Powerful Messages From Ihram

Awalnya, saya hanya berpikir bahwa dalam pakaian ihram tidak ada sedikit pun pesan sosial dalam kehidupan nyata. Saya hanya berpikir normal dan biasa saja, bahwa kain putih yang membalut jemaah haji hanyalah sebuah perintah, kalaupun ada filosofi, itu hanya sebatas simbol dari selimut kematian yang akan dikenakan manusia saat menghadap Rabb-nya. Tetapi setelah membaca dan ‘menyelamkan’ diri dengan ragam aktivitas pelayanan haji, saya baru tahu ternyata dalam ihram memiliki pesan-pesan yang begitu dahsyat dalam kehidupan sehari-hari. Ini hanya dalam satu item, ihram. Bagaimana dengan ritual suci lainnya, Subhanallah. Dalam sebuah artikel, hakikat ihram dikatakan memiliki enlightment, atau sebuah pencerahan tuk membangkitkan motivasi bagi kita sendiri, keluarga kita, bisnis kita, masyarakat kita dan –bahkan- juga bangsa kita. [>>>]

Khusnudzan Pada Hari Esok

Hari ini adalah hari esok yang kucemaskan kemarin, Namun begitu indahnya hari ini. Mengapa aku cemaskan hari ini kemarin, Kini tak ada alasan kucemaskan esok di hari ini, Karena mungkin esok tak ada lagi. Hingga ku hidupi hari ini seolah esok tak kembali. Banyak pesan yang kudengar tentang hari esok. Betapa besar pengaruh esok dan masa depan tuk kehidupan. Banyak kudengar pula orang berperang tuk hari esok, dan tak sedikit yang menakutkan tibanya hari esok. Begitu seramkah hari esok hingga meluluhkan segala energi hidup hari ini. Berpikir keras tuk hadapi esok, seolah bencana kan menimpa prematur, seolah langit tersungkur dan bumi kan terkubur. Berprasangka buruk pada kejadian esok hari hanya akan menghancurkan hari ini, yang sejatinya terukir indah tuk menjumpai hari esok. Banyak waktu terbuang sia-sia hari ini hanya untuk berpikir bagaimana dengan hari esok. Hari ini bukan sarana tuk berprasangka pada hari esok, hari esok tak punya dosa tuk disalahkan. Karena hari ini belum juga tergapai seutuhnya. So, tetaplah berprasangka baik pada hari esok agar optimis tetap terjaga. [>>>]

Tak Lulus UN, Belum Kiamat Man!

Menyoroti banyaknya anak didik yang mengalami stres, depresi hingga berujung kematiaan dengan membunuh diri akibat tidak lulus Ujian Negeri (UN), membuat semua pihak khawatir, terlebih para orangtua yang masih memiliki anak sekolahan. Ada apa sesungguhnya dengan dunia pendidikan kita (?) Apa sebenarnya tujuan pendidikan, dan benarkah UN satu-satunya gerbang menuju kesuksesan (?). Jika diperhatikan bahwa dari tujuan pendidikan umum menurut UU No 2 tahun 1985, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berbudi Pekerti luhur dst. Jelas bahwa pendidikan merupakan character building bangsa yang penuh dengan adab. Sehingga proses pendidikan formal –sejatinya- menjadi prioritas para stakeholder dalam menentukan kualitas anak didik. [>>>]

Refresh Our Attitude

Suatu ketika, saya mencoba menghubungi kawan menggunakan nomor telefon kantor. Sekali, dua kali hingga kesekian kalinya, tidak juga terangkat. Padahal sesaat sebelum saya coba kontak dia, jelas-jelas ia mengirim pesan singkat melalui nomornya, agar saya menghubunginya segera. Lepas beberapa detik, HP saya kembali bergetar tanda masuk pesan. Setelah saya buka ternyata teman saya yang kembali mengirim pesan (sms). Namun, isinya berbeda dengan pertama. Kali ini justru saya terhentak membaca sms itu, begitu singkat, padat dan pedas. “Maaf kawan, jika saya angkat telefon dari nomor barusan (kantor), sama saja saya mendorong mu pada jurang kehancuran”. Upss... ringan, tetapi dalam menusuk hingga ulu hati. Sejenak saya berhenti dari segala pikir yang berkecamuk, menangkap dan mengarah tepat pada apa yang baru saja saya baca. Kian fokusnya hingga melintas dalam benak sebuah kisah seorang Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ketika menerima tamu diluar kepentingan negara, maka ia sengaja menggelapkan ruangannya. Pasalnya satu, karena minyak dan bahan mentah penerang itu adalah uang milik negara, dan sama-sekali pertemuan dengan tamunya itu tidak ada kaitan dengan urusan rakyat. [>>>]

Devide et Impera, Sebuah Teori Pecundang!

Terkesan emosional memang membaca tema diatas, seolah ingin menjelaskan bahwa Devide et Impera atau teori pecah belah, adalah sebuah teori licik yang dibangun atas dasar kelabilan seseorang dalam menggapai kepuasan diri. Meski teori ini dikenalkan oleh seorang orientalis Belanda, Christian Snouck Hurgronje, saat menjajah Indonesia, namun juga kerap ditiru oleh orang-orang yang dengki akan sebuah persatuan pada satu komunitas dimanapun berada, termasuk di Tanah Air tercinta. Secara definitif teori pecah belah ini adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi. Tujuannya ingin mendapat dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang mudah ditaklukan. Dewasa ini, teori pengecut itu selalu menjadi primadona tuk menggapai sebuah tujuan. Dan tentunya tidak hanya dilakukan para orientalis, tetapi juga kerap dilakukan oleh oknum intelektual ber-identitas muslim. [>>>]

Care, More Than Just Service

Dalam dunia persaingan yang semakin ketat dewasa ini, semua sektor bisnis berlomba menggapai pasar dengan ragam layanan istimewa. Memberikan sesuatu yang lebih tuk mendapatkan hal yang jauh lebih menguntungkan adalah konsep mayoritas usaha bisnis. Dalam tahapan ini, banyak yang beranggap bahwa dengan membanting harga sebuah product, maka sudah cukup meraih pasar yang signifikan. Meski tentunya dengan layanan yang terbatas dan tidak mengganggu cashflow perusahaan. Benarkah (?) Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Semua tergantung pada segmentasi pasar mana yang kan diraih, juga yang paling utama, adalah tidak mengorbankan customer yang mendapat harga miring namun mendapatkan pelayanan yang kurang. Sejatinya, sejak awal mengeluarkan product, maka value yang didapat customer harus meliputi aspek pelayanan yang balance. [>>>]

Spirit Kartini, Semangat Kaum Putri

Besok sebagian besar masyarakat Indonesia merayakan sebuah hari fenomenal bagi kebangkitan kaum Hawa. Sebuah hari yang bertepatan dengan lahirnya sosok wanita pahlawan bangsa ini begitu layak dijadikan sebuah momen untuk re-definisi makna emansipasi wanita di era global ini. Bumi Jepara, Jawa Tengah, tempat kelahiran Raden Ajeng Kartini seolah menjadi pertiwi mulia pencetak asset bangsa. Dengan semangat revolusioner saat itu, Kartini menggagas untuk menerobos dari lorong-lorong diskriminatif penjajah terhadap kaum hawa. Mereka hanya mengeksploitasi tenaga dan sari ayu kecantikan wanita Indonesia. Kala itu, wanita negeri ini tidak layak untuk mendapatkan kebebasan dalam berbagai hal. Terlebih dunia pendidikan yang tercanang hanya untuk mereka kaum pria dan berdarah biru. [>>>]

Peace Become Pieces

Menyaksikan tragedi berdarah dibeberapa sudut negeri belum lama ini, membuat setiap orang tersayat hatinya. Bagaimana dan kenapa peristiwa yang melanda Negeri ini seakan tak pernah usai. Ragam kepentingan membalut setiap insan yang penuh dengan ambisi. Meremukkan harmoni yang dibangun oleh pejuang negeri, meski harus tertatih mengembalikan jati diri. Tapi semuanya harus terberai dengan sangat keji. Karena memang pengendalian diri tak pernah terusik oleh nurani. Saya dan setiap orang tentu sangat menyayangkan setiap peristiwa berdarah itu terjadi. Entahlah kemana perginya sisi lembut manusia, kedamaian yang terasa kerap menjadi puing-puing kebencian. Tak ada lagi pandangan kasih yang terpancar, sebaliknya hanyalah sorot kecurigaan yang terus menerka. Damai telah terkeping menjadi suatu barang yang teramat mahal, sulit tuk dicari dan mudah tuk disulut. [>>>]

Journey to the Real Happiness

Membaca buku “Keliling Eropa 6 bulan hanya 1000 dolar!” Karya Marina Silvia, benar-benar membuat saya iri. Iri karena dia bisa melakukan semua itu dengan sangat mudah, lebih iri lagi karena dengan ‘enaknya’ dia berhasil menuangkannya dalam beragam prosa, sketsa dan cerita yang semuanya sangat terasa. Ketika sampai dipenghujung buku, ia menuliskan kata sakti dari pertualangannya, yakni semua pengembaraan itu seolah hanya untuk sebuah kebahagiaan. Hmm, yaa... definisi bahagia kadang sulit dimengerti. Tapi secara klasik, semua orang tahu bahwa manusia hidup di muka bumi tiada lain tuk mendapatkan kebahagiaan, di dunia maupun akherat. Namun sejenak kita simpan tujuan sama kita tentang kebahagiaan, kita beranjak bagaimana proses menemukan kebahagiaan itu sendiri. Dan saya yakin semua itu menimbulkan perbedaan dari beragam sudut pandang. [>>>]