<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>CORDOVA Travel Blog &#187; idul fitri</title>
	<atom:link href="http://cordova-travel.com/blog/tag/idul-fitri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cordova-travel.com/blog</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 15:07:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Manusia Tak Bernilai</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2011/09/07/manusia-tak-bernilai/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2011/09/07/manusia-tak-bernilai/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 09:10:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cordova Press</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Risalah]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=2649</guid>
		<description><![CDATA[Saat lebaran kemarin, -tentunya- banyak cerita dari setiap kita. Kisah yang menggambarkan bagaimana ritual kemenangan itu berlaku pada setiap orang yang merayakannya. Bahkan dikampung saya, non-muslim pun ikut merayakan dengan mengunjungi setiap rumah untuk sekedar ‘salaman’ dan membagi-bagi parcel. Pada hari itu, semua saudara dan kerabat saling berbagi rasa, saling membawa makanan, tidak jarang juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat lebaran kemarin, -tentunya- banyak cerita dari setiap kita. Kisah yang menggambarkan bagaimana ritual kemenangan itu berlaku pada setiap orang yang merayakannya. Bahkan dikampung saya, non-muslim pun ikut merayakan dengan mengunjungi setiap rumah untuk sekedar ‘salaman’ dan membagi-bagi parcel. Pada hari itu, semua saudara dan kerabat saling berbagi rasa, saling membawa makanan, tidak jarang juga diantara kita saling membagi amplop untuk anak-anak kecil yang ceria menanti pembagian ‘ampau’ atau sering diistilahkan dengan uang ‘THR’. Berapa lembaran uang baru kerap diburu mereka, dikumpulkan dan dijajakan untuk membeli mainan ala lebaran. Tidak jarang juga yang di-stor-kan pada orang tuanya, sehingga setiap ada yang membagi, si anak langsung memberikan uang itu pada ibunya. Kontan dengan perasaan sedikit malu, si ibu ‘menampung’ uang ‘THR’ anak. Semakin banyak anak, semakin banyak ‘ampau’ gurau ku melihat sekelumit fenomena lebaran setiap tahunnya. Dunia anak memang tidak bisa disamakan dengan kita, terlebih dipaksakan untuk memahami makna Iedul Fitri, sebagai momentum pensucian diri, yang mereka tahu, setiap lebaran banyak makanan, banyak saudara, dan juga banyak uang. Pengertian mereka terhadap lebaran iedul fitri, lambat laun akan berubah setelah mereka beranjak dewasa. </p>
<p>Melihat ‘ritual’ pembagian uang lembaran baru di setiap hari raya, membuat saya ingin mencoba melakukan simulasi ringan mengenai pengenalan diri tepat pada momentum hari suci. Sengaja saya mendatangi anak-anak yang sedang berkumpul usai pembagian ‘amplop’ dari saudara-saudaranya. “Siapa diantara kalian yang mau uang Rp. 100.000!” ujarku sedikit berteriak, kontan semua anak berhenti dari aktifitasnya, yang mayoritasnya sedang menghitung uang pecahan mulai dari Rp. 1000, Rp. 5000, Rp. 10.000 dan Rp. 20.000. dan memasukkannya ke dompet mungil yang sengaja dibelikan ibunya menjelang hari raya. Mendengar tawaran saya, serempak mereka mengacungkan tangan sambil bergaya manis penuh senyum dan harap. Sebelum saya kasihkan uang itu kepada yang beruntung diantara mereka, uang seratus ribu berwarna merah dengan masih baru dan rapi itu saya remas-remas hingga lusuh, sekian detik saya meremasnya hingga benar-benar tak tampak uang baru dari Bank. Kemudian saya kembali bertanya, siapa yang masih mau dengan uang lusuh ini (?) Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan.    </p>
<p>Setelah itu, saya tidak langsung memberikan uang itu. Saya kembali menawarkan siapa yang mau uang ‘merah’ lusuh itu setelah saya injak dan masukkan kedalam tanah yang berlumpur hingga kotor. Namun tetap saja, anak-anak itu mengacungkan jari mereka. Seakan tidak perduli dengan uang yang sudah kotor, berlumpur dan ‘berubah’ warna. Berebut ingin mendapatkan uang yang sudah kotor itu. </p>
<p>Rasanya, dari simulasi ringan itu, kita memiliki pelajaran berharga tentang bagaimana kita mengenal diri kita. Bagaimana sesuatu yang bernilai itu tidak bisa mudah terkurangi hanya karena bentuk fisiknya yang lusuh dan kotor. Uang merah yang kotor itu tetap berharga Rp. 100.000. pun demikian dalam aktivitas hidup kita sehari-hari, sering kita merasa lusuh, kotor, tertekan, terinjak, tidak berarti dan merasa rapuh ketika dihadapi masalah. Kita seringkali merasa tak berguna, tak berharga di mata orang lain, diacuhkan dan kadang tak dipedulikan. Namun sesungguhnya yang terjadi adalah bahwa kita tak akan pernah kehilangan nilai di mata Allah SWT. Bagi-Nya, lusuh, kotor, tertekan, ternoda, selalu ada saat untuk ampunan dan maaf. Kita tetap tak ternilai di mata Allah SWT.</p>
<p>Nilai dari diri kita, tidak timbul dari apa yang kita sandang, atau dari apa yang kita dapat. Semuanya berada dalam jiwa, jika nilai jiwa kita sangat berharga, meski raga dalam kondisi lusuh dan kotor, kita tetap sebagai manusia yang tak bernilai, yang diperebutkan oleh manusia lainnya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2011/09/07/manusia-tak-bernilai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mudik Barokah 1432 H</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2011/08/24/mudik-barokah-1432-h/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2011/08/24/mudik-barokah-1432-h/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 19:25:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cordova Press</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikayat]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=2596</guid>
		<description><![CDATA[Setiap tahun di akhir bulan suci, selalu ada cerita tentang sebuah rasa. Rasa sedih karena harus ditinggal Ramadhan, juga rasa lain yang selalu ada dalam jiwa peraih kemenangan fitri. Begitu cepat waktu bergulir, rasanya baru kemarin cerita tentang mudik barokah 1431 di posting pada smartBLOG ini, kini kembali ‘pesta’ tahunan itu menjadi pembahasan yang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap tahun di akhir bulan suci, selalu ada cerita tentang sebuah rasa. Rasa sedih karena harus ditinggal Ramadhan, juga rasa lain yang selalu ada dalam jiwa peraih kemenangan fitri. Begitu cepat waktu bergulir, rasanya baru kemarin cerita tentang mudik barokah 1431 di <em>posting</em> pada smartBLOG ini, kini kembali ‘pesta’ tahunan itu menjadi pembahasan yang yang tak akan pernah basi hingga dua pekan ke-depan. Entah sejak kapan aktivitas ‘mudik’ lebaran ini berlangsung, yang jelas setiap orang memiliki catatan rasa dalam perjalanan mudik. Terlebih bagi mereka yang menjadikan mudik sebagai jalan silaturahmi bersama keluarga di kampungnya. Pulang kampung menjadi sesuatu yang ‘sakral’ bagi mereka yang jarang bertemu dengan sanak keluarga. Tak peduli harus berjubel memesan tiket, berdesak dengan ribuan pemudik lainnya, dan bercengkrama dengan kondisi macet yang membosankan. Semuanya menjadi aroma perjalanan yang penuh cita demi menghirup udara tanah leluhurnya. Bukan hanya itu, semua perbekalan dikumpulkan untuk berbagi saat tiba di kampungnya nanti. Bagi orang desa yang mencari nafkah di ibukota, banyak cerita yang terekam dalam benaknya untuk diceritakan pada handai taulan tentang kehidupan kota yang penuh dengan dinamika.</p>
<p>Bagi sebagian orang, semangat mudik menjadi salahsatu <em>‘pendistribusian’</em> rezeki untuk saling berbagi. Jauh-jauh hari, dengan niatan tulus, sebagian pendapatannya ia tukarkan dengan lembaran uang untuk dibagikan. Tidak hanya lembaran uang sepuluh ribu rupiah, lima ribu hingga seribuan menjadi suatu nilai yang sempurna di hari yang fitri. Merasakan ‘keringat’ kota, meski semua tahu bahwa uang itu diperoleh dari tunjangan hari raya yang ia dapatkan. Ada semacam perputaran ‘rezeki’ yang berdampak berkah pada setiap lini. Baik orang ‘kota’ maupun orang ‘desa’ mendapatkan keberkahan aktivitas mudik. </p>
<p>Dalam kegiatan mudik, -terlepas- dari aspek negatifnya berupa kemacetan yang luarbiasa. Terdapat keberkahan yang tampak pada rona setiap perangkat mudik. Dari mulai pengguna jasa perjalanan, angkutan jasa perjalanan, penjual BBM, pegawai Jasa Rahardja, penjual asongan, Bapak polisi, bengkel-bengkel kendaraan, rumah makan di Rest Area, bahkan –mungkin- juga para pengamen jalanan yang ikut merasakan berkahnya kegiatan mudik. Bak air bah yang mengalir pada tempat yang lebih rendah, rezeki ‘orang kota’ saat itu mengalir deras pada ‘orang desa’. Pada saat itu juga, sesungguhnya tiada perbedaan lagi antara orang kota dan desa. Karena tidak ada penamaan orang kota atau orang desa, jika salah-satunya tidak ada. </p>
<p>Menjelang keberangkatan Mudik lebaran, biasanya kami (Cordova team) mendapat pesan untuk selalu memberikan <em>report</em> tentang kegiatan selama berada di kampung halaman. Saling <em>posting</em> photo aktivitas mudik dengan ragam ceritanya. Selain itu, kami diajarkan untuk tidak banyak menawar jika membeli sesuatu pada saat hari yang fitri. Tentunya menjaga keberkahan yang dirasakan semua orang. Biarlah pada hari fitri itu, para penjual mendapatkan pula keberkahan yang mereka raih melebihi harga pada hari biasanya.</p>
<p>Bagi sahabat dan saudara kami yang besok dan hari-hari berikutnya akan berangkat mudik, hati-hati dijalan, sampaikan salam pada keluarga di kampung halaman. Sampai jumpa kembali di <em>Headquarter</em> dengan semangat baru. <em>Ma’assalamah Ilal Liqo&#8230;Mudik Barokah!</em>   </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2011/08/24/mudik-barokah-1432-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CORDOVA LEBARAN</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2009/09/15/cordova-lebaran/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2009/09/15/cordova-lebaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 22:57:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BLOG Team</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=1201</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="cordova lebaran" src="http://www.cordova-travel.com/blog/img/cordovalebaran.jpg" alt="" width="550" height="600" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2009/09/15/cordova-lebaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cordova Gotcha &#8217;08</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2008/10/10/cordova-gotcha-08/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2008/10/10/cordova-gotcha-08/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 11:19:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BLOG Team</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Galeri]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[Rest Area KM. 57, Karawang Ramadhan 1429 H.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rest Area KM. 57, Karawang<br />
Ramadhan 1429 H.</p>
<p><strong>
<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-29-493">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-539" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/gotcha01.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_29" >
								<img title="gotcha01.jpg" alt="gotcha01.jpg" src="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/thumbs/thumbs_gotcha01.jpg" width="92" height="65" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-538" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/gotcha02.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_29" >
								<img title="gotcha02.jpg" alt="gotcha02.jpg" src="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/thumbs/thumbs_gotcha02.jpg" width="92" height="65" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-537" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/gotcha03.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_29" >
								<img title="gotcha03.jpg" alt="gotcha03.jpg" src="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/thumbs/thumbs_gotcha03.jpg" width="92" height="65" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-536" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/gotcha04.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_29" >
								<img title="gotcha04.jpg" alt="gotcha04.jpg" src="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/thumbs/thumbs_gotcha04.jpg" width="92" height="65" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-535" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/gotcha05.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_29" >
								<img title="gotcha05.jpg" alt="gotcha05.jpg" src="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/thumbs/thumbs_gotcha05.jpg" width="92" height="65" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-534" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/gotcha06.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_29" >
								<img title="gotcha06.jpg" alt="gotcha06.jpg" src="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/thumbs/thumbs_gotcha06.jpg" width="92" height="65" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-533" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/gotcha07.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_29" >
								<img title="gotcha07.jpg" alt="gotcha07.jpg" src="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/thumbs/thumbs_gotcha07.jpg" width="92" height="65" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-532" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/gotcha08.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_29" >
								<img title="gotcha08.jpg" alt="gotcha08.jpg" src="http://cordova-travel.com/blog/wp-content/gallery/cordova-gotcha-08/thumbs/thumbs_gotcha08.jpg" width="92" height="65" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class="ngg-clear"></div> 	
</div>

</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2008/10/10/cordova-gotcha-08/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ijab Dibayar Lunas</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2008/09/25/ijab-dibayar-lunas/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2008/09/25/ijab-dibayar-lunas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 14:45:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cordova Press</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/2008/09/25/ijab-dibayar-lunas/</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang hari raya Iâ€™edul Fitri, segala sektor kehidupan masyarakat bermayoritas muslim disibukkan oleh kegiatan yang tertuju pada hari suci. Tidak hanya arus mudik yang mengalami kepadatan, arus komunikasi pun saling berebut menuju jaringan operator yang kian hari semakin bergelombang. Kendati demikian, tetap saja niatan yang telah terpatri dalam diri tak pernah berhenti menghadapi kondisi seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang hari raya Iâ€™edul Fitri, segala sektor kehidupan masyarakat bermayoritas muslim disibukkan oleh kegiatan yang tertuju pada hari suci. Tidak hanya arus mudik yang mengalami kepadatan, arus komunikasi pun saling berebut menuju jaringan operator yang kian hari semakin bergelombang. Kendati demikian, tetap saja niatan yang telah terpatri dalam diri tak pernah berhenti menghadapi kondisi seperti itu. Meski perjalanan akan menuai kemacetan yang luar biasa, namun pemudik tetap melakukan perjalanan, tentunya dengan satu tujuan, bisa berkumpul bersama sanak keluarga. Begitu pula dengan jaringan komunikasi yang tak pernah berhenti meski diatas sana arus gelombang saling berebut menuju tujuannya masing-masing. Demikian sekilas potret kehidupan yang mengajarkan kita untuk berkomitmen dalam melakukan sesuatu meski kendala menghadang.<span id="more-243"></span> </p>
<p>Mungkin tak pernah terpikir oleh seorang jutawan, jika ia menderita sakit, untuk menunda-nunda berobat karena terpikir biaya yang mahal atau waktu kesibukan yang membelenggu dirinya. Ia akan berpikir â€œPokoknyaâ€, â€œYang Pentingâ€, saya bisa sehat dan kembali beraktifitas. Begitu pula dengan seorang tukang becak misalnya, meski diguyur derasnya hujan, dihembus panasnya polusi dan didera kelelahan, ia tak akan pernah berpikir untuk kembali kerumahnya, mungkin yang terpikir dalam benaknya adalah kalimat â€œPokoknyaâ€, â€œYang Pentingâ€, anak dan istri saya bisa makan dan tidur nyenyak. Subhanallahâ€¦komitmen hidup yang patut di contoh dalam meneruskan perjuangan, walau kondisi terpahit sekalipun menghadang, mereka tak pernah kalah untuk tidak mundur.</p>
<p>Begitulah sebenarnya pesan-pesan nubuwah yang terjadi dalam keseharian kita. Jika kita mengambil garis merah diantara cerita diatas untuk di-implementasikan dalam ruang lingkup ibadah wajib (meski sesungguhnya kasus diatas merupakan suatu ibadah), seperti menyegerakan panggilan Allah SWT untuk melakukan ibadah haji adalah suatu yang patut ditiru. Betapa tidak, ketika niat terpatri, bekal teratasi, maka (seharusnya) tak ada lagi urungan jiwa yang menghalangi niat suci ini. Seperti tukang becak yang menggenggam erat kalimat â€œPokoknyaâ€, dapat juga ditiru oleh seorang muslim â€œMampuâ€ untuk menyatakan â€œYang penting saya berangkat ke tanah suciâ€ masuk dan berbaur bersama lautan cinta Allah SWT. Berapa pun yang harus saya keluarkan. Karena sebenarnya harta yang berlimpah adalah amanat Allah, yang mungkin sebagai jalan agar dapat melaksanakan ibadah haji.</p>
<p>Berapa banyak orang muslim yang hartanya berlimpah ruah, meski dalam jiwanya terdapat buncahan niat untuk berhaji, namun selalu terhalangi oleh proyek-proyek duniawi. Seakan merasa confident untuk masih bisa bernafas dikemudian hari, sehingga dengan mudah menyatakan ketidakmampuannya. So, jangan takut untuk menentukan pilihan hidup. Tak ada ceritanya seseorang berharta akan jatuh bangkrut setelah melakukan ibadah haji. Malah sebaliknya, ia akan mendapatkan keridlaan dan keberkahan yang berlipat-lipat dalam mengarungi kehidupan duniawi dan ukhrawi. Yaa Rabb!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2008/09/25/ijab-dibayar-lunas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>P U L A N G</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2008/09/22/p-u-l-a-n-g/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2008/09/22/p-u-l-a-n-g/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 08:02:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>CordovaTeam1</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/2008/09/22/p-u-l-a-n-g/</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan menuju penghujungnya, dan Syawal pun menjelang. Hiruk pikuk kita mulai disibukkan dengan persiapan â€œMudikâ€. Kita yang mencari penghidupan di perantauan tentunya dengan segenap hati mempersiapkan segala sesuatunya untuk pulang ke kampung halaman. Kebahagian tiada terkira manakala pada hari suci Idul Fitri dapat merayakannya bersama keluarga. Terasalah sebuah puncak kebahagiaan. Ayah, Ibu, saudara, sanak-kerabat, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ramadhan menuju penghujungnya, dan Syawal pun menjelang. Hiruk pikuk kita mulai disibukkan dengan persiapan â€œMudikâ€. Kita yang mencari penghidupan di perantauan tentunya dengan segenap hati mempersiapkan segala sesuatunya untuk pulang ke kampung halaman. Kebahagian tiada terkira manakala pada hari suci Idul Fitri dapat merayakannya bersama keluarga. Terasalah sebuah puncak kebahagiaan. Ayah, Ibu, saudara, sanak-kerabat, yang selama ini tiada bersua, kini dapat saling berpelukan dan melebur dosa. Kembalilah kita semua dalam keadaan suci, bagai terlahir kembali.<span id="more-238"></span> </p>
<p>Mudik memang selalu menjadi fenomena tersendiri di hari raya Idul Fitri atau Lebaran. Kita yang mudik tentunya berusaha melakukan berbagai persiapan jauh-jauh hari sebelumnya. Kita berusaha benar memanfaatkan waktu yang ada setahun sekali ini.</p>
<p>Bekal, baik finansial maupun material benar-benar diperhitungkan. Uang hasil kerja yang telah dengan gigih kita upayakan dan kita tabung selama setahun. Bekal makanan dan minuman untuk selama di perjalanan. Berbagai buah tangan sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Juga tak lupa perlengkapan lebaran yang semua serba baru. Alat transportasi yang akan digunakan juga menjadi perhitungan tersendiri. Menjelang mudik, orang rela berdiri dalam antrian panjang untuk mendapatkan tiket di loket-loket stasiun, terminal, pelabuhan maupun bandara. Hingga pada saatnya keberangkatan pun rela berdesak-desakan. Apalagi bagi yang tidak mendapatkan tiket tempat duduk, berdesakan, sikut kiri-sikut kanan, berjuang berebut tempat duduk yang memang terbatas. Atau ada pula yang akhirnya pasrah dengan membeli tiket pada calo walau harganya telah begitu dilambungkan tinggi. Belum lagi bila ternyata jadwal keberangkatan kendaraan umum kita ternyata mengalami delayed atau keterlambatan, kita harus merelakan waktu kita untuk sabar menunggu. Bagi yang membawa kendaraan sendiri, rela berjalan pelan dalam kemacetan karena banyaknya kendaraan tidak sesuai dengan kapasitas jalan. Bahkan mungkin juga di tengah jalan kendaraan kita mogok, lagi-lagi kita harus mengeluarkan biaya untuk perbaikan dan tentunya extra kesabaran untuk menambah waktu sampainya ke tujuan. Rasanya apapun akan dilakukan demi satu kata, pulang.</p>
<p>Demikianlah, begitu seriusnya kita mempersiapkan â€™bekalâ€™ untuk sebuah â€™kepulanganâ€™ demi menemui orang-orang yang kita cinta dan rindui.</p>
<p>Lebih dalam lagi mari kita renungi. Ada saatnya nanti kita semua akan â€™pulangâ€™, kembali kepada Sang Maha Memiliki kehidupan ini. Mati, adalah penghujung dari perjalanan panjang hidup kita nanti. Kehidupan panjang yang kita lalui sekarang ini adalah masa kita mempersiapkan bekal untuk kepulangan kita. Pulang ke kampung akhirat. â€Setiap yang berjiwa pasti akan matiâ€ (QS Ali Imran 185). Setiap kita telah memegang tiket kepulangan kita. Hanya saja Allah-lah Yang Kuasa akan menentukan kapan jadwal keberangkatan kita. Kini kita dalam antrian panjang menuju gerbang keberangkatan. Jika saatnya tiba, tiada mampu kita menunda, tiada kata delayed, tanpa ada kemacetan, tidak pakai acara mogok, maka berangkatlah kita.</p>
<p>Untuk sebuah kepulangan mudik ke kampung halaman saja kita begitu gigih mengupayakannya. Bagaimana dengan persiapan kita menghadapi kepulangan kita ke kampung akhirat ? Telah cukupkah bekal kita ?</p>
<p>Suatu saat dalam sebuah majelis ada sahabat dari kaum Anshar bertanya kepada RasulullahSAW, &#8220;Wahai Nabi Allah, siapakah orang yang paling cerdik dan terkuat pendiriannya?&#8221;. Kemudian beliau menjawab, &#8220;Orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling banyak persiapan untuk menghadapi kematian. Mereka itulah orang yang paling cerdik dimana mereka berangkat dengan kemuliaan dunia dan kehormatan akhiratâ€ (HR Thabrani)</p>
<p>Dalam sepekan di pertengahan bulan Ramadhan ini pula, Cordova kehilangan dua Alumni Jamaah Umrah yang berpulang ke Rahmatullah. Yang pertama adalah Bapak Rudy Prajitno, alumni smartUMRAH 7 Juni 2008, yang wafat pada tanggal 15 September 2008. Dan yang kedua adalah Bapak Djurzan Hamid, alumni smartUMRAH 11 April 2007, yang wafat pada tanggal 17 September 2008. Kita doakan semoga arwah Bapak Rudi dan Bapak Djurzan diterima disisi Allah SWT, diampuni segala dosanya dan diterima segala amal ibadahnya. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa dikaruniai ketabahan dan kesabaran.</p>
<p>Maka, marilah kita yang masih dikarunia kehidupan dan umur panjang sampai saat ini, mari bermuhasabah .. seriuskah kita mempersiapkan â€™bekalâ€™ untuk sebuah â€™kepulanganâ€™ menemui Dzat yang kita cinta dan rindui ?<br />
Wallahuâ€™alam bishshawab&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2008/09/22/p-u-l-a-n-g/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

