Serangan Fajar

Essai ‘Demokrasi’

Banyak cerita seru tentang pesta rakyat yang serempak dilakukan kemarin (9/4) di Tanah Air. ‘Pesta’ yang menghadirkan beragam ‘dagelan’ itu –katanya- akan mempengaruhi nasib 200 juta lebih rakyat Indonesia selama lima tahun kedepan. Bagi Anda yang tidak suka politik, atau apriori pada setiap gejala politik, jangan dulu berhenti membaca disini, karena essai ini tidak akan mengulas tentang ‘pertarungan’ politik praktis, terlebih menyoroti para calon wakil kita yang menghabiskan dananya terlebih dulu sebelum terpilih menjadi anggota dewan terhormat. Essai ini akan sedikit mengurai tantang apa yang terjadi pada pesta lima tahunan itu. Banyak yang senang hari PEMILU, bukan karena ingin menyoblos calon wakilnya nanti di parlemen, tetapi senang karena hari itu menjadi hari ‘libur nasional’. Seandainya PEMILU dilakukan seminggu sekali, niscaya weekend menjadi 3 hari, pendapatan ingin besar, dengan kerja seminim mungkin. Itu –mungkin- sedikit gambaran budaya atau mental manusia kita.

Ada cerita lain pada hari libur kemarin, salahsatunya adalah ‘Serangan Fajar’. Jika fajar telah berlalu mungkin menjadi ‘serangan pagi’ atau –mungkin- sebelumnya ‘serangan malam’. Tapi, apapun bentuknya, orang asyik menyebutnya dengan ‘serangan’. Yah, karena yang diserang adalah mental masyarakat awam kita. Serangan yang ‘sepintas’ tidak membahayakan itu menyuguhkan serangan yang menggiurkan bagi mereka. Konsekwensinya pun tidak teramat besar, hanya menandatangani akan menyoblos gambar parpol tertentu, setelah itu sudah titik. Masalah bagaimana nanti di bilik suara, tentunya beda lagi. Ada yang masih teringat dengan iming-iming ‘serangan fajar’ tadi, atau beda lagi, terserah, lha wong PEMILU itu bebas dan rahasia, jadi tidak boleh di tekan. Nah lho.

Fenomena ‘serangan fajar’ (SF) ini sudah sangat lama terdengar, bahkan mungkin telah menjadi catatan wajib bagi Banwaslu tuk menempatkannya pada pelanggaran Pemilu. Tapi entahlah kenapa selalu terjadi dan berulang. Ada yang berupa uang cash puluhan ribu, hingga ratusan ribu, atau ada juga yang ‘seolah’ Baksos, bagi-bagi sembako jelang pencoblosan. Bisa 3 hari sebelumnya, atau bahkan sehari sebelumnya. Jika saja setiap partai atau Caleg dari Partai tertentu mengadakan SF, hal ini bisa menjadi pendapatan besar bagi mereka yang hidup pas-pasan atau sangat-sangat membutuhkan. Jadi tidak salah, mereka senang jika Pemilu sesering mungkin diadakan. Karena hasil dari ‘SF’ dan pencobolsan nanti, tidak terlalu banyak berpengaruh pada taraf kehidupan mereka.

So, apapun bentuknya, bagi masyarakat kecil, kesejahteraan lah yang mereka harapkan. Memimpikan agar mereka sekeluarga bisa makan siang dan malam, dapat tidur nyaman, tidak berpikir bagaimana dia dan anak-anaknya bisa makan esok hari, dan kesejahteraan lainnya. Sehingga wajar, ketika ada SF dengan jumlah puluhan ribu –saja- bagi mereka adalah hal yang sangat membahagiakan, bisa jadi, uang SF yang ‘tak seberapa’ itu dapat memberikan ‘nyawa’ bagi mereka yang sekarat karena lapar. Pun demikian dengan bagi-bagi sembako menjelang hari Pemilu, bagi mereka adalah hal yang sangat dinanti-nantikan. Yang penting mereka sejahtera meskipun cukup hanya untuk satu hari, sejahtera satu hari cukup, daripada tidak mengambilnya karena ‘terlarang’ oleh Banwaslu. Pikirnya, menang atau pun tidak Partai tersebut, nasib mereka sama saja.

Hemat saya, itulah budaya masyarakat kecil kita. Betapa mereka merindukan kesejahteraan tanpa banyak berpikir. Hemat saya pula, -mungkin- salah bagi mereka yang melakukan SF, tapi tidak salah bagi mereka yang menerima. Dan sah-sah saja, bahkan jika ingin ‘berburu’ SF ke setiap partai sekalipun. karena itulah konsekwensi politik praktis, yang penting semuanya fragmatis.

Mungkin kita hanya lupa, bahwa Islam sudah mengajarkan jauh-jauh hari mengenai problematika itu. Masyarakat suatu negeri bisa terjamin kesejahteraannya jika konsep zakat terpenuhi dengan maksimal. Jika saja masing-masing dari pemimpin Parpol itu memiliki itikad baik yang sesungguhnya, atau memiliki political will untuk menjadi pelayan masyarakat, maka bangsa kaya itu bukan lagi ada dalam khayalan banyak orang. Semuanya bisa terjamin, yah solusinya baru bisa terjawab hanya oleh satu item, yakni maksimalisasi Zakat dikalangan umat (bangsa). Dari bangsa untuk bangsa. Tentunya hal itu tidak semudah membalikkan tangan, tetapi –setidaknya- Islam sudah mengajarkan kesejahteraan massif sejak beratus abad yang lalu.

Itu baru satu cerita dari sekelumit ‘pesta rakyat’ kemarin. Selanjutnya nantikan essai-essai Cordova berikutnya.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *