Hijrah; Inovasi Tiada Batas

Hijrah secara bahasa berasal dari kata “hajara” yang berarti pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, pindah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, atau meninggalkan sesuatu. Para ulama menyatakan bahwa dari peristiwa hijrah Rasulullah SAW, memiliki dua makna yang harus diaplikasikan dalam kehidupan kita, yaitu hijrah makani (hijrah dalam konteks tempat/fisik) dan hijrah ma’nawi (hijrah dalam konteks kandungan pelajaran yang bisa kita petik dan bersifat non fisik). Hijrahnya Rasulullah SAW adalah sebuah catatan sejarah yang sangat monumental. Perpindahan -secara fisik- tempat perjuangan yang dilakukan Nabi Muhammad bersama para sahabatnya dari Makkah ke Madinah itu menjadi starting point bagi kejayaan Islam dengan konsepsi negara yang madani di bawah kepemimpinan beliau. Hijrah adalah sebuah keputusan Nabi Muhammad yang sangat taktis dan strategis. Dalam perjalanannya mengemban wahyu Allah, Nabi memerlukan suatu strategi yang berbeda. Di Makkah, Nabi lebih menekankan penyebaran ajaran tauhid dan perbaikan akhlak. Di Madinah -setelah hijrah- Nabi Muhammad lebih banyak berkonsentrasi untuk melakukan pembinaan hubungan antarumat bergama, pendidikan, sosial, politik, dan ekonomi.

>>

Last But Not The End

Berziarah ke kota Madinah sesungguhnya tidak termasuk dalam rangkaian ibadah haji, tetapi keutamaan kota yang diselimuti cahaya surga itu, tak kalah menarik dan afdhalnya dengan kemuliaan kota Makkah. Maka sejak awal kedatangan smartHAJJ di Kota Cahaya (Madinah Al-Munawwarah) itu, mereka menemukan sesuatu yang berbeda. Baik dari suhu dan iklimnya, maupun kehidupan penduduk asli Madinah yang begitu hangat menyambut setiap tamu yang datang. Kebaikan yang diterima tidak sekedar basa-basi semata, senyuman dan segala prilaku positif yang diberikan pada setiap jemaah haji –memang- adalah watak dan kebiasaan mereka. Intonasi katanya pun terdengar begitu lembut dan pelan. Ketenangan kerap dirasakan setiap kita berada di Masjid yang mendapatkan garansi pahala seribu kali lipat jika beribadah didalamnya. Ada pula perbedaan yang mencolok antara Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, jika di sekitar Masjidil Haram menjulang tinggi menara-menara hotel melebihi tingginya masjid, maka di Nabawi, pemandangan itu tak kan pernah tampak. Karena ketinggian hotel dan menara sekitar Masjid Nabawi tidak boleh melebihi tingginya menara Masjid Nabawi. So, ketinggian bangunan itu lebih merata. Dengan tinggi yang sama-sama tidak melebihi batas yang diperbolehkan. Entah apakah karena Khadimul Kharamian (Pelayan dua tanah suci/kerajaan Saudia) memiliki itikad untuk menghormati rumah sekaligus makam nabi yang persis berada disamping depan Masjid Nabawi.

>>

Amazing Haram, Peacefull Nabawi (Part II)

Catatan Perjalanan smartHAJJ Cordova 2006

Setelah rombongan jamaah berkumpul dan waktu terus bergulir, akhirnya sekitar pukul 09.30 waktu KSA, kami bergerak menuju masjid Nabawi…Masjidnya Rasulullah SAW yang jarak tempuhnya kurang lebih 100 meter dari hotel. Dinginnya udara serta angin pagi kota Madinah yang sempat membuat hidung saya mengeluarkan darah segar sama sekali tidak mengurangi niat saya untuk dapat segera melihat serta merasakan secara langsung atmosfer kedamaian ketika berada di kota Madinah umumnya terlebih lagi masjid Nabawi khususnya.

>>

Amazing Haram, Peacefull Nabawi (Part I)

Catatan Perjalanan smartHAJJ Cordova 2006

“ Saat ku tiba di kota Mekkah hati ini bergetar…teringat segala keagunganmu Nabi Ibrahim yang mulia…Saat ku tiba di kota madinah air mataku jatuh terkenang segala perjuanganmu Rasulullah junjunganku…” (Sepenggal lyric lagu Antara Mekkah dan Madinah dari SNADA)

Sebentar lagi ayah, ibu, kakak dan adik serta seluruh saudara-saudari jamaah smartHAJJ PT.Cordova Abila Travel akan menjadi tamu yang begitu mulia di hadapan Allah SWT untuk menuntaskan rukun Islam dan insya Allah menjadi umat muslim yang sempurna, yakni menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

>>

A Little bit About Hajj

Hari Jum’at depan, insya Allah bagi smartHAJJ Cordova program Arbain sudah bisa melakukan sholat Jum’at di tanah suci. Kota Nabi, Madinah Al-Munawarah menjadi pilihan pertama jemaah Cordova. Ada baiknya dalam kesibukan persiapan haji, kita menelusuri beberapa informasi mengenai keberadaan benda “suci” di pelataran haram. Baiklah kita mulai kupas mengenai Ka’bah, yang terletak di tengah Masjid Al-Haram. Ka’bah secara bahasa bermakna kubus, atau bangunan yang berbentuk segi empat. Ka’bah dibangun pertama kali oleh nabi Ibrahim As. Bahkan menurut beberapa riwayat shahih, sebelumnya ia dibangun oleh malaikat Jibril AS. Ka’bah merupakan bangunan pertama diatas bumi (QS. Ali Imran ayat 96). Saat ini, ka’bah memiliki tinggi 14 M. lebar dinding timur 10,25 M. lebar dinding utara 10,05 M. lebar dinding barat 11,05 M. dan lebar dinding selatan 10,15 M. Ka’bah dengan pesona indahnya ini, sejak dibangun sampai akahir zaman nanti akan menjadi tempat perputaran thawaf. Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Abbas ra. Rasul Bersabda “Sesungguhnya pada setiap hari, Allah SWT menurunkan 120 rahmat disekitar Baitullah. 60 dibagikan untuk orang bertawaf, 40 dibagikan untuk orang yang shalat, dan 20 dibagikan untuk orang-orang yang memandang Baitullah (ka’bah)” (HR. Ibnu Abbas)

>>