Pentingnya Menggosok Gigi

Sekilas, anjuran atau sunnah menggosok gigi ini sangat sederhana dan tidak dipandang terlalu serius oleh orang yang membacanya. Tidak jarang yang mengganggap bersiwak atau menggosok gigi hanya untuk membersihkan gigi dan menghilangkan bau mulutserta cukup dilakukan dua kali sehari dengan menggunakan sikat gigi. Padahal sesungguhnya terdapat kemuliaan dan keutamaan dalam menggosok gigi atau bersiwak.

Rasanya, di era internet ini semua orang tahu dan mengenal apa itu chatting. Tua-muda, pria-wanita, semua sudah sangat paham dan –mungkin- juga sering melakukan aktivitas chatting. Baik melalui komputer, atau perangkat komunikasi mobile lainnya. Lazimnya orang yang sedang chatting, ia akan sangat fokus terhadap lawan chat-nya. Tidak terpengaruh dengan kondisi disekitarnya, bahkan bila materi yang dichattingkan-nya menarik, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Yah, chatting bisa membuat imaginasi kita berputar diantara realitas yang terjadi. Ada harap, ada cemas dan bahkan curahan hati. Tiada jarak yang memisah, meski jarak terpisah lautan, seolah ia berada sangat dekat dihadapannya. Uniknya ‘obrolan’ chatting hanya banyak dilakukan oleh kegiatan jemari yang menekan keyboard dengan mata memandang layar monitor. Suaranya hanya berbunyi ketika ada sentilan emosi yang membuat tertawa, marah dan menangis. Pada kondisi asyik berchatting ria itulah sesungguhnya terdapat kekuatan fokus manusia dalam berinteraksi dengan lawan chat-nya. Dimana dan kapanpun ia melakukan aktivitas itu, biasanya semua yang berada di sekitarnya menjadi ‘tiada’.

Dalam artikel ini, akan coba dikemukakan garis merah diantara kisah chatting itu dengan tema diatas. Korelasinya terdapat pada ‘objek’ chatting kita dengan siapa. ‘Chatting’ yang dimaksud disini adalah ‘berdoa’. Namun sikap berdoa itu lebih difokuskan seperti orang yang melakukan chat dengan pemahaman yang luas. Sederhananya, berdoa yang khusyuk dan fokus selalu dikeluarkan dalam hati, tanpa harus mengeluarkan suara keras, terlebih harus terdengar oleh sekeliling kita. Seperti kita melakukan chat, mulut tak ikut mengeluarkan suara, cukup tangan yang mewakili perasaan yang ingin diungkapkan. Bedanya dengan doa, hati yang fokus lah yang menjadi wakil dari doa yang kita panjatkan.

Suatu saat di sebuah surau, terdengar seorang pria paruh baya memanjatkan doa dengan suara keras. Meminta dan memohon Allah mengabulkan setiap hajat yang ia pinta. Kontan, bukan hanya mengganggu jemaah surau lainnya, bahkan ia telah ‘menghina’ dengan ‘tidak percaya’ bahwa Allah Maha Mendengar dan Dzat yang Maha dekat, lebih dekat dengan urat nadi sekalipun. Logikanya, ketika kita memanggil seseorang dengan sangat keras, padahal orang yang kita panggil berada di samping kita dengan kondisi pendengarannya yang sehat, apa yang terjadi (?) Boleh jadi ia akan tersinggung, tidak respect bahkan marah.

Berbeda tentunya dengan seorang ustadz yang memimpin doa bersama jemaahnya, berdoa bersama, terdengar oleh mustami’ (audiens) dan diaminkan bersama. Jika itu yang terjadi, maka analogi dalam dunia chatting-nya, ia sedang melakukan ‘teleconference’ yang tidak ‘membutuhkan’ jari untuk mewakili obrolannya.

Artinya, saat kita bermunajat bersama Allah, contohlah bagaimana fokus dan ketawadluan-nya seorang yang sedang berchatting. Ia nyaris tidak mengeluarkan suara, bahkan tidak ingin orang tahu bahwa kita sedang berada pada tingkat khusyuk yang paling tinggi. Seperti halnya saat tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu.

Catatan ini diawali dari sebuah tangisan pada icon BBM (BlackBerry Messenger) seorang calon tamu Allah. Tangisan yang mencerminkan pada rasa cinta dan rindu yang melanda di setiap gerak aktivitas hidupnya. Meski hanya berbentuk icon ‘Cry’, namun sangat terasa betapa ia benar-benar merindukan hari Arafah. Setiap kata yang tertulis pada layar kecil itu sangat menyentuh jiwa, sangat tampak gejolak rasa yang diungkapkannya. Begitu lirih, namun penuh pasrah pada apa yang akan terjadi sesuai takdir-Nya. Yah, ‘tangisan’ itu muncul setelah ia melihat no porsi keberangkatan hajinya diatas nomor yang ditentukan Pemerintah pada tahun ini. Saya sangat yakin, tangisan dan jeritan itu didengar dan diperhatikan oleh Para Penghuni langit, sehingga sama-sama berdoa untuk sebuah harap yang tiada mustahil kan terwujud. Terlebih ketika saya dan kita semua meyakini Sabda Rasulullah SAW yang mengatakan “Allah itu Pemalu dan Pemurah. Karena itu pula, Allah juga malu kalau tidak mengabulkan doa hamba-Nya yang dipanjatkan kepada-Nya. Bahkan dalam Al-Baqarah ayat 186, Allah Berfirman: “Sampaikan olehmu –Muhammad- jika ada hamba-hamba-Ku bertanya tentang seberapa dekat Aku kepada mereka, katakanlah bahwa Aku ini Maha dekat, dan Aku akan mengabulkan doa setiap hamba yang memohon hanya kepada-Ku.”

Doa itu adalah kendaraan kita, yang akan mengantarkan keinginan, permohonan, dan harapan kita kepada Allah yang Maha Memiliki. Agar kita bisa membuat kendaraan kita terbang menemukan Pemiliknya, kita membutuhkan “dua sayap” untuk menggerakkannya. Apa “dua sayap” itu (?) Rasulullah Saw. berpesan “Ridha Allah itu ada pada ridha orangtua, dan murka-Nya ada pada murka orangtua”. Inilah “sayap” doa yang pertama. Jadi, ketika kita ingin lebih memaknai doa itu menjadi senjata yang diridhai Allah maka sejatinya kita meminta ridha orangtua terutama Ibu dengan segala pengharapan kita. Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk meminta mereka (orangtua) menyebut harapan dan keinginan kita dalam doa-doa mereka, karena tiada hijab (penutup) antara doanya dengan Dzat Maha Pencipta. Lalu bagaimana jika kita sudah tidak memiliki orangtua (?) Jika demikian, maka sebaliknya kitalah yang patut menyebutkan mereka pada setiap rangkaian doa. Karena salahsatu tanda keshalihan seseorang adalah senantiasa mendoakan orangtuanya yang telah tiada. Itulah ‘sayap’ pertama yang akan menghantarkan ‘kendaraan’ kita pada Rabbul Izzati. Lalu apa “sayap” yang kedua (?)

‘Sayap’ kedua adalah sosok yang selalu ada dibalik Keperkasaan seorang laki-laki. Ya, di balik pria hebat, selalu ada wanita hebat. Begitu juga sebaliknya. Inilah “sayap” doa yang kedua: keluarga—suami bagi istri, dan istri bagi suami. Nasihat Rasulullah Saw. dalam hadisnya, “Apabila seorang suami memandang istrinya dengan kasih dan sayang, dan istrinya juga memandang suaminya dengan kasih dan sayang, maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih dan sayang.”

Jika kita seorang suami, mintalah istri kita untuk mendoakan harapan dan keinginan kita. Sampaikan kepadanya impian kita, dan ajaklah ia untuk sama-sama mendoakan kita agar bisa meraih impian tersebut. Sayangi istri kita, bahagiakan ia, dan biarlah ia tersenyum untuk kita. Kalau kita seorang istri, hormati suami kita, sayangi ia dengan penuh cinta-kasih, dan minta ia untuk selalu mendoakan kebaikan bagi kita.

Demikianlah doa, ia akan menjadi kekuatan yang sangat mendasar. Saya hanya ingin mengutarakan pada salahsatu keluarga besar calon Tamu Allah Cordova yang memberikan icon ‘cry’ itu, untuk terus optimis akan Karunia dan Kasih Sayang-Nya. Sebelum mengakhiri catatan ini, saya ingin mengutip perkataan seorang Jim Morrison, personal The Doors (dalam sebuah artikel). Ia berkata begini, “Some of the worst mistakes of my life have been haircuts— beberapa kesalahan terburuk dalam hidupku mungkin adalah gaya rambutku.” Anda tahu maknanya apa (?) Morrison ingin berpesan kalau sesuatu yang kecil dapat mengubah keadaan semuanya. Jadi, jangan pernah hiraukan hal sekecil apa pun, termasuk doa yang seringkali kita anggap remeh.