Let’s Start Our Umrah With “Basmalah”

Selama bumi berputar, maka selama itu pula Ka’bah akan terus diputari oleh lingkaran manusia. Bertahun-tahun, berabad-abad, ia tak kan pernah senyap dari nafas manusia yang men-sucikannya. Gemuruh takbir, tahmid, tasbih terus bergelombang menyisakkan kesucian tiada tara yang juga meresap dan melekat pada kain kiswah nan indah. Semakin berkilau, cahaya Ka’bah semakin menjadi pusat kerinduan umat Islam, sekalipun sebagian umat belum pernah menyaksikannya langsung. Demikianlah kedahsyatan Ka’bah yang mampu menembus relung jiwa setiap muslim tuk selalu merindukannya. Kerinduan akan Ka’bah dan tempat-tempat suci di tanah suci tentunya menjadikan pijakan setiap orang untuk melaksanakan ibadah umrah maupun haji. Tak terkecuali dengan jemaah Cordova yang akan memulai perjalanan suci perdana tepat pertengahan bulan Maret 2009 ini. [>>>]

Ada Awal Dan Akhir

Setiap perjalanan akan berakhir. Lembaran hidup akan dibuka dan kembali tertutup oleh ruang yang membatas. Kehidupan manusia akan diiringi oleh dua “kesepakatan”. Pertama, saat diberikan ruh dalam rahim Ibu, kita sepakat dan mengakui bahwa tiada Ilah selain Allah SWT, serta sepakat akan menjalankan tugas selama kehidupan berlanjut di muka bumi. Kedua, kita sepakat bahwa kematian adalah gerbang menuju pertanggung jawaban pola hidup di dunia. Selain dua “kesepakatan” itu, perjalanan manusia juga akan diiringi oleh dua ritual yang mengawali dan mengakhiri kehidupan. Keduanya yakni, adzan dan sholat. Diawali dengan kumandang adzan atau kalimat-kalimat “thoyib” serta diakhiri oleh proses sholat jenazah. Kedua ritual itu adalah syiar pengkokohan jiwa, bahwa disetiap aliran darah kita, tak kan pernah lepas dari “Sentuhan” Ilahiyyah dengan ke-Akbar-an-nya. Allahu Akbar (Allah Maha Besar) sejatinya adalah pengakuan diri, bahwa kita (manusia) sejak lahir hingga liang lahat adalah hamba yang terlampau kecil. Hamba yang “nothing” atas segalanya. [>>>]

Gali Kreativitas Anak Bersama “SE”

Hampir disetiap perjalanan yang kita lakoni, hanya tempat dan nuansa baru saja yang kita dapatkan. Iklim dan bahasa yang berbeda, tempat yang menakjubkan, dan buah tangan yang langka didapatkan di negeri sendiri, tidak lebih. Tapi kini, cordova mencoba merancang suatu perjalanan yang berbeda. Selain menikmati masa libur, anak-anak akan mendapatkan sesuatu yang akan membentuk jiwa kreativitas pada perjalanan yang dijejakinya. Yah, melalui program Scientist Edition (SE) ini, Cordova akan memberikan “Garansi” terhadap setiap peserta SE untuk bisa lebih memaknai perjalanan. Selain itu imajinasi dan kreativitas anak anda akan digali langsung ditempat kunjungan. Daya kreativitas seringkali muncul ketika ada stimulan yang terpencar dalam sebuah peristiwa. [>>>]

Scientist Edition; The New Spirit

Bagi Anda yang sering melakukan perjalanan spiritual, baik umrah maupun haji, ada baiknya jika merasakan pula product “Lain” dari Cordova. Sesuatu yang beda dengan pengalaman sebelumnya yang Anda dapatkan disebuah tempat yang sangat “ekstrim” sekalipun. Product made in Cordova yang sempat diluncurkan pertengahan tahun lalu berupa program Scientist Edition ini akan menggugah imajinasi anak-anak dan keluarga Anda agar lebih menghayati dan mempelajari setiap destinasi yang dikunjungi. Jika disetiap musim libur Anda sekeluarga menikmati di negeri Barat, tidak ada salahnya jika untuk musim ini Anda merasakan getaran yang bermakna bersama sanak keluarga. Selain memberikan perjalanan “Ruhiyah” Anda bersama anak-anak akan mendapatkan pengetahuan lebih dalam mengunjungi setiap tempat yang ditapaki. [>>>]

Derita Gaza Nyanyian Surga

“Khaibar…Khaibar Yaa Yahud, Zaesu Muhammad Saufa Ya’uud…” (Ketahuilah…Wahai Bangsa Yahudi, bahwa pasukan Muhammad SAW akan kembali) Begitulah penggalan yel-yel anak muda di negeri Arab maupun Indonesia mengecam aksi brutal bangsa Yahudi dalam memporak-porandakan bangsa Palestina. Belum lagi seruan dari Syeikh Ahmad Yasin (Rahimakumullah), pendiri gerakan Hamas (Harakah Al-Muqawwamah Al-Islamiyyah) “Gerakan Perlawanan Islam” ini meniupkan ideologinya untuk berdiri melakukan perlawanan pada kaum penjajah. Dengan suara lantang yang menggetarkan relung hati ia berteriak “Bi Ruh! Bi Dam!...Bi Ruh! Bi Dam!...” (Dengan jiwa! Dengan Darah!...Dengan Jiwa! Dengan Darah!) begitu ungkapan perlawanan Syeikh Yasin untuk mempertahankan tanah Palestina dari bangsa Yahudi, sehingga lahirlah gerakan intifadhah. [>>>]

Care GAZZA

Tragedi berdarah yang dilesatkan oleh Israel terhadap bangsa Palestina kian menjadi. Ratusan korban nyawa melayang, ribuan orang mengalami luka-luka, berat maupun ringan. Dan entah berapa ratus anak menjadi yatim, sedang perempuan-perempuannya menjadi janda. Lebih parah lagi, kebanyakan korban dari agresi itu merupakan warga sipil. Atas dalih melindungi warga Israel dari serangan roket-roket Hammas, dengan brutal Ehud Olmert, Perdana Mentri Israel membalas dengan membumi hanguskan jalur Gaza. Sebuah alasan yang menurut logika sehat tak bisa dibenarkan. [>>>]

Berdo’a Di Atas Awan Untuk Rakyat Gaza

Ya Allah dalam perjalanan hamba dari bandara Minangkabau menuju bandara Sukarno Hatta, hamba membaca koran terbitan ibu kota, ada berita tertulis, “Hingga hari ke tujuh invasi Israel ke Gaza, lebih 420 orang tewas dan 2.100 terluka”, kemudian lanjutan berita tersebut “Sembilan masjid telah hancur sejak serangan pertama, Sabtu, (27/12/2008)”. Hamba sungguh sedih dan pilu, karena hamba tidak mampu mencegah kebiadaban dan keganasan Zionis Israel kepada rakyat Gaza yang merupakan umat nabi Muhammad saw. Padahal rakyat Gaza sudah susah karena blokade yang diterapkan Zionis Isael dan di dukung antek-anteknya. Ya Allah, blokade yang telah berlangsung dua tahun menyebabkan rakyat Gaza sengsara, merana dan menjadi fakir miskin bahkan ada suatu keluarga dengan delapan orang anak yang makan rumput karena sudah tidak ada lagi yang akan mereka makan, 80% pabrik roti tutup, 80% wilayah Gaza dalam keadaan gelap gulita setiap hari, saat ini suhu udara beranjak mendekati nol derajat celcius sungguh sangat dingin sekali, 150 jenis obat sudah habis, 50% ambulan berhenti beroperasi karena tidak ada lagi bahan bakarnya. Ya Allah, hamba tidak dapat membayangkan bagaimana sedihnya para orang tua, menderitanya anak-anak, karena kondisi yang sedang mereka hadapi begitu hebat dan berat. [>>>]

“Berwukuf” Di Awal dan Penghujung Tahun

Wukuf sebenarnya jika ditilik melalui pengertian bahasa, bukan hanya sebuah aktifitas haji di tanah suci. Melainkan bisa dilakukan dimana saja. Wukuf artinya berhenti, berdiam, merenung dan berkontemplasi akan sesuatu peristiwa hidup. Bercerita dalam jiwa disebuah perenungan, apa dan bagaimana jejak langkah kita di hari yang lalu. Semua tabir masa lampau bisa tersibak dengan hanya berdiam diri sejenak. Menghentikan langkah guna memperbaiki apa yang selama ini menjadi penyebab keterpurukan jiwa maupun raga. Meski “Wukuf” ini bisa dilakukan kapan saja, tetapi tak masalah jika moment besar seperti pertemuan tahun baru dijadikan pijakan untuk melakukan “Wukuf”. Karena dengan kontemplasi, makna hijrah sesungguhnya akan menjadi spirit perubahan diri dalam segala aspek. [>>>]

Once More About “Mampu”

Entah beberapa kali artikel mengenai kondisi “mampu” dalam syarat pelaksanaan haji sering kita baca. Saking seringnya, bisa jadi definisi mampu (isthito’ah) menjadi melebar dan meluas dari setiap kepala yang mendefinisikannya. Di salahsatu mailinglist terdapat satu artikel yang mungkin bisa dijadikan patokan mengenai definisi “Mampu” dalam melaksanakan haji. Saya rilis kembali bagaimana kata mampu itu bisa terucap dari seorang yang sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari terlihat “kurang Mampu” jika untuk membayar ONH. Namun dengan lugas cerita itu memberikan gambaran betapa sesuatu yang akan terjadi tak ada yang mustahil untuk dilakonkan, termasuk melaksanakan ibadah haji. [>>>]