KA Metro Makkah Dioperasikan

Komite Haji Tettinggi Arab Saudi bertemu hari Sabtu lalu dan membahas peluncuran sebagian dari kereta api Metro Mekah, sistem kereta api baru menghubungkan tempat-tempat suci Mina, Arafat dan Muzdalifa ke kota suci. Deputi Perdana Menteri II dan Menteri Dalam Negeri Pangeran Naif, yang memimpin pertemuan tersebut, menyerukan kepada lembaga-lembaga publik dan swasta untuk membuat musim haji mendatang sukses. Tahap pertama dari metro, yang juga dikenal sebagai KA Masyair ini dirancang untuk mengangkut 70.000 jamaah haji dalam waktu satu jam antara tempat-tempat suci, akan diluncurkan selama musim haji. "Tiga puluh lima persen dari kapasitasnya akan digunakan haji tahun ini," kata seorang pejabat senior. Saudi akan memiliki 20 kereta tahun depan sehngga bisa beroperasi dengan kapasitas penuh. Setiap kereta akan memiliki 12 gerbong.

Gairah Ramadhan di Tanah Suci

Bagi Anda yang pernah merasakan ibadah umrah di Bulan Suci Ramadhan, maka –saya- jamin secara naluri Anda akan memiliki hasrat tuk terus mengulang ditahun-tahun selanjutnya. Tidak berlebihan, mengingat suasana dan aura yang bertebar begitu dahsyat pada bulan itu. Spesial moment yang tak pernah lenyap dalam ingatan, terlebih dalam lembaran hidup keagamaan kita, rasa-rasanya ketenangan jiwa tidak bisa tergantikan ketika shaum dan ibadah Ramadhan lainnya, dapat kita kerjakan di tengah kesucian bumi. Rumah Allah yang menjanjikan makbulnya berjuta doa, harap dan asa. Bahkan jauh dari bentuk nominal manusia sekalipun. Manusia adalah makhluk yang gemar berhitung. Terlebih secara manusiawi, hitungan matematis berupa pahala yang berlipat saat melaksanakan umrah di Bulan Suci adalah salah satu target, guna mencapai kesucian jiwa dan raga. Rasulullah SAW, menganjurkan umatnya untuk melaksanakan umrah di bulan Ramadhan. Selain nilai ibadahnya sama dengan haji, beritikaf di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, pahalanya juga akan dilipatgandakan.

Creating smartHAJJ Community

Secara jujur jika kita perhatikan jemaah haji di Tanah Suci, maka mayoritas para tamu agung (khususnya dari Indonesia), masih sangat mengandalkan sosok pembimbingnya. Kemandirian tuk mengenal medan dan manasik haji serta umrah –nampaknya- masih menjadi harga yang sangat mahal. Terlepas dari jemaah sepuh, dan mengecilkan peran pembimbing, kita masih banyak mendengar dan menemukan jamaah yang tersesat, panik, hingga sulit kembali ke tempat tinggalnya. Sepintas jika kita simak saat rombongan mengikuti pembimbing untuk thawaf misalnya, barisan panjang rombongan itu mengular mengikuti kemana pembimbing bergerak. Namun ketika tiba-tiba barisan rombongan itu terpotong dilintasi jemaah berbadan besar, seperti jemaah Turki, Iran dan Afrika, terkadang jemaah yang berada di belakang dan terpotong itu menjadi panik, berlari dan bergegas ingin kembali merapat barisan depan dengan saling dorong. Kondisi seperti inilah yang seringkali menjadi masalah, membahayakan diri karena ulah sendiri. Andai saja sebelumnya para jemaah telah dibekali ragam info detail plus dengan sikap ‘mandiri’ saat ‘chaos’ terjadi. Maka ibadah pun kan terasa khusyuk, nyaman dan tenang.

Japan Holiday Journey

Sekai wo tsukutta kami wa (Tuhan yang menciptakan dunia) Subete no mono mo (Juga seluruh macam benda) Dare ka tsukutta ka (Siapakah yang menciptakan?) Dare demo dekinai keredo (Siapapun mungkin tak akan bisa) Allah shika tsukurenai to wa (Selain hanya Allah-lah yang bisa) Hakkiri to wakatta (dengan jelas dimengerti) ........... Penggalan lagu nasyid yang dipopulerkan oleh Snada tersebut diatas, lagunya begitu rancak dan penuh semangat. Layaknya semangat samurai Jepang yang pantang menyerah. Begitulah jika dalam hati kita telah tertanam jati diri Islam. Sebuah kebanggaan yang juga diiringi dengan ke-tawadu-an, bangga sebagai muslim dan tawadhu sebagai hamba Allah. Islam rahmatan lil’alamin, tidak berbatas suku bangsa. Semangat ini pulalah yang coba ditebarkan oleh Cordova dengan menapaki bumi Negeri Sakura untuk pertama kalinya. Japan Holiday Journey, adalah paket perjalanan non-Umrah, yang mulai Cordova kembangkan sebagai paket perjalanan baru. Dimana nilai-nilai Islam tetap dipertahankan, seperti menjaga waktu sholat, menjaga ‘halal food’, dan mengunjungi masjid-masjid setempat.

Sepenggal Kisah Syukur

Ketika kembali dari Bandung menuju Jakarta tuk bekerja. Kereta Argo Parahyangan yang saya tumpangi dari Stasiun Cimahi perlahan-lahan memasuki stasiun Jatinegara. Para penumpang yang akan turun di Jatinegara saya lihat sudah bersiap-siap di depan pintu, suasana Jatinegara penuh sesak seperti biasa. Sementara itu, dari jendela, saya lihat beberapa orang porter/buruh angkut berlomba lebih dulu masuk ke kereta yang masih melaju. Mereka berpacu dengan kereta, persis dengan kehidupan mereka yang terus berpacu dengan tekanan kehidupan kota Jakarta. Saat kereta benar-benar berhenti, kesibukan penumpang yang turun dan porter yang berebut menawarkan jasa kian kental terasa. Sementara di luar kereta saya lihat kesibukan kaum urban yang akan menggunakan kereta. Mereka kebanyakan berdiri, karena fasilitas tempat duduk kurang memadai. Sebuah lagu lama PT. KAI yang selalu dan selalu diputar dengan setia.

Ada Apa dengan Pikiran Kita (?)

Akhir-akhir ini saya merasa ada yang tidak beres dalam ruang pikir saya. Seolah partikel otak tak bekerja dengan maksimal. Entah kenapa, dinamisasi dalam berkarya seolah menemui jalan buntu yang tak kenal arah. Selalu saja blunder dan stag pada sebuah realita yang sulit dipahami. Tidak ada yang kurang, semua support telah bekerja dengan maksimal. Namun mengapa daya pikir selalu saja mandeg tuk melakukan sebuah karya yang inovatif. Ketidakberesan berpikir ini, –saya rasa- berkaitan dengan mentalitas diri, yah suatu mental konsumtif yang mencundangi kekuatan berpikir untuk selalu menyerah dan terbawa arus yang mengalir, atau tidak mampu melawan arus sebagaimana orang-orang sukses yang berani melakukan karya besar tanpa terpengaruh dengan keadaan apapun. Nampaknya perlu pembenahan yang mendalam untuk ‘mewaraskan’ kembali kekuatan berpikir dan mental yang telah berkarat ini. Tidak ada seorangpun yang mampu mengobati mental dan pikir yang sakit, terkecuali diri sendiri. Yah, bagi saya dan –mungkin- bagi Anda yang sama merasakan ada yang tidak beres dalam berkarya, penawarnya hanya ada dalam diri kita sendiri.

Tolak Vaksin, Tidak Berangkat Haji

Jakarta-. Pemerintah mempersiapkan langkah tegas untuk menyikapi penolakan penggunaan vaksin meningitis bagi calon jamaah haji (CJH). Menurut Menag Suryadharma Ali, semua CJH diimbau agar bersedia diberi vaksin meningitis. Sebab, pemerintah Arab Saudi mewajibkannya. Bila CJH tidak mau divaksin, Kemenag sebagai operator tunggal haji tidak akan memberangkatkan ke tanah suci. "Alasannya demi perlindungan kesehatan yang bersangkutan. Jamaah yang menolak harus menanggung risiko. Bisa saja pemerintah Arab Saudi menolak kedatangan peserta ibadah haji yang belum divaksin meningitis," katanya hari Jumat, 25 Juni lalu.

Tentang Sebuah Kepedulian

Tulisan ini bukan kisah tentang penghakiman pada kesalahan orang, atau penghukuman atas apa yang terjadi. Tanpa mencari kambing hitam tuk disalahkan, saya benar merasa telah banyak masyarakat kita -termasuk saya tentunya- terperangkap pada rutinitas hidup yang serba ‘cuek’ guna sukses tuk mengoptimalkan eksistensi diri. Terjebak pada budaya cuek, akhirnya lahir pribadi-pribadi yang hidup lebih mementingkan diri sendiri. Memperton-tonkan ke-Aku-annya, agar penilaian orang lebih terfokus pada ‘make up’ penampilannya. Merasa super ketika mendapat award, merasa bangga saat mencipta karya, tetapi lupa bagaimana award dan karya itu tercipta. Hidup dengan dunianya sendiri, tak pernah gundah saat kawan dirundung masalah, tak pernah peduli dengan lingkungan sekitar. Dalam pikirannya hanya satu “Bagaimana aku bisa mengerjakan tugasku”, lebih spesifik “Bagaimana aku mendapatkan hasil dari kerjaanku” titik. Flat, dan tak fleksibel. Semuanya hanya dipandang pada kapasitas diri, bahkan cenderung mengurung dari kemampuan diluar track-nya.

Belajar Dari Prancis

Kesolidan team adalah segalanya Semua kita tahu, bahwa Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan kali ini banyak kejutan yang terjadi. Kejutan yang paling mencengangkan adalah banyaknya tim-tim unggulan yang tampil buruk, dan bahkan banyak yang harus menanggung malu karena dipermalukan oleh tim-tim non-unggulan. Italia misalnya, tim juara bertahan ini misalnya harus dibikin repot oleh tim pendatang baru sekelas Selandia Baru. Italia hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan tim Negeri Kiwi tersebut. Masih banyak lagi daftar tim unggulan yang ternyata tidak layak disebut unggulan. Lihat saja, bagaimana “Keperkasaan” Inggris yang belum berhasil membukukan kemenangan pada ajang World Cup kali ini dalam dua partai. Wayne Rooney cs yang bertekad mengulang kejayaan tahun 1966, dibuat tak berkutik ketika ditahan imbang 1-1 oleh Amerika Serikat, dan bermain tanpa gol saat bermain dengan Alzajair. Belum lagi Jerman yang tumbang 0-1 oleh Serbia, atau Spanyol yang dipermalukan 0-1 oleh Swiss.