Rindu Rasul

Semoga (Bukan) Rindu Utopis
Kemana pun kaki ini melangkah, ke negeri belahan Bumi mana pun jasad ini mengapung, desahan cinta yang merindu tetap tertuju hanya padamu Ya Habiballah. Maafkan, kendati rindu dan cintaku itu selalu saja baru sekedar “di-ingatkan” oleh momentum kalender merah dan intermezo-intermezo peringatan Maulid Nabi. Rindu yang Utopis, cinta yang ‘masih’ harus digubris oleh notifikasi berbentuk materi. Duuh, maafkan kami Duhai Rasul.

Pyramid Giza, Misteri Tak Berujung

BANYAK orang mengira bahwa pyramid di Mesir hanya tiga, seperti yang terdapat di Giza. Padahal, tidak kurang dari 97 pyramid, ada di seluruh Mesir, hanya bentuknya saja yang lebih kecil ketimbang 3 pyramid Giza. Sebagian pyramid itu terdapat di padang pasir Saqqara (25 km dari Kairo), yang merupakan pyramid tertua di Mesir. Pyramid ini dibangun oleh Raja Zoser. Sedangkan lainnya terdapat di kawasan Wastha, 90 km selatan Kairo.

Kanan ke Kiri

Ketika itu, beliau sedang dalam kondisi pengobatan. Kadar Trigliserid 3 kali lipat dari batas normal membuat beliau sering meradang karena vertigo. Dunia seperti jungkir balik dan beliau pun berobat kepada seorang professor. Hasilnya, ada beberapa obat yang perlu dikonsumsi diiringi diet beberapa jenis makanan terlarang sementara. Beliau dianjurkan untuk mengkonsumsi banyak buah dan sayuran. Saya pun ‘terpaksa’ patuh demi kesembuhan.

Behind The Scene

Syahdan seorang pria berhasil selamat dalam sebuah kecelakaan kapal di tengah samudera yang luas. Dengan sebuah bongkahan kayu pecahan kapal dia berhasil menepi ke sebuah pulau kecil terasing yang tidak dihuni oleh satu orangpun. Dalam keputusasaannya ia berdoa dengan sangat dan memohon kepada ALLAH untuk dapat menyelamatkannya dari pulau tersebut.

The Dream of Every Servant

Suatu hari seorang bocah dibawa serta Ibunya menemui Rasulullah. Ia ingin menawarkan anaknya untuk menjadi pembantu Rasulullah seraya memohon do’a untuk anaknya itu. Rasulullah menerima dan mendoakannya, “Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya, panjangkanlah umurnya dan ampunilah dosanya”. Betapa bahagianya Sang Ibu mendengar do’a yang dipanjatkan untuk anaknya. Kala itu usia sang anak baru 10 tahun. Siapakah gerangan anak tersebut? Dialah, Anas bin Malik.

Face Spots On Judgement Day

Suatu ketika ada seorang pengemis dari kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?” Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa saya pakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasul langsung berkata, “Ambil dan serahkan ke saya!” Lalu pengemis itu menyerahkannya kepada Rasulullah,

Perang Hunain

Suatu waktu kehidupan Baginda Rasulullah SAW. Sebuah peristiwa yang selalu membuat kita mencucurkan air mata kendati diceritakan berulang-ulang. Kisah saat Rasulullah menasihati kaum Anshar yang berprasangka buruk kepadanya. Ia disangkakan berpihak kepada kaumnya, Muhajirin, dalam membagikan harta rampasan perang Hunain.

Diriwayatkan bahwa Perang Hunain terjadi di tahun ke-8 Hijriyah. Ketika perang dahsyat itu berkecamuk, hampir saja kekalahan menimpa kaum muslimin disebabkan kebanggaan mereka terhadap jumlah mereka yang banyak. Rasulullah kemudian menyeru kepada pasukannya sehingga mereka berhimpun di dekatnya. Situasi kemudian berbalik, dan atas pertolongan Allah SWT, pasukan Kuffar menyerah kalah.

Seusai perang, terhampar harta rampasan perang yang berlimpah. Kemenangan kaum muslimin mendatangkan banyak harta rampasan perang dan tawanan, 6 ribu orang tawanan, 24 ribu unta, 40 ribu lebih kambing, dan 4 ribu lebih uqiyah perak.

Rasulullah SAW kemudian membagi-bagikan harta rampasan perang kepada para muallaf, pemuka Mekah yang belum lama masuk Islam, untuk mengikat hati mereka dalam menerima kebenaran.

Setelah membagikan rampasan kepada para muallaf, orang yang baru masuk Islam dan orang yang hatinya masih lemah, Nabi Muhammad SAW membagikan sisa harta rampasan perang kepada semua sahabat.

Ternyata diantara Sahabat ada yang tidak dapat menerima kebijakan Rasulullah ini. Merekalah Kaum Anshar. Padahal merekalah yang paling banyak dilibatkan oleh Rasulullah dalam setiap keadaan kritis. Mereka tidak menerima bagian daripada harta rampasan perang Hunain.

Saad bin Ubadah, seorang sahabat dari Kaum Anshar datang ke tempat baginda seraya berkata, “Wahai Rasulullah, di hati orang-orang Ansar ada perasaan tidak puas hati terhadap engkau karena pembagian harta rampasan perang yang telah engkau lakukan. Engkau membagi-bagikannya kepada kaummu sendiri dan engkau memberikan bagian yang amat besar kepada beberapa kabilah Arab, sedangkan orang-orang Ansar itu tidak mendapat apa-apa”.

Kemudian Baginda meminta agar kaum Anshar dikumpulkan. Setelah mengingatkan orang-orang Ansar bahwa mereka lebih berjasa kepada Rasulullah SAW dari pada orang-orang Quraisy, baginda kemudian bersabda, “Apakah di dalam hati kalian masih terdetik hasrat kepada dunia yang dengan keduniaan itu sebenarnya aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam. Sementara terhadap keislaman kalian aku tidak lagi meragukannya? Wahai sahabat Ansar, apakah di hati kalian tidak berkenan jika mereka membawa pulang kambing dan unta, sedangkan kalian pulang bersama Rasulullah ke tempat tinggal kalian?”
Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentu aku termasuk golongan Ansar. Jika para sahabat menempuh suatu jalan di celah gunung dan orang-orang Ansar menempuh suatu celah yang lain, tentu aku akan memilih celah yang dilalui oleh orang Ansar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Ansar, anak-anak Ansar, dan cucu orang-orang Ansar”.

Setelah mendengar sabda Rasulullah SAW yang mengajak mereka mendahulukan akhirat dan nikmat yang besar, mereka pun menitikkan air mata hingga janggut mereka basah lembab dengan air mata sambil berkata, “Kami Ridha tindakan Rasulullah dalam urusan bagian dan pembagian. Setelah itu, mereka puas dan kembali ke tempat mereka semula”.

Suatu hari Rasulullah baru saja tiba dari Perang Tabuk. Sebuah peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Rasulullah kemudian bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”
Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Rasulullah adalah manusia paling mulia, tetapi orang yang paling mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasulpun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda,

“Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya’.

Rasulullah tidak pernah mengistimewakan manusia berdasarkan kedudukannya karena setiap orang sama kedudukannya di hadapan Allah. Yang membedakan hanyalah taqwa. Beliau tidak pernah mencium tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para Pemimpin Khabilah, Raja atau siapapun. Sejarah mencatat hanya putrinya Fatimah Az Zahra dan tukang batu itulah yang pernah dicium tangannya oleh Rasulullah. Padahal tangan tukang batu yang dicium oleh Rasulullah justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar karena bekerja keras membelah batu.

Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah. Orang itu di kenal sebagai pekerja yang giat dan tangkas. Para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Rasul pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR Thabrani)

Menebar Benci, Menuai Cinta

Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah hendak membunuh Nabi Muhammad SAW. Segala sesuatu telah ia persiapkan secara matang, sebilah pedang tajam sudah disandangnya, dan ia pun masuk ke kota suci Madinah tempat Rasulullah bermukim.

Dengan semangat meluap-luap ia mendatangi majelis Rasulullah, untuk melaksanakan niatnya. Umar bin Khattab yang melihat gelagat buruk itu, langsung menghadang Tsumamah. Umar bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?”

Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, “Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”. Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung meringkusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya, kemudian ia dibawa ke masjid.

Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid, Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah. Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik yang terlihat kelelahan dan ketakutan. Kemudian berkata pada para sahabatnya,“Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?”.

Para sahabat Rasul tentu saja kaget dengan pertanyaan Rasulullah. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Maka Umar memberanikan diri bertanya, “Makanan apa yang Anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!”

Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu”. Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah.

Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya ,“Ucapkanlah Laa ilaha illa-Llah (Tiada ilah selain Allah). ” Si musyrik itu menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!”. Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.”

Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengucapkannya!” Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negerinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah dan berseri ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muahammad Rasul Allah.”

Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?” Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keridhaan Allah Robbil Alamin.”

Pada suatu kesempatan, Tsumamah berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, Tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.