Akhi Nurdien yang ‘Kharismatik’





Satu diantara team Cordova yang memiliki kharisma dimata teman-temannya, adalah Nurdien Azwar. Bapak muda beranak dua ini bergabung bersama team sejak awal berdirinya Cordova. Terang saja, ia paham betul dengan sepak terjang dan perjalanan Cordova hingga menginjak tahun ke-8 ini. Tak aneh jika pada musim haji pertama, ia berangkat mengiringi smartHAJJ perdana bersama beberapa rekan Cordova lainnya. Karena penampilannya yang begitu santun, ia bahkan kerap dipanggil ‘ustadz’ dikalangan internal Cordova. Janggut tipis, celana katun, rambut berbelah pinggir ditambah kacamata minus, mengingatkan kita pada aktivis dakwah di negeri ini. Bicaranya santun, tatapannya teduh dan sering menundukan pandangan ketika berjalan, adalah karakternya yang kuat. Karakter seorang ‘murabbi’ yang membuat orang sangat menghormatinya. Ucapannya jelas, tegas dan berpola. Jika teman sebelahnya sedang ngobrol atau berdiskusi yang cenderung ghibah, ia kerap menjadi ‘pelicin’ untuk mengganti topik pembicaraan.

Posisinya di Cordova bisa dikatakan sangat vital, selain sebagai ‘mandataris’ management, atau personalia, ia juga menjadi bagian dari devisi finance. Mengatur roda eksekutor anak buahnya, serta menjadi mediator diantara keluarga besar Cordova. Akhi Nurdien tergolong staf yang serius. Jika tidak ada yang penting dibicarakan, maka ia akan diam seribu bahasa. Namun sesekali jika ia becanda, maka materi candaannya sangat berbobot, dan lumayan lucu, meski sedikit dipaksakan.

Bukan tanpa cela –tentunya-, karena setiap kita memiliki energi positif dan negatif. Sehingga team mampu mengsinergikan setiap gejala yang terjadi. Akhi Nurdien adalah salah seorang diantara jutaan manusia yang memiliki idealisme. Ia kerap percaya terhadap dirinya sendiri untuk bisa memecahkan setiap permasalahan yang terjadi. Malangnya, ketika masalah itu sulit terkendali, ia kesulitan untuk berbagi terhadap orang lain. Sebuah sikap –yang sejatinya- positif, karena ia tidak terbiasa merepotkan orang lain. Wal hasil, bak proses memakan kripik pedas Ma Icih yang berlevel. Masalah level 1-5 –mungkin- bisa teratasi, namun setelah menginjak level 10, maka ledakan panasnya kan terasa. Bukan team namanya jika tak bisa memangkas kesulitan anggotanya, bukan keluarga rasanya, jika tiada rasa tuk memahaminya. Maka kebersamaan pun menjadi sebuah alur yang tak terbantahkan.

Akhi Nurdien memiliki hasrat perjuangan Islam yang begitu tinggi, tak ayal buah hatinya yang pertama ia namakan Hasan Al-Bana (ulama pencipta gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir), menyimak kondisi politik di Mesir yang menyudutkan Ikhwanul Muslimin saat ini, ia hanya berharap akan tumbuh generasi-generasi Hasan Al-Bana di Negeri Seribu Menara itu, termasuk dari buah hatinya. Aamiin Yaa Rabb.

Lebaran tahun ini, Akhi Nurdien tidak terlalu sibuk untuk mudik berlama-lama, karena ia akan memfokuskan diri pada event Grand Manasik smartHAJJ 1434 September nanti.

Related Post

PIT STOP RAMADHAN

PIT STOP RAMADHAN

PIT STOP RAMADHAN Dalam ‘sirkuit kehidupan’, laju kencang kendaraan F1 kita telah sejenak singgah di…

26 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *