Rasulullah dan Tukang Batu

Suatu hari Rasulullah baru saja tiba dari Perang Tabuk. Sebuah peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur. Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Child Abuse tiba-tiba saja menjadi isu santer seantero Indonesia. Sebuah kejahatan “biasa” – karena saking sering nya terjadi. Sering kali pula ditanggapi biasa-biasa saja oleh masyarakat kita. Tidak lebih penting dari berita politik. Padahal dampaknya demikian besar bagi anak. Sebagian kasus bahkan bersifat permanen terhadap mental anak hingga ia dewasa. Sistem pendidikan Barat dengan segala kelebihannya dalam melindungi anak dari kekerasan, ternyata masih juga kecolongan.

Dalam hitungan hari, smartHAJJ Cordova akan segera melangkahkan tapak menuju Baitullah. Berjumpa dengan jutaan manusia, dengan kesamaan rasa dan airmata. Meninggalkan sementara buah hati dan keluarga tercinta, menunda kehangatan raga dalam pelukan kasih sang mahligai cinta. Dalam hal ini tentunya adalah anak-anak sumber inspirasi nan sempurna. Menggadaikan rasa demi menggapai cinta yang hakiki, hingga harus mengendapkan lara tatkala hati kian terikat oleh buaian cinta sang anak. Tidak mudah meninggalkan buah hati tercinta, jika batin bisa mengucap, ia akan berteriak menggetarkan raga karena sulit tuk membendung linangan airmata sosok yang ditinggal. Buah cinta yang selalu ditimang, didekap, dicium dan disayangi melebihi harta apapun yang dimiliki. Ada dua rasa yang menyelinap dalam jiwa ketika pijakan suci telah tertumpu, rasa rindu pada Sang PEMILIK, dan anugerah cinta yang terpendam. Manusiawi, karena –memang- dua rasa itulah yang akan menghantarkan para ‘manusia suci’ pada kesempurnaan cinta yang didamba.

Bukan tanpa beban –tentunya- ketika Nabiyullah Ibrahim AS. meninggalkan Siti Hajar beserta anak semata wayangnya Ismail AS. ditengah gurun tanpa meninggalkan sedikit pun makanan. Pertempuran batin manusia itu luluh oleh ketulusan cinta pada Sang KHOLIK. Ia hanya yakin bahwa PEMILIK anak dan istrinya tidak akan pernah membiarkan mereka dalam kesengsaraan, terlebih mendzoliminya.Tapak-tapak suci Ibrahim AS beserta keluarganya itulah yang menjadikan sejarah mengabdikan pada etape perjalanan haji hingga akhir zaman.

Pun demikian dengan jutaan calon haji di muka bumi, pertempuran rasa akan selalu mereka hadapi selaku manusia yang memiliki rasa. Namun pada akhirnya perasaan itu akan luluh oleh magnet cinta yang menyerap rasa dengan volume yang teramat dahsyat. Pantas saja jika Rasulullah SAW mengajarkan salah satu doa perjalanan dengan “Allahumma Anta Shohibul fii Safarii Wal Kholifatu Fil Ahly” “Yaa ALLAH Engkaulah yang akan menemani perjalananku, dan menjadi penjaga bagi keluargaku (yang ditinggal)”.

Perjalanan menuju Tanah Suci, sangat berbeda dengan perjalanan kita ke berbagai destinasi di belahan bumi. Jutaan harap menggelayut dalam setiap langkah yang terpijak. Sehingga nuansa ‘melankolis’ yang melibatkan rasa akan sangat terasa baik yang meninggalkan maupun yang ditinggal.

Sebelum pelukan terakhir pada buah hati tercinta, marilah kita tatap dalam-dalam, cium dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Mengajak mereka berdiskusi bahwa perjalanan suci ini adalah jalan menuju kesempurnaan cinta kita kepada mereka. Karena pada hari Arafah nanti, nama mereka akan menggema di atas langit, bersama manusia-manusia yang senantiasa hadir dalam kasih dan cinta kita.