No Pain No Gain

Rasanya pepatah bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian masih relevan untuk dijadikan pedoman hidup. Meski –tentunya- perlu penjabaran yang lebih luas dari sekedar “Bersakit-sakit dahulu”, its mean; Bekerja keras, total dan fokus. Saya masih ingat pada saat masih kecil, seringkali orangtua memberikan nasihat bahwa nanti setelah besar jangan malas dan bekerjalah dengan baik. Jika ingin memiliki kehidupan yang layak, bekerja keraslah bahkan sekeras yang kita bisa lakukan. [>>>]

Hindari Haji Non Kuota!

Menelusuri Dampak Meningkatnya Waiting list Haji Masalah kuota haji memang menarik diperbincangkan. Banyaknya daftar antrian haji, menjadikan kuota haji selalu diperebutkan. Bahkan, tak jarang terdengar istilah jual beli kuota haji antar lembaga dan instansi penyelenggara. Namun biarlah, kita simpan dulu masalah yang konon sudah ‘mengakar’ itu, kita kembali pada bahasan mengenai penelusuran dampak dari meningkatnya waiting list haji, baik jemaah regular maupun haji plus. Sesungguhnya kuota [>>>]

Imam Muda Bergaya ‘Nge-Pop’

Dunia Islam LOS ANGELES - Jangan bayangkan dia mengenakan gamis, memelihara cambang panjang, dan berkopiah. Alih-alih berpidato dengan suara lantang mengkritik mereka yang tak berperilaku Islami, imam tinggi berambut pirang ini memulai khotbahnya dengan menceritakan kemenangan klub basket Los Angeles Lakers malam sebelumnya, disambung keterlibatan gengnya saat remaja, sebuah opera sabun TV, baru diakhiri dengan cerita tentang Hari Kiamat. Suhaib Webb, nama imam itu, juga tak [>>>]

Allah is Calling

Setiap melihat, mendengar dan membaca tentang kematian, rasanya saya dan mungkin kebanyakan orang, malas untuk mendalaminya secara detail. Lebih baik merencanakan sesuatu yang indah selagi ruh masih menemani raga. Selagi kesempatan masih terasa untuk dinikmati. Padahal mengingat proses kematian itu sendiri adalah perintah dari Allah dan Rasul-Nya, selain untuk men-drive langkah kaki, juga sebagai planning for the next journey yang tiada akhir, alias never ending. [>>>]

Segera Raih Mabrur!

Rasanya banyak calon jamaah haji yang belum mengetahui bagaimana mekanisme dalam memperoleh porsi haji khusus, asumsi pada umumnya calon jamaah mengira pendaftaran haji khusus 2012 akan dibuka setelah kepulangan haji tahun 2011, padahal kenyataannya tidak demikian. Mekanisme pendaftaran haji khusus yang diterapkan oleh Kementerian Agama RI adalah membuka pendaftaran haji setiap hari kerja yang dilakukan oleh Travel atau Biro Perjalanan sebagai penyelenggara Ibadah Haji Khusus pada Bank -Bank yang telah online dengan Sistem Komputersasi Haji Terpadu (SisKoHat) milik Kementerian Agama RI. Dengan demikian quota haji khusus tahun 2012 dan bahkan untuk tahun selanjutnya semakin hari semakin terisi, sehingga bisa saja –jika tidak ada penambahan kuota- pada pertengahan tahun ini porsi haji 2012 akan habis. Ibadah haji adalah ibadah yang tergolong banyak mengeluarkan harta. Tidak semua manusia muslim di belahan bumi dapat melaksanakannya. Meski demikian, setiap tahun jumlah haji yang berangkat ke Tanah Suci semakin membludak. Di Indonesia misalnya, jemaah terbesar di dunia dalam memberangkatkan jemaah haji, setiap tahunnya harus mengalami kendala kuota. Karena –memang- jumlahnya selalu tidak cukup menutupi animo besar dari muslim Indonesia tuk berhaji. [>>>]

Detik-detik Terakhir Rasulullah SAW

Seri Nubuwah: 05 Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.” [>>>]

Ketika Hidup Tanpa Harap

Jika jiwa ini besar, maka raga tak kan pernah lelah mengikuti kehendaknya. Namun jika jiwa ini kerdil, maka tak ada raga yang mampu melewati batas-batas dirinya. Masih terekam dalam benak saya, ketika awal saya berada di sebuah komunitas yang penuh harap. Di tempat kerja sekaligus “Lab Intelektual” yang penuh dengan mimpi. Berjuta rasa terbang menyelinap pada sel-sel darah yang menghembus pada sebuah harap dan mimpi besar. Menerjang meleburkan pikiran yang kaku, menggebrak tindakan yang layu, dan mengepung jiwa tuk berpikir besar dengan tindakan yang detail. Salah satu yang terus terngiang dalam langkah ini, adalah ‘desakan’ untuk terus memiliki sebuah HARAP dan MIMPI. Yah, tentunya semua harap itu harus terbungkus oleh suatu tindakan riil yang menghasilkan karya, karena kerja tanpa karya sulit tuk menembus suatu harap dan mimpi besar. Yang perlu saya tegaskan lagi, adalah ketika jiwa tak memiliki harap, atau sebuah mimpi yang besar, maka perjalanan ini akan penuh dengan rasa lelah, bosan dan berakhir putus akan asa. Yah, point itulah yang kerap menggerakkan ritme langkah ini. Ketika saya dan keluarga memiliki sebuah keinginan atau mimpi memiliki sebuah rumah asri, yang terdapat paviliun segar, dan halaman teduh dibelakangnya, tempat bermain serta berkumpul keluarga. Tempat merangkai cita dan bersenda gurau sembari menikmati teh hangat di pagi hari, di garasi depan sudah terparkir kendaraan yang siap menghantar anak dan istri berlibur, dan semua keindahan yang terlukis dalam cita dan mimpi. Namun, tentunya saya harus mengubur jauh-jauh mimpi itu, ketika daya pikir dan kerja saya masih terus seperti biasa tanpa daya jangkau yang lebih ‘meledak’. Masih terus merangkak dan berjalan apa adanya tanpa sebuah Harap. [>>>]

Eksekusi Tanpa Visi

Rasanya setiap kita pernah melihat bagaimana angin tornado bergerak menghempaskan segala yang ada disekitarnya. Tanpa arah jelas, angin besar yang menggumpal mirip corong itu merangsek kemana saja angin mengarahkannya, tak ada tujuan akhir hendak kemana angin besar itu kan beranjak. Sehingga kita bisa mengatakan bahwa tornado, puting beliung atau apapun jenis angin itu, selalu bergerak tanpa visi yang jelas, menghantam sekenanya, mengguras seadanya. Demikian gambaran kecil ketika suatu aksi tanpa visi, namun –tentunya- analogi ini tidak akan pernah bisa sama dengan pergerakan manusia yang memiliki kekuatan nalar yang jelas. Lebih sederhananya, saya mencoba menguraikan dengan cerita tiga orang tukang batu yang sedang menyusun batu bata. Tukang batu pertama, ketika ditanya, kamu sedang apa (?) Dia menjawab, saya sedang menyusun batu dan merekatnya dengan semen. Tukang batu kedua ketika ditanya, ia menjawab sedang membangun dan mendirikan tembok. Adapun tukang batu ketiga, ia menjawab sedang membangun sebuah rumah dengan tiga kamar tidur, 1 dapur, 1 ruang tamu, dan akan bercat warna putih. Seperti itulah benak setiap orang menjelaskan apa yang sedang dikerjakannya. [>>>]

Wanita Tangguh Di Belakang Rasul

Seri Nubuwah: 04 Khadijah pergi menjumpai saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal. Waraqah adalah seorang penganut agama Nasrani yang sudah mengenal Injil dan sudah pula menerjemahkannya sebagian ke dalam bahasa Arab. Khadijah menuturkan apa yang dilihat dan didengar Muhammad. Waraqah menekur sebentar, kemudian berkata, "Maha Kudus Ia, Maha Kudus. Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Khadijah, percayalah! Dia telah menerima Namus Besar seperti yang pernah diterima Musa. Dan sungguh dia adalah Nabi umat ini. Katakan kepadanya supaya tetap tabah!" Khadijah pulang. Dilihatnya Muhammad masih tidur. Dalam tidur yang demikian itu, tiba-tiba ia menggigil, napasnya terlihat sesak dengan keringat yang sudah membasahi wajahnya. Ia terbangun, manakala didengarnya malaikat datang membawakan wahyu kepadanya: "Hai orang yang berselimut! Bangunlah dan sampaikan peringatan. Dan agungkan Tuhanmu. Pakaianmu pun bersihkan. Dan hindarkan perbuatan dosa. Jangan kau memberi, karena ingin menerima lebih banyak. Dan demi Tuhanmu, tabahkan hatimu." (QS Al-Muddatstsir: 17). [>>>]