Haji Juga “Pahlawan”

Terlepas dari polemik tentang penyantuman kata Pahlawan Bangsa untuk Almarhum KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur), mantan Presiden RI ke-4 sekaligus mantan Ketua Dewan Syuro Nahdhatul Ulama, saya –secara subjektif- menilai bahwa beliau memiliki peranan besar guna menciptakan demokratis religius di Ranah Tercinta Indonesia, meski sesungguhnya terdapat kontroversi pada pemahaman dan arah pikirannya. Saya tidak ingin terjebak dengan memihak atau tidak, pro atau kontra tentang penyantuman Gus Dur sebagai pahlawan bangsa. Saya hanya ingin mengarisbawahi betapa penamaan “Pahlawan” ternyata begitu rumit dengan segala aksesoris birokrasi yang –tidak mustahil- akan menimbulkan perselisihan antara manusia yang pro dan kontra. Padahal saya sangat yakin, saat ini Gus Dur tidak memperdulikan penyantuman pahlawan bangsa atau tidak, sejatinya –secara attitude- perselisihan yang bergejolak itu diredam terlebih dahulu, lebih baik kita fokus untuk lebih memberikan support doa bagi almarhum dan keluarga yang ditinggal. Karena memang hanya itu yang dibutuhkan oleh almarhum di alam sana. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan adalah orang yang menonjol keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani, atau lebih di spesifikkan, pahlawan bangsa adalah warga Negara RI yang berjasa membela bangsa dan Negara, dan tidak ternoda dalam track-record hidupnya.

>>

Motivasi Berhaji

Dalam kehidupan sehari-hari fluktuasi motivasi seseorang selalu berubah-ubah bak gelombang dilautan, kadang pasang dan kadang surut. Suasana hati biasanya mempengaruhi motivasi seseorang. Tidak dipungkiri kadang saat suasana tidak menyenangkan atau ada saat-saat tertentu yang menumbuhkan perasaan sedih atau kecewa sehingga menyalahkan diri sendiri. Tetapi jika tidak diri sendiri yang mencintai, apalagi orang lain (?) Dan ternyata mencintai diri sendiri akan menumbuhkan kekuatan motivasi yang dahsyat. Menghargai diri dengan sepantasnya akan lebih baik dan menumbuhkan rasa kepercayaan diri serta menumbuhkan semangat luar biasa untuk bisa maju. Seperti kata ahli biologi tentang sifat Anomali air. Air akan meningkat suhunya bila dipanasi terus sampai pada level titik didih air atau anomali air. Saat sudah melewati titik didih, suhu air tersebut kembali akan turun kemudian stabil. Demikian juga saat kita ingin membangun motivasi dalam diri, ternyata –menurut ahli- Perlu pemanasan terus menerus, sampai pada saat seseorang sudah mencapai kematangan pribadi. Pada saat mencapai kematangan mental tersebut lah seseorang akan lebih stabil dalam mensikapi sesuatu.

>>

New Year, New Spirit

Setiap orang memiliki resolusi berbeda disetiap penghujung tahun, kembali menyadarkan itikad untuk menatap awal tahun yang memiliki dimensi luas tuk memperbaiki setiap jengkal khilaf dimasa lalu. Ingin lebih baik dari hari kemarin, ingin lebih sukses dari tahun lalu, dan seterusnya. Tetapi kita sering tak menyadari, bahwa keinginan yang terkotak menjadi sebuah harapan itu mustahil terwujud ketika semangat mewujudkan harapan itu tergadai. Yah, orang bilang manusia pandai menciptakan suatu impian, namun pandai pula menghancurkannya. “Menunda” adalah mesin penghancur bangunan mimpi yang terangkai. Setiap orang bisa dan mampu membangun impian, dan setiap orang pula bisa meluluh-lantakkan impian itu. Caranya satu, hanya dengan menunda dan menunda. Momentum peralihan tahun –tanpa mengikuti perayaan khusus tahun baru- dapat dijadikan sebagai awal dari semangat membangun kebaikan diri, keluarga dan lingkungan kerja. Semangat baru di tahun yang baru adalah suatu momentum tuk meraih impian dan pencapaian kita di hari yang kan datang. Semua orang memiliki impian, tetapi tidak semua orang memiliki impian suci ditahun baru. Jika selama ini, pencapaian duniawi kita telah tercukupi, bahkan melebihi dari standarisasi hidup serba ada, maka akankah kita hancurkan impian setiap muslim tuk menunaikan ibadah suci di tahun ini (?), bukankah sudah cukup jasmani kita melangkah mengeruk kenikmatan duniawi, maka dengan semangat baru mari kita hampiri tahun baru ini dengan niatan berhaji ke tanah suci.

>>

Let’s Get Mabrur From Beginning

Setiap tujuan dari sebuah karya –tentunya- memiliki proses yang menghimpun setiap partikel itu menjadi keutuhan yang sempurna. Mulai dari tahap awal, proses aksi hingga follow-up dari suatu aktivitas product menjadi kesinambungan bak mata rantai. Jika satu saja mata terputus, maka rantai-rantai yang saling mengikat itu kan terputus bahkan tercerai-berai. Karenanya, dalam menjaga suatu tujuan mulia, sedini mungkin harus diperhatikan dengan seksama. Pun demikian dengan mengharapkan sebuah predikat Mabrur usai menjalankan haji, maka penanganan tuk menggapainya, harus dimulai jauh-jauh hari. Atau dalam kaidah fikih, kita sering mendengar ungkapan qabla, inda, dan ba’da (before, present dan after). Sebelum, sedang dan setelah. Sehingga cita-cita Mabrur menjadi pedoman awal tuk menggapainya, baik sebelum melaksanakan haji, saat melaksanakan haji dan setelah melaksanakan haji. Integritas karakter “mabrur” itulah yang berubah menjadi kesatuan tuk mewujudkan predikat Mabrur sesungguhnya dari Allah SWT. Pembentukan karakter haji tidak bisa diwujudkan dengan sangat instant saat di Tanah Suci, semuanya harus melalui proses mulai dari niatan awal menuju Baitullah tuk berhaji. Setelah itu, barulah menciptakan karakter baru menjadi sosok manusia yang terlahir kembali menuju aktivitas hidupnya di negeri sendiri. Dengan demikian, “predikat” Mabrur itu akan sangat terasa bukan hanya oleh pribadi-pribadinya, tetapi menjadi semacam penabur kemabruran bagi masyarakat luas.

>>

Look Inside Cordova Product (I)

Dalam prosesi jual beli, Rasulullah SAW, kerap memberikan contoh untuk selalu memberikan hal yang terbaik pada konsumen. Bukan hanya kejujuran, tetapi kualitas product yang ditawarkan juga tidak mengecewakan terlebih mendustai orang (pembeli). Konsep “dagang” seperti inilah yang Cordova canangkan. Transparansi dalam setiap product membuat jemaah yakin dan tenang saat menginjakkan kaki di Tanah Suci. Perhitungan-perhitungan angka menilai biaya yang tinggi, sesungguhnya adalah sebuah keseimbangan dalam pemberian fasilitas yang eksklusif. Mudah sebenarnya mengetahui harga sebuah product, pertama adalah apa hotel yang akan dipakai disana, tidak cukup dengan itu, kapan hotel itu akan dipakai (?) Apa saat low season atau peak season (?) Siapapun –mungkin- paham kapan low season dan peak season terjadi saat berhaji. Meski menggunakan hotel paling eksklusif sekelas Intercont Dar-Tawhid Makkah, tetapi jika dipakai saat low season, maka dipastikan harganya jauh lebih rendah ketimbang saat berada di peak season. Sederhananya, peak season itu adalah waktu ketika mendekati hari-hari haji (Tarwiyyah). Dari tanggal 5 Dzulhijjah sesungguhnya harga semua hotel sudah memasuki grafik yang naik, dan terus meninggi hingga puncak haji. Tanggal 8, 9, 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah adalah puncak dari peak season. Dan kembali akan menurun setelah pelaksanaan haji atau tanggal 14 Dzulhijjah hingga seterusnya. Sehingga tarif setiap hotel terlebih yang berada dalam “Ring 1” mengalami lonjakan yang berlipat.

>>

Stay Cool With Mabrur (Two)

Be an Energy Giver not an Energy Absorber

Seperti banyak pepatah yang mengatakan, jika kita banyak bergaul dengan penjual parfum, maka –sedikit banyak- tubuh kita kan terasa wangi dan mengeluarkan aroma yang harum. Tapi entahlah, apakah karena energy positif yang mengalirinya atau karena seringnya kita “Bergaul”, hingga lambat laun mindset dan pandangan kita yang menyerap energy tukang parfum tersebut. Jelasnya –menurut saya- semuanya ada dalam diri kita, kemauan, keinginan dan kebutuhan untuk menyerap aroma wangi tersebut. karena bisa saja orang yang berada dalam lingkaran positif, atau yang selalu gaul dengan tukang parfum sekalipun, mulut dan badannya masih saja mengeluarkan bau tak sedap. Tidak percaya (?) Bukankah Abdullah bin Ubay (Bapak orang munafik) hidup berdampingan dengan pesona Islam (?), ia berada dalam dekapan cinta Rasulullah di Madinah Munawarah, tetapi ternyata harumnya hanya tampak dalam hal kasat saja, ia kerap mengeluarkan aroma tak sedap justru saat berada dalam mayoritas muslim taat. Akhirnya sah saja jika saya –bukan menolak- tetapi menambahkan pepatah diatas, bahwa dengan hati kita bisa tertular oleh energy positive dari si tukang parfum diatas. Saya bukan sedang meng-analogikan tukang parfum dengan Bapak dan guru yang saya ungkapkan pada artikel sebelumnya, tetapi saya lebih melihat bagaimana esensi dan motivasi menjadi orang seperti dia, meski untuk mencontohi hal sepele-nya saja, memerlukan pengorbanan yang kuat dalam diri. Tuk mendapat ide-ide kreatif yang cemerlang.

>>

Stay Cool With Mabrur (One)

Malam sebelum penjemputan smartHAJJ Cordova, Sabtu (5/12) lalu, saya sengaja ingin mendapatkan suatu wejangan khusus, yah wejangan berupa rangkaian ilmu yang selalu saya dapatkan jika berada disampingnya. Jujur, saya kerap mendapatkan ilmu darinya bisa lebih dari berapa mata kuliah selama satu semester dalam satu jam. Bahkan –tidak lebay- yang saya dapatkan tidak terdapat di bangku-bangku kuliah. Karena memang yang dipaparkannya tidak hanya teoritis, tetapi lebih sering dengan ide-ide segar yang awalnya begitu “liar” dan “Berani”. Saya tidak perlu menjelaskan identitas bapak sekaligus guru saya itu disini, yang jelas setiap kata yang keluar dan setiap pikir yang terlontar, menjadikan diri ini lebih termotivasi untuk bergerak, berbuat dan berjuang tuk melangkah dua-tiga tahap lebih depan dalam menggapai kreativitas diri. Intonasi khas yang membuat setiap orang mendengarkannya kadang terlahap dengan buah pikir yang aduhai. Enggan beranjak, terlebih lelap dalam buaian mimpi. Karena, memang kita kan terbawa oleh alur pikir yang begitu fantastis. Berbeda dengan Romy Rafael, master hypnotist, yang mengajak lawan bincangnya masuk ke-alam bawah sadar, beliau malah mengajak kita untuk bersama meraih mimpi dengan spirit yang membaja. Membumikan segala teori yang ada dilangit, dan mengajak berjuang tanpa mental yang “cemen”.

>>