.

5. Jenius
Setan itu paling pintar otaknya dalam mencari cara agar manusia tergoda. Sedangkan manusia banyak yang tidak kreatif, bahkan banyak yang puas hanya menjadi follower.

6. Tanpa Pamrih
Setan bekerja 24 Jam tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sedangkan manusia, apapun harus dibayar. Materi –sejatinya- tidak menjadi hal yang teramat penting dalam melakukan sesuatu, telebih menyangkut sebuah kewajiban.

7. Suka berteman dan kompak
Setan adalah mahluk yang selalu ingin berteman, tentunya dengan alasan agar memiliki teman yang banyak di neraka kelak. Sedangkan manusia banyak yang lebih memilih mementingkan diri sendiri. Manusia dalam mengerjakan sesuatu cenderung ingin menonjolkan kemampuannya sendiri dibanding bekerja sama dengan orang lain.

Beberapa waktu lalu, Team CAT mengungkap 99 fakta Ramadhan di belahan bumi, kali ini -kembali- kita intip beberapa fakta sejarah dan kegemilangan Islam pada bulan suci Ramadhan. Hal ini sekaligus pembuktian bahwa Ramadhan bukan sebuah bulan yang me’legal’kan rasa malas dan lemah. Bahkan sebaliknya, Ramadhan dikategorikan sebagai bulan yang membuat kuat, dan menjadikan kemenangan dalam hal apapun. Tetapi, bukan juga pembuktian bahwa Ramadhan identik dengan perang, substansi yang dibangun dalam kegemilangan itu adalah, betapa kekuatan ruhiyah menjadi sangat fenomenal melebihi kekuatan jasmani. Selain itu, sejarah ingin membuktikan bahwa shaum di bulan Ramadhan, bukan halangan untuk ‘berbuat’ sesuatu. Baik yang bersifat fisik maupun hal lain yang membutuhkan tenaga extra. Baiklah, mari kita simak sejarah singkat rentetan peperangan sekaligus kemenangan yang terjadi pada bulan suci Ramadhan.

1. Perang Badar. Terjadi pada Ramadhan, tahun 2 H. Perang ini merupakan kemenangan pertama yang menentukan kedudukan umat Islam dalam menghadapi kekuatan kemusyrikan dan kebatilan. Terjadi pada pagi Jum’at, 17 Ramadhan 2H di Badar. Kemenangan pasukan Islam di bawah pimpinan Rasulullah SAW dengan 300 pasukan mengalahkan 1000 tentara musyrikin Makkah.

2. Perang Khandaq. Terjadi pada Ramadhan, tahun 5H. Persiapan perang yang dilakukan dengan menggali parit (khandaq) sekeliling kota Madinah. Sebuah strategi yang tidak pernah digunakan sebelumnya oleh bangsa Arab. Hal ini diusulkan oleh Salman Al-Farisyi, umat Islam berhasil memecah belah pasukan musuh dan mendapat kemenangan gemilang.

3. Fathul Makkah (Pembukaan Kota Makkah). Terjadi pada Ramadhan, tahun 8H. Rasulullah SAW keluar dari Madinah pada 10 Ramadhan dalam keadaan berpuasa. Makkah jatuh ke tangan umat Islam tanpa pertumpahan darah. Penaklukan itu menjadi sejarah yang tak pernah dilupakan dalam perjuangan Islam.

4. Perang Tabuk. Terjadi pada Ramadhan, tahun 9H. Pada tahun 629 M Rasulullah SAW memutuskan untuk melakukan aksi preventif, yakni ekspedisi ke wilayah tabuk yang berbatasan dengan Romawi. Setelah sampai di Tabuk, umat Islam tidak menemukan pasukan Bizantium ataupun sekutunya, alias mereka (pasukan Romawi) lempar kain putih atau menyerah.

5. Ekspedisi Yaman. Terjadi pada Ramadhan, tahun 10H. Rasulullah SAW mengutus pasukan dibawah pimpinan Ali bin Abi Thalib ke Yaman dengan membawa surat Nabi. Satu suku yang berpengaruh di Yaman langsung menerima Islam dan masuk Islam pada hari itu juga. Kemudian mereka sholat berjemaah bersama Ali Ra. di hari yang sama.

6. Pembebasan Spanyol. Terjadi pada Ramadhan 92H. Panglima tentara Islam, Tariq bin Ziyad memimpin 12.000 tentara Islam berhadapan dengan tentara Spanyol berjumlah 90.000 yang dipimpin oleh raja Frederick. Pada peperangan ini, untuk menambah semangat pasukannya, Tariq membakar kapal-kapal perang mereka sebelum bertempur dengan tentara Raja Frederick. Beliau berkata: “Sesungguhnya, surga Allah terbentang luas dihadapan kita, dan dibelakang kita terbentangnya laut. Kalian semua hanya ada dua pilihan, apakah mati tenggelam, atau mati syahid!”

7. Pembebasan Palestina. Terjadi pada Ramadhan 584H. Panglima tentara Islam, Salahuddin Al-Ayyubi mendapat kemenangan besar atas tentara Salib. Tentara Islam menguasai daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai tentara Salib. Ketika bulan Ramadhan, penasihat-penasihat Salahuddin menyarankan agar dia istirahat karena risau ajalnya tiba. Tetapi Salahuddin menjawab: “Umur itu pendek dan ajal itu senantiasa mengancam”. Kemudian tentara Islam yang dipimpinnya terus berperang dan berjaya merampas benteng Shafad yang kuat. Peristiwa ini terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan.

8. Perang Ain Jalut. Terjadi pada Ramadhan 658H. Saat tentara Tartar memasuki Baghdad, mereka membunuh 1,8 juta kaum Muslimin. Musibah ini disambut oleh Saifudin Qutuz, pemerintah Mesir ketika itu dengan mengumpulkan semua kekuatan kaum Muslim untuk menghancurkan tentara Tartar dan bertemu dengan mereka pada Jum’at, 6 September 1260 M di Ain Jalut. Peperangan ini turut disertai oleh isteri Sultan Saifudin Qutuz, Jullanar yang akhirnya syahid di Medan pertempuran. Perang ini kemudian dimenangkan oleh pasukan Islam dengan gemilang.

9. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364 H. Hari itu pukul 10.00 WIB di rumah kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur 56 – Jakarta Pusat, Ir. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Dilanjutkan dengan pengibaran bendera (Sangsaka) Merah Putih yang menandakan merdekanya bangsa Indonesia setelah hampir 350 tahun dijajah oleh bangsa asing.

Masih banyak tentunya kejayaan Islam di bulan Ramadhan. Bulan yang mengajarkan umat Islam tentang hakikat sebuah kemenangan. Laiknya suatu kemenangan yang dinanti bagi umat Islam yang berpuasa, berjuang dan menanti suatu kemenangan di hari-hari terakhir Ramadhan. Akankah perjuangan ini berdarah-darah, atau selamat dengan panji kemenangan yang luar biasa.