The Beautiful Names of Allah Exhibition, Madinah

Orang Indonesia lebih mengenalnya dengan nama Museum Asmaul Husna. Bila diterjemahkan dari namanya sebenarnya bukan museum, lebih tepatnya pameran. Pameran ini merupakan proyek kreatif dari sebuah perusahaan periklanan bernama Samaya Holding dari Arab Saudi. Samaya Holding memiliki beberapa anak perusahaan yang mengkhususkan diri pada solusi kebutuhan periklanan, pameran, digital printing dan segala yang berkaitan dengan promosi.

ALEPPO IS BURNING

Bencana besar tengah melanda Aleppo, Suriah. Pernyataan PBB tersebut disampaikan menyusul serangan bertubi-tubi Rezim Bashar al-Assad terhadap warganya sendiri di kota Aleppo. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan, sejak tujuh hari lalu, 202 warga sipil telah tewas. Rumah sakit dan tenaga medis juga menjadi sasaran penyerangan.

Pyramid Giza, Misteri Tak Berujung

BANYAK orang mengira bahwa pyramid di Mesir hanya tiga, seperti yang terdapat di Giza. Padahal, tidak kurang dari 97 pyramid, ada di seluruh Mesir, hanya bentuknya saja yang lebih kecil ketimbang 3 pyramid Giza. Sebagian pyramid itu terdapat di padang pasir Saqqara (25 km dari Kairo), yang merupakan pyramid tertua di Mesir. Pyramid ini dibangun oleh Raja Zoser. Sedangkan lainnya terdapat di kawasan Wastha, 90 km selatan Kairo.

Ketika Raja Tiada

Tepat pada hari Jumat pagi (23/01) ALLAH SWT telah memanggil ‘Penjaga Dua Tanah Suci’ keharibaan-Nya. Meninggal di Tanah yang penuh kesucian, menyisakkan tangis dan haru dari saudara, kerabat dan manusia seantero bumi. Sakit yang telah lama menimpanya, adalah penyebab dari kematian Sang Raja berusia 90 tahun ini. Yah, raja Abdullah bin Abdul Aziz telah meninggal di hari barokah (sayyidul Ayyam) dengan selimut mulia tanah suci –yang juga- sebagai tanah lahirnya.

Dalam kitab Bukhari dan Muslim juga dalam kitab-kitab hadits yang terkenal lainnya, diriwayatkan bahwa sebelum Rasulullah SAW hijrah, berkumpullah tokoh-tokoh kafir Quraisy, seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah, Al ‘Ash bin Qail dan lain-lain. Mereka meminta kepada nabi Muhammad SAW untuk membelah bulan. Mereka berkata, “Seandainya kamu benar-benar seorang nabi, maka belahlah bulan menjadi dua.”

Masih di kota Italia, setelah merasakan dan menyaksikan keindahan kota Venice, jemaah Europe Muslim Journey hari ini akan melanjutkan perjalanannya menuju Milan. Banyak pelajaran dan inspirasi sepanjang perjalanan itu. Mengenal bagaimana kota indah dengan bola-bola lampu yang bersinar sepanjang malam. Kini mereka akan kembali melihat kota yang juga memiliki arsitektur yang sangat indah, tata letak dan kebersihannya membuat kagum banyak orang.

Pada artikel sebelumnya Cordova me-rekomendasikan aplikasi Al-Quran yang memudahkan kita untuk membaca sekaligus mempelajarinya. Kali ini, terdapat aplikasi Hadits yang lengkap dan praktis untuk di pergunakan. Selain itu, aplikasi ini juga memiliki fitur – fitur yang sangat memudahkan kita untuk membaca, memahami dan mempelajarinya.




Awalnya, sulit memulai untuk menuliskan bagaimana peristiwa berdarah rakyat Mesir saat ini. Akan berawal darimana penggalan kisah terpijak, semuanya seolah nightmare yang tiba-tiba muncul ditengah kehangatan masyarakatnya. Kemurahan dan toleransinya menjelma menjadi amarah yang memuncak. Darah menjadi kolam yang mengental, nyawa pun tiada lagi harganya. Semua orang terkejut dengan peristiwa berdarah itu. Peristiwa yang terkejam selama negara Mesir berdiri. Peristiwa yang benar-benar tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Saat lebaran kemarin, -tentunya- banyak cerita dari setiap kita. Kisah yang menggambarkan bagaimana ritual kemenangan itu berlaku pada setiap orang yang merayakannya. Bahkan non-muslim pun ikut merayakan dengan mengunjungi setiap rumah untuk sekedar ‘salaman’ dan membagi-bagi parcel. Pada hari itu, semua saudara dan kerabat saling berbagi rasa, saling membawa makanan, tidak jarang juga diantara kita saling membagi amplop untuk anak-anak kecil yang ceria menanti pembagian ‘ampau’ atau sering diistilahkan dengan uang ‘THR’. Berapa lembaran uang baru kerap diburu mereka, dikumpulkan dan dijajakan untuk membeli mainan ala lebaran. Tidak jarang juga yang di-stor-kan pada orang tuanya, sehingga setiap ada yang membagi, si anak langsung memberikan uang itu pada ibunya. Kontan dengan perasaan sedikit malu, si ibu ‘menampung’ uang ‘THR’ anak. Semakin banyak anak, semakin banyak ‘ampau’. Dunia anak memang tidak bisa disamakan dengan kita, terlebih dipaksakan untuk memahami makna Iedul Fitri, sebagai momentum pensucian diri, yang mereka tahu, setiap lebaran banyak makanan, banyak saudara, dan juga banyak uang. Pengertian mereka terhadap lebaran iedul fitri, lambat laun akan berubah setelah mereka beranjak dewasa.

Melihat ‘ritual’ pembagian uang lembaran baru di setiap hari raya, rasanya menarik untuk dijadikan semacam simulasi Hari raya dengan Ramadhan. Ketika diri merasa ‘kotor’ karena dosa dan nista yang dilakukan. Maka yakinlah, pada momentum fitri itu, ALLAH memaafkan dengan kasih sayangnya yang tak pernah pudar. Justru sebaliknya, ketika kita ragu akan ke-Murahan ALLAH dalam mengampuni dosa setiap hambanya, maka disanalah dosa besar bermula. Jadi, yakinlah, Khusnudzon kepada ALLAH bahwa dosa kita akan diampuni, ketika kita sadar dan mengadu kepada-NYA, memohon ampun atas segala khilaf. Seperti simulasi selembar uang ‘seratus ribuan’ ketika ia ditawarkan kepada anak-anak sebagai uang ‘THR’ maka mereka akan berebut menerimanya. Pun, kendati uang merah itu kita remas-remas menjadi sangat lusuh, mereka tetap akan menerimanya. Bahkan, sekalipun jika uang itu kita injak dan masukan ke dalam lumpur, mereka akan tetap menerimanya.

Seakan tidak perduli dengan uang yang sudah kotor, berlumpur dan ‘berubah’ warna. Anak-anak berebut ingin mendapatkan uang yang sudah kotor itu. Bahkan kita sekalipun, masih melihat bahwa uang itu ‘masih’ bernilai.

Rasanya, dari simulasi itu, kita memiliki pelajaran berharga tentang bagaimana kita mengenal diri kita. Bagaimana sesuatu yang bernilai itu tidak bisa mudah terkurangi hanya karena bentuk fisiknya yang lusuh dan kotor. Uang merah yang kotor itu tetap berharga Rp. 100.000. Pun demikian dalam aktivitas hidup kita sehari-hari, sering kita merasa lusuh, kotor, tertekan, terinjak, tidak berarti dan merasa rapuh ketika dihadapi masalah. Kita seringkali merasa tak berguna, tak berharga di mata orang lain, diacuhkan dan kadang tak dipedulikan. Namun sesungguhnya yang terjadi adalah bahwa kita tak akan pernah kehilangan nilai di mata ALLAH SWT. Bagi-Nya, lusuh, kotor, tertekan, ternoda, selalu ada saat untuk ampunan dan maaf. Kita tetap tak ternilai di mata Allah SWT.

Nilai dari diri kita, tidak timbul dari apa yang kita sandang, atau dari apa yang kita dapat. Semuanya berada dalam jiwa, jika nilai jiwa kita sangat berharga, meski raga dalam kondisi lusuh dan kotor, kita tetap sebagai manusia yang tak bernilai, yang diperebutkan oleh manusia lainnya.