Mukjizat Suara Nabi Muhammad

Mukjizat Nabi Muhammad

Banyak di antara mukjizat Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa salaam yang seringkali ditunjukkan kepada para sahabat. Salah satunya adalah mukjizat Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa salaam yang memiliki suara yang merdu sekali, sehingga nyaman dan indah didengar oleh telinga. Seperti halnya penuturan Anas Rodiallohu ‘anhu dalam sebuah riwayatnya, Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa salaam bersabda, “Bahwa Allah tidak mengutus seorang Nabi melainkan bermuka tampan dan bersuara merdu. Sedangkan Nabimu adalah yang terbagus raut mukanya dan merdu suaranya.” (HR. At-Tirmidzi).

Sunnah-sunnah di Hari Jum’at

Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti juga mencintai sunnah-sunnahnya. Salah satunya adalah sunnah di hari Jumat. Satu hari yang penuh berkah yang sangat diistimewakan oleh Allah SWT. Berikut adalah beberapa sunnah di hari Jumat yang beliau tuntunkan.

Perbanyak Shalawat Nabi

Dari Abu Umamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Muslim).

Membaca Surat Al Kahfi

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, maka ia akan disinari oleh cahaya di antara dua jum’at.” (HR. Hakim). Dalam lafazh lainnya dikatakan, “Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at, maka ia akan mendapat cahaya antara dirinya dan rumah yang mulia (Makkah).” (HR. Ad Darimi).

Memperbanyak Doa di Hari Jum’at

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membicarakan mengenai hari Jum’at lalu ia bersabda, “Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim).

Empat pendapat ulama mengenai waktu yang dimaksud ialah waktu sejak imam naik mimbar sampai selesai shalat Jum’at, Setelah Ashar sampai terbenamnya matahari, setelah Ashar namun diakhir-akhir hari Jum’at dan menggabungkan semua pendapat yang ada atau tidak pada beberapa waktu tertentu saja.

Sunnah-sunnah Jum’at ini sebaiknya kita amalkan bersama dan bagikan kepada keluarga serta kerabat.

Rindu Rasul

Semoga (Bukan) Rindu Utopis
Kemana pun kaki ini melangkah, ke negeri belahan Bumi mana pun jasad ini mengapung, desahan cinta yang merindu tetap tertuju hanya padamu Ya Habiballah. Maafkan, kendati rindu dan cintaku itu selalu saja baru sekedar “di-ingatkan” oleh momentum kalender merah dan intermezo-intermezo peringatan Maulid Nabi. Rindu yang Utopis, cinta yang ‘masih’ harus digubris oleh notifikasi berbentuk materi. Duuh, maafkan kami Duhai Rasul.

Pentingnya Menggosok Gigi

Sekilas, anjuran atau sunnah menggosok gigi ini sangat sederhana dan tidak dipandang terlalu serius oleh orang yang membacanya. Tidak jarang yang mengganggap bersiwak atau menggosok gigi hanya untuk membersihkan gigi dan menghilangkan bau mulutserta cukup dilakukan dua kali sehari dengan menggunakan sikat gigi. Padahal sesungguhnya terdapat kemuliaan dan keutamaan dalam menggosok gigi atau bersiwak.

Adab Menggunting Kuku

Kali ini, Simply Islam akan membahas permasalahan yang –terkadang- sering dipandang kecil. Akan tetapi Islam agama yang sempurna membahas tuntas mengenai permasalahan ini. Yah, -memang- memotong kuku bisa dikatakan suatu hal yang kecil, karena melakukannya tanpa perlu keahlian, semua orang dengan mudah memotong kuku, tidak seperti memotong rambut yang membutuhkan keterampilan khusus, dan tidak semua orang bisa melakukannya.

Rasulullah telah tiada 1400 tahun silam. Kita mengenal baginda dari ajarannya yang mulia. Bersemilah cinta kita kepadanya. Tanpa tatap muka dan bercengkerama. Kita mengenal Beliau dari warisannya yang lebih berharga dari dunia dan seisinya, yaitu Al Qur’an dan Haditsnya. Cinta kepada Nabi SAW adalah bagian dari kesempurnaan iman kita dan cara kita untuk mendapatkan kecintaan ALLAH.

Seri Nubuwah: 05

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.” Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan salah seorang sahabat dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, -jika bisa- seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”
“aku tidak tahu ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya, ” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. “Ketahuilah, dialah Yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” Kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. ” Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum”, (Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu). Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii” – “Umatku, umatku, umatku” Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.
Allahumma Sholli ‘ala Muhammad wa Baarik wa Salim ‘Alaihi