Posts Tagged ‘hajj guard’

Ready to Serve

Biasanya setelah libur lebaran, hari pertama kerja menjadi sedikit lebih longgar, entahlah apa karena merasa baru saja bermaaf-maafan, hingga berpikir tidak mungkin diberi punishment jika mangkir pada awal-awal hari kerja pasca lebaran. Atau bisa saja, itu adalah kemurahan para pimpinan perusahaan yang memberikan ruang fresh bagi karyawannya untuk berbenah menghadapi kerja yang normal. Namun yang perlu diwaspadai, jika kondisi seperti itu terlahir dari mentalitas kita [>>>]

Kebersamaan Hati

Satu diantara bagian yang membuat kita nyaman dalam suatu perjalanan adalah pelayanan yang istimewa. Menyatu, berbaur dan tak segan menceritakan seputar yang terjadi di sebuah destinasi yang belum kita tahu secara detail. Pelayan yang sigap dan cerdas akan sangat memperhatikan situasi dan kondisi agar perjalanan kita benar-benar terasa menyenangkan. Tidak hanya dalam kondisi stabil, saat perjalanan terancam pahit pun, ia kan utarakan dengan proporsional tanpa rasa panik. Terlebih jika perjalanan itu menuju Tanah Suci, tentunya para pelayan menjadi sangat dominan untuk membimbing dan mengarahkan jemaah agar tujuan sucinya tergapai dengan sempurna. Karenanya, kerjasama antara pelayan dan jemaah guna mencapai tujuan mulia itu menjadi hal yang sangat urgent. Mindset bahwa sebagai tamu adalah raja dalam mendapatkan pelayanan sempurna adalah benar, tetapi proses mendapatkan pangkat tersebut di tanah suci harus melalui tahapan “Kesucian hati”. Artinya, sejak awal menuju titik suci Baitullah, kita merancang hati agar menjadikan pelayan (muthawif) sebagai partner menggapai kemabruran. Menaklukan sisi keegoisan diri, menjawab jujur “Who I am” dihadapan Rabbi, dan menanggalkan segala pernik jabatan duniawi. Sehingga proses menuju kemabruran akan lebih mudah tergapai. Tak aneh jika seorang raja Arab menyatakan dirinya sebagai pelayan dua kota suci, ini menandakan bahwa melayani tamu agung adalah sebuah tugas mulia. [>>>]

Thanks to Allah

Bersyukur adalah suatu yang bukan hanya wajib diutarakan manusia, tetapi juga harus menjadi sebuah kebutuhan utama, laiknya aktifitas makan dan minum tuk membugarkan tubuh dalam beraktifitas. Karena setiap partikel yang mengalir dalam aliran darah tubuh manusia, adalah sesuatu yang tak bisa terbantahkan oleh dunia medis manapun, bahwa ada kekuatan besar yang mengendalikan semua peredaran itu. Tak ada celah sedikitpun tuk membanggakan diri, karena manusia dapat berdiri tegak sekalipun adalah unsur dari kekuatan Maha Dahsyat yang mengalir pada otot-otot penegak tubuh -yang tentunya- melalui kendali yang sangat detail dan sempurna. Tak ayal, dalam salah satu surat-Nya, Allah SWT menegaskan manusia dengan sebuah pertanyaan yang tak perlu dijawab, namun patut direnungkan. “Karunia-Ku mana lagi yang akan kau dustakan (?)”, berulang-ulang Allah memberikan peringatan kepada manusia agar selalu mensyukuri apa yang telah diberikan kepadanya. Meski, sesungguhnya kemuliaan dan kebesaran Allah tak kan pernah redup jika seluruh makhluk di jagad raya tak ada satupun yang bersyukur. Sebaliknya Allah mengajari manusia untuk pandai bersyukur, karena efek dari rasa syukur itu akan dirasakan kembali oleh makhluk-Nya. Pun demikian yang dirasa oleh Cordova, rasa syukur yang tiada tara karena diberikan kesempatan menjadi bagian dari pelayan tamu-tamu-Nya. [>>>]