Manusia Tak Bernilai

Saat lebaran kemarin, -tentunya- banyak cerita dari setiap kita. Kisah yang menggambarkan bagaimana ritual kemenangan itu berlaku pada setiap orang yang merayakannya. Bahkan dikampung saya, non-muslim pun ikut merayakan dengan mengunjungi setiap rumah untuk sekedar ‘salaman’ dan membagi-bagi parcel. Pada hari itu, semua saudara dan kerabat saling berbagi rasa, saling membawa makanan, tidak jarang juga diantara kita saling membagi amplop untuk anak-anak kecil yang ceria menanti pembagian ‘ampau’ atau sering diistilahkan dengan uang ‘THR’. Berapa lembaran uang baru kerap diburu mereka, dikumpulkan dan dijajakan untuk membeli mainan ala lebaran. Tidak jarang juga yang di-stor-kan pada orang tuanya, sehingga setiap ada yang membagi, si anak langsung memberikan uang itu pada ibunya. Kontan dengan perasaan sedikit malu, si ibu ‘menampung’ uang ‘THR’ anak. Semakin banyak anak, semakin banyak ‘ampau’ gurau ku melihat sekelumit fenomena lebaran setiap tahunnya. Dunia anak memang tidak bisa disamakan dengan kita, terlebih dipaksakan untuk memahami makna Iedul Fitri, sebagai momentum pensucian diri, yang mereka tahu, setiap lebaran banyak makanan, banyak saudara, dan juga banyak uang. Pengertian mereka terhadap lebaran iedul fitri, lambat laun akan berubah setelah mereka beranjak dewasa.

Melihat ‘ritual’ pembagian uang lembaran baru di setiap hari raya, membuat saya ingin mencoba melakukan simulasi ringan mengenai pengenalan diri tepat pada momentum hari suci. Sengaja saya mendatangi anak-anak yang sedang berkumpul usai pembagian ‘amplop’ dari saudara-saudaranya. “Siapa diantara kalian yang mau uang Rp. 100.000!” ujarku sedikit berteriak, kontan semua anak berhenti dari aktifitasnya, yang mayoritasnya sedang menghitung uang pecahan mulai dari Rp. 1000, Rp. 5000, Rp. 10.000 dan Rp. 20.000. dan memasukkannya ke dompet mungil yang sengaja dibelikan ibunya menjelang hari raya. Mendengar tawaran saya, serempak mereka mengacungkan tangan sambil bergaya manis penuh senyum dan harap. Sebelum saya kasihkan uang itu kepada yang beruntung diantara mereka, uang seratus ribu berwarna merah dengan masih baru dan rapi itu saya remas-remas hingga lusuh, sekian detik saya meremasnya hingga benar-benar tak tampak uang baru dari Bank. Kemudian saya kembali bertanya, siapa yang masih mau dengan uang lusuh ini (?) Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan.

Setelah itu, saya tidak langsung memberikan uang itu. Saya kembali menawarkan siapa yang mau uang ‘merah’ lusuh itu setelah saya injak dan masukkan kedalam tanah yang berlumpur hingga kotor. Namun tetap saja, anak-anak itu mengacungkan jari mereka. Seakan tidak perduli dengan uang yang sudah kotor, berlumpur dan ‘berubah’ warna. Berebut ingin mendapatkan uang yang sudah kotor itu.

Rasanya, dari simulasi ringan itu, kita memiliki pelajaran berharga tentang bagaimana kita mengenal diri kita. Bagaimana sesuatu yang bernilai itu tidak bisa mudah terkurangi hanya karena bentuk fisiknya yang lusuh dan kotor. Uang merah yang kotor itu tetap berharga Rp. 100.000. pun demikian dalam aktivitas hidup kita sehari-hari, sering kita merasa lusuh, kotor, tertekan, terinjak, tidak berarti dan merasa rapuh ketika dihadapi masalah. Kita seringkali merasa tak berguna, tak berharga di mata orang lain, diacuhkan dan kadang tak dipedulikan. Namun sesungguhnya yang terjadi adalah bahwa kita tak akan pernah kehilangan nilai di mata Allah SWT. Bagi-Nya, lusuh, kotor, tertekan, ternoda, selalu ada saat untuk ampunan dan maaf. Kita tetap tak ternilai di mata Allah SWT.

Nilai dari diri kita, tidak timbul dari apa yang kita sandang, atau dari apa yang kita dapat. Semuanya berada dalam jiwa, jika nilai jiwa kita sangat berharga, meski raga dalam kondisi lusuh dan kotor, kita tetap sebagai manusia yang tak bernilai, yang diperebutkan oleh manusia lainnya.

Related Post

One Comment

  • umat islam terbuai oleh ibadah ritual, tapi seringkali melupakan ibadah sosial. pengorbanan seringkali hanya diberikan saat upacara kurban saja. fiqh ibadah demikian hebatny tetapi fiqh sosial tidaklah banyak yang mbahas. nilai2 kemanusiaan, cinta dan kasih sayang tidak banyak digali padahal potensinya luar biasa. kurban kemarin, di desa saya kalau dinominalkan mungkin terkumpul uang 50 jt, tapi begitu utk kepentingan pembinaan sdm guru madrasah, guru ngaji, penyantunan paling hanya recehan.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *