Posts Tagged ‘risalah’

Century Versus Centrino

Mungkin Anda lelah mendengar bagaimana kasus Century yang terus bergulir tanpa akhir dan kejelasan simpul yang diperoleh. Atau mungkin Anda juga sudah apatis terhadap apapun yang terjadi dengan hukum di negeri ini. Begitu lamban dengan sejuta wacana dan apologi. Keinginan atau political will dari penegak hukum yang setengah-setengah membuat jengah setiap orang yang memperhatikan kasus ini. Terlalu banyak kepentingan diri berkuasa, terlalu lebar senyum topeng menutupi jiwa. Nurani telah kelam tertutup kabut kerakusan, membentuk suatu citra diri tuk melepas dari noda dan dosa. “Century Gate” memang menguji kecepatan nurani tuk segera menyibak kebenaran. Tanpa melibatkan hati, semua skandal akan begitu saja menguap tanpa proses akhir yang jelas. Pada akhirnya masyarakat luas kan mudah memaafkan dan melupakannya. Karena semua orang di negeri ini tahu, bahwa potensi keterlibatan pada kasus ini melibatkan orang-orang yang memiliki power dan kuasa. Namun berbeda –tentunya- jika suatu kasus menimpa rakyat biasa, dengan canggih semua terungkap dengan kecepatan luarbiasa. [>>>]

The Amazing Words

Makna “Iqra” atau Bacalah! Yang Rasulullah terima sebagai wahyu pertama, memiliki kandungan yang sarat akan makna. Bukan hanya sebuah tuntutan kewajiban untuk membaca suatu fenomena alam yang terjadi, tetapi lebih dalam untuk berpikir dan belajar pada setiap kejadian yang menimpa. Segala sesuatu disekitar kita –sesungguhnya- adalah hal yang harus di “Iqra” untuk mengendalikan arah hidup kita. Pun demikian dengan beberapa “Kata” yang diyakini bisa memberikan arti dan pandangan hidup kita. Salahsatu kata yang –mungkin- dapat merubah pandangan saya dan Anda adalah kata “Terima Kasih”. Yah, kata Terima kasih, Syukran, Thank you, Hatur nuhun, Kamsia dll, adalah kata-kata yang sering kita lupakan saat menerima bantuan dari orang lain. Mungkin, bagi sebagian orang sangat sulit mengucapkan kalimat itu. Kenapa (?) Karena “Terima Kasih” Membutuhkan ketulusan, “Terima Kasih” membutuhkan kehangatan tatap mata, dan sentuhan kasih jiwa yang membalutnya. Tentunya kita menyadari, bahwa sebenarnya bantuan yang diberikan orang lain kepada kita –apapun itu- tidak akan bisa tergantikan. Banyak orang berusaha “Membalas Budi” kepada orang lain, tetapi sering kali hal ini malah melahirkan kekecewaan bahkan perselisihan. Kenapa (?) Karena tidak akan ada budi yang bisa terbalaskan. [>>>]

Sejenak Mengenang Rasulullah SAW (2)

Dalam sebuah syair Arab disebutkan: Bagaimana mungkin dapat diimbangi seorang insan terbaik yang hadir di muka bumi. Semua orang yang terpandang tidak akan mampu mencapai ketinggian derajatnya. Semua orang yang mulia tunduk di hadapannya. Para penguasa Timur dan Barat rendah di sisi-nya. Abdullah bin Mas’ud Ra. Mengungkapkan: “Sampai sekarang masih terlintas dalam ingatanku saat Rasulullah SAW Mengisahkan seorang Nabi yang dipukul kaumnya hingga berdarah. Nabi tersebut mengusap darah pada wajahnya seraya berdoa: “Ya Allah, ampunilah kaumku! karena mereka kaum yang jahil.” (Muttafaq ‘alaih). Pada suatu hari ketika Rasulullah SAW tengah melayat satu jenazah, datanglah seorang Yahudi bernama Zaid bin Su’nah menemui beliau untuk menuntut utangnya. Yahudi itu menarik ujung gamis dan selendang beliau sambil memandang dengan wajah yang bengis. Dia berkata: “Ya Muhammad, lunaskanlah utangmu padaku!” Dengan nada yang kasar. Melihat hal itu Umar bin Khattab pun marah, ia menoleh ke arah Zaid si Yahudi sambil mendelikkan matanya seraya berkata: “Hai musuh Allah, apakah engkau berani berkata dan berbuat tidak senonoh terhadap Rasulullah di hadapanku!” Demi Dzat Yang telah mengutusnya dengan membawa Al-Haq, seandainya bukan karena menghindari teguran beliau, niscaya sudah kutebas engkau dengan pedangku!”. [>>>]

Sejenak Mengenang Rasulullah SAW (1)

Merenungi dan mengenang bagaimana Rasulullah SAW menghadapi segala tekanan hidup bangsa Arab dulu, sarat memberikan contoh untuk menjadikannya pedoman hidup para Pemimpin, rakyat biasa, hakim, pendakwah, dan semua lapisan masyarakat muslim dimana pun berada. Kisah-kisah yang disitir dalam hadist-hadist shahih dibawah ini, akan menunjukan kepada kita betapa agung dan mulianya manusia seperti beliau. Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan disetiap hembusan nafas ini berdetak. Ketika kenangan yang terabadikan melalui hadist-hadist Nabi dibawah ini kita cerna, -sungguh- tentunya kita selalu berharap untuk selalu berada dikesucian tanah-Nya. Mendekap kerinduan yang terlanjur menyelimuti diri, yah kerinduan pada sosok manusia agung Rasulullah SAW. menjadi tamu dan kekasih Allah di Tanah Suci adalah obat penawar yang akan sedikit banyak menumpahkan rasa bersama kekasih Allah SWT. Berikut beberapa kemuliaan Rasulullah SAW yang tersurat melalui hadist-hadist shahihnya. Siti Aisyah Ra. Mengisahkan: “Suatu kali aku berjalan bersama Rasulullah SAW, beliau mengenakan kain najran yang tebal pinggirannya. Kebetulan beliau berpapasan dengan seorang Arab Badui, tiba-tiba si Arab badui tadi menarik dengan keras kain beliau itu, sehingga aku dapat melihat bekas tarikan itu pada leher beliau. Si Arab badui itu berkata: “Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku sebagian yang kamu miliki dari harta Allah!” Beliau lantas menoleh kepadanya sambil tersenyum lalu mengabulkan permintaannya.” (Muttafaq ‘alaih) [>>>]

The Power of Mother

Tribute 4 Mother’s Day “Seorang ibu bisa memelihara dan merawat 10 orang anak, tapi 10 orang anak, belum tentu bisa merawat dan memelihara seorang ibu”. Ungkapan diatas, menjelaskan bahwa peranan seorang ibu dalam mengelola “Madrasatul Ula” (pendidikan pertama) bagi perkembangan anak-anaknya begitu dominan. Tak ada yang menafikan bahwa jasa dan sosok seorang ibu –dan juga istri- sangat mempengaruhi ketegakan sebuah rumah tangga yang berbaur menuju kekuatan pilar suatu negara. Untuk mengenang semua jasa sosok ibu, Allah dan Rasul-Nya mengabadikan dalam “Manuskrip Suci” Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah. “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya hingga tiga puluh bulan…” (QS Al-Ahqaf : 15). Ayat ini, semoga membuka kembali kesadaran kita betapa jasa dan kasih sayang ibu kepada anaknya begitu besar dan tak terhingga. Hari ini, 22 Desember 2009, diperingati sebagai Hari Ibu. Tentu, kita takkan pernah mendengar perayaan Hari Ayah di sekolah-sekolah atau di kantor, sehingga ayah tak perlu memakai batik atau kain kebaya dan mendamping anaknya ke sekolah untuk merayakan Hari Ayah. [>>>]