<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>CORDOVA Travel Blog</title>
	<atom:link href="http://cordova-travel.com/blog/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cordova-travel.com/blog</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 11:05:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Malas Yang Tampak Optimis</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2012/05/22/malas-yang-tampak-optimis/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2012/05/22/malas-yang-tampak-optimis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2012 11:05:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cordova Press</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Risalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=2952</guid>
		<description><![CDATA[Jika diperhatikan, dewasa ini banyak aktifitas negatif berselimut indah. Racun yang tertutupi madu, maksudnya hal yang sebenarnya buruk namun di modifikasi sedemikian rapih oleh hal yang baik. Diantara sekian aktivitas negatif, sedikit kita ambil contoh bagaimana rasa malas terselimuti oleh ungkapan excuse yang meyakinkan diri bahwa hal itu adalah optimisme akan apa yang terjadi. Orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika diperhatikan, dewasa ini banyak aktifitas negatif berselimut indah. Racun yang tertutupi madu, maksudnya hal yang sebenarnya buruk namun di modifikasi sedemikian rapih oleh hal yang baik. Diantara sekian aktivitas negatif, sedikit kita ambil contoh bagaimana rasa malas terselimuti oleh ungkapan <em>excuse</em> yang meyakinkan diri bahwa hal itu adalah optimisme akan apa yang terjadi. Orang malas apapun bisa menjadi alasan. Bahkan alasan yang tampak seperti optimisme, padahal hanya sebagai dalih agar dia tidak perlu bertindak. Tentunya hal demikian sangat berbahaya, sebab akan terdengar baik dan benar padahal –sesungguhnya- dapat menghancurkan diri sendiri dan khalayak ramai.  </p>
<p>Pernah suatu saat saya menumpang sebuah bus. Sebagai standar keselamatan sebuah bus ac harus menyediakan minimal satu tabung pemadam kebakaran seandainya terjadi apa-apa seperti kebakaran. Mungkin kita pernah mendengar banyak korban akibat terjebak di bus yang terbakar, alasannya beraneka ragam, salahsatunya –bisa jadi- karena tidak ada tabung alat pemadam kebakaran. Dari percikan api menjadi membesar karena sulit untuk dipadamkan. Untuk itu, salahsatu standar keselamatan harus ada tabung pemadam kebakaran agar bisa ter-antisipasi percikan api tersebut.<span id="more-2952"></span>  </p>
<p>Saya melihat ke tempat tabung itu, tempat sanggahan dan tulisannya ada, namun tabungnya tidak ada. Salahsatu penumpang bus bertanya kepada kondektur, Pak tabung pemadamnya dimana (?) Dia melihat tempat sanggahan tabung, kemudian menjawab, “<em>Ah</em>&#8230;tidak akan terjadi apa-apa Pak” Jawabnya <em>enteng</em>. Seperti sebuah optimisme tidak akan terjadi apa-apa. Adakah yang bisa menjamin (?) Apa yang dia katakan itu baik-baik saja, tetapi itu hanya alasan atas kemalasan dia menyiapkan perlengkapan bus sebelum berangkat. Jika terjadi apa-apa, semisal percikan apa, apakah akan selamat hanya dengan ucapan itu (?). </p>
<p>Benar bahwa semua kita dianjurkan untuk bersikap optimis atas segala hal, namun usaha tetap perlu diperlukan. Optimis yang benar adalah saat kita yakin akan menghasilkan yang baik di saat kita sudah berusaha. Malas memperbaiki diri dengan dalih akan baik-baik saja. Ungkapan kondektur itu adalah salahsatu dari ribuan alasan untuk tidak menuntut diri agar berusaha mengadakan tabung pemadam tersebut. Sedangkan berusaha adalah musuh terbesar bagi orang yang malas.   </p>
<p>Berkaitan dengan alasan-alasan ‘pemalas’ yang bisa berselimut dari kalimat ‘suci’ lainnya adalah syukur. Hal ini juga seperti kata-kata bijak, padahal hanya untuk menutupi kemalasannya meraih pencapaian yang lebih tinggi. Misalnya dengan mengatakan mensyukuri yang ada saja tanpa harus meraih yang lebih besar lagi. Padahal –sesungguhnya- kita bisa tetap bersyukur sambil tetap berusaha meraih yang lebih baik. <em>Wong</em> usaha kita tuk mencapai yang lebih baik tidak akan merusak syukur kita.   </p>
<p>“<em>Ah saya mah, syukuri apa yang ada saja</em>”, adalah –bisa jadi- ungkapan rasa malas untuk meraih kembali apa yang belum dapat diraih dengan bekerja keras. Syukur adalah urusan hati, sementara usaha adalah urusan fisik. Karenanya, syukur dan ikhtiar tidak akan saling mengganggu. Artinya, kita bisa menyukuri yang ada sambil tetap berusaha untuk mendapatkan yang lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2012/05/22/malas-yang-tampak-optimis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Air atau Awan</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2012/05/21/menjadi-air-atau-awan/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2012/05/21/menjadi-air-atau-awan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 May 2012 08:26:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cordova Press</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikayat]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=2949</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah tempat nan jauh dari kota, di Jawa Barat, tampak seorang pemuda bergegas menuju surau kecil. Wajahnya menampakkan kegelisahan dan kegamangan. Ia seperti mencari sesuatu di surau itu. &#8220;Assalamu&#8217;alaikum, ustadz &#8221; ucapnya ke sosok ustadz yang selama ini menjadi guru spritual di kampung itu. Spontan, ustadz yang rendah hati itu menghentikan kesibukannya. Ia menoleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di sebuah tempat nan jauh dari kota, di Jawa Barat, tampak seorang pemuda bergegas menuju surau kecil. Wajahnya menampakkan kegelisahan dan kegamangan. Ia seperti mencari sesuatu di surau itu. &#8220;<em>Assalamu&#8217;alaikum</em>, ustadz &#8221; ucapnya ke sosok ustadz yang selama ini menjadi guru spritual di kampung itu. Spontan, ustadz yang rendah hati itu menghentikan kesibukannya. Ia menoleh ke si pemuda dan senyumnya <em>pun</em> mengembang. <em>&#8220;Wa&#8217;alaikumussalam</em>. Mangga. Mari masuk!&#8221; ucapnya sambil membukakan gerbang kayu surau yang sudah teramat tua. Setelah itu, ia dan sang tamu pun duduk bersila. &#8220;Ada apa, Kang (?)&#8221; ucapnya dengan senyum yang tak juga menguncup. &#8220;Ustadz, saya diterima kerja di kota!&#8221; ungkap sang pemuda kemudian. &#8220;<em>Alhamdulillah</em>, Syukurlah,&#8221; timpal Ustadz muda itu dengan penuh bahagia. &#8220;Ustadz, jika tidak keberatan, berikan saya petuah agar bisa berhasil!&#8221; ucap sang pemuda sambil menunduk.<span id="more-2949"></span> </p>
<p>Ia pun menanti ucapan sang ustadz di hadapannya yang sudah ia anggap seperti saudara kandungnya. &#8220;Kang, Jadilah seperti air. Dan jangan ikuti jejak awan,&#8221; untaian kalimat singkat meluncur tenang dari mulut sang Ustadz. Pemuda itu masih belum bereaksi. Ia seperti berpikir keras memaknai kata-kata sang ustadz. Tapi, tak berhasil. &#8220;Maksud, Ustadz (?)&#8221; ucapnya kemudian. &#8220;Kang, Air mengajarkan kita untuk senantiasa merendah. Walau berasal dari tempat yang tinggi, ia selalu ingin ke bawah. Semakin besar, semakin banyak jumlahnya, air kian bersemangat untuk bergerak kebawah. Ia selalu mencari celah untuk bisa mengaliri dunia dibawahnya,&#8221; jelas sang Ustadz dengan tenang.</p>
<p>&#8220;Lalu dengan awan, Ustadz (?)&#8221; tanya si pemuda penasaran. &#8220;Jangan sekali-kali seperti awan, Kang. Perhatikanlah! Awan berasal dari tempat yang rendah, tapi ingin cepat berada di tempat tinggi. Semakin ringan, semakin ia tidak berbobot; awan semakin ingin cepat meninggi,&#8221; terang sang Ustadz dengan penuh bijak. &#8220;Tapi Kang,&#8221; tambahnya kemudian. &#8220;Ketinggian awan cuma jadi bahan permainan angin.&#8221; </p>
<p>Dan si pemuda pun tampak mengangguk pelan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2012/05/21/menjadi-air-atau-awan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hilangnya Kesakralan Umrah  (Bag; 1)</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2012/05/15/hilangnya-kesakralan-umrah-bag-1/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2012/05/15/hilangnya-kesakralan-umrah-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 10:31:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cordova Press</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Risalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=2941</guid>
		<description><![CDATA[Bisnis Umrah MLM Sepintas, boleh jadi tema diatas mengandung unsur provokatif dalam memahami ibadah umrah. Namun –sesungguhnya- bukan kesakralan pelaksanaan umrahnya yang hilang, tetapi bagaimana proses menuju kesucian umrahnya yang kini banyak mengalami kemerosotan sakral. Semua umat Islam telah memahami, bahwa ibadah umrah dan haji hanyalah bagi orang yang mampu (isthito’ah), baik segi finansial, maupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bisnis Umrah MLM</em></p>
<p>Sepintas, boleh jadi tema diatas mengandung unsur provokatif dalam memahami ibadah umrah. Namun –sesungguhnya- bukan kesakralan pelaksanaan umrahnya yang hilang, tetapi bagaimana proses menuju kesucian umrahnya yang kini banyak mengalami kemerosotan sakral. Semua umat Islam telah memahami, bahwa ibadah umrah dan haji hanyalah bagi orang yang mampu (<em>isthito’ah</em>), baik segi finansial, maupun kesehatan jiwa dan raga. Tentunya, Islam tidak lantas menghukumi bahwa yang tidak mampu, atau orang miskin dilarang umrah dan haji. Namun pahala bagi mereka (orang yang kurang mampu) bisa sama, bahkan melebihi orang yang mampu melakukan perjalanan ke Tanah suci, jika dengan ikhlas mensyukuri dan menjalani kekurangan hidupnya dengan penuh ridha. Bahkan Rasulullah SAW bersama orang miskin yang sholeh di surga kelak.</p>
<p>Kembali ke pembahasan awal, mengenai hilangnya kesakralan umrah. Hal ini terjadi ketika niatan ibadah sudah masuk dan terjaring pada kategori bisnis ‘piramida’. Bak membeli kacang goreng, seorang yang ingin berangkat umrah (yang nota bene membutuhkan dana belasan hingga puluhan juta) hanya membayar sebesar 2,5 atau 3,5 juta saja misalnya. Ia bisa berangkat, namun dengan harus menjaring beberapa orang dengan membayar seperti apa yang dibayarkannya, begitu seterusnya.<span id="more-2941"></span></p>
<p>Yah, itulah bisnis umrah <em>Multi Level Marketing</em> (MLM) yang dewasa ini sudah sangat menjalar bahkan pada ranah suci sekalipun semisal ibadah haji dan umrah. Entah apakah sebagai improvisasi bisnis atau apa, yang jelas jika ditelusuri –menurut saya- ada semacam pengkerdilan makna ‘<em>isthito’ah</em>’ (mampu) dalam syarat melaksanakan ibadah umrah maupun haji. Belum lagi jika kita bedah bagaimana proses bisnis seperti ini dalam ruang suci. Benar bahwa bisnis ini termasuk pada ranah Muamalat, yang secara definisi usul Fikihnya dibolehkan. “<em>Al-Aslu fil mu’amalah al-ibahah, illa maa dalla dalillu ‘ala tahrimihi</em>” (pada dasarnya hukum muamalah itu di perbolehkan, terkecuali ada hal yang menunjukan atas pelarangannya). Mari kita simak adakah hal yang membuat bisnis umrah MLM ini terjerumus pada hal yang diharamkan (?)</p>
<p>Secara global sistem bisnis MLM dilakukan dengan cara menjaring calon nasabah yang sekaligus berfungsi sebagai konsumen dan member (anggota) dari perusahaan yang melakukan praktek MLM. </p>
<p>Lebih fokusnya untuk mengetahui bagaimana bisnis umrah MLM ini sesuai syariah atau tidak, sebaiknya kita ketahui standar Moral dalam berbisnis. 1. Tauhid, 2. Kebebasan, 3. Keadilan, 4. Tanggungjawab. Dan standar Operasional dalam berbisnis: 1. Menghindari segala praktik riba. 2. Menghindari <em>Gharar</em> (ketidakjelasan kontrak/barang). 3. Menghindari <em>Tadlis</em> (penipuan). 4. Menghindari perjudian (spekulasi/<em>masyir</em>). 5. Menghindari kedzoliman dan eksploitatif.</p>
<p>Lalu jika fakta dengan begitu jelas membuktikan bahwa yang diuntungkan dengan sistem MLM ini adalah <em>Upline</em> (level atas), sedangkan <em>Downline</em> (level bawah) akan selalu dirugikan adalah bahwa bentuk piramida ini akan berhenti pada level tertentu yang mana mereka tidak mungkin bisa mencari anggota baru, atau orang baru yang akan umrah lagi, yang dengannya semua harapan untuk melaksanakan umrah yang dijanjikan adalah impian belaka. Maka jalan keduanya, ia harus bersusah payah menyicil kekurangan biaya perjalanan umrah yang baru disetorkan sebesar 2,5 atau 3,5 juta.</p>
<p>Dan perlu dicermati bahwa dimanapun <em>Downline</em> akan selalu lebih banyak daripada <em>Upline</em>. Dan akhirnya penderitaan (gagal berangkat ke Tanah Suci) hanya dialami oleh para downline yang sulit mendapatkan <em>member</em> baru. </p>
<p>Dalam suatu kesempatan, Direktur Pembinaan Haji Kementerian Agama, Ahmad Kartono mengingatkan masyarakat agar tidak terpikat oleh penyelenggara ibadah haji atau umrah dengan sistem multi level marketing (MLM) atau sistem berantai. Karena sistem yang banyak berkembang belakangan ini memiliki potensi penipuan yang sering dimanfaatkan oknum yang tidak bertanggung jawab.</p>
<p>Lebih khawatir lagi, jika proses bisnis umrah MLM ini menjadi semacam Bom waktu gagal massal berangkat ke Tanah suci, sebagaimana sub thema acara seminar HIMPUH beberapa waktu lalu. </p>
<p>Jika demikian, kita bisa memahami bagaimana bisnis MLM ini menurut pandangan syar’i atau, katakan ke nurani kita masing-masing. Apakah bisnis umrah MLM ini dibiarkan begitu saja (?) Jika ya, maka fatwa Haram MUI Aceh mengenai bisnis umrah MLM ini hanya digratiskan. Kita tunggu bagaimana komentar dan fatwa MUI pusat mengenai masalah ini. Semoga kesakralan ibadah haji dan umrah masih tetap terpatri disetiap sanubari muslim dimana pun berada.   </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2012/05/15/hilangnya-kesakralan-umrah-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Power of Hope</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2012/05/09/the-power-of-hope/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2012/05/09/the-power-of-hope/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 11:01:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cordova Press</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Risalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=2924</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya kandungan artikel ini ada korelasi dengan artikel beberapa waktu lalu (The Power of Optimism). Namun tidak salah jika kita sedikit mengulas bagaimana kekuatan harap itu bisa membuat peristiwa yang sulit menjadi sangat mudah dilakoni. Nabi Nuh belum tahu banjir akan datang ketika ia membuat kapal dan ditertawai kaumnya. Nabi Ibrahim belum tahu akan tersedia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya kandungan artikel ini ada korelasi dengan artikel beberapa waktu lalu (<em>The Power of Optimism</em>). Namun tidak salah jika kita sedikit mengulas bagaimana kekuatan harap itu bisa membuat peristiwa yang sulit menjadi sangat mudah dilakoni. Nabi Nuh belum tahu banjir akan datang ketika ia membuat kapal dan ditertawai kaumnya. Nabi Ibrahim belum tahu akan tersedia Domba ketika pisau nyaris memenggal buah hatinya. Nabi Musa belum tahu laut akan terbelah saat dia diperintah memukulkan tongkatnya ke air laut. Nabi Muhammad SAW pun belum tahu jika Madinah adalah kota tersebarnya ajaran yang dibawanya saat beliau diperintahkan berhijrah. Yang mereka tahu adalah bahwa mereka harus patuh pada perintah Allah SWT dan tanpa berhenti berharap yang terbaik. Setiap kita –tentunya- memiliki harapan dari setiap apa yang kita jalani. Harapan (<em>ar-rajaa</em>) tidak boleh sirna selama manusia masih menjalani hidup. Ia harus tetap tumbuh seiring dengan rasa optimis dalam menghadapi kehidupan. Harapan adalah oksigen bagi jiwa yang masih menjalani kehidupan. Tanpa adanya kekuatan harap, derasnya gelombang kehidupan akan menghanyutkan manusia dalam keputus-asaan. Dengan sebuah harapanlah manusia akan berani menjalani hidup, karena harapanlah seorang ibu menyusui anaknya, karena harapanlah kita menanam pohon meski kita tahu, kita tidak akan sempat memetik buahnya yang ranum bertahun-tahun. Sekali kita kehilangan harapan, maka kita akan kehilangan seluruh kekuatan untuk menghadapi dunia, begitu pelajaran yang sering saya dengar dari sosok guru sekaligus Bapak di Cordova. </p>
<p>Harapan bisa membuat warna, membuat apa yang ada di dunia ini menjadi dinamis, dan harapan telah membuat perkembangan peradaban manusia sampai pada titik yang kita rasakan saat ini. harapan telah membuat yang mustahil menjadi mungkin. Adanya harapan untuk mempermudah manusia bepergian telah memunculkan berbagai alat transportasi yang semakin canggih dan cepat. Adanya harapan untuk mempermudah manusia berinteraksi dan berkomunikasi telah memunculkan alat komunikasi yang beraneka ragam. Berbicara mengenai harapan tentunya akan selalu terkait dengan kekecewaan dan kepuasan. Semuanya itu tergantung pada bagaimana cara manusia memandang atau menyikapinya. Kekecewaan akan didapatkan bilamana manusia telah diperbudak oleh harapan itu sendiri, yaitu ketika manusia memandang bahwa harapan-harapannya harus menjadi kenyataan, inilah salahsatu hal yang bersifat destruktif yang merupakan penyebab kehancuran hidup. </p>
<p>Sedangkan kepuasaan akan didapatkan bila manusia tidak diperbudak oleh harapan-harapan, tetapi manusia itu sendiri yang memegang kendali atas harapan-harapannya. Yang terpenting adalah bagaimana manusia menyikapi dan memandang sebuah harapan. Tidak dipungkiri bahwa harapan sebenarnya adalah sebuah “Energi”. Manusia seharusnya memandang bahwa harapan adalah sumber energi yang dapat memotivasi mereka untuk berbuat lebih dan berbuat yang terbaik tanpa tendensi apapun. Sehingga di kemudian hari akan didapatkan kepuasaan pada diri mereka karena menyadari telah melakukan hal besar yang tentunya memiliki manfaat yang besar bagi orang lain atau kehidupan. </p>
<p>Pun demikian dengan jemaah haji yang memiliki harapan untuk berangkat ke Tanah Suci pada tahun ini, namun terkendala dengan batasan kuota, masih memiliki harapan yang besar untuk tidak putus asa memohon dan berharap dengan segala kebajikan yang diamalkan. Karena itu juga sebagai bentuk pengharapan untuk menggapai sebuah cita-cita mulia. </p>
<p>Setelah harapan itu dikelola sebaik mungkin, maka –biasanya- “tangan-tangan” ALLAH bekerja di detik-detik terakhir usaha hamba-Nya. <em>so’ Never Give up</em>! Tetap Khusnudzon pada-Nya apapun yang terjadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2012/05/09/the-power-of-hope/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dendam Kesumat Wanita “Terhormat” (Bag. Akhir)</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2012/05/08/dendam-kesumat-wanita-%e2%80%9cterhormat%e2%80%9d-bag-akhir/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2012/05/08/dendam-kesumat-wanita-%e2%80%9cterhormat%e2%80%9d-bag-akhir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 03:36:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cordova Press</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikayat]]></category>
		<category><![CDATA[Risalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=2921</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Genggaman Epilog dari kisah “Trilogi” ini akan sedikit membuka siapa dan bagaimana sepak terjang sosok yang menjadi tokoh antagonis dalam cerita ini. Meski –tentunya- Anda akan masih penasaran siapa yang dimaksud, benarkah atau hanya sebatas fiktif belaka. Kenapa bisa seperti itu, kok bisa, Masya Allah gak nyangka, bejad ya!. Dan ekspresi serta pertanyaan-pertanyaan lainnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dalam Genggaman</em></p>
<p><em>Epilog</em> dari kisah “Trilogi” ini akan sedikit membuka siapa dan bagaimana sepak terjang sosok yang menjadi tokoh antagonis dalam cerita ini. Meski –tentunya- Anda akan masih penasaran siapa yang dimaksud, benarkah atau hanya sebatas fiktif belaka. Kenapa bisa seperti itu, <em>kok bisa</em>, Masya Allah <em>gak nyangka</em>, bejad ya!. Dan ekspresi serta pertanyaan-pertanyaan lainnya akan muncul dalam benak kita. Bahkan –tidak mustahil- pertanyaan, <em>koq</em> artikel semacam ini ada di website ini’ akan juga terlontar di sudut pikir Anda. Namun percayalah kompleksitas kehidupan akan tertampung oleh sebuah jalur yang kan terlangkah. Bak Al-Qur’an suci yang terdapat beragam kisah dan cerita di dalamnya, bukan hanya sebagai pedoman, tetapi juga sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berfikir. Pun demikian dengan beragam artikel yang terdapat dalam website ini, warnanya akan dinamis jika artikel didalamnya memuat beragam kisah yang berwarna. Trilogi ini adalah persembahan cinta agar kita tidak terjerumus oleh rayu busuk fitnah seorang yang terbungkus kain kehormatan, namun justru menghancurkan image Islam tuk menjungjung tinggi martabat seorang wanita. Merokok, menghasud, memfitnah, merekayasa, menghancurkan, mengadu-domba, merusak, dan mencinta –merebut- yang jelas-jelas mustahil teraih. </p>
<p>Bak tulisan dan gambar dari papyrus yang terlihat sangat elok dan memiliki nilai jual tinggi, ia pawai dan pialang dalam menghembuskan ucapan sesatnya, tapi tahukah Anda Papyrus adalah jenis tanaman air yang sangat mudah ditemukan di pinggiran sungai Nil, Mesir. Jika tidak dijadikan sebagai alat seni untuk menulis atau melukis gambar-gambar sejarah Mesir kuno atau –bahkan- kaligrafi, maka tumbuhan itu sama saja dengan tumbuhan air lainnya. Tidak ada spesial dari sosok wanita ini, ia hanya pandai meliuk dalam kata tuk pengaruhi banyak orang agar ambisinya tergapai. Terutama dalam melontar fitnah atau pesan-pesan sms kepada setiap orang yang ia nilai bisa menghancurkan hamba yang di fitnahnya. </p>
<p>Setelah sekian lama gagal menghancurkan reputasi seorang yang sangat ia cintainya, maka perlawanan selanjutnya adalah bergabung dengan orang yang memiliki watak dan visi yang sama. Bersatu menyusun strategi tuk melampiaskan hasrat busuknya. Mengadu domba dan mengipas-ngipas orang agar melangkah bersama merobohkan kekuatan hak. Tak peduli dengan busana yang ia pakai, berjubah panjang dan berpenampilan iba (berharap orang mengasihinya) berani berteriak-teriak di keheningan malam dengan meronta-ronta. Sungguh tak peduli apa penilaian orang terhadap kemulian sosok wanita dalam Islam. Bahkan ia akan sangat marah ketika di tegur merokok –karena memang memakai jubah muslimah- yang menghancurkan image jutaan muslimah di muka Bumi, dengan asap mengepul di mulut ‘ular’-nya. </p>
<p>“Terdzolimi” itulah penggalan kalimat yang selalu menjadi andalannya sebagai alasan sikap bar-barnya. Seolah tidak tahu siapa yang mendzolimi dan siapa yang terdzolimi. Ibarat kata maling teriak maling. Hingga mulut berbusa pun orang hanya akan mencibir apa yang ia katakan, terkecuali bagi mereka yang memiliki watak seperti dia. Siapakah gerangan wanita antagonis dalam serial ini (?) Yang jelas –sesuai- bacaan sholat dalam tasyahud akhir, kita harus senantiasa berlindung kepada Allah SWT agar terhindar dari fitnah Dajjal.</p>
<p>Jika serangan dan fitnah itu usai. Maka sebagai muslim kita pun wajib menghentikan kebencian itu, meski jiwa teramat sakit oleh bisa-nya. pertempuran hanya diletuskan dalam arena laga. Jika usai maka usai sudah permasalahan itu, dan tiada kata yang teramat dahsyat selain <em>i’m sorry goodbye</em>.       </p>
<p><em>Could be continue or not!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2012/05/08/dendam-kesumat-wanita-%e2%80%9cterhormat%e2%80%9d-bag-akhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dendam Kesumat Wanita “Terhormat” (Bag: 2)</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2012/04/25/dendam-kesumat-wanita-%e2%80%9cterhormat%e2%80%9d-bag-2/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2012/04/25/dendam-kesumat-wanita-%e2%80%9cterhormat%e2%80%9d-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 12:09:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cordova Press</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikayat]]></category>
		<category><![CDATA[Risalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=2917</guid>
		<description><![CDATA[Meneropong, Merapat dan Menggasak “Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, (QS. Al-Qolam: 10-11) “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Meneropong, Merapat dan Menggasak</em></p>
<p>“Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, (QS. Al-Qolam: 10-11)</p>
<p>“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah : 193)</p>
<p>Dalam sejarah Islam, betapa fitnah akan membawa bencana dan malapetaka di kehidupan masyarakat. Fitnah itulah yang membawa bencana terbunuhnya Sayyidina Usman Ra. Yang dituduh menjalankan nepotisme dalam kebijakannya. Fitnah itu juga yang menyebabkan nestapa sepanjang masa, pertempuran dan perselisihan diantara sahabat besar seperti Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Fitnah jugalah yang pernah membuat Rasulullah marah dan membiarkan (tidak menyapa) istrinya Aisyah sekian lama, karena tertinggal dari rombongan. Masih banyak lagi kisah dan cerita tentang bahaya laten fitnah. </p>
<p>Artikel ini adalah trilogi tentang kisah manusia yang haus akan sebuah eksistensi cinta, namun sebelum melangkah untuk melanjutkan artikel ini, sebaiknya Anda membaca juga artikel bagian pertamanya, sehingga pemahaman dalam tema diatas akan lebih mudah tercerna. Baiklah sebelumnya, mari kita simak apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib, bahwa kejahatan yang terorganisir akan mudah mengalahkan kebenaran yang tercerai berai. Dalam konteks apapun suatu pergerakan baik positif maupun negatif jika dilakukan secara sistematis dan kontinyuitas maka hasilnya akan sesuai dengan apa yang diharap. Pun demikian dengan kejahatan, perancangan iblis akan menusuk pada rongga-rongga sistem yang tercerai berai. Serangan fitnah (yang nota bene jelas-jelas hal negatif) akan mudah berhasil dan mendapatkan kemenangan secara massif jika tidak ditanggulangi dengan sebuah perlawanan yang berarti. Lihat saja bagaimana Yahudi dengan gerakan Israel Raya-nya, mereka yang mendzolimi, namun mereka juga lah yang berteriak-teriak mengumbar fitnah, bahwa Hammas lah yang melakukan kekerasan dengan terorisnya. Wal hasil mereka sukses, yah sukses untuk meyakinkan bahwa muslim Palestina berhak untuk dibinasakan, di isolasi dan dimusnahkan di tanah jajahannya sendiri. Bukankah itu buah dari keganasan fitnah (?) Bukankah itu kejahatan yang terorganisir (?) </p>
<p>Kita lupakan sejenak Israel, kembali pada konteks trilogi yang kini menjadi bahasan kita. Jika fitnah itu sangat mudah menyelinap pada pola pikir kita, maka bagaimana jadinya jika si pelaku fitnah itu adalah sosok seorang wanita (?) Bahkan mungkin kini menjadi ‘segerombolan’ wanita-wanita yang haus akan cinta. Dahaga akan kasih sayang orang yang dicinta, dan lapar akan kehangatan cinta. Mereka hanya merasakan sentuhan mentari disebagian tubuhnya, sebagian lagi mereka harus rela pontang-panting mengejar dan mendekapnya. </p>
<p>Kita semua tahu, bahwa kelembutan wanita kadang mudah memperdaya manusia, bahkan bualan pun menjadi sangat nyata. Wanita adalah makhluk yang teramat indah, maka waspadalah jika keindahannya itu dipergunakan hal-hal jahat semacam fitnah, hasud dan dengki. Kemuliaan yang menjadi kudrat wanita di muka Bumi, akan mudah hanyut jika mereka ‘bersengkokol’ membangun bangunan dengki. Ber-strategi menggalang kekuatan dan menyerang setiap individu yang mereka nilai mudah terprovokasi. Bak pergerakan zionis, mereka yang membuat perkara, mereka yang berteriak terdzolimi. </p>
<p>Fitnah adalah muara dari kejahatan laten, bukan hanya lebih jahat dari pembunuhan namun juga lebih dahsyat dari musuh yang nyata-nyata memerangi kita. Tak ayal, Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan kita di setiap akhir dari sholat lima waktu, agar kita berlindung dari godaan fitnah-nya Dajjal. Karena dengan fitnah, manusia sulit membuka tabir antara yang benar dan salah. Ini menunjukkan bahwa fenomena fitnah Dajjal memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Mereka meneropong, menelaah, merapatkan dan lalu menggasak.             </p>
<p>Melawan semua itu hanya dengan merapatkan barisan dan menyatukan hati. Mengunci mulut untuk tidak terlena melakukan ghibah. Jika kejahatan mereka organisir dengan solid, maka kita sudah bergerak untuk membungkam itu, tentunya dengan strategi yang <em>smart</em>.     </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2012/04/25/dendam-kesumat-wanita-%e2%80%9cterhormat%e2%80%9d-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartini Telah Mati!</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2012/04/20/kartini-telah-mati/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2012/04/20/kartini-telah-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 08:14:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cordova Press</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Risalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=2914</guid>
		<description><![CDATA[“Wanita akan sempurna, ketika mereka tahu bagaimana cara bersikap seorang wanita” Saya rasa semua orang, baik wanita maupun pria, setuju bahwa R.A Kartini adalah sosok yang cukup inspiratif. Ide-idenya tentang persamaan hak dalam bidang pendidikan, sosial dan politik antara wanita dan pria sedikit banyak telah berpengaruh bagi perkembangan kultur sosial di Indonesia. Meski –sesungguhnya- tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Wanita akan sempurna, ketika mereka tahu bagaimana cara bersikap seorang wanita”</em></p>
<p>Saya rasa semua orang, baik wanita maupun pria, setuju bahwa R.A Kartini adalah sosok yang cukup inspiratif. Ide-idenya tentang persamaan hak dalam bidang pendidikan, sosial dan politik antara wanita dan pria sedikit banyak telah berpengaruh bagi perkembangan kultur sosial di Indonesia. Meski –sesungguhnya- tidak hanya Kartini yang menjadi ibroh maupun contoh bagi para wanita muslim dunia, jika ditelusuri sejarah kekuatan wanita, maka jauh lebih besar sosok Siti Khodijah Ra, Siti Aisyah dan wanita-wanita lainnya yang tegar, berani dan berjasa dalam membela agama dan bangsanya. Namun, tidak salah pada kesempatan ini, kita sedikit membahas pahlawan <em>local</em> yang –bisa saja- jasanya memberikan <em>influance</em> secara massif tentang dimana posisi wanita berada. Emansipasi wanita, begitulah mungkin tema besar yang kerap dibahas setiap hari Kartini tiba. Sayangnya, tujuan mulia kartini, selalu <em>mentok</em> pada sebuah perayaan seremoni saja. Padahal sesungguhnya ia berjuang dengan kerangka yang lebih luas. Dasar perjuangannya adalah menempatkan perempuan sebagai sosok yang bermartabat. Dengan demikian, cita-cita dan perjuangan Kartini adalah sebagai <em>way of life</em>. Cita-cita Kartini tidak pernah berhenti pada sebuah seremoni yang –saat ini- hanya menjadi siklus tahunan saja.</p>
<p>Rasanya, agar apa yang dicita-citakan Kartini tidak kebablasan dari emansipasi yang berubah wujud menjadi liberalisasi, kesamaan gender dll, maka tidak salah kita sedikit melirik bagaimana Kartini bersentuhan dengan Islam sebagai pola dasar pemikirannya yang segar, dan menjadi inspirasi jutaan manusia. Hidup dalam kubangan feodal, dan kungkungan adat jawa, Kartini mencoba untuk terus mencari jawaban agar dia beserta kaum wanita lainnya memiliki dasar perubahan yang ‘memberontak’ adat istiadatnya.  </p>
<p>Akhirnya ia menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selalu bergolak di dalam pemikirannya. Terutama dalam menemukan Islam yang paripurna, sehingga ia mencoba mendalami ajaran Islam dengan menuangkan dalam tulisan surat-menyurat kepada sahabat dan orang sekitarnya. Awalnya, ajaran-ajaran Islam tak mendapat temapat dalam benak Kartini. Hal ini karena pengalamannya yang pahit dengan Sang Ustadzah. Ustadzahnya menolak menjelaskan makna ayat yang sedang diajarkan. </p>
<p>Dalam suratnya kepada Stella, sahabatnya, pada tahun 6 November 1899. Ia menuliskan “Mengenai agamaku Islam, aku harus menceritakan apa (?) Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya. Al-Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Sedangkan disini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. </p>
<p>Disini orang diajar membaca Al-Qur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya.”</p>
<p>Dalam waktu pencariannya itu, Kartini bertemu dengan Kyai Haji Muhammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Semarang telah merubah segalanya. Kartini tertarik pada terjemahan surat Al-Fatihah yang disampaikan sang Kyai. Kartini pun mendesak salahsatu paman untuk menemaninya bertemu sang Kyai. Mari kita ikuti bagaimana petikan dialog Kartini dengan Kyai Sholeh, yang ditulis Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh.</p>
<p>“Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya (?)”. Tertegun Kyai Sholeh mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian (?)” Kyai balik bertanya. “Kyai, selama hidupku baru kali ini aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan main rasa syukur hatiku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”</p>
<p>Sejak itulah Kyai Sholeh menterjemahkan Al-Qur’an ke bahasa Jawa, dan dihadiahkan kepada Kartini. Dari sanalah perubahan mendasar terlahir dari setiap ide dan pemikirannya. Karenanya dalam menerjemahkan perjuangan dan spirit Kartini seharusnya dipelajari juga bagaimana filosopis buah pikir itu. Sehingga tidak <em>terwejawantahkan</em> dengan melampaui batas. Sebagaimana surat Kartini kepada Prof. Anton, salahseorang gurunya, 4 oktober 1902. “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya. Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”</p>
<p>Tak ada sepatah katapun dalam surat tersebut yang mengajarkan wanita untuk mengejar persamaan hak, kewajiban, kedudukan dan peran agar sejajar dengan kaum pria. Kartini memahami bahwa kebangkitan seseorang ditandai oleh kebangkitan cara berfikirnya. Kartini mengupayakan pengajaran dan pendidikan bagi wanita semata-mata demi kebangkitan berfikir kaumnya agar lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai seorang wanita.</p>
<p>Atas nama perjuangan Kartini, sebagian wanita kini, justru terjebak pada nilai-nilai liberalisasi dan ide-ide Barat yang justru ditentang oleh sang pahlawan. Perjuangan yang kini dilakukan oleh para feminis, pembela hak-hak wanita sangat jauh dari ruh perjuangan Kartini. Kartini tidak menuntut persamaan hak dalam segala bidang. Kartini hanya menuntut agar kaum wanita diberi hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tak lebih dari itu.</p>
<p>Kartini telah mati, yah jasadnya telah puluhan tahun di perut bumi. Namun nama besarnya masih menjadi acuan hidup sebagian besar wanita negeri ini. Namun, entahlah sesuai atau tidak tujuan yang ia bangun dengan apa yang terjadi saat ini (?) Semoga (cita-cita) Kartini tidak mati juga!</p>
<p>Selamat Hari Kartini, untuk wanita Indonesia!  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2012/04/20/kartini-telah-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Power of Optimism</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2012/04/19/the-power-of-optimism/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2012/04/19/the-power-of-optimism/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 08:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cordova Press</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=2909</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah ruang, teman kami banyak memperbincangkan hasil pertandingan sepakbola international dewasa ini. Ternyata raksasa Madrid dan Barcelona bisa dikalahkan. Bahkan sekelas Manchester United dan Arsenal sekalipun dapat rubuh oleh Wigan, kesebelasan yang jauh kualitas dibawahnya. Maka, jika ditilik dari hal bola saja, untuk pesimis itu tiada ruang. Karena rupanya setiap orang bisa menjadi pemenang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah ruang, teman kami banyak memperbincangkan hasil pertandingan sepakbola international dewasa ini. Ternyata raksasa Madrid dan Barcelona bisa dikalahkan. Bahkan sekelas Manchester United dan Arsenal sekalipun dapat rubuh oleh Wigan, kesebelasan yang jauh kualitas dibawahnya. Maka, jika ditilik dari hal bola saja, untuk pesimis itu tiada ruang. Karena rupanya setiap orang bisa menjadi pemenang. Setiap orang memiliki harapan, dan setiap orang memiliki kekuatan untuk merubah segalanya. Jika diterapkan dalam kehidupan, maka langkah optimis yang akan menggilas segala kegalauan sang pesimis sejati. Bahkan dalam satu riwayat, ketika ALLAH akan menciptakan manusia, para Malaikat sempat memberikan ‘nota keberatan’ terkait dengan manusia yang akan diciptakan itu. para Malaikat berkata; bahwa manusia akan banyak menumpahkan darah alias berperang, serta mudah sekali putus asa alias bosan. Keberatan para Malaikat rupanya sekarang kita bisa saksikan mulai dari zaman dulu hingga kini. Pertumpahan darah kerap menghiasi perjalanan sejarah manusia.</p>
<p>Alur cerita dari artikel ini sesungguhnya akan membahas masalah keberatan Malaikat yang menyindir manusia sebagai sosok yang mudah sekali bersikap bosan. <em>Bad mood</em>, bosan, atau <em>Bete</em>, bisa menghinggapi siapa saja. Akademisi, ustadz, pembisnis, karyawan, dll. Kenyataan inilah yang juga bagian dari ‘nota keberatan’ yang disampaikan oleh para Malaikat bahwa manusia memiliki bahaya laten, yakni bosan. Padahal esensi ALLAH SWT menciptakan manusia tersebut adalah karena ALLAH telah melengkapinya dengan harapan agar tidak bosan. Inilah mengapa ketika Allah ditanya oleh para Malaikat bahwa manusia akan bosan, maka dijawab tidak! Aku (ALLAH Berfirman) akan memberikan harapan kepada manusia.</p>
<p>Dengan harapan manusia menjadi tidak bosan, atau bisa diartikan akan selalu optimis. Inilah mengapa ALLAH menciptakana manusia dengan meniupkan bersamanya harapan dan optimisme. Oleh karena itu, barangsiapa yang di dalam dirinya sudah kehilangan harapan dan optimimisme, maka sesungguhnya dia telah kehilangan wujud ALLAH dalam dirinya. Karena dia menggangap ALLAH tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkan apa yang menjadi harapannya. Padahal optimisme haruslah selalu menyertai setiap kehidupan umat manusia.</p>
<p>Optimisme adalah harapan, Ketika kita memandang mawar, tidaklah memandang difokuskan kepada durinya. Ketika kita akan pergi, jangan bayangkan perpisahan ketika kita berpergian. Jangan menduga bahwa ketika malam kelam, matahari tidak akan bersinar atau terbit lagi. Tidak! Matahari akan terbit lagi pada pagi harinya sebagaimana Firman ALLAH dalam surat Ad-Dhuha. Tetapi, jangan pernah mengharapkan terbitnya matahari pada saat kelamnya malam, itu bukanlah sikap optimisme yang diajarkan. Karena itu adalah merupakan “angan-angan bolong”. Yang sulit diterjemahkan oleh nalar sekalipun.</p>
<p>Jangan terbawa oleh angan-angan atau optimisme yang tidak berdasar. Umar ibnu Khattab pernah berkata: “Kehidupan seorang Muslim adalah kehidupan yang penuh dengan optimisme yang berdasar dan disertai dengan bantuan ALLAH” ALLAH yang mampu dan berkuasa. Sekali lagi dapatlah ditegaskan bahwa orang yang kehilangan harapan atau optimisme, pada hakekatnya telah kehilangan kepercayaan kepada ALLAH SWT. Rasulullah SAW dalam membangun karakter optimisme itu, amat senang dengan kata-kata yang sifatnya membangun dan positif. Beliau suka kalimat-kalimat Indah, yang merupakan loncatan-loncatan optimisme. So’ kekuatan optimisme sesungguhnya adalah kekuatan ruh seorang muslim sejati!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2012/04/19/the-power-of-optimism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Leader Vs Follower</title>
		<link>http://cordova-travel.com/blog/2012/04/17/leader-vs-follower/</link>
		<comments>http://cordova-travel.com/blog/2012/04/17/leader-vs-follower/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2012 10:39:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cordova Press</dc:creator>
				<category><![CDATA[Risalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-travel.com/blog/?p=2905</guid>
		<description><![CDATA[Selamat datang di dunia nyata. Dimana persaingan usaha sedemikian ketat. Inovasi bukanlah barang baru yang sulit ditiru. Para Follower bahkan mampu membuat tiruan yang lebih unggul dari sang Leader. Walhasil sebuah penemuan menjadi standar baru industri yang menguntungkan customer sebagaimana ATM dan Internet banking di dunia perbankan, sebagaimana android dan wifi dalam industri IT dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat datang di dunia nyata. Dimana persaingan usaha sedemikian ketat. Inovasi bukanlah barang baru yang sulit ditiru. Para <em>Follower</em> bahkan mampu membuat tiruan yang lebih unggul dari sang <em>Leader</em>. Walhasil sebuah penemuan menjadi standar baru industri yang menguntungkan <em>customer</em> sebagaimana ATM dan Internet banking di dunia perbankan, sebagaimana android dan wifi dalam industri IT dan telekomunikasi. Sungguh indah dunia usaha apabila setiap perusahaan berlomba ber-inovasi yang akhirnya menjadi ikutan bagi perusahaan-perusahaan lain. Bukankah Rasulullah bersabda; “Barangsiapa memulai perbuatan baik di dalam Islam, maka baginya pahala dari kebaikannya dan pahala orang-orang yang mengikuti kebaikannya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikit pun. (HR; Muslim).</p>
<p>Persaingan baru sampai pada tahap membahayakan saat kedengkian, dendam, dan kebencian merajalela. Bila mana hasrat untuk menghancurkan lawan menjadi panglima para pengambil keputusan. Berbagai cara dilakukan demi tercapainya keinginan yang sesat. Mereka yang bermain di ‘akar rumput’ Cuma dapat melihat dengan kacamata kuda, karena siapa saja yang berani menggaji lebih tinggi, memberikan ketenangan bekerja dan kepastian karir, merekalah yang diikuti, (meski itu semua hanya bualan sesaat). Dan ternyata semua itu adalah perangkap hanya untuk dijadikan alat bagi skenario besar persaingan industri ber-aroma kedengkian. Dan akhirnya penyesalan memang selalu ada di akhir setiap kisah kehidupan.</p>
<p>Bagi mereka yang menjadi korban kedengkian, yakinilah bahwa Allah adalah Dzat yang tidak tidur. Setiap helai daun yang berguguran adalah atas sepengetahuan dan perkenan-Nya. Meskipun seluruh makhluk di muka bumi berkumpul merancang siasat dan tipu daya, tiada yang dapat mengalahkan kehendak-Nya. Dia akan melindungi siapa saja yang berikhtiar mencari nafkah, membangun bisnis, mengejar keuntungan, dengan berharap ridha Allah semata. </p>
<p>Pernahkah terbayang dibenak para pendengki, bahwa sebuah perusahaan terdiri dari berbagai komponen yang kompleks. Sejatinya ia menjadi tumpuan nafkah bagi karyawan, keluarga, <em>supplier</em> dan mitra-mitranya, serta kebanggaan bagi <em>customer</em> dan lingkungannya. Sebuah kedzaliman luarbiasa bila <em>manuver</em> persaingan bisnis menggulung harapan dan cita-cita sedemikan banyak orang. Bila gempuran ini disadari, mereka akan berjuang mempertahankan tempat dimana selama ini mereka bernaung.</p>
<p>Bila kedengkian menggurita, lantas dimanakah jalinan persaudaraan, pertemanan, dan ke-Islaman, sesama kita. Lantas apakah sebenarnya yang kita cari di dunia yang fana ini. Sedangkan kampung akhirat adalah sebuah keniscayaan atas apa yang telah kita perbuat di dunia. Kemanakah ujung dari Strategi bisnis, marketing, prosedur, CSR, IT, dan segudang seluk beluk perusahaan ? Bukankah akhirat adalah ujung dari segala urusan dunia. Yah’ Begitulah <em>follower</em> yang terkadang lupa bahwa ia hanya sebagai pengikut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-travel.com/blog/2012/04/17/leader-vs-follower/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

