<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://cordova-travel.com/blog/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cordova-travel.com/blog</link>
	<description></description>
	<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 06:31:16 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Invitation From Heaven</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/15/invitation-from-heaven/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/15/invitation-from-heaven/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 06:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>CordovaCairo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=1635</guid>
		<description><![CDATA[Jalan yang diperagakan dan diserukan Kekasih Allah SWT, Nabi Muhammad SAW adalah suatu jalan yang lurus dan tunggal. Ia menjanjikan track yang dilaluinya akan menjamin hidup manusia pada sebuah kenikmatan yang kekal, baik di dunia maupun di akherat. Perkara ia merasa hidup di dunianya susah dan serba berkurang setelah berada di jalan yang benar, adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jalan yang diperagakan dan diserukan Kekasih Allah SWT, Nabi Muhammad SAW adalah suatu jalan yang lurus dan tunggal. Ia menjanjikan track yang dilaluinya akan menjamin hidup manusia pada sebuah kenikmatan yang kekal, baik di dunia maupun di akherat. Perkara ia merasa hidup di dunianya susah dan serba berkurang setelah berada di jalan yang benar, adalah sebuah pandangan manusia yang tak lepas dari perhitungan material. Perjalanan yang dijejaki Rasul sesungguhnya adalah undangan surga yang terwejentahkan oleh proses dakwah menuju suatu yang hakiki. Tetapi, disepanjang jalan tersebut, banyak percabangan yang ditemukan. Setiap percabangan menawarkan beragam janji manis sebagai warna yang akan mengabutkan pandangan pada jalan yang telah terbentang. Sehingga undangan-undangan suci dari surga, kerap hanya sebagai “manuskrip” usang yang tidak begitu penting dari proses hidup yang lebih membutuhkan materi sebagai bekal di hari tua. Jalan cabang itu selalu memberikan jaminan untuk meyakinkan manusia agar menuju kenikmatan yang rasanya mustahil naluri nafsu manusia menolaknya. Karenanya Allah SWT berfirman “…dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah ta’aala kepadamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-An’am : 153).<span id="more-1635"></span></p>
<p>Jalan Da’wah Islam merupakan Undangan ke Surga. Sebab ujung akhir dari perjalanan manusia yang meniti jalan ini ialah keridhaan Allah Ta’ala dan kenikmatan surga yang kekal-abadi. Namun untuk mencapai surga seseorang harus mempersiapkan diri untuk menempuh jalan mendaki, bukan jalan mulus yang meluncur ke bawah. Jalan Da’wah Islam penuh dengan hal-hal yang seringkali tidak sesuai dengan hawa-nafsu manusia. Sebab segala sesuatu yang memperturutkan syahwat manusia umumnya menghantarkan seseorang ke jurang neraka yang mengerikan.</p>
<p>Banyak orang yang mempersempit makna dakwah. Mereka membatasinya pada kegiatan ceramah dan tabligh di podium semata. Padahal kegiatan dakwah  mencakup spektrum aktifitas yang sangat luas. Bahkan segenap lini kehidupan dapat dijadikan sarana berdakwah. So, dakwah bisa mencakup kegiatan pendidikan, sosial, budaya, seni, ekonomi, politik, militer, bisnis dan hukum.</p>
<p>Ada satu proses syiar dakwah yang mencakup semua lini kehidupan dalam mendaki perjalanan menuju undangan ke surga. Hal itu tiada lain adalah perjalanan menuju Tanah Suci, haji dan umrah. Semua aktivitas dalam prosesi itu meliputi kegiatan pendidikan, sosial, ekonomi, bisnis bahkan politik. Karena haji adalah muara dari segala aktivitas kehidupan manusia yang terus berputar laiknya ketika jemaah haji maupun umrah bertawaf memutari Baitullah.</p>
<p>Karenanya, jangan tunggu lama-lama ketika undangan dari surga itu telah tertancap dalam sanubari yang telah berdikari dan mapan dalam membentuk pribadi muslim sejati. Gapai dan nikmati bagaimana ‘aura’ surga saat berada di Tanah Suci nanti.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/15/invitation-from-heaven/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Scientist Zone (Part 3)</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/13/scientist-zone-part-3/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/13/scientist-zone-part-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 09:55:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>CordovaCairo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=1632</guid>
		<description><![CDATA[Waktu Saya dan Anda Beda!
Sebelum kita meneruskan pembahasan tentang sinkronisasi ilmu pengetahuan modern dengan Al-Qur’an, ada baiknya saya menjelaskan kenapa situs ini menempatkan artikel “Science” diantara rutinitas ‘menu’ haji dan umrah. Selain karena kandungan dalam ibadah suci (haji dan umrah) diatas, sarat dengan unsur pengetahuan yang meliputi semua aspek kehidupan manusia, Cordova juga konsen menelusuri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu Saya dan Anda Beda!</p>
<p>Sebelum kita meneruskan pembahasan tentang sinkronisasi ilmu pengetahuan modern dengan Al-Qur’an, ada baiknya saya menjelaskan kenapa situs ini menempatkan artikel “Science” diantara rutinitas ‘menu’ haji dan umrah. Selain karena kandungan dalam ibadah suci (haji dan umrah) diatas, sarat dengan unsur pengetahuan yang meliputi semua aspek kehidupan manusia, Cordova juga konsen menelusuri ilmu pengetahuan modern dalam mengungkap keajaiban Al-Qur’an yang jauh terlebih dulu mengkabarkan fenomena alam dari para scientist modern. Itu karenanya program smartUMRAH Scientist Edition yang diluncurkan dua tahun lalu, untuk memberikan ruang bagi jemaah umrah -selain melaksanakan ibadah- juga untuk sedikit banyak memahami fenomena alam yang terjadi sesuai dengan Al-Qur’an dan sintesis para scientist langsung ditempatnya. Baiklah, untuk kesempatan kali ini, kita akan membahas masalah waktu. Jika kita memperhatikan teori yang dikemukakan oleh Albert Einstein, tentang relativitas waktu, pada awal abad ke-20. Maka secara ilmiah telah terbukti bahwa waktu ditentukan oleh massa dan kecepatan, atau secara gamblang ia menjelaskan bahwa waktu untuk benda-benda yang bergerak dengan kecepatan berbeda, memiliki perbedaan waktu. Dalam sejarah manusia, tak seorang pun mampu mengungkapkan fakta ini dengan jelas sebelumnya. Namun Al-Qur’an telah mengabarkan jauh sebelumnya &#8220;Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.&#8221; (QS. 22:47).<span id="more-1632"></span></p>
<p>&#8220;Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.&#8221; (QS. 32:5).</p>
<p>&#8220;Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.&#8221; (QS. 70:4)</p>
<p>Dalam sejumlah ayat disebutkan bahwa manusia merasakan waktu secara berbeda, dan bahwa terkadang manusia dapat merasakan waktu sangat singkat sebagai sesuatu yang lama:<br />
&#8220;Allah bertanya: &#8216;Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?&#8217; Mereka menjawab: &#8216;Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.&#8217; Allah berfirman: &#8216;Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, jika kamu sesungguhnya mengetahui&#8217;.&#8221; (QS. 23:122-114).</p>
<p>Fakta bahwa relativitas waktu disebutkan dengan sangat jelas dalam Al Qur&#8217;an, yang mulai diturunkan pada tahun 610 M. Jauh sebelum Einstein hidup.      </p>
<p>Menurut kalkulasi matematika, jika seorang astronot terbang menggunakan pesawat ruang angkasa yang mencapai kecepatan 0.999 kali kecepatan cahaya, maka 10 bulan bagi sang astronot sama dengan 18 tahun bagi manusia dibumi. So, jika waktu berangkat istri sang astronot pulang dari perjalanannya selama 10 bulan, maka ia dapati anak perempuannya telah menjadi gadis remaja berumur 18 tahun.</p>
<p>Tetapi, jika boleh saya ber-argumentasi, bahwa perbedaan waktu yang dimaksud adalah waktu yang bersifat psikologis. Seperti halnya ketika Einstein ditanya mengenai relaktivitas waktu, ia menyatakan. “Ketika Anda duduk berduaan dengan gadis cantik, waktu sejam akan terasa semenit, tetapi bila Anda duduk di atas kompor panas maka semenit akan terasa sejam lamanya. Itulah relativitas.”</p>
<p>Dari gambaran diatas, kita sadar bahwa ada perbedaan antara waktu fisik dan psikologis. Seperti halnya ketika Rasulullah SAW hendak melaksanakan perjalanan Isra dan Mi’raj-nya. Malaikat Jibril membersihkan segala partikel “kasar” dalam tubuh Rasulullah (sebagai manusia biasa) yang tak mampu menembus relung waktu pada putaran alam Malakut. Ini diluar waktu relaktivitas, karena beliau melakukan Isra dan Mi’raj atas kekuasan Allah SWT yang mengangkatnya menuju Arsy dengan ruh dan fisiknya sebagai manusia. </p>
<p>Perbedaan waktu fisik dan psikologis yang dimaksud Al-Qur’an diatas sesuai dengan perhitungan ilmu astronomi yang menyatakan perbedaan kecepatan putaran antara manusia di bumi dengan waktu yang berada diatas lapisan tujuh langit.</p>
<p>Waktu saya dan Anda sebenarnya sama, namun optimalisasi pemanfaatan waktu itulah yang akan membedakan kita di dunia, bahkan dihadapan Rabb Maha Kuasa.   </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/13/scientist-zone-part-3/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Izinkan Kami Menghadap-Mu</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/10/izinkan-kami-menghadap-mu/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/10/izinkan-kami-menghadap-mu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 19:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>CordovaCairo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=1627</guid>
		<description><![CDATA[Kala Rindu Terpasung
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, mendapatkan visa umrah tahun ini begitu complicated. Entahlah apa semua ini murni karena kebijakan Pemerintah Arab Saudi yang membatasi kuota jemaah umrah, sehingga pelayanannya semakin maksimal, atau ada intrik dari pihak lain yang hanya memandang aktivitas (baca; umrah) ini sebagai kesempatan besar guna meraup margin berlipat-lipat. Saya dan mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kala Rindu Terpasung</p>
<p>Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, mendapatkan visa umrah tahun ini begitu complicated. Entahlah apa semua ini murni karena kebijakan Pemerintah Arab Saudi yang membatasi kuota jemaah umrah, sehingga pelayanannya semakin maksimal, atau ada intrik dari pihak lain yang hanya memandang aktivitas (baca; umrah) ini sebagai kesempatan besar guna meraup margin berlipat-lipat. Saya dan mungkin juga Anda tidak akan banyak berbuat, ketika semua ruang informasi tertutup rapat. Jika pun ada, hanya bersifat himbauan dan info sepihak. Tanpa transparansi yang clear mengenai “Kisruh” yang terjadi. Tapi rasanya, tidak fair saya beropini masalah ini yang bukan kapasitas seorang WNI mengenai kebijakan pengeluaran visa tersebut. Semua tentunya sudah diperhitungkan secara matang demi kemaslahatan para tamu Allah di seluruh belahan bumi. Kini saya beranjak pada sorotan sisi lain akibat keterlambatan belasan ribu jemaah umrah Indonesia ke Tanah Suci. Kemarin saya berkesempatan masuk dan berdialog dengan salahsatu staff konsuler Kedubes Arab Saudi, meminta agar passport yang sedang dalam proses approval visa umrah jemaah kami segera keluar, mengingat keberangkatannya ke Tanah Suci telah mendesak. Namun sayang, mereka enggan memberikan permohonan itu sembari memperlihatkan saya pada satu tempat pengurusan visa yang ternyata telah menumpuk selama dua hari sebanyak 18.000 passport. “Visa itu akan keluar maksimal 5 hari kerja dari waktu passport masuk”, ungkapnya tegas, saya balik bertanya jika lebih dari lima hari belum keluar (?), “insya Allah keluar”, jawabnya tanpa antisipatif. Sedang info proses visa selama 5 hari itu baru didapatkan dua hari yang lalu.<span id="more-1627"></span></p>
<p>Saat keluar dari Kedubes, sejenak saya berpikir Yaa Allah&#8230;Bagaimana dengan perasaan jemaah yang telah berharap segera menuju kerinduan-nya pada Baginda Rasul dan cintanya pada-Mu. Angan yang telah terpatri harus tergadai oleh birokrasi manusia yang terkadang sulit dipahami. Rindu yang telah membucah harus terbenam oleh waktu yang terpending. Jujur saya sulit membayangkan betapa kecewanya para tamu suci yang terhempas oleh kondisi seperti ini. Bagaimana jadinya ketika seorang yang baru akan menginjakkan kaki ke Tanah Suci, mendapat kabar keberangkatannya terpending karena visa tak kunjung kelar. Dan bagaimana perasaan sebagaian jemaah yang harus menanggung rasa malu karena telah pamit dan mengadakan walimatus Safar pada segenap tetangganya. </p>
<p>Belum dengan kerugian waktu dan finansial akibat re-scehedule penerbangan serta hal-hal lainnya. Ternyata tidak sesederhana yang diungkapkan oleh seorang staff Kedubes tadi mengenai keterlambatan visa “Sudah malam ini cancel saja keberangkatannya”, ungkapnya tanpa beban. </p>
<p>Yaa Allah&#8230;Yaa Mujibas Saailin, kami hanya menyadari bahwa segala yang terjadi tentu tak lepas dari kekuasaan-Mu. Tanpa lepas tangan akan hal ini, kami mencoba untuk terus berusaha memberikan yang terbaik bagi jemaah, tentunya dengan konsekwensi yang akan kami terima. Dengan penuh rasa hormat dan kerendahan hati, kami segenap keluarga Besar Cordova memohon maaf atas ketidaknyamanan dan re-schedule perjalanan suci ini. Semoga semua spirit smartUMRAH tuk menggapai Maghfirah-Nya di Tanah Suci tak kan pernah lekang oleh peristiwa diatas.<br />
Sebagai penyelenggara yang memiliki amanah kepada jemaah dan –tentunya- Allah SWT. Muncul pertarungan bathin yang kian berkecamuk tuk mencari solusi tanpa nurani. Mengandalkan koneksi, mengandalkan wibawa pangkat, bahkan mencoba menembus dengan bahasa kertas yang sakti (Baca; USD). Namun urung dilakukan, karena ingin rasanya kami menjaga niat unggul para tamu Allah. Tanpa ternoda dengan pemikiran kotor untuk menghalalkan segala cara.   </p>
<p>Terakhir, saya teringat dengan sebuah hadist “Sesungguhnya Allah itu Thaayyib (baik), tidak menerima (suatu amal) kecuali yang baik (halal).&#8221; (HR. Muslim).           </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/10/izinkan-kami-menghadap-mu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Scientist Zone (Part 2)</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/10/scientist-zone-part-2/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/10/scientist-zone-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 04:38:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>CordovaCairo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=1624</guid>
		<description><![CDATA[Umur Alam Semesta
Setelah mengupas, bagaimana sinkronisasi antara teks Al-Qur’an dengan fenomena alam yang terjadi di bumi pada Scientist Zone (SZ) part pertama, kita melangkah pada kajian yang tak kalah menariknya untuk dibahas. Persepktif manusia memandang bahwa Al-Qur’an mampu mengantisipasi kejadian masa depan dengan akurat, maka sesungguhnya itu hanyalah hipotesa manusia yang melihat dan merasakan suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Umur Alam Semesta</p>
<p>Setelah mengupas, bagaimana sinkronisasi antara teks Al-Qur’an dengan fenomena alam yang terjadi di bumi pada Scientist Zone (SZ) part pertama, kita melangkah pada kajian yang tak kalah menariknya untuk dibahas. Persepktif manusia memandang bahwa Al-Qur’an mampu mengantisipasi kejadian masa depan dengan akurat, maka sesungguhnya itu hanyalah hipotesa manusia yang melihat dan merasakan suatu materi yang tampak. Padahal sesungguhnya, dalam pandangan Al-Qur’an, semua kejadian di bumi telah tercatat dengan baik di dalam Kitab Utama, Pusat Arsip atau Lauh Mahfuzh di Arsy-Nya Allah SWT sebelum kejadian tersebut berlangsung. Mohammed Asadi dalam bukunya The Grand Unifying Theory of Everything mengatakan bahwa umur alam semesta, berdasarkan penyelidikannya terhadap bintang-bintang tertua, adalah antara 17 sampai 20 miliar tahun. Sedangkan Profesor Jean Claude Batelere dari College de France menyatakan bahwa umur alam semesta kira-kira 18 miliar tahun. Dalam Al-Qur’an ada dua ayat yang mengindikasikan perhitungan alam semesta selain makna relativitas waktu, yaitu Surat as-Sajdah (32:5) dan Al-Ma’arij (70:4).<span id="more-1624"></span></p>
<p>“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” (Qs Al-Ma’arij : 4)</p>
<p>Kita dapat mencatat bahwa Al-Qur’an tidak mengatakan “50.000 tahun” waktu bumi. Karena waktu ini adalah waktu relatif di suatu tempat di langit, di mana satu hari sama dengan 1000 tahun waktu bumi. Hari relatif tersebut merupakan umur alam semesta di mana sistem tata surya manusia (kita) berada.</p>
<p>Mari kita konversikan waktu relatif alam semesta:<br />
50.000 x 365,2422 = 18.262.110. Satu hari relatif di “satu tempat” di alam semesta, di tempat malaikat melaporkan urusannya, sama dengan 1000 tahun di bumi:</p>
<p>18.262.110 x 1000 = 18.262.211.000 tahun atau 18,26 miliar tahun.</p>
<p>Dengan demikian, umur alam semesta relatif adalah 18,26 miliar tahun. Hasilnya hampir sama dengan perhitungan Profesor Jean Claude Batelere dari College de France tersebut di atas. Sedangkan NASA memperkirakan umur alam semesta antara 12-18 miliar tahun berdasarkan pengukuran seberapa cepat alam semesta kita ini ekspansi setelah terjadinya “Dentuman Besar”</p>
<p>Dr. Marshall Joy dan Dr. John Carlstrom dari Universitas Chicago (tim NASA) telah mampu mengatasi masalah pengukuran kecepatan ekspansi alam semesta dengan teknik terbaru, yaitu menggunakan radio interferometer untuk menyelidiki dan mengukur fluktuasi Cosmic Microwave Background Radiation (CMBR). Dengan demikian, umur alam semesta dapat diperkirakan. Sedangkan tim NASA lainnya memperkirakan umur alam semesta antara 8-12 miliar tahun berdasarkan pengukuran jarak galaksi “M100″ dengan teleskop ruang angkasa Hubble. </p>
<p>Pembaca telah mendapatkan pengetahuan, bahwa kata-kata dalam Al-Qur’an mempunyai makna yang bertingkat. Beberapa kata mempunyai arti langsung, tetapi yang lain tidak, atau belum tentu. Misalnya saja, kata yang berarti “bulan” adalah “syahr”, dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 12 kali. Ini sesuai dengan 12 bulan dalam 1 tahun. Sedangkan kata yang berarti “hari” adalah “yaum”, yang disebutkan 365 kali dalam Al-Qur’an. Ini juga sesuai bahwa 1 tahun rata-rata sama dengan 365 hari. Tetapi kata yang berarti “tahun”, yaitu “sanah” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 19 kali! Bagaimana kita memahaminya (?)</p>
<p>Ternyata menurut ilmu pengetahuan astronomi, angka 19 atau 19 tahun adalah satu periode di mana posisi relatif bumi dan bulan kembali ke posisi semula secara berulang setelah 19 tahun kemudian. Siklus ini ditemukan oleh Meton orang Yunani dan disebut Metonic cycle. “Jika sekarang tanggal 10 Maret tahun 2010, dan bulan purnama terlihat pada posisi dekat bintang Virgo, kapan kita dapat melihat bulan purnama pada posisi yang sama (?)”. “Jawabnya bukan bulan depan atau tahun depan, tetapi tanggal 10 Maret tahun 2029, 19 tahun kemudian.”</p>
<p>Mengapa 19 tahun (?) Karena fase Tahun Matahari dan Tahun Bulan akan bertemu tepat pada siklus yang ke-19, di mana 235 bulan Kalender Bulan tepat sama dengan siklus 19 tahun berdasarkan Kalender Matahari. (29,53 hari x 235 kira-kira sama dengan 365,24 hari x 19). Meton dari Athena pada tahun 440 SM mengetahui bahwa 235 bulan berdasarkan Kalender Bulan sama dengan 19 tahun Kalender Matahari. Oleh karena itu, siklus ini dikenal dengan siklus Meton, dan merupakan basis perhitungan kalender di Yunani sampai Kalender Julius Caesar diperkenalkan pada tahun 46 SM. </p>
<p>Bagi kaum Muslim, menggunakan Kalender Bulan karena sesuai dengan kebutuhan untuk perhitungan bulan Ramadhan, bulan Haji, dan peristiwa-peristiwa Islam lainnya. Namun sebelumnya, Kalender Bulan ini dipergunakan juga oleh kaum Yahudi, bangsa Babilonia, dan Cina. Dengan demikian, jumlah penyebutan kata-kata tertentu dalam Al-Qur’an mempunyai,makna yang sangat dalam, dan baru dapat diketahui oleh pembaca jika ia mempunyai pengetahuan dan sains yang cukup luas.</p>
<p>Subhanallah&#8230;</p>
<p>(Dari Berbagai Sumber)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/10/scientist-zone-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Journey 4 the Next Journey</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/09/journey-4-the-next-journey/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/09/journey-4-the-next-journey/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 05:17:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>CordovaCairo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=1621</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan dan kematian adalah bagian dari fase perjalanan manusia menuju pertanggungjawabannya di akhirat. Kehidupan dan kematian ibarat dua sisi dari satu mata uang, keduanya tidak mungkin bisa dipisahkan, dimana ada kehidupan di situ pasti ada kematian. Kematian hanyalah pintu gerbang kehidupan berikutnya, kematian adalah titik tolak proses perjalanan selanjutnya, kematian adalah suatu perjalanan tanpa batas, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kehidupan dan kematian adalah bagian dari fase perjalanan manusia menuju pertanggungjawabannya di akhirat. Kehidupan dan kematian ibarat dua sisi dari satu mata uang, keduanya tidak mungkin bisa dipisahkan, dimana ada kehidupan di situ pasti ada kematian. Kematian hanyalah pintu gerbang kehidupan berikutnya, kematian adalah titik tolak proses perjalanan selanjutnya, kematian adalah suatu perjalanan tanpa batas, menembus waktu dan masa untuk akhirnya berhenti di antara dua kemungkinan, yakni kemungkinan berhenti di terminal kebahagian selamanya, atau berada di stasiun kesengsaraan yang abadi. Perjalanan hidup dan mati sesungguhnya adalah suatu anugerah terdahsyat, dalam (QS. 2 : 28) Allah bertanya dengan sebuah pertanyaan yang mengarah pada keyakinan akan sebuah anugerah hidup dan mati. “Bagaimana kalian akan kufur kepada-Ku, sedang kalian saat mati Aku hidupkan, kemudian Aku matikan, kemudian Aku hidupkan, kemudian kepada-Ku kalian kembali” (QS. 2:28). Perjalanan untuk perjalanan selanjutnya –sejatinya- menjadi sebagai arena grand final kehidupan. Semua orang tertuju pada garis finish, namun tidak semua orang yang berakhir happy ending dalam menggapainya. Karenanya, khusus untuk sebuah “Journey” sebelum journey selanjutnya dimulai, ada “Simulasi” journey yang patut menjadi bahan perenungan dan aksi saat kembali beraktivitas pada kehidupan dunia. Semua “Simulasi” itu meliputi pada sebuah perjalanan suci, yakni haji dan umrah.<span id="more-1621"></span></p>
<p>Sebelum menjawab, kenapa perjalanan haji dan umrah sebagai “Simulasi” kongkrit dalam menghadapi rimba kehidupan, sebaiknya kita uraikan terlebih dulu sebuah Hadist Rasulullah SAW. </p>
<p>Diriwayatkan pada suatu hari sahabat Mu’adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah SAW: Yaa Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang ayat “&#8230;dan ditiuplah terompet, maka mereka datang berbondong-bondong”. Mendengar pertanyaan ini, menangislah Nabi Muhammad SAW. Hingga basah pakaiannya, kemudian beliau bersabda: “Wahai Mu’adz engkau menanyakan sesuatu yang teramat dahsyat. Umatku akan digiring dari kubur, mereka menuju Masyhar menjadi dua belas barisan.</p>
<p>Diantara barisan tersebut, beragam penderitaan tampak pada iring-iringan mereka. –tentu- semuanya adalah buah dari perjalanan sebelum mereka dimatikan (perjalanan dunia). Semua keburukan yang tampak tak ubah dari efek yang mereka kerjakan di dunia. Akumulasi kehinaan tercermin dari buruknya ikatan mengenal Allah (Hablu Minallah) atau hubungan garis vertikal antara makhluk dan Khalik, dan hancurnya ikatan sosial (Hablu Minannas) atau hubungan garis Horizontal antara makhluk dan makhluk. </p>
<p>Semua yang terjadi itu –sesungguhnya- terbingkai dalam proses “Pensucian” paripurna dalam perjalanan “Simulasi” hidup pada rangkaian haji dan umrah. Semua dimensi itu bermuara pada setiap langkah proses perjalanan suci tersebut. Dimensi vertikal tercermin pada niat awal dari ihram, meniadakan sekutu bagi Allah Ta’Ala, mengosongkan kekuatan manusia, dan membalutkan diri pada kain putih tanpa helai-pun dalam tubuh.</p>
<p>Pada dimensi Horizontal, “Simulasi” ini sangat kokoh mengedepankan perdamaian sesama manusia. Laa Fusuqa, Laa Jidaala, Laa Rafasa mencerminkan suatu ikatan damai sesama makhluk. Tidak merusak, tidak membunuh (berburu), dan seribu macam kesholehan terkandung padanya. </p>
<p>Tentu secara detail, aktivitas “Simulasi” kehidupan ini merangkai semua yang terjadi pada perjalanan hidup di dunia. Sehingga pembelajaran itu kan melekat pada setiap aktivitas hidup menjelang perjalanan selanjutnya. </p>
<p>So, Seruan Khalilullah Ibrahim As. Ratusan abad lalu tuk menunaikan haji dan umrah adalah modal penting untuk bekal mengarungi rimba kehidupan. Let’s go to hajj!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/09/journey-4-the-next-journey/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Scientist Zone (Part 1)</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/08/scientist-zone-part-1/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/08/scientist-zone-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 10:32:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>CordovaCairo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=1618</guid>
		<description><![CDATA[The Amazing of Holy Qur’an
Dalam rubrik ini, Cordova mencoba memberikan semacam stimulus berseri untuk selalu menyegarkan arah pikir kita terhadap ayat-ayat suci yang terkadang hanya sering terbengkalai ditengah rimba rutinitas yang tak mengenal lelah. Sebagai tongkat dan petunjuk manusia, kehebatan al-Qur’an kerap mengusik para orientalis yang gemar memutar-balikkan fakta dengan teks kandungan dalam Qur’an. Seruan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The Amazing of Holy Qur’an</p>
<p>Dalam rubrik ini, Cordova mencoba memberikan semacam stimulus berseri untuk selalu menyegarkan arah pikir kita terhadap ayat-ayat suci yang terkadang hanya sering terbengkalai ditengah rimba rutinitas yang tak mengenal lelah. Sebagai tongkat dan petunjuk manusia, kehebatan al-Qur’an kerap mengusik para orientalis yang gemar memutar-balikkan fakta dengan teks kandungan dalam Qur’an. Seruan al-Qur’an tentang kebenaran sangat universal – timeless and spaceless – dialamatkan kepada seluruh manusia dan golongan jin. Kadang-kadang al-Qur’an menyebutkan makhluk yang ada di (banyak) bumi dan di (banyak) langit-yang bermakna segenap makhluk yang telah diketahui maupun yang belum diketahui. Barangkali ia adalah satu-satunya kitab suci yang seruannya ditujukan kepada manusia dan makhluk alam gaib (jin). Kritikus al-Qur’an mengatakan, “Mengapa tidak sekalian saja dialamatkan kepada iblis, atau evil (?)” Kritikus itu lupa atau tidak mengetahui, bahwa iblis dan setan adalah salah satu ras dari golongan jin. Setiap ayat, bahkan jumlah ayat atau kata, dan nama surat merupakan kebijakan abadi. Ia mempunyai beberapa lapisan pengertian, sesuai dengan tingkat ilmu pengetahuan manusia yang membacanya.<span id="more-1618"></span></p>
<p>Kita lihat, misalnya, salah satu ayat dari Surat ar-Rahman, yang membahas tentang air.</p>
<p>“Dia membiarkan kedua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing”. (Qs Ar-Rahman : 19-20)</p>
<p>Sedikit penafsir yang mengartikan ini adalah tanah genting yang tidak terlihat. Penafsir lainnya menyebutkan bahwa air tawar di sungai dan air asin di lautan bertemu namun tidak saling melampaui karena perbedaan kepekatannya. Keterangan lebih lanjut:</p>
<p>Fenomena menarik adalah apa yang diungkapkan oleh seorang ilmuwan Prancis Jacques Yves Cousteau yang meneliti berbagai lautan di dekat Selat Jibraltar, ditemukan bahwa pertemuan antara air dari Laut Mediteranian (Laut Tengah) dengan air dari Lautan Atlantik tidak bercampur, walaupun keduanya air asin. Salinitas yang berbeda menghasilkan “dam” yang tidak terlihat. Air Laut Tengah dengan salinitas di atas 36,5% dan temperatur sekitar 11,5 derajat Celsius, terisolasi di kedalaman 900 sampai 1100 meter. Sedangkan air yang berasal dari Lautan Atlantik mempunyai salinitas di bawah 35%, membungkus air Laut Tengah dengan temperatur di bawah 10 derajat Celsius.</p>
<p>Melanjutkan Qs Ar Rahman 19-20 diatas tadi, berikutnya adalah fenomena menarik tentang pembentukan mutiara.</p>
<p>“Dari keduanya keluar mutiara dan marjan” (Qs Ar-Rahman : 22)</p>
<p>Para penerjemah dua puluh tahun yang lalu, dengan satu atau dua pengecualian, menerjemahkan “marjan” dengan “batu koral”. Padahal mayoritas ahli tafsir mengartikan dengan marjan, yang mengandung mutiara kecil yang lebih berkilau. Tetapi ahli tafsir modern, misalnya Sayyid Quthb, berbicara tentang “batu koral”. Disadari bahwa banyak ahli tafsir yang menghadapi persoalan dengan ayat ini. Menurut pengetahuan mereka pada waktu itu, mutiara hanya datang dari air laut. Padahal ayat ini barangkali menjelaskan bahwa mutiara bisa terbentuk baik di dalam air laut maupun air tawar. Bagaimana bisa (?) Abu Ubaidah, seorang penulis terdahulu, sangat yakin bahwa mutiara hanya datang dari air laut, sehingga ia mencoba berkelit untuk menafsirkan ayat tersebut dengan sesuatu yang lain. Maka ia menulis, “Mutiara hanya datang dari salah satu nya”.</p>
<p>Tetapi kini telah diketahui bahwa mutiara bisa terbentuk di dalam air tawar. Encyclopedia Britannica, Micropaedia 1977, menulis bahwa di sungai-sungai rimba Bavaria (Eropa) mutiara dibudidayakan. Bahkan budidaya mutiara air tawar di Cina telah dikenal sejak sebelum tahun 1000 SM.</p>
<p>Dengan demikian, pernyataan al-Qur’an dalam surat ini sesuai dengan arti harfiahnya, tanpa memerlukan penafsiran yang dipaksakan. Subhanallah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/08/scientist-zone-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cordova Turut Berduka</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/04/cordova-turut-berduka/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/04/cordova-turut-berduka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 07:05:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>CordovaCairo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=1616</guid>
		<description><![CDATA[Ada Apa Dengan Visa Umrah (?)
Sejatinya, jika masing-masing pihak atau stakeholder dalam menangani para tamu agung ke Tanah Suci mengedepankan kepentingan jemaah, maka permasalahan yang timbul belakangan ini akan sedikit diminimalisir. Meski –tentunya- tidak dinafikan bahwa mengais rezeki dari usaha tersebut tak bisa dielakkan. Tetapi sedikit disayangkan, jika hanya terlalu money orientied dengan seribu kepentingan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada Apa Dengan Visa Umrah (?)</p>
<p>Sejatinya, jika masing-masing pihak atau stakeholder dalam menangani para tamu agung ke Tanah Suci mengedepankan kepentingan jemaah, maka permasalahan yang timbul belakangan ini akan sedikit diminimalisir. Meski –tentunya- tidak dinafikan bahwa mengais rezeki dari usaha tersebut tak bisa dielakkan. Tetapi sedikit disayangkan, jika hanya terlalu money orientied dengan seribu kepentingan meraup pangsa pasar yang menjanjikan, ternyata berakibat kisruh dan kekecewaan dari setiap calon jemaah umroh, lebih parah lagi visa umroh terlambat keluar dari schedule dan perencanaan setiap orang yang merindu Baitullah. Re-schedule bukan hal mudah bagi mereka yang telah memetakan agenda kesehariannya. Untuk masalah ini -baik batalnya ribuan orang berangkat ke Tanah Suci atau yang harus menunggu keluarnya visa- kita tidak lagi memiliki stock “Apologi” bahwa Allah belum saatnya mengundang kita ke Tanah Suci. Sebab semua itu adalah perangkat yang bisa dilakukan oleh para pemegang kebijakan baik di Indonesia maupun di Arab Saudi. Hakikatnya panggilan Allah untuk mengundang hamba-Nya sudah dijawab dengan hati dan perbekalan yang mantap. Hanya birokrasi duniawi yang memuluskan rencana suci tersebut. Sedikit kita merangkai teka-teki kenapa visa umrah tahun 2010 ini sedikit alot diterbitkan.<span id="more-1616"></span></p>
<p>Lalulintas terbitnya visa yang terasa sangat lambat disebabkan karena aturan visa yang belum disiapkan secara matang oleh para agen penyelenggara di Arab Saudi. Tentunya, dengan demikian berujung pada terhambatnya persetujuan (approval) untuk permohonan visa (mofa) bagi jemaah umroh, khususnya di Indonesia sebagai jemaah terbesar dalam pelaksanaan haji dan umrah. Jika telah ada mofa, maka biro penyelenggara umrah dan haji bisa mendapatkan visa dari Kedubes Arab Saudi di Jakarta.</p>
<p>Menurut Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umrah Haji (Himpuh) Baluki Ahmad, “Sebenarnya, tak ada masalah dengan pihak Kedubes yang ada di Jakarta. Masalahnya, ada di Arab Saudi.</p>
<p>Lalu kenapa aturan visa yang disiapkan oleh para agen penyelenggara di Arab Saudi terasa sangat tidak matang, yang berimbas pada keterlambatan mendapatkan visa (?) ini semua berdasarkan dari ketentuan Pemerintah Arab Saudi yang mensyaratkan persetujuan visa tahun ini adalah harus mencatumkan kepastian paket akomodasi dari masing-masing agen, terutama kontrak kamar hotel.</p>
<p>Tentu setiap agen di Arab Saudi memiliki kepentingan khusus untuk menjalin kerjasama dengan setiap hotel, alat transportasi dan kathering yang dipilih sesuai dengan “Selera” dan aturan bisnis mereka. Tetapi –bisa saja- semua akomodasi yang mereka pilih ternyata berbeda dengan “Selera” dan program setiap Penyelenggara ibadah haji umrah di Indonesia, yang sebelumnya sudah meneken kontrak dengan agen tertentu (yang berbeda) dengan partner kerja agen di Arab Saudi. </p>
<p>Hal demikianlah yang sedikit banyak menimbulkan kendala dalam penyegeraan akan terbitnya visa umrah. Semoga rush visa umrah ini didasari kepentingan dan kenyamanan para tamu Allah, bukan karena dilandasi oleh kepentingan monopoli komersial semata. </p>
<p>Apapun, semua ini adalah duka akan spirit masyarakat Indonesia yang menggebu tuk menggapai Maghfirah-Nya di Tanah Suci. Atas semua yang terjadi, Keluarga Besar Cordova turut berduka, semoga niatan tulus kita menuju Baitullah tak kan pernah lekang. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2010/03/04/cordova-turut-berduka/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
