The Beautiful Names of Allah Exhibition, Madinah

Orang Indonesia lebih mengenalnya dengan nama Museum Asmaul Husna. Bila diterjemahkan dari namanya sebenarnya bukan museum, lebih tepatnya pameran. Pameran ini merupakan proyek kreatif dari sebuah perusahaan periklanan bernama Samaya Holding dari Arab Saudi. Samaya Holding memiliki beberapa anak perusahaan yang mengkhususkan diri pada solusi kebutuhan periklanan, pameran, digital printing dan segala yang berkaitan dengan promosi.

ALEPPO IS BURNING

Bencana besar tengah melanda Aleppo, Suriah. Pernyataan PBB tersebut disampaikan menyusul serangan bertubi-tubi Rezim Bashar al-Assad terhadap warganya sendiri di kota Aleppo. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan, sejak tujuh hari lalu, 202 warga sipil telah tewas. Rumah sakit dan tenaga medis juga menjadi sasaran penyerangan.

Ketika Raja Tiada

Tepat pada hari Jumat pagi (23/01) ALLAH SWT telah memanggil ‘Penjaga Dua Tanah Suci’ keharibaan-Nya. Meninggal di Tanah yang penuh kesucian, menyisakkan tangis dan haru dari saudara, kerabat dan manusia seantero bumi. Sakit yang telah lama menimpanya, adalah penyebab dari kematian Sang Raja berusia 90 tahun ini. Yah, raja Abdullah bin Abdul Aziz telah meninggal di hari barokah (sayyidul Ayyam) dengan selimut mulia tanah suci –yang juga- sebagai tanah lahirnya.

Entah sampai kapan nyawa di negeri para Nabi, Palestina itu akan bernilai. Harganya teramat murah dibanding sepasang sepatu para pemuka Arab yang tak terusik dengan gejolak yang terjadi. Tangisan para ibu yang bayinya gugur dihantam roket, hanyalah sebuah drama klasik, -yang menurutnya- akan terus berulang, dan berharap mereka yang gugur masuk ke dalam surga-Nya. Jeritan anak-anak ketika di bom-bardir oleh persenjataan canggih Israel, tak mampu menggerakkan rasa untuk berbuat ditengah kuasa minyak yang berlimpah. Ruang-ruang seminar dunia Arab hanya menjadi ruang diskusi pencitraan dunia internasional, bahwa mereka peduli dengan nasib Palestina. Agar dunia menyaksikan bahwa mereka bersatu untuk mendamaikan konflik panjang Palestina-Israel. Negara tak ber tanah air (Israel) itu sesungguhnya hanya secuil dari negeri Arab yang sangat luas, namun gurita Arab tak mampu melenyapkan Israel dari peta Timur Tengah.

Awal hingga pertengahan Ramadhan tahun ini, kembali –kita- masih sulit percaya dengan fakta yang terjadi, terbayang ketika pijar api itu menggulung rumah yang bertahun-tahun mereka pertahankan. Dengan keringat, bangunan batu-bata itu tersusun, kini tinggalah ponggahan dan puing yang mengenaskan. Mereka memasang sebuah rumah dalam lekuk aliran darah di mana kepergian adalah juga kepulangan. Di sana, berlapis-lapis musim senantiasa menemuinya dalam hujan. Kisah-kisah tentang bangsa yang mencari rumahnya kembali di ujung tangisan. Barangkali, kepiluan adalah batu-batu yang dirawat oleh sejarah tempat kebanggaan menjadi masa lalu. Sebuah bangsa yang hilang dalam egoisme yang tak berujung. Di sana rumah mereka benar-benar berangkat dalam pengembaraan panjang di antara pekuburan tanpa jeda. Begitu panjang dan melirih.

Adzan di Masjid Agung Skotlandia

Masjid Agung Skotlandia mendapatkan lampu hijau dari Dewan Kota Glasgow untuk menyiarkan dua menit panggilan azan setiap hari selama umat Muslim menjalankan ibadah puasa dibulan Ramadhan. Masjid di Gorbals, wilayah dengan populasi Muslim yang signifikan di Skotlandia menyambut gembira hal ini mengingat pada puasa tahun ini juga diadakan Pesta Olahraga Persemakmuran (Commonwealth Games) yang merupakan ajang olahraga multinasional di Skotlandia.

Dalam banyak kasus, manusia terkadang kerap memperlihatkan kegelisahannya ketika mengalami musibah. Tidak hanya itu, kadang juga menggerutu, menyesali, menyalahkan orang, alam, bahkan Tuhan. Banyak juga –yang karena- tidak mampu menahan tekanan hidup,

Romantisnya Rasulullah SAW

Dalam satu kisah diceritakan, pada suatu hari istri-istri Rasul berkumpul dihadapan Rasulullah SAW. Salahsatu dari mereka bertanya kepada Rasul “Diantara istri-istri Rasul, siapakah yang paling Engkau sayangi (?)”. Rasulullah SAW hanya tersenyum lalu berkata, “Aku akan beritahukan kepada kalian nanti”. Setelah itu, dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah memberikan kepada istri-istrinya masing-masing sebuah cincin seraya berpesan agar tidak memberitahu kepada istri-istri yang lain. Lalu, dihari yang berbeda, para istri Rasulullah itu berkumpul lagi dan mengajukan pertanyaan yang sama. Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Yang paling aku sayangi adalah yang kuberikan cincin kepadanya”. Kemudian, istri-istri Nabi SAW itu tersenyum puas karena menyangka hanya dirinya saja yang mendapat cincin dan merasakan bahwa dirinya tidak terasing.

Masih ada amalan-amalan lain yang bisa dilakukan untuk mendapatkan suasana romatis seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Beliau pernah bersabda, “Apabila pasangan suami istri berpegangan tangan, dosa-dosa akan keluar melalui celah-celah jari mereka”. Rasulullah SAW selalu berpegangan tangan dengan Aisyah ketika di dalam rumah. Beliau acapkali memotong kuku istrinya, mandi janabat bersama, atau mengajak salah satu istrinya bepergian, setelah sebelumnya mengundinya untuk menambah kasih dan sayang di antara mereka.

Baginda Nabi SAW juga selalu memanggil istri-istrinya dengan panggilan yang menyenangkan dan membuat hati berbunga-bunga. “Wahai si pipi kemerah-merahan (khumaira)” adalah contoh panggilan yang selalu beliau ucapkan tatkala memanggil Aisyah.

Di lain kisah, Satu hari ada sekumpulan anak-anak masuk ke dalam masjid untuk bermain perang-perangan..lalu Rasulullah bertanya…”Wahai Khumaira..Maukah kamu melihat mereka (?) “Ya”..jawab Aisyah. Maka Rasulullah mengajak Aisyah dan berdiri di ambang pintu, dagu Aisyah diletakkan pada bahu Rasulullah, wajah Aisyah menempel pada pipi Rasul. Setelah agak lama, Rasulullah bertanya, “Sudahkah kamu merasa puas (?)” “Belum ya Rasul” jawab Aisyah

Maka Rasulullah kembali meneruskan berdiri. Selang beberapa saat, Rasulullah bertanya lagi hal yang sama, namun Aisyah masih memberikan jawaban yang sama.

Sebenarnya Aisyah tidak tertarik dengan permainan anak-anak itu, namun Aisyah hanya ingin agar kaum wanita yang lain tahu bahwa ia dan Rasulullah sangat saling mencintai.

Kisah selanjutnya, Aisyah Bercerita: “Waktu itu aku sedang haid, aku minum pada sebuah gelas lalu memberikannya kepada Rasulullah, lalu Baginda segera mengambilnya dan meletakkan mulutnya pada bibir gelas tempat aku meletakkan mulutku dan meminumnya. Pada hari lain, aku juga sedang haid, aku mengigit daging pada tulang, lalu aku berikan kepada Rasulullah, kemudian Baginda meletakkan mulutnya ditempat aku meletakkan mulutku pada tulang tersebut”.

Di lain kisah, suatu hari Rasulullah berkata kepada Aisyah “Wahai Aisyah, sesungguhnya aku tahu bila kamu gembira dan juga tahu ketika kamu marah padaku” Setelah mendengar ucapan Rasulullah, Aisyah bertanya “Bagaimana Baginda bisa tahu (?)”
Jawab Rasulullah “Jika kamu gembira, kamu akan berkata tidak, Demi Tuhan yang mengutus Muhammad. Apabila kamu marah, kamu akan berkata, tidak demi Tuhan yang mengutus Ibrahim”.

Kemudian Aisyah berkata “Memang benar, ya Rasul. Tapi demi ALLAH, sesungguhnya aku tidak meninggalkan diri mu wahai Rasulullah kecuali namamu sahaja”. Meskipun Rasulullah tahu Aisyah sedang marah padanya, namun Baginda tidak membalas dengan memarahi Aisyah, namun dari kata-kata Rasulullah tersebut ada kesan ingin menggoda Aisyah. Baginda ingin segera menghilangkan perkara yang bisa membuat Aisyah marah..

Masih banyak cerita romantismenya Rasulullah SAW terhadap istri-istri tercinta-nya. Insya ALLAH berlanjut…