Ada ‘Soekarno’ di Maroko

smartJOURNEY Marocco – Spain

Cerita ini masih tentang perjalanan smartJOURNEY (SJ) Maroko – Spanyol, meski berbeda tema, tapi isi nya masih tentang senyum dan indahnya perjalanan ke negeri paling Barat di Afrika serta berbatasan dengan benua biru yang menyisakkan sejuta rasa. Setelah puas menyaksikan keindahan kota Casablanca, jemaah SJ melanjutkan perjalanan menuju kota Tangier, pelabuhan yang menyambungkan selat Giblartar, antara Afrika dan Eropa. Namun sebelum menuju Tangier, jemaah menyempatkan singgah di kota Rabat. Ibukota kerajaan Maroko yang terletak di pinggir pantai Samudera Atlantik. Kota indah yang dialiri sungai Bouregreg yang tidak pernah kering sepanjang masa. Kota ini adalah pusat pemerintahan yang emiliki beragam objek wisata yang layak untuk dikunjungi. Selain keindahan alamnya, Rabat juga menyimpan sejarah Islam yang begitu panjang.

Sebut saja, Kasbah des Oudayas, benteng yang zaman dulu berfungsi untuk mengawasi ancaman serangan laut dari Spanyol. Selain itu, pemukiman penduduk di balik tembok tebal pun masih lestari hingga kini. Kontan saja, semua peserta yang awalnya akan menuju pasar tradisional di sebrang benteng, langsung ‘menyerbu’ masuk kedalam benteng. Ada yang hanya ikut ke toilet, tetapi banyak juga yang ingin menyasikan kehidupan masyarakat di balik benteng kokoh di samping samudera Atlantik itu. Begitu masuk dan melewati gerbang yang tingginya 10 meter, kita merasakan suatu kehidupan dari masa lampau yang terus berdenyut. Bentuk-bentuk bangunannya pun masih asli sejak pertama kali di bangun. Lorong-lorong kecil dengan gang berbelok naik turun, benar-benar meng-‘hypno’ kita seolah berada pada masa lalu. Warga yang ramah, dan bangunan yang indah, menjadikan semua keluarga SA mengabadikan setiap tapak di benteng ini.

Setelah berada di jantung benteng ini, dengan kompak semua jemaah menuju tradisional Market Maroko untuk belanja souvenir dan ragam pernik Maroko, baik untuk dipakai sendiri maupun buah tangan kerabat di Tanah Air. Hampir semua anggota SJ semangat dan berpencar ke setiap sudut pasar untuk melihat dan membeli souvenir. Waktu dua jam, rasanya masih teramat kurang untuk memutari pasar pernak-pernik itu. Dahsyat-nya, luapan ‘euforia’ itu masih bisa dikalahkan dengan semangat mereka untuk mengunjungi satu jalan yang teramat bersejarah untuk Bangsa Indonesia.

Kasbah

Banyak orang bilang, ‘rasa nasionalisme itu kadang sering muncul ketika kita berada di luar negeri’. Entah apakah itu ‘nasionalisme’ dalam bentuk makanan, patriotisme, atau hal-hal yang berbau ke-indonesiaan. Yang jelas rasa rindu dan kebanggaan kerap muncul ketika menemukan hal-hal tentang Indonesia.

Pun demikian dengan sebagian peserta SJ, begitu antusias ketika berada di pusat kota Rabat. Karena bus yang ditumpangi tidak bisa berhenti di sembarang tempat, kalaupun berhenti, waktunya tidak bisa lama. Karena hasrat yang besar untuk berpose di depan Rue Soekarno, atau jalan Soekarno, maka sebagian dari mereka harus berlari kecil berpacu dengan waktu berhentinya bus. Tepat di depan Bank Al-Maghreb, nama Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno tertulis sebagai nama jalan. Tidak main-main, jalan yang berada di pusat kota itu adalah area yang sangat strategis untuk Bangsa Maroko.

Kontan saja, begitu banyak yang berpose di depan jalan itu, warga sekitar yang menyaksikan sampai terheran-heran, karena banyak yang turun dari Bus, dan –ada juga- yang sambil berlari menuju jalan sejarah itu. Puluhan mata warga lokal menuju aktivitas ‘shooting’ mereka, yang lantas banyak pula yang memahami dan berangguk-angguk, mungkin warga lokal baru sadar bahwa masyarakat Indonesia sangat mencintai ‘ulil amri’ mereka sendiri. Sehingga tidak salah jika jalan itu terpampang di jalur penting kota Rabat.

Penamaan jalan Soekarno ini, tidak lepas dari kepiawaian Soekarno dalam memainkan hubungan politik luar negerinya. Pada saat itu, kerajaan Maroko sangat berhutang budi kepada Soekarno dan Bangsa Indonesia untuk keluar dari penjajahan tahun 1945. Berikut Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 serta kunjungan Presiden Soekarno pada 2 Mei 1960 yang terhitung sebagai kunjungan kepresidenan pertama untuk kerajaan Maroko setelah merdeka pada tahun 1956. Penghargaan Maroko terhadap Soekarno dan Bangsa Indonesia bukan hanya penamaan jalan ‘Soekarno’ dan beberapa nama kota di Indonesia yang dijadikan jalan, tetapi Maroko juga, -sampai saat ini- membebaskan bangsa Indonesia dari visa (bebas visa) untuk berkunjung ke negeri ini.

Related Post

CORDOVA TAKBIRAN

CORDOVA TAKBIRAN

Cordova Takbiran Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan puasa kali ini sebagai puasa yang terakhir dalam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *